LAPORAN PRAKTIKUM
AGROHIDROLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI
ANALISA DATA CURAH HUJAN
OLEH
KELOMPOK 6
JEKI OKTAR PUTRA
YOGA PRATAMA
(D1A014078)
(D1A014123)
HELMI YOSPIKA
(D1A014143)
LAURA YULIANDA
(D1A014144)
SHERLY MARLINA
(D1A014147)
DOSEN PENGAMPU : 1. Yulfita Farni
2.
PROGRAMSTUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Curah hujan, kelembaban dan temperatur merupakan komponen-komponen
penting dalam pengelolaan DAS. Data curah hujan, temperatur, dan kelembaban
pada suatu wilayah diperlukan untuk mengetahui kondisi suatu DAS serta
pedoman dalam pengelolaan suatu DAS tertentu. Komponen-komponen tersebut
tidak sama antara suatu wilayah dengan wilayah lain, untuk itu diperlukan tempat
pengamatan setiap wilayah DAS.
DAS dapat dipandang sebagai suatu sistem, dimana komponen input berupa
curah hujan, prosesor adalah DAS itu sendiri yang di dalamnya terdiri dari
komponen biotik dan abiotik, dan output berupa produksi, limpasan, erosi dan
sebagainya. Input DAS adalah data curah hujan yang diperoleh melalui
pengukuran langsung, ditabulasi menjadi tabel data curah hujan harian, bulanan
atau tahunan, atau disajikan dalam bentuk grafik, sehingga dapat terlihat fluktuasi
besaran hujan setiap bulan (Handayani,2011).
Pola distribusi curah hujan ini berfungsi untuk mendapatkan suatu pola
distribusi curah hujan suatu daerah yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam menghitung dan menganalisa data curah hujan khususnya
data curah hujan jam-jaman sebagai dasar untuk menentukan perencanaan banjir
rencana (Handajani,2005).
Hal tersebut yang melatar belakangi penulis menulis laporan praktikum
Agrohidrologi dan Manajemen Daerah Aliran Sungai tentang Analisis Curah
Hujan, Temperatur dan Kelembaban.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum tentang Analisis Curah Hujan adalah agar mahasiswa
dapat menganalisis curah hujan, dan mampu menerapkan dalam pengelolaan
DAS.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air yang jatuh ke permukaan bumi. Derajat
curah hujan dinyatakan dengan jumlah curah hujan dalam suatu satuan waktu.
Biasanya satuan yang digunakan adalah mm/jam. Dalam meteorologi butiran
hujan dengan diameter lebih dari 0,5 mm disebut hujan dan diameter antara 0,5
0,1 mm disebut gerimis. Semakin besar ukuran butiran hujan maka semakin besar
pula kecepatan jatuhnya. Ketelitian alat ukur curah hujan adalah 1/10 mm.
Pembacaan dilakukan satu kali dalam sehari dan dicatat sebagai curah hujan hari
terdahulu/kemarin (Sugito,2013). Jika setelah keluar dari dasar awan tetapi tidak
jatuh sampai ke permukaan bumi disebut sebagai virga. Butir air yang dapat
keluar dari awan dan mampu mencapai permukaan bumi harus memiliki garis
tengah paling tidak sebesar 200 mikrometer (1 mikrometer = 0,001 cm). Kurang
dari ukuran diameter tersebut, butir-butir air dimaksud akan habis menguap di
atmosfer sebelum mampu mencapai permukaan bumi (Swarinato,2011)
Banyaknya curah hujan yang mencapai permukaan bumi atau tanah selama
selang waktu tertentu dapat diukur dengan jalan mengukur tinggi air hujan dengan
cara tertentu. Hasil dari pengukurannya dinamakan curah hujan, yaitu tanpa
mengingat macam atau bentuknya pada saat mencapai permukaan bumi dan tidak
memperhitungkan endapan yang meresap ke dalam tanah, hilang karena
penguapan, atau pun mengalir. Dari bentuk dan sifatnya, hujan ada yang disebut
dengan shower atau hujan tiba-tiba. Hujan tersebut ditandai dengan permulaan
dan akhir yang mendadak dengan variasi intensitas yang umumnya cepat, dengan
titik-titik air atau partikelpartikel yang lebih besar daripada hujan biasa dan
jatuhnya dari awan-awan Cumulus (Cu) ataupun Cumulonimbus (Cb) yang
pertumbuhannya bersifat konvektif. Hujan kontinyu yang permulaan dan akhirnya
tidak secara mendadak dan tidak tampak terjadi pengurangan perawanan sejak
permulaan sampai pada akhirnya aktifitas tersebut. Hujan ini jatuhnya dari awanawan yang pada umumnya berbentuk merata seperti awan-awan Stratus (St),
Altostratus (As), maupun Nimbustratus (Ns) (Fadholi,2013)
Perhitungan Curah Hujan Wilayah
Analisis data hujan dimaksudkan untuk mendapatkan besaran curah hujan.
Perlunya menghitung curah hujan wilayah adalah untuk penyusunan suatu
rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir (Sosrodarsono &
Takeda, 1977).Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata
wilayah daerah aliran sungai (DAS) ada tiga metode, yaitu metode rata-rata
aritmatik (aljabar), metode poligon Thiessen dan metode Isohyet (Loebis, 1987).
1 Metode rata-rata aritmatik (aljabar)
Metode ini paling sederhana, pengukuran yang dilakukan di beberapa
stasiun dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi jumlah
stasiun. Stasiun hujan yang digunakan dalam hitungan adalah yang berada dalam
DAS, tetapi stasiun di luar DAS tangkapan yang masih berdekatan juga bisa
diperhitungkan. Metode rata-rata aljabar memberikan hasil yang baik apabila :
Stasiun hujan tersebar secara merata di DAS.
Distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS
1
P P1 P2 ... Pn
n
Rumus
dengan :
P
= Curah hujan daerah (mm)
n
= Jumlah titik-titik (stasiun-stasiun) pengamat hujan
P1, P2,, Pn = Curah hujan di tiap titik pengamatan
2 Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang
mewakili luasan di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa
hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun yang terdekat, sehingga hujan
yang tercatat pada suatu stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan
apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak merata, pada
metode ini stasium hujan minimal yang digunakan untuk perhitungan adalah tiga
stasiun hujan. Hitungan curah hujan rata-rata dilakukan dengan memperhitungkan
daerah pengaruh dari tiap stasiun. Metode poligon Thiessen banyak digunakan
untuk menghitung hujan rata-rata kawasan. Poligon Thiessen adalah tetap untuk
suatu jaringan stasiun hujan tertentu. Apabila terdapat perubahan jaringan stasiun
hujan seperti pemindahan atau penambahan stasiun, maka harus dibuat lagi
poligon yang baru.(Triatmodjo, 2008).
P
A1 P1 A2 P2 .... An Pn
A1 A2 ..... An
Rumus
dengan :
P
P1,P2,...Pn
A1,A2,...An
= Rata rata curah hujan wilayah (mm)
= curah hujan masing masing stasiun (mm)
= luas pengaruh masing masing stasiun(km2)
3 Metode Isohyet
Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman
hujan yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah
di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari
kedua garis Isohyet tersebut. Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk
menghitung kedalaman hujan rata-rata di suatu daerah, pada metode ini stasiun
hujan harus banyak dan tersebar merata, metode Isohyet membutuhkan pekerjaan
dan perhatian yang lebih banyak
dibanding dua metode lainnya. (Triatmodjo, 2008).
Rumus
dengan :
P
= Rata rata curah hujan wilayah (mm)
P1,2,3,n
= Curah hujan masing masing isohiet(mm)
A1,2,3n = Luas wilayah antara 2 isohiet (km2)
Erosi tanah merupakan suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan
permukaan tanah yang disebabkan oleh agensia erosi.Di daerah tropika, agensia
erosi yang utama adalah air hujan. Air hujan mempunyai dua bentuk energi yaitu
energi potensial (Ep) dan energi kinetik (Ek). Energi potensial air hujan berkaitan
dengan letak air hujan dari permukaan bumi, yang besarnya sama dengan massa
air hujan (m) dilakikan dengan jarak tinggi tempat (h) dan percepatan gravitasi
bumi (g).
Menurut Hudson (1973, dalam profitgoonline) erosi secara prinsip
merupakan proses penghalusan atau pendataran permukaan, dimana tanahdan
partikel-partikel batuan dihancurkan, dihaluskan, dan disortasi oleh
gaya
gravitasi. Agensia utama erosi adalah air dan angin. Air merupakan agensia erosi
yang paling utama di daerah tropis terutama di daerah tropika basah, seperti
Indonesia. Angin merupakan agensia erosi di daerah-daerah kering seperti di
padang pasir Afrika, Amerika, China dan lain-lain.
Menurut Gabriel tit Sarief (1985), erosi merupakan fungsi dari erosivitas
hujan dan erodibilitas tanah. Morgan (1980) menyatakan bahwa erosi tanah
disebabkan oleh (1) erosivitas hujan, (2) erodibilitas tanah, (3) kemiringan tanah,
(4) Pengelolaan tanaman dan (5) faktor pengelolaan tanah dan penutupan
tanaman.
1. Faktor erosivitas hujan (R)
Hujan yang terjadi di alam tidak selalu menimbulkanerosi tanah. Hujan
dengan intensitas yang tinggi namun berlangsung sangat singkat tidak
menimbulkan erosi, akan tetapi hujan dengan intensitas yang rendah dan
berlangsung sangat lama, akan menghasilkan aliran permukaan yang besar dan
akan menimbulkan erosi. Menurut Hudson (1973) kemampuan potensial hujan
yang dapat menyebabkan terjadinya erosi disebut erosivitas hujan. Lebih lanjut
dikatakan bahwa erosivitas hujan merupakan fungsi dari karakteristik hujan.
Karakteristik hujan akan mementukan besarnya energiyang dimiliki hujan,
terutama energi kinetik hujan, Karakteristik hujan yang berpengaruh terhadap
beasrnya erosivitas hujan, menurut Hudson (1973) adalah (a) jumlah curah hujan,
(b) intensitas hujan, (c) ukuran butiran hujan, (d) sebaran atau distribusi ukuran
butiran hujan selama hujan berlangsung, dan (e) kecepatan akhir jatuh butir
hujan. Dalam setiap kejadian hujan, kelima sifat hujan ini tidak selalu sama dan
bahkan jarang dijumpai adanya suatu pola yang pasti. Jumlah curah hujan
merupakan parameter hujan yang paling tersedia dalam setiap data stasiun
klimatologi. a. erosivitas hujan (R).
Erosivitas hujan adalah tenaga pendorong (driving force) yang
menyebabkan terkelupas dan terangkutnya partikel-partikel tanah ke tempat yang
lebih rendah (chay asdak, 1995: 455). Erosivitas hujan sebagian terjadi karena
pengaruh jatuhan butir hujan langsung di atas tanah dan sebagian lagi karena
aliran air di atas permukaan tanah.
Factor erosivitas hujan dengan intensitas hujan maksimal 30 menit (EI 30).
Jumlah dari seluruh hujan dengan spesifikasi tersebut di atas selama satu tahun
merupakan erosivitas hujan tahunan.
Pada metode usle prakiraan besarnya erosivitas hujan dalam kurun waktu
tahunan. Dalam penelitian ini menggunakan persamaan bols (1978) yang
diperoleh dari penelitian data curah hujan bulanan di 47 stasiun penakaran hujan
di pulau jawa yang dikumpulkan selama 38 tahun.
EI 30 = 6,119 (Rain) 1,21 (Days) -0,47 (Maxp) 0,53
R = curah hujan rata-rata tahunan (cm)
D = jumlah hari hujan rata-rata tahunan (hari)
M = curah hujan maksimum rata-rata 24 jam per bulan untuk kurun waktu satu
tahun (cm) (chay asdak, 1995: 457).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2016 pukul 13.00
WIB selesai di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Jambi, Jambi.
3.2 Alat dan bahan
Alat Tulis
Data Curah Hujan tahun 2004-2014
3.3 Prosedur Kerja
1. Mengumpulkan data curah hujan selama sepuluh tahun tahun (2004-2016)
2. Mengimput data curah hujan selama sepuluh tahun tahun (2004-2014) ke
3.
4.
5.
6.
program excel
Data di buat dalam bentuk tabel
Membuat hietograf data hujan
Buat kurva rata-rata hujan wilayah
Hitung erosivitas hujan
Ei30 =(2,21 x h )1,88
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hietograf Rata-rata Curah Hujan Wilayah Tenggarong
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00
Kurva Rata-rata Curah Hujan Wilayah Tenggarong
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00
Hietograf Erosivitas Wilayah Tenggarong
90000
80000
70000
60000
50000
40000
30000
20000
10000
0
4.2 Pembahasan