ANALISIS PERHITUNGAN HUJAN WILAYAH DENGAN METODE
ARITMATIK, METODE POLIGON THIESSEN, DAN METODE
ISOHYET
Muhammad Bimasena Ananda *, Nuke Aulia Saputri, Wildan Satya Anendra, Safira
Arum Arysandi**, Ferryati Masyitoh, S. Si, M. Si**
* Program Studi Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang
** Program Studi Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Riwayat Artikel: Abstract: This study aims to enable students to get the value
Dikirim: 14-10-2021 of calculations and analyze the results of regional rainfall
calculations using the arithmetic method, the Thiessen
polygon method. and the Isohyet method. Rain that falls on
the earth's surface is influenced by several factors so that its
Kata kunci: distribution is uneven for a river area. This can be known by
Metode; Kuantitatif; placing the right rain station, in terms of location, number and
Artikel distribution pattern. The method used in this practicum is the
calculation of quantitative data from data attachments for
event three. Based on the data that has been obtained, the
result of this practicum is that the average rainfall using the
arithmetic method is 3106.23 mm. Thiessen polygon method
obtained 3,057.77 mm. and the last is the isohyet method to
get an average rainfall of 3.050 mm
Abstrak: Penelitian ini bertujuan agar mahasiswa dapat
mendapat nilai perhitungan dan menganalisis hasil
perhitungan hujan wilayah menggunakan metode aritmatik,
metode Poligon Thiessen. dan metode Isohyet. Hujan yang
jatuh dipermukaan bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor
sehingga penyebarannya tidak merata untuk suatu wilayah
sungai. Hal tersebut dapat diketahui dengan penempatan
stasiun hujan yang tepat, baik lokasi, jumlah dan pola
penyebarannya. Metode yang digunakan dalam praktikum ini
adalah penghitungan data kuantitatif dari lampiran data acara
tiga. Berdasarkan data yang sudah diperoleh, hasil dari
praktikum ini adalah Jadi rata rata curah hujan dengan
menggunakan metode aritmatik adalah 3.106,23 mm. metode
polygon thiessen memperoleh hasil 3.057,77 mm. dan yang
terakhir metode isohyet mendapatkan hasil rata rata curah
hujan sebesar 3.050 mm
Alamat Korespondensi:
Nuke Aulia Saputri
Geografi
Universitas Negeri Malang
SMA 1 Puri Mojokerto
E-mail: nukeaulia25@gmail.com
1
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
PENDAHULUAN
Hujan adalah peristiwa presipitasi yang berwujud air (Pettersen, 1958). Hujan
merupakan sumber air utama yang menyuplai keberadaan air di permukaan bumi (Ward,
1990). Kejadian hujan antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki perbedaan.
Perbedaan kejadian hujan tersebut menimbulkan karakteristik hujan yang khas. Kejadian
hujan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain garis lintang, ketinggian tempat, jarak
dari laut, posisi di dalam dan ukuran massa tanah daratan, arah angin terhadap sumber air,
relief, dan suhu nisbi tanah (Eagleson Seyhan, 1990).
Curah hujan (mm) adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar
hujan pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap dan tidak mengalir (BMKG,
2016). Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik dimana stasiun
berada, sehingga hujan pada suatu luasan harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut.
Apabila pada suatu daerah terdapat lebih dari stasiun pengukuran yang ditempatkan secara
terpencar, hujan yang tercatat di masing-masing stasiun dapat tidak sama. Triatmodjo
(2008)
Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan dalam suatu satuan waktu
tertentu, yang biasanya dinyatakan dalam mm/jam, mm/hari, mm/tahun, dan sebagainya ;
yang berturut-turut sering disebut hujan jam-jaman, harian, tahunan, dan sebagainya.
Biasanya data yang sering digunakan untuk analisis adalah nilai maksimum, minimum dan
nilai rata-ratanya.
Data curah hujan dan debit merupakan data yang sangat penting dalam perencanaan
waduk. Analisis data hujan dimaksudkan untuk mendapatkan besaran curah hujan.
Perlunya menghitung curah hujan wilayah adalah untuk penyusunan suatu rancangan
pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir (Sosrodarsono & Takeda, 2003).
Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata wilayah daerah aliran
sungai (DAS) ada tiga metode, yaitu metode rata-rata aritmatik (aljabar), metode poligon
Thiessen dan metode Isohyet (Loebis, 1987)
1. Metode rata-rata aritmatik (aljabar)
Metode ini paling sederhana, Pengukuran dilakukan di beberapa stasiun dalam waktu
yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi 17 dengan jumlah stasiun. Stasiun
hujan yang digunakan dalam hitungan biasanya adalah yang berada di dalam DAS, tetapi
stasiun di luar DAS yang masih berdekatan juga bisa diperhitungkan. Penjelasan
singkatnya metode aritmatika memulai pengukuran yang dilakukan di beberapa stasiun
dalam waktu yang bersamaan, dijumlahkan dan kemudian dibagi jumlah stasiun. Stasiun
hujan yang digunakan dalam hitungan adalah yang berada dalam DAS, tetapi stasiun di
luar DAS tangkapan yang masih berdekatan juga bisa diperhitungkan. Metode rata-rata
aljabar memberikan hasil yang baik apabila :
• Stasiun hujan tersebar secara merata di DAS.
• Distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS. (Triatmodjo, 2008).
2
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
2. Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang mewakili luasan
di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa hujan adalah sama dengan
yang terjadi pada stasiun yang terdekat (Suripin, 2004). sehingga hujan yang tercatat pada
suatu stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun
hujan di daerah yang ditinjau tidak merata, pada metode ini stasium hujan minimal yang
digunakan untuk perhitungan adalah tiga stasiun hujan. Hitungan curah hujan rata-rata
dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap stasiun. Metode poligon
Thiessen banyak digunakan untuk menghitung hujan rata-rata kawasan. Poligon Thiessen
adalah tetap untuk suatu jaringan stasiun hujan tertentu. Apabila terdapat perubahan
jaringan stasiun hujan seperti pemindahan atau penambahan stasiun, maka harus dibuat
lagi poligon yang baru.
3. Metode Isohyet
Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan yang
sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah di antara dua garis
Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut.
Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk menghitung kedalaman hujan rata-rata
di suatu daerah, pada metode ini stasiun hujan harus banyak dan tersebar merata, metode
Isohyet membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih banyak dibanding dua metode
lainnya. (Triatmodjo, 2008).
Tujuan diadakannya praktikum ini agar mahasiswa mampu menentukan hasil nilai dari
perhitungan ketiga metode ini yakni metode aritmatika, metode polygon thiessen dan
metode isohyet, selain itu mahasiswa juga diharap mampu menganalisis dari hasil ketiga
metode tersebut. Selain itu, untuk melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian
mengenai hal yang dipelajari tersebut dapat menjadi sebuah tolak ukur suatu keberhasilan
di dalam pembelajaran, untuk memperoleh pengetahuan atau penemuan baru tentang curah
hujan wilayah, Sebagai pembuktian atau pengujian tentang kebenaran dari pengetahuan
yang sudah ada, sebagai pengembangan pengetahuan yang sudah ada. Praktikum ini
bertujuan untuk menggali permasalahan yang sedang diteliti, untuk mengembangkan teori,
pandangan ilmiah menjadi lebih luas sebagai sarana pemecahan berbagai masalah dalam
masyarakat. Untuk menguji topik atau permasalahan dimana hasilnya bisa memperkuat
teori atau pandangan tertentu dan juga bisa menolak hasil teori atau pandangan tersebut.
Tujuan praktikum dapat digunakan sebagai sarana untuk mencari dan menemukan
pengetahuan yang dapat dimanfaatkan langsung di dalam kehidupan. Khusus untuk
kejadian banjir, terjadinya kerusakan lingkungan dan perubahan fisik permukaan tanah
juga menjadi faktor penting yang dapat menunjang terjadinya banjir dimana akibat hal
tersebut kemampuan dari daya tampung dan daya simpan terhadap air hujan menjadi
berkurang (Tjasyono, 2007). Selain itu data jumlah curah hujan (CH) rata -rata untuk suatu
daerah tangkapan air (catchment area) atau daerah aliran sungai (DAS) merupakan
informasi yang sangat diperlukan oleh pakar bidang hidrologi (Mahbub, 2010). Dalam bid
ang pertanian data CH sangat berguna, misalnya untuk pengaturan air irigasi , mengetahui
neraca air lahan, mengetahui besarnya aliran permukaan (run off).
3
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
Oleh karena itu penting untuk mempelajari cara analisis data curah hujan wilayah pada
suatu contoh data yang diberikan di mata kuliah Hidrologi agar bermanfaat baik dalam
kaitannya dengan mata kuliah lain dan aplikasinya di dunia kerja khususnya dalam bidang
yang mengatasi masalah seputar faktor adanya air yakni hujan.
METODE
Metode penelitian adalah cara kerja untuk mengumpulkan data dan kemudian
mengolah data sehingga menghasilkan data yang dapat memecahkan permasalahan
penelitian. Metode penelitian merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai
suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis, dengan mempergunakan
teknik serta alat-alat tertentu. Berdasarkan pada permasalahan yang diteliti, metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
(Masyhuri, 2008) menjelaskan bahwa penelitian yang bersifat deskriptif merupakan
penelitian yang memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan,
gejala atau kelompok tertentu. Berikut adalah jenis iklim yang akan kami analisis. Dalam
penelitian ini yang di gunakan adalah metode polygon thiessen, metode aritmatika dan
metode isoyet. Dalam penelitian kali ini perhitungan hujan wilayah dapat dilakukan
dengan bebagai cara, ketiga metode ini merupakan metode perhitungan hujan wilayah
dengan basis interpolasi nilai curah hujan antara satu stasiun
1. Tujuan
a. Mahasiswa mampu menentukan nilai hujan wilayah menggunakan metode
aritmatik.
b. Mahasiswa mampu menentukan nilai hujan wilayah menggunakan metode
Poligon Thiessen.
c. Mahasiswa mampu menentukan nilai hujan wilayah menggunakan metode
Isohyet.
d. Mahasiswa mampu menganalisis hasil perhitungan hujan wilayah
menggunakan metode aritmatik, metode Poligon Thiessen. Dan metode Isohyet.
2. Alat dan Bahan
Alat :
- Pensil
- Penggaris
- Spidol
- Kalkulator
- Microsoft Excel
Bahan :
- Lampiran data Acara 3
4
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Metode aritmatika
Metode ini dilakukan dengan menjumlahkan data curah hujan dari seluruh stasiun
dalam satu wilayah yang kemudian dibagi dengan penakar curah hujannya.
Sehingga akan dihasilkan rata – rata curah hujan 3.106,23. Hasil ini didapatkan dari
jumlah ke 13 stasiun yaitu 40.381 dibagi dengan banyaknya stasiun yaitu 13
stasiun. Jadi rata rata curah hujan dengan menggunakan metode aritmatik adalah
3.106,23 mm
2. Metode Poligon Thiessen
Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau
tidak merata, pada metode ini stasiun hujan minimal yang digunakan untuk
perhitungan adalah tiga stasiun hujan. Curah hujan rata-rata diperoleh
dengan cara menjumlahkan pada masing-masing penakar yang mempunyai daerah
pengaruh yang dibentuk dengan menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus
terhadap garis penghubung antara dua pos penakar. Berdasarkan hasil perhitungan
kami dari lampiran data acara tiga, kami menghitung berdasarkan rumus yang telah
diberikan dan berdasarkan modul maka mendapat hasil yaitu 3.057,77 mm
3. Metode Isohyet
Dalam metode Isohyet yang dihitung adalah kedalaman hujan rata rata pada suatu
luas wilayah tertentu. Untuk menentukan hasil perhitungan dari metode isohyet hal
pertama yang harus dilakukan adalah mencari garis isohyet, kemudian hitung
luasan daerah diantara dua garis isohyet. Apabila sudah mendapat hasil dari setiap
variable maka langkah selanjutnya adalah memasukkan kedalam tabel. Hasil
perhitungan dari metode isohyet akan didapatkan dengan cara membagi jumlah
(luasan x rerata) dengan jumlah luasan antara dua garis isohyet, maka hasil
perhitungan menggunakan metode isohyet kelompok kami adalah 3.050 mm
Berdasarkan hasil perhitungan hujan wilayah menggunakan ketiga metode yakni
metode aritmatika, metode polygon thiessen, dan metode isohyet maka dapat
disimpulkan bahwa curah hujan wilayah dari lampiran data acara tiga adalah sangat
tinggi, Karena BMKG membagi curah hujan bulanan menjadi empat kategori
yaitu rendah (0-100 mm bulan-1), sedang (100-300 mm bulan-1), tinggi (300-500
mm bulan-1) dan sangat tinggi (> 500 mm bulan-1). Dan ketiga hasil dari metode
pertama sampai ketiga mendapat kan nilai diatas 500 mm perbulan.
5
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang sudah dilakukan, dapat simpulkan bahwa hujan
wilayah dapat dihitung dengan menggunakan tiga metode yaitu metode aritmatik, metode
polygon thiessen dan metode isohyet. Ketiga nya mempunyai cara yang berbeda dalam
menentukan hasil rata rata curah hujan wilayah. Hasil yang didapat menggunakan metode
aritmatik adalah 3.106,23 mm, ini adalah metode pengukuran yang paling sederhana.
Sedangkan hasil perhitungan menggunakan metode polygon thiessen adalah 3.057,77 mm.
Dan yang terakhir hasil perhitungan menggunakan metode isohyet adalah 3.050 mm.
perhitungan dengan menggunakan metode isohyet adalah perhitungan yang paling
mendekati akurat. Berdasarkan perhitungan menggunakan ketiga metode dari hasil yang
didapat maka curah hujan di wilayah ini dapat dikategorikan sangat tinggi karena diatas
500 mm
DAFTAR RUJUKAN
Cek plagiarism : https://smallseotools.com/id/plagiarism-checker/
Dewi Handayani (2012). Metode Thiessen Polygon untuk Ramalan Sebaran Curah Hujan
Periode Tertentu pada Wilayah yang Tidak Memiliki Data Curah Hujan. Jurnal Teknologi
Informasi DINAMIK. eprints.unram.ac.id
Fitri Dwirani (2019). Menentukan Stasiun Hujan Dan Curah Hujan Dengan Metode
Polygon Thiessen Daerah Kabupaten Lebak. Jurnal Lingkungan dan Sipil.
http://ejournal.lppm-unbaja.ac.id/
Loebis, 1987. Perhitungan Curah Hujan Wilayah. Cirebon: Universitas Swadaya Gunung
Jati.
Pettersen, 1958. Dasar-Dasar Hidrologi. Universitas, Gadjah Mada
Seyhan, E. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Sosrodarsono, Ir. S dan Takeda, K. 1977. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: Dainippon
Gitakarya Printing
Triadmojo, Bambang.2008. Hidrologi Terapan. Beta Offset, Yogyakarta.
Tjasyono, B. 2004. Klimatologi: Edisi Kedua. Bandung: Penerbit ITB.
6
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
LAMPIRAN
1. Metode Aritmatik
P1 + P2 + P3 + P4 + P5 + P6 + P7 + P8 + P9 + P10 + P11 + P12 + P13
13
.
P=
P = 3.106,23 mm
Stasiun Curah Hujan (mm)
A 2520
B 2830
C 3025
D 3180
E 3375
F 3542
G 3461
H 3129
I 2912
J 2734
K 3065
L 3219
M 3389
Jumlah 40.381
7
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
2. Metode Poligon Thiessen
∑A1P1+A2P2+A3P3+A4P4+A5P5+A6P6+A7P7+A8P8+A9P9+A10P10+A11P11+A12P12+A13P13
A total
.
=
= 3.057,77 mm
8
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
Curah Hujan Banyak Banyak kotak x skala
Stasiun Skala2 (km2) PxA
(P) Kotak (Luas/A)
A 2520 12 1 km2 12 30.240
B 2830 9 1 km2 9 25.470
2
C 3025 9 1 km 9 27.225
2
D 3180 10 1 km 10 31.800
2
E 3375 7 1 km 7 23.625
2
F 3542 8 1 km 8 28.336
2
G 3461 7 1 km 7 24.227
H 3129 7 1 km2 7 21.903
2
I 2912 10 1 km 10 29.120
2
J 2734 12 1 km 12 32.808
2
K 3065 9 1 km 9 27.585
2
L 3219 9 1 km 9 28.971
2
M 3389 6 1 km 6 20.334
Jumlah (∑) 115 351.644
3. Metode Isohyet
9
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
Luasan antara
Rearata dari 2
Daerah Isohyet mm 2 Luasan x rerata
Isohyet km2 Isohyet km 2
1 2500 12 2550 30600
2 2600 8 2650 21200
3 2700 9 2750 24750
4 2800 6 2850 17100
5 2900 14 2950 41300
6 3000 22 3050 67100
7 3100 16 3150 50400
8 3200 13 3250 42250
9 3300 10 3350 33500
10 3400 12 3450 41400
11 3500 5 3550 17750
Jumlah 127 387350
∑
P= ∑
= = 3.050 mm
10
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
11
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
12
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
13
Jurnal Pendidikan Geografi, Tahun 23, Nomor 1, Jan 2018 , Hal ...-...
CEK PLAGIARISME:
14