Anda di halaman 1dari 19

Karsinoma Nasofaring

Disusun oleh
Herkuliana Puspita Sari
11 2015 340
Pembimbing
dr. Iwan Hertantyo, Sp. THT
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA DEPOK 2016

BAB I
Pendahuluan
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang paling banyak di jumpai diantara
tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsionoma nasofaring termasuk dalam sepuluh besar
tumor ganas dengan frekuensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki
tempat pertama.
Insiden karsinoma nasofaring tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan cina
bagian selatan, khususnya suku kanton di propinsi Guang dong dan daerah Guangxi dengan
angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk per tahun. Indonesia termasuk salah satu
negara dengan prevalensi penderita karsinoma nasofaring yang tinggi di luar cina.
Karsinoma nasofarimg lebih sering terjadi pada laki-laki dibandimgkan erempuan dan
dapat mengenai semua umur, dengan insiden meningkat pada usia 30 tahun dan mencapai
puncak pada umur 40-60 tahun. Tumor ganas ini tidak mempunyai gejala yang spesifik,
seringkali tanpa gejala, sehingga hal ini menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis dan
terapi. Bahkan gejala pertama berupa lymphadenopathy cervical, yang merupakan metastatis
karsinoma nasofaring.
Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu
problem, hal ini karena etiologi yang belu pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak
nasofaring yang tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat. Pada stadium dini,
radoterapi masih merupakan pengobatan pilihan yang dapat di berikan secara tunggal dan
memberikan angka kesembuhan yang cukup tingi. Pada stadium lanjut, diperlukan terapi
tambahan kemoterapi yang dikombinasikan dengan radioterapi.

BAB II
Tinjauan Pustaka
Definisi karsinoma Nasofaring
Karsinoma nasofaring ( KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring
dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring.1
Anatomi Nasofaring
Sebelum membahas struktur anatomi dari nasofaring, terlebih dahulu kita membahas
mengenai faring. Faring adalah tenggorokan, ruang muskulo-membranosa di belakang rongga
hidung, mulut, dan laring, berhubungan dengan rongga rongga tersebut dan dengan
esofagus. Atau secara lebih jelas, faring merupakan bangunan tabung fibromuskuler yang
berbentuk corong ( membesar di bagian atas dan mengecil di bagian bawah ) yang ke arah
inferior akan berlanjut menjadi esofagus. Bangunan ini terbentang mulai dari basis kranii
hingga menyambung ke esofagus setinggi vertebra servical VI, dengan panjang kurang lebih
5 inci ( 13 cm ).1

Gambar 1. Anatomi nasofaring. 2

Secara anatomis, faring dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :


1. Nasofaring
2. Orofaring
3. Laringofaring ( Hipofaring)
Nasofaring merupakan suatu rongga yang berbentuk kubus dengan dinding kaku
diatas, belakang, dan lateral yang secara anatomi terletak di belakang hidung dan termasuk
bagian faring. Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi
belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul.
Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke superior-anterior dan terletak di bawah
os sfenoid, sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang retrofaring, fasia
pre-vertebralis dan otot-otot dinding faring. Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium
tuba eusthacius diaman orifisium ini dibatasi superior dan posterior torus tubarius, sehingga
penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eusthacius dan akan
menggangu pendengaran. Ke arah postero-superior dari torus tubarius terdapat fossa
Rossenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring.
Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan lipatan mukosa yang dibentuk oleh
jaringan lunak sub mukoasa, dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring
umumnya tidak rata. Hal ini di sebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring
terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar
retrofaring krause ( kelenjar Rouviere). Nasofaring juga berhubungan erat dengan beberapa
struktur penting, seperti : n. Glossopharingeus, n. Vagus dan n. Asesorius saraf spinal cranial
dan vena jugularis interna. Faring mendapat darah dari berbagai sumber dan kadang kadang
tidak beraturan. Yang terutama berasal dari a. Karotis eksterna, serta dari cabang a. Maksilaris
interna, yakni cabang palatine superior.
Bangunan- bangunan penting yang terdapat di nasofaring adalah :
1. Adenoid atau tonsila lushka
Bangunan ini hanya terdapat pada anak- anak usia kurang dari 13 tahun. Pada orang
dewasa struktur ini telah mengalami regresi.
2. Fossa nasofaring atau forniks nasofaring
Strukutur ini berupa lekukan kecil yang merupakan tempat predileksi fibroma
nasofaring atau angiofibroma nasofaring.
3. Torus tubarius
Merupakan suatu tonjolan tempat muara dari saluran tuba eustachii ( ostium tuba).
4. Fossa rossenmulleri
Merupakan suatu lekuk kecil yang terletak di sebelah belakang torus tubarius. Lekuk
kecil ini diteruskan ke bawah belakang sebagai alur kecil yang disebut sulkus
salfingofaring. Fossa rossenmulleri merupakan tempat perubahan atau pergantian
epitel dari epitel kolumnar/ kuboid menjadi epiel pipih. Tempat pergantian ini
dianggap merupakn predileksi terjadinya keganasan nasofaring.

Mukosa atau selaput lendir nasofaring terdiri dari epitel yang bermacam-macam, yaitu
epitel kolumnar simpleks bersilia, epitel kolumnar berlapis, epitel kolumnar berlapis bersilia,
dan epitel kolumnar berlapis semu bersilia. Yang terpenting di sini adalah pendapat umum
bahwa asal tumor ganas tumor nasofaring itu adalah tempat-tempat peralihan atau celah-celah
epitel yang masuk ke jaringan limfe di bawahnya. Walaupun fosa rossenmulleri atau dinding
lateral nasofaring merupakan lokasi keganasan tersering, tetapi kenyataannya keganasan
dapat juga terjadi di tempat tempat lain di nasofaring. Keganasan nasofaring dapat juga
terjadi pada :
1. Dinding atas nasofaring atau basis kranii dan tempat dimana terdapat adenoid
2. Di bagian depan nasofaring yaitu terdapat di pinggir atau di luar koana
3. Dinding lateral nasofaring mulai dari fossa rossenmulleri sampai dinding faring dan
palatum molle.

Gambar 2. Letak karsinoma nasofaring. 2


Epidemiologi
Insidens karsinoma nasofaring tertinggi di dunia di jumpai pada penduduk daratan
china bagian selatan, yaitu dengan 2500 kasus baru pertahun untuk provinsi guang-dong
( kwantung) atau prevalensi 39,84 /100.000 penduduk. Insiden karsinoma nasofaring juga
banyak di jumpai pada daerah imigran cina, misalnya Hongkong, Amerika Serikat,
Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Karsinoma nasofaring dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang di jumpai
pada penderita dibawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45-54 tahun. Laki-laki lebih
banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2-3 : 1.
Di Indonesia karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher
yang terbanyak ditemukan, jumlahnya mencapai 60 % dari jumlah keseluruhan tumor ganas
daerah kepala dan leher.3

Etiologi
Terjadinya karsinoma nasofaring mungkin multifaktoral, proses karsinogenesisnya
mungkin mencakup banyak tahap.1 Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya karsinoma
nasofaring adalah :
1. Kerentanan genetik
Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tetapi
kerentanan terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif
lebih menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis korelasi menunjukan gen
HLA ( Human leukocyte antigen ) dan gen pengkode enzim sitokrom p450 2E1
(CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring.
Sitokrom p450 2E1 bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang terkait
nitrosamine dan karsinogen.
2. Infeksi virus Epstein-Barr (EBV)
Virus Epstein-Barr ( EBV) merupakan virus DNA yang memiliki kapsid
icosahedral dan termasuk dalam famili Herpesviridae. Infeksi EBV dapat berasosiasi
dengan beberapa penyakit seperti limfoma burkitt, limfoma sel T, mononukleosis dan
karsinoma nasofaring ( KNF). Virus EBV bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi
laten dalam limfosit B. Infeksi virus epstein-barr terjadi pada dua tempat utama yaitu
sel epitel kelenjar saliva dan sel limfosit. EBV memulai infeksi pada limfosit B
dengan cara berikatan dengan reseptor virus, yaitu komponen komplemen C3d
( CD21 atau CR2). Glikoprotein ( gp350/220) pada kapsul EBV berikatan dengan
protein CD21 di permukaan limfosit B3. Aktivitas ini merupakan rangkaian yang
berantai dimulai dari masuknya EBV ke dalam DNA limfosit B dan selanjutnya
menyebabkan limfosit B menjadi immortal. Sementara itu, sampai saat ini,
mekanisme masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring belum dapat dijelaskan
dengan pasti. Namun demikian diduga ada 2 reseptor yang berperan dalam masuknya
virus EBV ke dalam sel epitel nasofaring yaitu CR2 dan PIGR ( Polimeric
Immunoglobulin Receptor). Sel yang terinfeksi oleh EBV dapat menimbulkan
beberapa kemungkinan yaitu : sel menjadi mati bila sel terinfeksi virus epstein barr
dan virus mengadakan replikasi, virus epstein barr yang menginfeksi sel dapat
mengakibatkan kematian virus sehingga sel kembali menjadi normal atau dapat terjadi
transformasi sel yaitu interaksi antara sel dan virus sehingga terjadinya perubahan
sifat sel menjadi ganas dan terbentuk sel kanker.
Gen EBV yang di ekspresikan pada penderita KNF adalah gen laten yaitu
EBERs EBNA1, LMP1, LMP2A dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan dalam
mempertahankan virus pada infeksi laten. Protein transmembran LMP2A dan LMP2B
menghambat sinyal tirosin kinase yang dipercaya dapat menghambat siklus litik virus.
Diantara gen-gen tersebut, gen yang paling berperan dalam transformasi sel adalah
LMP1. Struktur protein LMP1 terdiri atas 368 asam amino yang terbagi menjadi 20
asam amino pada ujung N, 6 segmen protein transmembran ( 166 asam amino) dan
200 asam amino pada ujung karboksi (C).

Protein transmembran LMP1 menjadi perantara untuk sinyal TNF ( tumor nekrosis
faktor ) dan meningkatkan regulasi sitokin IL-10 yang memproliferasi sel B dan
menghambat dan menghambat respon imun lokal.
3. Jenis kelamian
Tumor ganas ini sering ditemukan pada laki-laki dan sebabnya belum dapat
diungkapkan dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik,
hormonal, kebiasaan hidup, pekerjaan. Hormon testosteron yang dominan pada lakilaki dicurigai mengakibatkan penurunan respon imun dan surviellance tumor sehingga
laki-laki lebih rentan terhadap infeksi EBV dan kanker.
4. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan dapat menjadi mediator yang di anggap berpengaruh untuk
timbulnya karsinoma nasofaring. Dimana mediator dapat mengaktifkan EBV yang
telah tinggal lama dalam sel tubuh dalam jangka waktu yang lama daan tidak
menyebabkan suatu kelainan. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi
kronik atau radang kronis di daerah nasofaring oleh bahan kimia, asap industri, asap
kayu, benzopyrene, benzoathracene ( sejenis hidrokarbon dalan rang batu bara),
kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, makanan terlalu panas,
dan beberapa ekstrak tumbuhan sehingga rentan terhadap karsinogen lingkungan.
Penelitian menemukan zat nitrosamin yang terdapat dalam ikan asin ternyata
merupakan mediator penting yang dapat mengaktifkan EBV. Nitrosamin juga
ditemukan dalam ikan / makanan yang diawetkan di Greenland. Juga pada Quadid
yaitu daging kambing yang dikeringkan di tunisia, dan sayuran yang difermentasi
(asinan) serta taoco di Cina. Sebagian besar penderita adalah golongan sosial ekonomi
yang rendah dan hal ini pula menyangkut pula dengan keadaan lingkungan dan
kebiasaan hidup.
Histologi
Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena di bawah epitel terdapat banyak
jaringan limfosit, sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel
dengan jaringan limfosit ini sangat erat, sehingga sering di sebut Limfoepitel. Bloom dan
Fawcett ( 1965) membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel :
1.
2.
3.
4.

Epitel selapis thorax bersilia Simple Columnar Cilated Epithelium


Epitel thorax berlapis Stratified Columnar Epithelium
Epitel thorax berlapis bersilia Stratified Columnar Ciliated Epithelium
Epitel thorax berlapis semu bersilia Pseudo-Stratified Columnar Ciliated Epithelium

60 % dari mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng, dan 80 % dari dinding
posterior nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan pada dinding lateral dan depan dilapisi
oleh epitel transisional, yang merupakan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng dan
thorax bersilia. Epitel berlapis gepeng ini umumnya dilapisi keratin, kecuali pada kripta yang
dalam. Dipandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan 2 macam epitel
adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya karsinoma.

Kalsifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh Organisasi


Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu : 4
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi
Tipe ini dapat di bagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk
2. Karsinoma non-keratinisasi
Pada tipe ini dapat di jumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel
skuamosa tanpa jembatan intersel. Pada umumnya batas sel cukup jelas.
3. Karsinoma tidak berdiferensiasi
Pada tipe ini sel tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk
oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat
jelas.7 Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang sama, yaitu
bersifat radiosensitif dan mempunyai titer antibodi terhadap epstein-barr. Sedangkan
jenis dengan keratinisasi tidak begitu radiosensitif dan tidak menunjukan hubungan
dengan virus epstein-barr.

Namun klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan oleh WHO


pada tahun 1991, hanya di bagi atas 2 tipe, yaitu :
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi ( Keratinizing squamous cell carcinoma)
2. Karsinoma non-keratinisasi ( non-keratinizing carcinoma).
Tipe ini dapat dibagi lagi berdiferensiasi dan tak berdiferensiasi.
Patofisiologis
Keganasaan pada umumnya dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu, pertama
pemendekan waktu siklus sel sehingga akan meghasilkan lebih banyak sel yang diproduksi
dalam satuan waktu. Kedua, penurunan jumlah kematian sel akibat gangguan pada proses
apotosis, gangguan pada berbagai protoonkogen dan gen penekan tumor (TSGs) yang
menghambat pengehentian proses siklus sel.
Pada keadaan fisiologis proses pertumbuhan, pembelahan, dan diferensiasi sel diatur
oleh gen yang disebut protoonkogen yang dapat beubah menjadi onkogen bila mengalami
mutasi. Onkogen dapat menyebabkan kanker karena memicu pertumbuhan dan pembelahan
sel secara patologis.4

Gambar 3. Patofisiologis karsinoma nasofaring.2


Manifestasi klinis
KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan
yang sedini mungkin memegang peranan penting untuk mengetahui gejala dini KNF dimana
tumor masih terbatas di rongga nasofaring.5
A. Gejala dini
Gejala telinga :
1. Kataralis atau sumbatan tuba eutachius
Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai
dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini
2. Radang telinga sampai pecahnya gendang telinga
Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara
tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi
makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga
dengan akibat gangguan pendengaran

Gambar 4. Tumor nasofaring yang menutupi tuba eustachius.2


Gejala hidung :
1. Mimisan
Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat
terjadi perdarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini biasanya
berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan sering kali bercampur dengan ingus,
sehingga berwarna merah jambu. Epistaksis ini juga dapat disebabkan oleh
penjalaran tumor ke selaput lendir hidung yang dapat mencederai dinding
pembuluh darah daerah ini.
2. Sumbatan hidung
Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor kedalam
rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang
kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental.
Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, karena
juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis. Mimisan juga sering terjadi
pada anak yang sedang menderita radang.
B. Gejala lanjutan
1. Pembesaran kelenjar limfe leher
Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika
timbulnya di daerah samping leher, 3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri.
Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahan pertama
sebelum sel tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan
nyeri, karenanya sering diabaikan pasien.
Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan
mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya melekat pada otot dan sulit digerakan.
Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut.
Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien
datang ke dokter. Kadang pembesaran kelenjar di leher ini salah di diagnosis
sebagai, tuberkulosis kelenjar.

2. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar.


Tumor dapat meluas ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga
tengkorak dan ke belakang melalui sela sela otot dapat mengenai saraf otak dan
menyebabkan gejala akibat kelumpuhan saraf otak. Penjalaran melalui foramen
naserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, V, dan VI sehingga yang sering
ditemukan ialah penglihatan ganda ( diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola
mata juling. Neuralgia trigeminal gelaja yang sering ditemukan oleh ahli saraf jika
belum terdapat keluhan lain yang berarti.
Proses karsinoma yang berlanjut akan mengenai saraf otak ke IX , X, XI,dan
XII jika penjalaran melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh
dari nasofaring. Hal ini akan menimbulkan rasa baal ( mati rasa) di daerah wajah
sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah, bahu, leher dan gangguan pendengaran
dan gangguan penciuman.
Keluhan lain dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke
selaput otak, rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang
terkena tumor.
Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja ( unilateral)
tetapi pada beberapa kasus pernah ditemuakn mengenai kedua sisi tubuh.
3. Gejala akibat metastasis
Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai
organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis
jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan
suatu stadium dengan prognosis buruk.
Stadium kanker
Stadium ini berdasarkan kriteria dari American Join Committe on Cancer ( AJCC)
2002
T = tumor primer
1. T0 tidak tampak tumor
2. Tis karsinoma in situ, dimana tumor hanya terdpat pada satu lapisan jaringan
3. T1 tumor terbatas pada satu lokalisasi saja ( lateral / posterosuperior / atap dan lain
lain).
4. T2 tumor yang sudah meluas ke dalam jaringan lunak dari rongga tenggorakan
5. T3 tumor telah keluar dari rongga nasofaring ( ke rongga hidung atau orofaring)
6. T4 tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau
mengenai saraf- saraf otak
7. TX tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap
N = nodule
1.
2.
3.
4.

N pembesaran kelenjar getah bening regional.


NX pembesaran kelenjar regional tidak dapat dinilai
N0 tidak ada pembesaran
N1 terdapat pembesaran tetapi homolateral dan tumor dalam kelenjar limfe
berukuran 6 cm atau lebih kecil

5. N2 terdapat pembesaran kontralateral atau bilateral dengan ukuran tumor 6 cm atau


lebih kecil
6. N3 tumor terdapat di kelenjar limfe dengan ukuran lebih dari 6 cm atau tumor telah
ditemukan di dalam kelenjar limfe pada regio segitiga leher
7. N3A tumor dalam kelenjar limfe dengan ukuran > 6 cm
8. N3B tumor di temukan diluar segitiga leher
M = Metastatis
1. M = metasatis jauh
2. M0 tidak ada metastatis jauh
3. M1 terdapat metastatis jauh
Penegakan diagnosis karsinoma nasofaring
Jika ditemukan adanya kecurigaan yang mengarah pada suatu karsinoam nasofaring,
protokol di bawah ini dapat membantu untuk menegakkan diagnosis pasti serta stadium
tumor :5
I.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik


Anannesis berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien ( tanda dan gejala KNF). Ada
sebuah patokan agar selalu ingat dan curiga akan adanya nasofaring seperti di bawah ini :
1. Setiap ada tumor di leher, ingatlah selalu adanya karsinoam nasofaring. Lebih
lebih jika tumor terletak di bawah prosesus mastoid dan di belakang angulus
mandibula
2. Dugaan karsinoma nasofaring akan lebih kuat jika :
Disertai gejala hidung dan telinga
Disertai gejala mata dan saraf
3. Dugaan karsinoma nasofaring hampir pasti bila ada gejala lengkap.

Bila memakai pedoman yang berpatokan pada tumor leher ini maka kita sudah
mendapatkan stadium lanjut, sebab tumor leher merupakan metastasis tumor induk.
II.
III.

Pemeriksaan nasofaring
Dengan menggunakan kaca nasofaring atau dengan nashopharingoscop
Biopsi nasofaring

Diagnosis pasti dari KNF ditentukan dengan diagnosis klinik ditunjang dengan
diagnosis histogik atau sitologik.
Diagnosis histologik dapat di tegakkan bila dikirim suatu material hasil biopsi cucian,
aspirasi atau brush, biopsi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dari hidung atau mulut. Biopsi
tumor nasofaring umumnya dilakukan dengan anastesi topikal dengan silokain 10 %.
Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya atau blind
biopsi. Cunam biopsi di masukkan melalui hidung menyelusuri konka media
ke nasofaring kemudia cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsi.

IV.

Biopsi melalui mulut dengan memakai kateter nelato yang di masukan melalui
hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem
bersama-sama ujung kateter yang dihidung. Demikian juga kateter yang dari
hidung di sebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian
dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat
tumor melalui kaca tersebut atau memaki nasofaringoskop yang dimasukan
melalui mulut, masa tumor akan terlihat lebih jelas. Bila dengan cara ini masih
belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan pengerokan dengn
kuretdaerha lateral nasofaring dalam narcosis.

Pemeriksaan patologi anatomi

Kalsifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh Organisasi


Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi
Tipe ini dapat di bagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk
2. Karsinoma non-keratinisasi
Pada tipe ini dapat di jumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel
skuamosa tanpa jembatan intersel. Pada umumnya batas sel cukup jelas.
3. Karsinoma tidak berdiferensiasi
Pada tipe ini sel tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk
oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat
jelas. Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang sama, yaitu
bersifat radiosensitif dan mempunyai titer antibodi terhadap epstein-barr. Sedangkan
jenis dengan keratinisasi tidak begitu radiosensitif dan tidak menunjukan hubungan
dengan virus epstein-barr.
Namun klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan oleh WHO
pada tahun 1991, hanya di bagi atas 2 tipe, yaitu :
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi ( Keratinizing squamous cell carcinoma)
2. Karsinoma non-keratinisasi ( non-keratinizing carcinoma).
Tipe ini dapat dibagi lagi berdiferensiasi dan tak berdiferensiasi.

Gambar 5. Histologi karsinoma nasofaring.2


V.

Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi pada kecurigaan KNF merupakan pemeriksaan penunjang


diagnosis yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologi tersebut adalah :

Memberikan diagnosis yang lebih pasti pada kecurigaan adanya tumor pada
daerah nasofaring
Menentukan lokasi yang lebuh tepat dari tumor tersebut
Mencari dan menentukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan sekitarnya.

a. Foto polos
Ada beberapa posisi dengan foto polos yang perlu dibuat dalam mencari kemungkina
adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu :

Posisi lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak ( soft tissue technique)
Posisi basis cranii atau submentoverteks
Tomogram lateral daerah nasofaring
Tomogram antero-posterior daerah nasofaring

b. CT Scan
Pada umumnya KNF yang dapat dideteksi secara jelas dengan radiografi polos adalah
jika tumor tersebut cukup besar dan eksofitik, sedangkan bula kecil mungkin tidak akan
terdeteksi. Terlebih-lebih jika perluasan tumor dalah submukosa, maka hal ini akan sukar
dilihat dengan pemeriksaan radiografi polos. Demikian pula jika penyebaran ke jaringan
sekitarnya belum terlalu luas akan terdapat kesukaran-kesukaran dalam mendeteksi hal
tersebut. Keunggulan C.T, Scan di bandingkan dengan foto polos ialah kemampuannya
untuk membedakan bermacam-macam densitas pada daerah nasofaring, baik itu pada
jaringan lunak maupun perubahan-perubahan pada tulang, dengan kriteria tertentu dapat
di nilai suatu tumor nasofaring yang masih kecil. Selain itu dengan lebih akurat dapat di
nilai apakah sudah ada perluasan tumor ke jaringan sekitarnya, menilaiada tidaknya
destruksi tulang serta ada tidaknya penyebaran intracranial.

Gambar 6. CT scan karsinoma nasofaring.2


Ada beberapa posisi dengan foto polos yang perlu
kemungkinan adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:

di buat dalam mencari

VI.

Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak (soft tissue technique)
Posisi basis cranii atau submentoverteks
Tomogram lateral daerah nasofaring
Tomogram antero-posterior daerah nasofaring
Pemeriksaan Neuro-oftalmologi

Karena Nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa


lobang, maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut KNF ini.
VII.

Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan serologi IgA anti EA (Early Antigen) dan IgA anti VCA (capsid antigen)
untuk infeksi virus E-B telah menunjukan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma
nasofaring. Tjokro Setiyo dari FK UI Jakarta mendapatkan dari 41 pasien karsinoma
nasofaring stadium lanjut (stadium III dan IV) sensitivitas IgA VCA adalah 97,5% dan
spesifitas 91,8% dengan titer berkisar antara 10 sampai 1280 dengan terbanyak titer 160.
IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi spesifitasnya hanya 30%, sehingga pemeriksaan
ini hanya di gunakan untuk menentukan prognosis pengobatan, titer yang didapat berkisar
antara 80 sampai 1280 dan terbanyak 160.

Penatalaksanaan
1. Radioterapi
Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan
karsinoma nasofaring. Penatalaksaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah
radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.7
Definisi Terapi Radiasi :
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus
jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.

Persyaratan Terapi Radiasi


Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi
radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Belum di dapatkannya sel tumor di luar area radiasi


Tipe tumor yang radiosensitif
Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
Dosis yang optimal
Jangka waktu radiasi tepat
Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping
radiasi.

Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukurannya sebelum kemoterapi di
berikan. Pada limfonodi yang tak teraba di berikan radiasi sebesar 5000 cGy dan bila
lebih dari 4 cm di berikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41 fraksi selama 5,5 minggu.
Alat yang biasa di pakai ialah cobalt 60, megavoltage, orthovoltage.
Sifat Terapi Medis
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah:

Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional


Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel
tumor
Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor
Ionisasi yang di timbulkan oleh radiasi yang dapat mematikan sel tumor.
Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor
sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya.
Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan
efek imun secara general.

Jenis Pemberian Terapi Radiasi


Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa di berikan sebagai :
1. Radiasi eksterna dengan berbagai macam teknik fraksinasi
2. Radiasi interna (brachytherapy) yang bisa berupa permanen implan atau intracavitary
barchytherapy.
Radiasi Eksterna dapat di gunakan sebagai :

Pengobatan efektif pada tumor primer tanpa pembesaran kelenjar getah bening
Pembesaran tumor primer dengan pembesaran kelenjar getah bening
Terapi yang di kombinasi dengan kemoterapi
Terapi adjuvan di berikan pre operatifatau post operasi pada neck dissection

Radiasi Interna / Brachyterapi bisa di gunakan untuk :

Menambah kekurangan dosis pada tumor primer dan untuk menghindari terlalu
banyak jaringan sehat yang terkena radiasi.
Sebagai booster bila masih di temukan residu tumor
Pengobatan kasus sembuh.

2. Kemoterapi

Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat


meningkatkan hasil terapi. Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada keadaan
kambuh.
Definisi kemoterapi
Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan
kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Obat-obat anti kanker ini dapat digunakan sebagia
terapi tunggal ( active single agents), tetapi kebanyakan berupa kombinasi karena dapat lebih
meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap
salah satu obat mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi
sehingga efek samping menurun.
Obat-obat sitostatika yang direkomendasi FDA untuk kanker kepala leher
Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA ( Amerika) untuk
digunakan sebagai terapi keganasan di daerah kepala dan leher yaitu : cisplatin, carboplatin,
methotrexate, 5- flourouracil, bleomycin, Hydroxyurea, doxorubicin, cyclophosphamide,
doxetaxel, mitomycin, Vincristine dan paclitaxel. Akhir- akhir ini dilaporkan penggunaan
gemcitabine untuk keganasan di daerah kepala dan leher.
Cara pemberian kemoterapi
Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :
1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi
2. Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada
kasus karsinoma stadium lanjut
3. Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau
radiasi
4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada
kasus-kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi seperti
leukemiadan limfoma
3. Operasi
Tindakan Operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal
dan nasofaringektomi.8 Diseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca radiasi
atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah di nyatakan
bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi. Nasofaringektomi
merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasus-kasus yang kambuh atau
adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain
4. Imunoterapi
Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari KNF adalah virus Epstein-Barr,
maka penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.

5. Obat anti virus


Asyclovir dapat menghambat sintesis DNA virus sehingga dapat menghambat
pertumbuhan virus epstein-barr. Obat anti virus ini penting pada karsinoma nasofaring
anaplastik yang merupakan EBV carrying tumor dengan DNA EBV postif.
Prognosis
Pengobatan radiasi terutama pada kasus dini, pada umumnya akan memberikan hasil
pengobatan yang memuaskan. Namun radiasi pada kasus lanjut pun dapat memberikan hasil
pengobatan paliatif yang cukup bik sehingga diperoleh kualiats hidup pasien yang baik pula.
Secara keseluruhan , angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. 3 Prognosis di perburuk oleh
beberapa faktor, seperti :9

Stadium yang lebih lanjut


Adanya metastatis yang jauh
Usia lebih dari 40 tahun
Laki laki dari pada perempuan
Ras cina
Adanya pembesaran kelenjar leher
Adanya kelumpuhan saraf otak
Adanya kerusakan tulang tengkorak

Komplikasi
Toksisitas dari radioterapi dapat mencakup xerostomia, hipotiroidisme, fibrosis dari
leher, trismus, kelainan gigi, hipoplasia struktur otot dan tulang, retardasi pertumbuhan,
kehilangan pendengaran, osteonekrosis dari mandibula. Penggunaan cisplatin menyebabkan
toksisitas pada ginjal dan bleomycin beresiko untuk menderita fibrosis paru.9

Pencegahan
1. Pemberian vaksinasi dengan vaksin spesifik membran glikoprotein virus epstein- barr
yang dimurnikan pada penduduk yang bertempatbtinggal di daerah beresiko tinggi
2. Memindahkan penduduk dari daerah beresiko tinggi ke tempat lainnya
3. Mengubah cara masak yang salah untuk mencegah akibat yang timbul dari bahanbahan yang berbahaya
4. Penyuluhan tentang lingkungan hidup yang sehat
5. Melakukan tes serologi IgS anti VCA dan IgA anti EA yang bermanfaat dalam
menemukan karsinoma nasofaring secara lebih dini
BAB III
Kesimpulan

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas nomor satu yang mematikan dan
menempati urutan ke 10 dari seluruh tumor ganas di tubuh. Banyak faktor yang diduga
berhubungan dengan karsinoma nasofaring diantaranya : adanya infeksi EBV, faktor
lingkungan dan genetik. Karsinoma nasofaring juga banyak ditemukan di Indonesia.
Penatalaksanaan pada stadium dini yang diberikan adalah radioterapi dan hasilnya baik.
Oleh karena itu diagnosis dini perlu diperhatikan pada pasien dewasa yang sering
mimisan, hidung tersumbat, keluhan kurang memdengar, sakit kepala dan penglihatan dobel.
Sebagai gejala lanjutan ialah pembesaran kelenjar limfe leher dan kelumpuhan saraf otak.
Bila dijumpai gejala seperti yang disebutkan di atas, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan
lengkap sampai karsinoma faing dapat disingkirkan, selain itu, bagi para penduduk yang
bertempat tinggal di daerah dengan resiko tiggi diharapkan melakukan vaksinasi virus EBV.

Daftar pustaka
1. Roezin, Averdi dan syafril, Anida. 2006. Karsinoma nasofaring. Disunting oleh
Efiaty Arsyad Soepardi dan Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorokan Kepala & Leher, Edisi Keenam. Jakarta : FKUI.
2. www.image.google.com/anatomi.nasofaring
3. Susworo. Dalam : Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir.
Cermin Dunia Kedokteran. 2004 : 16-20
4. Ramsi Lutan, Nasution YU. Karsinoma nasofaring. Dalam : Program & abstrak
PITIAPI. Medan : FK USU, 2001.h. 9-25.
5. Jeyakumar, Anita et al. 2006. Review of Nasopharyengal Carcinoma. ENT-Ear, Nose
& Throat Journal March 2006.
6. Davidson Neck Masses : Differential Diagnosis and Evaluation. San Diego :
Unoversity
of
California.
Available
at
:
http://drdavidson.ucsd.edu/portals/0/CMO/CMO_05.htm. Accessed January 29, 2016.
7. Asroel, Harry A.2002. Penatalaksanaan Radioterapi pada Karsinoma Nasofaring.
USU digital library : Bagian Tenggorokan Hidung dan Telinga Universitas Sumatera
Utara.
8. Widjoseno-gardjito.2005. Tindakan Bedah Organ dan sistem Organ, Kepala dan
Leher. Disunting oleh R Sjamsuhidajat dan Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.
2. Jakarta : EGC
9. Wei, William I. 2001. Nasopharyngeal cancer : Current Status of Management. Arch
Otolaryngeal Head Neck Surg. 2001 ; 127 : 766-769