Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOMAGNET

OLEH: KELOMPOK 4
AINUL QALBI

H22114002

A.ARMANSYAH

H22114008

PUTRI WULANDARI

H22114014

DEWI PUTRIYANI RACHMAT H22114020


MUTMAINNAH

H22114026

NURAMILA

H22114307

DEWI RAHMA AHMADI

H22114505

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan mata kuliah Metode
Geomagnet pada Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Hasanuddin
Makassar, Desember 2016
Penyusun,
KELOMPOK 4
AINUL QALBI

H22114002

A.ARMANSYAH

H22114008

PUTRI WULANDARI

H22114014

DEWI PUTRIYANI RACHMAT H22114020


MUTMAINNAH

H22114026

NURAMILA

H22114307

DEWI RAHMA AHMADI

H22114505

Mengetahui,
Asisten Praktikum Perpetaan
No
1.
2.
3.
4.

Nama
Muh. Yusuf Ramadhan
Burhamzah
Tri Nurhidayah

Tanda Tangan

Menyetujui,
Dosen Mata Kuliah

Dra. Maria, M.Si


NIP 196307281991032002

Sabrianto Aswad, S.Si, M.T


NIP 197805242005011002
Kata Pengantar

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan kasih
sayang-Nya sehingga Laporan Praktikum Geomagnet dapat disusun dan
diselesaikan tepat waktu. Shalawat serta taslim semoga senantiasa tercurah atas
junjungan Nabi Muhammad SAW, sang revolusioner sejati yang telah membawa
perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan ummat manusia.
Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak
yang telah berpartisipasi dalam persiapan kegiatan praktikum, pelaksanaan
kegiatan hingga penyusunan laporan lengkap Praktikum Perpetaan. Apresiasi dan
ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada kedua orangtua tercinta atas
sokongan riil maupun materiil, dosen pembimbing Mata Kuliah, serta asisten yang
telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan
mendampingi penyusun sebelum dan selama kegiatan praktikum berlangsung. Tak
lupa pula penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu secara langsung maupun tidak langsung selama kegiatan
praktikum.
Meskipun laporan ini telah disusun sebaik mungkin, namun tidak dapat dipungkiri
bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
bersifat konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dalam penyusunan
laporan berikutnya. Akhir kata penyusun haturkan mohon maaf atas kekurangan
yang terdapat dalam laporan ini, dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca dan dapat memberikan sumbangsih dalam dunia kependidikan.
Aamiin
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, November 2016
Tim Penyusun
Kelompok 4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................

ii

KATA PENGANTAR................................................................................

iii

DAFTAR ISI..............................................................................................

iv

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.......................................................................................

I.2 Ruang Lingkup......................................................................................

I.3 Tujuan....................................................................................................

I.3.1 Tujuan Umum.............................................................................

I.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Geologi Regional..................................................................................

35

II.2 Geomagnet...........................................................................................

35

II.2.1 Pengenalan Jenis-Jenis Peta.......................................................

35

II.2.2 Pemanfaatan Peta.......................................................................

37

II.2.3 Garis Kontur..............................................................................

39

II.2.4 Theodolite Survey......................................................................

40

II.2.5 Pengukuran Topografi................................................................

41

II.2.6 Poligon.......................................................................................

42

II.2.7 Triangulasi.................................................................................

43

II.2.8 Pengukuran Lapangan untuk Triangulasi..................................

45

II.2.9 Pengukuran dan Pemetaan Titik Dasar Teknik..........................

45

II.2.10 Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah................................

47

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Lokasi dan Waktu................................................................................

77

III.2 Alat dan Bahan....................................................................................

78

III.3 Prosedur Pengambilan Data...............................................................

81

III.3 Pengolahan Data.........................................................................

86

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


IV.1 Hasil..........................................................................................

90

IV.1.1 Tabel Data.........................................................................

90

IV.1.2 Hasil Pengolahan.....................................................................

90

IV.2 Pembahasan.........................................................................................

120

BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan...........................................................................................128
V.1.1 Kesimpulan Umum.................................................................

128

V.1.2 Kesimpulan Khusus.................................................................

128

V.2 Saran......................................................................................................

129

V.1.1 Saran untuk Kuliah Lapang......................................................

129

V.1.2 Saran untuk Asisten....................................................................

129

DAFTAR PUSTAKA................................................................................

xviii

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi dengan menggunakan
pengukuran fisis pada atau di atas permukaan. Dari sisi lain, geofisika
mempelajari semua isi bumi baik yang terlihat maupun tidak terlihat langsung
oleh pengukuran sifat fisis dengan penyesuaian pada umumnya pada permukaan
(Dobrin dan Savit, 1988).
Metode geofisika sebagai pendeteksi perbedaan tentang sifat fisis di dalam bumi.
Kemagnetan, kepadatan, kekenyalan, dan tahanan jenis adalah sifat fisis yang
paling umum digunakan untuk mengukur penelitian yang memungkinkan
perbedaan di dalam bumi untuk ditafsirkan kaitannya dengan struktur mengenai
lapisan tanah, berat jenis batuan dan rembesan isi air, dan mutu air (Todd, 1959).
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori, yaitu metode pasif
dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang
dipancarkan oleh bumi. Metode pasif dilakukan dengan membuat medan
gangguan kemudian mengukur respon yang dilakukan oleh bumi. Medan alami
yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi
bumi, medan magnet bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi
radiokativitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus
listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya.

Dari berbagai macam metode seperti yang disebut di atas, metode Geomagnetik
merupakan salah satu metode yang masih banyak digunakan hingga saat ini. Oleh
karena itu perlu adanya pembahasan khusus mengenai metode geomagnetik ini.
I.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam praktikum ini dibatasi pada metode geomagnet yang
dilakukan di delta lakkang selama 2 hari.
I.3 Tujuan
I.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari praktikum ini adalah:
1. Untuk memenuhi salah satu mata kuliah wajib yaitu metode geomagnet
2. Untuk mengaplikasikan teori geofisika yang diperoleh di dalam kelas.
I.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari praktikum ini adalah:
1.
2.
3.
4.

Mampu mengoperasikan alat magneto meter


Mampu mengolah data yang diperoleh dari hasil pengukuran
Mampu menganalisis sebaran nilai suseptibilitas yang di peroleh
Mampu mengetahui sebaran dan kedalaman bunker berdasarkan nilai
suseptibilitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Geologi Regional


Secara regional, geologi Pulau Sulawesi dan sekitarnya termasuk kompleks,yang
disebabkan oleh proses divergensi dari tiga lempeng litosfer, yaitu : Lempeng
Australia yang bergerak ke utara, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan
Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan-tenggara. Daerah sulawesi selatan,
dimana berdasarkan urutan stratigrafinya batuan tertua yang dijumpai di daerah
adalah Formasi Latimojong yang berumur Kapur dengan ketebalan kurang lebih
1000 meter. Formasi ini telah termetamorfisme dan menghasilkan filit, serpih,
rijang, marmer, kuarsit dan beberapa intrusi bersifat menengah hingga basa, baik
berupa stock maupun berupa retas-retas. Pada bagian atasnya diendapkan secara
tidak selaras Formasi Toraja yang terdiri dari Tersier Eosen Toraja dan
Tersier Eosen Toraja Limestone yang berumur Eosen terdiri dari serpih, batu
gamping dan batupasir serta setempat batubara, batuan ini telah mengalami
perlipatan kuat. Kisaran umur dari fosil-fosil yang dijumpai pada umumnya
berumur Eosen Tengah sampai Miosen Tengah. (diatmico, 2014).
Pembahasan pada Delta Lakkang mengenai proses pembentukannya, faktor
pembentukan, serta litologi sedimentasi. Proses pembentukan delta ini diawali
dari proses erosi terhadap aliran fluida yang dilewati. Aliran tersebut membawa
material-material erosi yang kemudian tertransport menuju muara sungai. Dan

akhirnya terjadi sedimentasi material sungai. Kejadian tersebut terjadi berulangulang selama ratusan tahun. Sedimentasi pada muara sungai tidak terganggu oleh
gelombang air laut karena laut daerah sulawesi tidak mempunyai ombak. Dalam
pembentukan delta terdapat beberapa faktor pengontrol utama. Delta Lakkang ini
diindikasikan

faktor pengontrolnya adalah aliran sungai dan

dibantu

dengan

gelombang air laut. Aliran sungai membawa material sedimen yang kemudian
terendapkan di muara sungai. Gelombang air laut tenang membantu material
tersebut tidak teruarai ke laut lepas. Pada artikel terkait Delta Lakkang disebutkan
litologi material sedimentasi didominasi oleh litologi pasir dan lumpur. Banyak
tumbuhan rawa di sepanjang bantaran sungai tallo. Diindikasikan butiran pasir
telah

berbentuk

membulat

akibat

jarak

dari

provencenya

yang

jauh.

Energi pengendapan material tersebut semula tinggi kemudian berangsur rendah


menuju hilir sungai tallo (diatmico, 2014).
Berikut adalah lampiran gambar dari artikel mengenai geologi regional yang
terdapat pada kota makassar yang diperbesar terkhusus pada Delta Lakkang ;

Secara geografis, Lakkang adalah desa


yang dihuni oleh sekitar 300 KK atau
sekitar 1000 jiwa di sebuah delta seluas
165 hektar yang terbendung selama
ratusan tahun dari sedimentasi Sungai
Tallo. Mata pencaharian utama penduduknya adalah nelayan / penambak dan
bertani.
Lakkang dipisahkan dengan daratan Makassar oleh sungai Tallo yang lebarnya 1050 meter dan mempunyai kedalaman hingga 7 meter. Untuk mencapainya kita
harus melintasi Sungai Tallo menggunakan perahu penyeberangan dengan jarak
tempuh 15 menit.
Lakkang merupakan kawasan penelitian terpadu serta daerah konservasi alam dan
budaya yang menjadikannya terpilih sebagai pusat peringatan Hari Habitat
Sedunia bertema Cities Magnet of Hope pada 2006. Dan pada 2011, Lakkang
ditetapkan sebagai Desa Wisata yang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah
baru di Makassar dengan bunker Jepang sebagai daya tarik unggulannya.
II.2 Geomagnet

II.2.1 Gambaran Umum Metode Geomagnetik


Dalam metode geomagnetik ini, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa
dimana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan
magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi
secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian bumi tertentu,
biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan
tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik batuan
ini, pendugaan sebaran batuan dapat dipetakan baik secara lateral maupun
vertikal.
Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga tahap :
akuisisi data lapangan, processing, interpretasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa
perlakuan atau kegiatan. Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik
pengamatan dan pengukuran dengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data
pengukuran dilakukan pada tahap processing. Koreksi pada metode magnetik
terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi topografi (terrain) dan koreksi
lainnya. Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan
menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang
diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya
perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi
tergantung

dari

suseptibilitas

magnetik

masing-masing

batuan.

Harga

suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian benda anomali karena sifat

yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin
besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin banyak.
Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval
antar titik ukur 10 m dan jarak lintasan 40 m. Batuan dengan kandungan mineralmineral tertentu dapat dikenali dengan baik dalam eksplorasi geomagnet yang
dimunculkan sebagai anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada
medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik kerak bumi atau
mungkin juga bagian atas mantel.
Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika denga metode
gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga
keduanya sering disebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau ari
segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor
magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor
percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual
kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu
lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat,
laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan
minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada
pencarian prospek benda-benda arkeologi.
II.2.2 Medan Magnet Bumi

Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga elemen
medan magnet bumi (gambar I), yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan
intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal
yang dihitung dari utara menuju timur
Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal
yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke bawah.
Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang
horizontal.
Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.

Gambar 1. Tiga Elemen medan magnet bumi


Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk menyeragamkan nilainilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang disebut International
Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5 tahun sekali.

Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada daerah
luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun.
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :
1. Medan magnet utama (main field)
Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil
pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan
luas lebih dari 106 km2..
2. Medan magnet luar (external field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang merupakan
hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari
matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan dengan arus listrik yang
mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini
terhadap waktu jauh lebih cepat.
3. Medan magnet anomaly
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral

Fe 7 S 8
bermagnet seperti magnetite (

Fe 2Ti O4
), titanomagnetite (

) dan lain-lain

yang berada di kerak bumi.


Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari pengukuran
adalah variasi medan magnetik yang terukur di permukaan (anomali magnetik).

Secara garis besar anomali medan magnetik disebabkan oleh medan magnetik
remanen dan medan magnetik induksi. Medan magnet remanen mempunyai
peranan yang besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan
magnetiknya serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga
sangat rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil
gabungan medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnet
remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya bertambah
besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan remanen
akan diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang dari 25 % medan magnet
utama bumi (Telford, 1976), sehingga dalam pengukuran medan magnet berlaku :

HT H M H L H A

dengan :

HT

HM

HL

HA

: medan magnet total bumi

: medan magnet utama bumi

: medan magnet luar

: medan magnet anomali

II.2.3 Metode Pengukuran Data Geomagnetik


Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang
digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat

medan magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission
Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan
magnetik total. Peralatan lain yang bersifat pendukung di dalam survei magnetik
adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini digunakan untuk mengukur
posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS
ini dalam penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit.
Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat
luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.
Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei
magnetik, antara lain (Sehan, 2001) :
a. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan
magnet bumi.
b. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik
pengukuran pada saat survei magnetik di lokasi
c. Sarana transportasi
d. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data
e. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan
lain-lain.
Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan peralatan
PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama proses
pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi cuaca dan
lingkungan.
Tabel 2. Contoh form untuk mencatat data hasil pengukuran

No

Stasiun

Waktu

Posisi Geografis

Pengukuran
Tgl.

Jam

Bujur

Lintang

Kuat

Keadaan

Medan

Lokasi

Tinggi

1
2

Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah


menentukan base station dan membuat station - station pengukuran (usahakan
membentuk grid - grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi
pengukuran, kemudian dilakukan pengukuran medan magnet di station - station
pengukuran di setiap lintasan, pada saat yang bersamaan pula dilakukan
pengukuran variasi harian di base station.
II.2.4 Pengaksesan Data IGRF
IGRF singkatan dati The International Geomagnetic Reference Field. Merupakan
medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai IGRF merupakan
nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk nilai yang ikut
terukur pada saat kita melakukan pengukuran medan magnetik di permukaan
bumi, yang merupakan komponen paling besar dalam survei geomagnetik,
sehingga perlu dilakukan koreksi untuk menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF
terhadap data medan magnetik hasil pengukuran dilakukan karena nilai yang
menjadi terget survei magnetik adalan anomali medan magnetik (Hr0).
Nilai IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap data kuat medan magnetik total
dari hasil pengukuran di setiap stasiun atau titik lokasi pengukuran. Meskipun
nilai IGRF tidak menjadi target survei, namun nilai ini bersama-sama dengan nilai

sudut inklinasi dan sudut deklinasi sangat diperlukan pada saat memasukkan
pemodelan dan interpretasi.
II.2.5 Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada
setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF
dan topografi.
1. Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan
magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari
dalam satu hari.
Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu
pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran)
yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian
dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada
waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi.
Sebaliknya apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan
dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu
tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi, data dituliskan
dalam persamaan
H = Htotal Hharian
2. Koreksi IGRF

Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah kontribusi dari
tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik
luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali
IGRF. Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian,
maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF.
Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF
terhadap nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap
titik pengukuran pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya
(setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai berikut :

H = Htotal Hharian H0
Dimana H0 = IGRF
3. Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik
sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai
aturan yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya
adalah dengan membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan
beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan,
nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga
model topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik
(Htop) sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah
dilakukan koreksi harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai
H = Htotal Hharian H0 - Htop

Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang terukur
dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di topogafi. Untuk
mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan sebagai dasar
dalam pendugaan model struktur geologi bawah permukaan yang mungkin, maka
data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari
garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai anomali
sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.
II.2.6 Reduksi ke Bidang Datar
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik, maka
data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di topografi harus
direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses transformasi ini mutlak dilakukan,
karena proses pengolahan data berikutnya mensyaratkan input anomali medan
magnetik yang terdistribusi pada biang datar.
Beberapa teknik untuk mentransformasi data anomali medan magnetik ke bidang
datar, antara lain : teknik sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen
(equivalent layer) dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion),
dimana setiap teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1995).

II. 2.7 Pengangkatan ke Atas


Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses transformasi
data medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya yang lebih

tinggi. Pada pengolahan data geomagnetik, proses ini dapat berfungsi sebagai
filter tapis rendah, yaitu unutk menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik
lokal yang berasal dari berbagai sumber benda magnetik yang tersebar di
permukaan topografi yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan tidak
boleh terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang
bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target survei
magnetik ini.
II.2.8 Koreksi Efek Regional
Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi target survei
selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik lain yang berasal
dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah permukaan bumi. Anomali
magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik regional (Breiner, 1973). Untuk
menginterpretasi anomali medan magnetik yang menjadi target survei, maka
dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan untuk menghilangkan efek
anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik hasil pengukuran.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional
adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana
peta kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami
perubahan pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi.
II.2.9 Interpretasi Data Geomagnetk
Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi
kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur

anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda


termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola
anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi
geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi,
yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan
kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis.
Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu
dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh,
sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran. Beberapa pemodelan yang
biasa digunakan yaitu pemodelan dua setengah dimensi dan pemodelan tiga
dimensi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilakukan pada minggu, 4 Desember 2016 bertempat di desa
lakkang kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
III.2 Alat dan Bahan
Berikut merupakan alat dan bahan yanh digunakan dalam praktikum ini:
1.Magnetometer geotron G5 Proton
2. GPS
3. Meteran
4. Patok
5. Alat tulis
6. Tabel pengukuran
III.3 Prosedur Pengambilan Data
Prosedur pengambilan data yaitu :
1. Menentukan daerah penelitian dan membuat sketsa pengukuran Base dan
2.
3.
4.
5.

stasiun di kertas.
Menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk akuisisi data geomagnet.
Memasang patok di base dan di setiap stasiun pengukuran.
Mencatat koordinat dan elevasi di titik base.
Menentukan stasiun-stasiun yang akan dilakukan pengukuran dan tulis

koordinat dan elevasi setiap stasiun tersebut.


6. Mencatat waktu pertama kali di lakukan pengukuran di base.
III.4 Pengolahan Data
Adapun pengolahan data pada penelitian ini, yaitu :
1. Data yang didapatkan di lapangan adalah nilai latitude, longitude, waktu
dan hasil pembacaan
Tabel data.

2. Menentukan posisi Base dan Mengubah nilai longitude dan latitude ke


dalam bentuk degree dan waktu dalam bentuk jam.
3. Menghitung nilai looping di base dengan menggunakan rumus:
t B t
RB RB
L=

B1

4. Menghitung nilai base drift di base setiap melakukan looping dengan


menggunakan rumus :
R=R B R B
n

5. Menghitung nilai diurnal change rate dengan menggunakan rumus :


DCR=Ln x ( t obst B ) +base drift of theloop
1

6. Menghitung nilai diurnal correction dengan menggunakan rumus :


RDC=DCRRobs
7. Menghitung nilai IGRF dengan cara memasukkan titik koordinat dan
elevasi

dari

data

yang

berada

di

bagian

ngdc.noaa.gov/geomag-web/#igrfwmm
8. Menghitung nilai residualnya dengan rumus :
Nilai residual=nilai IGRF diurnal correction

BAB IV

tengah

di

website

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Tabel Data
IV.1.2 Hasil Pengolahan

IV.2 Pembahasan

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
V.1.1 Kesimpulan Umum
V.1.2 Kesimpulan Khusus

V.2 Saran
V.2.1 Saran Untuk Praktikum
V.2.2 Saran Untuk Asisten

DAFTAR PUSTAKA

BIODATA PRAKTIKAN

Nama

: Putri Wulandari

NIM

: H22114014

TTL

: Makassar, 7 September 1996

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Borong Jambu III no.495 Perumnas Antang

No.HP

: 082141398597

E-mail

: putriw3094@gmail.com

Motto
masa

: belajar dari masa lalu, hidup untuk sekarang, dan berharap di


depan

Pesan

Kesan

BIODATA PRAKTIKAN

Nama

: Mutmainnah

NIM

: H22114026

TTL

: Waepejje, 30 Mei 1997

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Damai Unhas

No. HP

: 082292343685

E-Mail

: mnanna25@gmail.com

Motto

: Jadikan kegagalan hari ini sebagai senjata untuk masa depan

Pesan

Kesan