Anda di halaman 1dari 8

1.

Profil PT Kaltim Prima Coal


PT. Kaltim Prima Coal (KPC) adalah sebuah perusahaan penghasil batubara
terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berlokasi di daerah Sangatta, Kabupaten Kutai
Timur, Kalimantan Timur. KPC merupakan perusahaan tambang batubara yang terletak
di Kabupaten Kutai Timur yang didirikan dengan akta No 28 tanggal 8 Maret 1982 dan
mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman RI sesuai dengan Surat Keputusan
No. Y.A.5/208/25 tanggal 16 Maret 1982 dan telah diumumkan dalam Berita Negara
Republik Indonesia tanggal 20 Juli 1982 No 61 Tambahan Nomor 967. Sejak awal
beroperasi pada tahun 1992, KPC merupakan perusahaan modal asing (PMA) yang
dimiliki oleh British Petroleum International Ltd (BP) dan Conzinc Rio Tinto of
Australia Ltd. (Rio Tinto) dengan pembagian saham masing-masing 50%. Berdasarkan
Akta No. 9 tanggal 6 Agustus 2003 dan Bukti Pelaporan dari Menteri Kehakiman dan
Hak Asasi Manusia RI No. C-UM 02 01.12927 tertanggal 11 Agustus 2003, saham KPC
dimiliki oleh BP dan Rio Tingo telah dialihkan kepada Kalimantan Coal Ltd dan Sengata
Holding Ltd yang selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2005 sesuai dengan Akta Notaris
No 3 tanggal 18 Oktober 2005, PT. Bumi Resources Tbk telah mengakusisi saham
Kalimantan Coal Ltd dan Sengata Holding Ltd. Berdasarkan akta notaris No 34 tanggal
4 Mei 2007, pemegang saham PT Kaltim Prima Coal mengalihkan 30% sahamnya
kepada Tata Power (Mauritius) Ltd.
Berdasarkan Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
(PKP2B) yang ditandatangai pada tanggal 8 April 1982, pemerintah memberikan izin
kepada KPC untuk melaksanakan eksplorasi, produksi dan memasarkan batubara dari
wilayah perjanjian sampai dengan tahun 2021. Wilayah perjanjian PKP2B ini mencakup
daerah seluas 90.938 Ha di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.
PT Kaltim Prima Coal memiliki konsesi tambang kurang lebih seluas 90.938
hektar di Sanggata dan Bengalon yang terletak di propinsi Kalimantan Timur. Tambang
Sangatta terletak dekat dengan fasilitas-fasilitas pelabuhan di Tanjung Bara, yang
dihubungkan dengan lokasi tambang melalui overland conveyor dengan panjang sekitar
13 kilometer. Tambang Bengalon juga berlokasi dekat dengan pantai dan dihubungkan
dengan fasilitas pelabuhan melalui jalan sepanjang 22 kilometer. Lokasi yang dekat
dengan pelabuhan memberikan keuntungan bagi KPC dengan biaya yang rendah untuk
transportasi dari tambang ke lokasi pelabuhan. KPC memproduksi tiga jenis batubara:
Prima, batubara berkualitas unggul, dengan kalori tinggi, kandungan abu sangat

rendah, kandungan sulfur menengah dengan kelembaban rendah.

Pinang, memiliki kalori yang lebih rendah dari Prima dengan tingkat kelembaban

yang lebih tinggi.


Melawan, batubara sub-bituminous dengan kandungan sulfur dan abu rendah, serta
tingkat kelembaban yang tinggi.
2.

Kasus PT Kaltim Prima Coal


Kasus ini muncul akibat adanya ketidak-transparansi PT Kaltim Prima Coal
didalam memberikan laporan mengenai CSR yang sudah dilakukannya di daerah tempat
dia beroperasi. Dimana di dalam Laporan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable
Development Report) 2007 PT. Kaltim Prima Coal, Tidak Hanya Menambang tidak
ada mencantumkan besaran jumlah CSR yang disalurkan kepada masyarakat Kutai
Timur. Hanya mencatumkan apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh PT KPC beserta
penghargaan yang sudah berhasil diraihnya. Hal ini yang menimbulkan protes dari
masyarakat sekitar (Kutai Timur) karena CSR dari PT KPC tidak sampai secara efektif
ke tangan masyarakat, bahkan ada yang belum terealisasi. Selain dari ketidaktransparansi tersebut, adanya janji yang belum terealisasi pada saat PT Kaltim Prima
Coal akan dibeli oleh PT Bumi Resources (BR). Dimana PT Bumi Resources
memberikan janji untuk membangun fasilitas umum di Kutai Timur.

3.

Penyebab atau Latar Belakang Kasus PT Kaltim Prima Coal


Hal ini diawali dari pelaksanaan CSR PT. Kaltim Prima Coal dinilai tidak
transparan. Data realisasi CSR yang nilainya setara dengan Rp 50 miliar per tahun tidak
pernah dipublikasikan secara mendetail. Karena tidak dipublikasikan secara mendetail,
muncul beragam persepsi di tengah masyarakat terkait pelaksanaannya. Masyarakat
beranggapan bahwa CSR merupakan hak rakyat Kutai Timur, sehingga seharusnya
laporan realisasi CSR perusahaan dipublikasikan.
Masyarakat Kutai Timur juga mempertanyakan janji yang dibuat oleh PT. Bumi
Resources (BR) sebagai pemegang saham PT Kaltim Prima Coal (KPC). BR memang
pernah berjanji membangunkan rumah sakit, membangun kampus Stiper (Sekolah Tinggi
Pertanian) dan membangun Jalan Soekarno-Hatta dua jalur, yang semuanya belum
tuntas. Padahal janji itu dilontarkan tahun 2003, menjelang BR akan membeli saham
KPC, agar mendapat dukungan Pemkab Kutim (Kutai Timur). BR juga berjanji
mengucurkan CSR sekira Rp 50 miliar per tahun. Tapi pengelolaannya dinilai tak
transparan, dan ditangani sendiri oleh KPC.

Forum Multi Stakeholder Coorporate Social Responsibility (Forum MSH-CSR)


mengatakan bahwa dana yang mereka kelola belum maksimal dan masih di bawah dana
yang dijanjikan. Misalnya saja CSR tahun 2009 untuk Kecamatan Bengalon. Data itu
adalah data yang dirilis oleh Forum Multi Stakeholder (MSH) CSR. Dari dana CSR
sekira Rp 1,1 miliar, yang sampai ke rakyat hanya sekira Rp 400 juta. Dana sekira Rp
690 juta diberikan ke instansi vertikal. Namun, di sisi lain, pihak KPC menyanggah hal
tersebut dengan berdalih bahwa dana yang dikucurkan harus melalui prosedur yang
sesuai dengan kelengkapan dokumen dan progress report pada tiap-tiap proyek.
Akhirnya, masyarakat menuntut adanya transparansi dan pertemuan rutin antara pihak
KPC dengan Forum MSH-CSR agar permasalahannya bisa didiskusikan bersama untuk
dicari solusinya. Selain itu, masyarakat meminta agar dana CSR tersebut tidak semuanya
dikelola oleh KPC tetapi juga bekerja sama dengan Forum MSH-CSR dalam
pengalokasiaannya. Tuntutan masyarakat ini bahkan disertai dengan ancaman bahwa
operasi KPC mungkin akan terhambat keamanan dan ketertibannya jika tuntutan tersebut
tidak dipenuhi. Pihak pemerintah daerah pun juga setuju dengan tuntutan akan
transparansi dan pendelegasian pengelolaan dana CSR tersebut. Jika tuntutan tersebut
tidak dipenuhi, pihak pemerintah daerah akan meninjau ulang izin pertambangan di
daerah tersebut.
4.

Pembahasan Kasus PT Kaltim Prima Coal


Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 Pasal 66 Ayat 2
menunjukkan tentang kewajiban tiap perusahaan perseroan terbatas untuk membuat
laporan tahunan yang salah satu poinnya merujuk pada laporan pelaksanaan Tanggung
Jawab Sosial dan Lingkungan. Pada beberapa laporan Corporate Social Responsibility
tahunan

yang

dinamakan

Laporan

Pembangunan

Berkelanjutan

Tak

Hanya

Menambang milik KPC telah disebutkan perkembangan apa saja yang telah mereka
lakukan. Apalagi dengan berbagai penghargaan yang telah mereka terima, seperti
Millennium Development Goals (MDGs) Award dari Metro TV dan perwakilan PBB
dalam bidang pemberantasan HIV/AIDS pada 2008. Namun, pada kenyataannya, pada
tahun 2010 awal ini masyarakat mulai kritis dan mempertanyakan langkah-langkah CSR
lainnya dari KPC. Dalam menganalisis masalah CSR KPC ini, ada beberapa model
implementasi CSR yang bisa diaplikasikan. Pada dasarnya, perusahaan harus menyadari
bahwa perusahaan memiliki beberapa aspek yang harus dipenuhi, bukan hanya aspek
etika.

Yang pertama ada dilihat dari 4 Langkah Piramida CSR. Dimana hal ini pula
yang seharusnya dilakukan oleh KPC. Bila dianalisis satu per satu, pada aspek economic,
KPC sudah memenuhi hal ini dengan memperoleh pendapatan sebesar USD 1.741,93
juta. Hal ini merupakan pendapatan yang cukup besar dengan pangsa pasar ekspor yang
berada di beberapa negara di belahan dunia. Walaupun begitu, aspek legal yang berada
pada dimensi di atas economic sudah dibuat kontraknya. Namun, hal ini pun masih
dipertanyakan implementasinya sejak pembuatan kontrak ataupun pengucapan janji
pembangunan pada 2003 sampai pada tahun 2010. Walaupun pada laporan terkait di
tahun 2008 sudah disebutkan community expenditure commitment sebesar USD
5.000.000 dan biaya lingkungan sebesar USD 18.771,896. Pada dimensi ethical,
sebenarnya KPC sudah mulai memberikan berbagai bantuan dengan kegiatan yang
berfokus pada tujuh pembangunan berkelanjutan, yakni:
1. Pengembangan agribisnis
2. Peningkatan kesehatan dan sanitasi
3. Pendidikan dan pelatihan
4. Peningkatan infrastruktur masyarakat
5. Pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah (KUKM)
6. Pelestarian alam dan budaya
7. Penguatan kapasitas lembaga masyarakat dan pemerintah, dan pemberdayaan
masyarakat.
Namun, pelaksanaan yang kurang terkoordinasi dari tahun ke tahun membuat
pelaksanaannya cukup baik pada tahun-tahun awal sampai ke 2008 akan tetapi agak
terganggu pelaksanaannya pada tahun 2009 dan 2010 sehingga muncul masalah dengan
Forum MSH-CSR. Aspek terakhir yang perlu diperhatikan adalah philanthropic yang
sebenarnya nice to do meskipun bukanlah sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Menjadi
sebuah corporate citizen yang menguntungkan masyarakat sekitar dan memenuhi
berbagai aspek lainnya untuk dapat hidup berdampingan antara produsen ataupun
pengusaha dan masyarakat sekitar serta stakeholders lainnya.
Selain itu juga tanggung jawab sosial perusahaan / CSR merupakan strategi bisnis
yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan dan keberlanjutan perusahaan. Untuk
menjamin kelangsungan dan keberlanjutan sebuah perusahaan, maka perusahaan
tersebut harus memperhatikan semua aspek yang meliputi ekonomi (Profit), sosial
(People), dan lingkungan (Planet) atau disebut juga triple bottom line.
Walaupun diatas kertas, KPC bisa memberikan data-data mengenai realisasi dari
triple bottom line tersebut, akan tetapi apa yang dirasakan oleh masyarakat sekitar
tersebut yang bisa menjadi tolak ukur apakah realisasi tersebut bisa berjalan dengan baik
atau tidak. Seperti ekonomi (profit), dimana hal itu diimplementasikan dalam bentuk

pengembangan agribisnis serta pengembangan KUKM (Koperasi, Usaha Kecil dan


Menengah). Selain itu, ini ditunjukkan dengan perolehan laba sebesar USD 1.741,93
juta, yang mana itu termasuk besar untuk perusahaan yang berada di Indonesia.
Selanjutnya sosial (people). Dimana KPC melakukannya dalam bentuk peningkatan
kesehatan dan sanitasi; pendidikan dan pelatihan; Peningkatan infrastruktur masyarakat;
Penguatan kapasitas lembaga masyarakat dan pemerintah, dan pemberdayaan
masyarakat. Dan yang terakhir, lingkungan (planet) yang berupa pelestarian alam dan
budaya. Akan tetapi, karena KPC bergerak di bidang pertambangan, tentu ia memiliki
dampak perusakan lingkungan yang cukup besar.
Walaupun implementasi dari triple bottom lines itu sudah berjalan, akan tetapi
keefektifannya dirasa kurang oleh masyarakat dan bahkan ada yang belum terealisasi,
sehingga menimbulkan protes dari Forum Multi Stakeholder Corporate Social
Responsibility. Hal itu wajar, karena KPC yang beroperasi di Kutai Timur mengambil
sumber daya disana, yang mana hal itu memiliki dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Apalagi KPC juga sudah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk CSR tersebut,
akan tetapi yang diterima hanya sebagian kecil dari alokasi tersebut. Sehingga tidak
terasa dengan adanya CSR tersebut oleh masyarakat.
Selain itu, ada studi yang dilakukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan,
Universitas Gadjah Mada, menunjukkan, program CSR yang dilakukan PT Kaltim Prima
Coal (pertambangan terbesar batu bara) terkesan untuk menghindari konflik dengan
masyarakat sekitar.
Mulyadi (2004),

peneliti

PSKK-UGM

menyebutkan,

walaupun

sulit

mengidentifikasi kapan perusahaan-perusahaan lain, seperti PT Kaltim Prima Coal


(KPC), memulai program CSR. Namun, fakta menunjukkan bahwa perusahaan milik
Aburizal Bakrie ini merealisasi program-program tersebut secara lebih intensif pada
tahun-tahun setelah diberlakukannya otonomi daerah. Kebijakan yang telah memberi
kebebasan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya.
Buruknya lagi, dalam merealisasikan programnya, Unocal dan

KPC

menggandeng LSM bentukan pemerintah daerah (Kapital), yang tidak memiliki


kapasitas dan sarat dengan kepentingan elit, korupsi, dan realisasi program yang tidak
menyentuh kepentingan masyarakat yang terkena dampak. Sehingga hal ini akan
menambah ketidak-efektifan dari adanya CSR dari PT KPC tersebut.
Dimana prinsip-prinsip Good Corporate Governance, seperti Transparency,
Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness yang kemudian menjadi
pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR. CSR juga berfungsi sebagai sarana

untuk memperoleh license to operate, baik dari pemerintah maupun masyarakat. CSR
juga bisa berfungsi sebagai strategi risk management perusahaan. Pendekatan CSR yang
berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada umumnya dilakukan secara adhoc, partial, dan tidak melembaga. CSR pada tataran ini hanya sekadar do good dan to
look good (berbuat baik agar terlihat baik). Perusahaan yang melakukannya termasuk
dalam kategori perusahaan impresif, yang lebih mementingkan tebar pesona
(promosi) ketimbang tebar karya (pemberdayaan).
5.

Penyelesaian Kasus PT Kaltim Prima Coal


Sebaiknya, di dalam menentukan besaran CSR yang akan disalurkan ke masyarakat serta
dalam bentuk seperti apa, perusahaan lebih baik melakukan beberapa hal berikut :
1) Perumusan strategi pengalokasian dana CSR yang harus mengikutsertakan
masyarakat dan pemerintah daerah setempat, agar CSR yang disalurkan bisa lebih
tepat sasaran dan lebih cepat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat sekitar.
2) Proses penjelasan bagaimana sistem penyaluran dana CSR dilakukan pada forum
bersama dan forum yang akhirnya dilaksanakan secara berkala untuk monitoring
pelaksanaan kegiatan yang dicanangkan pada perumusan jangka pendek maupun
jangka panjang alokasi dana CSR.
3) Proses evaluasi dan pertanggungjawaban yang tidak hanya dilakukan melalui media
luar dan berbentuk laporan semata, tetapi juga berbentuk forum yang mengundang
masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut mengevaluasi dan memberikan
masukan terhadap kinerja penggunaan dana CSR selama tahun berjalan.
4) Memberikan transparansi terhadap pelaporan mengenai realisasi CSR agar
masyarakat bisa yakin bahwa dana CSR yang disalurkan memang sesuai dengan apa
yang sudah dirasakan oleh masyarakat.

Daftar Pustaka
Sari, Indah, dkk. 2013. Akuntansi Sosial Sebagai Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan
Terhadap Lingkungan (Studi Kasus pada PT. Kaltim Prima Coal di Sangatta, Kalimantan
Timur). Skripsi Sarjana pada Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman: Tidak
Diterbitkan.

Kurniawan, Dwi. 2009. Analisa CSR Pada PT. Kaltim Prima Coal. fotodeka.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 9 November 2015.
www.firstmedia.com Tanggung Jawab Sosial (Diakses pada tanggal 10 November 2015)
Yanson, Ardi. 2014. CSR Lingkungan Hidup. www.slideshare.net. Diakses pada tanggal 10
November 2015)

GOOD CORPORATE GOVERNANCE


KASUS PT KALTIM PRIMA COAL

Oleh:
KELOMPOK 3
Ida Bagus Agung Adi Prasetya

/ 1306305023 / 01

Putu Ayu Anggya Agustina

/ 1306305025 / 02

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
PROGRAM REGUER
2015