LAPORAN PRAKTIKUM
PENGARUH POLARITAS MESIN LAS TERHADAP HASIL LAS-LASAN
Anggota Kelompok 3 :
Wisnu Wicaksono
(6713040036)
Rony Wijaya
(6713040040)
Brahemi Al Syaddad
(6713040058)
Alvinura Fajrin
(6713040064)
PRODI D4 TEKNIK PENGELASAN
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Tujuan
1. Mengetahui pengaruh polaritas mesin las terhadap hasil pengelasan
meliputi heat input, lebar lasan dan tinggi welding beat.
2. Melakukan monitoring parameter las menggunakan tang amper
dan voltmeter
3. Menggunakan alat ukur (welding gauge dan jangka sorong)
4. Melakukan pengujian metalografi (makro etsa)
1.2
Dasar Teori
Metalografi merupakan suatu metode untuk menyelidiki struktur
logam dengan menggunakan mikroskop optis dan mikroskop elektron.
Sedangkan struktur yang terlihat pada mikroskop tersebut tersebut disebut
mikrostruktur. Pengamatan tersebut dilakukan terhadap specimen yang
telah diproses sehingga bisa diamati dengan pembesaran tertentu. Gambar
1.1 berikut menjelaskan specimen dengan pembesaran dan lingkup
pengamatannya.
a. Specimen
0,5-2 cm
b. Mikrostruktur
c. Kristal
10 6 - 10 2 cm
10
d. Atom
cm
10 6 cm
Gambar 1.1 Specimen, ukuran dan bentuk obyek pembesaran
Dari Gambar 1.1 diatas dapat diketahui bahwa penyelidikan
mikrostruktur berkisar 10 6 cm (batas kemampuan elektron mikroskop
hingga 10 2 cm batas kemampuan mata manusia). Biasanya objek
pengamatan yang digunakan 10 5 cm atau pembesaran 5000-30000 kali
untuk mikroskop elektron dan 10 3 cm atau order pembesaran 100-1000
kali mikroskop optik.
Dasar Teori Makro
Pengujian makro (makroscope test) ialah proses pengujian bahan
yang menggunakan mata terbuka dengan tujuan dapat memeriksa celah
dan lubang dalam permukaan bahan. Angka kevalidan pengujian makro
berkisar antara 0,5 sampai 50 kali. Pengujian cara demikian biasanya
digunakan untuk bahan-bahan yang memiliki struktur kristal yang
tergolong besar atau kasar. Misalnya, logam hasil coran (tuangan) dan
bahan yang termasuk non-metal (bukan logam).
Agar permukaan logam dapat diamati secara metalografi, maka
terlebih dahulu dilakukan persiapan sebagai berikut :
1. Pemotongan specimen
Pada tahap ini, diharapkan specimen dalam keadaan datar, sehingga
memudahkan dalam pengamatan.
2. Mounting specimen (bila diperlukan)
Tahap mounting ini, specimen hanya dilakukan untuk material yang
kecil atau tipis
saja. Sedangkan untuk material yang tebal tidak
memerlukan proses mounting.
3. Grinding dan polishing
Tahap grinding dan polishing ini bertujuan untuk membentuk
permukaan specimen agar benar-benar rata. Grinding dilakukan dengan
cara menggosok specimen pada mesin hand grinding yang diberi kertas
gosok dengan ukuran grid yang paling kasar (grid 240) sampai yang
paling halus (grid 600). Sedangkan polishing sendiri dilakukan dengan
menggosokkan specimen diatas mesin polishing machine yang
dilengkapi dengan kain wool yang diberi serbuk alumina dengan
kehalusan 1-0,05 mikron. Panambahan serbuk alumina ini bertujuan
untuk lebih menghaluskan permukaan specimen sehingga akan lebih
mudah melakukan metalografi.
4. Etsa (etching)
Proses etsa ini pada dasarnya adalah proses korosi atau mengkorosikan
permukaan specimen yang telah rata karena proses grinding dan
polishing menjadi tidak rata lagi. Ketidakrataan permukaan specimen
ini dikarenakan mikrostruktur yang berbeda akan dilarutkan dengan
kecepatan yang berbeda, sehingga meninggalkan bekas permukaan
dengan orientasi sudut yang berbeda pula. Pada pelaksanaannya, proses
etsa ini dilakukan dengan cara mencelupkan specimen pada cairan etsa
dimana tiap jenis logam mempunyai cairan etsa (etching reagent)
sendiri-sendiri. Perhatikan Gambar 1.2 yang menunjukkan pengaruh
efek proses etsa permukaan specimen yang telah mengalami proses
grinding dan polishing.
a. Permukaan sebelum di etsa
b. Permukaan sesudah di etsa
Gambar 1.2 Pengaruh etsa terhadap permukaan specimen
Setelah permukaan specimen di etsa, maka specimen tersebut siap
untuk diamati,di sketsa dan pengambilan foto metalografi macro etsa.
BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam pengujian makro :
1. 1 buah plat dengan ukuran 220 mm x 50 mm x 5 mm
2. Elektroda E7016 dan E7018
3. Kertas gosok (grid 240,320 dan 400)
4. Larutan nital 2% (HNO3 2% + Alkohol 98%)
5. Kain bersih
2.1.2 Alat
Adapun beberapa alat yang digunakan saat melakukan pengujian
makro :
1. Mesin Las
7. Kamera
2. Tang amper
8. Gergaji
3. Welding gauge
9. Polishing machine
4. Jangka sorong
10. Cawan kimia
5. Mistar
11. Pipet
6. Stopwatch
12. Dryer
2.2 Langkah Kerja
Langkah langkah dalam melakukan pengelasan meliputi :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Melakukan pengelasan sebanyak empat kali dengan urutan sebagai
berikut:
a. Pengelasan pertama menggunakan elektroda E7016, polaritas DCEP
dengan arus sebesar 65 A dan untuk selanjutnya hasil las-lasannya
diberi nomor 1.
b. Pengelasan pertama menggunakan elektroda E7016, polaritas DCEN
dengan arus sebesar 65 A dan untuk selanjutnya hasil las-lasannya
diberi nomor 2.
c. Pengelasan pertama menggunakan elektroda E7018, polaritas DCEN
dengan arus sebesar 95 A dan untuk selanjutnya hasil las-lasannya
diberi nomor 3.
d. Pengelasan pertama menggunakan elektroda E7018, polaritas DCEP
dengan arus sebesar 95 A dan untuk selanjutnya hasil las-lasannya
diberi nomor 4.
3. Mengukur nilai arus listrik dan voltase selama pengelasan dengan
menggunakan tang ampere, kemudian mencatat hasilnya pada tabel.
Dibawah ini merupakan gambar 2.1 yang menunjukan aktivitas
pengukuran arus listrik dan voltase menggunakan tang ampere:
Gambar 2.1 Aktivitas pengukuran arus listrik dan voltase menggunakan
tang ampere
4. Mengukur
waktu
yang
digunakan
selama
pengelasan
dengan
menggunakan stopwatch, kemudian mencatat hasilnya pada tabel.
5. Mengukur panjang las-lasan menggunakan mistar, kemudian mencatat
hasilnya pada tabel.
6. Mengukur tinggi welding beat dan lebar las menggunakan welding gauge,
kemudian mencatat hasilnya pada tabel. Dibawah ini merupakan gambar
2.2 yang menunjukan aktivitas pengukuran lebar lasan menggunakan
jangka sorong:
Gambar 2.2 Aktivitas pengukuran lebar lasan menggunakan jangka
sorong:
Langkah langkah dalam melakukan pengujian makro meliputi :
1.
Pemotongan specimen
Proses ini tidak dilakukan pada praktik metalografi, karena specimen
yang disediakan telah dipotong dengan ukuran tertentu. Hal ini bertujuan
untuk mempersingkat waktu. Adapun bentuk spesimen uji dapat dilihat
pada Gambar 2.3 di bawah ini:
Gambar 2.3 Bentuk specimen uji
2.
Grinding
Adapun langkah kerja saat menggerinda specimen seperti di bawah
ini:
Mengambil kertas gosok yang paling kasar (grid 240 ) yang
telah digunting sesuai dengan bentuk piringan hand grinding dan
pasang pada polishing machine.
Menyalakan polishing machine, buka katup sehingga air
mengalir di kertas gosok tersebut dan sampai permukaan halus.
Mengangkat specimen dan amati permukaan yang digosok.
Bila masih ada goresan yang tidak searah dengan orientasi gosokkan,
gosok lagi sampai tidak ada lagi goresan yang tidak searah.
Bila goresan sudah searah, matikan polishing machine dan
aliran air, kemudian ganti kertas gosok dengan grid yang lebih halus
( 400 dan 600) dan gosok lagi seperti langkah sebelumnya.
Bila proses grinding telah selesai, mematikan polisher
kemudian cuci specimen dengan air.
Hal yang perlu di perhatikan dalam proses grinding yaitu setiap
pergantian kertas gosok maka arah orintasi penggosokan harus tegak
lurus dengan arah orientasi penggosokan sebelumnya. Adapun proses
grinding dapat dilihat pada Gambar 2.4 di bawah ini:
Gambar 2.4 Grid kertas gosok (240,320,400, dan 600) dan proses
grinding
3. Etsa
Adapun langkah kerja saat melakukan etching pada specimen:
Menyiapkan alat-alat yang diperlukan seperti : pipet, cawan
kimia dan hand dryer yang telah dibersihkan terlebih dahulu.
Mengambil HNO3 2 ml dengan pipet dan tuangkan ke cawan
kimia.
Kemudian campur alkohol 98 ml
Masukkan specimen ke dalam cawan kimia tersebut selama
beberapa detik dan ambil kembali kemudian disiram dengan air.
Mengeringkan specimen dengan dryer.
Adapun proses etching dapat dilihat pada Gambar 2.5 dan Gambar
2.6 di bawah ini:
Gambar 2.5 Pencampuran larutan antara alkohol 98 ml + HNO3 2
ml untuk proses etsa
Gambar 2.6 proses pencelupan material ke larutan etsa
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Di bawah ini merupakan hasil las-lasan yang telah dilakukakan dimana
lajur pengelasan nomor 1 merupakan hasil las-lasan dari elektroda E7016 polaritas
DCEP, lajur pengelasan nomor 2 merupakan hasil las-lasan dari elektroda E7016
polaritas DCEN, lajur pengelasan nomor 3 merupakan hasil las-lasan dari
elektroda E7018 polaritas DCEN dan lajur pengelasan nomor 4 merupakan hasil
las-lasan dari elektroda E7018 polaritas DCEP. Adapun hasil las-lasannya
ditunjukkan pada gambar 3.1 di bawah ini:
Gambar 3.1 Plat yang telah dilakukan proses pengelasan
10
Adapun parameter pengelasan dan dimensi lasan ditunjukkan oleh tabel
3.1 dibawah ini:
Tabel 3.1 Data Parameter Pengelasan dan Hasil Lasan
Elektroda
No
1
3
4
5
6
7
Data yang didapat
Kuat Arus Listrik (A)
Mesin
Range
Tang Ampere
Rata-rata
Voltase (V)
Range
Mesin
Rata-rata
Range
Voltmeter
Rata-rata
Panjang Lasan (mm)
Waktu Pengelasan (detik)
Kecepatan Las (mm/dtk)
Heat Input
Mesin
(Joule/mm)
Alat Ukur
Tinggi
Maksimum
Welding Beat Minimum
(mm)
Lebar lasan
(mm)
Rata-rata
Maksimum
Minimum
Rata-rata
E7016
DCEP
DCEN
E7018
DCEN
DCEP
65
65,9-72,6
67,75
65
68,2-72,1
70,15
95
96,9-106,2
101,55
95
95,2-104,8
100
19,7-28,7
24,2
22,5-30,4
26,45
190
122
1,56
656,52
747,92
3
1,5
16,4-20,6
18,5
18,6-22,6
20,6
148
128
1,16
676,00
812,37
2,8
2
21,1-26,2
23,65
19,7-29,0
24,35
194
117
1,66
880,75
969,34
3
2,2
21,6-26,7
23,65
21,1-27,1
24,1
147
83
1,77
824,57
884,49
2,5
1,9
2,25
8,6
8,1
8,35
2,4
8,8
7,65
8,225
2,6
11,6
8,9
10,25
2,2
12,3
9,55
10,925
Dari tabel 3.1 di atas, diketahui bahwa nilai arus istrik dan voltase yang
ditunjukkan pada mesin las berbeda dengan nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Untuk arus listrik, nilai yang ditunjukkan oleh mesin las lebih kecil daripada nilai
yang ditunjukkan oleh tang ampere, dimana selisih diantara keduanya adalah
sebesar 2,25 A sampai dengan 6,55 A. Untuk voltase, nilai yang ditunjukkan oleh
mesin las juga lebih kecil daripada nilai yang ditunjukkan oleh voltmeter, dimana
selisih diantara keduanya adalah sebesar 0,45 V sampai dengan 2,25 V.
Berdasarkan tabel 3.1 di atas, pengelasan dengan menggunakan polaritas
DCEN memiliki heat input yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengelasan
yang menggunakan poaritas DCEP. Hal ini terlihat pada pengelasan dengan
11
menggunakan elektroda E7016 dimana heat input dari polaritas DCEP adalah
sebesar 656,52 J/mm dan hasil polaritas DCEN adalah sebesar 676,00 J/mm.
Selain itu pada pengelasan dengan menggunakan elektroda E7018, lebar lasan
heat input dari polaritas DCEP adalah sebesar 824,57 J/mm dan hasil polaritas
DCEN adalah sebesar 880,75 J/mm.
Berdasarkan tabel 3.1 di atas, las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas
DCEP, memiliki welding beat yang lebih rendah dibandingkan dengan las-lasan
yang dihasilkan oleh polaritas DCEN. Hal ini terlihat pada pengelasan dengan
menggunakan elektroda E7016 dimana rata-rata tinggi welding beat hasil polaritas
DCEP adalah sebesar 2,25 mm dan hasil polaritas DCEN adalah sebesar 2,4 mm.
Selain itu pada pengelasan dengan menggunakan elektroda E7018, rata-rata tinggi
welding beat hasil polaritas DCEP adalah sebesar 2,2 mm dan hasil polaritas
DCEN adalah sebesar 2,6 mm.
Berdasarkan tabel di atas, las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas DCEP
ukurannya lebih lebar dibandingkan dengan las-lasan yang dihasilkan oleh
polaritas DCEN. Hal ini terlihat pada pengelasan dengan menggunakan elektroda
E7016 dimana lebar lasan hasil polaritas DCEP adalah sebesar 8,35 mm dan hasil
polaritas DCEN adalah sebesar 8,225 mm. Selain itu pada pengelasan dengan
menggunakan elektroda E7018, lebar lasan hasil polaritas DCEP adalah sebesar
10,925 mm dan hasil polaritas DCEN adalah sebesar 10,25 mm.
Dari hasil pengujian makroetsa yang telah dilakukan, gambar dan ilustrasi
autocad dari hasil pengujian macroetsa dapat dilihat pada Gambar 3.2 sampai
Gambar 3.5 dibawah ini:
12
Gambar 3.2 Hasil pengujian makroetsa pada material 1 dan ilustrasinya pada
autocad
Gambar 3.3 Hasil pengujian makroetsa pada material 2 dan ilustrasinya pada
autocad
Gambar 3.4 Hasil pengujian makroetsa pada material 3 dan ilustrasinya pada
autocad
Gambar 3.5 Hasil pengujian makroetsa pada material 4 dan ilustrasinya pada
autocad
Dengan menggunakan aplikasi autocad, dapat diketahui luasan weld metal
maupun dilusinya. Adapun luasan weld metal maupun dilusinya dapat dilihat pada
Tabel 3.2 di bawah ini:
Tabel 3.2 Presentase Dilusi pada Spesimen
13
No Material
1
M1
M2
M3
M4
Lajur
Pengelasan
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Luas Dilusi
(mm2)
4,92
3,31
8,24
10,59
4,28
2,63
8,23
10,41
4,92
2,94
9,63
12,69
4,53
2,63
6,97
13,08
Luas Weld
Metal (mm2)
16,17
16,94
26,96
31,08
14,19
15,32
23,04
29,04
15,56
15,66
25,72
28,26
19,75
16,90
24,97
30,69
Presentase
Dilusi (%)
30,42
19,54
30,55
34,08
30,13
17,17
35,74
35,88
31,6
18,79
31,43
44,89
22,95
15,57
27,98
42,62
Berdasarkan tabel 3.2 di atas, terlihat bahwa presentase dilusi las-lasan
yang dihasilkan dari polaritas DCEP memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan presentase dilusi las-lasan yang dihasilkan dari polaritas DCEN. Hal
ini menunjukkan bahwa penembusan dari las-lasan yang dihasilkan dari polaritas
DCEP lebih dalam dibandingkan presentase dilusi las-lasan yang dihasilkan dari
polaritas DCEN.
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang terdapat pada Bab III, kesimpulan yang
dapat ditarik dari praktikum pengaruh polaritas mesin las terhadap hasil las-lasan
adalah sebagai berikut.
1. Nilai arus istrik dan voltase yang ditunjukkan pada mesin las berbeda dengan
nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur. Nilai arus listrik dan voltase yang
14
ditunjukkan oleh mesin las lebih kecil daripada nilai yang ditunjukkan oleh
tang ampere.
2. Pengelasan dengan menggunakan polaritas DCEN menghasilkan heat input
yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengelasan yang menggunakan poaritas
DCEP.
3. Las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas DCEP, memiliki welding beat yang
lebih rendah dibandingkan dengan las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas
DCEN.
4. Las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas DCEP ukurannya lebih lebar
dibandingkan dengan las-lasan yang dihasilkan oleh polaritas DCEN.
5. Penembusan dari las-lasan yang dihasilkan dari polaritas DCEP lebih dalam
dibandingkan presentase dilusi las-lasan yang dihasilkan dari polaritas DCEN.
Hal ini dibuktikan dengan presentase dilusi las-lasan yang dihasilkan dari
polaritas DCEP memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan presentase dilusi
las-lasan yang dihasilkan dari polaritas DCEN.
Daftar Pustaka
1. Dosen Metallurgi. 1986. Petunjuk Praktikum Logam Jurusan Teknik Mesin.
FTI-ITS Surabaya
2. Harsono & T.Okamura. 1991. Teknologi Pengelasan Logam. PT. Pradya
Paramita: Jakarta
3. M.M. Munir. 2000. Modul Praktek Uji Bahan Vol 1 Jurusan Teknik Bangunan
Kapal. PPNS-ITS Surabaya
15
4. Wahid suherman Ir. 1987. Diktat Pengetahuan Bahan Jurusan Teknik Mesin.
FTI-ITS Surabaya
5. Budi Prasojo ST. 2002. Buku Petunjuk Praktek Uji Bahan, Jurusan Teknik
Permesinan Kapal. PPNS-ITS Surabaya
16