Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN AWAL PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK METALOGRAFI DAN HST

RINANDITYO 1206263093 KELOMPOK 15

LABORATORIUM METALURGI FISIK DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FTUI 2013

BAB 1 PREPARASI/PERSIAPAN SAMPEL I.1 C !!"#$ I.1.1 Tujuan Percobaan Menentukan teknik pemotongan yang tepat dalam pengambilan sampel serta prosedur proses pemotongan sampel sehingga didapat benda uji yang representatif. I.1.2 Dasar Teori Pemilihan sampel dilakukan pada daerah yang akan diamati mikrostruktur maupun makrostrukturrnya. Sebagai contoh untuk pengamatan mikrostruktur material yang mengalami kegagalan maka sampel akan diambil sedekat mungkin pada daerah kegagalan untuk dibandingkan pada sampel yang diambil jauh dari daerah gagal Teknik pemotongan terbagi dua yaitu ! 1. Teknik pemotongan dengan deformasi besar menggunakan gerinda 2. Teknik pemotongan dengan deformasi kecil menggunakan lo" speed diamond sa" Pemotongan memerlukan pelumas untuk menghindari deformasi pada material memudahkan pemotongan dan memperpanjang umur alat potong. #riteria pelumas yang baik adalah ! 1. #oefisien friksi rendah 2. Pendingin yang baik $. Mampu mengikat serpihan logam %. Mengandung anti karat &. Mengandung bahan pembersih '. Tidak bersenya"a dengan material potong

I.1.$ Metodologi Penelitian I.1.$.1 (lat dan )ahan * sampel * pelumas * lo" speed sa" blade I.1.$.1 +lo"chart proses Pemotongan dengan lo" speed diamond sa" !

I.2 M% #!"#$ I.2.1 Tujuan Percobaan Menempatkan sampel pada suatu media untuk memudahkan penanganan sampel yang berukuran kecil dan tidak beraturan tanpa merusak sampel. I.2.2 Dasar Teori

Spesimen berukuran kecil atau memiliki bentuk yang tidak beraturan akan sulit untuk ditangani khususnya ketika dilakukan pengamplasan dan pemolesan akhir. ,ntuk memudahkan penanganannya maka spesimen*spesimen tersebut harus ditempatkan pada suatu media -media mounting.. dimiliki bahan mounting adalah ! 1. )ersifat inert -tidak bereaksi dengan material maupun /at etsa. 2. Sifat eksotermis rendah $. 0iskositas rendah %. Penyusutan linier rendah &. Sifat adhesi baik '. Memiliki kekerasan yang dekat dengan sampel 1. +lo"abilitas baik dapat menembus pori celah dan bentuk ketidakteraturan yang terdapat pada sampel 2. #husus untuk etsa elektrolitik dan pengujian S3M bahan mounting harus konduksif Media mounting yang dipilih sesuai dengan material dan jenis reagen etsa yang akan digunakan. ,mumnya mounting menggunakan material plastik sintetik yang dapat berupa resin -castable resin. yang dicampur hardener atau bakelit. Penggunaan castable resin lebih mudah dan alat yang digunakan lebih sederhana dibandingkan bakelit karena tidak diperlukan aplikasi panas dan tekanan tetapi bahan castable resin ini tidak memiliki sifat mekanis yang baik -lunak. sehingga kurang cocok untuk material*material yang keras. Teknik mounting yang paling baik adalah menggunakan thermosetting resin menggunakan bakelit. Thermosetting mounting membutuhkan alat khusus karena dibutuhkan aplikasi tekanan dan panas pada mold saat mounting. Syarat*syarat yang harus

I.2.$ Metodologi Penelitian I.2.$.1 (lat dan )ahan 4etakan Isolasi Sampel 5esin 6ardener

I.2.$.2 +lo"chart Proses

I.3 P&#$'()*'+'#/G,"#-"#$ I.$.1 Tujuan Percobaan Meratakan dan menghaluskan permukaan sampel dengan cara menggosokan kain abrasif7amplas dengan sampel I.$.2 Dasar Teori Sampel yang baru saja dipotong atau yang telah terkorosi memiliki permukaan yang kasar. Permukaan yang kasar ini harus diratakan agar pengamatan struktur mudah untuk dilakukan. Pengamplasan dilakukan dengan kertas amplas yang ukuran butir abrasifnya dinyatakan dengan mesh. ,rutan pengamplasan harus dilakukan dari nomor mesh yang rendah -hingga 1&8 mesh. ke nomor mesh yang tinggi -128 hingga '88 mesh.. ,kuran grit pertama yang

dipakai tergantung pada kekasaran permukaan dan kedalaman kerusakan yang ditimbulkan oleh pemotongan seperti pada tabel! untuk pengamplasan pertama :ergaji pita '8 ; 128 :ergaji abrasif 128 ; 2%8 :ergaji ka"at 7 intan kecepatan rendah $28 ; %88 Tabel 1.1 ,kuran grit pengamplasan pertama dengan alat potong yang berbeda 6al yang harus diperhatikan pada saat pengamplasan adalah pemberian air. (ir memperkecil kerusakan akibat panas yang timbul yang dapat merubah struktur mikro sampel dan memperpanjang masa pemakaian kertas amplas. 6al lainnya adalah ketika melakukan perubahan arah pengamplasan maka arah yang baru adalah %&8 atau <88 terhadap arah sebelumnya. I.$.$ Metodologi Penelitian I.$.$.1 (lat dan )ahan #ertas amplas Mesin pengamplas (ir Sampel 9enis alat potong ,kuran kertas amplas -grit.

I.$.$.2 +lo"chart Proses

I.. P&(%*&+'#

I.%.1 Tujuan Percobaan Mendapatkan permukaan sampel yang halus dan mengkilat seperti kaca tanpa gores. I.%.2 Dasar Teori Dalam pengamatan menggunakan mikroskop permukaan sampel yang diamati harus rata. (pabila permukaan sampel kasar atau bergelombang maka pengamatan struktur mikro sulit untuk dilakukan karena cahaya yang datang dari mikroskop dipantulkan secara acak oleh permukaan sampel seperti yang dijelaskan pada gambar berikut!

Permukaan halus

Permukaan kasar

:ambar 1.1 6ubungan permukaan sampel dengan cahaya mikroskop Tahap pemolesan dimulai dengan pemolesan kasar terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pemolesan halus. (da $ metode pemolesan antara lain yaitu sebagai berikut ! 1. Pemolesan 3lektrolit #imia 6ubungan rapat arus = tegangan ber>ariasi untuk larutan elektrolit dan material yang berbeda dimana untuk tegangan terbentuk lapisan tipis pada permukaan dan hampir tidak ada arus yang le"at maka terjadi proses etsa. Sedangkan pada tegangan tinggi terjadi proses pemolesan. 2. Pemolesan #imia Mekanis Merupakan kombinasi antara etsa kimia dan pemolesan mekanis yang dilakukan serentak di atas piringan halus. Partikel pemoles abrasif dicampur dengan larutan pengetsa yang umum digunakan. $. Pemolesan 3lektro Mekanis

Merupakan kombinasi antara pemolesan elektrolit dan mekanis pada piring pemoles. I.%.$ Metodologi Penelitian I.%.$.1 (lat dan )ahan #ain poles Mesin pemoles (lumina Sampel

I.%.$.2 +lo"chart Proses

I.5 E!+' I.&.1 Tujuan Percobaan 1. Mengamati dan mengidentifikasi detil struktur logam dengan bantuan mikroskop optik setelah terlebih dahulu dilakukan proses etsa pada sampel 2. Mengetahui perbedaan antara etsa kimia dengan elektro etsa serta aplikasinya $. Dapat melakukan preparasi sampel metalografi secara baik dan benar %. I.&.2 Dasar Teori 3tsa merupakan proses penyerangan atau pengikisan batas butir secara selektif dan terkendali dengan pencelupan ke dalam larutan pengetsa baik menggunakan listrik maupun tidak ke permukaan sampel sehingga detil struktur yang akan diamati akan terlihat dengan jelas dan tajam. I.&.2.1 9enis*jenis etsa I.&.2.1.1 3tsa #imia Merupakan proses pengetsaan dengan menggunakan larutan kimia dimana /at etsa yang digunakan ini memiliki karakteristik tersendiri sehingga pemilihannya disesuaikan dengan sampel yang akan diamati. 4ontohnya antara lain ! a. ?itrid acid7acital! asam nitrit @ <&A -khusus untuk baja karbon. yang bertujuan untuk mendapatkan perlit ferit danferit dari martensit. b. Picral! asam picric @ alkohol -khusus untuk baja.yang bertujuan untuk mendapatkan perlit ferit dan ferit dari martensit. c. +erric chloride! ferric chloride @ 64B @ air untuk melihat struktur pada SS nikel austenitic dan paduan tembaga. d. Hydroflouric acid: 6+ @ air untuk mengamati struktur pada alumunium dan paduannya. #eterangan! 1. 6indari "aktu etsa yang terlalu lama -umunya sekitar %*$8 detik. 2. Setelah di etsa segera dicuci dengan air mengalir lalu dengan alkohol kemudian dikeringkan dengan hair dryer.

I.&.2.1.2 3lektro 3tsa Merupakan proses etsa dengan menggunakan reaksi elekto etsa. 4ara ini dilakukan dengan pengaturan tegangan dan kuat arus listrik serta "aktu pengetsaan. :ambar berikut ini menunjukkan hubungan antara rapat arus dan tegangan pada sampel.

:ambar 1.2 6ubungan rapat arus dan tegangan #ur>a tersebut terbagi menjadi beberapa daerah karakteristik antara lain yaitu! Daerah ( ; ) ! daerah proses etsa dimana ion logam sebagai anoda larut dalam larutan elektrolit. Daerah ) ; 4 ! daerah tidak stabil bebas antara butir dan batas butir. Daerah 4 ; D ! daerah poles terjadi kestabilan meskipun tegangan ditambahkan. 6al ini disebabkan oleh stabilnya larutan. kembali. Daerah D ; 3 ! terjadi e>olusi oksigen pada anoda dimana gelembung gas melekat dan menetap pada permukaan anoda untuk "aktu yang lama sehingga menyebabkan pitting. Dengan penambahan tegangan rapat arus melonjak tinggi tak terkendali. Skema peralatan elektro etsa standar dapat dilihat pada gambar berikut! Meskipun pada daerah ini logam berubah menjadi logam oksida tetapi oleh larutan elektrolit logam itu dilarutkan karena permukaan logam merupakan gabungan dari daerah pasif dan aktif yang disebabkan oleh perbedaan energi

:ambar 1.$ Skema peralatan elektro etsa standar I.&.$ Metodologi Penelitian I.&.$.1 (lat dan )ahan )lo"er7dryer 4a"an gelas dan pipet (lat elektro etsa -rectifier amperemeter penjepit sampel konduktif. Cat etsa! +e4l$ ?ital 2A 6+ 8.&A dan asam oksalat -6 242D%. 1&g7188 ml air (ir alkohol tissue

I.&.$.2 +lo"chart Proses 3tsa kimia !

3tsa elektronik !

BAB 2 PEMBUATAN FOTO DAN ANALISA STRUKTUR MAKRO DAN MIKRO II.1 Tujuan Percobaan 1. Mengetahui proses pengambilan foto mikrostruktur 2. Mengetahui bentuk*bentuk perpatahan pada sampel makro $. Menganalisa struktur mikro dan sifat*sifatnya %. Mengenali fasa*fasa dalam struktur mikro II.2 Dasar Teori Metalografi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik mikrostruktur suatu logam dan paduannya serta hubungannya dengan sifat*sifat logam dan paduannya tersebut. analisis -F*ray flouresence metalografi. Pengamatan metalografi dengan mikroskop umunya dibagi menjadi dua yaitu! 1. Metalografi makro yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran 18*188E. 2. Metalografi mikro yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran di atas 188E. II.2.1 Makrostruktur II.2.1.1 Mode Perpatahan Material Sampel hasil pengujian tarik dapat menunjukkan beberapa tampilan perpatahan seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut! (da beberapa metode yang dipakai yaitu! mikroskop -optik maupun elektron. difraksi -sinar E elektron dan neutron. elektron mikroprobe. dan juga stereometric

:ambar 2.1 Mode perpatahan dari material ulet ke getas

Perpatahan ulet memberikan karakteristik berserabut -fibrous. dan gelap -dull. sementara perpatahan getas ditandai dengan permukaan patahan berbutir -granular. dan terang. Perpatahan ulet umumnyalebih disukai karen bahan ulet umumnya lebih tangguh dan memberikan peringatan lebih dahulu sebelum terjadinya kerusakan. Pengamatan kedua tampilan perpatahan itu bisa diamati dengan mata telanjang ataupun menggunakan S3M. )erikut ciri*ciri perpatahan ulet dan getas! a. Perpatahan ulet 1. 2. b. 1. 2. $. Dapat terlihat jelas deformasi plastis yang terjadi #arakteristik berserabut -fibrous. dan gelap -dull. Tidak ada atau sedikit sekali deformasi plastis yang terjadi pada 5etak7perpatahan merambat sepanjang bidang*bidang kristalin Pada material lunak denga butir kasa -coarse grain. maka dapat

Perpatahan getas material membelah atom*atom material -transgranular. dilihat pola*pola yang dinamakan chevrons or fan-like pattern yang berkembang keluar dan dareah a"al kegagalan. %. Material amorphous -seperti gelas. memiliki permukaan patahan yang bercahaya dan mulus.

II.2.2 Mikrostruktur Struktur yang terdapat pada material tergantung pada komposisi unsur*unsur pembentuk yang dapat dilihat dari diagram fasa. 4ontoh fasa pada baja dapat dilihat pada diagram fasa +e*+e$4.

Diagram 2.1 Diagram fasa +e*+e$4 )aja didefinisikan sebagai material ferrous dengan kadar karbon kurang dari 2.1%A 4. )aja karbon terbagi atas 2 jenis yaitu baja hypoeutectoid -G 8.2A4. dan hypereutectoid -H 8.2A 4.. Pada kadar 8.2A 4 terbentuk fasa perlit yaitu fasa yang terbentuk lamel*lamel yang merupakan paduan antara ferit sebagai matriksnya dan sementit sebagai lamelnya. +asa sementit merupakan fasa yang terbentuk dengan kadar karbon maksimum '.'1A 4. Sementara kadar karbon maksimum pada ferrit adalah 8.82A 4. II.2.2.1 Mikrostruktur )aja #arbon Pada 6eat = Surface Treatment Perlakuan panas adalah rangkaian siklus pemanasan dan pendinginan terhadap logam dalam keadaan padat yang bertujuan untuk menghasilkan sifat* sifat -mekanis fisik dan kimia. yang diinginkan. Dasar dari perlakuan panas baja adalah transformasi fasa dan dekomposisi austenit. (da beberapa macam proses perlakuan panas yaitu annealing speroidisasi normalisasi tempering dan Iuenching. berbeda*beda. Masing*masing memiliki proses dan media pendinginan yang

Dasar dari transformasi fasa pada heat treatment adalah diagram TTT -Time Temperature Transformation. dan 44T -4ontinuous 4ooling Transformation.. Perlakuan panas ini akan menyebabkan pembentukan fasa martensit dan bainit. Perlakuan permukaan adalah suatu perlakuan yang menghasilkan terbentuknya kulit lapisan pada permukaan logam dimana lapisan tersebut memiliki sifat*sifat yang lebih baik dibandingkan dengan bagian dalam logam. )eberapa contoh kasus perlakuan permukaan yaitu karburisasi nitridisasi sianidasi karbonitridasi flame hardening dan induction hardening. Sampel yang digunakan disini merupakan hasil karburisasi dimana terjadi difusi karbon ke dalam permukaan logam akibat reaksi dekomposisi! 4D J 4D2 @ 4-+e. II.2.2.2 Mikrostruktur )esi Tuang )esi tuang pada dasarnya merupakan perpaduan antara besi dengan karbon dimana pada diagram +e*+e$4 terlihat bah"a besi tuang mengandung kadar karbon lebih besar dibandingkan dengan yang dibutuhkan untuk menjenuhkan austenit pada temperatur eutektik yaitu pada rentang 2.1%A * '.'1A. )esi tuang komersial mengandung karbon pada kisaran 2.& ; %A 4 karena kadar 4 yang terlalu tinggi membuat besi tuang menjadi sangat rapuh. Secara metalografi besi tuang dibagi menjadi % tipe berdasarkan kadar karbon impurities paduan serta proses perlakuan panas yaitu ! * )esi tuang putih! besi tuang dimana semua kadar karbonnya terpadu dalam bentuk sementit * )esi tuang melleable! dimana hampir semua karbonnya dalam bentuk partikel tak beraturan yang dikenal dengan karbon temper. )esi tuang melleable diperoleh dengan memberikan perlakuan panas pada besi tuang. * )esi tuang kelabu! dimana semua atau hampir semua karbonnya dalam bentuk flake. * )esi tuang nodular! dimana semua atau hampir semua karbonnya dalam bentuk spheroidal. )entuk spheroidal ini terjadi akibat adanya penambahan elemen paduan khusus yang dikenal noduli/er.

II.2.2.$ Mikrostruktur )aja Perkakas Pada umumnya semua baja dapat digunakan sebagai perkakas. ?amun istilah baja perkakas dibatasi pada baja dengan kualitas tinggi yang mampu digunakan sebagai perkakas. Tingginya kualitas baja perkakas diperoleh melalui penambahan paduan 4r K dan Mo dan perlakuan khusus. presipitat. #lasifikasi baja perkakas berdasarkan (ISI -(merican Iron and Steel Institute. dibagi seperti ditunjukkan pada tabel berikut! ,mumnya mikrostrukturnya berupa matriks martensit dengan partikel karbida grafit dan

:rup Kater*hardening Shock*resisting 4old*"ork

Simbol K S D ( D 6 P B +

Tipe

6ot*"ork Mold Special*purpose

Dil hardening Medium*alloy air hardening 6igh*carbon high*chromium 61*61<! 4hromium*based 628*6$<! Tungsten*based 6%8*6&<! Molybdenum*based P1*P1<! termasuk dalam karbon rendah P28*P$<! termasuk tipe lo"*alloy lain #arbon*tungsten

Tabel 2.1 #lasifikasi baja perkakas (?SI II.2.2.% Mikrostruktur Paduan (luminium Aluminium alloys terdiri atas kristal utama padatan aluminium -biasanya berbentuk dendritik. ditambah produk hasil reaksi dengan paduan. 3lemen paduan yang tidak berada dalam keadaan padat biasanya membentuk fasa campuran pada eutektik kecuali silikon yang muncul sebagai produk utama. Pada paduan (l*Si eutektik terjadi sekitar 12A Si. II.2.2.& Mikrustruktur Paduan Tembaga Paduan tembaga yang akan dibahas di sini adalah paduan tembaga dengan elemen dasar seng. #uningan merupakan paduan 4u*Cn. #elarutan Cn dalam

larutan padat fasa L meningkat dari $2.&A pada <8$ o4 ke $<A pada %&%o4. +asa L berbentuk +44 sementara fasa M berbentuk )44. II.2.2.' Mikrostruktur Material 6asil Basan +asa yang terbentuk sebagai hasil proses las pada baja ditentukan oleh kecepatan pendinginan dari fasa N -austenit.. Semakin dekat dengan daerah fusi temperatur baja semakin tinggi dan kecepatan pendinginan akan semakin tinggi. :ambar berikut menjelaskan daerah daerah yang terbentuk setelah proses pengelasan !

:ambar 1.2 Daerah butir hasil pengelasan Pada logam las terbentuk beberapa area diantaranya ! a. Daerah logam las -daerah fusi. daerah dimana logam filler yang cair bercampur dengan logam induk yang dipanaskan sampai temperatur cair. )entuknya butir columnar dan widmanstatten yaitu bentuk memanjang karena logam cair mendapat pendinginan yang amat cepat seperti struktur produk cor. b. Daerah Pertumbuhan butir dimana logam induk yang tidak mencair butirnya tumbuh membesar karena pemanasan yang amat tinggi akibat proses pengelasan. c. Daerah rekristalisasi7penghalusan butir karena temperatur sedikit lebih rendah dari daerah b maka akan terbentuk austenit yang ketika mendingin akan terjadi ferit dan perlit yang halus karena pendinginan yang cepat. d. Daerah transisi ketika proses "elding sebagian fasa austenit masih menjadi ferit jadi "aktu pendinginan terdapat campuran ferit baru dan

ferit yang ada sebelumnya. Daerah b c dan d disebut daerah terpengaruh panas -6(C. e. Daerah tak terpengaruh panas -unaffected /one. fasa logam induk yang tidak berubah fasa karena tidak terkena panas pada pengelasan. II.$ Metodologi Penelitian II.$.1 (lat dan )ahan Sampel Mikroskop optik kamera Mikroskop 3lektron

II.$.2 +ro"chart pengujian

BAB 3 PERCOBAAN /OMINI III.1 Tujuan Percobaan 1. Mendapatkan hubungan antara jarak permukaan pada pendinginan langsung dengan sifat kemampukerasan bahan.

2. Mendapatkan hubungan antara kecepatan pendinginan dengan fasa yang terbentuk serta mendapatkan sifat kekerasan dari fasa tersebut. III.2 Dasar Teori Proses kombinasi pemanasan dan pendinginan yang bertujuan mengubah struktur mikro dan sifat mekanis logam disebut perlakuan panas -heat treatment.. Bogam yang didinginkan dengan kecepatan dan media pendingin berbeda memberikan perubahan struktur mikro yang berbeda pula. Setiap struktur mikro yang terbentuk -martensit bainit ferit dan perlit. merupakan hasil transformasi fasa austenit. Tiap fasa tersebut terbentuk pada kondisi pendinginan yang berbeda*beda sebagaimana yang dapat dilihat pada diagram 44T dan TTT. Tiap fasa memiliki nilai kekerasan yang berbeda*beda. Dengan pengujian 9ominy -jominy test. dapat dibuktikan bah"a laju pendinginan yang berbeda*beda akan menghasilkan kekerasan bahan yang berbeda.

:ambar $.1 Pembentukan fasa pada percobaan jominy dari diagram 44T #arena kekerasan merupakan salah satu faktor yang penting dalam mendesain suatu material maka akan lebih ekonomis apabila spesifikasi material didasarkan atas perlakuan panas material tersebut. Dleh karena itu diperlukan suatu pengujian yang dapat memprediksi kemampukerasan dari material tersebut. Pada baja pendinginan yang cepat dari fasa austenit menghasilkan fasa martensit yang sangat keras. #emampuan baja untuk menghasilkan fasa martensit di seluruh bagian produk disebut sebagai kemampukerasan baja. Semakin besar persentase martensit pada baja semakin besar kemampukerasannya. )aja dengan

paduan 4 4r Mo 0 dst akan meningkatkan kemampukerasan baja. )aja dengan kemampukerasan tinggi memiliki 188 A fasa martensit pada pendinginan cepat. Pengujian yang sangat luas dipakai ialah end*Iuench hardenability test atau jominy test. Pengujian ini telah distandarisasikan oleh (STM S(3 dan (ISI. Perlakuan yang sangat penting dalam pengujian jominy ialah setiap bagian dari sampel akan merespon pendinginan yang diberikan. Salah satu parameter pengujian ialah derajat pendinginan yang menentukan terbentuknya fasa martensit. Pengukuran kemampukerasan didapat dengan mengukur kekerasan sepanjang batang sampel. ?ilai kekerasan diukur mulai dari ujung batang yang dekat dengan media pendingin yang mana didapat 188A martensit pada ujung sebaliknya yang akan didapat 8A martensit dan terdapat campuran fasa ferit dan perlit serta diantaranya yang akan didapat gabungan antara martensit dan ferit* perlit.

:ambar $.2 Pengujian jominy Makin lambat laju pendinginan logam makin banyak matriks perlit yang ditampilkan dan kekerasan makin turun. Penambahan kadar karbon atau paduan atau bertambah besarnya ukuran butir akan menyebabkan grafik bergeser kekanan sehingga memudahkan pembentukan struktur martensit. Pergeseran grafik

kekanan juga menggambarkan sifat kemampukerasan bahan tersebut. pendinginan lambat akan mendapatkan struktur! a. )ainit ba"ahO struktur seperti jarum mirip martensit

,ntuk

b. )ainit atasO struktur seperti perlit dengan sifat lapisan yang lebih halus c. Perlit halusO struktur perlit yang halus dengan lapisan ferit dan sementit d. Perlit kasarO struktur sama dengan perlit halus namun lamel lebih kasar dan kekerasan lebih rendah. III.$ Metodologi Penelitian III.$.1 (lat dan )ahan 1. )atang baja sebagai benda uji dengan d P 2.& cm B P 18 cm 2. D>en Muffle temperatur maE. 118884 $. #ran air dengan tekanan cukup %. (mplas &. (lat penguji kekerasan )rinell '. Mikroskop pengukur jejak

III.$.2 +lo"chart Proses

Dimana! P P )eban yang digunakan #g D P Diameter bola mm D P diameter indentasi mm

BAB . DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Metalografi dan 6ST Baboratorium Metalografi dan 6ST Departemen Metalurgi dan Material +akultas Teknik ,ni>ersitas Indonesia Depok 281$ http!77""".s>.>t.edu7classes7MS328<%Q?ote)ook7<'4lassProj7eE amples7kimcon.html http!77""".doitpoms.ac.uk7tlplib7jominy7uses1.php http!77""".keytometals.com7page.aspER IDP4heck(rticle=sitePkts=?MP18&

* *