Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Termoelektrik


Prinsip kerja dari Termoelektrik adalah dengan berdasarkan Efek Seebeck
yaitu “jika 2 buah logam yang berbeda disambungkan salah satu ujunganya,
kemudian diberikan suhu yang berbeda pada sambungan, maka terjadi perbedaan
tegangan pada ujung yang satu dengan ujung yang lain”.( Muhaimin, 1993).
Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan
Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah
rangkaian. Di antara kedua logam tersebut lalu diletakkan jarum kompas. Ketika sisi
logam tersebut dipanaskan, jarum kompas ternyata bergerak. Belakangan diketahui,
hal ini terjadi karena aliran listrik yang terjadi pada logam menimbulkan medan
magnet. Medan magnet inilah yang menggerakkan jarum kompas. Fenomena tersebut
kemudian dikenal dengan efek Seebeck.
Penemuan Seebeck ini memberikan inspirasi pada Jean Charles Peltier untuk
melihat kebalikan dari fenomena tersebut. Dia mengalirkan listrik pada dua buah
logam yang direkatkan dalam sebuah rangkaian. Ketika arus listrik dialirkan, terjadi
penyerapan panas pada sambungan kedua logam tersebut dan pelepasan panas pada
sambungan yang lainnya. Pelepasan dan penyerapan panas ini saling berbalik begitu
arah arus dibalik. Penemuan yang terjadi pada tahun 1934 ini kemudian dikenal
dengan efek Peltier. Efek Seebeck dan Peltier inilah yang kemudian menjadi dasar
pengembangan teknologi termoelektrik.
Banyak aplikasi lain penggunaan energi termoelektrik yang sedang
dikembangkan saat ini, seperti pemanfaatan perbedaan panas di dasar laut dan darat,
atau pemanfaatan panas bumi. Kesulitan terbesar dalam pengembangan energi ini
adalah mencari material termoelektrik yang memiliki efisiensi konversi energi yang
tinggi. Parameter material termoelektrik dilihat dari besar figure of merit suatu
material. Idealnya, material termoelektrik memiliki konduktivitas listrik tinggi dan
konduktivitas panas yang rendah. Namun kenyataannya sangat sulit mendapatkan
material seperti ini, karena umumnya jika konduktivitas listrik suatu material tinggi,
konduktivitas panasnya pun akan tinggi.
Material yang banyak digunakan saat ini adalah Bi 2 Te 3, PbTe, dan SiGe.
Saat ini Bi2 Te3 memiliki figure of merit tertinggi. Namun, karena terurai dan
teroksidasi pada suhu di atas 500 oC, pemakaiannya masih terbatas. Rendahnya
figure of merit ini menyebabkan rendahnya efisiensi konversi yang dihasilkan, di
mana saat ini efisiensinya masih berkisar di bawah 10 persen. Nilai ini masih
berkurang sampai 5 persen setelah menjadi sebuah sistem pembangkit listrik. Masih
cukup jauh dibandingkan dengan solar cell yang sudah mencapai 15 persen. Namun,
penelitian ini masih terus berkembang, apalagi setelah Yamaha Co Ltd berhasil
menaikkan figure of merit sebesar 40 persen dari yang ada selama ini. Setelah itu,
perkembangan termoelektrik tidak diketahui dengan jelas sampai kemudian
dilanjutkan oleh WW Coblenz pada tahun 1913 yang menggunakan tembaga dan
constantan (campuran nikel dan tembaga). Dengan efisiensi konversi sebesar 0,008
persen, sistem yang dibuatnya itu berhasil membangkitkan listrik sebesar 0,6 mW.
AF Ioffe melanjutkan lagi dengan bahan-bahan semikonduktor dari golongan
II-V, IV-VI, V-VI yang saat itu mulai berkembang. Hasilnya cukup mengejutkan, di
mana efisiensinya meningkat menjadi 4 persen. Ioffe melakukan satu lompatan besar
di mana ia berhasil menyempurnakan teori yang berhubungan dengan material
termoelektrik. Teori itu dibukukan tahun 1956 yang kemudian menjadi rujukan para
peneliti hingga saat ini.

Penelitian termoelektrik muncul kembali tahun 1990-an setelah sempat


menghilang hampir lima dasawarsa karena efisiensi konversi yang tidak bertambah.
Setidaknya ada tiga alasan yang mendukung kemunculan tersebut. Pertama, ada
harapan besar ditemukannya material termoelektrik dengan efisiensi yang tinggi,

11
yaitu sejak ditemukannya material superkonduktor High-Tc pada awal tahun 1986
dari bahan yang selama ini tidak diduga (ceramic material).

Kedua, sejak awal 1980-an, teknologi material berkembang pesat dengan


kemampuan menyusun material tersebut dalam level nano. Teknologi analisis dengan
XPS, UPS, STM juga memudahkan analisis struktur material.

Ketiga, pada awal tahun 1990, tuntutan dunia tentang teknologi yang ramah
lingkungan sangat besar. Ini memberikan imbas kepada teknologi termoelektrik
sebagai sumber energi alternatif.(Asyafe,2008).
Teknologi termoelektrik bekerja dengan mengonversi energi panas menjadi
listrik secara langsung (generator termoelektrik), atau sebaliknya, dari listrik
menghasilkan dingin (pendingin termoelektrik). Untuk menghasilkan listrik, material
termoelektrik cukup diletakkan sedemikian rupa dalam rangkaian yang
menghubungkan sumber panas dan dingin. Dari rangkaian itu akan dihasilkan
sejumlah listrik sesuai dengan jenis bahan yang dipakai. Kerja pendingin
termoelektrik pun tidak jauh berbeda. Jika material termoelektrik dialiri listrik, panas
yang ada di sekitarnya akan terserap. Dengan demikian, untuk mendinginkan udara,
tidak diperlukan kompresor pendingin seperti halnya di mesin-mesin pendingin
konvensional.
Untuk keperluan pembangkitan lisrik tersebut umumnya bahan yang
digunakan adalah bahan semikonduktor. Semikonduktor adalah bahan yang mampu
menghantarkan arus listrik namun tidak sempurna. Semikonduktor yang digunakan
adalah semikomduktor tipe n dan tipe p. Bahan semikonduktor yang digunakan
adalah bahan semikonduktor ekstrinsik. Persoalan untuk Termoelektrik adalah untuk
mendapatkan bahan yang mampu bekerja pada suhu tinggi.
Terdapat tiga sifat bahan Termoelektrik yang penting, yaitu :
1. Koefisien Seebeck(s)
2. Konduktifitas panas(k)
3. Resistivitas( ρ )

12
Gambar 3.1 skema dasar Termoelektrik

Tabel 3.1 Daerah tegangan bahan Termoelektrik


Logam Tegangan (mV)
Bismuth -7,7
Konstantan -3,47 hingga -3,4
Kobalt -1,99 hingga -1,52
Nikel -1,94 hingga -1,2
Air raksa -0,07 hingga -0,04
Platina 0
Grafit +0.22
Tentalum +0,34 hingga +0,51
Timah putih +0,4 hingga +0,44
Timah hitam +0,41 hingga +0,44
Magnesium +0,4 hingga +0,43
Aluminium +0,37 hingga +0,41
Wolfram +0,65 hingga +0,9
Rodium +0,65
Perak +0,67 hingga +0,79
Tembaga +0,72 hingga +0,77
Baja V 2A +0,77
Seng +0,6 hingga +0,79
Manganin +0,57 hingga +0,82
Iridium +0,65 hingga +0,68

13
Emas +0,56 hingga +0,8
Kadmium +0,85 hingga +0,92
Molibdenum +1,16 hingga +1,31
Besi +1,87 hingga +1,89
Chrom nikel +2,2
Antimonium +4,7 hingga +4,86
Silikon +44,8
Telirium +50

4.2 Pemanfaatan Termo Elektrik


Pemanfaatan teknologi Termoelektrik antara lain:
1. Pembangkit daya (Power generation)
Sampai saat ini pembangkitan listrik dari sumber panas harus melalui
beberapa tahap proses. Bahan bakar fosil akan menghasilkan putaran turbin apabila
dibakar dengan tekanan yang sangat tinggi. Hasil putaran turbin tersebut akan dipakai
untuk memproduksi tenaga listrik. Kira-kira 90 persen energi listrik dunia yang
berasal dari sumber panas masih memakai cara ini. Sehingga efisiensi energi masih
sangat rendah akibat beberapa kali proses konversi. Panas yang dihasilkan banyak
yang dilepas atau terbuang percuma. Apabila proses konversi ini dapat diubah,
efisiensi energi akan menjadi lebih besar karena listrik bisa didapatkan langsung dari
sumber panas tanpa melalui beberapa kali tahap konversi.
Namun, beberapa pembangkit tenaga listrik sudah menggunakan metode yang
dikenal sebagai cogeneration di mana di samping tenaga listrik yang dihasilkan,
panas yang dihasilkan selama proses ini digunakan untuk tujuan alternatif. Dengan
menggunakan Termoelekrik, panas yang dihasilkan selama proses yang alami
pembangkit akan diubah menjadi listrik, sehingga panas yang dihasilkan tidak
terbuang secara percuma dan energi yang dihasilkan oleh pembangkit menjadi lebih
besar, serta efisiensi energi menjadi lebih tinggi. Termoelektrik juga mengkin dapat
digunakan pada sistem solar thermal energy.(Wikipedia, 2009)

14
2. Kendaraaan bermotor
Saat ini untuk meningkatkan efisiensi dari kendaraan bermotor, dilakukan
berbagai macam usaha atau teknologi yang dikembangkan, saat ini sedang popular
adalah system hybrid. Pada system hybrid pada kendaraan bermotor adalah gabungan
system kendaran bermotor dengan mesin pembakaran dalam dan dengan motor
listrik. Energi listrik untuk menggerakn motor listrik diperoleh dari altenantor dan
juga dynamic brake, dimana energy gerak (putaran) diubah menjadi energy listrik.
Keuntungan dari kendaraan hybrid adalah bahwa kendaraan hybrid dapat mengurangi
konsumsi bahan bakar melalui 3 mekanisme yakni
a) Pengurangan energi terbuang selama kondisi ‘idle” atau keluaran rendah,
dan biasanya mesin motor bakardalam keadaan mati.
b) Pengurangan ukuran dan tenaga mesin motor bakar, dalam hal kekurangan
tenaga akan dipenuhi oleh motor listrik,
c) Menyerap energi yang terbuang.
Sementara energy panas yang dibuang belum dimanfaatkan untuk system
Hybrid ini. Muncullah suatu konsep memanfaatan energy panas yang terbuang pada
kendaraan bermotor yang akan dijadikan energy listrik. Konsep yang digunakan
adalah konsep Seebeck. Apabila terdapat dua sumber temperatur yang berbeda pada
dua material semi konduktor makan akan mengalir arus listrik pada material tersebut.
Konsep ini lebih dikenal dengan pembangkit termoelektrik.
Dengan menggunakan Teknologi Termoelektrik ini apabila diterapkan pada
kendaraan bermotor dimana gas buang pada mesin motor bakar berkisar antara 200-
300oC sementara temperatur lingkungan bekisar antara 30-35 oC maka dengan
adanya beda temperatur ini akan diperoleh gaya gerak listrik yang kemudian dapat
digunakan untuk menggerakan motor listrik atau disimpan di dalam batere. Apabila
dapat diterapkan di kendaraan hybrid maka konsumsi bahan bakar pada kendaraan
bermotor akan semakin hemat.

15
Kombinasi ketiga keuntungan hybrid bisa diterapkan pada kendaraan
sehingga mesin menjadi lebih kecil, ringan, dan lebih efisien dibanding kendaraan
konvensional. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar
pada kendaraan bermotor lebih banyak lagi karena batere pada kendaraan dimana
berfungsi sebagai sumber utama energy motor listrik akan selalu penuh karena
mendapat suplai dari pembangkit thermoelektrik. Dengan berkurangnya konsumsi
bahan bakar maka dapat pula mengurangi emisi gas buang ke lingkungan.( Koestoer,
2008).

3. Mesin Pendingin
Termoelektrik sebagai pendingin dibuat menjadi sebuah modul
semikonduktor yang jika dialiri arus listrik DC maka kedua sisi modul termoelektrik
ini akan mengalami panas dan dingin. Sisi dingin inilah yang dimanfaatkan sebagai
pendingin produk. Dalam bidang kedokteran dan kesehatan, ketersediaan darah
sangat dibutuhkan oleh pasien untuk proses penyembuhannya. Seperti pasien yang
mengalami kecelakaan, melahirkan, dioperasi atau yang memiliki penyakit berat
lainnya setidaknya membutuhkan darah minimal 1000 – 1500 mL. Darah yang
tersedia hasil donor dari orang sehat sekitar 250 – 300 mL disimpan dalam labu
plastik dan harus dijaga agar tidak rusak. Darah harus disimpan pada kondisi
temperatur tertentu agar sel darah mengalami proses metabolisme yang minimal
sehingga tidak mengalami kerusakan dan dapat digunakan untuk jangka waktu yang
cukup lama. Untuk menjawab permasalahan di atas maka diperlukan suatu tempat
penyimpan darah (carrier) hasil donor yang kondisinya dijaga pada suhu 1 - 6 ºC
sehingga bisa digunakan sampai 28 hari ke depan. Adapun solusi yang ditawarkan
adalah membuat suatu kotak penyimpan darah portabel yang temperaturnya dijaga
konstan. Teknologi termoelektrik memungkinkan untuk mendinginkan darah dalam
kapasitas kecil. Sisi dingin pada modul termoelektrik digunakan untuk mendinginkan
darah pada suhu yang diinginkan. Untuk menjaga agar suhunya konstan maka
biasanya digunakan alat kontrol termostat. Dalam merancang sistem ini, langkah

16
awalnya adalah merencanakan disain konstruksi kotak penyimpan darah beserta
sistem kontrol dan kelistrikan. Langkah selanjutnya melakukan perhitungan beban
pendinginan yang meliputi beban pendinginan darah, beban kalor konduksi dinding,
beban infiltrasi dan beban yang ditimbulkan oleh peralatan listrik. Semua beban
dijumlah total sebagai beban kalor yang harus didinginkan oleh modul termoelektrik.
Pemilihan spesifikasi modul termoelektrik didasarkan pada beban kalor, beda suhu
dan parameter listrik yang digunakan. Kelebihan sistem pendingin termoelektrik
adalah tidak berisik, mudah perawatan, ramah lingkungan dan tidak memerlukan
banyak komponen tambahan. Selain itu manfaat lain dari termoelektrik sebagai mesin
pendingin adalah dapa mengurangi polusi udara. Hydrochlorofluorocarbons (HCFCs)
dan chlorofluorocarbons (CFC) dikenal sebagai ozone depleting substances (ODSs),
yaitu substansi yang meyebabkan penipisan lapisan ozon merupakan zat yang sudah
lama dipakai dalam mesin pendingin. Namun, baru-baru ini telah diterbitkan regulasi
mengenai penggunaan zat-zat tersebut dalam mesin pendingin, sehingga mesin
pendingin berteknologi termoelektrik menjadi solusi cerdas dalam masalah ini.
Dengan teknologi ini dapat mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya seperti
itu dan mungkin akan berjalan lebih tenang (karena mereka tidak memerlukan bising
Kompresor). (Tellurex, 2008)
Keunggulan dari teknologi termoelektrik pada mesin pendingin dari teknologi
lainnya adalahi:
a) Pendingin Termoelektrik tidak memiliki bagian yang bergerak, dan karena itu
kebutuhan pemeliharaan tidak terlalu penting.
b) Pengujian ketahanan telah menunjukkan kemampuan perangkat untuk
thermoelectric melebihi 100.000 jam operasi yang stabil di berbagai negara.
c) Temperatur kontrol dari masing-masing bagian dapat dijaga menggunakan
perangkat thermoelectric dan dukungan yang sesuai dari circuit..
d) Fungsi dari Pendingin Termoelektrik dalam lingkungan yang terlalu parah,
terlalu sensitif, atau terlalu kecil untuk pendinginan konvensional.
e) Pendingin Termoelektrik tidak bergantung pada posisi.

17
f) Arah panas pemompaan dalam sistem thermoelectric sepenuhnya dapat
dibatalkan. dengan mengubah polaritas dari DC power supply menyebabkan
panas yang akan dipompa ke arah-yang dingin kemudian dapat menjadi panas

4.3 Konverter Termionik


Pembangkit listrik dengan termionik adalah mengubah energi panas menjadi
energi listrik dengan menggunakan emisi termionik. Emisi termionik adalah
terlepasnya electron dari permukaan logam yang lebih panas ke permukaan logam
lainnya yang dipanasi bersama sama. Emosi Termionik juga dikenal sebagai “Emisi
Thermal Elektron”. Proses ini sangat penting dalam pengoperasian berbagai
perangkat elektronik dan dapat digunakan untuk pembangkit daya atau pendinginan

keluaran energi

anoda (kolektor)

beban cairan
kotoda (emiter)

masukan energi
Gambar 3.2 skema dasar converter termionik

Elektron electron bebas dari emitter mempunyai energy yang seimbang


dengan level ferminya. Elektron elektron ini dapat meninggalkan katoda, jumlah dari
energy panas yang disuplai padanya akan sama dengan fungsi kerja katoda Ø c.
Elektron-elekron yang diemisikan akan menuju ke arah kolektor (anoda), dengan
kerugian energy yang kecil. Pada anoda, elektron elektron yang diserap akan
membangkitkan energi Ø a dalam bentuk panas, hal ini menaikkan level Fermi dari
anoda, Karena Ø a < Ø c maka selisihnya (Ø c - Ø a) dapat ditranformasikan menjadi
energy listrik.

18
Bahan katoda hendaknya mempunyai kemampuan emisi yang cukup pada
suhu kerja, mempunyai konduktifitas listrik maupun konduktifitas panas yang tinggi
dan stabil terhadap pengaruh kimia. Bahan yang relative memenuhi syarat di atas
antara lain: W,Mo, dan Ta yang permukaannya dilapisi Ce untuk menghindari
penguapan dan mendapatkan emisi yang lebih baik pada suhu sekitar 2000° C. Bahan
bahan lainnya adalah Barium Oksida, Uranium Karbida yang dicampur dengan
Stontium dan Calsium Oksida.
Bahan bahan yang digunakan sebagai anoda harus memenuhi syarat:
kemampuan emisi ternyata rendah, restistivitas rendah, sifat kimia maupun
mekanismenya baik. Bahan bahan yang digunakan untuk anoda antara lain: Cu, Ni,
Ag yang dilapisi Ce. ( Muhaimin, 1993).

4.4 Pemanfaatan Konverter Termionik


Pemanfaatan dari teknologi Termionik dapat dilihat pada diode, pada
pembangkit listrik tenaga nuklir untuk keperluan kapal ruang angkasa, rektor
spektrum termionik, dan lain-lain. Pemanfaatan teknologi Termionik pada diode
dapat dilihat pada Diode Termionik, dimana diode ini dapat mengkonversi perbedaan
yang panas ke tenaga listrik secara langsung. Dan pada teknologi pembangkit listrik
tenaga nuklir untuk keperluan kapal ruang angkasa dapat dilihat pada pemanfaatan
dari panas yang terbuang dari pembangkit dengan mengkonversinya menjadi listrik.
(Wikipedia, 2009).

19