Anda di halaman 1dari 34

FISIKA DASAR I

PANDUAN PRAKTIKUM

1. Ketidak Pastian Dalam Pengukuran 2.


Pengukuran Dasar 3. Vektor 4. Gaya Gesekan
5.Hukum Newton 6.Hukum Hooke 7.Osilator
Harmonik Sederhana.

PRODI FISIKA
9/19/2011
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

PEDOMAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

Para Mahasiswa yang mengikuti Praktikum Fisika Dasar harus memperhatikan


hal-hal sebagai berikut :

I. DIRUMAH SEBELUM MELAKUKAN PRAKTIKUM


1. Perajarilah baik-baik modul yang akan anda kerjakan di laboratorium
pada pekan berikutnya.
2. Kerjakan tugas atau pertanyaan yang ada dalam modul yang
bersangkutan dan serahkan kepada asisten anda sebelum
mengerjakan modul tersebut di laboratorium.
3. Pada saat akan berangkat praktikum jangan lupa membawa kartu
absensi.
4. Ingat tanpa mengerjakan modul dan menyerahkan tugas sebelum
praktikum anda
tidak akan diperkenankan mengikuti praktikum saat itu.

II. DI DALAM LABORATORIUM


1. Waktu Praktikum
Datanglah tepat pada waktunya !
Bila anda datang terlambat lebih dari 15 menit dan tanpa ada alasan
yang dapat diterima,anda akan diberikan sanksi oleh asisten.
2. Laboratorium adalah tempat praktikum,karenanya :
a. Berpakaian yang sopan dan memakai jas lab
b. Tidak diperkenankan memakai sandal dan sebaiknya memakai
sepatuyang beralaskan karet
c. Dilarang Makan,minum dan merokok di dalam laboratorium
d. Menyiapkan barang-barang lain / tas dll. Selain alat tulis dan
petunjuk praktikum di atas meja.
e. Kehilangan barang menjadi tanggung jawab sendiri.
3. Serahkan kartu absensi dan tugas-tugas serta laporan sementara yang
sudah dikerjakan dirumah kepada asisten sebelum praktikum di mulai.
4. Minta petunjuk asisten tentang alat-alat apa yang harus anda pakai
dan minta tanda tangan asisten pada bon pinjamannya.
5. Kerusakan alat-alat,kehilangan alat karena kelalaian anda, maka
konsekuensinya anda harus ganti.
III. SESUDAH PRAKTIKUM
1. Kembalikan alat-alat yang anda pinjam ke petugas lab dan rapikan
kembali meja/kursi tempat anda praktikum.
2. Kerjakan Lembar Kerja mahasiswa yang ada dalam pelaksanaan
praktikum yang akan dipraktikumkan sebanyak dua rangkap , satu
untuk asisten dan satunya lagi untuk praktikan sebagai arsip.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

3. Lihatlah Pengumuman-pengumuman baik tentang nilai praktikum


maupun tentang praktikum yang akan anda lakukan selanjutnya.

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kehadirat TUHAN YME yang telah memberikan rahmat
dan hidayahnya sehingga Panduan Praktikum Fisika Dasar I ini dapat di
selesaikan.

Panduan Fisika ini disusun sebagai Pedoman bagi Mahasiswa Jurusan


Pendidikan MIPA FKIP Universitas Sriwijaya yang mengambil Mata
Kuliah Fisika Dasar I.

Panduan Praktikum ini merupakan revisi dari buku panduan


sebelumnya yang kami yakin masih jauh dari sempurna.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Penyusun Mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak


yang telah membantu penyusunan buku panduan ini. Semoga buku ini
bermanfaat.
Amin.

Indralaya, september
2011
Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

Judul....................................................................................................

................... i
Tata Tertib

Praktikum............................................................................................

................ ii
Kata

Pengantar.............................................................................................

......................... iii
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Daftar

Isi........................................................................................................

........................ iv
Percobaan I : Ketidak pastian Dalam

Pengukuran................................................................... 1
Percobaan II : Pengukuran

Dasar............................................................................................ 6
Percobaan III :

Vektor..................................................................................................

.......... 16
Percobaan IV : Gaya

Gesekan...............................................................................................

. 19
Percobaan V : Hukum

Newton..............................................................................................

21
Percobaan VI : Hukum

Hooke...............................................................................................

24
Percobaan VII : Osilator Harmonik

Sederhana...................................................................... 26
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

1. KETIDAKPASTIAN DALAM PENGUKURAN

1. Pendahuluan

Setiap kali melakukan pengukuran, kita selalu dihinggapi oleh ketidakpastian


(kesalahan) dalam penulisan hasil pengukuran tersebut. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan manusia dalam membaca sekala, serta keterbatasan kemampuan dan ketelitian
dari alat ukur yang digunakan.

Misalkan kita ingin mengukur panjang suatu balok kecil yang


panjangnya lebih kurang 2,5 cm, mengunakan mistar dengan sekala
terkecil dalam milimeter (mm), maka kita tidak dapat mengatakan
panjangnya misalnya 2,53 cm. Jadi angka 3 dari hasil tersebut hanya
suatu perkiraaan saja. Dengan kata lain ada ketidakpastian pada angka 3
tersebut. Tapi bila kita mengunakan jangka sorong atau Mikrometer
sekrup yang mampu membaca hingga 0,001 cm, maka angka 3 menjadi
suatu yang pasti, namun masih tetap selalu ada angka yang mengandung
ketidakpastian.

Banyak faktor yang menjadi sumber ketidakpastian dalam


pengukuran :

a. Adanya nilai sekala terkecil (nst)


b. Adanya ketidakpastian bersistem

c. Adanya ketidakpastian Acak (random) dan

d. Adanya keterbatasan pada pengamat.

a. Nilai Skala Terkecil (nst)

Setiap alat ukur memiliki skala dalam berbagai bentuk, tetapi setiap
skala juga mempunyai batasan yaitu skala terkecil yang dapat dibaca.
Sebagai contoh, penggaris plastik biasa digores dengan garis-garis yang
berjarak 1mm, maka nilai skala terkecilnya adalah 1 mm. Jangka sorong
adalah alat ukur panjang yang dibantu dengan nonius yang
memungkinkan kita membaca hingga 0,1 atau 0,05 mm. Jadi skala
terkecilnya adalah 0,1 atau 0,05 mm, Mikrometer sekrup mempunyai alat
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

bantu yang memungkinkan kita membaca hingga ,0,01 mm, dengan


demikian nilai skala terkecilnya adalah 0,01 mm. Meskipun jarak antar
goresan dapat dibuat sampai 0,001 mm atau lebih kecil, tanpa alat bantu
kita tidak dapat membacanya( ini disebabkan keterbatasan pada mata
kita yang disebut daya pisah).

b. Ketidakpastian Bersistem

Ketidakpastian bersistem dapat disebut sebagai kesalahan karena ia


bersumber pada kesalahan alat, diantaranya:

- Kesalahan kalibrasi yaitu penyesuaian pembubuhan nilai pada garis


skala saat pembuatan.
- Kesalahan titik nol yang tergesernya penunjukkan nol yang sebenarnya
dari nol pada skala. Kesalahaan ini ada yang dapat dikoreksi sebelum
pengukuran dimulai tetapi ada pula yang tidak. harus dicatat
kesalahan ini dan dapat dikoreksi pada penulisan hasil pengukuran
nantinya.

- Kesalahan alat lainnya seperti melemahnya pegas yang digunakan


atau terjadi gesekan antara jarum penunjuk dan bidang sekala

Kesalahan bersistem sesuai dengan namanya memberikan penyimpangan


tertentu yang prinsipnya dapat dikoreksi.

c. Ketidakpastian Acak

Ketidakpastian ini ditimbulkan oleh kondisi lingkungan yang tidak


menentu yang mengganggu kerja alat ukur, misalnya gerak brown
molekul udara, fluktuasi tegangan listrik , dan bising (noise) elekronik
yang bersifat acak dan sukar dikendalikan.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

d. Ketidakpastian Pada Pengamat

Sumber ketidakpastian yang tidak boleh dianggap ringan adalah keterbatasan


pada si pengamat, diantaranya kurang terampilan menggunakan alat, terlebih
alat canggih yang melibatkan banyak komponen yang harus diatur, atau kurang
tajamnya mata membaca skala yang halus tersebut.

2. Cara menyatakan ketidakpastian pada pengukuran tunggal.

Pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan


satu kali. Menuliskan ketidakpastian pada pengukuran tunggal yang
bersumber dari adanya nilai skala terkecil (nst) pada alat ukur yang
digunakan. Biasanya digunakan nst sebagai ketidakpastian. Bila
besaran yang diukur adalah X, maka ketidakpastiannya ditulis X, dan
1
biasanya diambil X = 2
nst . Oleh karena itu hasil pengukuran tersebut
dapat dilaporkan sebagai berikut: XX

Misalnya hasil pengukuran arus listrik :

I = ( 3,2 0,05 ) mA

Yang berarti nilai I terletak antara 3,15 3.25 mA, dan pasti tidak diluar
angka tersebut. Dalam hal ini skala terkecil berjarak 0,1 mA dan sebagai
ketidakpastian diambil

X = 12 nst .

3. Ketidakpastian pada Pengukuran berulang

Apabila keadaan memungkinkan secara intuitif kita merasakan


bahwa jika suatu besaran diukur beberapa kali, kita akan mendapatkan
informasi yang lebih baik mengenai besaran tersebut. Jika demikian
bagaimana cara kita memperoleh informasi tersebut?. Ilmu statistik
membenarkan intuisi kita itu dan memberikan cara mengolah data yang
kita peroleh tersebut sebagai berikut:
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

- Nilai yang sebenarnya baru diperoleh jika pengukuran dilakukan


diulang tak hingga banyaknya yang membentuk populasi dari besaran
tersebut
- Dalam pengulangan yang terbatas jumlahnya yang merupakan sampel
dari populasi besaran tersebut, nilai terbaik yang dapat diperoleh dari
sampel tersebut sebagai suatu nilai yang mendekati nilai sebenarnya
yang kita cari adalah :
X i X 1 X 2 ...... X N
nilai rata-rata
N N

- Dimana nilai bukanlah nilai X0 (Nilai sebenarnya)


Untuk manyatakan suatu tingkat kepercayaan kita pada nilai
tersebut digunakan suatu besaran sebagai keetidakpastian X yaitu
yang disebut simpangan baku ( devisi standar) dimana.

2
1 NXi 2 Xi
SX N N 1

4. Ketidakpastian Relatif dan Ketelitian Pengukuran


Ketidakpastian yang dituliskan dengan disebut ketidakpastian
mutlak dari besaran X. Besar kecilnya X dapat digambarkan mutu alat
ukur tapi belum dapat digunakan untuk menilai mutu hasil pengukuran.
Misalnya sebuah batang A yang panjangnya sekitar 1 m bila diukur
dengan pengaris biasa dapat memberikan hasil sbb:

LA = ( 1,00 0,0005)m

Bila alat yang sama digunakan untuk mengukur batang B yang


panjangnya sekitar 10 cm hasilnya sbb:

LB = (1,000,05) cm

Dalam kedua hasil pengukuran ini ketidakpastiannya sama yaitu l =


0,05 cm = 0,0005 m tetapi jelas bahwa mutu hasil pengukuran lA lebih
baik dari l B

Untuk dapat memberikan informasi langsung mengenai MUTU


PENGUKURAN yang disebut juga KETELITIAN PENGUKURAN dapat
digunakan
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

L
KETIDAKPASTIAN RELATIF = X

Yang dapat pula dinyatakan dalam persentase bila dikalikan 100.


Ketidakpastian relatif dalam contoh diatas adalah :
l A
lA 1005 0,05%

l A
LB 105 5%

5. Ketidakpastian Besaran Yang Tidak Langsung Diukur


Jika suatu besaran yang akan ditentukan merupakan fungsi dari besaran lain yang diukur
maka besaran itupun mengandung ketidakpastian yang diwarisinya dari besaran yang
diukur tersebut. Misalnya besaran yang akan ditentukan itu z yang merupakan fungsi dari
x dan y yang masing masingnya diukur. Hubungan antara z dengan x dan y dapat
ditulis secara umum sebagai berikut:
Z = (x,y)

Nilai x dan y dari hasil pengukuran dapat ditulis sebagai berikut:

X = X0X

Y = Y0 Y

Kita akan menulis hasil pengukuran z sebagai berikut:

Z = Z0 Z

Z0 dapat ditentukan sebagai berikut:

Z0 = (X0, Y0)

Masalah selanjutnya bagaimana memperoleh z dari X0, Y0, X dan


Y. Hubungan ini diperoleh dengan hitungan diferensil. Akan tetapi kita
perlu membedakan 3 kasus sehubungan dengan cara memperoleh X =
X0X dan Y = Y0 Y.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Bila ketidakpastian X dan Y ditentukan dari nilai sekala terkecil (pada


pengukuran tunggal) ada arti stastistik yang terkait dengannya yaitu
bahwa nilai yang sebenarnya X atau Y pasti (keyakinan 100%) terletak
antara X0 - X dan X0 +X atau antara Y0 - Y

Y0 + Y. Tidak demikian halnya dengan X atau Y yang berasal dari


deviasi standar pada pengukuran berulang. Disini keyakinan bahwa X0
atau Y0 menyimpang dari nilai sebenarnya dalam batas X atau Y
hanya 68 %.

2. PENGUKURAN DASAR

1. Sasaran Belajar :
Mahasiswa diharapkan mampu:

1. menggunakan beberapa alat ukur dasar


2. menentukan ketidakpastian pada hasil pengukuran tunggal
3. menentukan ketidakpastian pada pengukuran berulang
4. menghitung ketidakpastian pada hasil percobaan.

2 Alat dan Bahan


1. Jangka Sorong 2. Ampermeter 3. Micrometer sekrup

4. Voltmeter 5. Balok besi 6. Keping besi


silinder.

7. Mistar

3. Pelaksanaan
a. Menggunakan Jangka Sorong
Jangka sorong merupakan alat pengukur panjang suatu benda yang
ukurannya
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

cukup kecil, dan jari jari dalam dan luar, serta kedalaman suatu tabung.
Jangka Sorong memiliki kepekaan hingga 0,1 mm.

Sebelum menggunakan alat ini selidiki dulu skala utama dan skala
noniusnya, apakah berimpit dengan garis nol ketika jangka sorong dikatupkan.
Bila skala utama dan skala noniusnya tidak berimpit maka dikatakan alat
mempunyai kesalahan titik nol. Untuk kasus kesalahan titik nol ini maka
penulisan hasil pengukuran perlu
Dalam suatu pengkuran pada katup A dan B berimpit, skala nol nonius
terletak berimpit dengan skala nol pada skala utama, pada kondisi ini
dikatakan tidak mempunyai kesalahan titik nol Setelah benda yang akan
diukur diletakkan antara katup A dan B teryata titik nol nonius terletak
diantara 2,1 cm dan 2,2 cm, perhatikan (lihat gambar) garis nonius yang
berimpit dengan garis pada sekala utama adalah garis

kelima (5). Jadi hasil yang kita dapat 2,1 + 0,05 = 2,15 cm atau 21,5 mm
tampa ada angka yang ditaksir, seperti pada mistar. Karena hasil
pengikuran selalu mengandung angka terakhir sebagai angka taksiran
maka pengukuran panjang diatas harus dilaporkan sebagai 21,50 mm.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

a. Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup merupakan alat untuk mengukur tebal suatu benda
yang berukuran sangat kecil dengan sangat teliti. Jika selubung luar
diputar lengkap1 kali maka rahang geser dan juga selubung luar maju
atau mundur 0,5 mm. Karena selubung luar memiliki 50 kali skala, maka 1
skala pada selubung luar sama dengan jarak maju atau mundur rahang
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

geser sejauh 0,5 mm/50 = 0.01 mm. Bilangan 0,01 mm ini merupakan
ketelitian micrometer sekrup

Seperti yang terlihat pada gambar diatas cara mendapatkan hasil pengukuran dengan
micrometer sekrup adalah sebagai berikut:
a. Perhatikan garis skala utama yang terdapat dengan tepi selubung luar. Dalam kasus
pada gambar, garis skala utama tersebut adalah 4,5 mm lebih.
b. Perhatikan garis mendatar pada selubung luar yang berimpit dengan garis mendatar
skala utama. Dalam kasus ini garis mendatar pada selubung luar yang berimpit
dengan garis mendatar pada skala utama adalah garis ke- 47 (lihat gambar dengan
seksama)
c. Dari a dan b diperoleh bacaan micrometer sekrup:
4,5 mm + 47 bagian = 4,5 mm + 0,47 mm
= 4,97 mm tanpa ada angka yang ditaksir.

C. Mengunakan Multitester
Pada umumnya multitester dirancang untuk pengukuran besaran arus listrik arus
searah, tegangan searah , hambatan dan besaran listrik bolak balik (AC). Multitester terdiri
dari 6 bagian yaitu:
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

1. Busur skala penyimpangan jarum penunjuk.


2. Pengatur kedudukan jarum penunjuk.
3. Penyesuaian jarum penunjuk pada angka nol ohm.
4. Sakelar pengatur fungsi pengukuran .
5. Terminal hubungan titik pengukur.
6. Kotak baterai untuk ohm meter ( tempat baterai ada dibagian dalam belakang kotak)

Jarum

Penunjuk
Pengatur
Batas
Nol
kepekaan dari
alat sakelar
pengatur
fungsi

Batas
kepekaan dari
alat
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Jika kita perhatikan gambar Multitester diatas, maka multitester ini merupakan gabungan dari
ampere meter, volt meter, dan ohm meter, yang hanya menggunakan satu buah galvanometer.
Batas kepekaan dari alat alat ini adalah 4 K/V (tergantung dari jenis multitester yang kita
gunakan,lihat di dekat jarum penunjuk, sebelah kiri).
Apa arti dari kepekaan dari alat ini ; kepekaan arus multitester ini adalah 4000 /volt =

1
Ampere yang setera dengan 250 A. Jadi, Galvanometer yaang digunakan untuk
4000
multitester ini akan menunjukkan simpangan penuh, jika dialiri arus listrik sebesar 250 A.
Dengan kata lain dari arus ini adalah apabila batas ukur yang kita pasang adalah 10 volt,

40k
maka hambatan dalam Rvm dari galvanometer yang dipakai menjadi = 10 volt. x volt ,

sehingga dengan berbagai batas ukur maka nilai hambatan dalam dari galvanometer berubah-
ubah.
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan multitester dalam pengukuran
listrik:
1. Jika kedudukan jarum penunjuk tidak berimpit dengan nol pada busur skala, atur
kedudukan jarum penunjuk dengan cara memutar bagian (2) sampai berimpit dengan nol
pada bagian kiri dari busur skala
Putar sakelar pengatur fungsi bagian (4), sampai tanda pada pada sakelar
berada pada kedudukan (a) fungsi pengukur dan (b) batas tertinggi. Letak dari
fungsi pengukuran hambataan (sebagai ohm meter) () terletak pada panel
bagian atas dibawah busur skala ; fungsi pengukuran tegangan searah (sebagai
ampere meter

10

2. listrik searah) (DCV) terletak pada panel kiri; fungsi pengukuran arus searah (sebagai
ampere meter listrik searah) DC mA terletak pada panel sebelah bawah dan fungsi
pengukuran tegangan bolak balik (sebagai volt meter listrik bolak balik) (ACV)
terletak pada panel sebelah kanan.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

3. Pada titik terminal tes positif (+) dan negative (-) pasangkan kabel tes warna merah
keterminal (+) dan kabel tes warna hitam ke terminal (-).
4. Letakkaan sakelar pengatur fungsi pada batas ukur tertinggi dari besaran yang akan
diukur.
5. Baterai yang terpasang pada bagian belakang diuji, apakah masih baik atau sudah harus
diganti. Carannya adalah putar sakelar fungsi kedudukan pengukuran hambatan pada
batas ukur X 1. Masing - masing ujung soket kabel tes warna merah dan kabel tes warna
hitam dihubungkan(satukan) putar penyesuaian bagian (3) ke kiri ataau ke ke kanan,
sehingga jarum penunjuk menyimpang pada angka nol pada skala ohm. Jika
penyimpangan jarum penunjuk tidak dapat mencapai skala nol ohm, berarti harus segera
diganti.

Penggunaan Multimeter sebagai alat pengukuraan tegangan searah


Putar sakelar
pengaatur fungsi pada kedudukan DCV pad batas ukur tertinggi. Letakkan kabel
tes merah pada titik tegangan (+) dan kabel hitam tegangan (-) , misalkan kita
akan mengukur tegangan batere : atur sakelar pengatur fungsi pada batas ukur
10 , ini batas ukur tertinggi yang kita pilih untuk tegangan yang kita ketahui
kisaran dibawah 10 volt. Baca penyimpangan jarum penunjuk , jika baatere
masih baik maka jarum penunjuk penyimpangan dan berimpit dengan angka
1
antaraa 0 dan 2 . Pada bagian busur skala 7 , batas ukur 10 volt terdiri dari
2
1
1 7 skala
50 skala , sehingga 7 skala setara dengan 2 x10 volt 1,5Volt Anda
2 50 skala
harus cukup banyak berlatih sehingga tanpa melakukan

perbandingan skala dikalikan dengan batas ukur, anda dapat langsung membaca
tegangan yang diukur. Pengukuran tegangan searah ini mempunyai batas ukur
10 volt,50 volt, 250 volt, 500 volt dan 1000 volt. Kalau kita amati pada busur
skala tegaangan maksimum tegangan searah yang dicantumkan adalah 10, 50,
250, bagaimanaa kita menggunakan batas ukur 500 dan 1000

11

sedangkan skala maksimum hanya 250 volt, misalkan kita hendak mengukur tegangaan 400
volt. Pada skala berapa jarum penunjuk menyimpang? Ada tiga buah skala yang kita pakai:
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

1. 1 Skala 10, batas ukur diletakkan pada 500 volt, maka penyimpangan maksimum pada
angka 10 menunjukkan tegangan 500 volt. Ada cara sederhana untuk memudahkan

SkalaPenyimpangan jarum penunjuk


penunjuk nilai, Yaitu: X Batas ukur tegangan
SkalaMaksimum

terbaca sehingga dari hasil pengukuran diatas dapat kita baca

400volt
X 10 Skala 8, tegangan yang terbaca adalah 8adalah 8 Volt .
500volt
2. Skala 50, batas ukur diletakkan pada 5000 volt, maka penyimpangan maksimum pada
angka 50 menunjukkan tegangan 500 volt. Ada cara sederhana untuk memudahkan
penunjukan nilai, yaitu: sehingga dari hasil pengukuran diatas dapat kita baca

400 volt
X 50 skala = 40, tegangan yang terbaca adalah 40 volt.
500 volt

3. Skala 250, batas ukur diletakkan pada 500 volt, maka penyimpangan maksimum pada
angka 250 menunjukkan tegangan 500 volt. Ada cara sederhana untuk memudahkan
penunjukan nilai, yaitu: sehingga dari hasil pengukuran di atas dapat kita baca

400 volt
X 250 skala 200, tegangan yang terbaca adalah 200 volt.
500 volt

Pemasangan multimeter pada pengukuran tegangan adalah terhubung paralel dengan


komponen rangkaian

12

Penggunaan multimeter sebagai alat pengukuran tegangan bolak - balik


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Proses pembacaannya sama dengan proses pembacaan pada pengukuran tegangan


searah. Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah Sakelar pengatur fungsi pada
kedudukan AC volt, dan jangan sampai Anda menyentuh salah satu ujung kabel, karena
tegangan bolak balik sangat berbahaya.

Penggunaan multimeter sebagai alat ukur Arus searah


Pada pengukuran arus searah, batas ukur yaang dimiliki oleh multimeter ini adalah
0,25 mA dan 500 mA. Pada busur sekala untuk pengukuran arus searah terdapat skala 10,50
dan 250, sebagai contoh misalkan kita memiliki batas ukur 250 mA dan pada pengukuran
arus searah jarum jam penunjuk penyimpang pada skala 6 pada skala maksimum 10, sehingga

6 Skala
arus listrik searah yang mengalir dalam rangkaian adalah 10 Skala X 500 mA = 300 mA.

Pemasangan multimeter pada pengukuran arus searah ini harus terhubung secara seri dengan
komponen rangkaian Perhatikan gambar di bawah ini

13

Pengunaan Multimeter sebagai alat pengukur Hambatan


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mengkalibrasi alat dengan cara,
menghubungkan kabel merah dan kabel hitam, lalu lihat jarum penunjuk skala apakah tepat
pada angka nol ataau tidak ( lihat pada multimeter, Skala 0 ohm terletak pada bagian kanan
jarum penunjuk skala). Kalau tidak tepat maka puta tombol penyesuaian jarum pada
penunjuk angka nol. Seandainya masih tidak bisa maka batere multimeter harus segera
diganti. Untuk mengukur hambatan ini, kita menganggap bahwa panjang kabel tes
mempunyai nol ohm. Hambatan yang hendak diukur dihubungkan dengan kabel tes. Lihat
gambar!

Skala hambatan di dalam busur skala terbagi atas 2 bagian yaitu skala dan skala
K. Untuk nilai hambataan di bawah 1000 , pergunakan skala dan untuk pengukuran
nilai hambatan diatas 1000 pergunakan skala K. Biasanya batas pengukuran hambataan
pada (1) batas ukur 1x, antara 0 sampaai dengan 500 , (2) batas ukur x10, adalah 0 sampai
dengan 5 K, dan (3) batas ukur K, adalah antara 0 sampai dengan 1 M. Penggunaan
multimeteer dalam pengukuran hambatan tidaklah sesulit untuk pengukuran arus dan
tegangan. Yang perlu diperhatikan adalah pengaturan penyesuaian jarum penunjuk pada
angka 0 ohm, yang harus diuji setiap kita hendak mengukur hambatan.

14

Tabel Data Hasil Pengamatan untuk Pengukuran Berulang


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

1. Balok Besi menggunakan jangka sorong

No Panjang Lebar (cm) Tinggi (cm)

1
2
3
4
5

2. Silinder menggunakan Micrometer

No Diameter Volume

1
2
3
4
5

15

3. VEKTOR
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

Tujuan

1. Agar mahasiswa mampu menentukan besar dan arah resultan


2. Mahasiswa dapat mengetahui letak atau posisi sebuah titik dalam
suatu bidang datar.
3. Mahasiswa dapat menentukan besar sudut dan dapat menghitung
jumlah sudut.

Alat dan Bahan

1. Beban
2. Katrol
3. Kertas grafik
4. Papan vector
5. Busur derajat
6. Mistar plastic
7. Paku payung
8. Benang nyilon

Landasan Teori

Beberapa fisis tertentu disamping mempunyai besar juga mempunyai


arah, untuk menyatakan besaran fisis tersebut disamping menyatakan
nilainya, kita juga harus menyatakan arahnya. Besaran fisis ini dikatakan
bersifat vektor secara umum, vektor adalah suatu besaran yang
mempunyai nilai dan arah. Sebagai contoh persamaan gerak suatu benda
adalah suatu vector, karena disamping harus menyatakan beberapa
besaran kecepatan kita juga harus menyatakan arah geraknya.

Sejumlah dua vektor atau lebih dapat diganti dengan satu vector yang
kita sebut resultan. Besar dan arah resultan dapat kita tentukan dengan
kertas grafik. Pada kasus mencari perpindahan total, sesungguhnya kita
telah menerapkan cara menulis perpindahan vector dengan metode segi
banyak.

16

Aturan menulis dengan metode segi banyak yaitu:


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

1. Lukis salah satu vector (Vektor pertama)


2. Lukis vector kedua dengan pangkalnya diujung vector pertama, lukis
vector ketiga dengan pangkalnya diujung vector kedua dan seterusnya
sampai semua vector-vektor yang akan dijumlahkan telah terlukis.
3. Vektor hasil penjumlahan (resultan) didapat dengan menghubungkan
pangkal vector pertama keujung vector terakhir

Penjumlahan vector dapat juga dirtulis dengan metode jajaran genjang


aturanya:

1. Lukis vektor pertama dan vector kedua dengan titik pangkal


berhimpit.
2. Lukis sebuah jajaran genjang dengan kedua vector itu sebagai sisi-
sisinya
3. Resultan adalah diagonal jajaran genjang yang titik pangkalnya
sama dengan titik pangkal kedua vector.
Selisih dua vector dapat kita tulis C=A-B Sama dengan resultan
antara vector A dengan vector B, kita tulis C=A+(-B). jadi metode yang
kita gunakan untuk melukis vector penjumlahan vektor juga berlaku untuk
menulis selisish vector. Secara grafik kita bisa menentukan besar resultan
tetapi hasil yang kita peroleh tidak teliti ketelitian perhitungan dengan
cara grafik tergantung pada skala panjang yang kita pilih, ketelitian alat
ukur dan ketelitian membaca alat ukur dan ketelitian membaca mistar.

Cara menentukan besar resultan denagn ketelitian adalah dengan


menggunakan rumus:

R = m12 m22 2m1 .m3 cos

Besaran vector biasanya dituliskan dengan huruf tebal A atau dengan


huruf biasa yang diberi tanda panah diatas huruf besar atau nilai vector
ditentukan denagn A atau cukup A saja. Anak panah menyatakan arah
vector tersebut dan panjang anak panak menyatakan sebanding dengan
nilai vector. Cara lain menyatakan vector adalah dengan menggunakan
komponan-komponen dalam system koordianat tertentu.
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

17

Cara kerja

Susunlah konstruksi alat dan bahan seperti pada gambar

1. Berilah beban m1 , m2 dan m3 setelah keduanya setimbang kemudian


catat besar sudut yang terbentuk
2. Gambarkan pada kertas grafik dengan menggantikan besar m 1 , m2
dan m3 tarik garis Bantu (jajaran genjang) untuk mendapatkan arah
dan besar resultan
3. Ulangi percobaan 2 dan 3 sebanyak 4 kali dengan harga m 1 , m2 dan
m3 yang berbeda.
Data hasil pengamatan

N
m1 m2 m3 Resultan
o

1 60 gr 90 gr 60 gr

2 40 gr 80 gr 60 gr

3 60 gr 80 gr 40 gr

4 30 gr 50 gr 40 gr
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

18

4. GAYA GESEKAN

1. Sasaran

Mahasiswa mapu memahami teori dan prinsip dalam gaya gesek.

2. Teori

Bila dua buan benda yang saling diam memberikan gaya kontak pada
sebuah bidang tidak licin, maka gaya kontak mempunyai komponen
sepanjang bidang sentuh yang disebut gesekan. Gaya gesekan untuk
benda diam disebut gaya gesekan statis, dan gaya gesekan untuk benda
dalam keadaan bergerak disebut gaya gesekan kinetik.

diam diam diam diam hampir


bergerak
fs max = s N fk = s N k = s sehingga fk < fs max
F F
F
fs fsima
fs

Fs = 0 Fs = F Fs = F Fsi max = F

(a) (b) (c) (d)

3. Alat dan Bahan

- Papan Bidang Miring


- Balok Beban (kayu, timah, aluminium, besi, kuningan)

4. Prosedur Percobaan

1. Siapkan papan bidang miring dan letakkan di atas meja.


2. Percobaan pertama, siapkan balok beban letakkan di atas papan
bidang miring secara bergantian. Perhatikan dan catat pada sudut
berapakah balok tersebut akan meluncur (dengan bantuan sentuhan
tangan) dan pada saat meluncur sendiri.
Pada percobaan kedua, sediakan balok kayu yang cukup besar, timbang
dahulu untuk mengetahui massanya. Hubungkan balok tersebut dengan
seutas tali yang
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

19

3. ukurannya 30 cm. Tali tersebut dihubungkan juga dengan pengait


beban, kemudian catat dan tentukan s dan massa beban yang
digunakan sampai beban jatuh sendiri dengan sudut yang ditentukan.
4. Isikan hasil pengamatan pada table berikut :

1. Percobaan pertama

< (akan
< (meluncur meluncur
No. Bahan
dengan dengan k
Gesekan
sendirinya) sentuhan
tangan)

2. Percobaan Kedua

Massa < akan


No. Massa beban s
benda (gr) meluncur

e. Analisa Data
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

20

5. Hukum Newton

1. Sasaran belajar

Mahasiswa dapat

2. Teori dasar

Pada hukum pertama newton dinyatakan bahwa setiap benda akan


tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali
jika benda itu dipaksa untuk mengubah keadaan tersebut oleh gaya-gaya
yang dikerjakan padanya.

Jika pada sebuah benda dikenai sejumlah gaya maka benda tersebut akan
mengalami perubahaan kecepatan. Besarnya perubahaan kecepatan
tersebut sebanding dengan gaya yang diberikan dan berbanding terbalik
dengan massa benda tersebut yang dinyatakaan dengan hukum kedua
Newton

F
a= m

suatu gaya yang bekerja pada sebuah benda selalu berasal dari benda
lain . Jika sebuah benda melakukan gaya pada sebuah benda lain, benda
kedua selalu melakukan gaya balasan pada benda pertama. Disamping itu
kedua gaya ini mempunyai besar yang sama dan arah berlawanan. Hal
tersebut dikenal dengan hukum ketiga Newton

F aksi F reksi
Alat dan Bahan

1. Katrol

2. Beban (balik kayu)

3 3. Neraca Pegas
4. Anak Timbangan
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

21

Cara kerja :

1.Selembar kertas diatas meja dan kemudian letakkan


beban diatas

kertas, tarik kertas dengan cepat amati dan berikan


kesimpulan.

Katrol
2.

Neraca Pegas

Beban

diubah-ubah

Baca angka neraca pegas dan simpulkan

3 Neraca pegas

Beban

Ubah ubah sudut , baca neraca pegas dan simpulkan


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

22

Data percobaan 2 (g = 10m/s2)

No Massa F Keterangan

Kesimpulan

Data Percobaan 3, (m =konstan) ( = berubah)

No F Keterangan

Kesimpulan:

Data Percobaan 3, (m =berubah) ( = konstan)

No F Keterangan

Kesimpulan:
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

23

6. HUKUM HOOKE

1. Sasaran Belajar

Mahasiswa dapat memahami bahwa :

1. Pertambahan panjang pegas sebanding dengan gaya yang bekerja


pada pegas.

2. Energi Potensial pegas sebanding dengan kuadrat pertambahan


panjang pegas.

2. Teori

Sebuah pegas mula mula dalam keadaan bebas, kemudian


diregangkan dengan gaya F, sehingga pegas bertambah panjang sebesar
x. Menurut hokum Hooke :

F = -kx

Sebelum diregangkan dengan gaya F, energi potensial sebuah pegas


adalah nol, setelah diregangkan energi potensialnya bertambah menjadi :

E = kx2

3. Alat dan Bahan

- Statif
- Beban
- Jepit penahan
- Pegas Spiral
- Mistar

4. Prosedur Percobaan

a. Gantungkan beban pada pegas (anggap berat beban adalah F0)

b. Ukur panjang pegas (L0)

c. Tambahkan beban, lalu ukur panjang pegas (L)

d. Ulangi dengan penambahan beban bervariasi.


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

e. Isilah table berikut!

24

Susunlah alat Seperti Gambar Berikut

No. W F = W F0 L (Cm) L = L L0
(Newton) (N)

f. Perhatikan kecenderungan masing masing tabel dari atas ke bawah

g. Bagaimana hubungan antara F dan L

h. Gambarkan grafik F terhadap L

i. Gunakan persamaan (Teori) untuk menghitung konstanta pegas

j. Hitung luas daerah di bawah grafik.


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

25

7. OSILATOR HARMONIK SEDERHANA

1. Sasaran

Mahasiswa dapat memahami perilaku benda yang melakukan gerak


harmonik sederhana dan besaran besaran yang berkaitan dengan gerak
harmonik sederhana.

2. Teori

Bila sebuah pegas ditarik atau ditekan dengan sebuah gaya F, maka
akan terjadi perubahan panjang pada pegas sebesar x. Sebagai reaksi,
pegas juga akan melakukan gaya sebagai reaksi terhadap gaya yang
diberikan. Akibatnya pegas akan melakukan gerakan bolak balik secara
periodik yang dinamakan dengan gerak harmonik sederhana.

Menurut hokum II Newton, persamaan dinamika benda memenuhi :

d 2x k
2 x
dt m

k 2
dengan solusi x = A cos (t + ), dimana = dengan perioda .
m
2
Karena T sama dengan , maka perioda dap[at ditulis menjadi T =

m
2 .
k

3. Alat dan Bahan

- Statif - Beban
- Stopwatch - Pegas
- Neraca Teknis

4. Prosedur Percobaan

a. Timbang pegas dan beban dengan neraca teknis

b. Gantung beban pada statif, beri simpangan dan lepaskan

c. Catat waktu yang diperlukan untuk 5 kali getaran

d. Ulangi untuk beban yang berbeda

e. Gambarkan grafik antara T2 terhadap massa beban


Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I

f. Tentukan nilai konstanta pegasnya (k)

26
Laboratorium Fisika FKIP Unsri
Panduan Praktikum Fisika Dasar I