Anda di halaman 1dari 4

Rahim kontrak melibatkan seorang wanita untuk mengandung anak

wanita lain yang tidak dapat mengandung karena saluran falopinya


terhalang atau karena dia tidak memiliki rahim. Seorang ibu pengganti
sebenarnya menyewakan rahimnya karena anak yang dilahirkan secara
hukum bukanlah anaknya tetapi anak pasangan yang membayar ibu
pengganti ini untuk tujun khusus.

Dibeberapa negara bagian Ameika Serikat cara ini tidak melanggar


hukum. Tetapi di Inggris cara ini belum disahkan secara hukum. Tidak
diragukan lagi bahwa prosedur ini membuat pasangan yang tidak memiliki
anak dapat memiliki anak yang mempunyai atribut genetik paling tidak
dari ayahnya, bila sperma suami yang digunakan untuk membuahi sel
telur dari wanita pengganti. Tetapi disinilah timbul masalah membuahi
ovum dari wanita lain dengan sperma laki-laki yang bukan suaminya
dianggap sebagai perbuatan zina. Karena itu, tidak sah menurut hukum
Islam. Dapat juga terjadi sperma dan ovum pasangan suami istri yang sah
dibuahi secara invitro dan diletakkan dalam rahim ibu pengganti yang
dibayar untuk melahirkan anak yang dalam hal ini tentu saja memiliki
atribut genetik dari orangtua kandungnya.

Disini dapat dikatakan bahwa islam membolehkan kaum muslimin


untuk memiliki anak yang disusui dengan wanita lain. Jika hal ini dilakukan
maka anak akan menjadi anak dari ibu sesusuan. Artinya jika ibu sesusuan
memiliki anak kandung sendiri maka anak yang disusuinya menurut
hukum tidak boleh menikah dengan anak-anak biologisnya. Tetapi harus
ditegaskan bahwa hak istimewa ini sama sekali tidak menjadi pembenaran
bagi ibu pengganti yang mengandung anak dari telur dan sperma
pasangan suami istri yang sah. Tidak ada persamaan yang dapat ditarik
antara ibu susuan dengan ibu pengganti. Ibu susuan memberikan
makanan untuk anak yang telah dilahirkan, sedangkan ibu pengganti
mengandung anak yang belum lahir sampai tiba waktunya dan benar-
benar melahirkannya hal ini menimbulkan dua persoalan:

1. Keabsahan Kontrak
kontrak yang disepakati ibu pengganti dan pasangan suami istri
sama sekali tidak mendapatkan pembenaran hukum menurut Syariat
Islam. Kontrak ini dianggap bathil (tidak berlaku). Pandangan ini dapat
dijelaskan dengan menunjukkan bahwa suatu kontrak penjualan sah
hukumnya hanya jika kontrak ini melibatkan transaksi-transaksi yang
dibolehkan menurut persyaratan syariat. Sebagai contoh, tidak ada
transaksi sah menurut hukum bagi penjualan atau pembelian alkohol
(minuman keras). Begitu juga, kontrak antara pasangan suami istri dan ibu
pengganti tidak berlaku. Pertama karena kontrak ini yang menetapkan
pejualan seorang manusia bebas, dan kedua, kontrak ini melibatkan suatu
unsur pembuahan zina ( telur yang dibuahi tidak ditanam kedalam rahim
istri tetapi kedalam rahim ibu pengganti ). Illat ( penyebab) dari
penanaman ini adalah hamilnya ibu pengganti dan malul (akibatnya)
dialah yang akan melahirkan anak. Syariat hanya membenarkan wanita
yang telah menikah untuk hamil dan melahirkan anak.

2. Masalah Nasab
Diceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengatakan Anak
bersal dari tempat tidurnya. Dari pernyataan ini diturunkan satu prinsip
umum. Seorang anak sah atau haram, selalu berakar ari seorang ibu.
Karena itu ibu pengganti tentunya benar-benar dan sah menjadi ibu dari
sang anak. Seorang anak yang dilahirkan dengan kontrak pengganti
menurut syariat dianggap sebagai anak haram karena suami yang
memberikan spermanya tidak terikat dalam ikatan suci pernikahan dengan
ibu pengganti yang melahirkan anaknya. Syariat menentukan hukuman
berat bagi pelaku perzinahan / seks bebas.

Keburukan Lebih Besar daripada Kebaikan

Lebih jauh lagi harus dijelaskan bahwa tidak ada tempat bagi ibu
pengganti dalam sistem islam. Hal ini dikarenakan keburukan yang
tumbuh akan jauh lebih besar daripada kebaikan yang tampak. Kebaikan
yang tampak adalah bahwa pasangan suami istri akan mendapatkan
keturunan dan ibu pengganti mendapatkan keuntungan finansial. Di
Amerika ibu pengganti mendapat sebanyak 10.000 dari kontrak. Beberapa
keburukan dapat diuraikan sebagai berikut :
a) Ibu pengganti merusakkan sunnatullah dalam proses penciptaan
keturunan secara normal.
b) Cara ini dapat menarik wanita bujangan untuk menyewakan rahim
mereka demi keuntunngan materi. Hal ini justru akan meruntuhkan
lembaga pernikahan dan kehidupan berumah tangga.
c) Wanita menikah tergoda untuk memilih teknik untuk membebaskan
diri dari penderitaan dan rasa sakit yang dialami selama kehamilan
dan melahirkan. Islam tidak melihat kehamilan sebagai suatu beban,
tetapi rahmat. Jika seorang ibu meninggal saat kehamilannya atau
dalam proses melahirkan, maka diberikan kepadanya status
syahidah.

Secara keseluruhan, tidak dapat dipungkiri bahwa sains biomedis telah


memberikan sumbangan positif untuk membantu pasangan mandul agar
mempunyai anak. Metode teknologi yang digunakan untuk membuat hal
ini menjadi kenyataan terkadang secara etis dipertanyakan. Tetapi saat
mengevaluasi teknik-teknik tersebut menurut hukum Islam, Islam tidak
selalu memandangnya dari sudut etika. Dalam sistem Islam etika tidak
dapat dipisahkan dari hukum. Sehingga pertanyaan yang akhirnya muncul
adalah apakah teknik-teknik tersebut belaku menurut hukum Islam? Usaha
menganalisis semua kemungkinan bioteknis sampai pada kesimpulan
bahwa hanya inseminasi buatan dengan sperma suami (AIH) yang
dianggap sah menurut hukum Islam. Dikatakan juga bahwa walaupun
suami harus melakukan masturbasi untuk mendapatkan air mani untuk
menginseminasi ovum istrinya, hal ini dibolehkan dengan ketentuan
prinsip hukum daruratseperti yang ditetapkan hukum Islam.

Teknik lain yang dpat dipandang sebagai teknik yang dibolehkan adalah
fertilisasi in vitro dimana ovum istri dibuahi oleh sperna suami. Teknik-
teknnik lain yang sudah dibicarakan tidak mendapatkan persetujuan
hukum, karena teknik-teknik ini melibatkan unsur ikatan perzinahan dan
atau dapat menghancurkan lembaga pernikahan. Ayat Al-Quran yang
mengatakan bahwa dengan kekuasaan-Nya Allah memandulkan orang-
orang yang dikehendakinya memungkin kaum Muslim memasrahkan diri
terhadap kehendak Allah dalam kasus dimana baik inseminasi buatan
maupun fertilisasi in Vitro gagal dan menjadikan mereka orang tua tanpa
keturunan . Jika itu yang terjadi, mereka memilki dua pilihan.

Jika penyebab kemandulan adalah wanita, maka suami dapat memilih


poligami dan berharap untuk memiliki anak dari istri kedua. Tetapi, jika
suami-istri sangat dekat satu sama lain dan tidak ingin diganggu dengan
kehadiran wanita lain walaupun dia secara sah menikah dengan suami itu,
maka mereka memiliki pilihan untuk mengangaat seorang anak terutama
anak yatim. Disamping dapat menikmati manfaat spiritual dalam
tugasnya, mereka juga mempunyai kesenangan memelihara anak yang
tidak mungkin secara hukum diadopsi oleh mereka tetapi secara psikologis
menikmati pengasuhan seperti anak kakndung mereka sendiri. Dengan
demikian, dalam analisi akhir dapat dikatakan bahwa usaha untuk
mengatasi kemandulan melalui cara-cara teknologi yang disebutkan diatas
tidak merusak sunan (cara) Allah. Tetapi harus dipandang sebagai
usaha untuk menyembuhkan diri dari kemandulan agar dapat menikmati
karunia Tuhan menjad orang tua.