0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
629 tayangan3 halaman

Puisi Pilihan

Puisi pertama berjudul Sersan Nurcholis karya Taufiq Ismail menceritakan seorang sersan yang kakinya hilang 10 tahun lalu saat revolusi. Ia masih terdengar bersiul di bengkel arloji setiap siang walaupun teman-temannya sudah menjadi orang resmi. Puisi kedua berjudul Ibu karya Mustofa Bisri menggambarkan ibu sebagai tempat berteduh, kawah, dan bumi yang memberikan kenyamanan bag

Diunggah oleh

Adhi Galuh Adhetya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
629 tayangan3 halaman

Puisi Pilihan

Puisi pertama berjudul Sersan Nurcholis karya Taufiq Ismail menceritakan seorang sersan yang kakinya hilang 10 tahun lalu saat revolusi. Ia masih terdengar bersiul di bengkel arloji setiap siang walaupun teman-temannya sudah menjadi orang resmi. Puisi kedua berjudul Ibu karya Mustofa Bisri menggambarkan ibu sebagai tempat berteduh, kawah, dan bumi yang memberikan kenyamanan bag

Diunggah oleh

Adhi Galuh Adhetya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUISI PILIHAN

SERSAN NURCHOLIS
Karya : Taufiq Ismail

Seorang Sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel arloji

Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi

Dengan senyum ditolaknya


Kartu anggota
Bekas pejuang

Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di jaman Revolusi

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel aroloji

1958
PUISI WAJIB

IBU
Karya : Mustofa Bisri

Kaulah gua teduh


tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku

melepas lelah dan nestapa


gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit


yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

(Tuhan, aku bersaksi


ibuku telah melaksanakan amanatMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi kekasih-kekasihMu
Amin).

Anda mungkin juga menyukai