Anda di halaman 1dari 27

Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

HAL 1
Sapta Dwikardana

Daftar Isi

Disclaimer Hal 03

BAB 1 : Masih Perlukah Kita Belajar Menulis? Hal 04

BAB 2 : Mengapa Menulis Tangan Masih Penting


Pada Abad Digital? Hal 06

BAB 3 : Benarkah Tulisan Tangan Mampu


Mengungkap Kepribadian? Hal 08

BAB 4 : Pendekatan Gestalt Dalam Grafologi Hal 14

BAB 5 : Bagaimana Cara Menganalisis Tulisan


Tangan? Hal 15

BAB 6 : Konklusi Hal 23

Daftar Pustaka Hal 25

Tentang Penulis Hal 26

HAL 2
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

Disclaimer

Ebook ini adalah hak intelektual dari Sapta Dwikardana dan dipublikasikan
spesial oleh Aquarius Resources
http://aquariuslearning.co.id/ @IdeSukses.

Ebook ini hanya untuk digunakan pada Anda yang ingin menguasai
Grafologi. Buku ini ini ditulis untuk menjadi referensi bagi para peminat
kajian grafologi di Indonesia. Sesuai dengan pembelajaran, pengalaman,
pemikiran dalam proses mengembangkan dan memudahkan Anda
untuk mengetahui tentang Grafologi.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi materi pembelajaran


ini tanpa ijin tertulis dari Aquarius Learning

HAL 3
Sapta Dwikardana

BAB 1

Masih Perlukah Kita Belajar Menulis?

Sepuluh tahun yang lalu, Parker dan Montblanc merupakan merk


alat tulis ekslusif dan mahal, salah satu hadiah kelulusan yang paling
didambakan. Namun dewasa ini telah terjadi perubahan, mereka lebih
menginginkan MacBook dan iPad, Samsung Notes dan Tab alat-alat
tulis baru di era digital.

Namun tulisan tangan bukan hanya masalah gaya menulis adalah


keterampilan yang kompleks yang mempengaruhi perkembangan
kognitif serta latihan visual, melibatkan motorik dan sirkuit memori.
Ketika menulis, kita membangun koordinasi tangan-mata dan melatih
keterampilan motorik halus.

Sebuah penelitian yang disebut haptics, dengan fokus pada koneksi


antara sentuhan, gerakan tangan dan fungsi otak, dilaporkan oleh Wall
Street Journal, menunjukkan bahwa tulisan tangan melibatkan sirkuit
otak yang berbeda yang mana tidak terjadi dalam kegiatan mengetik.
Dan coretan-coretan dan tekanan dari alat tulis sebenarnya mengirim
pesan ke otak, melatihnya dalam bentuk visual dan sensasi.

Studi tentang tulisan tangan, yang disebut grafologi, meng-klaim


dapat menyimpulkan ciri-ciri karakter, seperti kemalasan, kreativitas
atau kemampuan mengelola - hanya dengan melihat kata-kata yang
dituliskan.

Proses yang berulang-ulang dari menulis telah membangun jalur motorik


ke otak, menurut Katya Feder, seorang profesor di University of Ottawa
School of Rehabilitasi, bahwa semakin banyak anak-anak menulis,
semakin banyak koneksi yang mereka bangun, tetapi tulisan yang buruk
ternyata juga membangun jalur rusak.

Menurut studi pencitraan otak, menulis sambung (kursif) secara khusus


mengaktifkan bagian dari sistem saraf, yang mana (ternyata) tetap tenang
selama mengetik. Ini membantu anda menghubungkan berbagai hal,

HAL 4
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

Virginia Berninger, seorang profesor psikologi pendidikan di University of


Washington, mengatakan benar-benar terdapat beberapa keuntungan
dengan menulis kursif, kita menemukan perbedaan individual apakah
anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda untuk setiap jenis
tulisan. Tulisan tangan yang baik dapat mendorong nilai yang lebih
baik. Studi menunjukkan bahwa anak-anak pra-TK dengan keterampilan
motorik halus memperoleh nilai yang lebih tinggi di tahun berikutnya
dalam membaca dan matematika dibandingkan dengan tulisan tangan
yang buruk. Singkatnya, ada hubungan langsung antara kemampuan
menulis dan keberhasilan akademis.

Berkaitan dengan gagasan dan memori, tangan memiliki hubungan


khusus dengan otak. Ingat pepatah tuliskan sehingga anda tidak akan
melupakannya? Ternyata itu benar. Jika kita menulis catatan - dan
kemudian kehilangan - kita akan lebih mungkin untuk mengingat apa
yang kita tulis daripada jika kita baru saja berusaha untuk mengingatnya.
Hal itu terjadi karena tulisan tangan mengharuskan kita menorehkan
serangkaian garis untuk membentuk huruf. Sebaliknya dengan mengetik,
kita hanya menyentuh sebuah tombol!

Tulisan tangan juga memberikan manfaat nyata pada komunikasi.


Menurut Wall Street Journal, studi Berninger menemukan bahwa anak-
anak sekolah dasar mampu mengungkapkan lebih banyak ide ketika
menulis bukan mengetik. Tulisan akan mempengaruhi tidak hanya
pengembangan bagaimana kita berpikir, tapi seberapa dalam dan
seberapa ekspresif.

Di sisi lain, kritikus mengatakan menurunnya tulisan tangan yang baik


adalah kematian masa-masa romantisme. Menulis surat dengan tulisan
tangan rasanya lebih pribadi, karena melalui proses menyusun dan
menulis pikiran kemudian mengirimkan dalam bentuk surat melalui pos.
Surat-surat dan amplop beserta cap pos adalah harta abadi yang e-mail
tidak bisa menggantikannya.

Does good handwriting lead to good grades?


http://www.youtube.com/
watch?v=JmQkUaecpV0#t=38

HAL 5
Sapta Dwikardana

BAB 2

Mengapa Menulis Tangan Masih


Penting Pada Abad Digital?

Tidaklah mengherankan bahwa teknologi telah menjadi semakin


terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari kita dan kegiatan tradisional
menulis dengan pen telah agak dilupakan. Kemudahan pengolah kata
serta pengembangan aplikasi yang memungkinkan kita untuk melakukan
sinkronisasi catatan di berbagai perangkat telah menjadikan makna
menulis tangan nampak usang dan tidak populer lagi.

Meskipun demikian, kegiatan menulis dengan tangan tidak boleh


ditinggalkan karena masih memiliki lebih banyak manfaat. Dalam
banyak hal, menulis dengan tanganlebih memberikan ruang untuk
kreatifitas dibandingkan dengan menulis secara digital. Selain itu,
tulisan tanganmasih merupakan bentuk yang unik dari budaya kita dan
merupakan identitas yang tidak bisa kita korbankan.

Tulisan Tangan Memberikan Manfaat Bagi Pendidikan

Penting untuk diperhatikan bahwa tulisan tangan masih merupakan


bagian integral dari sistem pendidikan kita. Misalnya, fakta
menunjukan sebagian besar ujian-ujian yang dilaksanakan di
sekolah masih dalam bentuk tulisan tangan. Oleh karena itu, tulisan
tangan masih merupakan keterampilan yang sangat fungsional,
dan siswa dengan tulisan tangannyatidak terbaca atau buruk
dapat merugikan mereka sendiri dibandingkan dengan mereka
yang menulis dengan jelas terbaca. Hal ini berarti bahwa meskipun
pemanfaatan teknologi seperti iPads sudah dibawa ke dalam kelas,
fokus tetap harus diberikan pada kemampuan siswa untuk menulis
tanpa bantuan teknologi.

Tulisan Tangan Memiliki Berbagai Manfaat Kognitif

Meskipun telah banyak pendapat yang menyatakan bahwa kegiatan

HAL 6
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

mencatat dalam suatu rapat dengan mengetik memungkinkan kita


untuk lebih fokus pada apa yang kita bicarakan atau bahas, namun
penelitian telah menunjukkan bahwa menulis ulang catatan yang
dilaksanakan dengan tangan kita cenderung lebih mampu untuk
mengingatnya. Hal ini juga memungkinkan kita untuk mengevaluasi
kembali apa yang telah ditulis, bahkan kita dapat menambahkan
pikiran atas apa yang telah ditulis.

Tulisan Tangan Memiliki Banyak Manfaat Untuk Menulis Kreatif

Tindakan fisik menulis juga dapat memiliki manfaat lain, yaitu


menulis kreatif. Patrick McClean menulis sebuah artikel yang
indah di mana ia membela cintanya pada tulisan tangan ditengah-
tengah berbagai keuntungan nyata dari pemanfaatan teknologi.
McClean berpendapat bahwa menulis dengan tangan dan kertas
membantu untuk menyingkirkan kita dari gangguan dunia digital.
Dia mengatakan bahwa ketika mengetik bisa ada kecenderungan
untuk mengedit selama proses menulis daripada membiarkan ide-
ide kita mengalir. Hal ini dapat menjadi kontraproduktif untuk proses
kreatif. Dengan selembar kertas kosong kita cenderung hanya
menulis untuk mendapatkan ide-ide kita dituangkan di atas kertas
dan menunda proses editing sampai akhir penulisan.

Tulisan Tangan Memberikan Fleksibilitas

Di sisi lain, alat tulis dan kertas dapat memungkinkan kita untuk
berpikir lebih bebas ketika melakukan hal-hal seperti brainstorming.
Kita memiliki halaman kosong dan alat tulis tanpa dibatasi
kemana kita hendak menulis, sehingga memungkinkan kita untuk
menghubungkan hal-hal secara bersamaan, seperti memberi
lingkaran pada poin penting atau menambahkan catatan di sisi
manapun dari catatan kita. Banyak yang akan berpendapat bahwa
ini sekarang bisa dilakukan pada komputer, tetapi sekali lagi,
gangguan yang dimunculkan oleh komputer atau tablet sering
dapat mengganggu aliran kreatif kita.

Tulisan Tangan Merupakan Bagian Dari Budaya

Menulis dengan tangan merupakan bagian yang unik dan tak


tergantikan dari budaya kita. Hal ini berlaku tidak hanya untuk bahasa
tertulis yang terdiri dari karakter seperti Mandarin tetapi juga untuk
bahasa tertulis yang menggunakan huruf latin. Gaya tulisan tangan
yang unik dari seseorang tidak bisa ditiru dengan keyboard.

HAL 7
Sapta Dwikardana

BAB 3

Benarkah Tulisan Tangan Mampu


Mengungkap Kepribadian?

Grafologi

Grafologi adalah salah satu cabang dari beragam kelompok ilmu


membaca karakter. Manusia selalu tertarik dengan keragaman dan
keunikan individu. Dengan bantuan grafologi seseorang dapat berfokus
pada penafsiran karakter dan ciri kepribadian seseorang dengan
menganalisis tulisan tangannya. Kita bisa menggunakan grafologi untuk
menentukan profil kepribadian dan karakter lengkap dari setiap orang.

Ketertarikan pada analisis tulisan tangan dimulai 400 tahun yang lalu.
Orang yang bisa disebut Bapak Grafologi adalah Camillo Baldi, yang
melakukan pengamatan sistematis tentang tata cara tulisan tangan dan
telah menulis dalam 1622 esai grafologi pertama. Pada tahun 1897 Abb
Jean Michon Hipppolyte menciptakan istilah grafologi, istilah dengan
menggabungkan dua kata Yunani graphein (menulis) dan logos
(ilmu). Dia adalah pendiri The Society of Graphology dengan mandat
pertamanya melakukan kajian ilmiah tentang tulisan tangan. Muridnya
J. Crpieux-Jamin menempatkan karya-karya Michon menjadi tujuh
elemen dasar, yaitu: (1) kecepatan; (2) tekanan; (3) bentuk; (4) dimensi;
(5) kontinuitas; (6) arah; dan (7) ketertiban.

Brainwriting

Grafologi adalah ilmu yang mempelajari semua gerakan grafis. Selain


tulisan tangan, para analis tulisan tangan (graphologist) mempelajari
corat-coret atau doodles, gambar patung dan lukisan. Studi ini
memberikan wawasan tentang keadaan fisik mental dan emosional
penulis atau artisnya.

Meskipun para analis tulisan tangan (graphologist) dapat mempelajari


semua gerakan grafis, mereka kebanyakan berkonsentrasi pada tulisan

HAL 8
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

tangan. Dengan alasan, hampir semua orang menulis tetapi tidak semua
orang mengecat dengan kuas atau memahat.

Tulisan tangan sebenarnya unik. Apakah kita menulis dengan tangan


atau kaki atau mulut, itu semua sama. Tulisan kita semua akan terlihat
sama; karena tulisan tersebut adalah tulisan tangan kita. Tulisan tangan
tidak dilakukan dengan tangan atau kaki, tetapi oleh otak kita. Oleh
karena itu beberapa ahli menyebutkan bahwasanya tulisan tangan
sebagai menulis dengan tangan otak. Jadi kita meninggalkan sidik
otak kita di atas kertas. Apa yang kita tulis adalah sebuah foto instan
bagaimana kita berpikir, merasa, dan berperilaku. Dari tulisan tangan
dapat terungkap apakah itu ditulis oleh tangan atau mulut atau kakinya.

Ekspresi Perilaku

Fungsi fisiologis dan psikologis dapat terungkap dalam tulisan tangan


kita. Tindakan menulis merupakan tindakan spontan untuk tujuan
mengkomunikasikan ide-ide kita. Terdapat konsistensi tampilan (fitur)
pada tulisan tangan kita yang muncul secara berulang-ulang, yang dapat
ditemukan dengan pengukuran graphometric. Oleh karena itu, tulisan
adalah ekspresi dari perilaku dan yang mengkomunikasikan karakteristik
kepribadian kita. Menulis adalah kebiasaan yang dipelajari. Tampilan
dan nuansa tulisan adalah gaya kita menulis. Ketika kita menulis tangan,
jari-jari kita bergerak lebih cepat dari yang kita sadari. Sebaliknya dalam
kegiatan menggambar atau melukis, tangan dan jari berada di bawah
kendali kita. sebagian besar pengukuran menggunakan graphometric
menunjukkan hasil yang stabil dan konsisten. Tak seorang pun dapat
menduplikasi irama menuliskita.

Tes Proyektif

Tulisan tangan adalah semacam tes proyektif. Dalam tes proyektif


apa yang muncul dari bawah sadar diekspresikan ke dalam tindakan
sadar. Ketika menulis kita secara spontan membangun bagian-bagian
secara acak, misalnya coretan yang kemudian membentuk pola yang
dikenal sebagai huruf, dengan tujuan untuk mengkomunikasikan ide-
ide melalui kata-kata. Dengan demikian, kata-kata yang ditulis sebagai
kalimat merupakan kesatuan yang dipaksakan untuk menyampaikan
tujuan kreatif yaitu sebuah pesan.

Tulisan kita memiliki semua elemen yang diperlukan untuk tes


proyektif. Pertama, tulisan tangan memiliki elemen interpretatif yang
menghasilkan pola yang tidak memberikan arti (meaningless), karena
hanya menggambar coretan-coretan. Kedua, tulisan tangan memiliki
unsur konstruktif yang menempatkan bagian yang dikenali menjadi

HAL 9
Sapta Dwikardana

pola. Pada tingkat ini kita menulis huruf, menyusun tautan antar huruf,
dan membangun kata-kata. Ketiga, tulisan tangan memiliki unsur
katarsis yang memproyeksikan pelepasan emosi. Hal ini terjadi hanya
dalam menulis dengan tangan. Keempat tulisan tangan memiliki unsur
konstitutif (pembentukan) yang merupakan pemaksaan ke dalam
suatu pengelompokan dari sejumlah bahan yang acak dengan
mempertahankan struktur kalimat, mengisi spasi dengan huruf besar,
garis dasar, tanda baca, untuk memulai dan menyelesaikan baris.
Akhirnya tulisan tangan memiliki unsur kreatif yang menghasilkan pesan
yang koheren sebagai tujuan darimenulis itu sendiri.

Pikiran Sadar dan Bawah Sadar

Ketika kita berbicara kata-kata mengalir; juga ketika kita mengambil pena
atau pensil untuk menulis, kata-kata mengalir. Tulisan kita berada dalam
memori dan dengan demikian menjadi dapat hafal secara otomatis.
Dalam hal ini terjadinya secara tidak sadar.

Apa yang secara sadar dipelajari berulang-ulang akan menjadi kebiasaan


dari bawah sadar. Kita menulis tanpa berpikir tentang proses eksekusinya.
Ini adalah kebiasaan yang dipelajari yang diekspresikandalam tulisan
kita. Apa pun yang secara sadar dilatih dalam jangka waktu yang
panjang dapat menjadi otomatis dan kita tidak melakukan tindakan-
tindakan sadar seperti yang kita lakukan sebelumnya.

Sebagai contoh, mengetik. Awalnya Kita belajar setiap huruf secara


terpisah dan mengetahui secara sadar dari setiap huruf yang Kita
ketik. Tapi begitu telah cukup belajar dan berlatih maka ketika mengetik
sesuatu, kita tidak menyadari setiap huruf tetapi secara otomatis
mengetik huruf dengan benar. Dengan demikian tindakan mengetik
yang kita lakukan sekarang merupakan kegiatan yang secara sadar
diarahkan. Inilah yang terjadi pada tulisan kita juga. jadi, paling sering
kita menulis secara otomatis kecuali tentu saja ketika kita ingin secara
sadar menulis sesuatu.

Kita juga dapat menulis secara sadar. Apakah kita pernah mencoba
gaya yang berbeda dalam menempatkan tanda tangan kita? Apakah
kita tidak ingin meniru tulisan orang lain? Jadi, pada saat kita menulis
dengan huruf cetak agar mudah terbaca, Ini adalah menulis sadar.

Traits Tetap dan Tidak Tetap

Melihat tulisan tangan dari sudut pandang yang berbeda, kita dapat
menganalisis tanda-tanda yang bersifat tetap dan yang bersifat tidak
tetap. Sebagai contoh, IQ kita bersifat tetap, juga bakat kita, temperamen

HAL 10
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

dan identitas semua bersifat tetap, apakah kita pernah menyadari bahwa
tulisan tangan kita memiliki identitas? Sekarang, bayangkan apabila di
dalam sebuah kelas, para peserta, misalnya 100 orang, diminta untuk
menulis sebuah paragraf, tapi jangan menandatanganinya atau menaruh
nama, dan kemudian dikumpulkan dan dicampur-adukansecara acak.
Kemudian kita minta mereka untuk mengambil kertas masing-masing,
dan apa yang akan terjadi? Masing-masing dari dari mereka akan
mengambil tanpa kesulitan apapun. Ini bisa kita lakukan hanya karena
kita mampu mengidentifikasi tulisan tangan.

Atau misalnya ketika anda sedang membongkar-bongkar kembali


dokumen lama dan mencari tulisan tangan lama yang ditulis bertahun-
tahun lalu, mungkin ditulis ketika kita masih muda, kita akan mengenali
tulisan tangan sendiri, terlepas dari perubahan tulisan tangan kita yang
telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Apa yang kita tulis
ketika muda dan apa yang kita tulis sekarang sebagai orang dewasa
atau orang tua ternyata memiliki identitas yang sama, meskipun mungkin
tulisan tangan sudah tidak sama.

Terdapat sejumlah tanda-tanda pada tulisan tangan yang sifatnya tidak


tetap.Tanda-tanda tersebut terus berubah tergantung pada kondisi,
kemampuan, sikap, suasana hati, keyakinan, tingkat motivasi dan kondisi
fisik. Kita bisa secara fisik sakit pada suatu hari dan sehat pada hari lain.
Kita memiliki obat dalam sistem tubuh kita saat ini dan besok sudah
tidak ada lagi. Hari ini kita marah dan berteriak-teriak pada seseorang
namun besok kita saja menjadi pasif.

Analisis tulisan tangan harus dilakukan pada tulisan-tulisan yang


dibuat untuk dibaca oleh orang lain. Tulisan tangan seharusnya ditulis
dalam kondisi menulis normal. Interpretasinya hanya berlaku untuk
tulisan tangan orang dewasa, karena anak-anak baru belajar menulis
dimana kondisi syaraf-nya baru berkembang. Oleh karena itu, kita tidak
menganalisis tulisan tangan anak-anak.

STRUKTUR GRAFIS

Grafologi didasarkan pada teori bahwa struktur grafis mengungkapkan


perilaku kepribadian atau sifat tertentu. Ada tiga elemen grafis utama
darimana kita memiliki struktur grafis. Ketiga elemen grafis utama
tersebut adalah: (1) baseline, (2) selungkup, dan (3) stroke.

1. Garis Dasar (Baseline)

Baseline adalah garis imajiner yang bergerak dari kiri ke

HAL 11
Sapta Dwikardana

kanan pada jajaran yang sama. Pada garis imajiner ini huruf-
huruf terletak dan terbagi ke daerah atas dan bawah, sambil
bergerak maju ke kanan, garis dasar memberikan ruang vertikal
yang akan mengarahkan gerakan. Ini merupakan representasi
kenyataan, batas dari kesadaran, landasan bagi gerakan
hidup, sikap terhadap pengalaman dan kegiatan dalam
kehidupan.

Para analis tulisan tangan (graphologist) percaya bahwa


setiap penempatan vertikal di atas dan di bawah garis dasar
merupakan pembagian antara dua realitas, seperti nilai-nilai
yang tidak berwujud dan nilai-nilai yang nyata, konsep-konsep
abstrak dan konkret, ide-ide filosofis dan fisik, serta keyakinan
pribadi dan hubungan pribadi.

Setiap gerakan horizontal sepanjang garis dasar merupakan


reaksi kita terhadap pengalaman, nilai-nilai hidup, tuntutan,
dan kemauan belajar. Gerakan ke kanan adalah untuk
memajukan, mengembangkan, dan kemajuan, sebaliknya
gerakan ke kiri adalah untuk kembali, mengerut, dan mundur.

2. Selungkup

Elemen grafis utama kedua adalah selungkup. Sebuah selungkup


terbentuk ketika sebuah garis atau sejumlah garis berbatasan
suatu daerah. Sebuah selungkup mengungkapkan imajinasi
kita, termasuk perluasan konsep-konsep serta ide/gagasan.
Ada tiga bentuk dasar yang dikenal selungkup, yaitu: loop,
lingkaran, dan batang.

Bila kita memperhatikan Loop, ada loop vertikal atas dan


bawah. Huruf e dan l adalah contoh dari lingkaran atas. Ini
adalah selungkup yang dibentuk dengan memulai gerakan ke
depan dan ke atas, bergerak mundur, dan kembali ke depan
dan ke bawah dengan goresan yang melintas garis dasar.

Demikian juga loop daerah bawah, semakin rendah bagian


kedua dari huruf g dan y sebagai contoh, keduanya dibentuk
oleh garis yang menutupi suatu daerah dengan memulainya ke
depan dan ke bawah, bergerak mundur, dan kembali ke depan
tambah ke atas dengan goresan melintas garis dasar.

Ada lingkaran atas dan lingkaran bawah. Huruf o tambah a


adalah contoh dari lingkaran atas, keduanya dibentuk oleh
garis atau garis-garis yang menutupi suatu daerah dengan
memulai tarikannya dari belakang ke bawah, bergerak maju,

HAL 12
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

dan kembali ke belakang dan ke atas, yang akhirnya bertemu


atau menyentuh di bagian atas. Sebagai contoh untuk lingkaran
bawah adalah bagian kedua yang lebih rendah dari huruf f
dan huruf q. Jadi, bila pada tulisan kita memiliki selungkup
yang sebanding, berarti kita memiliki keseimbangan kiri-kanan
secara simetris.

3. Stroke (goresan/coretan)

Elemen grafis utama ketiga adalah stroke atau goresan.


Secara praktis, stroke mengacu pada tekanan. Hal ini
didefinisikan dengan seberapa besar kekuatan tekanan
pada suatu permukaan tulisan yang dilakukan dengan alat
tulis. Hal ini tidak mengacu kepada tekanan dari pegangan
tangan. Persisnya, seberapa kuat kita menekan di atas kertas.
Ini mewakili kapasitas kita untuk kegiatan yang penuh
semangat, vitalitas intelektual, energi fisik, gairah seksual,
dan intensitas emosional.

Ketebalan stroke akan menunjukkan kemampuan sensorik


kita. Kelurusan stroke berarti pendekatan yang tegas. Arah
stroke dipahami sebagai naik ke arah atas, menurun ke arah
bawah, ke depan ke arah kanan dan mundur ke arah kiri. Ini
yang dimengerti sebagai kemiringan.

Graphometry

Salah satu cabang dari grafologi adalah grafologi psychometrical


atau graphometry, yatiu suatu teknik mengambil kesan psikis
tentang seseorang dari spesimen tulisan tangannya. Perkembangan
penggunaan grafologi telah meluas untuk memahami masalah
kesehatan, moralitas, pengalaman masa lalu, bakat tersembunyi,
maupun masalah mental.

HAL 13
Sapta Dwikardana

BAB 4

Pendekatan Gestalt Dalam Grafologi

Kesulitan awam ketika mempelajari grafologi, bahkan juga bagi


sebagianmereka yang pernah belajar, terletakpada banyaknya traits
(karakter) yangharus diinterpretasikan sehinggameyurutkan minat
untuk memanfaatkanatau mendalaminya.

Untuk mengetahui sesuatu yang ada di balik tulisan tangan, Anda tidak
perlu memperhatikan detail dari setiap huruf dan tanda baca yang ada.
Anda cukup melihat gambaran besar dari tulisan. Hal ini disebut gestalt
grafologi, yaitu melihat secara umum apa yang tersirat, kemudian
mencari dukungan dari berbagai tanda-tanda kecil.

Kesimpulan yang bisa diambil dari pengalaman sebagai graphologist


selama ini adalah bukan tanda- tanda kecil yang membentuk pengertian
umum, tetapi pengertian umum membutuhkan dukungan dari tanda-
tanda kecil untuk memberikan arti yang sesungguhnya terhadap
intepretasi tulisan tangan.
Seperti halnya seseorang yang sedang bernyanyi, sangat mungkin orang
tersebut tidak memahami cara membaca not, tetapi dia mengetahui
nada dasar, irama, dan jenis lagu sehingga bisa menyanyikan sebuah
lagu dengan jauh lebih indah dibandingkan mereka yang secara terbata-
bata berusaha membaca not demi not, mengikuti tanda-tanda yang
spesial, tetapi tidak mengetahui konstruksi dan irama lagu secara utuh.

Psikologi Gestalt adalah pendekatan psikologi yang meyakini


cara pandang yang holistik, dimana semua aspek dalam analisis
grafologi harus dipertimbangkan.
Cara pandang yang holistik dapat dijelaskan bukan sebagai
pendekatan yang mengurai sampel/spesimen tulisan menjadi
bagian-bagian kecil, dikenal sebagai atomistic, yang tidak
merefleksikan dengan baik keseluruhan analisis. Asumsinya
Ketika semua bagian perlu dianalisis maka seorang graphologist
perlu melihat hubungan antar keseluruhan tanda-tanda yang
muncul.

HAL 14
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

BAB 5

Bagaimana Cara Menganalisis Tulisan


Tangan?

Mulailah dengan memahami apa yang akan kita cari dari sebuah
spesimen/sampel tulisan tangan. Pertanyaan mendasar yang perlu
dicari jawabannya dalam analisis Gestalt: (1) kesan umum, apakah
tulisan well-organised tanpa gangguan pada keseluruhan? (2) Kualitas
bentuk, apakah tulisan terlihat well-balanced dan harmonis? Terutama
pada garis dasar, bentuk huruf, ornamen, kecepatan, dan dapat dibaca
(eligibilitas); (3) irama, apakah tulisan memiliki keseimbangan antar-
zona, spasi, kedalaman yang baik?

Berbagai cara untuk menganalisis tulisan tangan. Pada situasi yang


ideal, kita membutuhkan tulisan tangan pada selembar kertas (atau
lebih) yang disertai tandatangan. Sebaiknya semua dokumen dari
sampel tulisan tangan yang asli harus terlindungi, simpan di dalam
sampul plastik, dan buat beberapa copy dari aslinya.

Selanjutnya, lakukan pengukuran dengan menggunakan copy tersebut.


Alat-alat bantu yang dipergunakan termasuk kaca pembesar, busur
derajat, penggaris, buku catatan, pensil atau ballpen berwarna, serta
pencahayaan yang memadai.

Ada baiknya mengetahui usia dan jenis kelamin dari penulisnya, karena
secara umum sangat sulit untuk menduga usia dan jenis kelamin
dari sampel tulisan tangannya. Memang benar tulisan tangan dapat
merefleksikan ciri-ciri khusus dari penulisnya, seperti sifat maskulinitas
atau femininitas serta faktor-faktor estetika yang dapat muncul dikedua
jenis kelamin tersebut. Analis tulisan tangan dapat saja membuat dugaan
yang meyakinkan tentang usia atau jenis kelamin, namun grafologi
sebagai suatu disiplin, sangat tidak dianjurkan.

Lihat sampel tulisan secara menyeluruh, putar balik kertasnya, dekatkan


dengan mata anda, dan periksa garis dasarnya. Perhatikan dengan

HAL 15
Sapta Dwikardana

seksama beberapa saat, kemudian bandingkan dengan beberapa


tulisan lainnya, terutama pada tulisan yang nampak mirip. Temukan apa
yang membedakannya. Setiap orang pasti unik, karenanya tidak boleh
menilai terlalu dini setiap sampel.

Setiap sampel tulisan tangan mewakili suatu kehidupan yang kompleks.


Lihat huruf besar dan coretan pada awal kata, kemudian bandingkan
dengan tulisan di bagian akhirnya. Apakah tulisan tersebut nampak
spontan atau mengalami hambatan? Cepat atau lambat? Tersambung
atau terpisah? Apa kesan pertama anda? Catat semuanya. Pada zona
mana dominasi dari tulisan tersebut? Bagaimana tekanan dan dorongan
serta kesan keseluruhan dari tulisan tersebut? Buat catatan semua
karakter (trait) yang dominan, simbol, bentuk-bentuk yang tidak umum
maupun yang umum, serta peletakannya pada kertas. Perhatikan apakah
terdapat kontradiksi, baik dari karakter maupun tanda-tanda lainnya?
Apakah tandantangan cocok dengan tulisan tangannya? Gunakan tusuk
gigi untuk mengikuti cara menulis sample tersebut (to trace), seolah-
olah anda yang menulisnya. Dapatkah dirasakan bagaimana penulisnya
menggerakan alat tulisnya.

Kesulitan yang paling mendasar adalah bagaimana menghubungkan


bagian-bagian yang terpisahkan tersebut, yaitu trait dan tanda-tanda
lainnya, menjadi sebuah kesatuan. Tidak ada satu tanda, simbol atau
sebuah coretan yang dapat dipergunakan sebagai informasi awal
dari sebuah karakter tertentu. Coba cari sejumlah tanda, simbol atau
coretan lainnya yang dapat mendukung tanda tersebut. Lihat setiap
tanda atau simbol secara multi-dimensi. Sebagai contoh, ketika coretan
pada huruf t (t-bar) tidak memotong garis, secara sederhana oleh
buku-buku grafologi, tanda itu diberi arti suka menunda. Perhatikan
sekali lagi dengan baik, bila tanda itu merupakan pola yang konsisten,
mulai dengan yang anda kenali, apa yang tidak bisa disanggah, yaitu
karakteristik fisik yang objektif. Pada kasus ini, gerakan lateral dari
t-bar tidak memotong garis vertikal.

Maka cara terbaik memulai sebuah analisis adalah dengan cara yang
sederhana yaitu menggambarkan coretan, tanda atau simbol yang
dikenali tanpa memberi arti terlebih dahulu. Bila titik pada huruf i
letaknya tinggi, maka tuliskan bahwa titik pada huruf i letaknya tinggi.
Bila hanya huruf kapital B berbentuk huruf cetak, sedangkan yang
lainnya berbentuk kursif (cursive), nyatakan apa adanya. Jadi, pada
tahap pertama analisis, kita hanya mencatatkan apa yang ditemukan.

HAL 16
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

Kriteria Utama

GRAFIS DEFINISI KETERANGAN

Arrangement Kemampuan Margin, zona, estetika


mengelola
Pattern Pemikiran abstrak Penggunaan simbol atau
grafik yang khusus secara
berulang
Form Kecenderungan Mempunyai selera,
bawaan atau originalitas
budaya
Slant Emosi Hubungan dengan orang
lain, kiri, tegak lurus, kanan,
atau ekstrim kanan
Axes Diri sendiri atau Penekanan pada vertikal
objek atau horisontal atau
keduanya
Speed Orientasi ke waktu Irama dari aktifitas fisik dan
mental
Rhythm Spontanitas Dinamis, statis atau tegang,
harmonis atau disharmonis
Size Opini pada diri Kesombongan,
sendiri pragmatisme, keseriusan
pada tujuan
Continuity Koherensi pemikiran Sosiabilitas, tersambung
atau tidak tersambung
Baseline Suasana hati, Disiplin dan kurang disiplin,
kontrol optimisme dan pesimisme
Pressure Vitalitas, dorongan, Berat, ringan, konsisten
selera atau tidak inkonsisten
Trend Orientasi ke masa Miring ke kiri atau ke kanan
depan dan masa
lalu

Kemudian Tentukan:

Dominants : karakterisitk fisik yang dominan, penekanan zona


Counter dominants : kontradiksi, tanda-tanda yang menimbulkan teka-
teki
Symbolic aspects : pola gerakan yang paling disukai atau simbol
abstrak yang berulang

HAL 17
Sapta Dwikardana

Coretan Tersambung

Pada buku Diagram of the Unconscious, Werner Wolff menjelaskan


sebuah eksperimen yang melibatkan berbagai jenis coretan tersambung
serta makna apa yang diwakilkannya.

Tiga puluh siswa diminta untuk menggambarkan perasaan mereka ketika


menulis dengan bentuk-bentuk huruf seperti benang ditarik (thready),
garis bergelombang. Tujuh puluh lima persen mengatakan perasaan
mereka senang, bebas, seenaknya, relaks, sedangkan dua puluh
lima persen lainnya mengatakan disagreeable, canggung, ceroboh.
Perasaan saat menulis pola huruf yang tajam (angle), 85 persen
mengatakan kasar, tajam, agresif, dan 15 persen menyatakan
kuat dan menguasai. Ketika diminta menulis dengan pola arcade,
55 persen mengatakan sistematis, akurat, terkoordinasi:. Perasaan
ketika menulis dengan pola garland, 50 persen menyatakan serasa
gay, alamiah, simpel, menikmati, sebaliknya 50 persen lainnya
merasakan sulit, tenggelam, mencipta, tidak menyenangkan.

Arcade m dan n menyerupai lengkungan, menunjukan


kecenderungan untuk pertahanan dan self-
preservation
Angle Kurangnya kompromi, agresif, tajam, dan tegas
Garland M seperti w dan n seperti u. Keterbukaan dan mudah
bergerak
Thread Seperti benang ditarik, menunjukan kemampuan
diplomatis, terkadang kesulitan untuk diajak berpikir
dalam keadaan tergesa-gesa

Perlu diingat bahwasanya setiap tanda yang khusus pasti memiliki sisi
positif dan negatif. Misalnya, penulis yang cepat bisa merupakan orang
yang berpikir cepat, tetapi dia juga bisa sembrono. Tanda-tanda kehati-
hatian mungkin merupakan indikasi pemikir yang tenang namun bisa juga
diberi arti adanya hambatan dalam berpikir. Tulis semua kemungkinan
dari setiap tanda, dan pisahkan ke dalam daftar sampai lebih banyak
informasi terkumpul. Metoda ini dapat terus dilakukan dengan cara
secara terus menerus menghubungkan bagian-bagian yang terpisah-
pisah ke dalam sebuah gambaran yang menyeluruh.

Pertanyaannya kemudian, kapan karakter dominants yang sesungguhnya


muncul? dan bagaimana ciri-ciri tersebut dapat mewarnai yang lainnya?
Mari gunakan sebuah analogi, merebus daging. Apabila terlalu banyak
garam, bagaimana efeknya pada wortel, seledri, daging, atau tomat?

HAL 18
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

Apakah merica pada sup-nya dapat mengimbangi rasa asinnya garam?

Interpretasi

Untuk interpretasi tulisan tangan, kita akan menerapkan prinsip-prinsip


yang digunakan dalam menganalisa bahasa tubuh (gerakan) dari ilmu
Kinesics. Kinesics adalah ilmu yang menafsirkan bahasa tubuh.

Untuk menilai gerakan pertama, kita harus mencari sekelompok gerakan


yang mendukung gerakan tunggal. Misalnya, jika seseorang merasa
tertarik dan kemudian tertarik pada yang lain, maka mungkin ada
gerakan bersolek, senyum ringan, dan eksposur dari bagian-bagian
tertentu dari tubuh. Ini semua adalah kelompok yang mengkonfirmasi
gerakan tunggal.

Kedua, kita harus melihat konteks. Hal ini untuk memeriksa apakah
gerakan itu cocok dengan konteks. Misalnya, jika kita mencoba sikap
untuk menjadi seorang yang marah, maka harus ada situasi yang
mendukung bagaimana biasanya seseorang akan marah, misalnya
konteks adanya perdebatan atau pertengkaran.

Ketiga, kita harus tahu apa artinya gerakan yang ada dalam suatu
budaya. Apa yang dipahami sebagai hal tertentu dalam satu budaya,
bisa berarti hal lain dalam budaya lain.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk analisis tulisan tangan. Pertama,
kita harus memiliki banyak sampel yang ditulis selama periode waktu
dan pada situasi yang berbeda. Dengan membatasi analisis hanya
melalui sebuah tulisan tangan atau tanda tangan saja, hal itu dapat
menyesatkan, dan karenanya yang dapat kita katakan atas hasil analisis
tersebut adalah bahwa orang tersebut sedang mengalami perasaan ini
dan itu saat dia menulisnya.

Apakah ada arti dari kelompok tanda-tanda (kluster) dalam konteks


grafologi? Kluster berarti mengambil tidak hanya dari satu sampel
untuk dianalisis tetapi banyak sampel. Tulisan tangan umumnya harus
menunjukkan beberapa ciri yang memiliki arti yang sama. Sebagai
contoh, berbohong. Seharusnya ciri-ciri yang ditampilkan ditandai
dengan adanya ruang yang panjang, perubahan mendadak dalam
kemiringan dan sejenisnya.

Kedua, kita harus mempertimbangkan konteks. Apa yang akan


menjadi konteks disini? Kita harus melihat dalam keadaan apa ditulis.
Misalnya tekanan yang berat yang ditulis pada saat kita pensiun atau
setelah berkelahi dengan pasangan kita. Hal ini menegaskan konteks
saat marah. Atau ketika kita menuliskan nama kita pada daftar orang-

HAL 19
Sapta Dwikardana

orang yang akan pergi untuk piknik. Disini penulisannya tidak untuk
menyembunyikan diri sendiri tetapi untuk mengungkapkan diri kita
sendiri; pasti kita ingin tulisan dapat dibaca dengan jelas.

Ketiga, bagaimana budayanya? Misalnya, budaya tertentu memiliki


cara penulisan kata ganti orang I dalam bahasa Inggris tidak sama
seperti pada budaya lain. Dalam beberapa budaya, I selalu ditulis
secara vertikal meskipun penulisnya memiliki kemiringan tulisan ke
kanan. Seorang penulis dengan kemiringan ke kanan tidak boleh dinilai
sebagai penulis vertikal hanya karena melihat cara menuliskan kata
ganti orangnya ditulis I .

Tulisan tangan adalah potret yang instan. Ini adalah potret diri kita. Tulisan
tangan adalah potret yang diambil dari seseorang dalam suasana hati
dan situasi yang berbeda. Hal ini persis seperti mengamati bahasa tubuh
seseorang. Bahasa tubuh mungkin terlihat sekilas, tetapi tulisan tangan
dibuat permanen. Dengan menggabungkan grafologi dan kinesics, kita
akan mempunyai banyak informasi tentang seseorang bahkan sebelum
mereka pernah mengucapkan sepatah kata-pun. Untuk menganalisis
tulisan tangan kita perlu mengetahui sistem tulisan yang diajarkan,
disebut copybook, untuk mengetahui sejauh mana ia menyimpang.
Dalam pelatihan gestalt graphology, sebagian besar interpretasi
hanya berlaku untuk metode penulisan Palmer atau variasinya. Namun,
interpretasi grafologi berdasarkan konsep-konsep universal yang
berlaku untuk setiap bahasa yang ditulis dari kiri ke kanan.

Penarikan Kesimpulan (Inferensi)

Inferensi adalah tindakan atau proses penarikan kesimpulan atau


pembentukan pendapat. Kita dapat mengidentifikasi lima kesimpulan
grafologi. yaitu: (1) fisiologis; (2) common sense (masuk akal); (3) konsep
universal; (4) psikologis, dan (5) Ilmiah.

1. Fisiologis

Ketika kita memunculkan identitas seseorang, apakah orang


itu sakit atau tidak, dan apakah seseorang berada di bawah
pengaruh obat-obatan atau alkohol, ini semua kesimpulan fisik.
Cara mudah untuk mengetahui apakah penulisnya secara fisik
atau psikologis terkena dampak, kita cukup melihat seluruh teks
tulisan. Jika seluruh tulisan tidak normal dan keluar dari norma
serta memberi kesan adanya guncangan, maka dapat diartikan
tubuhnya telah terpengaruh secara fisik. Jika hanya kata,

HAL 20
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

frase atau kalimat tertentu yang terkena dampak dan sangat


berbeda dari seluruh tulisan, maka alasan dibalik hal tersebut
adalah bahwa penulisnya secara psikologis terpengaruh.
Perubahannya bisa dalam kemiringan, ukuran, margin, garis
dasar bentuk, atau jarak.

2. Akal Sehat (common sense)

Ketika kita akan memunculkan apakah seseorang terpelajar,


atau merasa lebih rapi, atau bahkan bangga dengan dirinya,
kita dapat membuat kesimpulan menggunakan akal sehat
yang sederhana. Seorang penulis yang kurang terpelajar maka
tulisannya lebih lambat, bentuk hurufnya canggung, mungkin
tidak ada tanda baca yang tepat, huruf kapital diletakkan bukan
pada tempat seharusnya, dan banyaknya kesalahan ejaan.
Seorang penulis yang rapi tulisannya, akan memiliki tata letak
yang baik, mungkin tidak ada banyak koreksi. Seorang penulis
yang bangga akan dirinya akan dengan bangga menuliskan
namanya cukup besar. Sebaliknya orang yang tidak suka
pada dirinya, akan menulis sangat kecil dan bahkan mungkin
mencoretnya.

3. Konsep Universal

Ketika kita akan mengungkap apakah seseorang perasaannya


sedang naik atau turun, atau menahan perasaan, terorganisir,
berpikiran sempit, dan ramah, maka dapat digunakan konsep-
konsep universal. Ketika seseorang bersandar di tulisan yang
miring ke kiri, penulis menahan sesuatu dari orang lain. Jika
seseorang menulis sedemikian rupa sehingga dia hampir
merobek kertas, maka dia adalah orang yang dominan dalam
pekerjaanya. Jika seseorang memiliki tata letak yang baik, maka
orang tersebut cukup terorganisir. Ketika seseorang menulis
dengan cara yang sangat tajam, maka dia dapat dikategorikan
berpikiran sempit. Seseorang dengan tulisan tangan kursif dan
garland, dengan huruf-huruf yang biasanya besar, miring ke
kanan dan huruf e pada akhir kata diperpanjang, maka itu
adalah indikasi orang yang ramah.

4. Psikologis

Ketika kita akan mengungkap siapa yang menyukai siapa dari


sejumlah orang yang ada dalam sebuah daftar nama, atau
siapa orang yang berkata secara jujur, kita dapat membuat
kesimpulan psikologis. Misalnya kita membuat daftar orang-
orang yang bekerja di bawah kita, maka jika salah satu nama

HAL 21
Sapta Dwikardana

yang tertulis sedikit lebih besar dari nama-nama lain atau jika
salah satu nama yang tertulis sedikit lebih kecil dari nama-nama
lainnya, ini adalah indikasi dari keinginan kita, atau bahkan
indikasi tidak menyukai orang-orang tersebut. Ini adalah
kesimpulan psikologis.

HAL 22
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

BAB 6

Konklusi

Menulis dengan tangan masih merupakan kegiatan yang sangat


penting di dalam kehidupan manusia. Kontribusinya masih sangat
besar, terutama di dalam pembentukan karakter dan keperibadian,
meningkatkan kreatifitas maupun pelebaran kognitif seseorang, dan
tidak kalah pentingnya dalam melestarikan budaya suatu bangsa.

Dengan bantuan grafologi, kita telah mempelajari beberapa ciri-ciri


utama dari tulisan tangan. Adalah baik untuk mengetahui bahwa ada
sejumlah ciri-ciri dan sejumlah kombinasi sifat yang bisa dipelajari.
Tulisan ini baru merupakan awal. Pelatihan Gestalt Graphology akan
memberikan pengetahuan yang cukup untuk membuat anda mampu
mandiri dan belajar lebih banyak tentang kekuatan grafologi.

Setiap spesimen atau sampel tulisan menggambarkan kepribadian


dan secara terbatas memprediksi perilaku seseorang. Modifikasi
kepribadian dengan menyarankan bahwa ciri-ciri perilaku tertentu dapat
dicapai dengan cara menulis yang dikontrol yaitu dengan tindakan
berulang-ulang, dikenal sebagai grapho-therapy. Biasanya apa yang
disarankan untuk perubahan perilaku adalah untuk berlatih pola tertulis
tertentu selama dua puluh menit setiap hari selama tiga puluh hari.
Tulisan tangan dapat tergantung atas pengaruh obat, penyakit, situasi
kecemasan, menstruasi, terapi kejut listrik, pengalaman traumatis,
kedewasaan, hipnosis, dan kelelahan. Pengaruh-pengaruh tersebut
bahkan memodifikasi kepribadian. Sebagai peringatan, jangan mencoba
pada anak-anak yang kondisi syaraf-nya sedang berkembang dan juga
pada remaja yang tulisan tangannya cenderung tidak konsisten dari
waktu ke waktu.

Ada orang yang berpikir bahwa tidak ada tes kepribadian yang memadai,
akurat, atau yang validitasnya tidak terbukti secara ilmiah dalam
memprediksi perilaku atau tindakan manusia, terutama untuk sifat-sifat
kompleks ketidakjujuran dan integritas. Intepretasi traits dalam grafologi
memang tidak bisa dengan kepastian 100% memprediksi. Perilaku

HAL 23
Sapta Dwikardana

ditentukan oleh kombinasi sifat, indikator grafis, dan situasi tertentu.


Jadi situasi tertentu dapat mengubah respon. Penilaian kepribadian
adalah tidak sama dengan perhitungan matematika seperti dua tambah
dua adalah empat. Penilaian hanyalah suatu indikator mengenai
kecenderungan. Adalah penting untuk menanamkan kenyataan ini dalam
pikiran kita, sehingga kita dapat memanfaatkan grafologi, sebagai salah
satu disiplin membaca karakter, secara bijak.

HAL 24
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

DAFTAR PUSTAKA

Irene Marcuse, Guide to Personality Through Your Handwriting. New


York: ARC Books, Inc., 1971, pp. 11-16;

G. Thurman Lowe, Handwriting Analysis at-a-glance. Baltimore: I. & M.


Ottenheimer, 1954,

Andrea McNichol, Handwriting Analysis-Putting it to Work for You.


Bangalore: Jaico Publishing House, 1992

Jess E. Dines, Handwriting Analysis Made Easy. New Delhi: Sterling


Publishers Pvt. Ltd., 1994,

Dwikardana, Sapta, Practical Handbook of Graphology, Pedoman


Praktis Membaca Karakter Melalui Tulisan Tangan, PT. Kanisius,
2014

Lowe, Sheila., The Complete Idiots Guide to Handwriting Analysis, 2nd


Edition, Penguin, 2007

Klein, Felix., Gestalt Graphology: Exploring the Mystery and Complexity


of Human Nature Through Handwriting Analysis, iUniverse Inc, 2007

HAL 25
Sapta Dwikardana

Tentang Penulis

SAPTA DWIKARDANA, Ph.D

Sapta Dwikardana has over


20 years teaching experience
in various subjects, mainly
related to Human Resource,
Applied Psychology, Industrial
Relations, Business Strategy,
Development Studies, Global
Issues, Political Economy
of Development, Method of
Social Research.

For his skilled knowledge


in handwriting analysis and
forensic document examiner, he has become the first to introduce the
science of graphology in Indonesia. Sapta has completed a number
of forensic cases, especially through scientific signature verification
approach. In addition, Sapta has more than 10 years as a consultant and
adviser for human resource and industrial relations, including providing
behavioral assessment services using graphology for various public
and private companies.

For his skilled knowledge in public policy and management, he has


become team leader of various government, international donor and
private sector-funded projects, particularly for civil service reform,
capacity building and decentralization (e.g. World Bank, UNDP, Asian
Development Bank)
For his expertise in Human Capital Management, he has worked, as an
adviser or consultant, in industries and companies such as mining (e.g.
INCO, Merdeka Mineral), oil & gas (e.g. Radiant Utama, Satoro Energy),
banking & finance (e.g Bank Artha Graha, BCA, BNI), and many other.
He also has a parallel career in training various subjects related to
public and business policy, e.g. Industrial Relations and Employment
Relations, Project Feasibility Study, Project Management, Technical
Report Writing, Compensation System, Supervising Management,
Financial Management for Non-Finance Manager, Costumer Relationship
Management (CRM), Building High Performance Project Team, Social
Impact Assessment (SIA), Qualitative Research Method and Analysis,
Creative Learning, Entrepreneurship, Mind Management, Behavior

HAL 26
Grafologi dan Kematian Tulisan Tangan

Profiling, Graphology (Handwriting Analysis), Energy Psychology and


Hypnotherapy.

Education

Doctor of Philosophy (Ph.D), Sociology of Work and Organization,


Department of Social Sciences, Katholieke Universiteit Leuven,
Belgium
Magister (MA), Social Sciences: Administrative Science, University
of Indonesia
Undergraduate (drs), International Relations, Padjadjaran University

Advanced Training

Diploma as Certified Trainer and Master Handwriting Analyst (CMHA),


Advanced Studies in Contemporary Graphology of Dr. Erika Kahros,
Pebble Beach California, USA.
Diploma as Master Hypnotist (MHt), National Guild of Hypnotists, USA
Diploma as a Certified Hypnotherapist(CH) and a 7th Path Self Hypnosis
Certified Instructor, The Banyan Hypnosis Center, Minnesota-USA,
Certified Behavioral Analyst (CBA), The Institute for Motivational Living,
Inc. New Castle Pennsylvania, USA.

Publication/Books:
Sapta Dwikardana, Practical Handbook of Graphology: Pedoman Praktis Membaca
Karakter Melalui Tulisan Tangan, Penerbit Kanisius, 2014
Sapta Dwikardana, Grafologi Forensik, Penerbit Kanisius (to be published)
Sapta Dwikardana, Suharyani, et.al. Sistem dan Praktik Manajemen Pemda,
Mendukung Peningkatan Pelayanan Publik, Survey pada Pemkot Parepare,
Mataram dan Pemkab Sambas, Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan
Timur Indonesia, 2004
Sapta Dwikardana, Kedi Suradisastra, et.al. Reformasi Kebijakan Pelayanan Publik
dan Investasi di Kawasan Timur Indonesia: Suatu Saran Cetak Biru, Kementerian
Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, 2004
Sapta Dwikardana, The Political Economy of Development and Industrial Relations in
Indonesia Under Soeharto, KUL, Belgium 2001
Sapta Dwikardana, Efektivitas Pelaksanaan Sistem Hubungan Industrial Di Indonesia:
Studi Kasus PT Unilever Indonesia dan INDOFOOD, Universitas Indonesia, 1994

HAL 27