Anda di halaman 1dari 3

CAMPAK

(PROGRAM SURVEILANS)
No. Dokumen : /SOP/UKM/2017
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : Mei 2017
Halaman :1
PUSKESMAS SUKIRMAN ARIF
NAMLEA NIP. 19721002 199303 1 011

Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Meales, Merupakan


Penyakit Sangat Menular yang disebabkan oleh Virus yang di tandai
1. Pengertian
dengan adanya bercak bercak pada Tubuh dan demam selama 3 hari
atau lebih
1. Untuk mengetahui perubahan epidemiologi campak
2. Mengidentifikasi populasi risiko tinggi
3. Memprediksi terjadinya KLB campak
2. Tujuan
4. Melaksanakan penyelidikan epidemiologi setiap KLB campak
5. Memberikan rekomendasi dan tindak lanjut pada program
pencegahan dan pemberantasan campak
SK Kepala Puskesmas Nomor : 445/ /UKM. /SK/PKM-NLA/ /2017
3. Kebijakan
tentang
1. Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah tahun 1991 tentang Penangulangan Wabah
4. Referensi Penyakit
3. Petunjuk teknis survailans campak Sub Direktorat Surveilans
Epidemiologi Tahun 2011
1. Petugas surveilans menerima laporan kasus dari
RS/Dinkes/Masyarakat atau mengkaji register Puskesmas untuk
melihat jumlah kasus Campak
Langkah-
5. 2. Petugas mencatat laporan dibuku catatan kasus
langkah
3. Mentukan jadwal atau kunjungan PE
4. Petugas menyiapkan peralatan
5. Petugas mendatangi lokasi untuk mengetahui adanya kasus
6. Unit Terkait Dinas Kesehatan, RSUD Namlea, Masyarakat
DEMAM BERDARAH DENGUE
(PROGRAM SURVEILANS)
No. Dokumen : /SOP/UKM/2017
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : Mei 2017
Halaman :1
PUSKESMAS SUKIRMAN ARIF
NAMLEA NIP. 19721002 199303 1 011

DBD adalah penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk


Aedes Aegept dan Aedes Albopictus yang sebelumnya telah terinfeksi
oleh virus dengue dari penderita DBD lainya terutama menyerang anak-
1. Pengertian
anak. Ditandai dengan panas tinggi perdarahan dan dapat
menimbulkan kematian. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit
yang dapat menimbulkan wabah

2. Tujuan Sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan penangulangan DBD

SK Kepala Puskesmas Nomor : 445/ /UKM. /SK/PKM-NLA/ /2017


3. Kebijakan
tentang
1. Buku saku pengendalian demam berdarah dengue untuk pengelola
4. Referensi program DBD puskesmas
2. Modul pengendalian demam berdarah dengue
1. Menemukan suspek penderita DBD baik aktif dan pasif di Unit
pelayanan kesehatan dengan gejalah tidak ada tanda kedaruratan
dilakukan uji Taorniguet dan dilakukan pemeriksaan laboratorium
RDT
2. Jika hasil positif dengan jumlah trombosit 100.000/ul. Penderita
dirujuk di RS
Langkah- 3. Selanjutnya dilanjutkan penyelidikan epidemiologi diwilayah
5.
langkah penderita dan apabila memenuhi kriteria Fogging, maka dilakukan
pengasapan
4. Jika hasil positif dengan jumlah trombosit > 100.000/ul. Penderita
tidak perlu dirujuk cukup dilakukan kontrol dan tetap dilakukan
penyelidikan epidemiologi diwilayah penderita. Apabilah memenuhi
kriteria fogging maka dilakukan pengasapan dan jika hasil negatif
maka tidak dilakukan fogging
6. Unit Terkait Dinas Kesehatan, RSUD Namlea, Masyarakat
LUMPUH LAYU
(PROGRAM SURVEILANS)
No. Dokumen : /SOP/UKM/2017
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : Mei 2017
Halaman :1
Ttd Ka Pusk
PUSKESMAS SUKIRMAN ARIF
NAMLEA NIP. 19721002 199303 1 011

Lumpuh layu akut (AFP) adalah kelumpuhan yang bersifat (flaccid),


terjadi dalam waktu kurang dari 14 hari yang bukan disebabkan oleh
1. Pengertian trauma-trauma. Lumpuh layu akut disebabkan oleh gangguan lower
motor neuron atau unit motorik, yaitu Badan Sel Di Kormu Anterior
Medula Spinalis, Saraf Tepi Sambungan Saraf Otot, atau Otot
1. Menemukan semua kasus AFP yang ada disuatu wilayah
2. Tujuan 2. Melacak semua kasus AFP yang ditemukan disuatu wilayah
3. Mengumpulkan dua spesimen kontak terhadap hot case untuk
mengetahui adanya sirkulasi VPL
SK Kepala Puskesmas Nomor : 445/ /UKM. /SK/PKM-NLA/ /2017
3. Kebijakan
tentang
1. Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
4. Referensi 483/MENKES/SK/IV/2007
2. Pedoman Survelans Acute Flaccid Paralysis (survelans AFP)
1. Menanyakan riwayat sakit vaksinasi polio serta data lain yang di
Langkah- perlukan
5.
langkah 2. Melakukan pemeriksaan pisik kasus suspek (AFP)
3. Melakukan follow up (kunjungan kerja)
6. Unit Terkait Dinas Kesehatan, RSUD Namlea, Masyarakat