Anda di halaman 1dari 10

TK 412 Transport Phenomena

Modul 6: Penyelesaian Soal Latihan

Kasus1.HeatConductionwithaViscousHeatSource
Ditinjaufluidajenisincompressiblefluidditempatkanpadasistemmekanik,
yaitudiantaraduasilindercoaxialdenganpanjangsamasebesarL.Jarak
antar kedua dinding silinder adalah b. Sistem mekanik beroperasi dengan
caramenggerakkansilinderbagianluardengankecepatantinggisebesar
(kecepatan anguler), sedangkan silinder bagian dalam dijaga stasioner.
Sistemmekanikdioperasikansedemikianrupasehinggatemperaturfluidadi
kedua dinding silinder besarnya konstan,yaitu T 0 (di dinding silinder
dalam) dan Tb (di dinding silinder luar). Akibat fluida bergerak dengan
kecepatan tinggi tersebut, energi mekanik terdegradasi secara steady
menjadi energi termal, dengan nilai volumetric viscous heat dissipation
sebesar Sv. Dengan idealisasi model melalui pengubahan sistem koordinat
darikoordinatsilindermenjadikoordinatrektanguler,turunkanpersamaan
untukmengetahui:
a. Distribusitemperaturpadabulkfluida
b. Posisipencapaiantemepraturtertinggipadabulkfluida
Jawaban:
T T0 x 1 x x V 2
Br 1 ; Br
Tb T0 b 2 b b
a. dengan adalah Brinkman
k Tb T0
Penyelesaian:
Idealisasi model

V=b
x=b
T0 x Tb
y
r + Tb T0
b x=0
z

dilakukan terhadap tinjauan Idealized


Original model
Untuk selanjutnya, penyelesaian model model ter-
sistem berupa
(cylindrical coordinate) (rectangular coordinate)
idealisasi.
Kasus berupa gabungan antara peristiwa perpindahan momentum (terdapat aliran
fluida) dan perpindahan panas (terdapat beda temperatur pada bulk fluida, T0 dan Tb).
Analisis kasus (untuk perpindahan panas)
1. Sistem koordinat yang sesuai: rektanguler (sumbu: x, y, z)
2. Jenis mekanisme perpindahan energi (panas) yang terlibat:
* Perpindahan panas konduktif, terlibat (pada arah sumbu x)
* Perpindahan momentum konvektif, terlibat (pada arah sumbu z)
* Terdapat generasi atau produksi panas sebagai akibat volumetric viscous heat
dissipation sebesar SV.
Asumsi-asumsi (untuk perpindahan panas)
1. Gradien atau distribusi temperatur hanya terjadi pada arah sumbu-x, sebagai
dampak aliran fluida dalam daerah laminar
2. Konduktivitas termal, k, dan cp cairan, konstan (diambil sebagai k dan cp rata-rata)
3. Steady-state
Penentuan ukuran, ilustrasi, dan eksistensi perpindahan panas pada shell
Ukuran shell (shell ditentukan di bulk fluida, ingat mengenai teori shell)
Pada arah sumbu-x = x
sumbu-z = L Volume shell, Vshell = WLx
sumbu-y = W

1|Page
Ilustrasi shell dan eksistensi perpindahan panas pada shell

qx, in W

x = x+x
Qconvective,
x
Qconvective, out
y
in x=x
qx, out z
z=0 z=L

Penyusunan shell thermal energy balance


Neraca panas disusun pada shell sebesar WLx, kondisi steady-state sebagai berikut:

WL q x x x x xW v z c p T Tref z 0 WL q x x x xW v z c p T Tref z L ...


... SV WLx 0
Penyusunan ulang, kemudian dibagi WLx akan diperoleh:
qx xx qx
x
x x x

vz c p
L
T T ref z 0
T Tref S
zL V 0 ...(a)

2
dv dv
dengan SV xz z ' untuk fluida Newton : SV z (a-1)
dx dx
Substitusi pers. (a-1) ke pers. (a), diperoleh:
2
qx x x qx x x x dv
z 0 (a-2)
x dx
Pe-limit-an pers. (a-2) pada limit x0 akan diperoleh persamaan diferensial berikut:

d qx
2
dv
z 0 (b)
dx dx
Parameter qx pada persamaan (b) merupakan fluks perpindahan panas konduktif yang
nilainya didekati dengan persamaan Fourier pada arah sumbu-x. Oleh karena itu:
dT
q x k (c)
dx
Substitusi pers. (c) ke pers. (b):

dT
d k 2
dx dv

. Karena nilai k tetap, maka persamaan terakhir menjadi:
z 0
dx dx
dT dT
d 2 d 2
dx dvz dx dvz (d)
k 0 atau 0
dx dx dx k dx
Penyelesaian PD pada pers. (d)
Penyelesaian diawali dengan cara menyatakan ekspresi gradien kecepatan v z ke dalam
bentuk yang mengandung parameter-parameter konstan. Sehingga pada akhirnya,
ekspresi pers. (d) hanya mengandung parameter T sebagai variabel terikat dengan x
sebagai variabel bebas.
Untuk maksud tersebut, diperlukan penyelesaian pada bagian peristiwa perpindahan
momentumnya dari kasus ini.
Berdasarkan analisis kasus dan asumsi yang ditentukan dengan pendekatan standar,
dapat disusun neraca momentum pada shell sebesar WLx kondisi steady-state sebagai
berikut:

WL xz x x x xW v z v z z 0 WL xz x x xW v z v z zL 0 (d-1)

2|Page
Susun ulang pers. (d-1), kemudian dibagi dengan WLx akan diperoleh:
xz x x xz x x x d xz
lim 0 (d-2)
x0 x dx
Penyelesaian pers. (d-2):

d 0
xz xz c1 (d-3)

dv z
Untuk fluida Newton: xz (d-3)
dx
Substitusi pers. (d-3) ke pers. (3) akan diperoleh:
dv z dv z c
c1 atau 1 (d-4)
dx dx
Untuk mengevaluasi nilai c1, tidak ada BC yang tersedia. Penyelesaian dilanjutkan
dengan menyelesaikan pers. (d-4) sebagai berikut:
c1 c1
dv z

dx vz

x c2 (d-5)

Kondisi-kondisi batas: pada x = 0 vz = 0 dan pada x = b vz = V

c1 V
Substitusi kedua BC ke pers. (d-5) akan diperoleh: c2 = 0 dan
b
dv z V
Berdasarkan pers. (d-4), sehingga akan diperoleh: (d-6)
dx b
Akhirnya pen-substitusi-an pers. (d-6) ke pers. (d) diperoleh hubungan:

dT
d 2
dx V 0 (e)

dx kb
Kemudian penyelesaian pers. (e) menjadi lebih mudah, sebagai berikut:
2 2
dT V dT V
d dx k b dx
dx
x c3
kb
(f)

Integrasi lanjutan terhadap pers. (f) diperoleh:


V 2 V 2
2

dT k b x c3 dx T x c3 x c 4
2k b
(g)

Persamaan (g) adalah persamaan distribusi temperature pada bulk fluida (berupa kurva
parabolic). Untuk mengevaluasi c1 dan c2 diperlukan 2 (dua) BC. Kedua BC yang dapat
dimunculkan adalah:

Pada x = 0 T = T0; dan pada x = b T = Tb


Substitusi kedua BC ke pers. (g), kemudian dilakukan penyusunan ulang, akan diperoleh
distribusi temperatur seperti persamaan yang ditampilkan pada jawaban soal a tersebut
di atas.

T T0 x 1 x x V 2
Br 1 , dengan Br
Tb T0 b 2 b b k Tb T0

Sedangkan untuk menentukan di posisi mana dalam bulk fluida akan dicapai temperatur
tertinggi, posisi tersebut ditentukan dengan menerapkan ketentuan matematika tentang
titik belok (titik stasioner).

3|Page
Kasus2.HeatConductionthroughCompositeCylindricalWalls
Pada sebuah alat penular panas berupa double pipe HE ingin ditinjau
fenomena perpindahan panasnya pada bagian dinding pipa bagian dalamnya
(inner cylinder). Pipa bagian dalam tersebut berupa pipa komposit yang
tersusun dari 3 jenis pipa dari bahan berbeda. Pada pelaksanaannya,
temperature fluida yang mengalir di dalam dan di luar pipa komposit
tersebutdijagakonstan,masingmasingsebesarTa (atinsidetube)danTb
(atoutsidetube),denganTa>Tb.Panjangpipacompositediketahuisebesar
L,denganketebalandarimasingmasingpipapenyusunberbedabeda.Data
data lain yang diketahui adalah: koefisien perpindahan panas antar fasa
dari fluida panas ke dinding dalam pipa komposit adalah ha, koefisien
perpindahan panas antar fasa dari dinding luar pipa komposit ke fluida
dinginadalahhb,dankonduktivitastermalmasingmasingpipapenyusunpipa
kompositsecaraberturutanadalahk01,k12,dank23.
Turunkan persamaan pada kondisi steady state yang dapat digunakan untuk
menghitung:
a. LajuperpindahanpanasQ0
b. OverallheattransfercoefficientU0
Jawaban:
2L Ta Tb
Q0
a. 1 ln r r ln r r ln r r 1 ;
101 0 212 1 323 2
r0 ha
Penyelesaian: k k k r3 hb
Ilustrasi peristiwa perpindahan

Pipa dalam
berupa komposit

T2

T3
r
Fluida z qr Ta T1
dingin, Tb +
ha T0

Fluida L Fluida k
01

panas, Ta dingin
k12
(Tb, hb)
k23
Analisis kasus
1. Kasus berupa peristiwa perpindahan panas melalui dinding pipa bagian dalam yang
berupa pipa komposit terdiri dari 3 lapisan pipa yang dipasang coaxial, sebagai akibat
perbedaan temperatur fluida panas (Ta) dan temperatur fluida dingin (Tb), Ta>Tb
2. Sistem koordinat yang sesuai: cylindrical coordinate (sumbu: r, z, )
3. Jenis mekanisme perpindahan energi (panas) yang terlibat:
* Perpindahan panas konduktif, terlibat (pada arah sumbu x)
* Perpindahan momentum konvektif, tidak terlibat
* Tidak terdapat generasi maupun konsumsi panas pada sistem yang ditinjau
4. Telah dicapai kondisi steady-state
Asumsi-asumsi
1. Fluida panas memiliki temperatur homogen sebesar Ta dan fluida dingin memiliki
temperatur homogen sebesar Tb selama perpindahan panas ditinjau, sehingga gradien
atau distribusi temperatur hanya terjadi pada arah sumbu-r.
2. Nilai konduktivitas termal masing-masing pipa komposit, tetap (k01, k12, dan k23)
Penentuan ukuran, ilustrasi, dan eksistensi perpindahan pada shell

4|Page
Pada arah sumbu-r = r
sumbu-z = L Volume shell, Vshell = 2rr L
sumbu- = 2 rad.
Karena tiap dinding pipa komposit memiliki nilai k berbeda-beda, maka shell dan
dampaknya pada penyusunan neraca panas, harus ditetapkan dan dilakukan di setiap
dinding pipa komposit tersebut.
Namun karena bentuk dan ukuran shell di setiap dinding pipa komposit identik, maka
penyusunan neraca panas juga mirip. Sehingga penyusunan neraca panas cukup
dilakukan satu kali pada salah satu dinding pipa komposit. Ekspresi/hasil peneracaan
panas di dinding pipa-pipa komposit yang lain akan analog.

Misal, shell ditetapkan pada dinding pipa komposit ke-1 (dinding: 01).

r
Panjang pipa
silinder ke arah
r sb-z = L
r=r+r r=r +
qr01,
in qr01,
out

Penyusunan neraca panas pada shell sebesar 2rr L kondisi steady-state (dilakukan
pada dinding pipa komposit ke-1, 01)
2rL qr01 r r
2rL q r01
r r r
0 (a)

Pers. (a) dibagi dengan 2rL, diperoleh:


r qr01 r q r01
r r r r r
0 (b)
r
Pe-limit-an pers. (b) pada limit r0, diperoleh:



d rq r01
0 atau d rq r01 0 (c)
dr
Penyelesaian PD
Penyelesaian persamaan diferensial pada pers. (c):
d rq 0 rq r01 c1
01
r (d-1)

Dengan cara analog akan diperoleh hasil neraca panas di dinding pipa komposit ke-2
(12) dan di dinding pipa komposit ke-3 (23) sebagai berikut:

r c2
rq 12 (d-2); dan rq r23 c3 (d-3)

Dalam kasus ini, nilai c1 = c2 = c3, yaitu ditentukan di posisi yang akan dievaluasi dengan
disesuaikan pada parameter yang ditanyakan. Berdasarkan parameter yang ditanyakan,
nilai c1, c2, dan c3 dievaluasi di posisi 0 (dinding dalam dari pipa komposit ke-1).
Sehingga diperoleh:
c1 = c2 = c3 = r0 q0
Oleh karena itu, pers. (d-1), (d-2), dan (d-3) dapat dituliskan dalam bentuk:

rq r01 r0 q0 (d-1)
rq 12
r r0 q0 (d-2)
rq 23
r r0 q0 (d-3)

dT
Kemudian telah diketahui bahwa: q r k . Jika persamaan Fourier ini diaplikasikan
dr
pada pers. (d-1) sampai dengan (d-3), akan diperoleh persamaan-persamaan berikut:

5|Page
T T1 r r1
dT 01 1 r0 q0 1 r0 q0 r1
k 01 r0 q0 dT
01
r r r dr T0 T1 ln (e-1)
dr r T T0
k 01 0
k 01
r0

T1 T2 r0 12q0 ln r2 (e-2)
k r1

T2 T3 r0 23q0 ln r3 (e-3), dimana: T0>T1>T2>T3
k r2
Jika pers. (e-1), (e-2), dan (e-3) dijumlahkan, akan diperoleh:

1 r 1 r 1 r
T0 T3 r0 q0 01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3 (f)
k r0 k r1 k r2
Arah penyelesaian dari soal a adalah memunculkan hubungan antar besarnya laju
perpindahan panas di posisi 0 dengan parameter-parameter yang tersedia (T a, Tb,
konduktivitas termal masing-masing komposit, dan koefisien-koefisien perpindahan panas
antar fase). Hubungan tersebut diawali dari hubungan dasar berikut:

Q0 q0 2r0 L (g)

Langkah berikutnya adalah menurunkan persamaan q 0 sebagai fungsi parameter-


parameter tersebut di atas.
Ditinjau perpindahan panas antar fase dari fluida panas ke dinding 0 dan dari dinding 3
ke fluida dingin. Berdasar hokum pendinginan Newton, di kedua daerah tersebut dapat
dirumuskan fluks perpindahan panas-nya masing-masing sebagai berikut:
q0
q0 ha Ta T0 atau Ta T0 (h)
ha
r0
q3 hb T3 Tb , sedangkan: r3 q3 r0 q0 atau q3 q0 . Sehingga diperoleh:
r3
r0 r q
q0 hb T3 Tb atau T3 Tb 0 0 (i)
r3 r3 hb
Penjumlahan pers. (f), (h), dan (i) akan diperoleh:

1 1 r 1 r 1 r 1
Ta Tb r0 q0 01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3 , atau:
r0 ha k r0 k r1 k r2 r3 hb
Ta Tb
r0 q0
1 1 r 1 r 1 r 1 (j)
01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3
r0 ha k r0 k r1 k r2 r3 hb

Substitusi pers. (j) ke pers. (g) akan diperoleh jawaban dari soal a berikut:

2L Ta Tb
Q0
1 1 r 1 r 1 r 1 (k)
01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3
r0 ha k r0 k r1 k r2 r3 hb

Penyelesaian soal b:
Penurunan persamaan Uo = f(ha, k01, k12, k23, hb)

Q0 U 0 2r0 L Ta Tb (l)

6|Page
Substitusi pers. (k) ke pers. (l), kemudian disusun ulang akan diperoleh:

2L Ta Tb
U 0 2r0 L Ta Tb
1 1 r 1 r 1 r 1
01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3
r0 ha k r0 k r1 k r2 r3 hb

1 1 r0 r r0 r r0 r r0
01 ln 1 12 ln 2 23 ln 3
U 0 ha k r0 k r1 k r2 r3 hb
Kasus 4. Forced Convection for Laminar Flow of Newtonian Fluid in Circular
Tube Heat Exchanger
Fluida Newton cair ingin dipanaskan dengan menggunakan sebuah alat penukar
panas berupa pipa silinder beradius dalam R dan panjang L. Penukar panas
tersebut dipasang secara horisontal, dan dilengkapi dengan sumber panas
listrik dengan konstruksi tertentu di sepanjang dinding luar pipa sehingga
fluks panas dapat dipasok secara konstan dan seragam sebesar qS. Akibat
selalu kontak dengan panas dari sumber panas selama mengalir di dalam pipa,
fluida dengan temperatur awal T0 tersebut akhirnya akan meningkat
temperaturnya sampai dicapai temperatur tertentu. Data properties dari
fluida tersebut adalah: k (konduktivitas thermal), c P (kapasistas panas
jenis pada P konstan, (viskositas) dan (densitas).
a. Turunkan rumusan yang mengekspresikan distribusi temperatur fluida di
dalam alat penukar panas tersebut!
b. Buktikan bahwa pada perpindahan panas secara konveksi paksa, bilangan
Prandtl (NPr) dan bilangan Reynold (NRe) merupakan 2 bilangan tak
berdimensi yang sangat berpengaruh

Penyelesaian:
Ilustrasi peristiwa perpindahan

Cold liquid r r=R


inlet, z r=0
T0 Hot
liquid outlet,
Tubular T
pipe Electrical
jacket heater
L
z=0 z=L
Sistem yang ditinjau adalah fluida cair yang dipanaskan
Analisis kasus
1. Sistem koordinat yang sesuai: cylindrical coordinate (r, z, )
2. Jenis fluida berupa Newtonian fluid, dampaknya terhadap momentum transport adalah
terhadap rumusan shear stress-nya
3. Panas dipindahkan dari electrical jacket heater ke fluida cair dengan fluks panas
konstan di sepanjang arah aksial dari tubular tube
4. Keterlibatan jenis mekanisme perpindahan panas:
* Perpindahan panas konduktif terlibat, yaitu pada arah sumbu-r (radial) dan
sumbu-z (aksial). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat gradien temperatur
pada kedua arah sumbu tersebut
* Perpindahan panas konvektif terlibat, yaitu pada arah sumbu-z, sesuai dengan arah
fluida mengalir secara laminer ke arah sumbu tersebut

7|Page
* Tidak ada keterlibatan energi panas dalam bentuk tergenerasi maupun
terkonsumsi.
Asumsi-asumsi
1. Pada energy transport
* Nilai k dan cP fluida cair konstan (ditentukan sebagai nilai rata-rata)
* Telah dicapai kondisi steady-state
2. Pada momentum transport
* Fluida mengalir secara laminer, dampaknya terhadap mom. transpt:
a. Fluida mengalir ke satu arah saja, yaitu pada arah sumbu-z
b. Gradien dan distribusi kecepatan vz hanya terjadi pada satu arah, sumbu-r.
* dan seterusnya (sesuai dengan materi yang telah dipelajari di Part 1).
Penentuan ukuran, ilustrasi, dan eksistensi perpindahan panas pada shell
1. Berdasarkan analisis kasus dan asumsi-asumsi yang telah ditentukan, ukuran shell
pada fenomena thermal energy transport adalah:
Pada arah sumbu-r = r; sumbu-z = z; sumbu- = 2 rad.
Volume shell, Vshell = 2rrz
2. Ilustrasi dan eksistensi perpindahan panas pada shell

Penyusunan neraca panas pada shell sebesar 2rrz kondisi steady-state

2rz q r r r r 2rr q z z z z 2rr v z c p T Tref zz ...


2rz q r r r 2rr q z zz 2rr v z c p T Tref z z z 0
Penyusunan ulang:

r qr r r r qr r r r r qz zz r qz z z z
T T
ref zz T Tref z z z
r vz c p 0
r z z
, atau:
r qr r r r qr r r r r qz zz r qz z z z T zz T z z z
r vz c p 0 (a)
r z z
Pe-limit-an persamaan (a) pada batas limit r0 dan z0 diperoleh:

r qr q T r qr q T
r z r vz c p 0 , atau: r z r vz c p 0 (b)
r z z r z z
Dengan qr dan qr adalah fluks perpindahan panas konduktif ke arah sumbu-r dan sumbu-
T T
z, atau: q r k dan q z k , sehingga persamaan (b) dapat diubah menjadi:
r z
T T
r k
r z T , untuk k konstan akan diperoleh:
rk r vz c p 0
r z z

8|Page
T T
r r
T v z c p T 0
2
r r k T r v c T 0 , atau: 1 r
2
k z p
r z 2 z r r z 2 k z
(c)

Persamaan (c) dapat diubah menjadi:

T
T 1 r r
T
2
vz c p k (c-1)
z r r z 2



Penyelesaian terhadap fenomena perpindahan momentum dari kasus ini, akan diperoleh
rumusan dari vz pada pers. (c-1) tersebut, yaitu:
r
2

v z v z , maks 1

R , sehingga persamaan (c-1) dapat diubah menjadi:

T
r 2 T 1 r
r T
2
c p v z , maks 1 k (c-2)
R z r z
2
r

Dengan pendekatan logika terhadap perbandingan nilai antara gradien temperatur ke arah
2T
sumbu-r dan sumbu-z, dapat diambil pendekatan bahwa 0 , sehingga pers. (c-2)
z 2
dapat diubah menjadi:

T
r
r 2 T 1 r (d)
c p v z , maks 1 k
R z r r

Kondisi batas yang ada berdasarkan pernyataan pada kasus ini adalah:
BC 1: pada z = 0 dan pada semua r T = T0
BC 2: pada r = 0 T = finite (tertentu)
T
BC 3: pada r = R dan pada semua z k qs konstan
r r R

Penyelesaian persamaan diferensial pada persamaan (d)


Persamaan diferensial pada pers. (d) merupakan PD parsial orde 2. Penyelesaian PD
tersebut dapat dilakukan secara numerik ataupun analitik. Pada kesempatan ini akan
diselesaikan dengan pendekatan secara analitik.
Agar penyelesaian secara analitik lebih mudah, PD parsial pada pers. (d) diubah menjadi
PD ordiner. Salah satu caranya adalah dengan mengubah persamaan (d) menjadi bentuk
hubungan antar parameter tak-berdimensi.
Parameter-parameter tak-berdimensi tersebut yang dapat dimunculkan adalah sebagai
berikut:
T T0 r zk
; ; (pada prosesnya muncul terakhir)
qs R k R c p v z , maks R 2
Dengan manipulasi matematika, mengacu pada parameter-parameter tak-berdimensi
tersebut, persamaan (d) akan menjadi:
1
1
2




...(e)

9|Page
Kondisi batas PD pers. (e), mengacu ke BC pada pers. (d):
BC 1: pada 0 0
BC 2: pada 0 finite

BC 3: pada 1 1

Dari pers. (e) diketahui bahwa , . Oleh karena itu, untuk mencapai perubahan
menjadi PD ordiner, perlu dimunculkan hubungan ketiga parameter tersebut. Bentuk
hubungan ketiga parameter tersebut ditentukan dengan mengacu atau berdasar pada
analisis bahwa pemanasan dengan fluks panas konstan sebagai sumber panas di
sepanjang dinding pipa berdampak terhadap perubahan temperatur pada fluida secara
linier ke arah aksial (sumbu-z) dan perubahan temperatur pada fluida dengan tingkatan
yang lebih tinggi (dibandingkan ke arah aksial) ke arah radial (sumbu-r). Sehingga dapat
dimunculkan hubungan berikut:
C0 (f)

Jika persamaan (f) dikaitkan dengan ketiga BC dari persamaan (e), dapat disimpulkan
bahwa tidak semua BC mencukupi terhadap hubungan pada pers. (f). Nampak bahwa BC
1 tidak mencukupi, sedangkan BC 2 dan BC 3 dapat dikatakan relatif mencukupi.
Sehingga BC 1 harus dievaluasi agar dapat mencukupi hubungan pers. (f). BC 1 ter-
evaluasi yang dapat dimunculkan adalah:
2 r R

BC 1: 2R z q s c P v z T T0 rdr d (f-1)
0 r 0
1
1
, 1 2 d (f-2)
0
Substitusi pers. (f) ke pers. (e) diperoleh:

1 d d

C0 1 2
d d
(g)

Penyelesaian terhadap pers. (g) akan dihasilkan:

2 4
C0 C0 C1 ln C2 (h)
4 16
Substitusi BC 2 ke pers. (h) diperoleh C1 = 0
Substitusi BC 3 ke pers. (h) diperoleh C0 = -4
Substitusi BC 1 ke pers. (h) diperoleh C2 = 7/24
Pensubstitsian ketiga nilai konstanta ke pers. (h) diperoleh:
1 7
4 2 4 (i)
4 24
Persamaan (i) merupakan persamaan distribusi temperatur yang diekspresikan dalam
bentuk hubungan antar parameter-parameter tak-berdimensi.

Sedangkan untuk membuktikan bahwa pada perpindahan panas konveksi paksa, bilangan
Reynolds dan Prandelt merupakan 2 bilangan tak-berdimensi yang sangat berperanan,
dapat dibuktikan dengan berawal dari parameter tak-berdimensi yang telah dimunculkan
sebelumnya. Dalam hal ini adalah parameter .

z k z 1
(j)
R D vz c p R Re Pr
Dengan:
vz D cp
Re dan Pr
k

10 | P a g e