Anda di halaman 1dari 7

BAB I

LATAR BELAKANG

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan sampai
saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Prevalensi TB di Indonesia dan
negara-negara sedang berkembang lainnya cukup tinggi. Pada tahun 2006, kasus baru di
Indonesia berjumlah lebih dari 600.000 dan sebagian besar diderita oleh masyarakat yang berada
dalam usia produktif (1555 tahun). Angka kematian karena infeksi TB berjumlah sekitar 300
orang per hari dan terjadi lebih dari 100.000 kematian per tahun.

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) dalam Global Report 2009,
pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah India,
China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang
menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China.

Klasifikasi kasus TB dibagi menjadi beberapa macam menurut tipe pasien TB, yaitu
kasus baru, kasus kambuh, kasus default atau drop out, kasus gagal, kasus kronik, dan kasus
bekas TB. Salah satu diantaranya adalah TB kasus kambuh adalah pasien TB yang sebelumnya
pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
kemudian kembali lagi berobat, dengan hasil pemeriksaan dahak Basil Tahan Asam (BTA)
positif atau biakan positif. Bila BTA negatif atau biakan negatif gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif atau perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan
diantaranya adalah lesi bukan TB (pneumoniae, bronkiektasis, jamur, keganasan, dll) atau TB
paru kambuh yang ditentukan dokter spesialis yang berkompeten menangani kasus TB.

1
BAB II

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S

Umur : 52 tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Alamat : Mojopilang

Agama : Islam

Suku : Jawa

Bangsa : Indonesia

Pekerjaan : Petani

Tanggal Pemeriksaan : 25 Agustus 2017

II. KELUHAN UTAMA


Batuk berdahak

III. ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)


Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh batuk berdahak warna kuning, sudah selama 3 minggu. Batuk tidak
disertai darah. Tidak merasa sesak. Pasien mengatakan sering keringat dingin di malam hari,
badan sering greges, dan berat badannya menurun dalam satu bulan ini karena kurangnya
nafsu makan.

2
Riwayat Penyakit Dahulu

HT dan DM disangkal. Perokok (+)

Riwayat Penyakit Keluarga

Anak pasien yang sering datang ke rumahnya, mengalami TB paru.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum

Kondisi : Cukup

Kesadaran : Compos Mentis

Suhu : 36.80C

Nadi : 74x/menit, teratur dan kuat angkat

Tekanan darah : 110/80 mmHg

RR : 20x/menit

Status Gizi : Kurang

Status Generalis

Kepala-Leher : Anemis (-), Ikterus (-), Cyanosis (-). Dyspneu (-)

Thorax : Jantung dalam batas normal

Paru ditemukan rhonki dextra (+), wheezing (-)

Abdomen : Abdomen dalam batas normal

Extremitas : Akral hangat, kering

Pemeriksaan Penunjang: Sampel Sputum BTA (SPS), hasil (+)

3
BAB III

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjelaskan kepada pasien dan keluarganya
bahwa penyakit yang sedang diderita pasien saat ini merupakan penyakit infeksi pada paru yang
serius, yaitu tuberkulosis paru, yang mana sangat menular, dan butuh waktu berbulan-bulan
dalam pengobatannya.

Penegakkan diagnosis TB Paru dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan sputum BTA. Pada anamnesis didapatkan pasien batuk lebih dari 2 minggu, yaitu
sudah 3 minggu, sering greges dan keringat dingin pada malam hari, juga berat badan dirasakan
menurun dalam satu bulan ini. Anak pasien juga menderita TB paru. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan rhonki pada paru kanan. Dan kemudian dilakukan pemeriksaan sputum BTA (SPS)
hasilnya positif. Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya, maka dimasukkan ke dalam
TB kasus baru.

Terapi medikamentosa pada TB diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Pengobatan tahap intensif penderita TB paru mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung
untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap OAT. Fase awal/intensif diperlukan kombinasi
bakterisidal dan pencegahan resistensi obat Rifampisin, INH, Pirazinamid, Etambutol (RHZE)
untuk membunuh kuman dalam jumlah besar dengan cepat yaitu populasi Mycrobacterium
tuberculosis yang mempunyai kemampuan multiplikasi cepat dan mencegah terjadinya resistensi
obat, selanjutnya pada fase lanjutan diberikan obat yang mempunyai aktivitas sterilisasi (RHZ)
untuk membunuh kuman yang kurang aktif atau populasi kuman yang membelah secara
intermiten dan mencegah terjadinya kekambuhan.

4
BAB IV

PELAKSANAAN

Pasien diedukasi untuk mematuhi terapi yang diberikan dari puskesmas, yaitu meminum
obat setiap hari dengan pengawasan orang terdekat, tidak boleh putus sehari pun, makan
makanan yang bergizi, banyak minum air putih, dan harus rutin kontrol sekaligus pengambilan
paket obat TB di puskesmas sesuai jadwalnya. Pasien diberikan penjelasan tentang efek samping
dari obat-obat TB, misalnya rifampisin efek sampingnya dapat membuat warna urin menjadi
merah, dan kulit gatal-gatal, streptomisin dapat menimbulkan keluhan pusing kepala. Pasien
disarankan menggunakan masker bila bepergian keluar rumah, karena penyakit TB paru sangat
menular.

Untuk pengobatan fase awal/intensif yaitu selama 2 bulan (minum obat setiap hari) dengan
obat Rifampisin 600mg, INH 300 mg, Pirazinamid 1500 mg, Etambutol 1000 mg (RHZE) dan
selanjutnya pada fase lanjutan selama 4 bulan diberikan obat RHE yang seminggu diminum 3
kali.

5
BAB V

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi dilakukan selama pasien dirawat jalan di Puskesmas Kemlagi
dengan sesuai jadwal kontrol pasien yang teratur, namun bila terdapat keluhan pasien dapat
memeriksakan ke puskesmas tanpa menunggu jadwal kontrol berikutnya. Evaluasi pasien
mengenai respons pengobatan, ada tidaknya efek samping obat serta ada tidaknya komplikasi
penyakit. Evaluasi klinis meliputi keluhan, berat badan dan pemeriksaan fisik. Dan nanti setelah
2 bulan pengobatan (setelah fase intensif) dilakukan evaluasi bakteriologik. Bila pasien terdapat
ikterik dengan peningkatan SGOT/SGPT maka obat TB yang bersifat hepatotoksik harus
dihentikan untuk sementara. Diharapkan dengan pemberian terapi yang adekuat serta kepatuhan
dan kesabaran pasien selama pengobatan, kondisi pasien dapat membaik dan sembuh secara
sempurna.

6
BAB VI

LAMPIRAN