PEMETAAN SITUASI
0
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
GPS adalah singkatan dari Global Positioning System yang merupakan
sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan
satelit. Sistem yang pertama kali dikembangkan oleh Departemen Pertahanan
Amerika ini digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil (survei dan
pemetaan).
Sistem GPS, yang nama aslinya adalah NAVSTAR GPS (Navigation
Satellite Timing and Ranging Global Positioning System), mempunyai tiga segmen
yaitu : satelit, pengontrol, dan penerima / pengguna. Satelit GPS yang mengorbit
bumi, dengan orbit dan kedudukan yang tetap (koordinatnya pasti), seluruhnya
berjumlah 24 buah dimana 21 buah aktip bekerja dan 3 buah sisanya adalah
cadangan.
Satelit bertugas untuk menerima dan menyimpan data yang ditransmisikan oleh
stasiun-stasiun pengontrol, menyimpan dan menjaga informasi waktu berketelitian tinggi
(ditentukan dengan jam atomic di satelit), dan memancarkan sinyal dan informasi
secara kontinyu ke pesawat penerima (receiver) dari pengguna.
Pengontrol bertugas untuk mengendalikan dan mengontrol satelit dari bumi baik
untuk mengecek kesehatan satelit, penentuan dan prediksi orbit dan waktu, sinkronisasi
waktu antar satelit, dan mengirim data ke satelit.
Penerima bertugas menerima data dari satelit dan meprosesnya untuk
menentukan posisi (posisi tiga dimensi yaitu koordinat di bumi plus ketinggian),
arah, jarak dan waktu yang diperlukan oleh pengguna. Ada dua macam tipe penerima
yaitu tipe NAVIGASI dan tipe GEODETIC. Yang termasuk receiver tipe NAVIGASI
antara lain : Trimble Ensign, Trimble Pathfinder, Garmin, Sony dan lain sebagainya.
Sedangkan tipe GEODETIC antara lain : Topcon, Leica, Astech, Trimble seri 4000 dan
lain-lain.
Dalam bidang survei dan pemetaan situasi, GPS dapat digunakan untuk
menentukan posisi titik-titik lokasi. Posisi yang diperoleh adalah posisi yang benar
terhadap sistem koordinat bumi. Dengan mengetahui posisinya yang pasti, lokasi-lokasi
tersebut dapat di-plot-kan kedalam peta kerja.
2. Tujuan dan Kompetensi
Tujuan pengukuran situasi menggunakan GPS adalah menerapkan teori-teori
dalam ilmu ukur tanah. Standar Kompetensi Praktikum pengukuran situasi menggunakan
GPS adalah mahasiswa dapat melakukan rangkaian kegiatan pengukuran secara optimal.
1
Sedangkan Kompetensi dasar yang ditetapkan dalam praktikum pengukuran
situasi menggunakan GPS sebagai berikut :
a. Mengetahui tata cara penggunaan alat GPS yang baik dan benar
b. Mengetahui pengukuran jarak dan luas, dan
c. Dapat mensketsakan dalam bentuk peta.
3. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam praktikum pengukuran situasi menggunakan
GPS adalah pengukuran langsung dilapangan dan penggunaan data-data sekunder sebagai
literatur.
2
BAB II
DASAR TEORI
Global positioning system merupakan metode penentuan posisi ekstra-teristris yang
menggunakan satelit GPS sebagai target pengukuran. Metode ini dinamakan penentuan posisi
secara global karena koordinat yang dihasilkannya bersifat geosentrik, artinya pusat massa
bumi dianggap sebagai pusat sistem koordinat sehingga sistem koordinat ini berlaku untuk
seluruh dunia. Sebagai bidang referensi (bidang datum) koordinat digunakan ellipsoid World
Geodetic System 1984 (WGS 1984).
Saat ini GPS telah diaplikasikan dalam berbagai bidang, seperti kepentingan militer,
survei dan pemetaan, geodesi, geodinamika, navigasi dan transportasi, studi tropofir dan
atmosfir pertanian dan kehutanan, pertambangan dan remote sensing, GIS (Geographic
Information System) dan olahraga rekreasi. Kekurangan utama teknologi GPS adalah tidak
bisa digunakan ditempat-tempat dimana sinyal dari satelit GPS tidak dapat mencapai alat
penerima GPS, misalnya dalam ruangan, dibawah air, hujan lebat dan lain-lain. Receiver
GPS merupakan alat atau perangkat yang digunakan untuk menerima dan menyimpan data
yang dikirim oleh satelit GPS . GPS dibagi menjadi tiga tipe yaitu Tipe Navigasi, Tipe
Mapping, dan Type Geodetik.
a. Tipe Navigasi atau Tipe Genggam (handheld) mempunyai tingkat akurasi antara 3 - 10
meter dan menerima sinyal langsung dari satelit GPS. Walaupun tingkat akurasinya
antara 3 - 10 meter, tapi banyak yang memilih tipe ini untuk berbagai kegiatan ataupun
usaha, karena bentuknya yang relatif mudah digenggam dan ringan, pengoperasiannya
pun mudah serta harganya terjangkau.. Beberapa merk yang beredar di pasaran seperti :
Garmin GPS V,Garmin GPS60,Garmin e Trex, Thales Mobile Mapper dan masih banyak
lagi, sampe lupa handphone yang dilengkapi dengan GPS itu termasuk tipe navigasi.
b. Tipe Mapping (Pemetaan) mempunyai tingkat akurasi antara 1 - 3 meter dan tipe
mapping biasanya membutuhkan base station yang berfungsi untuk menerima sinyal
satelit dan mengirimnya ke receiver GPS. Tipe ini biasa digunakan untuk survey dan
pemetaan dan setelah didownload ke komputer dapat dilakukan koreksi secara diferensial.
Untuk tipe mapping merk Trimble Pathfinder, yang kalo makainya digendong macam
astronot di bulan.
c. Tipe Geodetik merupakan tipe yang paling teliti dan paling canggih dibanding dengan
tipe navigasi ataupun tipe mapping karena mempunyai tingkat akurasi dibawah 1
meter,dan harganya pun paling mahal. Untuk merk tipe geodetik yang beredar di pasaran,
seperti : Leica GPS 1200 dan Leica Smart station.
Alat penerima di bumi menggunakan satelit-satelit sebagai titik referensi yang sangat
akurat posisinya. Alat penerima ini memiliki kemampuan menangkap sinyal yang sangat
lemah dari satelit GPS dan tidak terdeteksi oleh alat-alat lainnya. Sinyal GPS merupakan
sinyal yang kompleks karena didesain untuk militer berbeda dengan sinyal untuk sipil, sinyal
harus aman dari gangguan sinyal-sinyal lainnya.
Dalam prakteknya, untuk mengkalkulasikan posisi geografis suatu lokasi di muka bumi
secara tepat, maka diperlukan minimal 4 satelit yang memberikan sinyal yang masuk ke
dalam GPS penerima untuk dapat memperhitungkan posisi tersebut.
3
Kelebihan dari metode GPS
a. Penentuan posisi dengan metode GPS tidak memerlukan kondisi topografi daerah
pengamatan yang spesifik sebagaimana halnya metode konvensional.
b. Satelit GPS mempunyai lintasan orbit yang tinggi sekali (kurang lebih sekitar 20.200 km
di atas permukaan bumi), serta jumlah satelit yang banyak (24 buah).
c. Pengamatan GPS dapat dilakukan setiap waktu, tanpa bergantung kepada keadaan cuaca
d. Dengan metode GPS dapat terbentuk datum yang tunggal untuk seluruh daerah yang
tersebar seperti wilayah Indonesia ini, karena metode ini didasarkan kepada elipsoid
geosentris WGS 1984 yang berlaku untuk seluruh dunia.
e. Hasil pengamatan GPS dijamin keasliannya, karena pengarnat tidak dapat memanipulasi
data
f. Metode GPS dapat digunakan untuk hampir seluruh kegiatan penentuan posisi yang
memerlukan ketelitian tinggi hingga ketelitian rendah.
g. Metode GPS dapat dioperasionalkan dengan mudah, serta tidak memerlukan keterampilan
khusus, tidak banyak memerlukan waktu, tenaga, serta biaya.
Kekurangan dari metode GPS
a. Bagi negara yang menggunakan datum relative seperti Indonesia (D1-1974), hasil
pengamatan GPS harus ditransformasikan terlebih dahulu dari Sistem WGS 1984 ke
sistem datum lokal
b. Pengamatan tinggi GPS menghasilkan data ketinggian yang beracuan kepada elipsoid
WGS-1984 sehingga tidak dapat digunakan dalam keperluan praktis yang memerlukan
ketinggian di atas permukaan laut rata-rata.
c. Pengolahan data GPS memerlukan keterampilan dan keahlian khusus yang berhubungan
dengan pengetahuan geodesi, komputer, statistik, serta pengeta huan GPS yang mendalam
d. Jumlah tenaga ahli GPS ini masih relatif kurang, sehingga perlu mendidik tenaga baru
yang profesional
e. Walaupun faktor topografi tidak begitu berpengaruh di sini, tetapi metode ini masih
memerlukan kondisi khusus untuk penempatan alat penerima, yaitu tempat yang terbuka
sehingga tidak ada benda yang menghalangi jalannya sinyal dan satelit ke alat tersebut
Ketelitian posisi yang didapat dari suatu survey gps secara umum akan tergantung pada 4
faktor yaitu :
Ketelitian data yang digunakan.
Geometri pengamatan
Strategi pengamatan yang digunakan.
Strategi pengolahan data yang diterapkan.
Penentuan Posisi dengan GPS
Pada dasarnya penentuan posisi dengan GPS adalah pengukuran jarak secara bersama-
sama ke beberapa satelit (yang koordinatnya telah diketahui) sekaligus. Untuk
menentukan koordinat suatu titik di bumi, receiver setidaknya membutuhkan 4 satelit yang
dapat ditangkap sinyalnya dengan baik. Secara default posisi atau koordinat yang diperoleh
bereferensi ke global datum yaitu World Geodetic System 1984 atau disingkat WGS'84.
Secara garis besar penentuan posisi dengan GPS ini dibagi menjadi dua metode yaitu
metode absolut dan metode relatif.
4
Metode absolut atau juga dikenal sebagai point positioning, menentukan posisi
hanya berdasarkan pada 1 pesawat penerima (receiver) saja. Ketelitian posisi dalam
beberapa meter (tidak berketelitian tinggi) dan umumnya hanya diperuntukkan bagi
keperluan NAVIGASI.
Metode relatif atau sering disebut differential positioning, menetukan posisi dengan
menggunakan lebih dari sebuah receiver. Satu GPS dipasang pada lokasi tertentu dimuka
bumi dan secara terus menerus menerima sinyal dari satelit dalam jangka waktu tertentu
dijadikan sebagai referensi bagi yang lainnya. Metode ini menghasilkan posisi
berketelitian tinggi (umumnya kurang dari 1 meter) dan diaplikasikan untuk keperluan
survei GEODESI ataupun pemetaan yang memerlukan ketelitian tinggi.
Untuk keperluan survei di wilayah terumbu karang, metode absolut yang menggunakan
single receiver tipe NAVIGASI rasanya sudah cukup memadahi. Akan tetapi bila ingin
mempelajari tentang pergeseran terumbu dari waktu ke waktu misalnya, diperlukan
metode relatif dengan menggunakan receiver tipe GEODETIC. Perbincangan selanjutnya
akan lebih ke penentuan posisi dengan GPS receiver tipe NAVIGASI.
Beberapa kesalahan dalam penentuan posisi dengan metode absolut ini antara lain
disebabkan oleh : efek multipath, efek selective availability (SA), maupun kesalahan
karena ketidaksinkronan antara peta kerja dan setting yang dilakukan saat menggunakan
GPS.
Multipath adalah fenomena dimana sinyal dari satelit tiba di anttenna receiver
melalui dua atau lebih lintasan yang berbeda. Hal ini biasa terjadi jikalau kita melakukan
pengukuran posisi di lokasi-lokasi yang dekat dengan benda reflektif, seperti di samping
gedung tinggi, di bawah kawat transmisi tegangan tinggi atau lainnya. Untuk
mengatasinya : hindari pengamatan dekat benda reflektif, pakai satelit yang benar-benar baik
saja, lakukan pengukuran berulang-ulang dan dirata-rata hasilnya.
SA adalah teknik pemfilteran yang diaplikasikan untuk memproteksi ketelitian
tinggi GPS bagi khalayak umum dengan cara mengacak sinyal-sinyal dari satelit terutama
yang berhubungan dengan informasi waktu. Koreksinya hanya dapat dilakukan oleh pihak
yang berwenang mengelola GPS ataupun pihak militer Amerika saja. Pihak-pihak lain yang
mempunyai ijin untuk menggunakan data berketelitian tinggi biasanya juga diberi tahu cara
koreksinya. SA ini merupakan sumber kesalahan paling besar bagi penentuan posisi
dengan metode absolut. Namun dengan menerapkan metode relatif (differential
positioning) kesalahan tersebut dapat dikurangi. Selain itu belum lama ini pihak militer
Amerika telah merevisi kebijakan dalam menerapkan SA ini sehingga saat ini dengan
metode absolut-pun ketelitiannya sudah sangat baik dibanding sebelumnya (sudah tidak
dalam puluhan meter lagi kesalahannya).
Ketidak akuratan posisi karena setting receiver yang tidak pas ini hanya dapat
diatasi dengan menge-set parameter GPS saat dipakai sesuai dengan parameter peta kerja
yang dipergunakan. Hal tersebut biasanya terkait dengan sistem proyeksi dan koordinat,
serta datum yang digunakan dalam peta kerja.
Sekilas Tentang Sistem Koordinat
Pengenalan tentang sistem koordinat sangat penting agar dapat menggunakan
GPS secara optimum. Setidaknya ada dua klasifikasi tentang sistem koordinat yang dipakai
5
oleh GPS maupun dalam pemetaan yaitu : sistem koordinat global yang biasa disebut sebagai
koordinat GEOGRAFI dan sistem koordinat di dalam bidang proyeksi.
Koordinat GEOGRAFI diukur dalam lintang dan bujur dalam besaran derajad
desimal, derajad menit desimal, atau derajad menit detik. Lintang diukur terhadap equator
sebagai titik NOL (0o sampai 90o positif kearah utara dan 0o sampai 90o negatif kearah
selatan). Bujur diukur berdasarkan titik NOL di Greenwich 0o sampai 180o kearah timur
dan 0o sampai 180o kearah barat.
Koordinat di dalam bidang proyeksi merupakan koordinat yang dipakai pada sistem
proyeksi tertentu. Umumnya berkait erat dengan sistem proyeksinya, walaupun
adakalanya (karena itu memungkinkan) digunakan koordinat GEOGRAFI dalam bidang
proyeksi. Beberapa sistem proyeksi yang lazim digunakan di Indonesia di antaranya adalah :
proyeksi Merkator, Transverse Merkator, Universal Tranverse Merkator (UTM), Kerucut
Konformal. Masing-masing sistem tersebut ada kelebihan dan kekurangan, dan pemilihan
proyeksi umumnya didasarkan pada tujuan peta yang akan dibuat. Dari beberapa sistem
proyeksi tersebut, proyeksi Tranverse Merkator dan proyeksi Universal Tranverse
Merkator-lah yang banyak dipakai di Indonesia. Peta-peta produksi Dinas Hidro
Oseanografi (Dishidros) umumnya menggunakan proyeksi Tranverse Merkator dengan
sistem koordinat Geografi atau UTM atau gabungan keduanya. Sedangkan peta-peta
produksi Bakosurtanal umumnya menggunakan proyeksi UTM dengan sistem koordinat
UTM atau Geografi atau gabungan keduanya.
Membicarakan sistem koordinat dalam bidang proyeksi tidak dapat terlepas dari datum yang
digunakan. Ada dua macam datum yang umum digunakan dalam perpetaan yaitu datum
horisontal dan datum vertikal. Datum horisontal dipakai untuk menentukan koordinat
peta (X,Y), sedangkan datum vertikal untuk menentukan elevasi (peta topografi)
ataupun kedalaman (peta batimetri). Perhitungan dilakukan dengan transformasi matematis
tertentu. Dengan demikian transformasi antar datum, antar sistem proyeksi, dan antar sistem
koordinat dapat dilakukan. Untuk datum horisontal, peta-peta kita umumnya menggunakan
datum Padang (ID-74) untuk peta-peta Bakosurtanal, dan menggunakan datum Jakarta
(Batavia) untuk peta-peta Dishidros.
Demikianlah sekelumit mengenai GPS, penentuan posisi dengan GPS, dan sistem koordinat.
Yang perlu diingat dan perlu diperhatikan ketika mulai menggunakan GPS untuk
survei adalah datum, sistem proyeksi, dan sistem koordinat apa yang digunakan dalam
peta kerja kita sehingga kita dapat men-set up GPS sesuai dengan parameter yang ada
di peta kerja. Dengan demikian kekurangakuratan posisi dapat diminimalkan.
6
BAB III
MATERI PRAKTEK
Pengenalan GPS Garmin seri MAP 78 Series
Berikut dibawah ini, tersedia sebuah mini tutorial GPS yaitu sebuah panduan cepat cara
menggunakan GPS Garmin seri MAP 78 Series
Gambar 3.2. GPS Garmin Seri MAP 78S
TOMBOL Garmin GPS MAP 78s
1. Tombol Find
Digunakan untuk membuka menu pencarian. Tekan terus MOB (fungsi deteksi posisi) untuk
menyimpan lokasi aktif sebagai titik acuan dan memulai navigasi ke titik tersebut.
2. Tombol Power
Menghidupkan dan mematikan GPS
Menghidupkan dan mematikan lampu layar.
3. Tombol Quit
Untuk membatalkan maaupun kembali ke menu atau halaman sebelumnya.
4. Tombol Page
Untuk menggulir halaman utama.
5. Tombol Menu
Untuk membuka menu pilihan halaman yang sedang dibuka. Tekan Menu dua kali untuk
membuka menu utama (dari halaman manapun).
6. Tombol Enter/Mark
Untuk menentukan pilihan dan menerima pesan. Tekan terus mark (tandai) untuk menyimpan
lokasi aktif sebagai titik acuan.
7. Tombol Rocker (Tombol Pilih)
Tekan keatas, bawah, kanan, dan kiri untuk menentukan pilihan menu dan memindahkan
kursor peta.
8. Tombol + dan
Digunakan untuk memperbesar dan memperkecilkan tampilan peta
7
PEMASANGAN BATERAI
1. Geser penutup dibagian belakang perangkat, lalu lepaskan penutup baterai.
2. Pasang baterai sesuai polarisasinya.
3. Pasang kembali penutup baterai.
Pengukuran Situasi menggunakan Alat GPS (Global Positioning System)
1. Peralatan dan Bahan
a. GPS seri 78s
b. Baterai AA 1 pasang
c. Software AutoCad
2. Langkah Kerja
Langkah kerja dibagi menjadi dua , yang pertama adalah kegiatan pengambilan titik
koordinat menggunakan GPS dan yang kedua adalah pengolahan data menggunakan
Software AutoCad.
a. Pengambilan titik koordinat menggunakan GPS
1) Tekan tombol power pada GPS dan biarkan beberapa menit.
2) Tekan tombol menu 2 kali dan pilih menu satelit, ceklah sinyal satelit apakah
sudah siap untuk bernavigasi.
3) Jika sudah siap, tekan tombol quit 2 kali, kembali ke menu peta.
4) Tentukan beberapa titik yang akan diambil koordinatnya untuk diukur masing-
masing jarak antar titik dan mengukur luasannya.
5) Tekan tombol menu 2 kali dan pilih menu waypoint rata-rata, tekan enter.
6) Buatlah titik koordinat yang akan diambil, pilih menu buat titik (enter), dan pilih
save (enter), lakukan tahap ini jika ingin mengambil titik koordinat lebih dari 1.
Contoh Pengukuran Situasi Menggunakan GPS
Data titik koordinat Taman Politeknik Ketapang
Koordinat
Titik
X Y
1 0387714 9799102
2 0387702 9799028
3 0387481 9799074
4 0387508 9799164
8
Pengolahan Data menggunakan AutoCad
Menu tampilan software AutoCad
Pertama Klik Menu Point seperti pada gambar, dan masukkan titik koordinat yang sudah
didapatkan dari alat GPS nilai X dan Y, setelah dimasukkan tekan enter.
9
Selanjutnya klik menu format, point style. Pilih salah satu titik point style yang anda inginkan
dan masukkan point size yang anda inginkan, klik ok.
Setelah itu, klik menu polyline dan klik pada point (titik) untuk menghubungkan antar titik,
seperti pada gambar diatas.
10
Beri keterangan setiap point (titik) menggunakan menu Multiline Text seperti pada gambar.
Klik menu dimension dan pilih menu linear untuk mengetahui jarak antar titik seperti pada
gambar di atas.
11
Untuk mengetahui luasan daerah, klik pada garis antar titik, kemudian ketik list dan enter.
Muncul jendela baru seperti dikanan atas, dan tulisan bertanda hitam adalah luasan dari
daerah yang kita telah titik koordinatnya.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H.Z., 1993. Sinyal dan Data Pengamatan GPS. Majalah S&P Vol. 10; No. 4; pp : 1 -
14.
Abidin, H.Z., 1994. Surveyor Indonesia dalam Era GPS. Majalah S&P Vol. 11; No. 1; pp :
35 - 46.
Prihandito, A., 1988. Proyeksi Peta. Kanisius, Yogyakarta, 124pp.
Manual Garmin GPS
13