Anda di halaman 1dari 10

Pengertian Pembangkit Listrik OTEC

OTEC atau yang merupakan singkatan dari Ocean Thermal Energy Conversion
merupakan salah satu teknik terbaru yang bertujuan untuk merubah energi yang ada di
dalam lautan menjadi energi terbarukan yang salah satunya berupa energi listrik.

Sistem kerja OTEC mirip dengan sistem kerja siklus hidrologi di bumi yaitu
ketika pada siang hari, matahari mengangkat molekul-molekul air mengalami
penguapan (evaporation) ke awan lalu angin meniupkan ke arah daratan dan saat terjadi
pengembunan (condensation) di awan, maka butiran-butiran air yang tadinya berupa
uap kembali menjadi cair lalu turun ke darat. Sistem kerja inilah yang ditiru oleh OTEC
yaitu memompa air laut permukaan yang bertemperatur tinggi (hangat) dan
mengevaporasikannya kedalam turbin untuk menghasilkan listrik lalu
mengkondensasikannya kembali dengan air laut dingin yang diambil pada laut dalam
dan kemudian siklus berulang (Rahman,2008).

Sejarah Singkat Pembangkit Listrik OTEC

Sistem OTEC adalah suatu teknologi terbaru, konsepnya memiliki jalan


pengembangan yang panjang. Dimulai pada tahun 1881, yaitu ketika Jacques Arsene
d’Arsonval fisikawan prancis yang mengajukan konsep konversi energi termal lautan.
Dan muridd’Arsonval George Claud yang membuat pembangkit listrik OTEC,pertama
kalinya di Kuba pada tahun 1930. Pembangkit listrik itu menghasilkan listrik 22
kilowatt(kw) dengan turbin bertekanan rendah.

Pada tahun 1931, Nikola Tesla meluncurkan buku On Future Motive Power
yang mencakup konversi energi termal lautan. Meski ia tertarik dengan konsep
tersebut, ia beranggapan bahwa hal ini tidak bisa dilakukan dalam skala besar. Pada
tahun 1935, Claude membangun pembangkit kedua di atas 10000 ton kargo yang
mengapung di atas lepas pantai Brazil. Namun cuaca dan gelombang menghancurkan
pembangkit listrik tersebut sebelum bisa menghasilkan energi. Pada tahun 1956, para
fisikawan Prancis mendesain 3 megawatt pembangkit listrik OTEC di Abidjan, Pantai
Gading. OTEC itu tak pernah selesai karena murahnya harga minyak di tahun 1950an
yang membuat pembangkit listrik tenaga minyak lebih ekonomis.

Pada tahun 1962, J. Hilbert Anderson dan James H. Anderson, Jr. mulai
mendesain sebuah siklus untuk mencapai tujuan yang tidak dicapai Claude. Mereka
fokus pada pengembangan desain baru dengan efisiensi yang lebih tinggi. Setelah
menganalisa masalah yang ditemukan pada desain Claude, akhirnya mereka
mematenkan desain siklus tertutup buatan mereka pada tahun 1967. Amerika serikat
mulai terlibat pada penelitian OTEC pada tahun 1974, ketika otoritas Natural Energy
Laboratory of Hawaii mendirikan Keahole Point di Pantai Kona, Hawaii. Laboratorium
itu merupakan fasilitas penelitian dan percobaan OTEC terbesar di dunia. Hawaii
merupakan lokasi yang cocok untuk penelitian OTEC karena permukaan lautnya yang
hangat dan akses ke laut dalam yang dingin. Selain itu, Hawaii juga negara bagian yang
biaya listriknya cukup mahal di Amerika Serikat.

Meski Jepang tidak memiliki tempat yang berpotensial untuk mendirikan


OTEC, namun Jepang banyak berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan
OTEC , terutama untuk ekspor dan penerapannya di luar negeri. Salah satu proyek
Jepang dalam pengembangan OTEC adalah fasilitas OTEC di Nauru yang
menghasilkan 120 kW listrik. 90 kW dimanfaatkan untuk menggerakkan fasilitas
OTEC tersebut dan 30 kW dialirkan ke sekolah-sekolah dan beberapa tempat di Nauru.

Konsep Pembangkit Listrik OTEC

Ide pemanfaatan energi panas laut bersumber dari adanya perbedaan temperatur
di dalam laut. Jika anda pernah berenang di laut dan menyelam ke bawah
permukaannya, anda tentu menyadari bahwa semakin dalam di bawah permukaan,
airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut lebih hangat karena panas
dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. Tapi di bawah permukaan,
temperatur akan turun dengan cukup drastis. Inilah sebabnya mengapa penyelam
menggunakan pakaian khusus selam ketika menyelam jauh ke dasar laut. Pakaian
khusus tersebut dapat menangkap panas tubuh sehingga menjaga mereka
tetap hangat.Sinarmatahari yang jatuh di lautan diserap oleh air laut secara efektif dan
energi tersebut tertahan pada lapisan permukaan laut pada kedalaman 35– 100m,
dimana gaya angin dan gelombang menyebabkan temperatur dan kadar garam
mendekati uniform. Pada wilayah lautan tropis yang terletak kira–kira diantara 15°
lintang utara dan 15° lintang selatan, energi panas yang diserap dari matahari memanasi
air laut pada mixed layer dengan suhu sekitar 28°C (82°F) yang konstant siang dan
malam setiap bulan (Avery and Wu.1994). Dibawah mixed layer, air laut menjadi
semakin dingin seiring dengan pertambahan kedalaman hingga mencapai kedalaman
800 sampai 1000m (2500 to 3300ft), temperatur air berubah menjadi 4,4°C (40°F).
Pada kedalaman 900 m keatas terdapat reservoir air dingin yang sangat besar. Air
dingin ini merupakan akumulasi dari air dan es yang mencari dari daerah kutub.

Gambar 1. Citra Satelit Temperature Permukaan Laut

(NASA.2009)

Hal diatas adalah adanya reservoir air panas yang besar di permukaan dan
reservoir air dingin dibawah dengan perbedaan suhu sekitar 22°C sampai 25°C.
Temperatur ini tak berubah drastis sepanjang tahun, dengan variasi beberapa derajat
akibat adanya peru- bahan cuaca dan musim,dan perbedaan suhu antara pergantian
siang dan malam hanya berefek sekitar 1 derajat (Rahman.2008). Konsep
pembangunan pembangkit listrik OTEC dapat di bangun di darat maupun di tengah
lautan seperti gambar dibawah ini:

Gambar 2 Pusat Listrik Konversi Energi Panas Laut (a) di Pantai, (b) di Laut

Gambar (a) memperlihatkan skema suatu pusat listrik OTEC yang terletak di
darat, yaitu di tepi pantai. Tampak menonjol pipa pengambil air dingin, yang
merupakan komponen yang penting. Dari Gambar tersebut juga dapat disimpulkan,
bahwa gradient turun pantai harus curam. Bila tidak, maka pipa mejadi terlampau
panjang, untuk dapat mencapai kedalaman 600 meter. Dalam hal demikian, maka
kemungkinan lain, adalah pusat listrik OTEC terapung, sebagaimana terlukis pada
Gambar (b), yang akan memutuskan kabel laut untuk penyaluran energi listrik.

Prinsip Kerja Pembangkit Listrik OTEC

Suatu jumlah energi yang besar yang diserap oleh lautan dalam bentuk panas
yang berasal dari penyianaran matahari dan yang berasal dari magma yang terletak di
bawah dasar laut. Suhu permukaan air laut di sekitar garis khatulistiwa berkisar antara
25 sampai 300 C. Di bawah permukaan air, suhu ini menurun dan mencapai 5 sampai
70C sepanjang tahun pada kedalaman lebih kurang 500 meter. Selisih suhu ini dapat
dimanfaatkan untuk menjalankan meisn penggerak berdasar prinsip termodinamika,
dan dengan mempergunakan suatu zat kerja yang mempunyai titik mendidih yang
rendah; pada dasarnya mesin penggerak ini dapat digunakan untuk pembangkitan
listrik. Gas Fron R-22 (CHCLF2), Amonia (NH3) dan gas Propan (C3H6) mempunyai
titik mendidih yang sangat rendah, yaitu antara -30 sampai -500C pada tekanan
atmosferik, dan +300C pada tekanan antara 10 dan 12,5 kg/cm2. Gas-gas inilah yang
prospektif untuk digunakan zat kerja pada konversi panas laut.

Gambar 3. Skema Prinsip Konversi Energi Panas Laut (KEPL)

Dalam Gambar terlihat skema prinsip konversi energi panas laut menjadi energi
listrik. Air hangat, dengan suhu antara 25 dan 300C dibawa ke evaporator. Bahan zat
kerja, misalnya Fron R-22, yang berada dalam bentuk cair, dipanaskan oleh air hangat
ini, mendidih, dan kemudian menguap menjadi gas dengan tekanan sekitar 12 kg/cm2.
Gas dengan tekanan ini dibawa ke turbin, yang menggerakkan sebuah generator. Gas
yang telah dipakai, setelah meninggalkan turbin, didinginkan dalam kondensor oleh air
laut dingin, yang mempunyai suhu sekitar 5-70C, sehingga Fron R-22 kembali menjadi
cair. Siklus berulang setelah Fron R-22 yang cair ini dipompa kembali ke dalam
evaporator.Dengan demikian terdapat suatu siklus dari medium, dalam hal ini Fron R-
22, dari keadaan cair menjadi gas, kembali menajadi cair, dan seterusnya.

Sistem Power Pembangkit Listrik Tenaga OTEC

Sistem power OTEC dapat dibagi kedalam tiga kategori yaitu:

•Open cycle (Siklusterbuka).


•Closed cycle (Siklus tertutup )

•Hybrid cycle ( Siklus hybrid )

1. Siklus Terbuka

Pada siklus terbuka, air laut permukaan yang hangat langsung diuapkan pada
ruang khusus bertekanan rendah. Kukus yang dihasilkan digunakan sebagai fluida
penggerak turbin bertekanan rendah. Kukus keluaran turbin selanjutnya dikondensasi
dengan air laut yang lebih dingin dan sebagai hasil yang terjadi hasilnya diperoleh air
desalinasi. Pada siklus gabungan, air laut yang hangat masuk ke dalam ruang vakum
untuk diuapkan dalam sekejap (flash- evaporated) menjadi kukus (seperti siklus
terbuka). Kukus tersebut kemudian menguapkan fluida kerja yang memutar turbin
(seperti siklus tertutup). Selanjutnya kukus kembali dikondensasi menjadi air
desalinasi.
Siklus terbuka dengan mendidihkan air laut yang beroperasi pada tekanan
rendah, menghasilkan uap air panas yang melewati turbin penggerak /generator Siklus
tertutup menggunakan panas permukaan laut untuk menguapkan fluida penggerak
dengan Amonia atau Freon. Uap panas menggerak- kan turbin, kemudian turbin
berkerja menghidupkan generator untuk menghasil- kan listrik. Prosesnya, air laut yang
angat dipompa melewati tempat pengubah. dimana fluida pemanas tekanan rendah
diuapkan hingga menjalankan turbo- generator. Air dingin dari dalam laut dipompa
melewati pengubah digunakan sebagai medium kerja maupun sebagai sumber energi.
Air hangat yang berasal dari permukaan laut diuapkan dalamsuatu alat penguap (flash
evaporator) dan menghasilkan uap air dengan tekanan yang sangat rendah, l.k. 0,02
hingga 0,03 bar dan suhu kira-kira 20°C. Uap itu memutar sebuah turbin uap yang
merupakan penggerak mula bagi generator yang menghasilkan energi listrik (Gambar
3). Karena tekanan uap itu rendah sekali maka ukuran–ukuran turbin menjadi sangat
besar. Setelah melewati turbin, uap yang sudah dimanfaatkan dialirkan kesebuah
kondensor yang menghasilkan air tawar. Kondensor didinginkan oleh air laut yang
berasal dari lapisan bawah permukaan laut. Dengan demikian, metode dengan siklus
Claude terbuka ini menghasilkan energi listrik maupun air tawar. Masalah dengan
metode ini adalah bahwa ukuran– ukuran turbin menjadi sangat besar oleh karena
tekanan uap yang begitu rendah. Sebagai contoh, sebuah modul sebesar 10MW yang
terdiri atas penguap, turbin dan kondensor, akan memerlukan ukuran garis tengah dan
panjang 100 meter.

Gambar 4.Penbangkit Listrik Tenaga OTEC (Siklus Terbuka)

2. Siklus Tertutup

Dalam kaitan ini maka metode kedua, yaitu dengan siklus tertutup, merupakan
pilihan yang pada saat ini lebih disukai dan digunakan banyak proyek percobaan.
Seperti yang terlihat pada gambar 4, air permukaan yang hangat dipompa kesebuah
penukar panas atau evaporator, dimana energi panas dilepaskan kepada suatu medium
kerja, misalnya amonia. Amonia cair itu akan berubah menjadi gas dengan tekanan
kira- kira 8,7 bar dan suhu ±21oC. Turbin berputar menggerakkan generator listrik
yang menghasilkan energi listrik. Gas amonia akan meninggalkan turbin pada tekanan
kira-kira5,1 bar dan suhu ±11oC dan kemudian di bawa ke kondensor.
Pendinginan pada kondensor mengakibatkan gas amonia itu kembali menjadi bentuk
benda cair. Perbedaan suhu dalam rangkaian perputaran amonia adalah 10oC sehingga
rendemen Carnot akan menjadi :

tetapi menjadi tidak ekonomis karena menjadikan OTEC sulit bersaing dengan
pemanfaatan hidrokarbon secara langsung. Selain itu, yang juga perlu diperhatikan
adalah ukuran pembangkit listrik OTEC bergantung pada tekanan uap dari fluida kerja
yang digunakan. Semakin tinggi tekanan uapnya maka semakin kecil ukuran turbin dan
alat penukar panas yang dibutuhkan, sementara ukuran tebal pipa dan alat penukar
panas bertambah untuk menahan tingginya tekanan terutama pada bagian evaporator
Rendemen ini merupakan efisiensitermodinamika yang baik sekali, namun didalam
praktek rendemen yang sebenarnya akan terjadi lebih rendah, yaitu sekitar 2–2,5%.
Pada rancangan-rancangan terkini suatu arus air sebesar 3–5m3/s baik pada sisi air
hangat maupun pada sisi air dingin, diperlukan untuk menghasilkan daya sebesar 1
MW pada generator. Selain amonia (NH3), juga Fron-R-22 (CHClF2) dan Propan
(C3H6) memiliki titik didih yang sangat rendah, yaitu antara -30°C sampai -50°C pada
tekanan atmosfer dan 30°C pada tekanan antara 10 dan 12,5Kg/cm2. Gas-gas inilah
yang prospektif untuk dimanfaatkan sebagai medium kerja pada konversi energi panas
laut.
Fluida kerja yang populer digunakan adalah amonia karena tersedia dalam jumlah
besar, murah, dan mudah ditransportasikan. Namun, amonia beracun dan mudah
terbakar. Senyawa seperti CFC dan HCFC juga merupakan pilihan yang baik,
sayangnya menimbulkan efek penipisan lapisan ozon. Hidrokarbon juga dapat
digunakan, akan tetapi menjadi tidak ekonomis karena menjadikan OTEC sulit
bersaing dengan pemanfaatan hidrokarbon secara langsung. Selain itu, yang juga perlu
diperhatikan adalah ukuran pembangkit listrik OTEC bergantung pada tekanan uap dari
fluida kerja yang digunakan. Semakin tinggi tekanan uapnya maka semakin kecil
ukuran turbin dan alat penukar panas yang dibutuhkan, sementara ukuran tebal pipa
dan alat penukar panas bertambah untuk menahan tingginya tekanan terutama pada
bagian evaporator.

3.Siklus hybrid

Siklus hybrid menggunakan keunggulan sistem siklus terbuka dan tertutup. Siklus
hybrid menggunakan air laut yang diletakkan di tangki bertekanan rendah untuk
dijadikan uap. Lalu uap tersebut digunakan untuk menguapkan fluida bertitik didih
rendah (amonia atau yang lainnya). Uap air laut tersebut lalu dikondensasikan untuk
menghasilkan air tawar desalinasi.

Gambar 5. skema Pembangkit Listrik OTEC (Siklus Hybrid)

d. Efisiensi OTEC

Ada teori limit, hingga efisiensi maksimum dari sebuah sistem OTEC dengan
mengkonversi panas yang disimpan di air permukaan hangat dari lautan tropis menjadi
kerja mekanis.
Dimana :

η max = efisiensi carnott

Tw = Temperatur absolut dari air hangat

Tc = Temperatur absolut dari air dingin.

Untuk wilayah laut yang paling cocok untuk operasi OTEC, temperatur permukaan
rata-rata tiap tahunannya adalah berkisar 26.7o C hingga 29.4o C. Cold water pada 4.4
o C atau dibawah tersedia pada kedalaman dari 900 m. Oleh karena itu, maksimum
efisiensi heat OTEC bahkan tanpa reduksi yang tak dapat dihindari disebabkan oleh
friksi dan kehilangan panas, dapat dicapai hanya pada laju yang sangat kecil dari
produksi power. Efsiensi adalah perbandingan dari energi atau hasil kerja pada sistem
ke dalam input energi ke dalam sistem.