Anda di halaman 1dari 3

amerika serikat dan Indonesia juka ikut terkait karena berkaitan dengan keberadaan kasus

yang saling berkaitan yang melibatkan lintas negara.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Aparat Amerika Serikat tengah menyelidiki perusahaan

aplikasi layanan transportasi, Uber, karena diduga melanggar Undang-undang antikorupsi dengan

menyuap polisi Indonesia.

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, yang dikutip Kompas.com dari BBC Indonesia,

Departemen Kehakiman AS menyoroti pembayaran tak lazim yang dilakukan Uber tahun

lalu.

Disebutkan bahwa kepolisian Indonesia menjelaskan kepada Uber bahwa kantor mereka

di Jakarta terletak di wilayah yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk membuka

usaha.

Sumber Bloomberg mengungkap seorang karyawan Uber kemudian beberapa kali

mengirim uang kepada polisi agar Uber dapat terus beroperasi di kantor tersebut.

Transaksi itu muncul dalam laporan pengeluaran dengan menyebut rincian pembayaran

kepada aparat.

Belakangan, menurut sumber Bloomberg, Uber memecat karyawan itu. Adapun Alan

Jiang, selaku direktur bisnis Uber di Indonesia yang menyetujui laporan pengeluaran itu,

cuti dan kemudian mengundurkan diri dari Uber.

Jiang menolak berkomentar mengenai kasus ini. Kepada BBC Indonesia, pihak Uber

Indonesia berjanji akan segera merilis keterangan.


Kasus tersebut lantas diketahui sedikitnya seorang anggota senior divisi hukum Uber,

namun awalnya dia memutuskan tidak melaporkan kasus ini kepada aparat Amerika

Serikat.

Baru setelah Departemen Kehakiman AS mengonfrontasi Uber mengenai dugaan

pelanggaran Undang-Undang Tindak Korupsi di Luar Negeri (Foreign Corrupt Practices

Act), Uber memaparkan apa yang terjadi di Indonesia.

Sumber kantor berita Reuters mengatakan bahwa laporan yang dibuat Bloomberg benar

adanya.

Uber mengaku tengah bekerja sama dengan para penyelidik, namun menolak

berkomentar lebih lanjut. Wyn Hornbuckle, juru bicara Departemen Kehakiman AS,

menolak berkomentar.

Namun, pada Agustus lalu, perusahaan yang berbasis di San Francisco itu mengaku

tengah bekerja sama dalam penyelidikan awal Departemen Kehakiman AS mengenai

penyuapan pejabat asing.

Penyelidikan aparat AS terhadap Uber tak hanya terbatas di Indonesia. Uber juga

diselidiki atas dugaan memberi 'uang pelicin' kepada pejabat Malaysia.

Pada 2016, dana pensiun Malaysia atau Kumpulan Wang Persaraan menanamkan 30 juta

dollar AS (Rp 398 miliar) di Uber. Kurang dari setahun kemudian, pemerintah Malaysia

meloloskan aturan soal transportasi online.


Bisnis Uber di China dan Korea Selatan pun turut diselidiki atas dugaan pelanggaran

Undang-Undang Tindak Korupsi di Luar Negeri.