Anda di halaman 1dari 1

KEsimpulan

Meskipun Amerika Serikat merupakan negara yang maju dan kuat, namun te
permasalahan korupsi tetaplah menjadi ancaman. Sejarah mencatat, Amerika mulai
giat memerangi korupsi ketika terjadi bermacam skandal pada tahun 1970-an,
diantaranya skandal Watergate. Meskipun begitu, Amerika Serikat sendiri tak
memiliki lembaga khusus yang menangani masalah korupsi. Semua kasus korupsi
dilimpahkan ke polisi, Department of Justice (DOJ) yang bekerja sama
dengan Securities of Exchange Commitee (SEC). Terkadang juga mencari data
di Internal Service Revenue (IRS).

Adapun peraturan yang dipakai untuk menjerat kasus korupsi diantaranya


ialah Foreign Corrupt Practises Act (FCPA) dan Sarbanes Oaxley
Act (SOA) yang banyak mengatur tentang akuntansi forensik, audit daninternal
control yang digunakan untuk mencegah dan mengungkap kasus korupsi. UU ini
dapat menjerat seluruh warga negaranya, tak hanya yang tinggal di Amerika
Serikat saja, namun juga yang tinggal di negara lain, menjadikan Amerika Serikat
negara yang cukup ketat melakukan berbagai pembatasan dan pencegahan tindak
korupsi, penggelapan maupun penyuapan. Sayangnya dengan perijinan perusahaan
berbentuk shell corporationagaknya menjadi sebuah bumerang bagi Amerika
Serikat dalam memerangi korupsi, karena memberikan celah bagi warga negaranya
maupun warga negara lain untuk

melakukan pencucian uang dalam bentuk shell corporation ini.

Dengan sudah ditandatanganinya perjanjian bilateral antara Indonesia dan Amerika


Serikat dalam memerangi korupsi, dapat menjadi bahan untuk bertukar informasi,
penanganan korupsi, serta pertukaran ahli maupun pelatihan antar kedua negara,
diharapkan agar menjadikan negaranya lebih bersih adri korupsi, tak hanya
menerapkan good governance namun juga clean governance.