Anda di halaman 1dari 1

KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO

Sesuai Australian Standard Guidelines Companion to AS:NZS 436:2004, manajemen risiko dilakukan
dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang untuk meningkatkan outcome
perusahaan dan mengurangi dampak negatif dari risiko. Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan
terjadinya sesuatu yang akan berdampak pada pencapaian tujuan. Ruang lingkup risiko dapat berupa
risiko negatif dan risiko positif. Sementara itu, PBB mendefinisikan risiko sebagai kerugian atau bahaya
yang diprediksi akan muncul di masa depan yakni, “refers to the expected losses from a particular hazard
to a specified element at risk in a particular future time period. Losses may be estimated in terms of
human lives, or infrastructure damaged or in financial terms”.
Sebagai salah satu industri strategis nasional, industri perkeretaapian tentu diharuskan memiliki
suatu kebijakan manajemen risiko yang terintegrasi dalam proses bisnisnya untuk mendukung
pengambilan keputusan oleh manajemen. Kebijakan manajemen risiko dari PT INKA, selaku BUMN
penyelenggara industri perkeretaapian, tercantum dalam Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-
9/MBU/2012 tentang Penerapan Tata Kelola yang Baik (Good Corporate Governance) pada BUMN. Dalam
pasal 2 ayat 2 disebutan bahwa dalam rangka penerapan GCG, Direksi diwajibkan untuk menyusun GCG
manual yang memuat salah satunya manajemen risiko manual. Secara lebih rinci, pasal 25 menegaskan
bahwa setiap pengambilan keputusan manajemen harus mempertimbangkan risiko usaha dan wajib
membangun dan melaksanakan program manajemen resiko yang terpadu. Untuk penerapan manajemen
risiko sendiri dilakukan dengan cara membentuk unit kerja tersendiri di bawah direksi ataupun dengan
memberi penugasan pada unit kerja yang ada dan relevan untuk menjalankan fungsi manajemen resiko.
Profil manajemen risiko dan penanganannya akan dilaporkan bersamaan dengan laporan berkala
perusahaan.