Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

EVALUASI PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA

KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA BANTAENG

Disusun oleh:

MUHAMMAD RICO PERDANA (23)

NPM 1401160062

Kelas 8D Program D-IV Akuntansi

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Audit Internal

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

PROGRAM DIPLOMA IV AKUNTANSI

TANGERANG SELATAN
JUNI 2017

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
ABSTRAK .............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ................................................................................................. 2
D. Ruang Lingkup Pembahasan ............................................................................... 2
E. Metode Penelitian ................................................................................................ 3
F. Sistematika Pembahasan ...................................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 4
A. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah .............................................................. 4
B. Konsep Three Lines Defense ............................................................................... 5
C. Unit Kepatuhan Internal ....................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN .......................................................... 8
A. Lingkungan Pengendalian KPP Pratama Bantaeng ............................................ 8
B. Penilaian Risiko KPP Pratama Bantaeng........................................................... 11
C. Kegiatan Pengendalian KPP Pratama Bantaeng................................................ 14
D. Informasi dan Komunikasi KPP Pratama Bantaeng ......................................... 15
E. Pemantauan KPP Pratama Bantaeng................................................................... 18
BAB IV PENUTUP .................................................................. 23
A. Simpulan .......................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 25

ii
ABSTRAK

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah merupakan amanat Undang-Undang Nomor 1


tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 58 ayat 1 dan 2. Dengan adanya amanat
tersebut lahirlah Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah yang mengadopsi dari COSO. Dalam penerapan SPIP, salah satu kendala
dan hambatan adalah ketidahtahuan dan kurangnya pemahaman manajemen atas pentingnya
pelaksanaan pengendalian intern terlebih untuk instansi yang mempunyai struktur organisasi
panjang dan menyebar seperti Direktorat Jenderal Pajak. Makalah ini bertujuan untuk
mengetahui penerapan pengendalian intern dalam lingkup KPP dimana peran low class
management dan middle class management sangat tinggi. Teknik pengumpulan data melalui
studi kepustakaan (literatur) dan dokumentasi. Penulisan menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif dan studi kasus. Berdasarkan hasil pembahasan penerapan pengendalian intern di
KPP Pratama Bantaeng sudah cukup baik sesuai dengan aturan yang berlaku, tapi masih
ditemukan beberapa kendala dalam penerapan pengendalian intern terutama di unsur
penilaian risiko, kegiatan pengendalian, dan pemantauan pengendalian intern.

Kata kunci : Sistem Pengendalian Intern Pemerntintah, COSO, pengendalian intern.

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan kegiatan pada suatu Instansi Pemerintah, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, sampai dengan pertanggungjawaban, harus dilaksanakan secara
tertib, terkendali, serta efektif dan efisien. Untuk mewujudkannya dibutuhkan suatu sistem
yang dapat memberi keyakinan memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana dan dapat mencapai tujuan. Sistem inilah yang dikenal
sebagai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). SPIP mempunyai tujuan untuk
memberikan keyakinan yang memadai bagi terciptanya efektivitas dan efisiensi pencapaian
tujuan penyelenggaraan pemerintah negara, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset
negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah lahir dari amanat Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat 1 dan 2, yang memerintahkan
pengaturan lebih lanjut mengenai sistem pengendalian intern pemerintah secara menyeluruh
dengan Peraturan Pemerintah. Dengan adanya amanat tersebut maka lahirlah Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang
memberikan pengaturan yang lebih jelas mengenai sistem pengendalian intern pemerintah
yang mengadopsi dari COSO dimana unsur-unsur pengendalian terdiri atas lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan
pemantauan pengendalian intern.
Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas utama dalam perumusan, penetapan,
dan pelaksanaan kebijakan di bidang penganggaran, pajak, kepabean dan cukai,
perbendaharaan, kekayaan negara, perimbangan keuangan, dan pengelolaan pembiayaan dan
risiko merespon munculnya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 dengan
menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka Kerja
Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis Pemantauan Pengendalian Intern di
Lingkungan Kementerian Keuangan. Dengan terbitnya peraturan tersebut, seluruh unit eselon
I di bawah Kementerian Keuangan harus mulai melaksanakan penerapan pengendalian intern
sesuai dengan aturan yang telah diterbitkan.
Dalam penerapan SPIP yang sudah mulai digaungkan sejak terbitnya Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, ternyata masih terdapat beberapa kendala dan hambatan
dalam pelaksanaanya. Salah satu kendala dan hambatan yang sering ditemukan adalah

1
ketidahtahuan dan kurangnya pemahaman manajemen atas pentingnya pelaksanaan
pengendalian intern untuk menghilangkan atau mengurangi segala masalah dan risiko yang
dapat menghambat organisasi dalam mencapai tujuannya. Hal ini dapat menjadi lebih serius
jika struktur organisasi begitu panjang, tersebar, dan tiap low class management dan middle
class management mempunyai kewenangan yang cukup besar padahal pengawasan top class
management sangat terbatas.
Berdasarkan latar belakang di atas, menarik untuk membahas lebih dalam mengenai
kegiatan penerapan pengendalian intern di Direktorat Jenderal Pajak yang merupakan salah
satu unit eselon I di bawah Kementerian Keuangan yang mempunyai struktur organisasi
dengan jenjang hierarki yang panjang serta unit kerja yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ruang lingkup pembahasan yang akan diambil adalah Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Pratama dimana peran low class management dan middle class management sangat
berpengaruh terhadap penerapan pengendalian intern yang dapat berakibat langsung pada
kinerja instansi, reputasi instansi, dan tingkat kepuasan stakeholder atas pelayanan yang
diberikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang disampaikan, rumusan masalah dalam makalah ini
adalah mengenai bagaimana implementasi penerapan pengendalian intern berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka Kerja Penerapan
Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan pada KPP Pratama Bantaeng.

C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui implementasi penerapan


pengendalian intern berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013
tentang Kerangka Kerja Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian
Keuangan pada KPP Pratama Bantaeng.

D. Ruang Lingkup Pembahasan

Pembahasan makalah ini dibatasi pada implementasi penerapan pengendalian intern


berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka Kerja
Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan. Unit kerja yang akan
dijadikan objek penelitian adalah KPP Pratama Bantaeng atas penerapan unsur-unsur
pengendalian intern yang meliputi lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan

2
pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Pada makalah ini juga akan
dijelaskan mengenai program-program yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak
dalam lingkup KPP untuk mendukung penerapan pengendalian intern yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E. Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah deskriptif kualitatif,
yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi dari objek penulisan. Objek penulisan dari
makalah ini adalah kegiatan penerapan pengendalian intern pada KPP Pratama Bantaeng.
Teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan dokumentasi. Jenis data yang
digunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder berupa peraturan/dasar hukum sistem
pengendalian intern pemerintah, rencana pemantauan tahunan 2017 yang dikeluarkan
Direktorat KITSDA, standard operating procedure pelaksanaan pemantauan dan pelaporan
pemantauan, buku dan tulisan mengenai sistem pengendalian intern pemerintah khususnya
pada lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

F. Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang dari pembahasan, rumusan masalah,
tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penelitian, serta
sistematika pembahasan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menyajikan landasan teori dari permasalahan yang di bahas. Akan
dijelaskan mengenai sistem pengendalian internal pemerintah, konsep three
lines defense, serta pembagian level dan tugas unit kepatuhan internal.
BAB III PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan pembahasan mengenai implementasi penerapan
pengendalian intern pada KPP Pratama Bantaeng yang mencakup lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan
komunikasi serta pemantauan.
BAB IV PENUTUP
Pada bagian ini disampaikan simpulan dari pembahasan yang telah dilakukan.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah, sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang
efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan. Sedangkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
(SPIP) adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di
lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
terdiri dari lima unsur yaitu :
1. Lingkungan Pengendalian
Pasal 4 PP Nomor 60 Tahun 2008 menyatakan Pimpinan Instansi Pemerintah wajib
menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif
dan kondusif untuk penerapan sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerjanya,
melalui (a) penegakan integritas dan nilai etika, (b) komitmen terhadap kompetensi, (c)
kepemimpinan yang kondusif, (d) pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan
kebutuhan, (e) pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, (f) penyusunan dan
penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, (g) perwujudan
peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif, dan (h) hubungan kerja yang baik
dengan instansi pemerintah terkait.
2. Penilaian Risiko
Pasal 13 PP Nomor 60 Tahun 2008 menyebutkan bahwa setiap pimpinan instansi
pemerintah wajib melakukan penilaian risiko yang terdiri dari (1) identifikasi risiko atas
risiko intern dan ekstern yang dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan tersebut
dan (2) analisis risiko yang memiliki probabilitas kejadian dan dampak risiko yang sangat
tinggi sampai dengan yang sangat rendah.
3. Kegiatan Pengendalian
Pasal 18 PP Nomor 60 Tahun 2008 menyatakan pimpinan instansi pemerintah wajib
menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari
4
tugas dan fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan. Kegiatan pengendalian terdiri dari:
(a) reviu atas kinerja instansi pemerintah yang bersangkutan, (b) pembinaan sumber daya
manusia, (c) pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, (d) pengendalian fisik atas aset,
(e) penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja, (f) pemisahan fungsi, (g) otorisasi
atas transaksi dan kejadian yang penting, (h) pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas
transaksi dan kejadian, (i) pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya, (j)
akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya, dan (k) dokumentasi yang baik atas
sistem pengendalian intern serta transaksi dan kejadian penting.
4. Informasi dan Komunikasi
Pasal 41 PP Nomor 60 tahun 2008 menyatakan bahwa pimpinan instansi pemerintah
wajib mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan
waktu yang tepat. Untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif sekurang-kurangnya
lewat (a) menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi dan (b)
mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi secara terus menerus.
5. Pemantauan
Pasal 43 PP Nomor 60 tahun 2008 menyatakan bahwa pimpinan instansi pemerintah
wajib melakukan pemantauan sistem pengendalian intern. Pemantauan Sistem Pengendalian
Internal dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut
rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya.

Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui kegiatan pengelolaan rutin,


supervisi, pembandingan, rekonsiliasi, dan tindakan lain yang terkait dalam pelaksanaan
tugas. Evaluasi terpisah diselenggarakan melalui penilaian sendiri, reviu, dan pengujian
efektivitas SPI yang dapat dilakukan aparat pengawasan internal pemerintah atau pihak
eksternal pemerintah dengan mengunakan daftar uji pengendalian intern. Tindak lanjut
rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya harus segera diselesaikan dan dilaksanakan sesuai
dengan mekanisme penyelesaian rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya yang ditetapkan.

B. Konsep Three Lines of Defense


Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka
Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis Pemantauan Pengendalian Intern
di Lingkungan Kementerian Keuangan, konsep tiga lini pertahanan memandang
implementasi pengendalian intern sebagai lini pertahanan tiga lapis yaitu :
1. Lini pertahanan pertama adalah manajemen dan seluruh pegawai yang melaksanakan
proses bisnis. Lini pertahanan ini merupakan lini pertahanan terpenting dalam mencegah

5
kesalahan, mendeteksi kecurangan, serta mengidentifikasi kelemahan dan kerentanan
pengendalian. Dengan demikian, seluruh pimpinan dan pegawai harus memahami dan
melaksanakan dengan sungguh-sungguh tugas dan tanggung jawab pengendalian kegiatan
masing-masing. Peran dan tanggung jawab manajemen dan setiap pegawai Kementerian
Keuangan adalah (1) pimpinan unit eselon I menetapkan kebijakan penerapan
pengendalian intern unit eselon I, (2) pimpinan unit eselon I melaporkan hasil
pemantauan pengendalian intern unit eselon I kepada Menteri Keuangan, (3) setiap level
pimpinan unit eselon I sampai dengan unit eselon IV berperan aktif dalam menciptaan
dan memelihara lingkungan pengendalian yang kondusif, dan (4) setiap level pimpinan
unit eselon I sampai dengan unit eselon IV dan setiap pegawai berperan aktif dalam
melaksanakan unsur-unsur pengendalian intern berupa penilaian risiko, kegiatan
pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan berkelanjutan sesuai dengan
tugas dan tanggung jawabnya.
2. Lini pertahanan kedua merupakan fungsi pemantauan. Dalam konteks pengendalian
intern di Kementerian Keuangan, fungsi ini dijalankan oleh Unit Kepatuhan Internal yang
bertugas memantau pengendalian intern di setiap tingkatan manajemen. Unit pemantau
ini harus memperingatkan lini pertahanan pertama apabila dijumpai kelemahan
pengendalian intern baik dari segi tahapan rancangan sampai dengan tahapan
pelaksanaanya. Peran dan tanggung jawab adalah (1) mendorong pengembangan dan
penerapan pengendalian intern sesuai tugas dan tanggung jawabnya, (2) melakukan
pemantauan pengendalian intern sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan (3)
melaporkan hasil pemantauan pengendalian intern kepada pimpinan dan Inspektur
Jenderal.
3. Lini pertahanan ketiga adalah fungsi auditor internal. Dalam konteks pengendalian intern
di Kementerian Keuangan, fungsi ini dijalankan oleh Inspektorat Jenderal. Dengan
demikian, seluruh organisasi harus memperhatikan dengan seksama rekomendasi
Inspektorat Jenderal untuk peningkatan pengendalian intern dan memperbaiki
kekurangan. Peran dan tanggung jawab Inspektorat Jenderal adalah (1) memberikan
konsultasi penerapan pengendalian intern di lingkungan Kementerian Keuangan, (2)
memberikan assurance secara independen dan objektif bahwa pengendalian intern telah
dilaksanakan secara efektif dan efisien antara lain melalui audit atas lini pertahanan
pertama dan kedua untuk memastikan pelaksanaan tugas dengan baik, dan (3) melaporkan
kecurangan atau kekeliruan yang terjadi dan kelemahan pengendalian yang
membahayakan organisasi.
6
C. Unit Kepatuhan Internal

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka


Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis Pemantauan Pengendalian Intern
di Lingkungan Kementerian Keuangan, Unit Kepatuhan Internal adalah unit kerja yang
terdapat pada masing-masing eselon yang ditunjuk atau memiliki tugas untuk membantu
manajemen dalam melaksanakan pemantauan pengendalian intern. Menurut Keputusan
Menteri Keuangan tersebut, UKI terdiri dari tiga level yaitu :
1. UKI tingkat eselon 1 (UKI-EI) membantu manajemen dalam melaksanakan
pemantauan pengendalian intern pada tingkat eselon 1.
2. UKI tingkat wilayah (UKI-W) membantu manajemen dalam melaksanakan
pemantauan pengendalian intern pada tingkat wilayah.
3. UKI tingkat pelayanan/operasional (UKI-P) membantu manajemen dalam
melaksanakan pemantauan pengendalian intern pada tingkat kantor
pelayanan/operasional.
Pelaksanaan proses pengendalian internal di Direktorat Jendral Pajak dimulai tahun
2012 sesuai dengan KEP-238/PJ/2012 tentang Penerapan Pengendalian Intern Direktorat
Jendral Pajak yang salah satunya menjadi awal terbentuknya UP3I (Unit Pelaksana
Pemantauan Pengendalian Intern) yang sekarang berubah menjadi UKI. Pembentukan Unit
Kepatuhan Internal (UKI) ditujukan untuk melaksanakan tugas:
1. Pemantauan pengendalian intern
2. Pemantauan pengelolaan/manajemen risiko
3. Pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin pegawai
4. Pemantauan tindak lanjut hasil pengawasan
5. Perumusan rekomendasi perbaikan proses bisnis
UKI di DJP dilaksanakan oleh: (1) Bagian Umum (c.q. Kepala Subbagian Bantuan
Hukum, Pelaporan, dan Kepatuhan Internal) pada Kanwil; (2) Bagian Umum dan Kepatuhan
Internal pada PPDDP; (3) Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal pada KPP; dan (4)
Subbagian Tata Usaha dan Kepatuhan Internal pada KPDDP, KPDE, dan KLIP DJP.

7
BAB III
PEMBAHASAN

A. Lingkungan Pengendalian KPP Pratama Bantaeng

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bantaeng merupakan salah satu instansi
vertikal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah koordinasi dari Kantor
Wilayah Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara. KPP Pratama Bantaeng berlokasi di Jalan
Andi Mannapiang, Kecamatan Lamalaka, Kabupaten Bantaeng. KPP Pratama Bantaeng
merupakan salah satu unsur pelaksana DJP yang mempunyai tugas pokok melaksanakan
fungsi pelayanan, pengawasan administratif, dan pemeriksaan sederhana terhadap Wajib
Pajak di bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, BPHTB, dan Pajak Tidak Langsung lainnya dalam wilayah kerjanya
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam menjalankan tugas sebagai penghimpun penerimaan negara dan melaksanakan


sistem administrasi perpajakan modern, KPP Pratama Bantaeng juga memiliki karakteristik-
karakteristik organisasi berdasarkan fungsi, sistem informasi yang terintegrasi, sumber daya
manusia yang kompeten, sarana kantor yang memadai, dan tata kerja yang transparan. Sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 206.2/PMK.01/2014 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak, struktur organisasi KPP Pratama
Bantaeng adalah sebagai berikut:

Kepala Kantor

Kelompok
Jabatan
Fungsional

Subbagian Umum Seksi


Seksi Seksi Ekstensifikasi Seksi
dan Kepatuhan Seksi PDI Pengawasan dan Seksi Penagihan
Pelayanan dan Penyuluhan Pemeriksaan
Internal Konsultasi *)

Gambar 1.3 Struktur Organisasi KPP Pratama Bantaeng

*) KPP Pratama Bantaeng memiliki 4 Seksi Pengawasan dan Konsultasi

Secara umum lingkungan pengendalian dari KPP Pratama Bantaeng adalah sebagai berikut:
8
a. Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal
Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal memiliki tugas membantu dan menunjang
kelancaran tugas Kepala Kantor serta mempunyai tugas utama dalam
mengkoordinasikan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha, rumah tangga, dan
pengelolaan kinerja pegawai, pemantauan pengendalian intern, pemantauan
pengelolaan risiko, pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin, dan tindak
lanjut hasil pengawasan, serta penyusunan rekomendasi perbaikan proses bisnis.
b. Seksi Pelayanan
Seksi Pelayanan bertugas dalam mengkoordinasikan penetapan dan penerbitan produk
hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan
dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, serta
pelaksanaan pendaftaran Wajib Pajak.
c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI)
Seksi PDI bertugas dalam mengkoordinasikan pengumpulan, pencarian, dan
pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan,
perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan,
pengalokasian Pajak Bumi dan Bangunan, pelayanan dukungan teknis komputer,
pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, pelaksanaan i-SISMIOP dan SIG, serta
pengelolaan kinerja organisasi.
d. Seksi Pengawasan dan Konsultasi
KPP Pratama Bantaeng memiliki 4 Seksi Pengawsan dan Konsultasi. Terdapat
perbedaan tugas pokok dan fungsi dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi I dengan
Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, III, dan IV. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
memiliki tugas dalam penyelesaian permohonan Wajib Pajak, usulan pembetulan
ketetapan pajak, bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan kepada Wajib Pajak,
serta usulan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. Sedangkan Seksi Pengawasan
dan Konsultasi II, III, dan IV masing-masing mempunyai tugas dalam pengawasan
kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, penyusunan profil Wajib Pajak,
analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan
intensifikasi dan himbauan kepada Wajib Pajak.
e. Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan
Seksi Ekstensifikasi memiliki tugas dalam mengkoordinasikan pengamatan potensi
perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, pembentukan dan pemutakhiran basis

9
data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi, bimbingan dan pengawasan
Wajib Pajak baru, serta penyuluhan perpajakan.
f. Seksi Pemeriksaan
Seksi Pemeriksaan memiliki tugas dalam mengkoordinasikan penyusunan rencana
pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan, penyaluran
Surat Perintah Pemeriksaan Pajak, dan administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya,
serta pelaksanaan pemeriksaan oleh petugas pemeriksa pajak yang ditunjuk kepala
kantor.
g. Seksi Penagihan
Seksi Penagihan memilki tugas dalam mengkoordinasikan urusan penatausahaan
piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan
penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.
h. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari Pejabat Fungsional Pemeriksan Pajak (FPP)
yang mempunyai tugas untuk melakukan pemeriksaan serta pengujian terhadap
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan pemeriksaan tujuan lain yang
bertanggung jawab secara langsung kepada Kepala KPP Pratama. Dalam
melaksanakan pekerjaannya, Pejabat FPP berkoordinasi dengan Seksi Pemeriksaan.
Selain lingkungan pengendalian yang berada dalam satu wilayah kantor, KPP Pratama
Bantaeng juga memiliki lingkungan pengendalian yang letaknya berada di kabupaten lain.
Hal ini dikarenakan KPP Pratama Bantaeng membawahi tiga kantor vertikal yang lebih kecil
setingkat unit eselon IV dengan nama Kantor Penyuluhan Perpajakan dan Konsultasi
(KP2KP). Berikut ini adalah KP2KP yang termasuk dalam lingkungan pengendalian KPP
Pratama Bantaeng yaitu:
a. KP2KP Sunguminasa
KP2KP Sungguminasa terletak sekitar 114 km ke arah Barah Laut dari KPP Pratama
Bantaeng dan beralamat di Jalan Mesjid Raya Nomor 24 Kabupaten Gowa.
b. KP2KP Takalar
KP2KP Takalar terletak sekitar 89,2 km ke arah Barah Laut dari KPP Pratama
Bantaeng dan beralamat di Jalan Badawing Dg. Ngampa Nomor 12 Kabupaten
Takalar.
c. KP2KP Bontosunggu
KP2KP Bontosunggu terletak sekitar 32,3 km ke arah Barah Daya dari KPP Pratama
Bantaeng dan beralamat di Jalan Pahlawan Nomor 17 Kabupaten Jeneponto.
10
Selain lingkungan pengendalian KPP Pratama Bantaeng yang telah disusun sesuai
dengan kebutuhan organisasi dengan pembatasan tugas yang telah dijelaskan diatas. KPP
Pratama Bantaeng juga memiliki sekumpulan kode etik yang berisi kewajiban dan larangan
pegawai DJP yang bertujuan untuk membatasi perilaku pegawai agar tidak melakukan
perbuatan yang dapat merendahkan citra dan kinerja pegawai DJP. Kode etik itu dibuat
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.3?2007 tentang Kode Etik Pegawai
Direktorat Jenderal Pajak.

B. Penilaian Risiko KPP Pratama Bantaeng


Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.01/2016 tentang
Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian Keuangan pasal 14 menyebutkan bahwa
proses manajemen risiko terdiri atas tahapan sebagai berikut : (1) komunikasi dan konsultasi,
(2) penetapan konteks, (3) penilaian risiko yang meliputi identifikasi risiko, analisis risiko,
dan evaluasi risiko, (4) penanganan risiko, dan (4) pemantauan dan reviu.
Bentuk komunikasi dan kosultasi dalam penerapan manajemen risiko itu meliputi
rapat berkala, rapat insidential, focused group discussion, dan forum pengelola risiko. Dalam
penerapannya, proses komunikasi dan konsultasi penerapan manajemen risiko ini sangat
minim dilaksanakan. Pada KPP Pratama Bantaeng hanya dilakukan rapat berkala yang
biasanya dilakukan sekali per semester dalam penetapan konteks dan penilaian risiko. Dalam
rapat berkala tersebut akan dibahas mengenai pembentukan Tim Manajemen Risiko di
tingkat KPP dengan susunan sebagai berikut:
Tabel III.1 Susunan Tim Manajemen Risiko
1. Pemilik Risiko : Kepala KPP

Pelaksana Harian : Kepala Seksi


2.
Koordinator Risiko Pemeriksaan

Koordinator Risiko : Seluruh pejabat eselon


3.
IV termasuk Pelaksana
Harian Koordinator
Risiko dan Pengelola
Risiko

Pengelola Risiko : Kepala Seksi


4.
Pemeriksaan selaku

11
Mitra Manajer Risiko
Unit eselon III

Administrator Risiko : -
5.
Anggota Tim : Pelaksana yang terlibat
6.
dalam penerapan
manajemen risiko

Dalam pelaksanaan rapat berkala tersebut, terkadang tidak semua anggota Tim
Manajemen Risiko ikut dikarenakan berbagai kewajiban sehubungan dengan tugas dan fungsi
pokoknya masing-masing. Tim Manajemen Risiko tersebut ditetapkan setiap tahun dengan
Surat Keputusan Tim Manajemen Risiko yang ditandatangani oleh Kepala KPP dan dapat
diubah jika terdapat perubahan nama jabatan atau pegawai yang namanya ditetapkan sebagai
Tim Manajemen Risiko mengalami mutasi.
Setelah Tim Manajemen Risiko terbentuk, rapat akan dilanjutkan dengan pembuatan
Piagam Manajemen Risiko yang merupakan proses inti dalam penerapan manajemen risiko
yang berisi penetapan konteks, identifikasi risiko, analisis risiko, evaluasi risiko, dan
penanganan risiko. Piagam Manajemen Risiko terdiri dari lima formulir yang akan dijelaskan
sebagai berikut:
1. Formulir I Konteks Manajemen Risiko
Formulir ini berisi beberapa rincian yaitu (a) sasaran organisasi, (b) struktur manajemen
risiko, (c) daftar pemangku kepentingan (stakeholder), (d) daftar regulasi, kebijakan,
peraturan, prosedur terkait, (e) kriteria risiko yang terdiri dari kriteria kemungkinan dan
kriteria dampak, (f) matriks analisis risiko dan level risiko, dan (g) selera risiko.
2. Formulir II Profil dan Peta Risiko
Formulir ini berisi rincian mengenai profil risiko dan gambaran peta risiko. Profil risiko
terbagi lagi menjadi (a) identifikasi risiko berupa kejadian, penyebab, dampak, kapan
terjadinya, dan kategori risiko, (b) analisis risiko berupa sistem pengendalian yang
dilakukan, level kemungkinan, level dampak, level risiko, dan besaran risiko, (c) evaluasi
risiko berupa prioritas risiko, keputusan penanganan, dan indikator risiko utama (IRU).
Setelah seluruh proses penilaian resiko dilaksanakan, maka hasil dari penilaian tersebut
agar digambarkan pada peta resiko yang nantinya akan menunjukkan prioritas risiko dari
level risiko yang sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.

12
3. Formulir III Penanganan Risiko
Formulir ini berisi rincian berupa (a) prioritas risiko (sudah diurutkan dari level risiko
yang sangat tinggi ke sangat rendah), (b) uraian risiko, (c) level kemungkinan, level
dampak, dan level risiko sebelum penanganan, (d) opsi penanganan risiko, (e) rencana
aksi penanganan risiko, output, target kinerja, jadwal implementasi, dan penanggung
jawabnya, dan (f) risiko residual yang diharapkan setelah penanganan.
4. Formulir IV Pemantauan Triwulan
Formulir ini berisi rincian berupa prioritas risiko, uraian risiko dan penanganan risiko
yang sudah diuraikan pada formulir III ditambah dengan indikator risiko utama dan status
risiko. Indikator risiko utama berisi nama, batasan nilai, nilai aktual, dan status. Status
risiko berisi tren IRU dan outlook besaran/ level risiko.
5. Formulir V Laporan Pemantauan Tahunan
Formulir ini berisi rincian penilaian efektivitas penanganan risiko dan peta risiko hasil
penanganan risiko. Penilaian efektivitas penanganan risiko berisi rincian prioritas risiko,
uraian risiko, level risiko sebelumnya, risiko residual yang diharapkan setelah
penanganan, level risiko aktual, tren risiko, devasi/kesenjangan, dan langkah korektif dan
rekomendasi. Peta risiko hasil penanganan risiko menunjukkan gambaran level risiko
setelah dilakukan penanganan risiko.

Pelaksanaan penerapan manajemen risiko dengan pembuatan Piagam Manajemen


Risiko sudah dilaksanakan oleh KPP Pratama Bantaeng dengan cukup baik, tetapi masih ada
beberapa hal kekurangan dalam prakteknya yaitu (1) pada proses identifikasi risiko untuk
pengisian formulir II, Tim Manajemen Risiko KPP Pratama Bantaeng masih sering
melakukan pengisian menggunakan risiko yang lama tanpa dianalisis lebih lanjut apakah
muncul risiko yang baru selain risiko yang telah diidentifikasi di tahun sebelumnya, dan (2)
pada proses analisis risiko untuk pengisian formulir II dalam hal penilaian level
kemungkinan, level dampak, dan level risiko masih menggunakan penilaian di tahun
sebelumnya sehingga proses penilaian risiko dikhawatirkan tidak sesuai dengan keadaan yang
sekarang.

Dalam hal pemantauan dan reviu manajemen risiko, Tim Manajemen Risiko KPP
Pratama Bantaeng dirasa kurang aware terhadap proses manajemen risiko karena minimnya
reviu dan rapat yang dilakukan terutama dalam identifikasi risiko baru yang muncul dan
penilaian terhadap level risiko yang baru. Sedangkan pelaksana UKI KPP Pratama Bantaeng
sudah cukup baik dalam melakukan tugas dalam memantau proses manajemen risiko, tetapi

13
proses pemantauan tersebut hanya menyangkut mengenai formal pelaporan dan tidak
menyentuh sisi material dari Piagam Manajemen Risiko.

C. Kegiatan Pengendalian KPP Pratama Bantaeng


Kegiatan Pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dapat membantu
memastikan dilaksanakannya arahan pimpinan instansi pemerintah untuk merespon risiko.
Kegiatan pengendalian diselenggarakan sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dan
tugas fungsi unit kerja yang bersangkutan. Menurut Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor KEP-238/PJ/2012 tentang Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan Direktorat
Jenderal Pajak, kegiatan pengendalian dilaksanakan antara lain melalui pemberian
persetujuan (approval), otorisasi (authorization), verifikasi (verification), reviu atas kinerja
operasi (review of operating performance), pengamanan aktiva (security of asset), dan
pemisahan tugas (segregation of duties).
Pelaksanaan kegiatan pengendalian di KPP Pratama Bantaeng sudah cukup baik.
Setiap kegiatan sudah melalui alur hierarki yang sesuai dan proses dokumentasi yang cukup.
Setiap penugasan dari Kepala Kantor diproses oleh Sekretaris Kepala Kantor melalui menu
Admnisitrasi Surat Masuk pada Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP),
kemudian dilanjutkan mencetak lembar disposisi yang tercatat secara urut berdasarkan nomor
cetak yang diproses oleh sistem dan menyebarkan disposisi penugasan tersebut ke seksi yang
terkait. Pelaksana seksi terkait akan mencetak lembar disposisi untuk seksi dan meneruskan
kepada Kepala Seksi. Kepala Seksi akan melakukan penelaahan tindak lanjut atas penugasan
yang telah diterima. Jika penugasan tersebut dilanjutkan kepada pelaksana, maka Kepala
Seksi akan memberikan perintah tindak lanjut pada lembar disposisi seksi dan memberikan
tanda contreng pada nama pelaksana yang harus menindaklanjuti disposisi tersebut. Setelah
pelaksana menyelesaikan penugasan, hasil pekerjaannya akan diberikan kembali kepada
Kepala Seksi untuk memberikan paraf atau tanda tangan sesuai kewenanangannya.
Dalam hal verifikasi dan otorisasi, setiap pegawai telah mempunyai username dan
password masing-masing dalam melaksanakan tugas sesuai kewenangannya. Username dan
password tersebut merupakan tanggung jawab dari masing-masing pegawai dan tidak
disebarluakan untuk pegawai lain, kecuali ada penugasan yang sangat mendesak dan pegawai
yang mempunyai hak untuk mengotorisasi tugas tersebut sedang tidak berada di kantor.
Setiap Kepala Seksi juga sudah cukup melakukan reviu dalam penugasan yang diberikan
kepada pelaksananya, termasuk memberikan arahan dan petunjuk jika ada hal-hal yang

14
memang tidak bisa diselesaikan di level pelaksana khususnya dalam hal pengambilan
kebijakan yang berpengaruh terhadap seksi terkait.
Dalam pengamanan aktiva khususnya kendaraan dinas, setiap pegawai sudah
membuat pernyataan tanggung jawab atas penggunaan kendaraan dinas yang dipakainya dan
mengembalikannya ke halaman parkir kantor jika sudah selesai digunakan dalam bertugas.
Seluruh kunci kendaraan akan di simpan di Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal. Tetapi
hal ini hanya berlaku untuk kendaraan bermotor beroda empat, sedangkan untuk motor masih
banyak pegawai yang menggunakannya di luar jam kantor. Bagi pegawai yang menggunakan
rumah dinas, diharuskan untuk membuat surat pernyataan menenpati rumah dinas. Dalam hal
penggunaan komputer, belum semua pegawai memberikan password di komputernya.
Kemudian untuk pemisahan tugas, setiap pegawai sudah bekerja sesuai tugas dan fungsi
pokonya di seksinya masing-masing, tidak ada pegawai yang merangkap tugas karena jumlah
pegawai di KPP Pratama Bantaeng sudah dianggap cukup.
Selain itu dalam hal pelaksanaan penugasan terkait tugas pokok dan fungsi KPP,
pegawai KPP Pratama Bantaeng berpedoman pada standard operating prosedur untuk
melaksanakan berbagai proses bisnis di KPP. Standard operating procedure tersebut telah
terdokumnetasi dengan baik pada aplikasi Sistem Informasi Kepegawaian, Keuangan, dan
Aktiva yang telah dikelompokkan berdasarkan unit kerja maupun unit operasional. Pegawai
KPP Pratama Bantaeng juga menggunakan aplikasi TKB dalam mencari peraturan
perundang-undangan perpajakan yang terbaru. Jika dalam pelaksanaan tugas tidak ditemukan
dasar hukum atau standard operating procedure yang sesuai, pegawai KPP Pratama
Bantaeng akan mendiskusikan hal tersebut kepada pimpinannya sesuai keahliannya masing-
masing.

D. Informasi dan Komunikasi KPP Pratama Bantaeng


Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka
Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis Pemantauan Pengendalian Intern
di Lingkungan Kementerian Keuangan, komunikasi dan informasi adalah proses yang
berkelanjutan dan berulang antara organisasi dan para pemangku kepentingan dalam rangka
saling memberikan, berbagi, dan memperoleh informasi serta melakukan dialog terkait
pengendalian intern. Identifikasi, pencatatan, dan komunikasi informasi dilakukan dalam
bentuk yang tepat untuk memudahkan pelaksanan pengendalian, dan tanggung jawab.
Dalam memudahkan penerapan komunikasi dan informasi atas penguatan penerapan
pengendalian internal, KPP Pratama Bantaeng membentuk Tim Internalisasi Kepatuhan
15
sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-32/PJ/2013 tentang
Pembentukan Tim Internalisasi Kepatuhan di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Tim
Internalisasi Kepatuhan mempunyai tugas sebagai berikut:
1. menetapkan rencana dan jadwal pelaksanaan program, merumuskan rincian dan
mekanisme pelaksanaan program;
2. mensosialisasikan dan mengomunikasikan rencana dan jadwal pelaksanaan program
kepada seluruh pegawai;
3. melaksanakan dan mengoordinasikan pelaksanaan program;
4. menjadi role mode/ dalam pelaksanaan program;
5. melakukan coaching/bimbingan terhadap pegawai bawahannya (khusus untuk Tim
Internalisasi Kepatuhan yang mempunyai bawahan);
6. memantau pelaksanaan program internalisasi; dan
7. membuat laporan kegiatan serta evaluasi pelaksanaan program.
Setiap tahunnya Tim Internalisasi Kepatuhan diwajibkan untuk melaksanakan program
Internalisasi Corporate Value (ICV) secara berkesinambungan. Program ICV Tahun 2017
mengambil nilai Intergritas sebagai tema utamanya. Program ICV tahun 2017 yang telah
dilaksanakan oleh KPP Pratama Bantaeng terdiri dari:
1. Pogram Internalisasi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan, yang berupa:
a. Program Rutin
Program internalisasi rutin dimaksudkan untuk menanamkan seluruh Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan secara rutin dan
terus menerus sepanjang tahun. Program ini diwujudkan dalam doa pagi, morning
activity, dan DJP Bugar. Doa pagi merupakan program ICV rutin dimana pegawai
selalu mengawali pekerjaan setiap hari dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa agar memberikan pertolongan dalam melaksanakan tugas/pekerjaan sehari-
hari dan dalam upaya mencapai target penerimaan pajak. Morning activity
merupakan kegiatan berupa penyampaian motivasi/kisah-kisah
inspiratif/pengalaman terkait penerapan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan (setiap
penyelenggaraan morning activity mengusung satu Nilai Kementerian Keuangan)
serta evaluasi terkait pelaksanaan tugas sehari-hari yang sedang/akan/sudah
terlaksana. DJP Bugar merupakan program ICV yang dilakukan dalam rangka
menjaga kondisi kesehatan pegawai agar tetap prima dengan berolahraga secara
rutin mengingat beban tugas para pegawai di Iingkungan DJP.
b. Program Tahunan
16
Program ini mencakup (1) sosialisasi program ICV tahun 2017, (2) pemaparan
mengenai penguatan Nilai-Nilai Kementarian Keuangan dan Pengendalian
Gratifikasi, (3) pemaparan mengenai penguatan program Budaya DJP, dan (4)
pemaparan mengenai penguatan kode etik, disiplin PNS, dan whistleblowing
system. Sosialisasi program ICV tahun 2017 dilakukan oleh Tim Intemalisasi
Kepatuhan kepada seluruh pegawai di unit kerjanya untuk memaparkan seluruh
program ICV Tahun 2017 serta meminta komitmen seluruh pegawai dalam
melaksanakan seluruh program yang telah direncanakan. Penguatan Nilai-Nilai
Kementarian Keuangan dan Pengendalian Gratifikasi dimaksudkan agar pegawai
senantiasa mengimplementasikan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dan
melaksanakan pengendalian gratifikasi. Penguatan program Budaya DJP
dimaksudkan agar pegawai senantiasa menjalankan Program Budaya DJP untuk
menunjang pekerjaannya. Penguatan kode etik, disiplin PNS, dan whistleblowing
system dimaksudkan agar pegawai senantiasa berpegang pada Kode Etik Pegawai
dan Disiplin PNS dalam melaksanakan pekerjaannya serta ikut berperan aktif
menjaga citra dan martabat DJP melalui Whistleblowing System
2. Program Inisiatif Antikorupsi
a. Survei Integritas dan Antikorupsi
Survei Integritas dan Antikorupsi merupakan salah satu upaya dalam menjaga
integritas dan semangat antikorupsi pegawai DJP melalui pelaksanaan survei
kepada pegawai dan Wajib Pajak untuk mengetahui tingkat integritas pegawai dan
persepsi antikorusi dari para Wajib Pajak dan menindaklanjuti hasil survei
tersebut sebagai upaya perbaikan unit kerja.
b. Integrity Building
Integrity Building merupakan bagian program Internalisasi Corporate Value
(ICV) tahun 2017 yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pegawai
terhadap Nilai-Nilai Kementerian Keuangan, terutama nilai Integritas.
3. Program Budaya
a. Program Budaya Kementerian Keuangan
Pelaksanaan Program Budaya Kementerian mengacu pada Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 127/KMK.01/2013 tanggal 3 April 2013 tentang Program
Budaya di

17
Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2013 meliputi: (1) satu informasi
setiap hari, (2) dua menit sebelum jadwal, (3) tiga salam setiap hari, (4)
rencanakan, kerjakan, monitor, dan tindak lanjuti, dan (5) 5R.
b. Program Budaya DJP
Program Budaya DJP merupakan program ICV yang disusun dalam rangka
membentuk budaya organisasi sebagai wujud implementasi Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan yang tertanam dalam setiap pegawai DJP. Program
Budaya DJP meliputi: (1) teladan pimpinan, (2) knowing your employee, (3) malu
terlambat, (4) peduli DJP, (5) sesapa, (6) santun dalam bermedia sosial, dan (7)
berkas aman pulang nyaman
Seluruh kegiatan Internalisasi yang dilakukan oleh KPP Pratama Bantaeng telah
diinformasikan dan dikomunikasikan dengan cukup baik, dengan menggunakan media nota
dinas, surat dinas, maupun IP messenger. Tetapi karena wilayah kerja KPP Pratama Bantaeng
yang juga membawahi KP2KP Sungguminasa di Kabupaten Gowa, KP2KP Takalar di
Kabupaten Takalar, dan KP2KP Bontosunggu di Kabupaten Jeneponto yang cukup jauh,
terkadang selain menggunakan surat dinas juga menggunakan media email dan whatsapp
dalam mengirimkan informasi terkait peningkatan penerapan pengendalian intern.

E. Pemantauan KPP Pratama Bantaeng


Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013 tentang Kerangka
Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis Pemantauan Pengendalian Intern
di Lingkungan Kementerian Keuangan, pemantauan dapat dilaksanakan melalui pemantauan
berkelanjutan, evaluasi terpisah, atau kombinasi dari keduanya. Pemantauan berkelanjutan
dilaksanakan melalui kegiatan pengawasan/supervisi oleh manajemen yang melekat dalam
operasi normal suatu entitas, umunnya pemantaun ini dilakukan oleh pimpinan dari unit kerja
terkait di setiap level eselon. Pada umumnya pemantauan berkelanjutan di KPP Pratama
Bantaeng sudah baik, tetapi masih ditemukan beberapa Kepala Seksi yang sering tidak berada
di tempatnya. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan karena dapat berdampak pada kinerja
seksi yang di pimpinnya. Dengan tidak adanya Kepala Seksi yang berada di ruangannya,
kegiatan operasional dapat terhambat karena kemungkinan bawahannya juga akan mengalami
demotivasi karena pihak yang mempunyai kewenangan dalam melakukan persetujuan tidak
berada di tempat.
Kemudian sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-42/PJ/2013
tentang Pelaksanaan Tugas Unit Kepatuhan Internal Pada Instansi Vertikal dan Unit
18
Pelaksana Teknis di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, Unit Kepatuhan Internal KPP
mempunyai tugas dan wewenang dalam memperoleh keyakinan memadai bahwa
pengendalian intern telah dilaksanakan di lingkup KPP. Berikut ini beberapa kewenangan
UKI KPP dalam melakukan tugas pemantauan yaitu:
1. Pemantauan Pengendalian Intern di KPP
Pemantauan evaluasi terpisah dilakukan oleh UKI KPP melalui dua cara yaitu
pemantauan pengendalian utama (PPU) dan pemantauan efektivitas implementasi dan
kecukupan rancangan (PEIKR). PPU merupakan pemantauan pengendalian intern pada
tingkat kegiatan dengan cara menguji atribut yang menunjukkan pengendalian utama tiap
kegiatan pada unit kerja telah dijalankan. Bermanfaat untuk mencegah terjadinya kesalah
fatal, memperbaiki kesalahan, dan membangun dan memastikan kepatuhan terhadap sistem
dan prosedur. PEIKR dilakukan untuk mengevaluasi keandalan pengendalian intern pada
tingkat entitas dan mengevaluasi efektivitas implementasi dan kecukupan rancangan
pengendalian tingkat kegiatan. Hasil pemantauan perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang
tepat dan memiliki wewenang untuk melaksanakan langkah perbaikan, terutama apabila ada
temuan. Untuk setiap temuan perlu diberikan rekomendasi yang dapat
mengeliminasi/meminimalkan penyebab utama terjadinya.
Jenis Laporan Pemantauan Pengendalian Utama adalah (1) Laporan Hasil Pengujian
Pengendalian Utama (LHPPU) yaitu laporan mengenai tingkat kepatuhan dan temuan hasil
pengujian pengendalian utama suatu kegiatan dalam periode tertentu, perkembangan tindak
lanjut atas rekomendasi dalam periode tersebut, dan rekapitulasi tindak lanjut yang belum
tuntas dari hasil pemantauan periode sebelumnya, (2) Laporan Temuan Segera yaitu laporan
mengenai temuan yang perlu segera ditindaklanjuti karena ada pengendalian utama yang
sering tidak dilaksanakan dan berpengaruh tinggi terhadap strategi/aktivitas operasi dan/atau
terhadap kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholders), (3) Laporan Temuan
Berindikasi Fraud yaitu laporan mengenai adanya indikasi fraud yang dilakukan secara
sengaja oleh orang-orang dari dalam DJP dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan
pribadi dan/atau kelompoknya dan merugikan organisasi, dan (4) Laporan Akhir Triwulanan
Unit Kerja yaitu laporan yang disusun setiap periode tiga bulanan yang berisi kompilasi hasil
pemantauan pengendalian utama sampai dengan akhir triwulan tertentu. UKI KPP menyusun
Laporan Akhir Triwulanan Unit Kerja berdasarkan kompilasi LHPPU unit kerja masing-
masing sampai dengan akhir triwulan bersangkutan.

19
2. Pemantauan Pengelolaan/Manajemen Risiko di KPP
Pemantauan Pengelolaan/Manajemen Risiko adalah kegiatan pemantauan yang
dilaksanakan untuk menilai kesesuaian penerapan dengan ketentuan manajemen risiko dan
menilai kesesuaian rencana dengan pelaksanaan penanganan/mitigasi risiko. Tahapan
pelaksanaan pemantauan pengelolaan/manajemen risiko di KPP dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan Pemantauan Pengelolaan/Manajemen Risiko
Persiapan kegiatan pemantauan pengelolaan/manajemen risiko dilakukan sesuai
dengan Rencana Pemantauan Tahunan, persiapan meliputi sumber daya dan bahan
pemantauan pengelolaan/manajemen risiko.

b. Pelaksanaan Pemantauan Pengelolaan/Manajemen Risiko


Pemantauan pengelolaan/manajemen risiko dibagi menjadi pemantauan kepatuhan
tata kelola dan pemantauan pelaksanaan penanganan/mitigasi risiko. Pemantauan kepatuhan
tata kelola terbagi menjadi (1) pemantauan tata kelola pertama dan (2) pemantauan tata
kelola kedua. Pemantauan penanganan/mitigasi risiko juga terbagi dua, yaitu (3) pemantauan
mitigasi risiko pertama dan (4) pemantauan mitigasi risiko kedua. Keempat tahapan tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pemantauan kepatuhan tata kelola pertama, meliputi pemantauan atas (a)


pembentukan tim manajemen risiko; (b) proses penyusunan dan pengisian formulir
pengelolaan/manajemen risiko; dan (c) kelengkapan formulir pengelolaan/manajemen risiko.
Dilanjutkan dengan pemantauan kepatuhan tata kelola kedua yang terdiri dari pemantauan
atas (a) kesesuaian tindak lanjut dengan rekomendasi; dan (b) ketepatan waktu pelaporan
formulir pengelolaan/manajemen risiko.

Pemantauan mitigasi risiko pertama, meliputi pemantauan atas (a) pelaksanaan


penanganan/mitigasi risiko triwulan pertama pada masing-masing semester; dan (b) bukti-
bukti pendukung pelaksanaan penanganan/mitigasi risiko. Selanjutnya dilakukakn
pemantauan mitigasi risiko kedua dengan pemantauan atas (a) Laporan Pelaksanaan
Penanganan/Mitigasi Risiko; dan (b) bukti-bukti pendukung pelaksanaan
penanganan/mitigasi risiko.

3. Pemantauan Kepatuhan Terhadap Kode Etik dan Disiplin (KED) di KPP


Pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin pegawai adalah kegiatan
pemantauan yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pegawai DJP terhadap
ketentuan terkait Kode Etik Pegawai DJP dan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pada Rencana

20
Pemantauan Tahunan KPP Tahun 2017, pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan
disiplin di KPP direncanakan menggunakan dua metode yaitu:
a. Metode Inspeksi Mendadak (Sidak)

Pemantauan Kepatuhan terhadap Kode Etik dan Disiplin Pegawai dengan metode
inspeksi mendadak (sidak) dilakukan oleh UKI pada KPP oleh Kepala Subbagian Umum dan
Kepatuhan Internal serta Pelaksana Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal untuk KPP.

UKI pada KPP melakukan Pemantauan Kepatuhan terhadap Kode Etik dan Disiplin
Pegawai dengan metode sidak, dengan ketentuan sebagai berikut: (1) sidak di unitnya sendiri
yang dilakukan satu kali dalam satu tahun; (2) sidak di KP2KP yang termasuk dalam wilayah
kerjanya dilakukan satu kali dalam satu tahun (jika ada);

b. Metode Pemantauan dalam Bentuk Lain

Pemantauan Kepatuhan Terhadap Kode Etik dan Disiplin Pegawai (KED) dengan
Metode Pemantauan dalam Bentuk Lain dilakukan selain dengan metode Inspeksi Mendadak
(Sidak) dan Blind Surveillance. Pemantauan di KPP dilakukan oleh Kepala Subbagian Umum
dan Kepatuhan Internal serta Pelaksana Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal Rencana
Pemantauan dalam Bentuk Lain di KPP Tahun 2017 dilaksanakan untuk melakukan: (1)
pemantauan kepatuhan jam kerja pegawai, (2) pemantauan KED terhadap proses kunjungan
(visit) oleh Account Representative (AR), (3) Pemantauan KED terkait proses pemeriksaan
oleh Fungsional Pemeriksa, dan (4) Pemantauan dalam bentuk lain berdasarkan instruksi
Direktur KITSDA.
Dalam pelaksanaan pemantauan oleh UKI KPP di KPP Pratama Bantaeng, dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Dalam melaksanakan pemantauan pengendalian utama, UKI KPP dituntut untuk
menguasai seluruh proses bisnis yang menjadi target dalam pemantauan pengendalian
utama. Ini dirasa sulit karena UKI KPP hanya mempunyai bayangan mengenai prosedur
serta aplikasi yang dijalankan oleh pelaksana pengendalian. Oleh karena itu, UKI KPP
mempunyai kecenderungan untuk percaya terhadap pelaksana pengendalian bahwa proses
bisnis sudah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Selain itu, terkadang terdapat hambatan
dalam kegiatan pemantauan terutama karena adanya pembatasan terhadap kegiatan oleh
pelaksana pengendalian, terutama dalam pengambilan sample yang akan digunakan untuk
pengujian. Biasanya pelaksana pengendalian sudah mempersiapkan sampel yang sudah
disortir dulu kebenarannya.

21
2. Dalam melaksanakan pemantauan pengelolaan/manajemen risiko, UKI KPP juga sering
terhambat dengan proses pengumpulan bukti-bukti yang mendukung penerapan
manajemen serta mitigasi risiko. Dalam permintaan bukti pendukung tersebut, biasanya
UKI langsung berhubungan dengan Kepala Seksi pada seksi terkait yang kadang tidak
memberikan kemudahan dalam mengumpulkan bukti pendukung.
3. Dalam melaksanakan pemantauan kode etik dan disiplin pegawai, UKI KPP sering sekali
merasakan adanya conflict of interest karena yang dilakukan objek pemantauan adalah
rekan-rekannya sendiri. Terkadang UKI KPP juga merasa tidak enak jika yang harus
diingatkan adalah senior atau yang jabatannya lebih tinggi dari UKI KPP. Selain itu
dalam melakukan pemantauan dalam bentuk lain terutama terhadap kunjungan oleh
Account Representative atau pemeriksaan oleh Fungsional Pemeriksa, UKI KPP
terkadang mengalami kesulitan dalam menemukan alamat Wajib Pajak yang dituju.
Kesulitan itu karena UKI hanya mempunyai alamat yang tertera pada SIDJP yang belum
tentu alamat tersebut masih dipakai dan juga UKI tidak dapat menghunungi Wajib Pajak
yang dituju sebelumnya karena dapat mengurangi obyektifitas dari Wajib Pajak.

22
BAB IV

PENUTUP

A. SIMPULAN
Secara umum, penerapan pengendalian intern yang dilakukan oleh KPP Pratama
Bantaeng sudah cukup baik dan mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor
32/KMK.09/2013 tentang Kerangka Kerja Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan
Kementerian Keuangan. Di mulai dari lingkungan pengendalian KPP Pratama Bantaeng yang
telah disusun sesuai dengan kebutuhan organisasi dengan pembatasan tugas yang jelas.
Adanya Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang berisi kewajiban dan larangan
pegawai DJP ikut membatasi perilaku pegawai untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat
merendahkan citra dan kinerja pegawai DJP. Dalam penilaian risiko, pelaksanaan manajemen
risiko dan mitigasi risiko juga sudah dilakukan dengan cukup baik. Tapi terdapat beberapa
kendala seperti tidak hadirnya seluruh Tim Manajemen Risiko dalam pembahasan
manajemen risiko. Selain itu risiko yang dianalisis adalah risiko bawaan di tahun sebelumnya
yang tidak dilakukan identifikasi terhadap kemungkinan munculnya risiko baru.
Dalam hal kegiatan pengendalian, sebagian besar kegiatan pengendalian sudah
dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan prosedur, tetapi masih ada beberapa kekurangan
dalam prakteknya seperti masih terdapat beberapa Kepala Seksi yang sering tidak berada
ditempat sehingga menghambat proses persetujuan atas penugasan pelaksananya, masih
terdapat juga aset kantor seperti motor dinas yang dipakai di luar jam kantor dan beberapa
komputer yang tidak menggunakan password sebagai pengamanannya. Dalam hal informasi
dan komunikasi, KPP Pratama Bantaeng telah banyak menerapkan program internalisasi
yang bertujuan dalam penguatan terhadap Nilai-Nilai Kementerian Keuangan melalui proses
diskusi, sosilisasi, dan pemaparan materi yang dikemas dalam program tahunan yaitu ICV.
Terakhir dalam hal pemantauan, baik pemantaun berkelanjutan maupun evaluasi
terpisah sudah dilaksanakan dengan cukup baik. Kendala dalam pemantauan berkelanjutan
yang terjadi di KPP Pratama Bantaeng adalah masih adanya Kepala Seksi yang sering tidak
berada di tempat. Sedangkan kendala evaluasi terpisah yang dilakukan oleh UKI KPP cukup
banyak, yaitu UKI KPP yang dituntut untuk paham terhadap suatu proses bisnis yang
dipantau padahal UKI tidak terlibat langsung dalam proses bisnis tersebut, pembatasan
terhadap UKI KPP dalam melakukan pemantaun dan pengumpulan bukti-bukti pendukung,

23
serta yang paling utama adalah conflict of interest yang dialami terhadap rekan kerja atau
senior yang masih menganggap bahwa tugas UKI hanya mencari kesalahan dari pegawai.

24
DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan


Negara.

Republik Indonesia. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah.

Kementerian Keuangan. 2013. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.09/2013


tentang Kerangka Kerja Penerapan Pengendalian Intern dan Pedoman Teknis
Pemantauan Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan. 2014. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 206.2/PMK.01/2014


tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak.

Kementerian Keuangan. 2015. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 234/PMK.01/2015


tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan. 2016. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 845/KMK.01/2016


tentang Petunjuk Pelaksanaan Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian
Keuangan.

Surat Direktur KITSDA Nomor S-800/PJ.11/2016 tentang Rencana Pemantauan Tahunan


(RPT) Unit Kepatuhan Internal (UKI) di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Tahun
2017

Surat Direktur KITSDA Nomor S-313/PJ.11/2017 tentang Perubahan Rencana Pemantauan


Tahunan (RPT) Unit Kepatuhan Internal (UKI) di Lingkungan Direktorat Jenderal
Pajak Tahun 2017

25