Anda di halaman 1dari 19

TUGAS REFERAT SABTU, 15 DESEMBER 2017

PERSPEKTIF MEDIKOLEGAL
TRAUMA LISTRIK

DI SUSUN OLEH :
MUH. ISYRAQ RAIHAN N111 16 024
CYNTHIA FIDELIA MONTANG N111 16 062
DESI FRINAENSRI DOKI N111 16 088

PEMBIMBING :
Dr. dr. ANNISA ANWAR MUTHAHER, S.H., M.Kes., Sp. F

BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


PROFESI PENDIDIKAN DOKTER RSUD UNDATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan
sebagai berikut:

Nama:
Muh. Isyraq Raihan N 111 16 024
Cynthia Fidelia Montang N 111 16 062
Desi Frinaensri Doki N 111 16 088

Judul Referat: PERSPEKTIF MEDIKOLEGAL TRAUMA LISTRIK

Telah menyelesaikan tugas referat ini sebagai tugas kepaniteraan klinik pada
Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal di Fakultas Kedokteran Universitas
Tadulako

Palu, Desember 2017


Mengetahui
Pembimbing

(Dr. dr. Annisa Anwar M., SH, M.Kes, Sp.F)

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................. ......................... i


LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………....ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................1

1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................3

2.1 Definisi Trauma Listrik .................................................................................3

2.2 Trauma Listrik…….......................................................................................5

2.2.1 Etiologi Trauma Listrik…….........................................................5

2.2.2 Patogenesis Trauma Listrik……....................................................5

2.2.3 Penyebab Trauma Listrik……........................................................8

2.3 Aspek Medikolegal........................................................................................9

2.4 Pengelolaan Trauma Listrik….....................................................................10

A. Pemeriksaan Jenazah :........................................................................10

2.4.1 Pemeriksaan TKP.........................................................................10

2.4.2 Pemeriksaan Luar.........................................................................11

2.4.3 Pemeriksaan Dalam......................................................................13

2.4.4 Pemeriksaan Penunjang...............................................................14

BAB III KESIMPULAN.................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................16


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luka listrik adalah salah satu jenis luka karena peristiwa fisika. Trauma listrik
terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik atau
disebabkan oleh terkenanya pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Rangkaian
listrik dalam hal ini adalah suatu kumpulan elemen atau komponen listrik yang saling
dihubungkan dengan cara-cara tertentu. Elemen atau komponen memiliki dua buah
terminal atau kutub pada kedua ujungnya. Pembatasan elemen atau komponen listrik
pada Rangkaian Listrik dapat dikelompokkan kedalam elemen atau komponen aktif
dan pasif. Elemen aktif adalah elemen yang menghasilkan energi dalam hal ini adalah
sumber tegangan dan sumber arus. Elemen lain adalah elemen pasif dimana elemen ini
tidak dapat menghasilkan energi, dapat dikelompokkan menjadi elemen yang hanya
dapat menyerap energi dalam hal ini hanya terdapat pada komponen resistor atau
banyak juga yang menyebutkan tahanan atau hambatan dengan simbol R.1
Cedera Akibat Listrik merupakan kerusakan yang terjadi jika arus listrik
mengalir ke dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan
terganggunya fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang
baik. Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal. Arus listrik yang
mengalir ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi
mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung,
otot atau otak. 1,2
Luka yang diakibatkan oleh arus listrik yang fatal umumnya disebabkan oleh
kecelakaan, dan lebih sering pada arus bolak-balik (AC) daripada searah (DC).
Kerusakanyang diakibatkanoleh trauma listrik disebabkan oleh dua mekanisme yaitu
terjadinya pemanasan dan aliran listrik itu sendiri yang melewati jaringan. Pemanasan

ii
akan menyebabkan nekrosis koagulatif dan aliran listrik pada jaringan akan
menyebabkan kerusakan membran sel. Kerusakan terbesar biasanya pada sel-sel saraf
pembuluh darah dan otot. 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trauma Listrik

Luka Listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, yang merupakan
jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang
memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas. 1

Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah.
Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan
elektron-elektron). 3

Bagian-bagian listrik, antara lain : 2,3,4

1. Arus listrik (I)


a. Arus listrik searah atau direct current (DC)
mengalir secara terus menerus ke satu arah, dipakai dalam industri
elektrolisis, misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan
logam. Juga digunakan pada telepon (30-50 volt), dan kereta listrik
(600-1500 volt). Sumber misalnya baterai dan accu.
b. Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC)
mengalir bolak-balik, digunakan di rumah-rumah dan pabrik-
pabrik, biasanya 110 volt atau 220 volt, jauh lebih berbahaya
daripada arus DC, tubuh manusia 4-6 kali lebih sensitif terhadap
arus AC.
2. Frekuensi listrik
Satuan : cycle per second atau hertz, yang paling sering digunakan 50 dan 60
hertz, yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.000-40.000 volt tidak
begitu berbahaya dapat digunakan sebagai diatermi. Tubuh sangat tidak peka
terhadap frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah, contohnya kurang
dari 40 hertz atau lebih dari 1.000 hertz.

3. Tegangan (voltage/V)
Satuan : volt. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan
intensitas listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang
memiliki tahanan sebesar 1 ohm.

- Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan, pabrik, tram listrik.


- Voltase tinggi (= 1.000 V) misalnya transpor arus listrik.
- Voltase sangat tinggi (20.000-1.000.000 V) misalnya deep X-rays therapy
dan diatermi. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 20 ribu - 40 ribu
volt. Kuat arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere. LET GO
CURRENT = kuat arus dari aliran listrik dimana korban masih bisa
melepaskan diri darinya.
4. Tahanan/hambatan listrik (resistance/R)
Satuan : ohm. Menurut hukum Ohm, besarnya intensitas listrik (I) sama
dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium.

Panas yang terjadi tergantung dari :


V

1. banyaknya arus I = ---


2. lamanya kontak
R
3. besarnya hambatan
Hal ini sesuai dengan rumus :

Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori)

I = kuat arus (ampere)


W = I2 R t
R = hambatan (ohm)

t = waktu (detik)
2.2 Trauma Listrik

2.2.1 Etiologi Luka Listrik

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trauma listrik terjadi saat seseorang
menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik atau bisa disebabkan pada saat
berada dekat dengan sumber listrik. 4

Secara umum, terdapat 2 jenis tenaga listrik: 4

a. Tenaga listrik alam, seperti petir dan kilat.


b. Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti baterai dan
accu, dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik PLN pada rumah
maupun pabrik.
2.2.2 Patofisiologi Luka Listrik

Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan


atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik
pada jantung dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun
eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel. 5

Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan
penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus AC dapat
menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang lama
membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. Seluruh
aliran dapat mengakibatkan mionekrosis, mioglobinemia, dan mioglobinuria dan
berbagai komplikasi. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar. 5,6

Faktor-faktor yang mempengaruhi efek listrik terhadap tubuh: 6,7

a. Jenis / macam aliran listrik


Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat sengatan
arus listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 70-
80 mA dapat menimbulkan kematian, sedangkan arus DC dengan intensitas 250
mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan. 6,7

b. Tegangan / voltage
Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja, sedangkan pada implikasi
biologis kurang berarti. Tegangan yang paling rendah yang sudah dapat
menimbulkan kematian manusia adalah 50 volt. Makin tinggi tegangan akan
menghasilkan efek yang lebih berat pada manusia baik efek lokal maupun
general. +60% kematian akibat listrik arus listrik dengan tegangan 115 volt.
Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya
fibrilasi ventrikel, sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena
trauma elektrotermis. 6,7

c. Tahanan / resistance
Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan
perbedaan kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar
terdapat pada kulit tubuh, akan menurun besarnya pada tulang, lemak, urat
saraf, otot, darah dan cairan tubuh. Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm. 6,7

Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar
keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang
kering. Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan
tahanan sebesar 3000-2500 ohm. Pada kulit yang lembab karena air atau saline,
maka tahanannya turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan tubuh
terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya
pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat. 6,7

Pertimbangan tentang ”transitional resistance”, yaitu suatu tahanan


yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor
dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan
karet, sepatu karet, dan lain-lain. 6,7

d. Kuat arus / intensitas /amperage


Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu
perak dari larutan perak nitrat perdetik. Satuannya : ampere. Arus yang di atas
60 mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan fibrilasi
ventrikel. 6,7

Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap
tubuh : 8

mA Efek
1,0 Sensasi, ambang arus
1,5 Rasa yang jelas, persepsi arus
2,0 Tangan mati rasa
4,0 Parestesia lengan bawah
15,0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari
aliran listrik
40,0 Kehilangan kesadaran
75-100 Fibrilasi ventrikel
Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang,
pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi
pada kuat arus 100 mA atau lebih. 8

e. Adanya hubungan dengan bumi / earthing


Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah
yang basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri
dengan mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama
tahanannya rendah. 6,7
f. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak
jumlah arus yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah
besar & luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot-otot
sehingga korban malah menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan
mengalir lebih lama sehingga korban jatuh dalam keadaan syok yang
mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi, korban segera terlempar atau
melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus
listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi
otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut. 6,7

g. Aliran arus listrik (path of current)


Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak
masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of
entry) & letak titik keluar bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut
bervariasi dari ringan sampai berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah
tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar
bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut.
Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki lebih
berbahaya kalau terkena aliran listrik, alas kaki dapat berfungsi sebagai isolator,
terutama yang terbuat dari karet. 6,7

2.2.3 Penyebab Kematian Trauma Listrik

Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai trauma
mekanis. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian,
dalam hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera. 8,9

Sebab kematian karena arus listrik yaitu : 8,9


a. Fibrilasi ventrikel
Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961)
memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam
waktu 5 detik dari lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang
paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri
dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. Kalau arus listrik masuk ke
tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka
60% yang meninggal dunia. 8,9

b. Paralisis respiratorik
Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal
karena asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih
tetap berdenyut sampai timbul kematian. Terjadi bila arus listrik yang
memasuki tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan, tetapi
masih di batas bawah yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Menurut
Koeppen, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA,
sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 75-100 mA. 8,9

c. Paralisis pusat nafas


jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga
oleh trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat
efek hipertermis. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap
ada, jantung pun masih berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan
pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi jika
kepala merupakan jalur arus listrik. 8,9

2.3 Aspek Medikolegal

Kematian oleh arus listrik biasanya tidak disengaja dari peralatan listrik rusak
atau kelalaian dalam penggunaan peralatan. Dalam industri, kematian dapat dihasilkan
dari kontak dengan kabel yang berarus, atau dari alat-alat penerangan, alat-alat
elektronik, ataupun saklar-saklar. Kematian dapat terjadi selama terapi kejang untuk
pasien dengan gangguan jiwa namun kasus tersebut jarang, kecuali sebagai kasus
bunuh diri, dan bahkan pembunuhan telah terjadi. Organ dalam harus dianalisis untuk
mengetahui apakah korban telah rusak pada saat kecelakaan. Bunuh diri jarang terjadi.
Orang biasanya menggulung kawat ke pergelangan tangan atau jari-jarinya, yang
kemudian dihubungkan ke arus listrik, dimana saklar terlihat dalam posisi on. 10
Kurang dari setengah korban sambaran petir meninggal. Mati akibat petir adalah
selalu akibat dari kecelakaan. Kadang-kadang, mayat korban luka petir terlihat sebagai
korban kekerasan. Korban tersebut dapat ditemukan di lapangan terbuka dengan
gambaran memar, luka robek, dan fraktur. Pada kasus ini, diagnosis harus ditegakkan
berdasarkan riwayat badai petir di wilayah lokal tersebut, bukti adanya efek dari
sambaran petir, dan magnetisasi terhadab bahan logam. 8,9,10

2.4 Pengelolaan Trauma Listrik

a. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena


listrik, kadang-kadang ada busa pada mulut. Yang perlu dilakukan pertama kali
adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu
kering. Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal
dunia. Bilamana belum ada lebam mayat, maka mungkin korban dalam keadaan
mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat
jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Pernafasan buatan ini
jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk
korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban
menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti. 10,11
b. Pemeriksaan Jenazah

a. Pemeriksaan Luar

Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan


pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda
listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn.
Tanda-tanda listrik tersebut antara lain : 10,11

1. Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat


dimana listrik masuk ke dalam tubuh. Electric mark berbentuk bundar
atau oval dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi
oleh kulit yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit
diluar elektrik mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan
ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai
tubuh. 10,11

Gambar electric mark


2. Joule burn (endogenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara
tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan
demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat
menjadi hitam hangus terbakar. 10,11

Gambar Joule burn

3. Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda


yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang sudah
mengandung panas; misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh
korban hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak
jarang disertai patahnya tulang-tulang. 10,11
Gambar exogenous burn

b. Pemeriksaan Dalam

Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada


otak didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak
adalah pada daerah ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi
fibrilasi bila dilalui aliran listrik . Pada paru didapatkan edema dan
kongesti. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi, Custer
menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar, juga ditemukan
pneumothorak, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik
yang melalui paru kanan. Organ viscera menunjukkan kongesti yang
merata. Petekie atau perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan
pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada hati ditemukan lesi yang
tidak khas., sedangkan pada tulang, karena tulang mempunyai tahanan
listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas
sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat
yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. Otot korban putus
akibat perubahan hialin. Perikard, pleura, dan konjungtiva korban
terdapat bintik-bintik pendarahan. Pada ekstremitas, pembuluh darah
korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan
kemudian terbentuklah gangren. 12

c. Pemeriksaan Tambahan

Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada


electric mark. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda
kekerasan oleh listrik tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa
korban telah mengalami trauma listrik. 12

Hasil pemeriksaan akan terlihat adanya bagian sel yang memipih,


pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap dari
normal. Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum. Sel
dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara
palisade. Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel
yang rusak dari stratum korneum. Folikel rambut dan kelenjar keringat
memanjang dan memutar ke arah bagian yang terkena listrik. 12,13

Gambaran histologis luka petir


BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

1. Luka akibat listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan
terganggunya fungsi organ dalam.
2. Klasifikasi luka listrik secara garis besar dibagi dua yaitu luka listrik akibat
kontak dengan alat listrik dan luka listrik petir.
3. Hal-hal yang mempengaruhi trauma listrik, antara lain tipe sirkuit (AC/DC), lama
kontak, resistensi (R), tegangan (V), kuat arus (I) jalannya arus dan luas area
kontak.
4. Penanganan trauma listrik pertama-tama yang harus dilakukan adalah
memutuskan aliran listrik selekas mungkin.
5. Kematian akibat listrik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan berdasarkan
tinggi-rendahnya tegangan listrik, yaitu tegangan listrik pada kisaran rumah
tangga, industri dan karena petir.
DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto, A., Widiatamaka, W., Sudiono, S. Ilmu Kedokteran Forensik.


Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1997
2. Idries, Abdul Mun’im. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina
Rupa Aksara. 1997
3. Tsokos, Michael. Forensic Pathology Reviews. Volume 5. Humana Press.
4. Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8,
EGC, Jakarta
5. Corwin, Elizabeth J, (2001), Buku saku Patofisiologi, Edisi bahasa Indonesia,
EGC, Jakarta
6. Doengoes, E. Marilyn (1989), Nursing Care Plans, Second Edition, FA Davis,
Philadelphia
7. Sidharta P, Mardjono, M. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. 2008.
p : 290−2.
8. Olshaker JS, Jackson MC, Smock. Forensic Emergency Medicine. 2nd edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia:2007. P. 55-71.
9. Draper R. Sudden death. 2011. Tersedia di:
http://www.patient.co.uk/doctor/sudden-death (diunduh 24 Desember 2017).
10. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
11. Draper R, Willacy H. tersedia di: http://www.
Patient.co.uk/doctor/suddendeath. (diunduh: 24 Desember 2017).
12. Tsokos, Michael. Forensic Pathology Reviews. Volume 5. Humana Press.
13. Artikel Journal of Lightning injuries,Medley O’Keefe Gatewood, MDa,Richard
D. Zane, MDb,c,Harvard University School of Medicine, The Massachusetts
General andBrigham and Women’s Hospitals, update : 2 mei, 2013

Anda mungkin juga menyukai