Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Gua merupakan lingkungan yang sangat rentan, perubahan sedikit saja pada
lingkungan gua maupun luar gua dapat mengganggu kehidupan di dalamnya dan
memusnahkan berbagai jenis biota yang unik dan khas. Menurut proses terbentuknya,
gua dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu gua lava, gua littoral, dan gua kapur (karst).
Gua lava merupakan gua yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik dari gunung
berapi. Ketika terjadi letusan, lava yang dimuntahkan mengalir kebawah membentuk
alur-alur memanjang. Ketika bagian atas atau permukaan lava sudah membeku, lava
yang dibawah permukaan masih mengalir terus sehingga menimbulkan rongga atau
lorong.
Gua littoral merupakan gua yang terbentuk di daerah tebing pantai, akibat
pengikisan yang dilakukan oleh angin dan gelombang laut, sedangkan gua kapur atau
karst merupakan gua yang terjadi didalam daerah batuan kapur (limenstone), akibat
dari pengikisan air terhadap batuan kapur di dalam tanah.
Gua kapur adalah gua yang menjadi obyek penelusuran dan ekspoitasi bagi pecinta
alam atau penelitian yang tidak habis-habisnya oleh para ilmuwan. Hal ini disebabkan
karena banyak daerah atau kawasan hunian yang berstruktur batuan kapur, sehingga
gua-gua yang ada disekitarnya, bagaimana pun juga mempunyai pengaruh positif
maupun negatif bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan karst yang
tersebar di hampir semua pulau besar dari Sumatra sampai Papua, namun sampai saat
ini, keberadaan kawasan karst di Indonesia masih terpinggirkan. Terutama di kawasan
konservasi, yang menonjol hanyalah potensi dari sisi ekonomi, seperti penambangan
batu kapur. Perhatian terhadap potensi kawasan karst dan guanya dari sisi non
ekonomi mulai meningkat beberapa tahun terakhir, namun kemauan untuk melakukan
perlindungan yang menyeluruh belum juga terwujud. Sampai saat ini, ekosistem karst
belum banyak tersentuh. Ekosistem ini menyimpan potensi keanekaragaman hayati
yang sangat tinggi, baik terestrial maupun akuatik, baik di permukaan maupun di dalam
gua. Beberapa penelitian di kawasan karst menunjukkan temuan yang cukup menarik

1
dan mencengangkan, yaitu dengan banyak ditemukannya jenis baru maupun catatan
baru (Deharveng dan Bedos, 2000).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses terbentuknya gua kapur (karst)?
2. Bagaimana karakteristik ekosistem gua?
3. Bagaimana cara biota gua beradaptasi?
4. Apa saja flora dan fauna pada ekosistem gua?
5. Bagaimana rantai makanan pada ekosistem gua?

C. Tujuan
1. Mengetahui karakteristik ekosistem pada gua dan mengerahui bagaimana zona
kehidupan gua berdasarkan adaptasinya.
2. Mengetahui flora dan fauna pada ekosistem gua dan bagaimana rantai
makanannya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Proses Terbentuknya Gua


Batuan kapur terbentuk dari kalsium karbonat yang tidak mudah larut oleh air, tetapi
air hujan yang mengandung karbondioksida (hasil penyerapan udara dan tanah) dapat
melarutkannya. Batuan kapur mempunyai karateristik yang khas yaitu banyak retakan-
retakan horizontal maupun vertikal. Ketika air hujan masuk ke celah tersebut terjadi
pelarutan sehingga celah atau retakan tersebut makin lama makin membesar. Semua
aktivitas diatas terjadi di lapisan bawah tanah dari batuan kapur, disebut zona seturasi,
yaitu zona yang berada di bawah muka air bebas (water table). Seturasi berarti daerah
itu jenuh dengan air, sedangkan water table adalah batas permukaan dari zona
seturasi. Aktivitas pelarutan semakin lama semakin membesar, sehingga timbul lorong
vertikal atau horizontal bahkan ruangan yang semuanya terisi air, dan pada beberapa
tempat mereka saling bertemu sehingga membentuk suatu jaringan. Dengan adanya
pergerakan bumi water table turun, sehingga lorong-lorong tersebut menjadi gua-gua
yang kering (dry caves). Pada beberapa tempat yang masih terdapat air mengalir
menjadi kolam ataupun sungai di bawah tanah.
Setelah tahapan tersebut, gerakan bumi yang terjadi serta erosi yang dilakukan air
bawah tanah dan proses air hujan melalui retakan di sepanjang dinding gua, merubah
bentuk dan struktur gua. Kemudian beberapa bentuk khas dari gua mulai terjadi, antara
lain :
1. Stalaktit, yaitu ornamen gua yang membetuk ujung tombak memanjang dan
meruncing ke bawah, menempel pada atap gua. Ini terjadi karena air yang
mengandung larut yang tinggi menetes melalui titik kecil pada atap gua. Sebelum
air menetes jatuh, mengalami penguapan sehingga larutan kapur yang
terkandung di dalamnya menempel pada atap gua dan proses ini berjalan terus-
menerus hingga akhirnya menjadi bentukan yang menyerupai pipa kecil dengan
lubang straw. Pada tahap tertentu terjadi penyumbatan pada lubang-lubang
sehingga air tidak lagi mengalir melalui ujung pipa tersebut, tetapi kembali
merembes melalui pangkal pipa dan melewati bagian luar pipa menuju ujung

3
pipa kembali dan menetes ke bawah. Akhirnya, bagian luar dari daerah pangkal
pipa paling banyak mendapat tumpukkan atu tempelan larutan kapur, sehingga
timbul bentukkan yang menyerupai kerucuk terbalik (stalaktit).

Gambar 1. Stalaktit

2. Stalakmit, terbentuk dari proses terjadinya stalaktit. Ketika air menetes jatuh ke
lantai gua, terjadi penguapan air, maka timbul penumpukkan larutan kapur yang
membetuk kerucut memanjang dan meruncing ke atas.

Gambar 2. Stalakmit

4
3. Column, yaitu stalaktit dan stalakmit yang ujung-ujungnya menyatu, menyerupai
pilar/tiang.

Gambar 3. Column

4. Drapery, proses terjadinya hampir sama dengan stalaktit, hanya saja


perembesannya terjadi pada sebuah celah (crack) yang memanjang pada atap
gua, sehingga bentukan yang tumpul menyerupai tirai-tirai yang menggantung
pada atap menuju ke bawah dengan lekukan-lekukannya.

Gambar 4. Drapery

5
5. Flowstone, terjadi karena penumpukkan larutan kapur pada celah memanjang
yang horizontal pada dinding gua, sehingga membentuk satu gundukan
berbentuk separuh bola yang permukaannya atau lapisan luarnya seperti air
mengalir.

Gambar 5. Flawstone

6. Gourdam (dam), bentuknya seperti kolam kecil yang saling menyambung dan
menumbuk sehingga membentuk jaringan persis daerah persawahan. Terjadi
karena permukaan dari lantai gua tidak rata, sehingga pada suatu tempat kapur
yang terlarut air mengalir ke dasar gua terhambat dan membentuk dinding
sesuai dengan alur lantai yang menahannya dan terjadi secara berulang-ulang.

Gambar 6. Gourdam (dam)

6
7. Helektite, yaitu bentuk stalaktit yang aneh karena bisa bercabang sejajar dengan
atau gua, bahkan pertumbuhannya kadang tidak ke bawah tetapi ke atas menuju
atap seperti melawan daya tarik bumi (gravitasi). Ada beberapa teori yang
muncul tentang terbentuknya helektite, sebagai berikut :
a. Pada tekanan udara tertentu pertumbuhan menjadi horizontal arahnya.
b. Angin membuat pertumbuhan tidak vertikal ke bawah.
c. Ada beberapa molekul tertentu maupun bakteri yang mempengaruhi
pertumbuhan.

Gambar 7. Helektite

B. Karakteristik Ekosistem Gua


Gua merupakan suatu ekosistem yang unik dan sedikit berbeda dibandingkan
dengan jenis ekosistem lainnya. Ada yang beberapa yang menganggap bahwa gua
merupakan suatu ekosistem yang bersifat tertutup dan terisolasi, namun hal ini tidak
pernah sebenarnya terjadi dalam ekosistem gua. Ekosistem gua sama halnya dengan
ekosistem lainnya, dimana berupa sebuah ekosistem yang terbuka dengan semua
komponen saling berkaitan baik dalam lingkungan gua maupun lingkungan luar gua.
Hanya saja keterkaitan yang tercipta dari interaksi antar komponennya memiliki
beberapa karakteristik yang unik menarik.
Morfologi daerah gua antara lain sebagai berikut:
1. Daerahnya berupa cekungan-cekungan,

7
2. Terdapat bukit-bukit kecil,
3. Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah,
4. Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah,
5. Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu
gamping,
6. Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.
Berdasarkan ketersediaan cahaya matahari, maka dibagi kedalam empat zonasi,
dimana masing-masing zona mempunyai karakteristik ekosistem (abiotik) yang
berbeda-beda, begitu juga dengan kehidupan faunanya (biotik), yaitu :
1. Zona mulut atau zona terang (entrance zone)
Pada zona ini menerima cahaya matahari langsung dan iklim gua sangat
terpengaruh oleh faktor luar gua. Temperatur dan kelembaban berfluktuasi
tergantung kondisi luar gua. Kondisi iklim mikro di mulut gua masih sangat
dipengaruhi oleh perubahan kondisi di luar gua. Mulut gua mempunyai komposisi
fauna yang mirip dengan komposisi fauna di luar gua seperti rakun, beruang,
salamander, burung hantu, serta siput. Selain itu, ada zona ini juga ditemukan
tanaman, seperti lumut, pakis dan tanaman paku.
2. Zona senja atau zona remang-remang (twilight zone) adalah zona dengan
cahaya matahari tidak langsung, berupa pantulan cahaya dari zona mulut. Di
zona peralihan ini kondisi lingkungan masih dipengaruhi oleh luar gua, yaitu
masih ditemukannya aliran udara. Temperatur dan kelembaban juga masih
dipengaruhi oleh lingkungan luar gua. Komposisi fauna pada zona ini mulai
berbeda baik dari segi jumlah jenis maupun individu. Kemelimpahan jenis dan
individu lebih sedikit dibandingkan di daerah mulut gua. Pada zona ini akan
ditemukan organisme dari jenis trogloxene, seperti kelelawar, laba-laba, ngengat,
kaki seribu, dan jamur. Hewan pada zona ini bersifat dapat masuk dan keluar
dari gua selama siklus hidupnya.
3. Zona gelap (dark zone) adalah zona dimana tidak ada cahaya sama sekali.
Daerah ini merupakan daerah yang gelap total sepanjang masa, kondisi
temperatur dan kelembaban mempunyai fluktuasi yang sangat kecil sekali. Jenis
fauna yang ditemukan sudah sangat khas dan telah teradaptasi pada kondisi
gelap total. Organisme gua sejati hidup di zona ini, seperti fauna yang berasal

8
dari golongan Troglobite. Fauna yang ditemukan biasanya mempunyai jumlah
individu yang kecil namun mempunyai jumlah jenis yang besar.
4. Zona yang terakhir adalah zona gelap total dimana sama sekali tidak terdapat
aliran udara kondisi temperatur dan kelembaban mempunyai fluktuasi yang
sangat kecil. Biasanya mempunyai kandungan karbondioksida yang sangat
tinggi. Zona ini biasanya terdapat pada sebuah ruangan yang lorongnya sempit
dan berkelok‐kelok.

Gambar 8. Profil gua menunjukkan pembagian berbagai tipe zona gua

C. Adaptasi Biota Gua


Gua sebagai lingkungan yang gelap dapat berperan sebagai perangkap fauna.
Dengan begitu, gua dapat memicu terjadinya proses evolusi fauna dari luar gua untuk
dapat beradaptasi dan bertahan hidup di dalam gua. Untuk menjaga kelangsungan
hidupnya dan kelestarian generasinya, maka organisme gua melakukan bentuk-bentuk
adaptasi guna menghadapi kondisi lingkungan gua yang sangat ekstrim dan spesifik.
Adapun bentuk adaptasi yang dilakukan oleh biota-biota tersebut secara garis besar
dibagi 4, yaitu :
1. Kompensasi sensori (alat perasa)
Sensor terhadap cahaya (penglihatan) mengalami kemunduran (reduksi) dan
digantikan dengan sensor terhadap gerakan dan perabaan yang mengalami
peningkatan menjadi sangat peka. Peningkatan kepekaan alat perasa pada

9
saatnya akan menghasilkan pertambahan anggota tubuh yang berfungsi sebagai
alat perasa.
2. Adaptasi terhadap kelembaban tinggi
Organisme gua yang hidupnya di daerah tidak berair (terrestrial) harus
beradaptasi dengan udara yang jenuh dengan uap air. Ada batas maksimum
toleransi terhadap kelembababan hewan gua yang masuk Arthropoda terrestrial
yang hidup di permukaan tanah. Howarth (1983) menyatakan bahwa hewan-
hewan gua mampu melakukan mekanisme ekskretori (pengeluaran) air yang
efektif sehingga akan meningkatkan permeabilitas kutikuler dengan cara
mereduksi kutikula.
3. Metabolisme ekonomi
Makanan di dalam gua sangat jarang sehingga hewan gua akan menurunkan
laju metabolisme yang bertujuan menghemat energi yang memungkinkan hewan
untuk bertahan terhadap kelaparan. Selain itu, hewan akan mempunyai
cadangan energi untuk keperluan yang lebih penting seperti reproduksi.
4. Neoteni
Kondisi keterbatasan tersedianya makanan menyebabkan hewan gua harus
mengembangkan strategi tertentu untuk mengatasinya. Strategi adaptasi
tersebut adalah neoteni (perlambatan pertumbuhan tubuh). Hal ini juga
dimaksudkan untuk mengalihkan penggunaan energi untuk reproduksi. Hewan
akan menunjukkan morfologi masih muda (juvenile) seperti ukuran badan dan
kepala meskipun mereka telah dewasa, bentuk yang demikian dinamakan
Paedomorph.
Berdasarkan tingkat adaptasi dan tingkat siklus hidupnya, biota gua dibagi menjadi 3
kelompok :
1. Trogloxene
Troglexene berasal dari kata Troglos yang artinya gua dan xenos yang berati
tamu. Berdasarkan asal katanya dapat kita ketahui bahwa Trogloxene adalah
organisme yang hidup di dalam gua namun tidak pernah menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya di dalam gua. Organisme ini hanya menggunakan gua sebagai
habitatnya hanya pada siklus tertentu dalam hidupnya, seperti hibernasi, masa
bereproduksi seperti bertelur. Organisme tipe ini tidak memerlukan adaptasi

10
khusus terhadap lingkungan gua yang mereka tempati. Kelelawar merupakan
salah satu contoh hewan trogloxene. Contoh lain dari organisme tipe ini, yaitu
beruang, sigung, dan rakun.
2. Troglophile
Troglophile berasal dari kata troglos yang berarti gua dan phileo yang berarti
cinta. Oleh karena itu, Troglophile adalah suatu organisme yang menyelesaikan
seluruh siklus hidupnya di dalam gua biasanya pada zona gelap, namun individu
yang lain dari jenis yang sama juga hidup di luar gua, seperti salamander, cacing
tanah, kumbang, kelelawar, burung wallet dan crustacean.
3. Troglobite
Troglobite berasal dari kata troglos yang berati gua dan bios yang berarti hidup.
Troglobite adalah organisme gua sejati dan hidup secara permanen di zona
gelap total dan hanya ditemukan di dalam gua. Organisme ini memiliki bentuk
adaptasi fisiologis terhadap habitatnya. Bentuk adaptasi ini seperti tereduksinya
indera penglihatan, tubuh tidak berpigmen, waktu reproduksinya tertentu,
mempunyai alat gerak yang ramping dan panjang (jangkrik gua mempunyai
antena 20-21 mm), mempunyai alat indera (alat penggetar) yang sudah
berkembang, serta metabolismenya lambat karena kurangnya suplai makanan.
Selain itu juga, organisme ini dapat beradaptasi dengan lingkungan kelembaban
yang tinggi. Contoh: ikan Amblyopsis spelaeus, Puntius sp, Bostrychus sp,
udang karang (cave crayfish), kaki seribu (millipedes), dan juga serangga.
Lingkungan gua mempunyai kondisi mikroklimat yang relatif stabil baik temperatur,
kelembaban, kandungan karbondioksida, dan oksigen. Hal ini disebabkan kondisi
lingkungan yang relatif stagnan karena minimnya aliran udara dalam gua. Kondisi ini
mempengaruhi adaptasi fauna gua pada lingkungan yang relatif stabil sehingga
mempunyai kisaran toleransi yang sempit. Sedikit perubahan dalam lingkungan gua
akan berpengaruh sekali pada kehidupan fauna gua. Sehingga, fauna yang telah
teradaptasi pada lingkungan gua sangat rentan terhadap gangguan. Perubahan
lingkungan yang drastis seperti tercemarnya perairan gua akan berpengaruh pada
kehidupan fauna aquatik maupun terrestrial.

11
D. Flora Fauna Pada Ekosistem Gua
Kawasan gua menyimpan kekayaan flora fauna yang sangat menarik dan unik.
Karena kondisi lingkungan gua yang kering, beberapa jenis flora harus mampu
beradaptasi dengan kondisi kekeringan yang tinggi pada musim kemarau. Selain itu,
kandungan kalsium yang tinggi juga mengharuskan semua jenis flora dan fauna mampu
beradaptasi pada lingkungan gua.
Keanekaragaman dan komposisi jenis flora gua sangat berbeda dibandingkan
dengan tipe vegetasi lainnya. Flora di kawasan gua mempunyai tingkat keendemikan
yang sangat tinggi dengan potensi ekonomi yang sangat tinggi pula. Beberapa jenis
flora seperti anggrek, paku-pakuan, palem, dan pandang merupakan jenis yang
terkadang hidup di tebing-tebing gua. Beberapa jenis mempunyai habitat yang sangat
spesifik, seperti anggrek yang ditemukan di Borneo. Beberapa adaptasi flora terhadap
kondisi lingkungan gua adalah kemampuan hidup di puncak bukit dengan sistem
perakaran yang sangat panjang yang mampu menembus celah rekahan batu gua dan
mencapai batas sumber air, contohnya adalah pohon beringin. Beberapa jenis mampu
beradaptasi pada lingkungan yang sangat minim lapisan tanahnya. Adaptasi tersebut
adalah cara meningkatkan kemampuan bertahan hidup tanpa kesulitan dengan cara
sistem perakaran di udara bebas, contohnya adalah anggrek yang mampu
memanfaatkan celah-celah batuan untuk tumbuh. Flora gua juga mempunyai tingkat
endemisitas yang sangat tinggi, terkadang satu bukit gua mempunyai satu jenis yang
tidak ditemukan di bukit lain yang ada di sekelilingnya. Selain itu, terdapat berbagai
makhluk hidup lain yang sering ditemukan pada kawasan gua, antaralain:
1. Mikroorganisme dan dekomposer pada ekosistem gua, seperti jamur dan bakteri
2. Kelelawar pemakan serangga, pemakan buah, dan burung walet.
Lebih dari separuh spesies kelelawar pemakan serangga dan 3-4 spesies
kelelawar buah, menggunakan gua sebagai tempat tinggal, baik secara
permanen atau hanya pada masa tertentu saja. Spesies kelelawar yang
bersarang di gua memiliki preferensi berbeda-beda terhadap kondisi gua.
Kelelawar buah Eonycteris spelaea ditemukan pada ruangan di dekat mulut gua.
Kelelawar lain, Miniopterus cenderung ditemukan di zona gelap. Beberapa
spesies kelelawar, termasuk kelelawar buah dan kelelawar pemakan serangga
bersarang di zona antara atau zona transisi. Beberapa jenis kelelawar dan walet

12
memiliki kemampuan echolocate, yakni menghasilkan suara dan memperkirakan
echoes yang direfleksikan kembali oleh benda keras, sehingga mereka memiliki
gambaran lingkungan sekitarnya. Di dalam gua kemampuan ini digunakan untuk
menghindari batu-batuan, sedangkan di luar gua digunakan untuk mendeteksi
mangsa. Familia hewan yang berbeda menggunakan sistem echolocate yang
berbeda pula, dan beberapa di antaranya dapat mendeteksi hewan berukuran 1
mm. Oleh karena itu, kelelawar dapat dengan mudah menangkap mangsanya,
namun beberapa jenis serangga dapat pula mendeteksi echolocate, sehingga
dapat menghindar atau mengeluarkan bunyi-bunyian yang membingungkan.

Gambar 9. Kelelawar

3. Arthropoda
Arthropoda merupakan instrumen ekonomi penting karena dapat
mengontrol hama dan penyakit tanaman. Taksa ini juga penting sebagai agen
penyerbuk bunga dan dekomposisi seresah untuk menyuplai hara. Arthropoda
(serangga, laba-laba, udang, centipede, millipede, dan lainnya) juga menjadi
dasar rantai makanan, sehingga menjadi sangat penting karena menyusun
bagian dasar rantai makanan dan menjaga keseimbangan lingkungan serta
memberi makan hewan lain seperti ikan, reptil, burung, dan mamalia.
Kebanyakan arthropoda tidak sepenuhnya tinggal di kawasan gua, namun
kerusakan lingkungan di sekitarnya seringkali menjadikan kawasan gua sebagai
tempat pengungsiannya yang terakhir. Beberapa di antaranya memiliki alat-alat

13
tambahan yang sangat panjang sebagai bentuk adaptasi fisiologisnya terhadap
lingkungan, misalnya kaki centipede dan antena jangkrik.

Gambar 10. Laba-Laba

4. Molusca dan cacing, organisme ini berperan sebagai konsumen tingkat satu
yang akan membawa makanan jauh ke dalam gua.
5. Ikan, berperan sebagai predator pada ekosistem gua. Hidup jauh di dalam gua
yang gelap. Terdapat adaptasi fisiologis, yaitu tereduksinya organ penglihatan.
Ikan pada ekosistem gua menempati posisi predator pada rantai makanan.

Gambar 11. Ikan di dalam gua


6. Salamander, berperan sebagai predator pada ekosistem gua.
Salamander pada sisi kiri merupakan salamander yang berhabitat pada daerah
senja atau remang-remang pada gua, sedangkan salamander pada sisi kanan
merupakan salamander yang bermukim di zona gelap.

14
Gambar 12. Salamander

7. Ular
Ular memilki daya adaptasi lingkungan tinggi banyak dijumpai di kawasan
gua. Sebagai contoh, kawasan gua gunung Sewu setidaknya merupakan habitat
bagi tiga keluarga ular, Elapidae, Colubridae, dan Bovidae. Dua jenis dari
keluarga Elapidae yang hidup di daerah terbuka dan lubang – lubang gua adalah
Ophiophagus hannah (king kobra) dan Naja naja sputatrix (kobra asia atau
dumung). King kobra yang sangat berbisa dan paling berbahaya di antara ular –
ular lainnya bisa mempunyai panjang 6 meter, dan tinggi kepala saat menyerang
sekitar 1 meter. Ular ini berwarna hitam kecoklatan, bagian dagu sampai leher
berwarna kuning hingga jingga, sementara bagian ventralnya berwarna hitam
kelabu. Sedangkan dumung ketika menyerang akan menyemburkan bisa ke arah
lawannya. Jika korban belum lumpuh, ular baru aka menggigitnya. Pada saat
menyerang, dumung yang berwarna hitam legam atau hitam kecoklatan dan
mempunyai panjang maksimum 1,6 meter itu akan menaikkan kepalanya
setinggi kira – kira 30 cm.

Gambar 13. Ular

15
E. Rantai Makanan Pada Ekosistem Gua
Kondisi gelap total tidak memungkinkan produsen utama seperti di lingkungan luar
gua dapat hidup. Hal ini menyebabkan tumbuhan hijau sebagai sumber utama energi di
ekosistem lain di luar gua, tidak ditemukan di dalam gua, sehingga energi dalam gua
merupakan sumber energi yang allochtonous dan sangat bergantung pada produktivitas
mikroorganisme yang ada di dalam gua maupun sumber-sumber lain yang berasal dari
luar gua.
Kelangkaan makanan menyebabkan beberapa hewan dapat menahan lapar untuk
jangka waktu lama, hingga musim hujan ketika makanan masuk gua, serta dapat
menyimpan sejumlah besar lemak. Sumber energi gua masuk ke dalam lingkungan gua
melalui beberapa cara, menurut Culver ada 5 sumber pakan yang penting untuk habitat
terestrial di dalam gua di daerah empat musim yaitu guano kelelawar, telur dan guano
jangkrik gua, mikroorganisme, kotoran mamalia dan bangkai hewan dan terakhir adalah
serasah tanaman yang terbawa banjir. Semua sumber pakan ini juga penting di gua-
gua daerah tropis, namun guano jangkrik tetap merupakan hasil dari adanya guano
kelelawar karena jangkrik tidak pernah meninggalkan gua untuk mencari pakan.
Sumber pakan yang penting berasal dari akar-akar yang menerobos melalui celah
rekahan dan menggantung di langit-langit gua. Berdasarkan kemelimpahan dan jenis
sumber pakan dibedakan 5 tipe gua, yaitu
1. Oligotrophic yaitu gua yang mempunyai jumlah ketersediaan bahan organik yang
rendah yang berasal dari hewan atau tumbuhan.
2. Eutrophic adalah gua yang mempunyai ketersediaan bahan organik yang sangat
tinggi, umumnya berasal dari hewan, khususnya guano kelelawar.
3. Distrophic adalah gua yang ketersediaan bahan organik berasal dari tumbuhan
yang terbawa banjir.
4. Mesotrophic adalah gua yang berada pada tingkat menengah antara tiga tipe
tersebut dan dicirikan dengan ketersediaan bahan organik dari hewan dan
tumbuhan dalam jumlah yang sedang.
5. Poecilotrophic adalah gua yang merupakan pemanjangan bagian gua dengan
suplai energi yang berbeda dengan rentang bagian oligotrophic sampai
eutrophic.

16
Energi di dalam gua berasal dari deposit bahan organik, seperti guano di bawah
tempat bertengger kelelawar dan burung walet, sisa-sisa akar tumbuhan yang
masuk melalui celah di langit-langit gua, serta seresah tumbuhan dan hewan-hewan
kecil yang terbawa masuk oleh air hujan. Di kawasan tropis, akar pepohonan
merupakan sumber bahan organik yang penting di gua; banyak pohon, seperti
Ficus, dapat bertahan lingkungan karst yang tandus, dengan menjalarkan akarnya
jauh ke dalam batu gamping, sering hingga di bawah permukaan air tanah.
Organisme tertentu, seperti fungi, protozoa, dan bakteri menguraikan deposit ini
sebagai nutrien-nutrien yang akan digunakan sebagai sumber energi bagi
organisme yang berada di dalam gua. Selanjutnya, perpindahan energi ini dilakukan
oleh konsumen primer gua, yaitu berupa golongan nematode, kecoa, dan kumbang
atau insekta lainnya. Konsumen primer ini kemudian akan dimakan oleh bangsa
arthropoda yang lebih besar, seperti jangkerik, centipede, laba-laba, dan juga ikan
atau kepiting gua. Pada konsumen teratas sering pula ditemui reptile, seperti ular.
Rantai makanan ini terus bergulir, dimana konsumen teratas akan mati dan
diuraikan kembali oleh mikroorganisme yang berada di dalam gua mejadi nutrient-
nutrien sederhana sebagai sumber energi kehidupan ekosistem gua.

F. Jaring-Jaring Makanan di Dalam Gua


Jaring-jaring makanan merupakan perputaran kembali materi-materi organik
diantara populasi yang ada di dalam gua. Contoh jaring makanan yang terjadi di dalam
gua yaitu jamur mendapat nutrisi dari proses peruraian dan dengan cara menyerap
substansi organik dari materi tersebut atau yang terdapat di dalam kotoran hewan.
Serangga pemakan jamur seperti Beetles, Springtail, Mites memakan jamur benang
dan bakteri. Hewan akuatik gua dapat mencerna materi organik yang mengapung
secara langsung. Hewan-hewan ini pada gilirannya akan dimangsa oleh pemangsa
yang lebih besar seperti Salamender, Crayfish, dan ikan-ikan. Dalam siklus makanan
ikan-ikan ini akan mati dan terurai sehiongga menghasilakn materi organik ke dalam
lingkungan gua. Kotoran gua merupakan sumber lain materi organik.
Perputaran makanan di dalam gua seringkali dikatakan sebagai Closed Ecologic
System (Ekosistem Tertutup). Dalam suatu sistem yang benar-benar tertutup, setiap
organisme pemakan organisme lain pada gilirannya akan dimakan oleh organisme

17
lainnya dalam sistem yang sama, tetapi sistem ini tidak bisa terpelihara tanpa adanya
bantuan secara tidak langsung dari sinar matahari.

Di dalam gua tidak ada produsen primer kecuali beberapa bakteri autotrof
khemosintetic yang menggunakan besi dan sulfur sebagai donor elektron. Jadi secara
umum komunitas gua hanya terdiri dari dekomposer dan predator.
Sumber makanan atau energi untuk biota gua berasal dari luar ekosistem gua, yaitu
berupa :
1. Faeces/kotoran (guano) dan sisa makanan dari kekelawar dan hewan trogloxene
lain.
2. Detritus/ sisa tumbuhan yang terbawa masuk pada gua yang mempunyai aliran
sungai
3. Akar tanaman yang masuk melalui rekahan dinding gua yang mempunyai aliran
sungai organik dan mikroorganisme.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Gua merupakan bentukan alami yang tidak biasa terlepas atau berdiri sendiri
dari lingkungannya. Pembentukan dan pengembangan gua dikenal sebagai
speleogenesis. Gua yang terbentuk oleh berbagai proses yang melibatkan kombinasi
dari proses kimia, erosi dari air, kekuatan tektonik, mikroorganisme, tekanan, pengaruh
atmosfer, dan bahkan penggalian.

Gua merupakan lingkungan yang sangat rentan, perubahan sedikit saja pada
lingkungan gua maupun luar gua dapat mengganggu kehidupan di dalamnya dan
memusnahkan berbagai jenis biota yang unik dan khas. Menurut proses terbentuknya,
gua dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu gua lava, gua littoral, dan gua kapur (karst).

Ekosistem gua sama halnya dengan ekosistem lainnya, dimana berupa sebuah
ekosistem yang terbuka dengan semua komponen saling berkaitan baik dalam
lingkungan gua maupun lingkungan luar gua.Gua sebagai lingkungan yang gelap dapat
memicu terjadinya proses evolusi fauna dari luar gua untuk dapat beradaptasi dan
bertahan hidup di dalam gua.

19
Daftar Pustaka

1. Deharveng, Louis. 2002. The Cave Fauna of The Oriental Region: Progress in
Knowledge and The Gaps, Abstract dalam XVI International Symposium of
Biospleology-Italy.
2. Howarth, F. G. 1980. The Zoogeography of Specialized Cave Animals: A
Bioclimatic Models dalam Evolution 34 (2): 394-406.
3. Rahmadi, Cahyo. 2007. Ekosistem Karst dan Gua: Gudangnya Keanekaragaman
Hayati yang Unik. Cibinong: Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.
4. Setyawan, Ahmad Dwi. 2007. Biodiversitas Ekosistem Karst di Jawa Tinjauan
Agroekosistem di Gunung Sewu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.
5. Vermaullen, J. dan Whitten, T. 1999. Biodiversity and Cultural Property in the
Management of Limestones Resources. Washington: The World Bank.
6. Whitten, T., R.I. Soeriatmadja, dan S.A. Afif. 1996. The Ecology of Indonesian
Series: The Ecology of Java and Bali: Vol. III. Singapore: Periplus Peditron.
7. https://makupella.wordpress.com/tentang-makupella/about/caving/, diakses tanggal
24/09/2016.
8. http://animals.howstuffworks.com/animal-facts/cave-biology2,diakses tanggal
24/09/2016.

20