Anda di halaman 1dari 3

Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya pada serabut

otot. Bila suatu impuls saraf tiba di taut neuromuscular, sekitar 125 vesikel asetilkolin dilepaskan dari
terminal dan masuk ke dalam ruangan sinaps. Dengan terlepasnya asetil kolin ke dalam ruang
sinaps, maka kanal asetilkolin akan membuka dan memungkinkan sebagian besar ion natrium untuk
berdifusi ke dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan potensial aksi pada
membran serabut otot (sarkolema). Potensial ini diteruskan ke sepanjang myofibril dan sampai ke
dalam reticulum sarkoplasma.

Di dalam reticulum sarkoplasma terdapat kolam tempat dimana banyak terdapat ion kalsium.
Dengan adanya potensial aksi ini, enzim-enzim yang ada dalam retikuluum sarkoplasma bekerja
dan menyebabkan ion kalsium keluar ke sarkomer.

Sarkomer otot terdiri dari filament myosin dan aktin. Pada filament aktin terdapat tropomiosin dan
troponin. Tropomiosin ini berbentuk filament, sedangkan troponin berbentuk globular. Troponin
terdiri dari troponin I, C, dan T. Troponin I berfungsi untuk menghambat interaksi aktin dan myosin
melalui kerja tropomiosin. Troponin C akan mengikat kalsium secara reversible, dapat mengikat 4
Ca. Troponin T akan berinteraksi dengan tropomiosin. Tropomiosin dan tropoinin inilah yang
mencegah aktin dan myosin berikatan pada saat relaksasi atau istirahat.

Gambar 4. Tropomiosin menutup tempat pengikatan kepala miosin pada aktin

Ketika ion kalsium ke luar ke sarkomer, maka ion kalsium akan berikatan dengan troponin C.
Troponin C ini akan berinteraksi dengan troponin I dan T sehingga aktin akan dapat berikatan
dengan myosin. Ketika aktin telah berikatan dengan kalsium, maka aktin akan mencari kepala
myosin yang memiiliki ATP. Saat aktin dan myosin telah berikatan, ATP akan diuraikan menjadi
ADP dan P yang merupakan energi akan dilepas. Hal ini akan berlanjut terus dan menyebabkan
filament aktin dan myosin saling bertumpang tindih, dan menghasilkan kontraksi
Gambar 5. Molekul Ca2+ mengikat troponin C. Tropomiosin bergeser, mengakibatkan kepala miosin
dapat berikatan dengan aktin

Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam reticulum sarkoplasma oleh
pompa membrane Ca++, dan ion-ion ini tetap disimpan dalam reticulum samapi potensial aksi otot
baru datang lagi; kembalinya ion kalsium ke dalam reticulum sarkoplasma akan meyebabkan
terlepasnya ikatan aktin dan myosin, proses berulang relaksasi kembali.

Konsep kontraksi otot juga digambarkan melalui mekanisme peluncuran dalam kontraksi (sliding
mechanism of contraction) yang diajukan Andrew Huxley. Pada waktu kontraksi, filamen aktin akan
meluncur atau mengerut diantara miosin ke dalam zona H, menyebabkan zona H menjadi pendek.
Yang bergerak saat kontraksi adalah garis Z, sedangkan lebar pita A tetap sama. Huxley
menjelaskan bahwa pada saat proses kontraksi berlangsung, miofilamen halus (aktin) dikedua pihak
dalam sebuah sarkomer, meluncur atau menyusup diantara miofilamen tebal di sekelilingnya,
mendekati ujung-ujung miofilamen halus di pihak lain.

Dalam sebuah myofibril, sejumlah mifilamen halus berpangkal pada lempeng Z dan meluas ke
setengah lempeng I dan sebagian dari lempeng A sampai batas lempeng H. Dengan demikian
lempeng H dibatasi oleh ujung-ujung miofilamen halus dari kedua belah pihak, sedang miofilamen
tebal yang berada sebagian di antara miofilamen halus, perluasannya dalam satu sarkomer dimulai
dari batas lempeng I di suatu pihak, sampai batas lempeng I di pihak lain. Di antara kedua
miofilamen tersebut dihubungkan oleh molekul-molekul berbentuk kaitkait pendek yang merupakan
bagian dari miofilamen tebal yang dinamakan “cross bridge”.

Saat berlangsung kontraksi, pada setiap sarkomer ujung-ujung miofilamen halus saling mendekat.
Tetapi karena ujung lainnya bertumpu pada lempeng Z, pada saat meluncurnya miofilamen halus
terhadap miofilamen kasar dalam upaya mendekati ujung miofilamen diseberangnya, akan
mengakibatkan mendekatnya lempeng Z. Aktivitas tersebut akan menyebabkan sarkomer menjadi
sempit. Jika seluruh sarkomer di sepanjang serabut otot menyempit, maka seluruh serabut akan
memendek pula.

Jelaslah bahwa kontraksi disebabkan oleh kemampuan saling tarik antara dua macam mioflamen
yang diwujudkan sebagai saling menggesernya miofilamen sedemikian rupa sehingga terdapat
pelekatan yang maksimal dari masing-masing permukaan miofilamen.
Gambar 5. Mekanisme Kontraksi Otot

1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kontraksi otot


a. reppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu
serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena
konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
b. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan
berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan
summasi bergelombang).
c. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.
d. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan
tegangan kontraksi.
e. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi
dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.