Anda di halaman 1dari 13

B.

Coking

1. Definisi

Coking merupakan sebuah proses termal pada suatu konversi yang berlangsung secara
terus-menerus (kontinyu) dari residu produk-produk yang memiliki titik didih rendah. Bahan
bakunya dapat berupa reduksi minyak mentah, pecahan residu, residu, dan produk seperti
gas, naphtha, bahan bakar minyak (fuel oil), bahan bakar gas (gas oil), dan coke (kokas). Gas
oil merupakan produk terbanyak yang dihasilkan dari proses coking yang umum digunakan
sebagai umpan dari catalytic cracking units. Coke yang diperoleh biasanya digunakan
sebagai bahan bakar, tetapi coke juga dapat digunakan dalam pembuatan elektroda, produksi
bahan-bahan kimia dan metallurgical coke dengan proses-proses perlakuan tambahan yang
disesuaikan seperti penghilangan kandungan sulfur dan metal (Speight, 2014).

Proses coking umumnya memanfaatkan waktu reaksi yang lebih lama dibandingkan
proses thermal cracking. Proses coking sangat diandalkan terutama dalam mengurangi fraksi
residu umpan pada pembentukan produk karbon berwujud padatan. Yield atau rendemen dari
coke yang diperoleh dari proses coking cenderung tidak sebanding dengan residu karbon
umpan (Speight, 2014).

2. Delayed Coking

Delayed coking atau penundaan proses terbentuknya coke merupakan suatu jenis
thermal cracking dimana panas dibutuhkan untuk melengkapi reaksi coking yang disuplai
oleh sebuah furnace, sementara coking tersebut ditempatkan dalam drum-drum yang
beroperasi secara terus-menerus selama 24 jam pengisian dan 24 jam siklus pengosongan.
Proses tersebut meminimalisasi waktu tinggal dalam furnace, dimana waktu tinggal
(residence time) yang cukup diperbolehkan hanya di dalam drum-drum tempat terjadinya
proses coking. Coke dibuang dari dalam drum-drum karena meningkatkan rasio H/C dalam
produk-produk sisa. Produk-produk tersebut masih tidak stabil dan unsaturated serta
memerlukan hidrogenasi lebih lanjut (Fahim et al, 2010).
Delayed coking merupakan suatu proses semi kontinyu dimana muatan panas ditransfer
ke dalam drum-drum berukuran besar yang memberikan waktu tinggal (residence time) yang
diperlukan untuk mengizinkan terjadinya reaksi pemecahan atau pemisahan berproses
sampai selesai (Speight, 2017).

Umpan pada coker biasanya berupa vacuum residue yang masih memiliki kandungan
aspal, resin, aromatik, sulfur dan logam yang tinggi. Coke yang terkumpul tersebut sebagian
besar mengandung aspal, sulfur, dan logam yang berasal dari umpan serta produk berupa
unsaturated gases (olefin) dan cairan yang banyak mengandung aromatik (Fahim et al.,
2010).

Proses delayed coking secara luas digunakan untuk mengolah residu menggunakan
waktu reaksi yang lama dalam fase cairan untuk mengkonversi fraksi residu dari umpan
menjadi gas, distilasi, dan coke. Reaksi kondensasi yang meningkatkan tingginya kandungan
aromatik pada produk coke juga cenderung mempertahankan kandungan sulfur, nitrogen dan
logam, sehingga membuat umpan kaya dengan elemen-elemen tersebut (Speight, 2017).

a. Peran dari Delayed Coker

Umpan pada delayed coker dapat berupa berbagai heavy stream yang tidak
diinginkan dengan kandungan logam yang tinggi. Sebagian besar umpan yang digunakan
adalah vacuum residue tetapi juga dapat berupa fluid catalytic cracking slurry dan
visbreaking tar (residu).

Produk keluaran coker berupa unsaturated gases (C1 - C4), olefin (C2= - C4=) dan
iC4. Olefin merupakan bahan baku yang paling diinginkan dalam industri petrokimia.
Isobutan dan olefin dapat dikirim ke unit alkailasi, dan gas C3/C4 dikirim ke LPG plant.
Coker merupakan satu-satunya unit dalam kilang yang memproduksi coke. Nafta dengan
kandungan aromatik yang tinggi tidak perlu dibentuk ulang dan dikirim ke penampungan
gasolin. Light gas oil di-hydrotreated dan dikirim ke penampungan kerosin. Heavy coker
gas oil dikirim ke FCC untuk proses pemecahan lebih lanjut. Peran dari delayed coker
adalah untuk menangani aliran (stream) yang sangat berat dengan kandungan yang tidak
diinginkan dan memproduksi produk-produk kilang yang diinginkan. Yield total
pengilangan dari produk-produk ringan akan meningkat sebagai hasil dari penghilangan
coke.

Gambar B.1 Peran dari delayed coker dalam kilang (Fahim et al., 2010).

b. Deskripsi Proses

Proses dari delayed coking mencakup sebuah furnace, dua coke drums,
fraksionator dan stripping section. Vacuum residue masuk ke bawah flash zone dalam
kolom distilasi atau ke bawah gas oil tray. Fraksi yang lebih ringan dari heavy gas oil
akan dibakar dan minyak yang tersisa akan diumpankan ke coking furnace. Steam
diinjeksi ke dalam furnace untuk mencegah premature coking. Umpan dalam coker
drums dipanaskan pada suhu diatas 482℃ (900°F). Campuran cairan-uap meninggalkan
furnace lalu masuk ke salah satu coking drum. Coke disimpan dalam drum ini selama
periode 24 jam sementara drum yang lain dikosongkan dan dibersihkan.
Uap panas dari coke drum akan dipadamkan oleh cairan umpan untuk mencegah
pembentukan coke dalam jumlah tertentu dalam fraksionator dan secara simultan
mengkondensi sejumlah heavy ends yang kemudian akan didaur ulang. Uap dari atas coke
drum akan dikembalikan ke bawah fraksionator. Uap ini mengandung steam dan produk
dari reaksi thermal cracking (gas, nafta, dan gas oil). Uap tersebut mengalir ke atas
melewati quench trays fraksinator. Di atas tempat masuknya umpan dalam fraksinator,
biasanya terdapat dua atau tiga tray tambahan di bawah tray keluaran gas oil. Tray
tersebut akan direflux dengan gas oil yang telah didinginkan secara terpisah untuk
memberikan fine trim control dari titik akhir gas oil dan meminimalisasi masuknya
umpan cairan baru atau cairan daur ulang ke dalam produk gas oil. The gas oil side draw
merupakan konfigurasi konvensional yang terdiri dari enam sampai delapan tray stripper
dengan steam yang dimasukkan ke bawah tray untuk vaporisasi dari light ends untuk
mengontrol initial boiling point (IBP) gas oil.

Steam dan light end tervaporisasi dikembalikan ke atas pemisah gas oil dalam
fraksionator, satu atau dua tray di atas draw tray. Sebuah pompa di sekitar sistem reflux
diberikan pada draw tray untuk mengembalikan panas pada tingkat temperatur tinggi dan
meminimalisasi tingkat temperatur rendah panas yang dihilangkan oleh overhead
condenser. Panas bersuhu rendah tidak dapat dikembalikan secara normal dengan
pertukaran panas dan dibuang ke atmosfir melalui air cooling tower atau aerial cooler.
Delapan sampai sepuluh tray umumnya digunakan diantara gas oil draw dan naphtha
draw atau puncak kolom.

Sebuah sistem keran pengontrol mengatur keluaran umpan yang masuk ke dalam
setiap drum, dimana reaksi berlangsung dan coke tertimbun pada dinding-dinding drum
aliran produk kembali ke kolom distilasi. Pada kasus ini, drum sedang dalam mode
pengisian. Pada saat yang sama, drum yang lain akan diistirahatkan dari sistem sembari
menghilangkan coke yang terdapat di dalamnya. Pada kasus ini, drum dalam mode
cutting.
Gambar B.2 Delayed coker unit (Fahim et al., 2010).

c. Variabel-variabel dari Delayed Coking

Terdapat tiga variabel yang mempengaruhi coking yakni proses operasi variable,
karakterisasi bahan baku dan variabel rekayasa. Temperatur digunakan untuk mengontrol
tingkat kekerasan dari coking. Dalam delayed coking, temperatur mengontrol kualitas
dari coke yang diproduksi. Temperatur yang tinggi akan menghilangkan material yang
lebih volatil. Coke yield akan menurus seiring dengan menurunnya temperatur. Jika
temperatur furnace tinggi akan memungkinkan terbentuknya coke di dalam furnace.
Suatu masukan furnace bertemperatur rendah akan menyebabkan incomplete coking.
Waktu siklus yang singkat akan meningkatkan kapasitas tetapi dapat memberikan jumlah
cairan produk yang lebih sedikit dan akan mengurangi jangka waktu pemakaian drum.
Meningkatkan tekanan akan meningkatkan pembentukan coke dan sedikit menurunkan
gas yield.

Variable bahan baku terdiri dari faktor karakterisasi dan Conradson carbon yang
mempengaruhi produksi yield. Kandungan sulfur dan logal biasanya dipertahankan
dalam produksi coke. Variabel rekayasa juga mempengaruhi proses performa yang
meliputi operasi, kapasitas, pembuangan coke dan penanganan peralatan.
Tabel B.1 Variabel delayed coking (Fahim et al., 2010).

c. Jenis Coke dan Propertinya

Jumlah coke dapat mencapai 30 wt % dalam delayed coking yang diproduksi


sebagai green coke yang memerlukan kalsinasi untuk membuang volatil sebagai produk
bahan bakar.

Jenis-jenis coke umumnya berupa sponge coke, needle coke, shot coke. Sponge
coke yang berbentuk sponge dan diproduksi dari umpan dengan kandungan aspal yang
rendah sampai sedang. Needle coke memiliki struktur seperti jarum dan dibuat dari
umpan yang tidak memiliki kandungan aspal seperti decant oil dari FCC dan digunakan
sebagai grafit elektrode yang mahal dalam industri baja.Shot coke merupakan produk
yang tidak diinginkan dan diproduksi ketika bahan baku dengan kandungan aspal yang
tinggi atau ketika temperatur drum terlalu tinggi. Salah satu cara mengurangi
pembentukan shot coke adalah dengan menambahkan umpan aromatik seperti FCC
decant oil, menurunkan temperatur, menaikan tekanan dan rasio daur ulang.
Tabel B.2 Karakterisasi coke dan penggunaan dari delayed coker (Fahim et al., 2010).

d. Coking dan Decoking Operation

Decoking operation melibatkan pengeboran sebuah lubang vertikal dalam coke


setelah pendinginan menggunakan mechanical boring tool. Penghilangan coke lebih
lanjut dilakukan dengan menggunakan alat pemotong hidraulik dimana sebuah jet air
mampu menghilangkan sisa-sisa coke dalam drum.

Siklus decoking melibatkan pergantian drum, pendinginan oleh steam,


pengeringan coke, pemanasan drum dan meluangkan waktu untuk kontingensi.
Sementara drum yang lain sedang dalam proses reaksi coking.

Gambar B.3 (A) Mechanical first boring tool. (B) Final hydraulic tool (Fahim et al., 2010).
Gambar B.4 Tahap - tahap dari decoking operation (Fahim et al., 2010).

Tabel B.3 Siklus waktu dari delayed coking (Fahim et al., 2010).

e. Prediksi dari Delayed coker Yield

Estimasi dari yield produk dapat dihitung menggunakan korelasi dasar pada persen
berat dari Conradson carbon residu (wt % CCR) dalam vacuum residue (Fahim, 2010).
Naphtha dapat dipisah menjadi 33,22 wt % light naphtha (LN) dan 66,78 wt %
heavy naphtha (HN), dengan asumsi gravitasi dari 65 API dan 50 API.

Gas oil (GO) dapat dipisah menjadi 64,5 wt % light cycle gas oil (LCO) dan 35,5
wt % heavy cycle gas oil (HCO) dengan gravitasi 30 API dan 13 API.

Tabel B.4 Distribusi sulfur pada delayed coker berdasarkan jumlah sulfur dalam umpan

(Fahim et al., 2010).

3. Fluid Coking

Fluid coking merupakan sebuah proses thermal cracking yang melibatkan sebuah
fluidized bed reactor dan fluidized bed burner. Vacuum residue dipanaskan mencapai
260°C (500°F) dan diumpankan ke dalam scrubber yang bertempat di atas reaktor untuk
pemulihan coke berpartiker halus dan dioperasikan pada 370°C (700°F).

Gambar B.5 Proses fluid coking (Fahim et al., 2010).


Heavy hydrocarbon dalam umpan didaur ulang dengan partikel-partikel halus ke
dalam reaktor sebagai bubur (slurry) daur ulang. Temperatur operasi reaktor berkisar pada
510-566°C (950-1050°F). Umpan vacuum residue yang berat diinjeksi melalui nozzle ke
fluidized bed dari partikel-partikel coke. Umpan dipisahkan menjadi uap dan gas ringan
yang masuk melewati scrubber menuju kolom distilasi.

Coke yang dihasilkan di dalam reaktor diletakkan di atas pertikel-partikel coke bed
dalam susunan berlapis. Steam dimasukkan dari bawah reaktor, dimana sebuah scrubber
juga ditambahkan untuk menggosok heavy hydrocarbon dari permukaan partikel-partikel
coke. Steam tersebut juga untuk memfluidisasi the bed.

Sebagian dari coke mengalir ke dalam burner dimana 15-30% dibakar oleh injeksi
udara dalam burner yang beroperasi pada temperatur sekitar 593-677°C (1100-1250°F) .
Sisa dari hot coke didaur ulang kembali ke reaktor untuk memenuhi panas yang dibutuhkan.
Pembakaran coke menghasilkan bahan bakar gas dengan nilai panas yang rendah (20
Btu/SCF).

Gambar B.6 Diagram dari fluid coking (Fahim et al., 2010).


Gambar B.7 Yield dan akhir penggunaan dari fluid coker process (Fahim et al., 2010).

4. Flexicoking

Proses flexicoking merupakan sebuah perkembangan dari proses fluid coking dimana
hanya 2 wt% dari coke yang diproduksi, sebagian besar coke tersebut digunakan untuk
memanaskan umpan. Sebuah fluidized bed ditambahkan ke dalam proses dan bertindak
sebagai gasifier dimana steam dan udara diinjeksi untuk memproduksi gas sintesis yang
disebut dengan Low Btu Gas (LBG). Gasifier yang beroperasi pada 816-982°C (1500-
1800°F) memproduksi hot coke yang tersisa setelah pembakaran. Coke tersebut mengalir
ke tengah vessel yang bertindak sebagai penukar panas untuk memanaskan cold coke yang
datang dari reaktor dan beroperasi pada 593°C (1100°F). Pengoperasi reaktor sama dengan
fluid coker.

Dalam zona oksidasi gasifier, reaksi yang terjadi dengan sangat cepat yakni:

Dalam zona reduksi, reaksi yang terjadi dengan lambat yakni:


a. Korelasi Yield Terhadap Flexicoking

Korelasi yield terhadap flexicoking didasarkan pada kandungan Conradson


carbon dari vacuum residue (CCR wt%), API gravitasi, dan kandungan sulfur (Sf).
Berat persen yield ditunjukkan dengan:

Gambar B.8 Flexicoking process (Fahim et al., 2010).


Gambar B.9 Diagram flexicoking (Fahim et al., 2010)

Distribusi sulfur dalam produk:

Gravitasi dari umpan flexicoker dan gas oil: