Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH SENI BUDAYA

ADAT RUWATAN

oleh :

NAMA : ARDITYA UMBARAN

No : 09

Kelas : ( XII MO 1 )

SMK MUHAMMADIYAH 6 TIRTOMOYO

TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat Jawa memiliki kepercayaan yang kuat dengan dunia mistis yang kemudian
memunculkan mitos-mitos hingga saat ini masih dipercaya sebagai kejadian yang pernah
terjadi dan merupakan kenyataan. Karena kepercayaan ini ada dan sudah hampir mendarah
daging dengan masyarakat Jawa, maka setiap generasi akan menurunkan kepercayaan-
kepercayaan itu kegenerasi berikutnya.
Kepercayaan yang ada dalam masyarakat Jawa ini memiliki keragaman yang banyak
sekali, baik berbentuk ritual atau upacara, maupun hal-hal lain yang bersifat spiritual.
Sedikit berbeda dengan masyarakat Jawa saat ini, kepercayaan tentang mitos-mitos atau
cerita mistis sudah banyak dilupakan dan sebagian besar masyarakat Jawa memilih teknologi
sebagai pilihan yang lebih ilmiah. Saat ini cerita mitos lebih cenderung pada sentuhan spiritual
yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang masih mempercayainya, yang tidak
mempercayainya tidak akan memengaruhi dirinya sama sekali.
Salah satu keyakinan masyarakat Jawa yang cukup penting adalah Ruwatan. Ruwatan
dapat dibagi dalam tiga jenis ritual yang paling umum dan sering dilakukan dalam masyarakat
Jawa yaitu :
1. Ruwat diri sendiri. Ruwatan dilakukan dengan tujuan menghindarkan diri dari kesialan yang
ada dalam dirinya. Ruwatan semacam ini biasanya dilakukan oleh sang spiritualis.
2. Ruwat untuk orang lain. Di sini, sang spiritualis melakukan ruwatan pada orang lain.
3. Ruwat untuk umum. Ruwatan semacam ini dilakukan untuk meruat suatu wilayah,
perkarangan dan menghilangkan kekuatan unsur alam yang ada di dalamnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Ruwatan
Karena di dalam masyarakat Jawa pengaruh kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat
mistis begitu kuat, maka pada zaman dahulu mereka sering menghubungkan suatu kejadian
dengan kejadian lain yang dianggap sebagai dampak suatu fenomena. Kejadian diawali dengan
kesalahan, dan kesalahan yang murni dilakukan oleh manusia ini menjadikan manusia akan
tertimpa dampaknya pada satu saat nanti, cepat atau lambat.
Masyarakat Jawa pada satu abad yang lalu sebagian besar masyarakatnya memiliki
kepercayaan yang kuat terhadap keberadaan dunia mistis. Kepercayaan Jawa ini melahirkan
beberapa teori yang turun menurun dari generasi ke generasi, menjadi salah satu kepercayaan
warisan.
Jawa yang merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia yang memiliki
keanekaragaman budaya. Selain kebudayaan yang bersifat mistis (spiritual), masyarakat jawa
juga mengenal adanya kebudayaan arsitektur, seni musik, seni tari dan masih banyak
kebudayaan lain yang ada dan masih eksis di kalangan masyarakat Jawa.
Kembali pada masyarakat Jawa yang kental dengan kepercayaan mistis atau sering
disebut juga kepercayaan dalam dunia spiritual (rohani), masyarakat Jawa memiliki ragam teori
yang menjadi dasar dilakukannya sebuah ritual. Upacara atau ritual yang dilakukan untuk
menghindarkan diri dari dampak yang ditimbulkan akibat kesalahan manusia, yang dalam
masyarakat Jawa disebut Ruwatan.
Ruwatan menjadi acara yang populer di masyarakat Jawa pada beberapa abad silam
sebelum Islam masuk ke Jawa dan sebelum Belanda menjelajah Indonesia. Keberadaan
ruwaran dipercara oleh beberapa ahli sejarah dan merupakan bawaan dari budaya Hindu-Budha
yang masuk ke Indonesia. Setelah Islam masuk ke Jawa, acara ruwatan yang asli diubah sedikit
bernapaskan Islami namun penampilan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan budaya
sebelumnya yang sudah ada.
Perkembangan Islam di tanah Jawa erat hubungannya dengan adanya ajaran para
Walisanga sehingga ruwatan adalah ajaran sinkretisme antara budaya Buddha, Hindu dan
Islam. Hingga saat ini, keberadaan acara ruwatan belum dapat ditentukan mana yang asli yang
merupakan kebudayaan Hindu-Budha dan mana yang merupakan gubahan para Walisanga
yang mengembangkan Islam.
Ruwatan hingga saat ini dianggap sebagai solusi yang ampuh menurut kepercayaan
masyarakat Jawa. Daya mistis yang ditimbulkan dari ritual ini akan melindungi dari kejahatan
yang merusak atau mencelakakan diri manusia. Dalam ritual ruwatan dikenal beberapa sosok
antara lain :
1. Bethara Kala
2. Bethera Guru
3. Bethari Durga
4. Bethera Wisnu
5. Sukarta.

B. Tujuan dilakukannya Ruwatan


Salah satu tujuan dilakukannya upacara ruwatan adalah :
1. Untuk menghindarkan diri dari ketidakberuntungan yang datang dari Sang Maha Kala.
Keberadaan Bethera Kala ini sebenarnya tidak selalu mutlak ada di saat dilakukannya ruwatan,
tetapi nama Bethera Kala sendiri sering disebutkan sebagai simbol keberadaannya dalam hidup
manusia.
2. Bethera Kala tidak harus ada dalam sebuah ritual ruwatan karena tidak semua ruwatan
memiliki tujuan untuk menghindarkan diri dari Bethera Kala, tetapi terkadang memiliki tujuan
untuk menghindarkan diri dari pengaruh jahat yang ditimbulkan oleh alam atau makhluk halus.
3. Kekuatan alam bisa merupakan sebuah bencana, kadang menjadi sebuah kekuatan mana kala
bencana tersebut sudah memberi informasi bahwa ia akan datang pada waktu tertentu.
Ketakuatan semacam ini pun menjadi manusia, tidak hanya masyarakat Jawa, merasa akan
dekatnya dengan kematian. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bencana dapat dihindarkan
dengan melakukan acara ruwatan. Jika saja bencana tetap datang, kemungkinan akan menelan
korban jiwa yang sedikit jika dibandingkan tidak melakukan ruwatan.

C. Masyarakat Jawa dengan ruwatan


Masyarakat Jawa yang senantiasa mengilhami dan mempercayai mitos-mitos tersebut
kemudian menjadikan acara ruwatan sebagai acara yang wajib dilakukan dan menjadi hal yang
bersifat sakral dalam menghubungkan diri manusia dengan Tuhan dan dunia gaib. Namun,
pelaksanaan ritual ruwatan yang ada dalam masyarakat Jawa sendiri sudah sangat jarang
dilakukan pada zaman sekarang ini. Banyak masyarakat Jawa sekarang berpikir realistis,bukan
bearti masyarakat Jawa pada zaman dahulu tidak berpikir secara realistis. Banyak masyarakat
Jawa pada zaman sekarang ini telah meninggalkan adat-istiadat Jawa yang memang dianggap
sebagai suatu hal yang berat dilakukan atau terlalu rumit untuk dijalankan. Sebagai contoh
banyak masyarakat Jawa yang tidak lagi mengenal Aksara Hanacaraka yaitu huruf atau aksara
Jawa yang merupakan salah satu budaya yang tinggi nilainnya. Dari beberapa kebudayaan yang
ditinggalkan masyarakat Jawa, tak luput juga jenis kebudayaan yang bersifat spiritual.
Para pelaku ritual pun sebagian sudah ada yang mulai beranggapan dan merasa bahwa
acara ruwatan bukan merupakan hal yang logis sehingga hal ini ditinggalkan sebagai bentuk
kepercayaan, kebudayaan dan ritual. Tetapi bagi masyarakat Jawa yang masih memiliki
keyakinan tentang Bethera Kala, Bethera Guru, Bethera Wisnu, dan
Bethari Durga, sukerta maka pelaksanaan ruwatan, khusunya ruwat murwa kala masih penting
untuk dilakukan.

D. Ritual Ruwatan
Dalam masyarakat Jawa, ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar yaitu :
1. Ritual ruwatan untuk diri sendiri
2. Ritual ruwatan untuk lingkungan
3. Ritual ruwatan untuk wilayah
Dalam masyarakat Jawa, ruwatan memiliki ketergantungan terhadap siapa yang
melaksanakannya. Jika ruwatan dilakukan oleh orang yang benar memang memiliki
kemampuan ekonomi yang memadai, maka biasanya dilakukan secara besar-besaran yaitu
dengan mengadakan pegelaran pewayangan. Pegelaran pewayangan ini berbeda dengan
pegelaran pewayangan pada umumnya dilakukan. Pegelaran pewayangan dilakukan pada siang
hari khusus dilakukan oleh dalang ruwat.
1. Ruwatan diri sendiri
Ruwat diri sendiri dilakukan dengan cara-cara tertentu seperti melakukan puasa (ajaran
sinkretisme), melakukan slametan, melakukan tapa brata. Pada saat itu, ruwatan yang
dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa jauh berbeda dengan kebudayaan peninggalan pada
zaman Hindu-Budha. Ruwatan lebih cenderung dilakukan dengan tidak mengatasnamakan
ruwatan, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yan sama. Pelaku sebagai wujud atau bentuk
dari ruwatan, bagi diri sendiri ini juga sering dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa agar
mendapatkan kebersihan jiwa.
Ritual ruwatan diri sendiri menurut kitab Primbon Mantrawara III, mantra Yuda jika orang
yang merasa selalu sial, dalam kepercayaan Jawa harus melakukan upacara ruwatan terhadap
diri sendiri.
Pendeteksian yang dilakukan adalah melalui perhitungan patungan Jawa yaitu: ha = 1, Na
= 2, Ca = 3, Ra = 4 dan seterusnya. Pendeteksian dilakukan dengan menjumlah neptu orang
tuanya dengan orang yang akan melakukan ritual ini. Jumlah keduanya kemudian dibagi 9 dan
diambil sisanya, jika sisa:
1 bersemayam di sebelah kiri – kanan mata kana
2 bersemayam di sebelah kiri – kanan mata kiri
3 bersemayam di telinga kanan
4 bersemayam di telinga kiri
5 bersemayam di sebelah hidung kanan
6 bersemayam di sebelah hidung kiri
7 bersemayam di mulut
8 bersemayam di sekeliling pusat
9 bersemayam di kemaluan

2. Ruwatan untuk Lingkungan


Ruwatan yang dilakukan untuk lingkup lingkungan biasanya dilakukan dengan
sebutan mageri atau memberikan pagar gaib pada sebuah lokasi.
a. Memberikan daya magis yang bersifat menahan, menolak, atau memindahkan daya (energi)
negatif yang berada dalam rumah/hendak masuk ke dalam rumah
b. Memberikan pagar agar tidak dimasuki oleh orang yang hendak berniat jahat
c. Memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir atau mengurung makhluk halus yang
berada dalam lingkup agar gaib
d. Berbagai cara memberikan pagar gaib ini dapat dilihat pada buku-buku kuno yang
menceritakan pemagaran diri manusia
e. Pemagar gaib yang sering ditemui dalam masyarakat Jawa sekitar kita berbentuk menanam
rajah, menanam tumbal.

3. Ruwatan Untuk Wilayah


Pada umumnya, pangruwatan murwakala dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang
membawa cerita tentang murwakala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan
dalam bidang ruwatan.
Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya dan menurut kepercayaan
masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak
sukerta sudah menjad anak dalang. Dan karena pagelaran wayang merupakan acara yang
dianggap sakral dan memerlukan biaya yang banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman
sekarang ini dengan pagelaran wayang dilakukan dalam lingkungan pedesaan dan pedusunan.
Proses ruwatan seperti yang diterangkan ini bisa ditunjukkan untuk seseorang yang
akan diruwat. Namun, pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkan untuk meruwat lingkup
lingkungan, biasanya dilakukan pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan
pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.
Urutan-urutan ruwatan sebagai berikut:
a. Dimulai dengan doa pembuka
b. Diteruskan dengan pembacaan cerita riwayat sang Hyangkala, yang disampaikan dengan
bahasa Jawa dan mirip dengan nyanyian
c. Diteruskan dengan membaca pakem suntheg, pakem ini dimulai dilagukan
“Hung Ilaheng pra yoganira sang syang kamasalah tangerannya, kang daging sang kemala,
kadi gerah suwarane, abra lir mustika murud, amarab”
d. Setelah pakem suntheng selesai, dibacakan:
“Aneka akem prabawa, ketug lindhu lan prahara, geter patertan pantaraalimaku tana suku,
alembehan tanpa tangan, aninyali tanpa netra”
e. Diteruskan dengan pasang tabeik dan membaca kidung sastra pinandhati:
Yanyangsiyu yusinyangya, yanyangasiyu yusinyangya, yajasiyu yusijaya, yadangsiyu
yusidangya, yawangsiyu yusiwangya, yasangsiyu, yakangsiyu yusikangya, arangsiyu
yusirangya, yacangsiyu, yusicangya, yanangsiyu yusirangya, yacangsiyu yusicangya,
yanangsiyu yusinangya, yakangsiyu yusihangya, yahangsiyu yusihangya.

f. Diteruskan dengan membaca “sastra banyak dalang” lagu kentrung:


“Sang raja kumitir-kitir, ing ngendi anggonira linggih, den barung ran keli, mangore lunga
ngidul, anelasar sruwa sepi, sumun dukuh ulung kembang, bale anyar ginelaran isi kang sumur
bandung, toyane ludira muncar, timbane kepala tugel, taline ususe maling, winarna winantu
aji, asri dinulu tingkahe kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigena, sampurnaning
banyak dalang”

g. Diteruskan dengan membaca sastra gumbalageru, gemi atau api yang datang dari berbagai
penjuru angin yaitu timur, selatan, barat dan utara disatukan dan ditolak kekuatan negatifnya
dan diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan melakukan pembacaan.
h. Diteruskan dengan kidung sastra Puji Bayu:
“Sang Hyang sekti naga nila wara, dadaku sang naga peksa telaleku pembebet jagad, asabung
kulinting limah, abebed kuliting singa, acawet angga genitri. Liyanan catur wisa, rinejegan
rejeg wesi, pinayungan kala akra, kinemiting panca resi, sinongsongan ash-asih premanaku
ing sulasih”

i. Diteruskan dengan kidung sastra mandalagiri:


Sang Hyang Tangkep bapak kasa, kaliyan Ibu pertiwi, mijil yogyanira sang Hyang Kamasalah,
tengerannya kadi daging, swarane kadi gerah, abra lir mustikamurub, urube marab arab,
anakaken prabawa, ketuk lindhu lan prahara, geter pater tan pantara, kagyat sang Hyang
Amarta arannya, wus ruwat pedhasamengko, yen ana gering kedadak, ngelu puyeng watuk,
kena wisa wutah-wutah, miring murup benceretan, kuu lumaku rinuwat iki, anata senajata
singwang, arane-mandalagiri, sang Hyang Amarta arannya wus ruwat padha samengko.”

j. Diteruskan dengan sastra kakancingan:


“Kunci nira kunci putih, angruwata metuwa sang, mentu samir lare kresna, kakrasa kama
dindi, langkir tambir pokoninjog, untuing-untuing matu tingting, tunggaking kayu aren, miwah
temu pamipisan, tumunem pega pagase, miwah kerubuhan lumbung dandang tanen, kudu
lumaku rinuwat, anata sanjataning wang, arane panji kumala, pinaputrak akengunung arane,
mandalagiri, sang Hyang ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko”
Pada proses ini merupakan penguncian kekuatan gaib yang ditimbulkan dengan cara atau
ritual ruwat selesai menyanyikan kidung untuk ruwat murwakala, selanjutnya dibuatlh rajah
kalacaraka yang ditempelkan pada pintu-pintu rumah yang diruwat.

E. Yang Perlu dan Harus di Ruwatan


Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwakala” Javanologi gabungan dari beberapa
sumber, antara lain dari serat Centhini (Sripaku Buwana V), bahwa orang yang harus diruwat
disebut anak atau orang “Sukerta” ada 60 macam penyebab, yaitu sebagai berikut:
1. Ontang-anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan
2. Uger-uger lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak
anak yang meninggal
3. Sendang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang
anak yang kedua perempuan.
4. Pancuran kapit sendhang, yaitu 3 orang anak yang sulung dan yang bungu perempuan sedang
anak yang kedua laki-laki.
5. Anak bungkus, yaitu anak yang ketiga lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus
bayi (placenta)
6. Anak kembar, yaitu 2 orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu
seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)
7. Kembang sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya
perempuan.
8. Kendhana-kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan.
9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki
10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.
11. Mancalaputra atau pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki
12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak semuanya perempuan
13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempua dan 1 orang anak laki-
laki.
14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak laki-laki dan 1 orang anak
perempuan
15. Julung pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam
16. Julung wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari
17. Julung sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang
18. Tiba ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal
19. Jempina, yaitu anak yang baru berusia 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
20. Tiba sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus
21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan
22. Wahana, yaitu anak yang lahir di halaman / pekarangan rumah
23. Siwah / salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna
Contoh yang di atas yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh sang Hyang
Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan/ makanannya.
Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong dalam kriteria tersebut di
atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka (menjadi makanan Betara Kala). Selain Sukerta,
terdapat juga “Ruwat Sengkala atau sang kala” yang artinya menjadi mangsa sangkala yaitu
jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan.

F. Perkembangan Tradisi Ruwatan


Di masa sekarang, disebabkan oleh pengaruh perkembangan penalaran masyarakat dan
semakin mantap keyakinannya terhadap agama-agama modern. Mengakibatkan
penyelenggaraan upacara ruwatan dianggap sesuatu yang tidak perlu lagi, mubadzir,
pemborosan, tahayul, dan sebagainya. Sebaliknya masih ada anggapan bahwa upacara ruwatan
tetap relevan, meskipun tergolong masyarakat elite yang sehari-harinya telah bergaya hidup
modern dan tinggal di kota-kota besar.
Munculnya tokoh-tokoh dewa dalam pertunjukan wayang, termasuk dalam ruwatan,
sering dianggap satu ungkapan kemusrikan, maka upacara ruwatan dengan menggunakan
wayang oleh masyarakat Islam tertentu yang mengharamkan.
Perkembangan informasi saat ini lambat laun menggeser sedikit banyak jenis-jenis
kebudayaan yang sudah dianggap tidak realistis. Islam dalam masyarakat Jawa berkembang
dengan sangat pesat pada masa Walisanga, setelah Indonesia merdeka dan masyarakat modern.
Dalam ajaran Islam terdapat ritual yang hampir sama dengan ruwatan. Ritual ini
dinamakan dengan Rukyah. Rukyah adalah upacara yang dilaksanakan dengan alasan sebagai
berikut :
a. Seorang telah melakukan pelanggaran atau dalam dirinya terdapat kekuatan magis yang
seharusnya tidak ada.
b. Membersihkan diri dari kekuatan ghaib yang berada di dalam tubuh.
Rukyah memang mirip dengan ruwatan, hanya saja dalam ajarah rukyah tidak ada
tokoh-tokoh seperti Bethara Kala, Bethara Guru, Bethera Wisnu dan sukerta . yang terlibat
dalam ritual Ruyah adalah orang yang di rukyah (dalam ruwatan disebut sukerta) dan orang
yang merukyah.
Ritual rukyah bukan merupakan ritual yang mudah untuk dikuasai oleh setiap orang,
tetapi dengan tikat kesucian, keimanan, dan kedekatan diri sang perukyah akan menentukan
hasil akhir dari ritual-ritual yang telah dilakukan sebelumnya.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Jadi Ruwatan pada masyarakat Jawa adalah sebuah ritual yang digunakan untuk
membersihkan diri dari pebuatan buruk yang akan kita lakukan dan menjauhkan kesialan,
maupun membuang kesialan menurut masyarakat Jawa yang menganut tradisi ruwatan
tersebut.
Ruwatan merupakan acara yang dilakukan dengan ritual khusus pada zaman dahulu
oleh masyarakat Jawa. Pada zaman sekarang, ruwatan sudah jarang dilakukan karena
masyarakat Jawa sebagian besar merasakan hal itu tidak diperlukan lagi. Pandangan modern
memang menjadikan kebudayaan tersingkir dari kehidupan masyarakat Jawa. Tidak hanya
ritual ruwatan saja yang mengalami pergeseran posisi dalam masyarakat Jawa, tetapi masih
banyak lagi yang tersingkir dari kehidupan masyarakat Jawa sebagai sebuah kebudayaan.