Anda di halaman 1dari 10

DAMPAK SOSIAL PENGEMBANGAN PARIWISATA DI TANJUNG BENOA

BALI

Pendahuluan
Anom, Hitchcock, and Sunarta (2005) dalam “Pro Poor Tourism: Tanjung Benoa Focus
Group Study” menemukan : “as might be expected there were differences of opinion in
the role of tourism in their lives, but there was broad agreement around a number of
issues, which were largely regarded as positive. First, they were aware of the diversity of
economic opportunities provided by tourism, not only through direct employment in the
resort in the hotels, but also in a range of related occupations outside or close to the resort
such as retail (clothing and souvenir shops), hospitality (locally owned cafés and hotels)
and land and street maintenance; second, there was tourism’s general knock on effect in
the economy that improved the quality of life through increased educational opportunities
and improved living conditions. An important consideration for the predominantly Hindu
villagers was the enhanced ability of people in gainful employment to contribute to the
maintenance and functioning of the temples”.
Dalam pengembangan kepariwisataan harus dibarengi dengan pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) yang diharapkan memiliki kompetensi sehingga mampu berperan
dalam berbagai jenjang jabatan/pekerjaan di sektor pariwisata karena berdasarkan
penelitian I Wayan Bawa, dkk (2001) tentang studi keunggulan Sumber Daya Manusia
(SDM) Bali di bidang pariwisata menyatakan : (1) Keunggulan SDM etnis Bali di bidang
pariwisata diberbagai jenjang jabatan ternyata sebagian besar terletak pada aspek-aspek
pribadi yang lebih banyak merupakan sifat-sifat bawaan (personal qualities) dan
kemampuan dalam berkerjasama dengan orang lain (human relations); (2) tidak terdapat
keunggulan atau kelebihan yang menonjol di bidang-bidang yang ada hubungannya
dengan kemampuan konseptual (conceptual skills) dan kemampuan teknis (technical
skills) yang justru sebenarnya lebih banyak diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan
pengalaman di lapangan; dan (3) SDM etnis Bali juga memiliki sejumlah kelemahan
terutama yang berhubungan dengan aspek-aspek manajerial dan aspek bisnis lainnya,
sehingga apabila dilihat dari jenjang jabatannya keunggulan SDM etnis Bali lebih banyak
pada tingkat pelaksana, untuk itu perlu adanya kebijakan pengembangan SDM yang lebih
terarah agar nantinya benar-benar dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang profesional
terutama sekali untuk jabatan-jabatan pimpinan dan pelaku bisnis pariwisata.
Pengembangan kepariwisataan di Indonesia diharapkan tidak menimbulkan kejenuhan
wisatawan serta tetap mampu bersaing dengan daerah dan negara tujuan wisata yang lain,
untuk itu diusahakan penemuan potensi objek dan daya tarik wisata yang baru dengan
harapan mampu menambah diversifikasi objek dan daya tarik wisata serta diupayakan
penciptaan keamanan yang kondusif serta rasa optimis harus tetap dikobarkan untuk
meningkatkan kesempatan berusaha, kesempatan kerja, pendapatan negara, daerah, dan
masyarakat secara umum, khususnya masyarakat lokal dengan terus mewujudkan
pemberdayaan masyarakat, mengimplementasikan pariwisata kerakyatan, pelestarian
lingkungan dan revitalisasi sosial budaya masyarakat (Anom, 2005).
Dalam perencanaan dan pengembangan pembangunan kepariwisataan diperlukan kajian
yang mendalam dari berbagai potensi kepariwisataan baik potensi phisik, sosial budaya,
sumber daya manusia maupun potensi lain yang selayaknya diperlukan untuk
mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism Development)
Garis - Garis Besar Haluan Negara mengamanatkan bahwa pembangunan dan
pengembangan sektor pariwisata bertujuan meningkatkan penerimaan devisa,
meningkatkan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, memperkenalkan alam dan
budaya nusantara serta mempererat pergaulan antar bangsa.
Adapun visi kepariwisataan Indonesia adalah “Pariwisata Menumbuhkembangkan
Kesejahteraan dan Perdamaian”. Visi ini mengandung pengertian :
1) Pariwisata menjadi andalan pembangunan nasional yang secara seimbang
mempertimbangkan bidang ekonomi dan bidang – bidang lainnya, demi
kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia;
2) Indonesia menjadi kawasan pariwisata dunia yang mengutamakan pembangunan
pariwisata nusantara dan sekaligus sebagai tujuan wisatawan
mancanegara(Depbudpar,2000).
Menurut Undang – Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional, maka tujuan pembangunan pariwisata adalah :
1) Mengembangkan dan memperluas diversifikasi produk dan kualitas pariwisata
nasional;
2) Berbasis pada pemberdayaan masyarakat, kesenian dan sumber daya (pesona)
alam lokal dengan memperhatikan kelestarian seni dan budaya tradisional serta
kelestarian lingkungan hidup setempat dan;
3) Mengembangkan serta memperluas pasar pariwisata terutama pasar luar negeri
(Depbudpar,2000).
Indonesia terus berupaya meningkatkan sektor pariwisata, yang diharapkan terus
mampu meningkatkan kesempatan kerja, pendapatan masyarakat serta berkontribusi
pada produk domestik bruto, hal ini sesuai dengan kajian bahwa kalau mesin
penggerak penyerapan tenaga kerja pada abad ke – 19 adalah pertanian, pada abad ke
– 20 adalah industri manufacturing dan pada abad ke – 21 adalah pariwisata (Dowid
J.Villiers,1999,dalamSalahWahab,1999).

Pengembangan kepariwisataan di Indonesia diharapkan tidak menimbulkan


kejenuhan wisatawan serta tetap mampu bersaing dengan daerah dan negara tujuan
wisata yang lain, untuk itu diusahakan penemuan potensi objek dan daya tarik wisata
yang baru dengan harapan mampu menambah diversifikasi objek dan daya tarik
wisata serta diupayakan penciptaan keamanan yang kondusif serta rasa optimis harus
tetap dikobarkan untuk meningkatkan kesempatan berusaha, kesempatan kerja,
pendapatan negara, daerah, dan masyarakat secara umum, khususnya masyarakat
lokal dengan terus mewujudkan pemberdayaan masyarakat, mengimplementasikan
pariwisata kerakyatan, pelestarian lingkungan dan revitalisasi sosial budaya
masyarakat(Anom,2005).
Dalam perencanaan dan pengembangan pembangunan kepariwisataan diperlukan
kajian yang mendalam dari berbagai potensi kepariwisataan baik potensi phisik,
sosial budaya, sumber daya manusia maupun potensi lain yang selayaknya diperlukan
untuk mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism
Development)
II. Konsep Perencanaan dan Pengembangan Pembangunan Pariwisata
2.1 Konsep Perencanaan

Perencanaan (planning) adalah sebuah proses pengambilan keputusan yang


menyangkut masa depan dari suatu destinasi atau atraksi. Planning adalah proses
yang bersifat dinamis untuk menentukan tujuan, bersifat sistematis dalam mencapai
tujuan yang ingin dicapai, merupakan implementasi dari berbagai alternatif pilihan
dan evaluasi apakah pilihan tersebut berhasil. Proses perencanaan menggambarkan
lingkungan yang meliputi elemen-elemen : politik, fisik, sosial, budaya dan ekonomi,
sebagai komponen atau elemen yang saling berhubungan dan saling tergantung, yang
memerlukan berbagai pertimbangan (Paturusi, 2001).
Perencanaan adalah sesuatu proses penyusunan tindakan-tindakan yang mana
tindakan tersebut digambarkan dalam suatu tujuan (jangka pendek, jangka menengah,
maupun jangka panjang) yang didasarkan kemampuan-kemampuan fisik, ekonomi,
social budaya, dan tenagayang terbatas. Perencanaan sebagai suatu alat atau cara
harus memiliki 3 (tiga) kemampuan (the three brains) yaitu :
1.Kemampuan melihat kedepan.
2.Kemampuan menganalisis.
3.Kemampuan melihatinteraksi-interaksi, antara permasalahan.
Seperti yang dikatakan oleh Butler 1980, bahwa terdapat enam tingkatan atau tahapan
dalam pembangunan pariwisata. Ke enam tahapan tersebut adalah :

1.Eksplorasi (pertumbuhan spontan dan penjajakan)


Pada tahapan ini jumlah wisatawan petualang relatif kecil. Mereka cenderung
dihadapkan pada keindahan alam dan budaya yang masih alami di daerah tujuan
wisata. Di samping jumlah wisatawan yang kecil, juga ditambah dengan fasilitas
dan kemudahan yang kurang baik. Pada tahapan ini atraksi di daerah wisata belum
berubah oleh pariwisata dan kontak dengan masyarakat lokal akan tinggi.

2.Keterlibatan
Pada tahapan ini, inisiatif masyarakat lokal menyediakan fasilitas wisatawan,
kemudian promosi daerah wisata dimulai dengan dibantu keterlibatan pemerintah.
Hasilnya terjadi peningkatan jumlah wisatawan. Musim wisatawan dan mungkin
tekanan pada publik untuk menyediakan infrastruktur.
3. Pengembangan dan Pembangunan
Pada tahapan ini jumlah wisatawan yang datang meningkat tajam. Pada musim
puncak wisatawan bisa menyamai, bahkan melebihi jumlah penduduk lokal.
Investor luar berdatangan memperbaharui fasilitas. Sejalan dengan meningkatnya
jumlah dan popularitas daerah pariwisata, masalah-masalah rusaknya fasilitas
mulai terjadi. Perencanaan dan kontrol secara Nasional dan Regional menjadi
dibutuhkan, bukan hanya untuk memecahkan masalah yang terjadi, tetapi juga
untuk pemasaran internasional.

4.Konsolidasi dan Interelasi


Pada tahapan ini, tingkat pertumbuhan sudah mulau menurun walaupun total
jumlah wisatawan masih relatif meningkat. Daerah pariwisata belum
berpengalaman mengatasi masalah dan kecenderungan terjadinya monopoli
sangat kuat.

5.Kestabilan
Pada tahapan ini, julah wisatawan yang datang pada musim puncak wisatawan
sudah tidak mampu lagi dilayani oleh daerah tujuan pariwisata. Ini disadari
bahwa kunjungan ulangan wisatawan dan pemanfaatan bisnis dan komponen-
komponen lain pendukungnya adalah dibutuhkan untuk mempertahankan
jumlah wisatawan yang berkunjung. Daerah tujuan wisata mungkin mengalami
masalah-masalah lingkungan, sosial dan ekonomi.

6.Penurunan kualitas (Decline) atau Kelahiran Baru (Rejuvenation).


Pada tahapan ini, pengunjung kehilangan daerah tujuan wisata yang diketahui semula dan
menjadi “resort” baru. “Resort” menjadi tergantung pada sebuah daerah
tangkapan secara geografi lebih kecil untuk perjalanan harian dan kunjungan
berakhir pekan. Kepemilikan berpeluang kuat untuk berubah, dan fasilitas-
fasilitas pariwisata seperti akomodasi akan berubah pemanfaatannya. Akhirnya
pengambil kebijakan mengakui tingkatan ini dan memutuskan untuk
dikembangkan sebagai “kelahiran baru”. Selanjutnya terjadi kebijaksanaan baru
dalam berbagai bidang seperti pemanfaatan, pemasaran, saluran distribusi, dan
meninjau kembali posisi daerah tujuan wisata tersebut.
Relevansi tahapan tersebut di atas dalam konsep pembangunan pariwisata
adalah bahwa setiap tahapan/tingkatan pembangunan mempunyai karakter yang
berlainan, yang memerlukan perlakuan perencanaan yang berbeda pula. Bali
misalnya yang telah berada pada tahapan “stagnation” oleh karenanya masalah-
masalah evaluasi daya dukung (carrying capacity) memerlukan pencermatan
kembali, di samping masalah manajerial lainnya yang secara keseluruhan perlu
dituangkan dalam re-evaluasi tata ruangnya. Konsekuensi dari adanya
perbedaan karakteristik dalam pembangunan atau perkembangan pariwisata
menuntut seorang perencana pariwisata untuk selalu mencermati bentuk
keterkaitan antara komponen kepariwisataan dengan karakteristik komponen
lingkungan untuk menentukan lingkup pekerjaan.

Tipe Pembangunan Pariwisata Di Indonesia atau di beberapa negara lain biasa dikenal
dua tipe pembangunan pariwisata berdasarkan pada pola, proses dan tipe pengelolaannya,
yaitu : tipe tertutup (“enclave”) atau terstruktur dan tipe ke dua yaitu tipe terbuka
(“spontaneouse”) atau tidak terstruktur. Ke dua tipe ini pada umumnya mempunyai
perbedaan yang jelas dalam hal karakteristiknya, terutama pada pola, proses dan tipe
pengelolaannya. Tipe tertutup atau terstruktur dapat diambil contoh seperti kawasan
pariwisata Nusa Dua di Bali, yang diakui telah berhasil membangun dan mengembangan
tipe kawasan pariwisata tertutup. Sedangkan untuk tipe terbuka atau tidak terstruktur
dapat diambil contoh pada daerah daerah pariwisata di Indonesia yang perkembangannya
spontan, seperti kawasan pariwisata Sanur dan Kuta.
Tipe tertutup atau terstruktur pada dasarnya ditandai oleh karakter-karakter sebagai
berikut:
 Pada umumnya kawasan ini dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk
kawasan tersebut. Tipe ini memang tidak didesain untuk tujuan utama pada
keuntungan penduduk lokal. Tipe kawasan seperti ini akan mempunyai kelebihan
dalam kekuatan kesan yang ditumbuhkan sehingga mampu menembus pasar
internasional.
 Lokasi biasanya terpisah dari masyarakat/penduduk lokal, sehingga dampak
negatif yang ditimbulkan mudah untuk dimonitor/dikontrol. Karena itu pengaruh
sosial budaya yang ditimbulkan dari pariwisata terhadap penduduk lokal dapat
terdeteksi sejak dini.
 Lahan pada umumnya terbatas, sehingga kawasan pariwisata biasanya tidak
terlalu besar, sehingga masih berada pada tingkat kemampuan perencanaan yang
integratif dan terkoordinir, dan akan mampu menjadi semacam agen untuk
mendapatkan dana-dana secara internasional. Hal ini akan berfungsi sebagai
struktur utama dalam mengembangkan fasilitas yang berkualitas tinggi yang pada
umumnya diperuntukkan untuk kalangan internasional yang berduit. Tipe ini
tentunya akan membawa iklim “harga tinggi” dengan harga-harga yang
ditawarkan di dalam kawasan ini tidak akan terjangkau oleh penduduk lokal.
Tipe terbuka atau terstruktur yang bersifat spontan pada umumnya ditandai dengan
karakter-karakter sebagai berikut :
 Tumbuh menyatu dengan struktur kehidupan baik ruang maupun pola
masyarakat lokal.
 Distribusi pendapatan yang diperoleh dari wisatawan bisa secara langsung
dinikmati oleh penduduk lokal.
 Dampak perkembangan pariwisata terutama dampak negatifnya menjalar dan
menyatu dengan cepat ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit di
monitoring/dikontrol.
 Kalau ingin mengetahui tipe mana yang lebih baik dari ke dua tipe
pembangunan pariwisata tersebut, sangat tergantung dari sudut pandang kita
walaupun diketahui masing-masing tipe pengembangan pariwisata ini sedikit
tidaknya sangat tergantung dari karakteristik lokasi pariwisata itu
dikembangkan. Kalau hanya dengan pertimbangan karakteristik lokasi, baik
fisik, maupun sosial-budaya kita sebetulnya sudah dapat menentukan tipe
nama yang lebih cocok dikembangkan di lokasi tersebut. Akan tetapi, sering
kebijaksanaan yang diambil sering tidak hanya memperhatikan hal tersebut,
walaupun banyak pihak yang harus dikorbankan. Kalau dicermati tujuan
pembangunan pariwisata tersebut, untuk siapa sebetulnya pembangunan itu
dilakukan, maka pertimbangan-pertimbangan untuk kepentingan masyarakat
harus lebih dikedepankan.
Pembahasan
Secara umum perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan
– kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Perencanaan itu
sendiri merupakan “alat” dan bukan tujuan, perencanaan adalah alat untuk mencapai
tujuan, dengan demikian dapat berubah – ubah menurut tempat, waktu dan keadaan.
Perencanaan sebagai alat untuk dibuat sedemikian rupa sehingga fleksibel untuk tiap era
pembangunan. Perencanaan dipakai sebagai alat atau cara karena hal ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa :
 Dengan perencanaan dapat dibuat urutan – urutan kegiatan menurut skala prioritas
untuk mencapai tujuan.
 Dengan perencanaan dapat dibuat pengakolasian sumber daya yang paling baik.
Alternatif dapat dibuat, agar sumber digunakan dengan sebaik – baiknya.
 Perencanaan merupakan alat ukur daripada kemajuan ekonomi dan juga sebagai
alat pengawas daripada pelaksanaan pembangunan.
 Melalui perencanaan dapat dibuat perkiraan keadaan dimasa yang akan datang.
 Dengan perencanaan diharapkan pembangunan tidak akan terputus – putus, sebab
perencanaan merencanakan proses pembangunan yang menyeluruh.
Ada beberapa alasan mengapa perencanaan diperlukan :
1. Memberipengarahan, Dengan adanya perencanaan para pelaksana
dalam suatu organisasi atau tim mengetahui apa yang hendak
dilakukannya dan kearah mana yang akan dituju, atau apa yang akan
dicapai.
2. Membimbing kerjasama, Perencanaan dapat membimbing para petugas
bekerja tidak menurut kemauannya sendiri. Dengan adanya
perencanaan, ia merasa sebagai bagian dari suatu tim, di tempat tugas
seorang banyak tergantung dari tugas yang lainnya.
3. Menciptakan koordinasi, Bila dalam suatu proyek masing – masing
keahlian berjalan secara terpisah, kemungkinan besar tidak akan
tercapai suatu inkronisasi dalam pelaksanaan. Karena itu sangat
diperlukan adanya koordinasi antara beberapa aktivitas yang dilakukan.
4. Menjamin tercapainya kemajuan, Suatu perencanaan umumnya telah
menggariskan suatu program yang hendak dilakukan meliputi tugas
yang tanggung jawab tiap individu atau tim dalam proyek yang
dikerjakan. Bila ada penyimpangan antara yang telah direncanakan
dengan apa yang telah dilaksanakan, akan segera dapat dihindarkan.
Dengan demikian akan dapat dilakukan koreksi pada saat diketahui,
sehingga sistem ini akan mempercepat penyelesaian suatu proyek.
5. Untuk memperkecil resiko, Perencanaan mencakup mengumpulkan
data yang relevan (baik yang tersedia, maupun yang tidak tersedia) dan
secara hati – hati menelaah segala kemungkinan yang terjadi sebelum
diambil auatu keputusan. Keputusan yang diambil atas dasar intuisi,
kerjakan ini kerjakan itu tanpa melakukan suatu penelitian pasar atau
tanpa melakukan perhitungan rates of return on invesment, sangat
dikhawatirkan akan menghadapi resiko besar. Karena itu perencanaan
lebih lebih memperkecil resiko yang timbul berlebihan.
6. Mendorong dalam pelaksanaan. Perencanaan terjadi agar suatu
organisasi dapat memperoleh kemajuan secara sistematis dalam
mencapai hasil yang diinginkan melalui inisiatif sendiri. Itu pulalah
sebabnya untuk mencapai suatu hasil diperlukan tindakan, namun
demikian untuk melakukan tindakan dibutuhkan suatu perencanaan dan
program. Di samping itu untuk membuat suatu perencanaan diperlukan
suatu kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Dengan demikian
untuk mengetahui data yang perlu dikumpulkan kita memerlukan tujuan
yang hendak dicapai terlebih dahulu, sedangkan untuk mencapai suatu
tujuan (objectives) diperlukan suatu pemikiran (thought) yang khusus.
Jadi perencanaan (planning) merupakan suatu mata rantai yang esensial
antara pemikiran (thought) dan pelaksanaan (action). Dengan perkataan
lain kita dapat mengatakan bahwa “Thought without action is merely
philosophy, action without thought is merely stupidity” (Oka A Yoeti,
1997).