Anda di halaman 1dari 10

 Sistem Sirkulasi Pada Extremitas

– Pada Extremitas Cranialis


1. Pembuluh Darah Arteri
A. A. axillaris (Arteri axillaris ini merupakan percabangan dari arteri subclavia)
Arteri axillaris mempercabangkan :

– A. thoracica externa

– A. suprascapularis
– A. subscapularis
1. A. brachialis, Arteri ini mempercabangkan ke
– A. circumflexa humeri
– A. brachialis profunda

– A. ulnaris collateralis
– A. interossea caudalis

1. A. mediana
– A. radialis (bersatu kembali dengan a. Mediana)
1. A. digitalis palmaris communis II
2. Pembuluh Darah Pada Vena
A. Cephalica (Bermuara di vena jugularis dan beranastomase dengan vena mediana
B. V. Cephalica accesorius (Bermuara di vena cephalica)
C. V. Cubitalis medialis (Beranastomose dengan vena Cephalica dan vena Mediana di arteri
cubiti)
D. V. Branchialis Merupakan percabangan dari vena :
– V. Circumflexa scapula medial
– V. Circumflexa humeri posterior

– V. Tricipitis
– V. Suprascapularis
– V. Circumflexa humeri anterior

– V. Bicipitis
– V. Ulnaris
– V. Branchialis profunda
– V. Radialis

– V. Thoraca dorsalis
1. V. Mediana
2. V. Mediana cranials
– V. Interossea communis
– V. muscularis
1. V. Interossea volaris
2. V. Dorsalis
3. V. Metacarpal
– V. Metacarpal volaris medial
– V. Metacarpal dorsalis
– V. Metacarpal magna

– V. Metacarpal volaris profundus


– Pada Extremitas Caudal
A. Arteri
1.A. illiaca externa
2.A. saphena
3.A. genu suprema
4.A. caudalis femoris
5.A. poplitea
6.Vena
A. Vena pada extremitas caudalis sejajar dengan arteri dan namanya sesuai pasangannya
B. Vena superficialis di medial dan lateral betis
– V. Saphenus medialis

– V. Saphenus lateralis
Keterangan :
 Pada anjing dan ruminan v. Saphenus lateralis lebih besar daripada medialis
 Pada kuda vena saphenus medialis lebih besar daripada lateral
 Pada kucing vena saphenus medialis untuk pengambilan darah
 Pada anjing vena saphenus lateralis dipakai bila vena cephalica tidak bisa dipakai untuk
pengambilan darah (Wijayanto, 2008)

 Perkembangan Sistem Kardiovaskular


A. Perkembangan Secara Umum
1. Darah dan pembuluh darah tumbuh dari pulau – pulau darah pada splangnik pada mesoderm
didekat yolk.
2. Sedangkan pulau – pulau darah berasal dari sel – sel mesodermal.
3. pembuluh darah primitive mula – mula berupa selapis sel endothelium yang tumbuh di daerah
ventral foregut, sepasang kiri dan kanan disebut Kapiler Intestinal lalu tumbuh ke anterior dan
naik ke dorsal di daerah antara metenteron dengan kardo dorsalis berkembang ke anterior
dan posterior tubuh dan sejajar dengan Kapiler Subintestinalis disebut Kapiler
Supraintestinalis.
4. pada daerah midgut, kapiler supraintestinal membuat cabang ke ventral menuju ke yolk yang
disebut kapiler vitelina dan bermuara pada kapiler subintestinal.
5. Perkembangan Terbentunya Jantung
A. Pembentukan jantung bersamaan dengan terbentuknya divertikulum hepar, Dimulai saat
sepasang kapiler subintestinal di ventral forgut bergabung. Dan berpindah dari lateral ke
medial membentuk jantung. Dinding kapiler subintesyinal menjadi lapilan endokardium,
sedangkan lapisan splangnik mesoderm yang ada didekatnya membentuk lapisan
miokardium dan epikardium.
B. Sedangkan daerah coelom di ventral foregut disebut pericardium, yang pada
perkembangan lanjutan membentuk pericardium.
1. Perkembangan Terbentuknya Aorta dan Arteri
A. Setelah terbentuknya jantung, kapiler subintestinal yang berada di anterior jantung akan
disebut sebagai aorta ventralis. Sedangkan kapiler supraintestinalis menjadi aorta
dorsalis, Kapiler penghubung antara aorta ventralis dan dorsalis yang arahnya ventrikel
letaknya di anterior jantung disebut arcus aorta.
B. Kapiler yang bercabang dari aorta dorsalis ke yolk disebut arteri vitelina.
C. Perkembangan Terbentuknya Vena
1. Vena berkembang dari mesoderm dan terdapat sepasang yang disebut vena kardinalis. Vena
kardinalis komunis letaknya vertical menuju jantung. Vena kardinalis dibagi menjadi dua
– Vena kardinalis anterior di antero dorsal jantung, sejajar dengan aorta dorsalis.
– Vena kardinalis posterior di postero dorsal jantung

Vena kardinalis posterior dan anterior bermuara pada vena kardinalis kommunis.
2. Vena vitelina adalah pembuluh darah yang membawa darah dari yolk menuju ke jantung.

1. Vena kardinalis posterior yang menyusut kemudian posisinya pindah ke medial dan menyatu
antara kiri dan kanan lalu bergabung dengan vena hepatika di anterior hepar kemudian ke
vena cava posterior sehingga vena hepatica bermuara dulu ke vena cava poaterior sebelum
masuk ke jantung.
2. Vena cardinalis comunis berubah menjadi vena cava anterior,pada mamalia vena cava
anterior hanya yang kanan,
3. Vena kardinalis anterior berubah menjadi vena jugularis interna. Vena jugularis eksterna
berkembang dari vena jugularis interna, sebelum bermuara pada vena cava anterior
(Pangestiningsih, 2008).
 Proses Pembentukan Darah dan Penjendalan Darah
1. Pembentukan Darah
Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit dibuat di dalam sumsum tulang. Di dalam
sumsum tulang, semua sel darah berasal dari satu jenis sel yang disebut sel stem. Jika sebuah
sel stem membelah, yang pertama kali terbentuk adalah sel darah merah yang belum matang
(imatur), sel darah putih atau sel yang membentuk trombosit (megakariosit).Kemudian jika sel
imatur membelah, akan menjadi matang dan pada akhirnya menjadi sel darah merah, sel darah
putih atau trombosit.
Kecepatan pembentukan sel darah dikendalikan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Jika kandungan oksigen dalam jaringan tubuh atau jumlah sel darah merah berkurang, maka
ginjal akan menghasilkan dan melepaskan eritropoietin (hormon yang merangsang sumsum
tulang untuk membentuk lebih banyak sel darah merah).
Sumsum tulang membentuk dan melepaskan lebih banyak sel darah putih sebagai respon
terhadap infeksi dan lebih banyak trombosit sebagai respon terhadap perdarahan (Anonim,
2009) . //www.medicastore.com
1. Eritropoesis
Proses eritropoesis dimulai tentu saja dari sel induk multipotensial. Dari beberapa sel induk
multipotensial terbentuk sel-sel induk unipotensial yang masing-masing hanya membentuk satu
jenis sel misalnya eritrosit. Dalam keadaan normal 20% dari sel sumsum tulang yang berinti
adalah sel berinti pembentuk eritrosit. Sel berinti pembentuk eritrosit ini biasanya tampak
berkelompok-kelompok dan biasanya tidak masuk ke dalam sinusoid. Baru pada tahap retikulosit
(tak berinti lagi) sel-sel ini menjadi lebih bebas satu sama lain dan dapat masuk ke dalam
sinusoid untuk terus masuk dalam aliran darah. Sel induk unipotensial yang committed akan
mulai bermitosis sambil berdiferensiasi menjadi sel eritrosit bila mendapat rangsangan
eritropoetin. Selain merangsang proliferasi sel induk unipotensial, eritropoetin juga merangsang
mitosis lebih lanjut sel promonoblas, normoblas basofilik dan normoblas polikromatofil,
Erithropoeitin akan meningkat pada keadaan Anemia, hypoxia (Kekurangan oksigea), pemberian
CO, pemberian hormon testosteron. Sedangkan Hormon erithropoetin akan menurun pada
keadaan hyper transfusi, hyperoxia, penurunan kebutuhan akan oksigen. Pada tahap ini inti sel
sudah piknotis dan segera dikeluarkan dari sel. Sel eritrosit termuda yang tidak berinti disebut
retikulosit yang kemudian berubah menjadi eritrosit. Dalam proses pembentukan sel darah
merah, rangsangan oleh eritropoetin dalam jumlah yang amat kecil saja akan merangsang sel
unipotensial yang committed untuk segera membelah diri dan berdiferensiasi menjadi
proeritroblas (Anonim, 2009)
Fase-fase pembentukan eritrosit

Rubriblast

Prorubrycyte/Erythroblast muda/Normoblast muda


Basophilic rubricyte/Basophilic erythroblast/Normoblast
Erythroblast /Normoblast
Normocromic rubrycyte

Metarubricyte/Erythroblast tua/Normoblast tua


Reticulocyte

Erythrocyte
1. Penjendalan Darah
Penjendalan darah akan terjadi bila terjadi kerusakan pembuluh darah sampai dengan lapisan
endotel. atau sampai jaringan penyokong subendotel Penjendalan darah memegang peranan
yang penting untuk mencegah banyaknya darah yang hilang dari pembuluh darah yang terluka.
Koagulasi tergantung dari pembentukan jaringan yang pekat (selatin) dari benang (serat) protein
fibrin. Platelet darah (trombosit), sel-sel darah merah (RBC) dan WBC terperangkap dalam
jaringan tersebut. Proses pengerutan pada penjendalan darah menghasilkan cairan bening
(serum).
Apabila darah diaduk/digojog/disentrifus potein fibrin tidak akan terbentuk atau tersingkir
sehingga tidak terjadi penggumpalan darah. Untuk kepentingan tranfusi darah dan analisa sering
ditambahkan zat antikoagulasi untuk mencegah terjadinya penjendalan darah. Zat antikoagulasi
yang sering dipakai adalah heparin, EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid). Sodium citrate,
sodium, potassium ammonium oxalate dan fluoride juga dapat digunakan sebagai zat
antikoagulasi (Anonim, 2009). Ada tiga komponen utama dalam penjendalan darah yaitu
pembuluh darh, trombosit, dan protein atau faktor-faktor koagulasi darah. Mekanisme untung
menahan perdarahan ada perbedaan tergantung pada besarnya pembuluh darah Kriteria luka
atau sayatan itu ada tiga.
1. Sayat ringan, pada peristiwa ini hanya terjadi vasokonstriksi atau hanya dengan kontaraksi
pembuluh darah saja.
2. Sayat sedang, Sayatan ini lebih parah dari sayat ringan, maka dengan sayatan yang lebih
parah akan melibatkan mekanisme yang lebih kompleks seperti pembentukan
platelet/thrombocyte plug aktivasi system koagulasi darah. dan trombosit akan menghasilkan
sumbatan.
3. Sayatan yang akan membentuk benang-benang fibrin. Proses pembentukan benang fibrin
adalah Pada saat trombosit pecah, maka akan terjadi trombokinase dan akan diubah menjadi
protombin dibantu dengan vitamin k. setelah itu protombin diubah menjadi thrombin dibantu
oleh kalisum, selanjutnya diubah menjadi fibrinogen, yang terakhir fibrinogen membentuk
benang-benang fibrin untuk menutup luka yang parah (Hariono, 2005).
Jadi dapat disimpulkan bahwasannya trombosit merupakan komponen sel darah yang berperan
untuk penjendalan darah. Penjendalan/penggumpalan darah merupakan penyumbat pembuluh
darahpertama pada proses penghentian perdarahan. Karena fungsinya itu, kalau jumlahnya
kurang, maka terjadi gangguan penjendalan darah dengan akibat kalau terjadi perdarahan, sukar
berhenti (Tjitrosoewarno, 2009).

 Pekerjaan Rumah
Di bagian tubuh mana dapat dilakukan pemeriksaan pulsus dan pengambilan darah.
1. Daerah Pulsus
Pemeriksaan pulsus dapat dilakukan didaerah/di lokasi
1. Arteri Jugularis, di daerah leher kiri dan kanan.
2. Arteri Submandibularis, dibagian bawah os. Mandibulla.
3. Arteri Coccigealis, pada bagian ventral ekor.
4. Arteri Femoralis, pada bagian medial paha (Komarudin, 2008).
5. Pengambilan darah dapat dilakukan di
A. Vena jugularis : Pada hewan kuda, sapi, kerbau, domba, kembing, terkadang anjing dan
kucing
B. Vena cava anterior : Pada Babi
C. Vena cephalica dan vena saphena : Pada anjing dan kucing.
D. Vena marginalis telinga : Pada kucing, anjing kecil, babi dan kelinci.
E. Vena ekor : Pada mencit dan tikus besar.
F. Plexus retro orbitalis : pada mencit dan tikus besar.
G. Vena cubiti, Vena brachialis, jengger : Ayam, itik dan burung.
H. Pangkal kuku : Anjing (Hariono, 2005).
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Bangsa Sapi Perah. http://arifzone.wordpress.com/2008/10/15/bangsa-sapi-
perah/
(Diakses pada tanggal 2 Maret 2009)
Anonim. 2009. Pembentukan Darah. http://www.mediacastore.com
(diakses pada tanggal 2 Maret 2009)

Anonim. 2009. http://www.kalbe.co.id


(diakses pada tanggal 2 Maret 2009)

Hariono, Bamabang. 2005. Hematologi Veteriner. FKH UGM. Yogyakarta


Komaruddin, 2008. Klinik Hewan Semester III. SPP Negeri : Kalimantan Selatan

Pangestiningsih, Tri W. 2008. Bahan Kuliah Perkembangan Sistem Kardiovasukalar 2008.


Tjitrosoewarno, Soeharmono, 2009. Angkak, Obat Alternative Demam Berdarah.
http://coliq.web.ugm.ac.id/index.php?menu=article.
(Diakses pada tanggal 2 Maret 2009)
Wijayanto, Hery. 2008. Bahan Kuliah Anatomi Sirkulasi pada Ekstremitas 2008.

Thoracic Limb
Proksimal
Arteri subklavia memunculkan arteri serviks superfisial , sebelum menjadi arteri aksilaris .
Cabang deltoid arteri serviks superfisial menyertai vena sefalika (muncul dari vena jugularis
eksternal) meskipun alur antara brachiocephalicus dan pectoralis turun . Pembuluh aksilaris
menimbulkan pembuluh berikut sebelum menjadi arteri brakialis :

 Pelepasan toraks eksternal : berikan otot pektoral


 Supraskapular pembuluh : memasok batas kaudal otot supraskular
 Pembuluh torakodorsal : suplai latisimus dorsi
 Kapal humeri kelopak bunga caudal
Arteri thoracodorsal dan circumflex adalah cabang arteri subskapular . Arteri humeri
hernia kranial berjalan jauh ke coracobrachialis untuk memasok bisep ; vena satelitnya yang
sesuai dapat melintasi coracobrachialis di kedua permukaan. Vena torakodorsia memunculkan
vena thoraksis superfisial , yang melewati kaudal untuk mengalirkan bagian ventral dari
bagasi.
Pembuluh brakialis menimbulkan pembuluh brakialis dalam, yang memasok trisep . Lebih jauh
lagi, pembuluh brakial membentuk bejana bicipital ke otot bisep . Cabang berikutnya dari
pembuluh brakialis adalah kapal cubital melintang , yang melewati jauh ke bisep . Bangkai
ulnaris agunan timbul dari permukaan kaudal pembuluh brakialis, mengikuti jalur saraf ulnaris.
Cabang terakhir adalah kapal interoseus yang umum , yang melewati ruang interoseus untuk
dilanjutkan sebagai pembuluh interoseus kranial .
Vena brakialis memunculkan vena kubus median pada tingkat siku . Ini kemudian anastamosis
dengan vena sefalika . Vena cephalic meninggalkan alur antara brachiocephalicus dan
pectoralis turun dan berjalan secara distal pada permukaan medial antebrachium. Pada sendi
siku , hal itu menimbulkan vena seismik aksesori yang membentang sejajar dengan vena
sefalika tapi kemudian melengkung secara kranial untuk mengakhiri permukaan dorsal carpus .
Arteri median melepaskan cabang palmarnya sebelum melewati saluran karpal. Kemudian
bergabung dengan cabang arteri radial dan berlanjut ke arah digit sebagai arteri palmar
medial . Arteri palmar lateral yang lebih kecil berasal dari persatuan cabang palmaris arteri
median dengan arteri ulnaris agunan yang proksimal pada ikan mas .
Cabang arteri median dan radial kemudian anastamose membentuk lengkungan palmar
dalam pada tingkat carpus . Arteri metakarpal median dan lateral palmar muncul dari
lengkungan palmar yang dalam. Mereka berlari secara distal pada permukaan aksial tulang belat
medial dan lateral .
Hanya distal ke carpus , arteri palmar medial baru saja melewati kanal karpal dan kemudian
vena telah melintasi carpus dangkal ke retinakulum fleksor. Dalam metacarpus, pembuluh darah
berada di medial ke tendon fleksor interoseus dan dalam digital . Pada sendi
metacarpophalangeal (fetlock) , pembuluh darah palem medial menjadi bejana digital medial .
Kapal palmar lateral melewati sandus yang berdekatan dengan tulang karpal aksesori .
Distal

Arteri dan Vena Forelimb Kiri Kiri dari Anatomi Kuda Budras dengan izin dari Manson Publishing

Arteri
Pasokan arteri ke digit dan fetlock anggota badan toraks berasal terutama dari median palmar
artery . Arteri median palmar membelah di bagian keempat metacarpus distal antara tendon
fleksor digital superfisial dan dalam dan ligamen suspensori , menjadi arteri digital medial dan
lateral . Bagian dari lengkungan palmar arch anastamoses dengan arteri digital lateral untuk
membentuk lengkungan palmar superfisial , yang memasok sendi fetlock .
Arteri digital berjalan secara dangkal di daerah fetok proksimal, muncul palmar ke vena satelit
mereka dan antara saraf digital palmar dan dorsal cabangnya. Arteri digital medial dan lateral
berjalan secara distal di atas fetlock dan masing-masing cabang untuk memasok sendi fetlock ,
ekstensor digital dan tendon fleksor , selubung digital, ligamen fascia dan kulit.
Arteri pendek dari phalanx proksimal timbul dari arteri digital medial dan lateral, segera
terbagi menjadi cabang dorsal dan palmar untuk membentuk lingkaran di sekitar bagian tengah
phalanx proksimal . Ini memasok phalanx proksimal dan struktur sekitarnya. Cabang palmar
arteri pendek membentang di antara phalanx proksimal dan tendon fleksor digital untuk
bergabung dengan bejana kontralateral antara ligamen sesamoidean. Cabang dorsal
bergabung dengan kapal kontralateral jauh ke tendon ekstensor digital umum .
Di wilayah sendi interphalangeal proksimal (pastern), arteri bulbar (arteri bantalan digital)
muncul dari setiap arteri digital. Cabang arteri ini memasok katak , bantalan digital , bagian
palmar dari cuneate corium, laminar corium bagian tumit dan bar dan palmar dari corium
perioplik dan koroner.
Arteri koroner timbul dari arteri digital atau arteri bulbar untuk memasok heel dan perioplic
corium. Arteri koroner kemudian anastamosis dengan cabang-cabang dari arteri dorsal dari
phalanx tengah . Arteri dorsal dari phalanx tengah muncul dari setiap arteri digital di daerah
pertengahan phalanx tengah , membentuk lingkaran arteri koroner ; Sebagai palmar dan
cabang dorsal anastamose membentuk lingkaran arteri lengkap di sekitar phalanx tengah .
Lingkaran arteri koroner ini memasok sendi interphalangeal distal (peti mati), tendon ekstensor
digital umum , periografi dan koroner corium, fasia dan kulit.
Cabang dari cabang palmar inang dari phalanx tengah anastamosa membentuk pleksus
navicular , memberikan beberapa arteri kecil ke foramina di sepanjang batas proksimal tulang
sesamoid distal (navicular). Plexus ini menyediakan sekitar sepertiga dari total suplai darah ke
tulang navicular .
Pada tingkat proses palmar dari phalanx distal , arteri digital membentuk cabang dorsal dari
phalanx distal, kemudian berlanjut ke lengkungan terminal . Cabang dorsal mengeluarkan
arteri kecil untuk memasok bantalan digital dan corium katak , sebelum melewati foramen dalam
proses palmar dari phalanx distal . Kemudian bifurcates pada permukaan dorsal phalanx distal
untuk membentuk cabang yang memasok corium tumit dan tempat tidur, laminar corium ujung
jari kaki, dan akhirnya bergabung dengan cabang arteri koroner dan arteri marjinal dari satu-
satunya . Penghentian cabang dorsal phalanx distal bergabung dengan bejana yang berasal
dari lengkungan terminal di kanal surya. Kemudian cabang-cabangnya menjadi beberapa arteri
kecil yang masuk ke distal distal falang distal .
Arteri digital medial dan lateral berjalan di alur matahari dari phalanx distal . Masing-masing
melepaskan cabang ke pleksus navicular dalam ligamentum sesamoidean (impar) distal.
Pleksus navicular memunculkan arteri navicular distal , yang memasuki tulang sesamoid distal
(navicular) di perbatasan distal dan anastamosa di dalam foramina tulang. Arteri navicular distal
ini memasok dua pertiga distal dari tulang navicular .
Arteri digital medial dan lateral memasuki foramen surya dan membentuk lengkungan
terminal di dalam kanal matahari dari falang distal . Cabang dari lengkungan terminal berjalan
melalui foramina pada permukaan parietal phalanx distal untuk memasok laminar corium.
Beberapa cabang ini muncul di dekat perbatasan matahari dan anastamosa untuk membentuk
arteri marjinal dari satu-satunya . Ini memasok corium matahari dan cuneate.
Pembuluh darah
Drainase vena dari laminar corium adalah melalui vena parietal dari sirkulasi laminar ke
pleksus parietal vena dan pleksus vena koroner . Pleksus vena koroner juga menerima vena
dari perioplik dan koroner corium. Vena dari corium matahari dan cuneate mengalir ke pleksus
vena matahari .
Vena di anastamosa kanal surya pada tingkat tulang sesamoid distal (navicular), membentuk
vena terminal medial dan lateral . Vena terminal medial dan lateral bergabung dengan
cabang-cabang pleksus vena dalam untuk membentuk vena digital . Vena digital ini menerima
drainase vena dari tulang navicular , vena koroner (daerah koroner), pleksus vena dalam dan
vena bulbar (tumit).
Sebagian besar drainase vena dari kaki kuda adalah melalui urat nadi pada aspek palmar, yang
umumnya tidak memiliki katup. Beberapa cabang kecil dari pembuluh darah koroner, subkoroner
dan bulbar memiliki katup. Ini berarti bahwa aliran darah dari kaki dapat mengambil rute yang
berbeda dan berat badan sangat penting bagi darah untuk mengalir secara proksimal.

Pelvic Limb
Proksimal
Cabang iliaka internal cabang untuk membentuk pembuluh glutir cranial dan kaudal ; yang
memasok daerah croup dan paha. Arteri glutir kranial kemudian membentuk arteri obturator .
Vena obturator satelit adalah cabang dari pembuluh darah iliaka eksternal . Kapal iliaka
eksternal menjadi pembuluh darah femoralis di paha, sehingga menyebabkan kuku
pudendoepigastrik .
Pembuluh femoral membentuk pembuluh femoral sirkumfleks lateral , yang memasuki paha
depan antara rektus femoris dan vastus medialis , dan pembuluh saphena . Vena saphena
lebih besar dari arteri yang sesuai. Pembuluh saphena membagi sepertiga kaki proksimal untuk
membentuk cabang kranial dan caudal . Cabang kranial vena saphena melewati tarsus
menjadi vena digital umum di wilayah metatarsus . Vena ini melintasi metatarsal (tulang
meriam) ketiga untuk bersatu dengan vena plantar medial . Cabang kaudal vena dan arteri
saphena medialis berjalan secara distal dalam alur kranial ke tendon calcaneal umum. Vena
saphena medial anastamosis dengan vena tibialis kaudal dan vena saphena lateral yang
mengarah ke hock , kemudian terbagi menjadi vena plantar medial dan lateral . Arteri
saphenous anastamosis dengan arteri tibialis kaudal , sehingga menyebabkan arteri plantar
medial dan lateral .
Pembuluh femoralis mengangkat arteri dan vena yang turun dari pembuluh darah yang
menahan , serta pembuluh darah kecil lainnya ke sendi itu, di bagian ketiga distal paha.
Beberapa pembuluh yang lebih kecil ke sendi yang menahan timbul dari pembuluh poplitea
yang merupakan kelanjutan dari pembuluh femoralis. Pembuluh femoralis juga bercabang
membentuk vena saphena lateral . Vena saphena lateral berjalan secara distal di sepanjang
batas kaudal gastrocnemius dan anastamosis dengan cabang kaudal vena saphena medial
dan vena tibialis kaudal yang mengarah ke hock .
Kapal popliteal bifurcate untuk membentuk pembuluh tibia tengkorak dan tengkorak pada
tingkat hock ; kepala fibula. Kapal tibia tengkorak melewati tibia dan fibula , kemudian mengikuti
tibia ke tingkat pada saat ini mereka menjadi kapal pedal pendek . Arus pedal terus menjadi
arteri metatarsal dorsal . Arteri metatarsal dorsal melewati permukaan lateral metatarsal
(tulang meriam) ketiga dan metatarsal (lateral splint) plantarodistally. Kemudian menerima arteri
metatarsal plantar yang berjalan pada aspek plantar metatarsal ketiga .
Distal
Pasokan vaskular ke digit pada ekstrem panggul sebagian besar sama seperti pada anggota
badan toraks.
Cabang kaudal arteri saphenous dan vena saphena medial berlanjut sebagai pembuluh
plantar lateral dan medial , berjalan dengan tendon fleksor digital yang dalam , melewati tali
sustentaculum, ke tingkat metatarsus . Vena terletak superfisial ke arteri yang sesuai. Dalam
digit, urat nadi digital medial dan lateral, arteri dan saraf berada di samping satu sama lain dalam
pengaturan belanda terhadap plantar; Hal ini bisa dikenang sebagai VAN (vena, arteri, saraf).
Kapal plantar medial dan lateral memasuki metatarsus untuk menimbulkan lengkungan
arterial dan vena dalam plantar ; dari mana logam medial dan lateral metatarsal berasal.
Arteri metatarsal medial dan lateral bergabung dengan arteri digital medial dan lateral , yang
berawal dari bifurkasi arteri metatarsal dorsum , dekat dengan fetlock . Arteri metatarsal dorsal
terus berlanjut seperti arteri pedal dorsal pendek , yang kemudian membentuk arteri tibialis
tengkorak pada hock dorsal. Tibialis tibialis, pedal dorsal dan arteri metatarsal dorsal memasok
angka dan hock .
Vena digital umum dorsal melintasi permukaan medial dan arteri metatarsal dorsal melintasi
permukaan lateral metatarsal ketiga (tulang meriam) secara miring. Vena digital umum dorsal
bergabung dengan vena plantar medial di sepertiga distal tulang meriam . Vena plantar medial
kemudian menjadi vena digital medial pada tingkat sendi metacarpophalangeal (fetlock). Pada
tingkat ini, vena plantar medial anastamosis dengan vena plantar lateral melalui lengkungan
plantar distal dalam .
Arteri digital medial dan lateral berjalan pada sisi yang sesuai dari digit, membentuk cabang
dorsal dan plantar ke phalanx proksimal dan phalanx tengah . Cabang-cabang ini anastamose
satu sama lain untuk membentuk lingkaran arteri di sekitar falang proksimal dan tengah .
Bagian dorsal arteri lateral dan medial digital muncul pada tingkat phalanx distal . Ini berjalan
meskipun foramen / takik dalam proses plantar dari phalanx distal ke dalam alur parietal. Arteri
digital melanjutkan ke permukaan matahari dan memasuki foramina matahari di kedua sisi ke
anastamose dalam tulang, membentuk lengkungan terminal . Cabang lengkung terminal
berjalan di kanal osseus ke permukaan parietal, di mana mereka memasok dermis laminar.
Beberapa cabang juga muncul dekat dengan margin matahari dan anastamosa untuk
membentuk arteri yang mengikuti margin ini.
Vena digital adalah satelit ke arteri sampai ke dan ke falbor distal , tapi tidak semua arteri
bercabang disertai vena. Ada pleksus vena padat di dermis koroner dan laminar tunggal yang
mengalir ke pembuluh darah medial dan lateral melalui pembuluh darah yang lebih kecil.
Sebagian besar pembuluh darah ini terletak secara subkutan, hanya bersifat proksimal pada
kuku , yang lain berjalan langsung ke vena digital dari permukaan aksial kartilago ungual .
Referensi

 Baxter, GM, Adams, Adams dan Stashak's Lameness in Horses, Edisi 6 (2011), Lippincott,
Williams & Wilkins
 Budras, K. Sack, WO, Anatomi Kuda, Edisi 6 (2012), Schlutersche Verlagsgesellschaft mbH
& Co KG
 Konig, HE, Liebich, HG Anatomi Hewan Mamalia Domestik: Buku Teks dan Atlas Warna
(2009), Schattauer