Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya
lainnya merupakan suatu kajian yang menjadi masalah dalam lingkup nasional maupun
internasional. Pada kenyataannya, kejahatan narkotika memang telah menjadi sebuah
kejahatan transnasional yang dilakukan oleh kelompok kejahatan terorganisir ( organized
crime ). Masalah ini melibatkan sebuah sistem kompleks yang berpengaruh secara global dan
akan berkaitan erat dengan Ketahanan Nasional sebuah bangsa. New Psychoactive Substances
( NPS ) menjadi salah satu perhatian dunia karena maraknya peredaran, kurangnya penelitian
dan pemahaman terkait efek sampingnya.
Perkembangan legislasi dan kebijakan terkait masalah NAPZA belakangan ini
mengarah pada upaya untuk mendekriminalisasi pecandu Narkotika, dimana pecandu
Narkotika diharapkan tidak lagi menjalani pemenjaraan, melainkan menjalani terapi dan
rehabilitasi, baik medis, psikologis maupun sosial. Hal ini tertuang dalam Undang – Undang
Narkotika No. 35 tahun 2009.
Perubahan tersebut didasari oleh fakta bahwa kondisi kesehatan mereka yang
mengalami ketergantungan NAPZA pada umumnya mengalami penurunan secara signifikan.
Semangat untuk mempersepsikan pecandu dari sudut pandang penyakit tentu sejalan dengan
pasal 4 Undang – Undang Kesehatan No 36 tahun 2009, yang menyatakan bahwa “ Setiap
Orang Berhak atas Kesehatan “
Undang-Undang Narkotika No. 35/2009 mengamanahkan dilakukannya proses wajib
lapor pecandu narkotika ke Puskesmas, Rumah Sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan
lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapat pengobatan dan
perawatan. Untuk mendukung pelaksanaan wajib lapor ini disusunlah Peraturan Pemerintah
tentang Wajib Lapor Pecandu Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Rehabilitasi Medis Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika.
Pelaksanaan proses wajib lapor ini memerlukan koordinasi antara instansi - instansi yang
terkait dan dukungan dari masyarakat sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.
Selain itu, Undang – Undang no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa pada pasal 54
menyebutkan bahwa setiap RS Jiwa wajib menyediakan ruang untuk pasien narkotika,
psikotropika dan zat adiksi dengan jumlah tempat tidur paling sedikit 10 % dari jumlah

1
tempat tidur yang ada.
Sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan :
“Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis..”
Atas dasar definisi “ Kesehatan ” tersebut diatas, maka manusia selalu dilihat sebagai
satu kesehatan yang utuh ( holistic ) dari unsur “ badan ” ( organobiologi ), “ jiwa ” ( psiko-
edukatif ), “ sosial ” ( sosio-kultural ), yang tidak dititik beratkan pada “ penyakit ” tetapi
pada “ kualitas hidup ” yang terdiri dari “ kesejahteraan ” dan “ produktifitas sosial ekonomi.”
Adiksi ( ketergantungan narkoba ) dan gangguan jiwa memiliki hubungan yang erat.
Adiksi sendiri sebenarnya termasuk juga ke dalam gangguan jiwa yang menurut PPDGJ III (
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa ) termasuk ke dalam F1. Gangguan
Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif. Adiksi narkoba secara langsung merubah otak
yang menyebabkannya tidak bisa menentukan prioritas dalam kehidupan dan merubah sikap,
perilaku, dan cara berpikir. Di sisi yang lain ditemukan juga bahwa orang memakai obat-obat
terlarang seperti narkoba adalah untuk mengatasi kondisi psikisnya yang mengalami
gangguan. Orang dengan gangguan psikotik, depresi dan cemas mencoba dengan berbagai
cara untuk mengatasi gangguan alam perasaan dan pikirannya, dan sering sekali akhirnya
jatuh dalam penggunaan narkoba yang dilarang. Ketidaktahuan bagaimana cara mengatasi
masalah kejiwaan yang dialaminya inilah yang membuat banyak orang kemudian mencari
cara alternatif sendiri-sendiri yang sebenarnya tidak tepat.
Melalui Makalah ini akan disampaikan gambaran tentang kegiatan dan kinerja tenaga
kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan Asesmen Pecandu Narkoba dan kegiatan UPT.
Puskesmas Tanjung Palas yang telah dilakukan untuk meningkatkan status dan derajat
kesehatan masyarakat pada umumnya, dan membantu mewujudkan masyarakat Bulungan
bebas narkoba pada khususnya.

II. TUJUAN
 UMUM
Untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti Pemilihan Tenaga Kesehatan
Teladan di Puskesmas Tingkat Kabupaten Tahun 2017.

2
 KHUSUS
1. Terwujudnya misi Puskesmas khususnya poin ke 1 yaitu menyelenggarakan
pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu, merata, adil dan terjangkau di
Kecamatan Tanjung Palas.
2. Mensukseskan Program Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba
3. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat terhadap
bahaya Narkoba serta Gangguan Jiwa yang timbul akibat Narkoba
4. Meningkatkan kualitas hidup pecandu narkoba melalui penanganan pecandu
narkoba yang lebih humanis dan komprehensif dari pra rehabilitasi sampai
pasca rehabilitasi

3
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. ANALISA SITUASI
1. Kondisi Geografis
Kecamatan Tanjung Palas merupakan salah satu kecamatan yang terletak di wilayah
Kabupaten Bulungan yang terdiri dari 7 desa dengan luas wilayah ± 1.755.74 KM2.
Kecamatan Tanjung Palas merupakan daratan yang di kelilingi oleh sungai–sungai besar dan
merupakan sebagai sarana transportasi masyarakat. Secara geografis daratan Kecamatan
Tanjung Palas masih merupakan semak belukar tanah tidur yang belum dikelola dan diolah
masyarakat.
Kecamatan Tanjung Palas terletak di seberang Ibu kota Kabupaten dengan batas -
batas sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tg. Palas Utara dan Tg. Palas Tengah
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tg. Palas Barat
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tg. Selor
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tg. Selor
Jarak tempuh antar desa dapat ditempuh dengan transportasi jalan darat dan
transportasi sungai dengan waktu tempuh ± 30 menit.

2. Kondisi Demografis
Penduduk Kecamatan Tanjung Palas terdiri berbagai macam suku, khusus Kecamatan
Tanjung Palas mayoritas masyarakatnya suku Bulungan dan Dayak, dan jumlah penduduk
terbanyak yaitu Desa Gunung Putih. Jumlah penduduk kecamatan Tanjung Palas sebanyak
11.793 jiwa dan jumlah KK sebanyak 3.077 kepala keluarga. Puskesmas Perawatan Tanjung
Palas terletak di Kecamatan Tanjung Palas dengan dibantu 3 puskesmas pembantu dengan
jumlah staf ±54 orang.

4
Tabel 2.1 Data Kependudukan

No Nama Desa Jumlah RT Jumlah KK Jumlah pddk


1. Tg. Palas Hulu 5 327 1.221
2. Tg. Palas Tengah 4 510 2.327
3. Tg. Palas Hilir 10 705 2.861
4. Karang Anyar 3 235 967
5. Gunung Putih 19 837 2.760
6. Teras Baru 4 224 767
7. Teras Nawang 4 239 890
Jumlah 49 3.077 11.793

Tabel 2.2 Data Sarana Umum


NO DESA JENIS SARANA

PENDIDIKAN IBADAH LAIN -


LAIN
SD SLTP SLTA MASJID MUSHOLLA GEREJA PASAR
1 Tanjung Palas Hulu 1

2 Tanjung Palas Tengah 2 1 1

3 Karang Anyar 1 1 1

4 Gunung Putih 2 2 1

5 Tanjung Palas Hilir 4 1 1 2

6 Teras Baru 1 1

7 Teras Nawang 1 1

JUMLAH 12 2 2 5 3 1

B. SUMBER DAYA
1. PETUGAS KESEHATAN UPT. PUSKESMAS TANJUNG PALAS
Petugas kesehatan di UPT. Puskesmas Tanjung Palas terdiri dari berbagai profesi dan
bidangnya masing-masing. Petugas kesehatan tersebut bertugas pada setiap poli-poli dan
tempat-tempat pelayanan masyarakat baik di dalam gedung (Puskesmas) dan diluar gedung
(Poskesdes dan Pustu).

5
Tabel 2.3 Ketenagaan Yankes
NO TENAGA YANKES PNS PTT MAGANG

1 Dokter Umum 3 0 0
2 Dokter Gigi 1 0 0
3 Kesehatan Masyarakat 1 2
4 D3 Akper 18 20 3
5 D3 Akbid 8 9 4
6 Radiologi 1 0 0
7 Analis Kesehatan 1 1 0
8 Apoteker 0 1 0
9 Asisten Apoteker 1 0 0
10 Farmasi 0 1 0
11 S1 Perawat/Ners 2 0 1
12 Kesehatan Lingkungan 1 0 0
13 Perawat Gigi 2 0 0
14 D3 Gizi 1 0 0
15 Lain-lain 0 8 0

2. KADER
Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat,
yang bertugas membantu kelancaran pelayananan kesehatan. Keberadaan kader sering
dikaitkan dengan pelayanan rutin di Posyandu. Padahal ada beberapa macam kader bisa
dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya
dalam program pelayanan kesehatan.
a. KADER POSYANDU BALITA
Kader Posyandu Balita yaitu kader yang bertugas di pos pelayanan terpadu
(posyandu) dengan kegiatan rutin setiap bulannya melakukan pendaftaran,
pencatatan, penimbangan bayi dan balita.

b. KADER POSYANDU LANSIA


Kader Posyandu Lansia yaitu kader yang bertugas di Posyandu lanjut usia
(lansia) dengan kegiatan rutin setiap bulannya membantu petugas kesehatan saat
pemeriksaan kesehatan pasien lansia.

6
c. KADER MASALAH GIZI
Kader masalah Gizi yaitu kader yang bertugas membantu petugas Puskesmas
melakukan pendataan, penimbangan bayi dan balita yang mengalami gangguan gizi
(malnutrisi).

d. KADER KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)


Kader Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yaitu kader yang bertugas membantu
bidan Puskesmas melakukan pendataan, pemeriksaan ibu hamil dan anak-anak yang
mengalami gangguan kesehatan (penyakit).

e. KADER KELUARGA BERENCANA (KB)


Kader Keluarga Berencana (KB) yaitu kader yang bertugas membantu petugas
KB melakukan pendataan, pelaksanaan pelayanan KB kepada pasangan usia subur di
lingkungan tempat tinggalnya

f. KADER JURU PENGAMATAN JENTIK (JUMANTIK)


Kader Juru Pengamatan Jentik (Jumantik) yaitu kader yang bertugas
membantu petugas Puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan jentik nyamuk
di rumah penduduk sekitar wilayah kerja puskesmas.

g. KADER UPAYA KESEHATAN KERJA (UKK)


Kader Upaya Kesehatan Kerja (UKK) yaitu kader yang membantu petugas
Puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja di
lingkungan pos tempat kerjanya.

h. KADER PROMOSI KESEHATAN (PROMKES) / PHBS


Kader Promosi Kesehatan (Promkes) / PHBS yaitu kader yang bertugas
membantu petugas Puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan secara perorangan
maupun dalam kelompok masyarakat.

i. KADER UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)


Kader Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) yaitu kader yang bertugas membantu
petugas Puskesmas melakukan penjaringan dan pemeriksaan kesehatan anak-anak
usia sekolah pada pos pelayanan UKS.

7
Tabel 2.4 Data Kader

U U
Nama Posy. Posy. PHBS
No Gizi KIA KB Jumantik K K
Desa Balita Lansia
K S

1 Tg. Palas Tengah 8 8 2 - 2 2 - 2 -

2 Tg. Palas Hulu 11 9 2 - 2 2 - 2 -

3 Tg. Palas Hilir 18 5 4 - 4 3 - 4 -

4 Karang Anyar 10 6 2 - 4 3 - 2 -

5 Gunung Putih 28 10 2 - 4 9 2 4 -

6 Teras Baru 5 3 - - 2 2 - 2 -

7 Teras Nawang 5 7 - - 2 2 - 2 -

JUMLAH 85 48 12 - 20 23 2 18 -

Tabel 2.5 Sarana Kesehatan


Status
No Sarana Kesehatan Jumlah
Pemerintah Swadaya
1 Puskesmas Perawatan 1 - 1
2 Pustu 3 - 3
3 Poskesdes 3 - 3
4 Pusling roda 4 3 - 3
5 Pusling roda 2 - - -
6 Posyandu Balita 10 - 10
7 Posyandu Lansia 7 - 7

8
C. VISI DAN MISI UPT. PUSKESMAS TANJUNG PALAS

Dengan tidak mengurangi tujuan pembangunan Kesehatan, UPT. Puskesmas Tanjung


Palas juga memiliki Visi dan Misi yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Kesehatan
Nasional.

VISI
Menjadikan puskesmas rawat inap terdepan dan bermutu di kabupaten bulungan.

MISI
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu, merata, adil dan
terjangkau.
2. Mengembangkan SDM yang profesional dan berkompetensi tinggi di bidang
kesehatan.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam membentuk perilaku dan lingkungan
sehat.
4. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dan program dalam melaksanakan
pembangunan kesehatan masyarakat

9
BAB III
ASESMEN NARKOBA

A. DESKRIPSI SINGKAT
Dalam rangka Gerakan Rehabilitasi 100.000 pecandu narkoba di tahun 2015
Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerinta, Deputi bidang Rehabilitasi
menggelar kegiatan Training Of Trainers (TOT) dan Peningkatan Kemampuan Petugas
Rehabilitas Dalam Bidang Asesmen Narkotika.
Hal ini juga merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI terkait semakin
meningkatnya jumlah korban penyalahgunaan narkoba. Badan Narkotika Nasional setiap
tahun telah melakukan rehabilitasi terhadap pecandu narkoba, namun seiring meningkatnya
jumlah pecandu maka mulai tahun 2015 jumlah rehabilitasi ditingkatkan menjadi 100.000
orang.
Program ini dilatar belakangi pemikiran bahwa solusi penegakan hukum berupa
pemenjaraan bagi korban penyalahguna narkoba kurang efektif.
Program pelatihan Asesor Narkotika dilaksanakan berdasarkan Surat Kabareskrim
Polri Nomor: B/5704/IX/2015 perihal penunjukkan tenaga medis dalam rangka mendukung
tugas pokok Polri di bidang penanggulangan penyalahgunaan narkoba.
Setelah mengikuti pelatihan ini, para asesor mampu bekerja sama dengan penyidik
narkoba dalam menentukan apakah seorang tersangka berstatus penyalah guna, korban
penyalah gunaan, pecandu atau pengedar.

B. KEGIATAN ASESMEN NARKOBA


Kegiatan asesmen mulai dilakukan setelah saya mengikuti pelatihan “ Asesor
Narkotika “ yang diselenggarakan oleh BNN di Makassar tahun 2015. Asesmen
Ketergantungan Narkoba adalah suatu proses mendapatkan informasi menyeluruh pada
individu dengan gangguan penggunaan narkoba, baik pada saat awal masuk program, selama
menjalani program dan setelah selesai program.
Asesmen dilakukan dengan cara observasi, wawancara maupun pemeriksaan fisik.
Dalam mengobservasi klien, asesor/terapis perlu mendengarkan dengan seksama
respons yang diberikan klien, baik yang bersifat verbal (apa yang dikatakan), maupun yang
bersifat nonverbal (bahasa tubuh, mimik muka, intonasi suara, dan lain-lain). Seringkali apa
yang dikatakan bukan hal yang sungguh-sungguh dialami oleh klien. Untuk itulah seorang
10
asesor/terapis perlu terlatih dalam membaca bahasa tubuh klien.
Dalam melakukan wawancara, teknik bertanya dengan pertanyaan terbuka perlu
dikuasai oleh asesor/ terapis. Setiap informasi yang diberikan oleh klien merupakan faktor
baru yang perlu ditambahkan untuk memperoleh gambaran tentang klien secara utuh.
Sementara itu pemeriksaan fisik dilakukan untuk melengkapi informasi tentang klien,
baik pemeriksaan umum seperti tekanan darah, nadi dan suhu badan, maupun pemeriksaan
penunjang lainnya yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien (misalkan,
urinalisis, laboratorium lain, radiologi, dan sebagainya).
Untuk mendapatkan hasil asesmen yang komprehensif digunakan berbagai
instrumen yang sudah terstandarisasi dan dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih. Empat
aspek penting yang perlu dinilai dalam asesmen meliputi:
 Riwayat penggunaan napza lengkap
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan status mental
 Pemeriksaan penunjang/laboratorium
Kewenangan Asesor Narkoba sangatlah penting, yaitu menentukan seorang pengguna
itu penyalah guna, korban penyalah gunaan, pecandu atau pengedar.
Mengingat bahwa asesmen merupakan salah satu upaya dalam penegakan diagnosis
dan menentukan tindak lanjut terapi untuk klien, maka diperlukan suatu pemahaman tentang
masalah gangguan penggunaan narkoba dan keterampilan berkomunikasi dari petugas
kesehatan.

Persiapan Asesmen Narkotika Persiapan Asesmen Narkotika

11
Proses Pelaksanaan Asesmen Narkotika

C. RAPAT KOORDINASI LINTAS SEKTOR


Dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkoba, harus melibatkan seluruh aspek.
Tidak hanya dari kesehatan dan kepolisian saja. Sejalan dengan Peraturan Bersama 11 Maret
2014, tentang PENANGANAN PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN
PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA KE DALAM LEMBAGA REHABILITASI, dimana
peraturan tersebut melibatkan banyak sektor yaitu :
1. KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
2. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA
3. MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
4. MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA
5. JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA
6. KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
7. KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
maka, penanganan pecandu narkoba di Kabupaten Bulungan juga memerlukan
keterlibatan semua sektor.
Rapat kordinasi lintas sektor rutin dilakukan dengan Badan Narkotika Kabupaten
Bulungan sebagai Induk demi penanganan pecandu narkoba dan korban penyalahgunaan
narkoba secara komprehensif.

12
Rapat Bersama BNK, Polres, Dinas Kesehatan, Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri

Komitmen Bersama Pencanangan Desa Bebas Narkoba di Desa Gunung Putih Kecamatan
Tanjung Palas
D. PENYULUHAN TENTANG NARKOBA
Penyuluhan narkoba adalah sebuah upaya secara sadar dan berencana yang dilakukan
untuk memperbaiki perilaku manusia, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan, yakni pada
tingkat sebelum seseorang menggunakan narkoba, agar mampu menghindar dari
penyalahgunaannya.
Upaya ini diharapkan efektif karena ditujukan pada mereka yang belum pernah
menggunakan atau sudah menggunakan pada tingkat coba-coba. Sebaliknya perlu
kewaspadaan dalam memberikan informasi dan penyuluhan tentang narkoba terutama kepada
anak dan remaja karena dapat membangkitkan keingintahuan dan mencoba.
Sasaran dari upaya ini juga termasuk orang-orang dengan resiko tinggi yang memiliki
masalah yang tidak mampu dipecahkan sendiri, sehingga dalam kehidupannya sering mencari
pemecahan keliru, seperti perilaku untuk mencari kepuasan sementara melalui penggunaan
narkoba.
Penyuluhan narkoba di Kabupaten Bulungan pada umumnya dan Wilayah Kerja UPT.
Puskesmas Tanjung Palas pada khususnya, rutin saya lakukan mulai dari tingkat SD, SMP
dan SMA se Kecamatan Tanjung Palas serta Pelatihan Kader UKS dan di Posyandu Lansia.
Karena penyalah guna narkoba tidak mengenal usia. Mulai dari anak – anak hingga

13
lanjut usia pun ada. Diharapkan dengan adanya penyuluhan tentang Narkoba akan semakin
meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya narkoba.

Penyuluhan Narkotika di Posyandu Lansia

Penyuluhan Tentang Narkotika dan UU Wajib Lapor bersama BNK di Forum Remaja
se Tanjung Palas Barat

Penyuluhan Tentang Narkotika dan UU Wajib Lapor bersama BNK di SD, SMP dan
SMA se Kecamatan Tanjung Palas

E. KUNJUNGAN KE BALAI REHABILITASI NARKOTIKA


Kunjungan ke Balai Rehabilitasi Narkotika adalah bagian dari ketertarikan saya dan
kepedulian saya sebagai seorang abdi negara yang diberikan amanah untuk membantu
penanganan pecandu narkoba di Kabupaten Bulungan.
14
Pada tanggal 3 November 2016 s/d 6 November 2016 saya bersama Rombongan dari
Badan Narkotika Kabupaten Bulungan mengadakan kunjungan ke Balai Besar Rehabilitasi
LIDO Badan Narkotika Nasional dan ke Panti Sosial Pamardi Putra Galih Pakuan (
Kemensos ) di Bogor.
Di dalam kunjungan ini kami mendapatkan banyak hal baru sehubungan dengan
penanganan pecandu narkoba. Pertama adalah tentang fisik dan kondisi tempat Rehabilitasi
yang ideal. Kedua tentang kegiatan pecandu narkoba selama berada di Balai Rehabilitasi.
Ketiga tentang pembentukan Intitusi Penerima Wajib Lapor untuk pecandu narkoba sesuai
dengan amanah UU no 35 tahun 2009, agar bisa segera dibuka di Kabupaten Bulungan,
Kalimantan Utara. Keempat tentang alur proses pengiriman / rujukan pecandu narkoba dari
Kabupaten Bulungan ke Balai Besar Rehabilitasi LIDO Badan Narkotika Nasional dan ke
Panti Sosial Pamardi Putra Galih Pakuan di Bogor.

Sambutan, Pemberian Informasi, oleh Pihak


Balai Besar Rehabilitasi BNN LIDO Bogor

Sambutan, Pemberian Informasi, oleh Pihak


Panti Sosial Pamardi Putra Galih Pakuan, Bogor

15
F. PEMUSNAHAN NARKOBA BERSAMA LINTAS SEKTOR
Mengenai pemusnahan barang sitaan narkotika dan prekursor narkotika, dalam UU
Narkotika dijelaskan bahwa yang memiliki wewenang melakukan pemusnahan itu adalah
penyidik Badan Narkotika Nasional (“BNN”) atau penyidik Kepolisian Negara RI.
Pemusnahan narkotika dan prekursor narkotika adalah bagian dari wewenang penyidikan
yang diatur dalam UU Narkotika dan Peraturan Kepala BNN 7/2010.
Definisi pemusnahan diatur dalam Pasal 1 angka 5 Peraturan Kepala BNN 7/2010
yaitu :
“Pemusnahan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk memusnahkan barang
sitaan, yang pelaksanaannya dilakukan setelah ada penetapan dari Kepala Kejaksaan Negeri
setempat untuk dimusnahkan dan disaksikan oleh pejabat yang mewakili, unsur Kejaksaan,
Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Dalam hal unsur pejabat
tersebut tidak bisa hadir, maka pemusnahan disaksikan oleh pihak lain, yaitu pejabat atau
anggota masyarakat setempat.”
Dari ketentuan tersebut dapat kita ketahui bahwa pengawasan dalam pemusnahan
barang sitaan narkotika disaksikan oleh pejabat yang mewakili unsur:
1. Kejaksaan Negeri setempat
2. Kementerian Kesehatan
3. Badan Pengawas Obat dan Makanan
Namun, apabila unsur pejabat tersebut tidak bisa hadir, maka pemusnahan disaksikan
oleh pejabat atau anggota masyarakat setempat.
Kegiatan saya mengikuti pemusnahan narkoba di Kepolisian Resor Kabupaten
Bulungan adalah serangkaian kegiatan saya dalam mendalami tentang penanganan narkoba
sampai dalam tahap pemusnahan.
Kegiatan pemusnahan yang dilakukan di Kepolisian Resor Kabupaten Bulungan ini
dipimpin oleh Kepala Kesatuan Resor Narkoba dan dihadiri oleh tersangka kasus narkoba,
Perwakilan dari Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, Badan Narkotika Kabupaten
Bulungan.
Acara pemusnahan dibuka oleh Kepala Kesatuan Resor Narkoba kemudian dilaporkan
tentang status kasus narkoba tersebut, jumlah barang bukti dan jumlah barang bukti yang
diambil untuk diperiksa di laboratorium. Kemudian, tersangka pertama kali memasukkan
barang bukti ke dalam air sebagai media untuk pemusnahan barang bukti. Kemudian masing
– masing perwakilan memasukkan barang bukti ke dalam air.

16
Proses Pemusnahan Narkotika Bersama
Lintas Sektor

G. AKTIF MENGIKUTI PELATIHAN BERKAITAN DENGAN NARKOBA


Sebuah hal yang tidak mudah untuk menjadikan Indonesia bebas narkoba. Namun
dengan keyakinan dan kerja keras, paling tidak masuknya narkoba dari luar negeri bisa
ditekan. Tingginya angka pengguna narkoba di tahun mendatang bisa menurun.
Dengan adanya proses rehabilitasi bagi pengguna dan bukan dengan dipenjara,
diharapkan akan berkurang pecandu dan semakin banyak orang tua yang peduli kepada
program BNN ini.
Pelatihan Peningkatan Kompetensi Konselor Adiksi ini juga merupakan salah satu
upaya BNN demi bisa mewujudkan sumber daya manusia yang berkredibilitas terutama para
konselor yang kedepannya bisa berperan aktif dalam membantu merehabilitasi para korban
pengguna narkoba.
Pelatihan yang sudah saya ikuti adalah :
1. Pelatihan Asesor Narkotika di Hotel Singgasana Makassar tgl 23 s/d 28 November
tahun 2015 oleh BNN
2. Pelatihan Motivational Interview di Hotel Grand Tjokro, 29 November s/d 3
Desember 2016 oleh BNN provinsi Kalimantan Timur
Setelah mengikuti pelatihan secara bertahap mengenai narkoba, saya berharap kepada
diri saya pribadi agar selalu konsisten dengan amanah yang sudah diberikan kepada saya. Dan
17
dengan keilmuan yang saya miliki, saya akan bekerja keras membantu proses penanganan
penyalah guna narkoba di Kabupaten Bulungan agar penanganan terhadap penyalah guna
tepat sasaran dan tidak selalu berujung pada penjara, namun bisa diarahkan ke Rehabilitasi.

Pelatihan Asesor Narkotika di Hotel Singgasana Makassar tgl 23 s/d 28 November tahun 2015 oleh BNN

Pelatihan Motivational Interview di Hotel Grand Tjokro, 29 November s/d 3 Desember 2016 oleh
BNN Provinsi Kalimantan Timur

H. FOLLOW UP RESIDEN YANG AKAN MENGIKUTI REHABILITASI DAN


RESIDEN YANG SUDAH PULANG DARI REHABILITASI
Pasien yang menjalani Rehabilitasi disebut sebagai Residen. Pada saat akan berangkat
ke tempat Rehabilitasi, saya bertemu dengan residen untuk memastikan dan memotivasi
residen agar semakin mantap untuk menjalani proses rehabilitasi agar semua berjalan dengan
baik dan lancer.
Pada saat residen sudah pulang dari tempat rehabilitasi, saya juga bertemu dengan
residen / keluarganya untuk mengetahui kondisi pasca rehabilitasi. Saya ingin memastikan
agar kegiatan ini berjalan lancar dan tidak terputus di tengah jalan.
18
Penyalahguna narkoba yang akan di rehabilitasi

Penyalahguna narkoba yang sudah selesai menjalani rehabilitasi

19
BAB IV
PEMBAHASAN KEGIATAN

Kegiatan Asesmen Narkoba di Kabupaten Bulungan sudah saya lakukan sejak tanggal
1 Januari 2016 s/d sekarang. Kita tahu bahwa Tanjung Selor sebagai Ibukota Provinsi
termuda di Indonesia berada dalam masa pembangunan infrastruktur dan memerlukan proses
yang panjang untuk melengkapi segala kebutuhan di kota ini.
Dalam UU no 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan
Asesmen perlu dibentuk Tim Asesmen Terpadu ( TAT ) dan Institusi Penerima Wajib Lapor (
IPWL ).
Tim Asesmen Terpadu Adalah tim yang terdiri dari tim dokter/medis dan tim hukum
yang ditetapkan oleh pimpinan satuan kerja setempat berdasarkan surat keputusan Kepala
Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Propinsi, Badan Narkotika Nasional
Kabupaten/Kota.
NO TIM DOKTER TIM MEDIS
Dokter sebagai penanggung jawab, Psikolog, POLRI, BNN, Kejaksaan,
1
tenaga kesehatan terlatih yang lain Kemenkumham

Sedangkan Institusi Penerima Wajib Lapor adalah institusi yang telah ditunjuk dan
ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan, BNN, Kementrian Sosial untuk menerima,
menangani dan merujuk pasien yang sesuai UU 35 tahun 2009 telah diwajibkan untuk
melaporkan diri ke Institusi yang telah ditetapkan / ditunjuk.
Wajib lapor adalah Kegiatan melaporkan diri yang dilakukan oleh Pecandu Narkotika
yang sudah cukup umur atau keluarganya, dan/atau orang tua atau wali dari Pecandu
Narkotika yang belum cukup umur kepada Institusi Penerima Wajib Lapor untuk
mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi
sosial.
Institusi Wajib Lapor di Indonesia meliputi Pusat Kesehatan Masyarakat, Rumah
Sakit, dan/atau Lembaga Rehabilitasi Medis dan Lembaga Rehabilitasi Sosial yang ditunjuk
oleh Pemerintah.
Kegiatan Asesmen ini mulai berjalan segera setelah saya selesai mengikuti pelatihan
Asesor Narkotika di Makassar. Pada akhir 2015, saya melapor hasil pelatihan kepada Kepala
Dinas Kesehatan dan Kepala Satuan Resor Narkoba Kepolisian Resor Bulungan.

20
Setelah ada kordinasi dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepolisian Resor Narkoba, Badan
Narkotika, saya menjalankan amanah sebagai Asesor Narkotika di Kabupaten Bulungan
sampai dengan saat ini.
Mengenai pembentukan Institusi Penerima Wajib Lapor di Kabupaten Bulungan,
masih dalam proses pengajuan ke Kementrian Kesehatan dengan Rekomendasi dari BNN
Provinsi, sekarang masih menunggu Surat Keputusan ( SK ) dari Kementrian Kesehatan.
Kegiatan Asesmen ini tetap saya jalankan walaupun belum ada IPWL di Kabupaten
Bulungan, karena :
1. Saya sebagai tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan tentang
Narkoba merasa bahwa sudah kewajiban saya menangani semua masalah pecandu
atau penyalahguna narkoba di Kabupaten Bulungan sesuai dengan materi
pelatihan yang saya dapatkan.
2. Saya sebagai tenaga kesehatan harus menangani pasien secara utuh ( holistic ) dari
unsur “ badan ” ( organobiologi ), “ jiwa ” ( psiko-edukatif ), “ sosial ” ( sosio-
kultural ), yang tidak dititik beratkan pada “ penyakit ” tetapi pada “ kualitas hidup
” yang terdiri dari “ kesejahteraan ” dan “ produktifitas sosial ekonomi.”
3. Dalam penanganan pecandu dan penyalahguna narkoba tidak bisa disamakan
dengan penyakit biasa, perlu pendekatan khusus sehingga saya harus segera
menangani sesuai kemampuan saya agar pasien dengan penggunaan narkoba bisa
ditetapkan statusnya agar tidak salah dalam penanganan di bidang hukum.

Dalam kegiatan saya di Kabupaten Bulungan tahun 2016, saya sudah melakukan
Asesmen terhadap 50 Pecandu Narkoba dan Penyalahguna Narkoba, baik yang datang secara
sukarela maupun tangkapan Polisi. Laki – Laki 43 orang, Perempuan 7 orang. 45 orang
Rehabilitasi Rawat Inap, 5 orang Rawat Jalan.
Di tahun 2017 s/d Maret ini saya sudah melakukan Asesmen terhadap 4 orang
Pecandu Narkoba dan Penyalahguna Narkoba baik yang datang secara sukarela maupun
tangkapan Polisi. Laki – Laki 5 orang, Perempuan belum ada. 5 orang Rehabilitasi Rawat
Inap.

21
50

40

30
2016
20 2017

10

0
Laki - Laki Perempuan

Data Pasien Asesmen di Kabupaten Bulungan

50

40

30
2016
20
2017
10

0
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rawat Inap Rawat Jalan

Data Rehabilitasi Pasien di Kabupaten Bulungan

22
BAB V
KEGIATAN LAIN DI UPT. PUSKESMAS TANJUNG PALAS

A. KEGIATAN KUNJUNGAN KE RUMAH PASIEN JIWA ( HOME VISITE )

Kunjungan Rumah Pasien dengan Gangguan Jiwa

B. MINI CLINICAL UPDATE

Pelatihan untuk penanganan Gawat Darurat Kepada Petugas Puskesmas

23
C. PUSKESMAS KELILING

Puskesmas Keliling

24
BAB VI
PENUTUP

KESIMPULAN
Masalah penyalahgunaan khususnya pada remaja adalah ancaman yang sangat
mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh narkoba
sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang
ditimbulkannya.
Masalah pencegahan penyalahgunaan narkoba bukanlah menjadi tugas dari
sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan
pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar
bagi pencegahan penanggulangan terhadap narkoba.

25