Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULAN

1.1. Latar Belakang


Kelurusan adalah istilah yang diberikan oleh kalangan geolog untuk
sebuah bentukan memanjang (lines) atau batas tepi (edges), diasumsikan
terbentuk karena proses geologi, dan dapat dikenali dalam citra penginderaan
jauh. Istilah ini sebenarnya telah dipakai jauh sebelum tersedianya foto udara
dimana kalangan geolog menggunakannya untuk fitur geologi maupun morfologi,
seperti bentukan topografi (punggungan, pola pengaliran, garis pantai), batas
satuan batuan dan atau zona rekahan (Campbell dan Wynne, 2011).
Pada awal perkembangan penginderaan jauh, geolog termasuk kalangan
sipil pertama di luar militer yang mendapatkan keuntungan dari penggunaan foto
udara untuk penyelidikan geologi. Termasuk di dalamnya adalah ketertarikan para
ahli geologi foto (photogeologist) untuk melakukan kajian kelurusan yang
terekspresikan oleh bentukan topografi atau morfologi dan sangat jelas dikenali
dalam sebuah foto udara. Kajian yang dilakukan para ahli geologi foto ini
mendapati bahwa fitur lurus atau kelurusan yang dikenali dari foto udara ternyata
berkesesuaian besar dengan kenyataan kondisi struktur geologi yang ada di
lapangan.
Penelitian kelurusan, khususnya dalam kerangka kerja penginderaan jauh,
telah mendapat banyak perhatian dan termasuk salah satu tema yang sering
dibahas. Secara umum penelitian yang membahas kelurusan dapat dibagi ke
dalam dua kategori. Kategori pertama adalah penelitian yang dititik beratkan pada
pengembangan teknik ekstraksi dan analisis kelurusan dari citra penginderaan
jauh ( Kernieli et al, 1996; Wang, 1996; Zakir et al, 1999; Casas et al, 2000;
Vassilas et al, 2002). Dan kategori kedua adalah penelitian yang membahas
penerapan atau pemanfaatan ekstraksi kelurusan untuk bidang ilmu lainnya
diantaranya yaitu membahas analisis kelurusan dan hubungannya dengan
eksplorasi minyak dan gas (Mohammed et al, 2010; Prabaharan et al, 2013),

1
permasalahan dan potensi air tanah (Dinger et al, 2002; Haryono et al, 2005;
Henriksen, 2006), mineralisasi logam (Cunha, 1996; Sugeng, 2005).
Perkembangan teknologi penginderaan jauh, terutama perkembangan
teknik analisis manual ke digital, juga membawa dampak perubahan teknik
ekstraksi dan analisis dalam kajian kelurusan. Metode ekstraksi dan analisis
kelurusan secara digital/otomatis pun mulai banyak digunakan. Meskipun tidak
dapat dipungkiri bahwa metode ekstraksi dan analisis manual/visual menghasilkan
tingkat akurasi yang lebih baik namun perkembangan metode ekstraksi dan
analisis digital/otomatis ini seharusnya mendapatkan respon yang positif
mengingat metode ekstraksi dan analisis manual/visual memiliki tingkat
subyektifitas yang tinggi dan sangat bergantung pada pengalaman dan keahlian
seorang interpreter/analis, sedangkan melalui metode ekstraksi dan analisis
digital/otomatis dapat diharapkan suatu hasil yang lebih obyektif. Hal ini tentunya
memerlukan penelitian secara kontinyu dimana metode baru yang dikembangkan
terus diuji dan dievaluasi sehingga dapat diterapkan secara tepat dan memberikan
akurasi hasil yang sama baiknya atau mungkin lebih baik dibandingan dengan
metode ekstraksi dan analisis manual/visual.
1.2. Rumusan Masalah
Citra satelit menyajikan gambaran yang komprehensif tentang permukaan
bumi dimana struktur geologi dalam cakupan regional tergambarkan sebagai
sebuah bentuk kelurusan. Dalam kerangka kerja penginderaan jauh, kelurusan
diinterpretasikan dari ekspresi topografi atau morfologi yang terekam dalam
sebuah citra. Perubahan-perubahan fitur topografi atau morfologi seperti
perubahan kemiringan lereng yang mendadak pada lereng yang curam,
punggungan bukit/gunung, lembah, dan pola pengaliran akan tergambarkan oleh
perubahan tonal/nilai keabuan yang mendadak sehingga membentuk fitur lurus
dan dapat dikenali dalam sebuah citra. Beberapa faktor, seperti musim, vegetasi,
sudut penyinaran matahari (iluminasi), resolusi spektral dan spasial
mempengaruhi pengenalan kelurusan dari sebuah citra (Kavak dan Cetin, 2007).
Satu faktor yang paling penting adalah iluminasi (Lillesand et al, 2004; Campbell
dan Wynne, 2011). Sudut Azimut iluminasi akan menentukan arah bayangan dan

2
sudut elevasi iluminasi akan menentukan panjang bayangan. Oleh karena
kelurusan umumnya memiliki arah dan orientasi tertentu maka kelurusan yang
sejajar dengan sudut azimut iluminasi (arah datangnya sinar) akan sulit untuk
dikenali. Demikian halnya dengan panjang bayangan yang ditentukan oleh sudut
elevasi iluminasi, ketika posisi iluminasi menyebabkan panjang bayangan menjadi
besar maka fitur kelurusan yang berada dalam daerah bayangan tersebut akan sulit
untuk dikenali.
Kajian literatur yang dilakukan mendapati bahwa citra Landsat-7 dan citra
SRTM merupakan dua jenis citra yang umum digunakan dalam penelitian yang
membahas mengenai kelurusan. Kedua citra ini dapat memperlihatkan ekspresi
topografi atau morfologi daerah yang terekam di dalamnya. Dua jenis citra ini
mewakili dua jenis sistem pencitraan dalam teknologi penginderaan jauh. Citra
Landsat dihasilkan dari sistem penginderaan jauh pasif, dimana topografi atau
morfologi terekspresikan secara tidak langsung oleh perbedaan tonal/nilai
keabuan akibat pengaruh sudut azimut dan elevasi matahari. Sedangkan citra
SRTM dihasilkan dari sistem penginderaan jauh aktif, dimana topografi atau
morfologi secara langsung digambarkan oleh perbedaan nilai piksel yang
merupakan nilai ketinggian/elevasi. Pada citra Landsat-7 pengaruh iluminasi
terjadi secara alamiah oleh posisi matahari pada saat citra tersebut direkam.
Sedangkan pada pada citra SRTM pengaruh iluminasi dapat diubah-ubah dengan
memanfaatkan algoritma shaded relief.
Sejalan dengan perkembangan teknik analisis yang berkembang ke arah
digital/otomatis serta ditambah dengan semakin banyaknya sumber data citra
dalam bentuk digital maka metode ekstraksi kelurusan otomatis merupakan teknik
yang dipilih untuk diterapkan dalam penelitian ini. Teknik ekstraksi kelurusan
otomatis sebenarnya telah banyak diterapkan dalam berbagai penelitian namun
belum terlalu populer di daerah-daerah tropis yang tutupan lahannya didominasi
oleh vegetasi. Khususnya di Indonesia, kajian analisis kelurusan dengan
menggunakan metode ekstraksi otomatis masih jarang ditemukan. Hasil yang
obyektif dan tidak tergantung pada pengalaman seorang interpreter/analis
merupakan kelebihan dari teknik ekstraksi otomatis, terlebih lagi pelaksanaannya

3
dalam kerangka kerja penginderaan jauh. Misalkan hal ini dikaitkan dengan upaya
untuk memahami tatanan tektonik dan atau untuk mempelajari serta menyediakan
data struktur geologi, maka penerapan teknik ekstraksi kelurusan otomatis ini
akan menjadi alternatif yang sangat baik karena memberikan efektifitas yang lebih
baik dalam hal waktu, tenaga, dan biaya dibandingkan dengan teknik ekstraksi
dan analisis kelurusan secara manual/visual. Dari studi literatur yang dilakukan
terdapat beberapa algoritma yang digunakan untuk mengekstrak kelurusan secara
otomatis dari sebuah citra, salah satunya yaitu yang terdapat dalam modul LINE
PCI Geomatica. Algoritma ini merupakan algoritma yang paling sering digunakan
dalam berbagai penelitian mengenai kelurusan sekaligus juga algoritma yang
dipilih dan akan digunakan dalam penelitian ini.
Berdasarkan uraian yang tertuang pada paragraf-paragraf sebelumnya
maka dapat dirumuskan permasalahan pokok yang akan dikaji dalam penelitian
ini, yaitu sebagai berikut :
1. Metode ekstraksi kelurusan secara otomatis merupakan metode yang
relatif baru berkembang seiring dengan perkembangan sains dan
teknologi penginderaan jauh terutama perkembangan teknik analisis
manual ke digital, dan khususnya di Indonesia, penerapannya masih
jarang ditemukan. Maka penerapan metode ini dianggap perlu untuk
dilakukan di lokasi penelitian.
2. Citra Landsat-7 dan citra SRTM merupakan dua citra yang umum
digunakan dalam penelitian mengenai kelurusan. Sebagaimana
diketahui bahwa kedua jenis citra ini dihasilkan dari sistem pencitraan
yang berbeda maka akan memberikan informasi dan hasil ekstraksi
kelurusan yang berbeda. Untuk itu dipandang perlu melakukan kajian
perbandingan kemampuan kedua citra ini khususnya ketika digunakan
untuk menganalisis kelurusan dengan menggunkan metode ekstraksi
otomatis pada satu lokasi penelitian,
3. Iluminasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dapat
dikenali atau tidaknya fitur kelurusan dari sebuah citra satelit. Pengaruh
iluminasi pada citra Landsat-7 terjadi secara alamiah yakni ditentukan

4
oleh posisi matahari pada saat perekaman citra sedangkan pada Citra
SRTM dapat diterapkan iluminasi buatan dengan menggunakan
algoritma shaded relief. Berdasarkan hal ini maka dianggap perlu untuk
melakukan kajian pengaruh perbedaan iluminasi pada kedua citra
tersebut terhadap hasil analisis kelurusan dengan menggunakan metode
ekstraksi otomatis.
4. Analisis kelurusan dengan metode ekstraksi otomatis disandarkan pada
fitur topografi/morfologi permukaan yang terekam pada citra dan
dipercaya memiliki hubungan dengan proses tektonik yang pernah
ataupun sedang berlangsung di daerah tersebut. Oleh karena itu
dianggap perlu untuk melakukan kajian untuk mengetahui seberapa
jauh penerepan metode ini dapat memberikan deskripsi tatanan tektonik
di lokasi penelitian.
Menilik rumusan masalah yang dipaparkan di atas maka dapat diajukan
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Dapatkah penerapan metode ekstraksi kelurusan otomatis digunakan
untuk menganalisis kelurusan di lokasi penelitian?
2. Bagaimanakah perbandingan hasil kemampuan citra Landsat-7 dan citra
SRTM untuk analisis kelurusan dengan menggunakan metode ekstraksi
otomatis di lokasi penelitian?
3. Bagaimanakah pengaruh iluminasi terhadap hasil analisis kelurusan
dengan menggunakan metode ekstraksi otomatis?
4. Dapatkah hasil analisis kelurusan dengan metode ekstraksi otomatis
memberikan gambaran keadaan tektonik di lokasi penelitian?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hal-hal yang tertuang dalam
rumusan masalah guna mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian yang
telah diajukan. Bila dijabarkan maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menerapkan metode ekstraksi otomatis untuk menganalisis pola
kelurusan di lokasi penelitian,

5
2. Melakukan kajian perbandingan hasil kemampuan citra Landsat-7 dan
citra SRTM untuk analisis kelurusan dengan menggunakan metode
ekstraksi otomatis di lokasi penelitian,
3. Mengkaji pengaruh perbedaan iluminasi terhadap hasil analisis
kelurusan dengan menggunakan metode ekstraksi otomatis,
4. Mengkaji hasil analisis yang didapatkan dalam memberikan keadaan
tektonik di lokasi penelitian.
1.4. Hasil yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini yaitu:
1. Peta kelurusan hasil ekstraksi otomatis skala 1:100.000,
2. Deskripsi evaluasi perbandingan hasil kemampuan citra Landsat-7 dan
citra SRTM untuk analisis kelurusan dengan menggunakan metode
ekstraksi otomatis di lokasi penelitian,
3. Deskripsi evaluasi pengaruh perbedaan iluminasi terhadap hasil analisis
kelurusan dengan menggunakan metode ekstraksi otomatis.
4. Deskripsi evaluasi keadaan tektonik di lokasi penelitian berdasarkan
hasil analisis kelurusan dengan menggunakan metode ekstraksi
otomatis.
1.5. Kegunaan Penelitian
Capaian hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat berguna
untuk :
1. Memberikan gambaran penerapan metode ekstraksi otomatis untuk
analisis kelurusan dalam kerangka kerja penginderaan jauh,
2. Menunjang perkembangan metode ekstraksi otomatis untuk analisis
kelurusan dari citra penginderaan jauh,
3. Memberikan cara alternatif dalam upaya untuk memahami tatanan
tektonik dan atau untuk mempelajari serta menyediakan data struktur
geologi.
1.6. Keaslian Penelitian
Telah banyak penelitian yang bertemakan kajian kelurusan dengan
memanfaatkan sains dan teknologi penginderaan jauh dilakukan oleh para ahli dan

6
kalangan praktisi. Beberapa diantaranya akan diuraikan pada bagian ini selain
sebagai literatur rujukan juga sebagai pembanding untuk mencari persamaan
maupun perbedaan dengan penelitian ini agar keaslian penelitian ini dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
 Shaheen Alhirmizy (2015), dalam penelitian berjudul Automatic Mapping of
Lineaments Using Shaded Relief Images Derived from Digital Elevation Model
(DEM) in Kirkuk Northeast Iraq, melakukan pemetaan kelurusan secara
otomatis dengan menggunakan algoritma LINE dalam perangkat lunak PCI
Geomatica 2013. Data yang digunakan berupa citra SRTM ( 90 x 90m global
DEM), menggunakan teknik shaded relief dengan 8 (delapan) variasi sudut
azimut penyinaran. Hasil analisis memperlihatkan kelurusan di daerah
penelitian kecenderungan utamanya berarah NE-SW. Ekstraksi kelurusan
otomatis dari citra A (gabungan variasi azimut dengan sudut 00, 450, 900, dan
1350) berhubungan erat dengan sistem garis kelurusan positif yang mana
dengan sangat baik menunjukkan hubungan kelurusan dengan pola relief
topografi sedangkan ekstraksi kelurusan otomatis dari citra B (gabungan
variasi azimut dengan sudut 1800, 2250, 2700 dan 3150) lebih banyak
memperlihatkan sistem garis kelurusan negatif yang me-nunjukkan hubungan
kelurusan dengan pola pengaliran yang dikontrol oleh struktur geologi.
 Hung L.Q., Batelaan O., De Smedt F. (2005), dalam penelitian berjudul
Lineament extraction and analysis, comparison of LANDSAT ETM and ASTER
imagery. Case study Suoimuoi tropical karst catchment, Vietnam, mencoba
membuat sebuah metodologi ekstraksi kelurusan secara digital/otomatis pada
skala peta dasar 1:50.000. Data yang digunakan berupa citra Landsat-7 dan
citra ASTER. Fusi citra diterapkan pada citra Landsat-7 menggunakan metode
IHS pada saluran 3,4,5 untuk meningkatkan resolusi spasial ketiga saluran
tersebut menjadi 15m. Ekstraksi kelurusan secara otomatatis menggunakan
modul LINE perangkat lunak PCI Geomatica. Kesimpulan yang didapatkan
dari penelitian ini yaitu : a.) Band 3 citra ASTER (AST3) dan band 4 hasil fusi
citra Landsat-7 (TM4_F) merupakan saluran yang paling baik untuk digunakan
dalam ekstrakasi kelurusan secara otomatis; b.) Citra ASTER menghasilkan

7
keakuratan yang lebih baik dibanding citra Landat-7 dalam ekstraksi kelurusan
otomatis pada skala dasar 1:50.000; c.) Metode yang dikembangkan terbukti
berhasil digunakan untuk ekstraksi otomatis dan anilisis kelurusan; d.) Peta
densitas dengan indeks rata-rata panjang kelurusan dapat menjelaskan zona
patahan yang ada didaerah penelitian.
 GÜLCAN SARP (2005) dalam tesisnya yang berjudul Lineament Analysis
From Satellite Images, North-West Of Ankara, menerapkan tenkik
penginderaan jauh untuk menganalisis kelurusan di barat laut Ankara. Dua
teknik ekstraksi diterapkan dan dibandingkan yakni teknik manual dan teknik
digital/otomatis. Data yang digunakan adalah citra Landsat-7 TM+. Empat
metode (pemfilteran, PCA, penisbahan saluran dan komposit warna) diterapkan
untuk ektraksi manual, peta kelurusan dari masing-masing metode ditumpang-
susunkan satu per satu secara bertahap sehingga dihasilkan satu peta kelurusan
yang merupakan gabungan dari keempat metode yang digunakan. Ekstraksi
kelurusan secara otomatis menggunakan modul LINE PCI Geomatica dengan
citra saluran 7 sebagai citra masukan. Kesimpulan dari prosedur yang
diterapkan dalam penelitian ini dinyatakan bahwa ekstraksi manual
memberikan hasil yang lebih baik dibanding ekstraksi otomatis dan penerapan
prosedur teknik ekstraksi manual dalam penelitian ini diyakini berhasil dalam
mengidentifikasi sesar dan zona sesar di daerah penelitian dengan tingkat
akurasi sebesar 38,69%.
 Anwar Abdullah, Shawki Nassr dan Abdoh Ghaleeb (2013) dengan penelitian
berjudul Landsat ETM-7 for Lineament Mapping using Automatic Extraction
Technique in the SW part of Taiz area, Yemen mencoba metode ekstraksi
otomatis untuk mendeteksi kelurusan di daerah penelitian dan menyelidiki
kemampuan metode ini dalam memberikan hasil yang kemudian dibandingkan
dengan peta patahan yang telah ada sebelumnya. Data yang digunakan berupa
citra landsat-7 ETM+ saluran 5 sebagai sumber informasi kelurusan. Hasil
yang didapat setelah dikonformasi dengan peta struktur yang telah
dipublikasikan sebelumnya ditambah dengan hasil pengukuran lapangan
menunjukkan bahwa analisis orientasi kelurusan yang diekstrak secara

8
otomatis dari citra yang dipakai memiliki kesamaan besar dengan data orientasi
struktur geologi di daerah penelitian. Sedangkan bila dilihat dari jumlah dan
total panjang kelurusan hasil ekstraksi jauh lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah dan total panjang kelurusan dari data sekunder yang dijadikan acuan.
 Rayan Ghazi Thannoun (2013) dalam penelitian berjudul Automatic Extraction
and Geospatial Analysis of Lineaments and their Tectonic Significance in some
areas of Northern Iraq using Remote Sensing Techniques and GIS, mendesain
sebuah metode yang sesuai dalam menganalisis kelurusan secara
digital/otomatis dan menerapkan kekhususan hasil analisis kelurusan yang
diperoleh guna menilai kondisi tektonik daerah penelitian. Saluran 8
(pankromatik) citra Landsat-7 sebagai citra masukan kemudian ditransformasi
menggunkan teknik pemfilteran spasial. Filter yang dipilih yakni directional
Sobel-kernel filter dengan arah N-S, NE-SW, E-W, NW-SE. Ekstraksi
kelurusan dilakukan secara otomatis menggunakan modul LINE PCI
Geomatica. Analisis geospasial (jumlah, panjang, densitas) dilakukan untuk
mengevaluasi hasil ekstraksi kelurusan yang diperoleh. Kesimpulan dari
penelitian ini yaitu : a.) Kelurusan di daerah penelitian memiliki dua jurus
utama berarah NE-SW dan N-S; b.) Kelurusan dominan memiliki total jumlah
dan panjang terbesar berarah NE-SW; c.) Letak sesar dan kelurusan utama
pada umumnya berdekatan dengan tempat yang berdensitas besar; d.) Hasil
analisis geospasial yang diperoleh memperlihatkan kesesuaian yang baik
dengan tatanan tektonik di daerah penelitian.

9
Tabel 1.1 Beberapa penelitian terdahulu

Peneliti Judul Tujuan Jenis Data Metode Penelitian Hasil


Shaheen Alhirmizy Automatic Mapping Melakukan pemetaan Citra SRTM (90 x  Menggunakan teknik shaded relief  Hasil analisis memperlihatkan
(2015) of Lineaments Using kelurusan di daerah pene- 90m Global (bayangan relief) kelurusan di daerah penelitian
Shaded Relief Images litian secara otomatis. DEM) kecenderungan utamanya ber-
 Menggabungkan 4 citra bayangan
Derived from Digital arah NE-SW,
Elevation Model relief dengan sudut azimut penyinaran
 Ekstraksi kelurusan otomatis dari
(DEM) in Kirkuk 00, 450, 900, 1350 menjadi satu citra citra A lebih banyak mem-
Northeast Iraq (citra A) serta citra 4 citra DEM perlihatkan sistem garis kelurus-
dengan sudut azimut penyinaran 1800, an positif yang mana sangat jelas
2250, 2700, 3150 menjadi satu citra menunjukkan hubungan kelurus-
yang lain (Citra B) an dengan pola relief topografi,
 Ekstraksi kelurusan otomatis dari
 Ekstraksi kelurusan menggunakan
citra B lebih banyak memper-
algoritma LINE dalam perangkat lunak
lihatkan sistem garis kelurusan
PCI Geomatica 2013 negatif yang menunjukkan
hubungan kelurusan dengan pola
pengaliran yang dikontrol oleh
struktur geologi.
Hung L.Q., Batelaan Lineament extraction Menciptakan metodologi Citra satelit  Fusi citra Landsat-7 band 3,4,5  Band 3 VNIR citra ASTER dan
O., De Smedt F. and analysis, otomatis dan analisis Landsat-7 ETM resolusi spasial 30m dengan band 8 band 4 citra Landsat-7 yang telah
(2005) comparison of kelurusan secara digital dan citra ASTER resolusi spasial 15m menggunakan difusi (pan-sharpening) me-
LANDSAT ETM and pada peta dasar berskala tenik IHS, rupakan saluran yang paling baik
ASTER imagery. 1:50.000.  Ekstraksi kelurusan menggunakan untuk dipakai dalam ekstraksi
Case study Suoimuoi algoritma LINE dalam perangkat lunak kelurusan otomatis,
tropical karst PCI Geomatica,  Citra ASTER memiliki keaku-
catchment, Vietnam ratan yang lebih baik dibanding
 Menerapkan koreksi kelurusan secara
otomatis menggunakan sarana citra Landsat-7 dalam analisis
perangkat lunak (tool) yang kelurusan pada skala 1:50.000,
dikembangkan penulis,  Metodologi yang dikembangkan
 Analisis densitas kelurusan, meng- terbukti menjadi metode yang
gunakan 3 indeks densitas utama dan 3 cocok untuk ektraksi otomatis
indeks densitas modifikasi, dan analisis kelurusan,
 Membandingkan hasil ekstraksi dan  Peta densitas dengan indeks nilai
rata-rata panjang kelurusan dapat

10
analisis kelurusan yang diperoleh dari menjelaskan zona patahan di
citra ASTER dan citra Landsat-7 daerah penelitian.
ETM.

GÜLCAN SARP Lineament Analysis Menerapkan teknik peng- Citra Landsat  Menerapakan teknik ektraksi kelurusan  Prosedur ekstraksi manual
(2005) From Satellite inderaan jauh untuk meng- ETM-7 secara manual (visual interpretation) memberikan hasil yang lebih baik
Images, North-West analisis kelurusan di barat dan ektraksi otomatis (modul LINE dibanding ekstraksi otomatis,
Of Ankara laut Ankara PCI Geomatica), dan membandingkan  Penerapan teknik ekstraksi
hasilnya, manual diyakini berhasil dalam
 Empat metode (pemfilteran, PCA, mengidentifikasi sesar dan zona
penisbahan saluran dan komposit sesar di daerah penelitian dengan
warna) diterapkan untuk ektraksi tingkat akurasi sebesar 38,69%.
manual, peta kelurusan dari masing-
masing metode ditumpang-susunkan
satu per satu secara bertahap sehingga
dihasilkan satu peta kelurusan yang
merupakan gabungan dari keempat
metode yang digunakan,
 Ekstraksi kelurusan secara otomatis
menggunakan modul LINE PCI
Geomatica dengan saluran 7 sebagai
citra masukan.
Anwar Abdullah, Landsat-7 for Mencoba metode eks- Citra Landsat-7  Panajaman kontras dengan pe-  Arah kelurusan hasil ekstraksi
Shawki Nassr, Lineament Mapping traksi otomatis untuk saluran 5 rentangan linier otomatis memiliki kesesuaian
Abdoh Ghaleeb using Automatic mendeteksi kelurusan di  Pemfilteran spasial menggunakan edge yang besar dengan data orientasi
(2013) Extraction Technique daerah penelitian dan sharphening filter, struktur di daerah penelitian,
in the SW part of menyelidiki kemampuan  Total frekuensi dan panjang
 Ekstraksi otomatis menggunakan
Taiz, Yemen metode ini dalam mem- kelurusan yang didapatkan dari
modul LINE pada perangkat lunak
berikan hasil yang kemu- ekstraksi otomatis lebih besar
PCI Geomatica.
dian dibandingkan dengan dibandingkan dengan data
peta patahan yang telah struktur geologi dalam referensi
ada sebelumnya. acuan.
Rayan Ghazi Automatic Extraction Merancang sebuah me- Citra Landsat-7  Menerapkan teknik pemfilteran  Kelurusan di daerah penelitian
Thannoun and Geospatial Ana- tode yang sesuai dalam saluran 8 spasial, menggunakan directional memiliki dua jurus utama berarah
lysis of Lineaments menganalisis kelurusan sobel-kernel, dengan arah N-S, NE- NE-SW dan N-S,
(2013) and their Tectonic secara digital/otomatis dan SW, E-W dan NW-SE,  Kelurusan dominan memiliki

11
Significance in some menerapkan kekhususan  Ekstrakasi kelurusan otomatis total jumlah dan panjang terbesar
areas of Northern hasil analisis yang menggunakan modul LINE PCI berarah NE-SW,
Iraq using Remote diperoleh guna menilai Geomatica,  Letak sesar dan kelurusan utama
Sensing Techniques kondisi tektonik daerah  Melakukan analisis geospasial berupa pada umumnya berdekatan
and GIS penelitian analisis panjang, densitas dan arah dengan tempat yang berdensitas
untuk mengevaluasi kelurusan. besar,
 Hasil analisis geospasial yang
diperoleh memperlihatkan ke-
sesuaian yang baik dengan
tatanan tektonik di daerah
penelitian.
Noviar Akase Kajian Perbandingan  Menerapkan metode Citra Landsat-7  Memilih 2 scene citra Landsat-7  Peta kelurusan hasil ekstraksi
Kemampuan Citra ekstraksi otomatis untuk saluran 5 dan (berbeda tanggal perekaman) untuk kelurusan otomatis skala
2016 Landsat-7 dan Citra menganalisis pola kelu- Citra SRTM mencari perbedaan sudut iluminasi 1:100.000,
SRTM Untuk rusan di lokasi peneli- (30m)  Penerapan algoritma shaded relief  Hasil ekstraksi kelurusan
Analisis Kelurusan tian,
untuk mendapatkan efektopografi pada otomatis dengan citra masukan
Dengan  Melakukan kajian per-
citra SRTM, sudut azimut menye- SRTM memberikan jumlah, total
Menggunakan bandingan hasil peman-
suaikan dengan sudut azimut citra panjang, panjang max & min,
Metode Ekstraksi faatan citra Landsat-7
Landsat-7 rata-rata serta standar deviasi
Otomatis dan citra SRTM untuk
 Ekstraksi kelurusan secara otomatis kelurusan yang lebih besar
(Studi Kasus Di analisis kelurusan deng-
menggunakan modul Line PCI dibandingkan dengan citra masu-
Sebagian an menggunakan metode
Geomatica 2012, dengan 6 variasi kan Landsat-7,
Pegunungan Selatan ekstraksi otomatis di lo-
Bagian Timur kasi penelitian, parameter berdasarkan referensi acuan,  Iluminasi berpengaruh pada hasil
Provinsi Gorontalo)  Mengkaji pengaruh per-  Penajaman kontras (histogram ekstraksi kelurusan secara
bedaan iluminasi terha- equalization), otomatis,
dap hasil analisis kelu-  Analisis geospasial (densitas dan arah  Arah trend kelurusan utama
rusan dengan meng- orientasi adalah NE-SW dan tren kedua
gunakan metode ekstrak- adalah NW-SE dan ini secara
 Melakukan evaluasi perbandingan
si otomatis, regional sesuai dengan kondisi
hasil ekstraksi kelurusan otomatis yang
 Mengkaji hasil analisis pembentukan sesar mendatar
didapatkan dari citra Landsat-7 dan
yang didapatkan dalam berpasangan dengan sesar
memberikan keadaan citra SRTM
terbesar adalah sesar Gorontalo
tektonik di lokasi pene- yang berarah NW-SE.
litian.

12
1.7. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di Provinsi Gorontalo. Dalam lingkup regional
lokasi penelitian berada di lengan utara pulau sulawesi yang secara tektonik
merupakan kawasan rawan gempa sebagai konsekuensi logis adanya zona
subduksi di utara laut sulawesi. Pemilihan lokasi penelitian terutama didasarkan
pada kondisi topografi bergelombang berupa perbukitan dan pegunungan yang
pembentukannya diasumsikan berhubungan dengan aktifitas tektonik yang pernah
ataupun sedang berlangsung di daerah tersebut. Selain itu lokasi penelitian juga
berbatasan langsung dengan Teluk Tomini dimana terdapat jalan lintas antar
provinsi yang cukup ramai dengan aktifitas penduduk mulai dari permukiman,
pariwisata, dermaga dan kepabeanan.

Gambar 1.1. Peta lokasi Penelitian (sumber : pengolahan data, 2016)

13
1.7.1. Batas Lokasi Penelitian
Letak geografis lokasi penelitian berada antara 12304’4,67”-
123015’13,768” BT dan 0019’59,476”-0029’55,367” LU. Dengan luas ± 193,488
km2 secara administratif meliputi dua wilayah kota/kabupaten di Provinsi
Gorontalo yaitu Kota Gorontalo (4,1 %) dan Kabupaten Bone Bolango (95,9 %).
1.7.2. Geologi Lokasi Penelitian
Kondisi geologi regional lokasi penelitian didasarkan pada Peta Geologi
Rinci, Indonesia, Lembar Bilungala Skala 1 : 100.000 yang diterbitkan oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung Tahun 1997.

Gambar 1.2. Peta Geologi Rinci Indonesia, Lembar Bilungala, Skala 1:100.000
(Partoyo E., dkk, PPPG Bandung, 1997)

Daerah penelitian terletak pada daerah pertemuan dan batas antara


lempeng-lempeng tektonik utama : daerah tumbukan yang memisahkan Lempeng
Asia dari Lempeng India-Australia, daerah zona sesar geser (Zona Sesar Sorong)
yang memisahkan lempeng India-Australia dari Lempeng Pasifik, dan daerah
zona tunjaman memisahkan Lempeng Asia dari Lempeng Philipina-Pasifik.

14
Selama Miosen Akhir (?) sampai Pliosen Awal, Benua Banggai-Sula
menyusup ke arah barat di bawah Lempeng Asia. Kejadian ini menghasilkan
sistem magmatik dari Sulawesi Tengah Memanjang sampai ke lengan utara
Sulawesi Utara dan berlanjut ke kepulauan Sangihe.
Kegiatan gunungapi di lengan utara Sulawesi menghasilkan Batuan
Gunungapi Bilungala dengan komposisi dari basalan sampai riolitan. Satuan
batuan ini mungkin diendapkan pada lingkungan laut terbuka sampai darat.
Tumbukan lempeng berakhir pada Pliosen bersamaan dengan perpindahan benua
mikro Banggai-Sula dan obdaksi dari batuan metamorf ke atas jalur magmatik
dari Lempeng Asia (Moore and Silver, 1983).
Selama Pliosen Awal-Akhir, tumbukan lempeng menghasilkan “thrust”
(sesar naik) di Satuan Batuan Gunungapi Bilungala. Kegiatan magmatik di lengan
utara Sulawesi aktif kembali dan menghasilkan batuan vulkanik yang diendapkan
pada daerah zona depresi antar pegunungan.
Pada waktu Pleistosen, kegiatan vulkanik terbentuk dengan tatanan
tektonik yang berbeda dengan kegiatan vulkanik sebelumnya. Jalur magmatik,
termasuk satuan Batuan Gunungapi Pinogu, dihasilkan dari tumbukan antar
Lempeng Philipina dengan lengan utara Sulawesi. Batuan Gunungapi Pinogu
dibentuk oleh satuan material vulkanik yang mempunyai komposisi magma
bersifat “bimodal”, dan diendapkan pada lingkungan darat sampai lingkungan
laut. Pergerakan relatif dari Lempeng Philipina adalah ke arah SE sesuai dengan
Sesar Gorontalo yang berarah SE-NW. Kegiatan tumbukan berakhir pada
Pleistosen dengan disusul oleh terbentuk zona sesar normal yang berarah E-W,
yang diwakili oleh dataran rendah Paguyaman, Limboto dan Pinogu.

15