Anda di halaman 1dari 3

1.

Ukhuwah Islamiyah

Sedang makna ukhuwah Islamiah terkadang diartikan sebagai "persaudaraan


antar sesama muslim", di mana kata "Islamiah" menunjuk kepada pelaku; dan
terkadang juga diartikan sebagai "persaudaraan yang bersifat Islami atau yang
diajarkan oleh Islam", di mana di sini kata "Islamiah" difahami sebagai kata sifat.

Dalam kajian ini, kedua makna tersebut saya gunakan sehingga ukhuwah
islamiah diartikan sebagai "persaudaraan antar sesama muslim yang diajarkan
oleh Islam dan bersifat Islami". Dengan definisi yang 'lengkap' ini, pertanyaan
what, who dan how tentang ukhuwah Islamiah ini secara general telah terjawab.

Dalam kaitannya dengan hali ini, Allah berfirman:

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu


damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat." (Al Hujurat:10)

Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra yang diriwayatkan Bukhari dan
Muslim, Rasulullah saw bersabda:

Artinya: "Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak
menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi."

Dalam hadits:

Artinya: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang,


dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu
anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan
tidak bisa tidur."
Juga contoh yang dilakukan oleh shahabat Anshar, Sa'ad bin rabbi' yang
menawarkan hartanya, rumahnya, istrinya yang terbaik untuk dimiliki oleh
Abdurrahman bin Auf. Dalam hal ini Abdurrahman bin Auf pun berlaku iffah
dengan hanya meminta untuk ditunjukkan jalan ke pasar. Kisah-kisah di atas
kalaupun belum mampu kita lakukan, minimal kita jadikan sebagai sebuah
motivasi awal untuk sedikit lebih memperhatikan saudara kita yang lain.

Dan Allah berkata tentang kaum Anshar;

  


  
   
   
  
  
    
   
  

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman
(Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan
dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang
Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan
itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-
orang yang beruntung. (QS Al Hasyr ayat 9)

Dan tentang mereka semua:

 
  
  
 
  
    
 
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan
Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi
pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang
yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki
(ni`mat) yang mulia.” (QS. AL Anfaal ayat 74)

2. Ukhuwah Basyariyah

Butir-butir perjanjian Madinah ini menunjukan: seluruh penduduk Madinah terdiri atas agama,
adat dan kebiasaan yang berbeda, menyatakan sebagai satu ummah atau bangsa. Semua warga
Madinah (pria dan wanita) mempunyai hak dan tanggungjawab yang sama serta kebebasan
beragama yang sama.

Inilah hakikat masyarakat majemuk (pluralistik), yang berdasarkan pada keadilan, yang
melindungi hak-hak azasi dari semuanya (termasuk perlindungan jiwa, harta benda, tempat-
tempat ibadah dan hak untuk kebebasan beragama). Penduduk Madinah – Muslim dan non-
Muslim, adalah dua golongan agama berbeda, yang disatukan dalam satu bangsa secara politik.
Ibnu Hisyam mencatat: “Wa inna Yahuda Bani Aufa, Ummatan ma’al Mu’minin. Lil Yahudi
in dinahum, wa lil Mu’miniina dinahum” – Dan Yahudi dari Bani Auf akan menjadi satu
bangsa dengan kaum Muslimin; untuk Yahudi agama mereka, dan untuk Muslimin agama
mereka.

Penduduk Indonesia, mayoritas memeluk agama Islam. Dengan konsep dan model pluralisme
Islam seperti diatas, kebebasan beragama di Indonesia, berpeluang besar untuk dapat diwujudkan
dalam bentuknya yang sempurna dan utuh. Umat Islam, sebagai umat terbaik (Ali Imran, 3:110),
dengan sepirit ajaran agamanya, tidak hanya hidup rukun dengan saudara seagamanya, tapi juga
dimungkinkan dapat menjadi pelopor dalam menciptakan kerukunan hidup beragama dengan
pengikut agama-agama lainnya. Para pemeluk agama pun, dapat menjalankan kegiatan
keagamaanya dengan damai, tanpa rasa was-was dan cemas

3. Ukhuwah Wathoniyah