Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


PERCOBAAN VII
OBAT YANG MEMPENGARUHI SALURAN PENCERNAAN
(ANTIDIARE DAN ANTITUKAK)

Disusun Oleh :
1. Nor Asiah (10060315068)
2. Sofi Aini Rahmi (10060315076)
3. Dewi Puspitawati (10060315077)
4. Desi Ratnaningsih (10060315078)
5. Sani Khairunnisa (10060315079)

Shift / Kelompok :B/6


Tanggal Praktikum : Senin, 23 Oktober 2017
Tanggal Penyerahan Laporan : Senin, 30 Oktober 2017
Nama Asisten : M. Fakhrur Rajih., S.Farm., Apt.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1439 H / 2017 M
PERCOBAAN VII
OBAT YANG MEMPENGARUHI SALURAN PENCERNAAN
(ANTIDIARE DAN ANTITUKAK)

I. TEORI DASAR

1.1 Pengertian Diare

Diare diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan feses yang
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), dengan demikian kandungan
air pada feses lebih banyak daripada biasanya (Priyanto dan Lestari, 2008 : 85).
Diare adalah keadaan buang – buang air dengan banyak cairan (mencret) dan
merupakan gejala dari penyakit - penyakit tertentu atau gangguan lain. Pada diare
terdapat gangguan resorpsi, sedangkan sekresi getah lambung usus dan motilitas
meningkat (Tjay dan Raharja, 2007 : 288)

1.2 Gejala Diare


Gejala dan tanda yang biasanya menyertai penyakit diare antara lain :
a. Buang air besar encer dan sering
b. Kram perut
c. Nyeri perut
d. Demam
e. Darah dalam tinja
f. Kembung
(Al Cidadapi, 2004 : 156)
Pada bayi, mula – mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh
biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul
diare. Tinja cair yang mungkin disertai darah. Warna tinja makin lama berubah
menjadi kehijau – hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan sekitar
daerahnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam
sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak
dapat diabsorpsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan
sesudah diare karena disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat
keseimbangan asam – basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak
cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun,
turgor kulit berkurang, mata dan ubun – ubun besar menjadi cekung, selaput
lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
Pada diare hebat, tubuh kehilangan banyak air dengan garam – garamnya,
terutama natrium dan kalium, sehingga mengakibatkan tubuh kekeringan
(dehidrasi), kekurangan kalium (hipokalemia), dan adakalanya acidosis (darah
menjadi asam) yang tidak jarang berakhir dengan shock dan kematian. Bahaya ini
sangat besar khususnya untuk bayi dan anak – anak, karena organismenya
memiliki cadangan cairan ekstraselnya lebih mudah dilepaskan dibandingkan
dengan organisme orang dewasa (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
1.3 Penyebab Diare

Pada diare terdapat gangguan dari resorpsi, sedangkan motilitas ususnya


meningkat. Menurut teori klasik diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik
usus tersebut, sehingga perlintasan chymus sangat dipercepat dan masih
mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Berdasarkan
penelitian dalam tahun – tahun terakhir menunjukkan bahwa penyebab utamanya
adalah bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya resorpsi ait atau
terjadinya hipersekresi. Pada keadaan normal proses resorpsi dan sekresi dari air
dan elektrolit – elektrolit berlangsung pada waktu yang sama di sel – sel mukosa.
Proses ini diatur oleh beberapa hormon, yaitu resorpsi oleh enkefalin (morfin
endogen, analgetika narkotika) sedangkan sekresi diatur oleh prostaglandin dan
neurohormon V.I.P (Vasoactive Intestinal Peptide). Biasanya sekresi melebihi
sekresi, tetapi karena sesuatu sebab sekresi menjadi lebih besar daripada resorpsi
dan terjadilah diare. Keadaan ini sering terjadi pada gastroenteritis (radang
lambung-usus) yang disebabkan oleh virus, kuman dan toksinnya (Tjay dan
Raharja, 2007 : 288).

1.4 Jenis – jenis penyebab diare


Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan beberapa jenis gastroenteritis
dan diare yaitu sebagai berikut :
a. Diare akibar virus, misalnya ‘influenza perut’ dan ‘travellers diarrhoe’ yang
disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel –
sel mukosa usus yang menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan
sekresi air serta elektrolit memegang peranan. Diare yang terjadi dapat
bertahan terus sampai beberapa hari sesudah virus lenyap dengan sendirinya,
biasanya dalam 3 -6 hari. Menurut taksiran 90% dari semua diare wisatawan
disebabkan oleh virus atau kuman E.coli spec (tak ganas) (Tjay dan Raharja,
2007 : 289).
b. Diare bacterial invasif (bersifat menyerbu) agak sering terjadi, tetapi mulai
berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat hygiene
masyarakat.kuman pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu
kedalam mukosa, dimana terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin.
Enterotoksin ini dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala
hebat, seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejang – kejang. Selain itu,
mukosa usus yang telah dirusak mengakibatkan mencret berdarah dan
berlendir. Penyebab terkenal dari pembentuk enterotoksin ialah bakteri E.coli
spec, Shigella, Salmonella dam Campylobacter. Diare ini bersifat “self
limiting” artinya akan sembuh dengan sendirinya dalam kurang lebih 5 hari
tanpa Pengobatan, setelah sel – sel yang rusak diganti dengan sel – sel mukosa
baru (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
c. Diare parasiter, akibat protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Giardia
lamblia, yang terutama terjadi di daerah subtropis. Dan merupakan yang
pertama dalam pembentukan enterotoksin juga. Diare akibat parasite ini
biasanya bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan lebih lama
dari satu minggu. Gejala lainnya dapat berupa perut, demam, anoreksia,
nausea, muntah – muntah dan rasa letih umum (malaise) (Tjay dan Raharja,
2007 : 289).
d. Akibat penyakit, misalnya colitis ulcerosa, p. Crohn, Irritable Bowel
Syndrome (IBS), kanker colon, dan infeksi-HIV. Juga akibat gangguan –
gangguan seperti alergi terhadap makanan / minuman, protein susu sapid an
gluten (coeliakie) serta intoleransi untuk laktosa karena defisiensi enzim
lactase (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
e. Akibat obat, yaitu digoksin, kinidin, garam-Mg dan litium, sorbitol,
candidates blockers, peintang-ACE, reserpine, sitostatika dan antibiotika
berspektrum luas (ampisilin, amoksisilin, sefalosporin, klindamisin,
tetrasiklin). Semua obat ini dapat menimbulkan diare baik tanpa kejang perut
ataupun pendarahan adakalanya juga akibat penyalahgunaan laksansia dan
penyinaran dengan sinar X (radioterapi) (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
f. Akibat keracunan makanan, misalnya pada waktu perhelatan anak – anak
sekolah atau karyawan perusahaan dan biasanya disertai pula dengan muntah –
muntah. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang bersifat
infeksi atau toksis dan diperkirakan atau disebabkan oleh mengkonsumsi
makanan atau minuman yang tercemar. Penyebab utamanya adalah tidak
memadainya kebersihan pada waktu pengolahan, penyimpanan dan distribusi
dari makanan atau minuman dengan akibat pencemaran meluas. Kuman –
kuman gram negatif yang lazim menyebabkan keracunan makanan dengan
toksinnya (Tjay dan Raharja, 2007 : 289).
1.5 Cara Pencegah Diare
Menurut (Al Cidadapi, 2004 : 157), ada beberapa cara yang dapat kita
lakukan agar anak terhidar dari penyakit diare, seperti :
a. Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar
b. Semua anggota keluarga buang air besar di jamban yang sehat.
c. Merebus peralatan makan dan minum bayi.
d. Masaklah air sampai mendidih sebelum diminum.
e. Buanglah tinja bayi dan anak di jamban.
f. Pemberian ASI pada bayi dapat mencegah diare karena ASI terjamin
kebersihannya dan cocok untuk bayi.
g. Gunakan air bersih yang cukup.
h. Siapkan dan berikan makanan pendamping ASI yang baik dan benar.
i. Berikan imunisasi campak.
1.6 Pengobatan Diare
Terapi diare harus disesuaikan dengan penyebabnya. Penanganan
terapeutik yang terpenting adalah penggantian cairan dan elektrolit secukupnya
(Mutschler, 1991).
WHO menganjurkan ORS (Oral Rehydration Solution). ORS adalah suatu
larutan dari campuran NaCL 3,5 g, KCL 1,5 g, Natrisitrat dan glucosa 20 g dalam
1 liter air matang (Oralit). Dasar ilmiah dari penggunaan ORS ini adalah
penemuan K.I 25 tahun lalu bahwa glukosa menstimulasi secara aktif transport Na
dan dan air melalui dinding usus. Dengan demikian resorpsi air dalam usus halus
meningkat dengan 25 kali (sladen dan dawson). Begitu pula bahan gizi lainnya
(asam amino, peptida) memperlancar penyerapan air (Tjay dan Raharja, 2007 :
291).
Pada anak-anak, larutan ORS sebaiknya diberikan sendok demi sendok
teh sepanjang hari guna mencegah mual dan muntah. Air susu ibu biasanya tidak
memperburuk diare dan dapat diberikan bersamaan dengan ORS. Pasien dengan
dehidrasi berat perlu diberikan larutan elektrolit secara intravena seperti larutan
Ringer (Tjay dan Raharja, 2007 : 292).
Menurut (Tjay dan Raharja, 2007 : 292 - 295), kelompok obat yang sering
digunakan pada diare, yaitu :
a. Kemoterapeutika untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri penyebab
diare, yaitu antibiotika seperti: cotrimoxasol, amoksillin.
b. Zat-zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk
resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus: candu dan alkaloidanya, derivate
petidin (difenoksilat dan loperamida), dan antikolinergika (atropine dan ekstrak
beladona)
c. Adstringensia, yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam lemak
(tannin) dan tannalbumin, garam-garam bismut dan aluminium.
d. Adsorbensia, misalnya karbo adsorben yang dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat
beracun yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal dari
makanan (udang, ikan). Termasuk disini adalah juga mucilagines, yaitu zat-zat
lendir yang menutupi selaput lendir usus dan luka-lukanya dengan suatu
lapisan pelindung, seperti kaolin, pectin dan garam-garam bismuth serta
aluminium.
e. Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang
sering kali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin.
(Tjay dan Rahardja, 2007)
1.7 Mekanisme Obat - obat Diare
1. Amoksillin
Obat ini diketahui memiliki spektrum antibiotik yang luas terhadap
bakteri gram positif dan gram negatif pada manusia maupun hewan (Kaur et
al, 2011). Obat golongan penisilin, menghambat pertumbuhan bakteri dengan
mengganggu reaksi transpeptidasi sintesis dinding sel bakteri. Dinding sel
adalah lapisan luar yang rigid yang unik pada setiap spesies bakteri. Dengan
terhambatnya reaksi ini makan akan menghentikan sintesis peptidoglikan dan
mematikan bakteri (Katzung, 2007).
Secara spesifik, amoksisilin memiliki efek antimikroba yang baik
terhadap mikroorganisme seperti Haemophilus influenzae, Eschericia coli, dan
Proteus mirabilis. Biasanya obat ini diberikan bersamaan dengan senyawa
inhibitor beta-laktamase seperti klavulanat atau salbaktam untuk mencegah
hidrolisis oleh beta-laktamase spektrum luas yang ditemukan pada bakteri
gram negatif (Brunton et al, 2006). Amoksisilin memiliki sifat farmakokinetik
dan farmakodinamik yang mirip dengan ampisilin (Grayson, 2010).
Amoksisilin diserap dengan baik dari traktus gastrointestinal, dengan
atau tanpa adanya makanan, berbeda dengan obat golongan penisilin lainnya
yang lebih baik diberikan setidaknya 1-2 jam sebelum atau sesudah makan
(Katzung, 2007). Obat ini banyak digunakan karena memiliki spektrum
antibakteri yang luas dan memiliki bioavailabilitas oral yang tinggi, dengan
puncak konsentrasi plasma dalam waktu 1-2 jam (Kaur et al, 2011).
2. Loperamid
Loperamid adalah opioid yang paling tepat untuk efek lokal pada usus
karena tidak mudah menembus ke dalam otak. Oleh karena itu, Loperamid
hanya mempunyai sedikit efek sentral dan tidak mungkin menyebabkan
ketergantungan (Neal, 2005 : 46).
Loperamid (imodium) memiliki kesamaan mengenai rumus kimianya
dengan opiat petidin dan berkhasiat obstipasi kuat dengan mengurangi peristaltik.
Berbeda dengan petidin, loperamid tidak bekerja sebagai SSP (sistem saraf pusat),
sehingga tidak mengakibatkan ketergantungan. Zat ini mampu memulihkan sel –
sel yang berada dalam keadaan resorpsi normal kembali (Tjay dan Rahardja,
2007).
Seperti difenoksilat, mekanisme kerja loperamid adalah dengan
menghambat motilitas saluran pencernaan dan mempengaruhi otot sirkular dan
longitudinal usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek
konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Obat
ini sama efektifnya dengan difenoksilat untuk pengobatan diare kronik (Tjay dan
Rahardja, 2007).
3. Tannin
Tanin Bersifat mengendapkan zat putih telur dan berkhasiat sebagai
adstringen, karena merangsang lambung (muntah, mual) maka hanya
digunakan senyawanya yang tidak melarut yakni tannalbumin. Tannalbumin
Adalah persenyawaan sukar larut antara tanin dan albumin yang secara
berangsur-angsur melepaskan tanin ke dalam usus. Senyawa ini sering kali
diberikan pada anak-anak sebagai tambahan dalam pengobatan infeksi usus
(Tjay dan Rahardja, 2007).
4. Kaolin
Kaolin sejenis tanah lempung yang mengandung alumunium salisilat.
Kaolin tidak larut dalam air dan dalam usus berdaya mengikat (adsorpsi) zat-
zat beracun, serta memperbesar volume isi usus, sehingga dapat dipakai untuk
meredakan mencret, aman pada wanita hamil dan menyusui (Tjay dan
Rahardja, 2007).
5. Karbon Aktif
Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk
yang berasal dari material yang mengandung karbon, misalnya batubara, kulit
kelapa, dan sebagainya. Karbon aktif mempunyai bentuk sangat halus, tidak
berbau, tidak berasa, dan berupa serbuk hitam. Karbon aktif digunakan sebagai
adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan
kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika arang tersebut diaktifasi dengan
bahan – bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. arang
akan mengalami perubahan sifat – sifat fisika dan kimia dan arang yang demikian
disebut sebagai arang aktif (Tjay dan Rahardja, 2007).

II. TUJUAN PERCOBAAN

1. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antidiare.


2. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antitukak.

III. ALAT, BAHAN DAN HEWAN PERCOBAAN

Alat – Alat Bahan - Bahan Hewan Percobaan


1. Alat bedah 1. CMC Na 1. Mencit Putih
2. Sonde oral mencit 2. Ekstrak daun jambu 2. Tikus Putih
3. Timbangan mencit biji
4. Jarum dan alat suntik 3. Etanol
5. Penggaris 4. Koalin pectin
5. Loperamid
6. Norit
7. Sukralfat
8. Aquadest

IV. PROSEDUR PEMBUATAN


V. DATA PENGAMATAN
5.1 Antidiare
a. Tabel Pengamatan

Sediaan Panjang (cm) Ratio


Marker Norit (a) Usus (b)
CMC Na (Kontrol) 16,5 68,7 0,24
Ekstrak Daun Jambu 27 75,5 0,357
Biji (Uji)
Koalin Pektin (Uji) 24 65 0,37
Loperamin 14,5 65,5 0,224
(Pembanding)

b. Perhitungan

1. Mencit kontrol
a. Larutan Kontrol (CMC Na)

Diketahui : Berat mencit = 45 gram


Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit
Ditanyakan : Volume Pemberian = ?
Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
45 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume yang diberikan = × 1 mL = 2,2 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Marker Norit
Diketahui : Berat mencit = 45 gram

Volume sediaan = 0,1 mL/10 gram BB Mencit


Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
45 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,1 mL = 0,45 mL
10 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Perhitungan Ratio
Diketahui : a = 16,5 cm
b = 68,7 cm
Ditanyakan : Ratio atau Perbandingan = ?

Rumus :
Panjang usus yang dilalui norit
Ratio =
Panjang usus mencit

Jawab :
16,5 𝑐𝑚
Ratio = = 0,24
68,7 𝑐𝑚

2. Mencit Uji
a. Larutan Uji (Ekstrak Daun Jambu Biji)
Diketahui : Berat mencit = 40 gram
Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit
Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
40 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 2 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Marker Norit

Diketahui : Berat mencit = 40 gram

Volume sediaan = 0,1 mL/10 gram BB Mencit


Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan= X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
40 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,1 mL = 0,4 mL
10 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Perhitungan Ratio
Diketahui : a = 27 cm
b = 75,5 cm
Ditanyakan : Ratio atau Perbandingan = ?

Rumus :
Panjang usus yang dilalui norit
Ratio =
Panjang usus mencit

Jawab :
27 𝑐𝑚
Ratio = = 0,357
75,5 𝑐𝑚

3. Mencit Uji
a. Larutan Koalin Pektin

Diketahui : Berat mencit = 36 gram

Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit

Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

36 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 1,8 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Marker Norit

Diketahui : Berat mencit = 36 gram

Volume sediaan = 0,1 mL/10 gram BB Mencit


Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
36 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,1 mL = 0,36 mL
10 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Perhitungan Ratio
Diketahui : a = 24 cm
b = 65 cm
Ditanya : Ratio atau Perbandingan = ?

Rumus :
Panjang usus yang dilalui norit
Ratio =
Panjang usus mencit

Jawab :
24 𝑐𝑚
Ratio = = 0,37
65 𝑐𝑚
4. Mencit Pembanding
a. Larutan Pembanding Loperamid

Diketahui : Berat mencit = 36 gram

Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit

Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

36 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 1,8 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Market Norit
Diketahui : Berat mencit = 36 gram

Volume sediaan = 0,1 mL/10 gram BB Mencit


Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
36 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,1 mL = 0,36 mL
10 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Perhitungan Ratio
Diketahui : a = 14,5 cm
b = 65,5 cm
Ditanyakan : Ratio atau Perbandingan = ?

Rumus :
Panjang usus yang dilalui norit
Ratio =
Panjang usus mencit

Jawab :
14,4 𝑐𝑚
Ratio = = 0,224
65,5 𝑐𝑚

c. Grafik Hasil Pengamatan

Ratio Usus Mencit


0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
CMC Na Ekstrak Daun Jambu Loperamin Kaolin Pektin
Biji
5.2 Antitukak
a. Gambar Tukak pada Pengamatan

No Keterangan Gambar Hasil Pengamatan


1. Kontrol Negatif
(Tidak Terdapat tukak)

2. Kontrol Positif
(Terdapat tukak)

3. Pembanding (Sukralfat)
(Terdapat tukak)
b. Tabel Pengamatan

Keterangan J L IT %I
(Jumlah (Keparahan (Indeks (Persen
Tukak) Tukak) Tukak) Hewan)
Kontrol Negatif 1 1 2,1% 0%
(aquadest)
Kontrol Positif 5 5 20% 100%
(aquadest + CMC)
Pembanding 2 2 4,1% 100%
(Sukralfat)

c. Perhitungan
1. Mencit Kontrol Negatif
a. Larutan Kontrol (CMC Na)

Diketahui : Berat mencit = 47 gram

Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit

Ditanyakan :Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

47 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 2,35 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Indeks Tukak
Diketahui : J (Rataan skor jumlah tukak) =1
L (Rataan skor keparahan tukak) =1
%I (persen hewan mengalami tukak) = 0%
Ditanyakan : IT ?
Rumus :
IT = J + L + 0,1 (%I)
Jawab :

IT = J + L + 0,1 (%I)
= 1 + 1 + 0,1 (0%)
= 2,1%

2. Mencit Kontrol Positif


a. Larutan Kontrol (CMC Na)

Diketahui : Berat mencit = 40 gram

Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit

Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

40 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 2 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Larutan Etanol

Diketahui : Berat mencit = 40 gram

Konversi dosis tikus ke mencit = 1 mL x 0,14 = 0,14 mL

Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :
40 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,14 mL = 0,28 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Indeks Tukak
Diketahui :J =5
L =5
%I = 100%
Ditanyakan : IT?
Rumus :
IT = J + L + 0,1 (%I)
Jawab :

IT = J + L + 0,1 (100%)
= 5 + 5 + 0,1 (100%)
= 20%

3. Mencit Pembanding
a. Larutan Sukralfat

Diketahui : Berat mencit = 37 gram

Volume sediaan = 1 mL/20 gram BB Mencit

Ditanyakan :Volume Pemberian = ?

Rumus :

BB mencit yang digunakan


Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

37 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 1 mL = 1,85 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Larutan Etanol

Diketahui : Berat mencit = 37 gram


Konversi dosis tikus ke mencit = 1 mL x 0,14 = 0,14 mL

Ditanyakan : Volume Pemberian = ?

Rumus :
BB mencit yang digunakan
Volume yang diberikan = X volume
BB mencit pada biasanya

Jawab :

37 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume Pemberian = × 0,14 mL = 0,25 mL
20 𝑔𝑟𝑎𝑚

c. Indeks Tukak
Diketahui :J =2
L =2
%I = 100%
Ditanyakan : IT?
Rumus :
IT = J + L + 0,1 (%I)
Jawab :

IT = J + L + 0,1 (100%)
= 2 + 2 + 0,1 (100%)
= 4,1%

4. Daya Pencegahan
Diketahuai : IT Kontrol Positif = 20
IT Uji = 4,1
Ditanya : Daya Pencegahan =?
𝐼𝑇 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑃𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖−𝐼𝑇 𝑈𝑗𝑖
Daya Pencegahan = x 100%
𝐼𝑇 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑃𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓
20−4,1
= x 100%
20
= 79,5%
VI. PEMBAHASAN
VII.KESIMPULAN

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Al cidadapi. 2004. Ramuan Herbal Ala Thibun Nabawi : Mengupas Pengobatan


Herbal di Dalam Thibun Nabawi. Jakarta : Purta Danayu Publisher.
Brunton et al, Lazo JS dan Parker KL. 2006. Goodman and Gilman’s The
Pharmacological Basis of Therapeutics 11th ed. California : McGram-
Hill.
Grayson ML. 2010. Kucers ‘ The Use of Antibiotics 6thed. London : Edward
Arnold Ltd.
Katzung, B. G. 2007. Basic & Clinical Pharmacology, Tenth Edition. United
States : Lange Medical Publications.
Kaur et al., Rao, R dan Nanda, S,. 2011. Amoxicillin : A Broad Spectrum
Antibiotic. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences.
Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bandung : ITB.
Neal, M, J. 2005. Medical Pharmacology at a Glance, Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga.
Priyanto, Agus dan Lestari Sri. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta :
Salemba Medika.
Tjay, Tan Hoan dan Raharja Kirana. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta : Elex
Media Komputindo.
WHO, 2001. WHO Model Prescribing Information Drugs Use In Bacterial
Infection. Geneva : Health Organization.