Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH BAHASA INDONESIA EJAAN YANG

DISEMPURNAKAN

Disusun oleh :
Ade Raman Santosa
1504103010007

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2018

1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah memberikan kita bahasa
Indonesia,karena dengan adanya bahasa Indonesia kita mampu menyatukan bangsa Indonesia dari
berbagai suku untuk menjadi rakyat yang madani.
Shalawat salam kita hadiahkan kepada nabi Muhammad saw, keluaga, dan para sahabatnya
dan semoga kita mendapat syafa’at besok di hari kiamat.
Alhamdulillah makalah ini bisa di selesaikan yang insha Allah sesuai dengan yang di
harapkan. Kami mengharap kritik dan saran agar kami dapat memperbaiki kekurangan, dan
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

2
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belakangan ini banyak orang Indonesia yang kurang mengetahui bahasanya sendiri, serta
pengetahuan tentang tanda baca. Bukan berarti tidak tahu melainkan kurang sesuai dengan kaidah-
kaidah yang ada di dalam bahasa Indonesia.Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap
unsur pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing, seperti Sanskerta,
inggris, arab, dan lain-lain. Berdasarkan taraf integrasinyaunsur serapan dalam bahasa Indonesia
dapat di bagi atas tiga golongan.
Pertama, unsur-unsur yang sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu
lagi di ubah ejaannya. Misalnya sirsa, iklan, otonomi, dongkrak, pikir, aki, dan lain-lain. Kedua,
unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, real
estate. Unsur-unsur ini di pakai di dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih
mengikuti cara asing. Ketiga, unsur yang pengucapannya dan penulisannya di sesuaikan dengan
kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini di usahakan agar ejaan bahasa asing hanya di ubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat di bandingkan dengan bentuk aslinya.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami merumuskan beberapa masalah, yaitu :
A. Ejaan
1. Pengertian Ejaan
2. Fungsi Ejaan
3. Perkembangan Ejaan
4. Ejaan Dalam Peristilahan
B. Tanda Baca
1. Tanda Baca
2. Fungsi Tanda Baca
C. Tujuan Pembahasan
Mengetahui dan memahami ejaan dan tanda baca serta fungsi-fungsi dari ejaan dan tanda
baca yang ada di dalam bahasa Indonesia, dan cara penggunaanya dengan baik dan sesuai dengan
kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

3
PEMBAHASAN
A.Ejaan
1. Pengertian Ejaan
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan
bagaimana antarhubungan antara lambang-lamabang itu (pemisahan dan penggambungan dalam
suatu bahasa), secara teknis yakni dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata
dan pemakaian tanda baca.1[1]
Adanya hal-hal tersebut yang ada dalam bahasa Indonesia, maka kita selalu berusaha untuk
menyempurnakan ejaan-ejaan yang kita pakai. Ini tampak jelas dari perkembangan ejaan bahasa
Indonesia yang pernah kita pakai,yaitu dari sebelum tahun 1947 maupun sesudah tahun 1972.
2. Fungsi Ejaan
Dalam rangka menunjang pembakuan bahasa, baik yang menyangkut pembakuan tata
bahasa maupun kosa kata dan peristilahan, ejaan memiliki fungsi yang cukup penting. Oleh karena
itu pembakuan ejaan perlu di beri prioritas terlebih dahulu. Dalam hubungan itu, ejaan antara lain
berfungsi sebagai :
1. Landasan pembakuan tata bahasa
2. Landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan
3. Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia
Apabila pembakuan ejaan telah di laksanakan, maka pembakuan aspek kebahasaan yang
lain pun dapat di tunjang dengan keberhasilan itu, terutama jika segenap pemakai bahasa yang
bersangkutan telah menaati segala ketentuan yanag terdapat di dalam buku pedoman.
Secara praktis ejaan memiliki fungsi untuk membantu pemahaman pembaca di dalam
mencerna informasi yang di sampaikan secara tertulis. Dalam hal ini fungsi praktis itu dapat di
pahami jika segala ketentuan yang terdapat di dalam kaidah telah di terapkan dengan baik.2[2]

4
3.Perkembangan Ejaan
Perkembangan ejaan meliputi :
a. Ejaan Van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ditetapkan ejaan bahasa melayu dengan huruf latin,yang disebut ejaan Van
ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan
Moehammad Taibsoetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan Van Ophuijsen yaitu:
1. Huruf ‘’j’’ untuk menuliskan kata-kata ‘’jang, pajang, sajang’’
2. Huruf ‘’oe’’ untuk menuliskan kata-kata ‘’goeroe, Itoe, Oemoer’’
3. Tanda diakritik seperti koma ain dan trerna, untuk menuliskan kata-kata ma’moer,’akal,ta’,pa’,dan
dinamai’.
b. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 Ejaan Soewandi diresmikan untuk menggantikan ejaan Van
Ophuijsen, ejaan ini dikena oleh masyarakat dengan julukan ejaan republik. Hal-hal yang perlu
diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu, yaitu:
1. Huruf oe diganti dengan u seperti pada guru, itu, umur
2. Bunyi hamzah dengan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti kepada kata-kata tak, pak, maklum
dan rakjat.
3. Kata ulang bisa ditulis dengan angka-2, seperti anak2, ber-jalan2 dan ke-barat2-an
4. Awalan di dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutnya,
seperti kata depan di, pada, dirumah, dikebun, disamakan, dengan imbuhan di-pada ditulis dan di
karang.

c. Ejaan Melindo
Kongres bahasa Indonesia II Medan (1959) sidang perutusan Indonesia dan melayu (Slamet
mulyana-syeh Nasir bin Ismail, ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian
dikenal dengan ejaan Melindo (melayu –indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun
berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

d. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan


Pada tanggal 16 Agustus 1972 melalui pidato Kenegaraannya Presiden Republik Indonesia
Meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Peresmian ejaan baru itu

5
berdasarkan keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan,
sebagai patokan pemakaian ejaan itu. Selain itu, juga direalisasikan Pedoman Umum Pembentukan
Istilah-istilah. Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia pengembangan Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusanya tanggal 12 Oktober 1972,No.
156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia
Yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. setelah itu, Meneri
pendidikan dan kebudayaan dengan surat keputusannya No. 0196/1975 memberlakukan pedoman
umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan pedoman umum pembentukan istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman terseut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat putusan
menteri pendidikan kebudayaan No. 0543a/1987, tanggal 9 September1987.
Penelusari di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yakni di-atau
ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
4. Ejaan Dalam Peristilahan
a. Ejaan Fonemik
Penulisan istilah pada umumnya berdasarkan ejaan fonemik; artinya hanya satuan
bunyi yang berfungsi dalam bahasa Indonesia yang di lambangkan dengan huruf.
Misalnya :
Presiden bukan President
Teks bukan Text
Standar bukan Standard
b. Ejaan Etimologi
Untuk menegaskan makna yang berbeda, istilah yang homonim dengan kata lain dapat di
tulis dengan mempertimbangkan etimologinya, yakni sejarahnya, sehingga bentuknya berlainan
walaupun lafalnya mungkin sama.
Misalnya :
Bank dengan bang
Sanksi dengan sangsi
c. Transliterasi

6
Pengejaan istilah dapat juga di lakukan menurut aturan transliterasi, yakni penggantian
huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, lepas dari bunyi lafal yang sebenarnya.
Hal itu, misalnya, di terapkan menurut aturan International Organization for Standardization
(ISO) pada huruf Arab (rekomendasi ISO-R 233), Yunani (rekomendasi ISO-R 315), Kiril
(Rusia)(rekomendasi ISO-R 9) yang di alihkan ke huruf latin.
Misalnya :
Yaum ul-adha (hari kurban)
Suksma (sukma)
Psyche (jiwa,batin)
Moskva (Moskwa,Moskou)
d. Ejaan Nama Diri
Ejaan nama diri, termasuk merek dagang, yang di dalam bahasa aslinya di tulis dengan
huruf Latin tidak di ubah.
Misalnya :
Baekelund Cannizaro
Aquadag Daeron
e. Penyesuaian Ejaan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur pelbagai bahasa lain, baik
dari bahasa daerah maupun bahasa asing, seperti Sanskerta, inggris, arab, dan lain-lain.
Berdasarkan taraf integrasinyaunsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat di bagi atas tiga
golongan.
Pertama, unsur-unsur yang sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu
lagi di ubah ejaannya. Misalnya sirsa, iklan, otonomi, dongkrak, pikir, aki, dan lain-lain.
Kedua, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti
shuttle cock, real estate. Unsur-unsur ini di pakai di dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Ketiga, unsur yang pengucapannya dan penulisannya di sesuaikan dengan kaidah bahasa
Indonesia. Dalam hal ini di usahakan agar ejaan bahasa asing hanya di ubah seperlunya sehingga
bentuk Indonesianya masih dapat di bandingkan dengan bentuk aslinya.

7
f. Penyesuaian Imbuhan Asing

1) Penyesuaian Awalan
Awalan asing yang bersumber dari bahasa Indo-Eropa dapat di pertimbangkan pemakaiannya di
dalam peristilahan Indonesia setelah di sesuaikan ejaannya.
2) Penyesuaian Akhiran
Di samping pegangan untuk penyesuaian huruf istilah asing tersebut di atas, berikut ini di daftarkan
juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu di serap
sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisasi, implementasi, dan objektif di serap
secara utuh di samping kata standar, implemen, dan objek.

B. Tanda Baca
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam bahasa tulis agar kalimat-kalimat
yang kita tulis dapat di pahami orang persis seperti yang kita maksudkan.3[4]

1. Jenis Tanda Baca


Jenis tanda baca dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Tanda baca titik (.)
b. Tanda baca koma (,)
c. Tanda baca titik koma (;)
d. Tanda baca titik dua (:)
e. Tanda hubung (-)
f. Tanda pisah (–)
g. Tanda elipsis (…)
h. Tanda kurung ((…))
i. Tanda tanya (?)
j. Tanda seru (!)

8
k. Tanda kurung siku ( [] )
l. Tanda petik (“…..”)
m. Tanda petik tunggal (‘…’)
n. Tanda garis miring (/)
o. Tanda apostrof (‘)
2. Fungsi Tanda Baca
Secara umum tanda baca berfungsi sebagai untuk menjaga keefektifan komunikasi. Untuk
memahami sebuah kalimat dengan sempurna kita perlu memperhatikan tanda baca yang digunakan
di dalamnya. Fungsi-fungsi dari masing-masing tanda baca yang dipakai dalam Bahasa Indonesia
yaitu:

a. Tanda Baca Titik (.)

Ada beberapa kaidah dalam penggunaan tanda baca titik (.) yaitu :

1. Tanda baca titik (.) digunakan untuk mengakhiri kalimat yang bukan yang bukan berupa kalimat
tanya atau kalimat seruan. 4[6]

2. Tanda baca titik (.) digunakan dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau
daftar. 5[7]

3. Tanda baca titik (.) digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan
jangka waktu. 6[8]

4. Tanda baca titik (.) digunakan diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan
tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.7[9]

9
5. Tanda titik di pakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

6. Tanda titik tidak di pakai di pakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
tidak menunjukkan jumlah.8[10]

8. Tanda titik tidak di pakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi,
tabel, dan sebagainya. 9[11]

b. Tanda Baca Koma (,)10[12]

Kaidah-kaidah penggunaan tanda baca koma (,) adalah sebagai berikut:

1. Tanda baca koma (,) digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

2. Tanda baca koma (,) digunakan untuk memisahkan kalimat setara, apabila kalimat setara
berikutnya diawali kata tetapi atau melainkan.

3. Tanda baca koma (,) digunakan apabila anak kalimat mendahului induk kalimat.

4. Tanda baca koma (,) digunakan untuk memisahkan anak kalimat jika anak kalimatnya itu
mendahului induk kalimatnya.

5. Tanda baca koma (,) digunakan di belakang ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat
pada awal kalimat.

6. Tanda baca koma (,) di pakai untuk memsahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata
yang lain yang terdapat di dalam kalimat.

7. Tanda baca koma (,) di pakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.

10
8. Tanda baca koma (,) di pakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan
tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang di tulis berurutan.

9. Tanda baca koma (,) di pakai untuk menceraikan bagian nama yang di balik susunannya dalam
daftar pustaka.

10. Tanda baca koma (,) di pakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

c. Tanda Baca Titik Koma (;)

Kaidah penggunaannya sebagai berikut :

1. Digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau setara.

2. Digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai
pengganti kata penghubung.

d. Tanda Baca Titik Dua (:)

Kaidah penggunaannya sebagai berikut:

1. Digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan perincian.

2. Digunakan di anatara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat di dalam kitab suci,
di antara judul dan sub judul, serta nama kata dan penerbit buku acuan.

3. Dapat di gunakan dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

4. Di gunakan di antara jilid nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara
judul dan anak judul suatu karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

e. Tanda Hubung (-)

Kaidah penggunaannya sebagai berikut :

1. Digunakan untuk merangkaikan se-dengan kata berikutnya yang di dimulai dengan huruf
capital, ke- dengan angka, angka dengan- an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata,
dan nama jabatan rangkap.

2. Digunakan untuk merangkai bahasa Indonesia dengan bahasa asing.

3. Mengandung unsur-unsur kata ulang.

4. Di gunakan untuk menyambung huruf kata yang di eja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

11
f. Tanda Pisah (–)11[13]

1. Tanda pisah (–) digunakan di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti “sampai ke“ atau
“sampai dengan”.12[14]

2. Tanda pisah (–) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar
bangun kalimat. 13[15]

3. Tanda pisah (–) digunakan untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang
lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. 14[16]

g. Tanda Elipsis (…)15[17]

1. Tanda ini digunakan untuk menunjukan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian
yang hilang.

2. Di gunakan dalam kalimatyang terputus-putus.

h. Tanda Kurung ((…))

Tanda ini digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:

1. Digunakan untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

2. Digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan.

12
3. Digunakan mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat di hilngkan.

4. Di gunakan mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

i. Tanda Tanya (?)

1.Tanda tanya (?) digunakan pada akhir kalimat tanya, yakni kalimat yang membutuhkan jawaban.

2.Tanda tanya (?) di gunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang di
sangsikan atau yang kurang yang kurang dapat di buktikan kebenarannya.

j. Tanda Seru (!)

Tanda ini digunakan sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang
menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

k. Tanda Kurung Siku ( [] )

Tanda ini digunakan untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.

l. Tanda Petik (“…..”)

1.Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

2.Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan
tertulis lain.

3.Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang di pakai dalam kalimat.

4.Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang di kenal atau mempunyai arti khusus.

5.Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat di tempatkan di belakang tanda petik yang
mengapit kata atau ungkapan yang di pakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian
kalimat.

m. Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1.Tanda ini digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, dan penjelasan kata atau ungkapan
asing.

2.Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lainnya.

n. Tanda Garis Miring (/)


13
1.Tanda garis miring digunakan dalam menulis nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan
masa satu tahun yang tebagi dalam dua tahun takwim.

2.Tanda garis miring di pakai sebagai pengganti kata dan,atau, atau tiap.

o. Tanda Apostrof (‘)

Tanda ini berfunsi untuk penyingkat suatu kata yang digunakan untuk menunjukan penghilangan
bagian suatu kata atau bagian angka tahun.

Berdasarkan uraian di atas tentang penggunaan tanda baca yang berlaku di dalam EYD
dalam Bahasa Indonesia secara garis besar prinsip-prinsip umum pemakain tanda baca dapat
diuraikan sebagai berikut.

1. Tanda tanya (?), tanda titik (.), tanda titk koma (;), tanda titik dua (:), dan tanda seru (!),
ditulis rapat (tanpa spasi) dengan huruf akhir dengan kata yang mendahuluinya dan diberi
spasi dengan kata yang sesudahnya.
2. Tanda petik ganda (“), tanda petik tunggal (‘), dan tanda kurung (()) masing-masing diketik
rapat dengan kata, frase, atau kalimat yand diapit.
3. Tanda hubung (-), tanda pisah (–), dan garis miring (/) masing-masing diketik rapat dengan
huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.
4. Tanda hitungan, seperti: sama dengan (=), tambah (+), kurang (-), kali (x), bagi (:), lebih
kecil (<), lebih besar (>) ditulis dengan jarak satu spasi dengan huruf yang mendahului dan
mengikutinya.

14