Anda di halaman 1dari 19

KONSEP

I. GAMBAR KOTA MAKASSAR,KECAMATAN DAN KELURAHAN

A. KOTA MAKASSAR

Kota Makassar mempunyai posisi strategis karena berada di persimpangan jalur lalu lintas dari arah selatan dan utara dalam
propinsi di Sulawesi, dari wilayah kawasan
Barat ke wilayah kawasan Timur Indonesia
dan dari wilayah utara ke wilayah selatan
Indonesia. Dengan kata lain, wilayah kota
Makassar berada koordinat 119 derajat bujur
timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan
ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter
dari permukaan laut. Kota Makassar
merupakan daerah pantai yang datar dengan
kemiringan 0 - 5 derajat ke arah barat, diapit
dua muara sungai yakni sungai.Tallo yang
bermuara di bagian utara kota dan sungai
Jeneberang yang bermuara di selatan kota.
Luas wilayah kota Makassar seluruhnya
berjumlah kurang lebih 175,77 Km2 daratan
dan termasuk 11 pulau di selat Makassar
ditambah luas wilayah perairan kurang lebih
100 Km².
Jumlah kecamatan di kota Makassar sebanyak 14 kecamatan dan memiliki 143 kelurahan. Diantara kecamat-an tersebut, ada tujuh
kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu kecamatan Tamalate, Mariso, Wajo, Ujung Tanah, Tallo, Tamalanrea dan Biringkanaya.

Secara geografis, Kota Makassar terletak di pesisisr pantai barat bagian selatan sulawesi selatan, pada koordinat antara 119° 18’ 27,97”
sampai 119° 32´31,03” bujur timur dan 5° 30´18” - 5° 14’ 49” lintang selatan. Ketinggian kota ini bervariasi antara 0-25 meter dari
permukaan laut, suhu udara antara 20°c - 32°c, memiliki garis pantai sepanjang 32 km dan areal seluas 175,77 kilometer persegi, serta terdiri
dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan.

Dua sungai besar mengapit kota ini, yaitu : sungai tallo yang bermuara di sebelah utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada
bagian selatan kota. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros di sebelah utara dan timur, berbatasan dengan Kabupaten Gowa
disebelah selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan di bagian barat dan utara, pada perairan Selat Makassar.

Topografi wilayah pada umumnya berupa dataran rendah dan daerah pantai. Dataran rendah merupakan wilayah yang paling dominan di
daerah ini, sehingga pada musim penghujan.

Selain memiliki wilayah daratan, Kota Makassar juga memiliki wilayah kepulauan yang dapat dilihat sepanjang garis pantai Kota
Makassar. Pulau ini merupakan gugusan pulau-pulau karang sebanyak 12 pulau, bagian dari gugusan pulau-pulau sangkarang, atau disebut
juga pulau-pulau pabbiring, atau lebih dikenal dengan nama Kepulauan Spermonde. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Lanjukang (terjauh),
Pulau Langkai, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Bonetambung, Pulau Kodingareng Lompo, Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau
Kodingareng Keke, Pulau Samalona, Pulau Lae-Lae, Pulau Lae-Lae Kecil (gusung) dan Pulau Kayangan (terdekat).

Pola iklim di Kota Makassar dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari bulan
Nopember – April, sedangkan musim kemarau, dimulai bulai Mei – Oktober, temperatur udara rata-rata periode 1996 – 2000 adalah 26,50°c,
kelembapan udara 89,20% dengan persentase penyinaran matahari maksimum sebesar 89,0% terjadi pada bulan Agustus, minimum sebasar
15% yang terjadi pada bulan Desember. Berdasarkan pencacatan stasiun meteorologi maritim Paotere, secara rata-rata kelembapan udara
sekitar 77,90%, curah hujan 2729 mm, hari hujan 144 hari, temperatur udara sekitar 26,5° - 29,8°c, dan rata-rata kecepatan angin 4 knot.
B. KECAMATAN MAKASSAR

LINGKUP PERANCANGAN
KECAMATAN MARISO KOTA MAKASSAR
Kecamatan Mariso merupakan salah satu dari14 Kecamatan di Kota Makassar. Kecamatan
Mariso merupakan daerah bukan pantai dengan topografi ketinggian wilayah kurang dari 500
meter dari permukaan laut. Menurut jaraknya, letak masing-masing kelurahan ke
IbukotaKecamatan berkisar 1-2 km. Batas-batas Kecamatan Mariso adalah sebagai berikut :

Sebelah utara: Kec.Ujung Pandang

Sebelah timur:Kec.Mamajang

Sebelah selatan : Kec.Tamalate

Sebelah barat : Selat Makassar

Kecamatan Mariso memiliki 9 kelurahan dengan luas area kurang lebih 1,82 km 2 atau 1,04% dari
luas Kota Makassar. Kelurahan yang paling luas adalah Kelurahan Panambungan yaitu 0,31km 2,
sedangkan kelurahan yang memiliki luas terkecil di Kecamatan Marisoadalah Kelurahan
Tamarunang dengan luas 0,12 km2

1. Penduduk

Manusia atau penduduk merupakansubyek


dan obyek dari pembangunan.terkait dengan
hal tersebut, perubahan komponen
kependudukan akan mempengaruhi berbagai
kebijakanpembangunan. Perubahan
komponen kependudukan dapat
menggambarkan berbagai dinamika sosial
yang terjadi dimasyarakat. Penduduk yang
berpotensi sebagai modal dalam
pembangunan.Pada tahun 2015 Kec. Mariso dari hasil Proyeksi Penduduk terlihat penduduk
usia produktif atau kelompok usia (15 -64) tahun mencapai 73,56persen, kelompok usia
dibawah 15 tahun 22,11persendan pada kelompok lansia atau 65 tahun keatas hanya
4,32persen. Sehingga Angka Ketergantungan Penduduk (Dependency Ratio) mencapai 35,94persen. Yang artinya untuk setiap 100 jiwa usia
produktif (15-64Tahun) menanggung sebanyak 36 jiwa usia tidak produktif (usia dibawah 15 tahun dan usia diatas 65 tahun). Berdasarkan hasil
proyeksi penduduk tahun 2015, jumlah penduduk Kecamatan Mariso adalah sebesar 58.815 jiwa.Adapun kepadatan penduduk di kecamatan ini
sebesar 13.510jiwa per 1 km2.

Jika dilihat grafik disamping, hanya ada 4


kelurahan yang memiliki jumlah perempuan lebih
tinggi dari pada jumlah laki-laki yaitu di
kelurahan Tamarunang, Mattoanging, Kampung
Buyang dan Kunjung Mae karena sex ratio di 4
kelurahan itu dibawah 100%. Jumlah penduduk
paling sedikit berada padaKelurahanKampung
Buyang. Hal itu disebabkan karena di Kelurahan
kampong buyang banyak terdapat kelompok
pertokoan dan kawasan perdagangan. Sedangkan
di Kelurahan Panambungan memiliki jumlah penduduk terbanyak karena disana terdapat rumah susun dan kompleks perumahan dan juga dari
segi luas wilayah Kelurahan Panambungan adalah kelurahan di Kecamatan Mariso.Jika dilihat dari laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan
Mariso menurut hasil proyeksi penduduk pada tahun 2015 sebesar 4,27persen. Untuk ditingkat kelurahan laju pertumbuhan penduduk bisa
dilihat pada grafik disamping.

2. Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu cara untuk


meningkatkan kesejahteraan rakyat dan
penanggulangan kemiskinan. Pentingnya
pendidikan tercermin dalam UUD 45 dan
RPJM, dimana dinyatakan bahwa pendidikan
merupakan hak setiap warga negara, yang
bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Indikator yang menggambarkan
pencapaian bidang pendidikan antara lain angka
buta huruf, Angka Partisipasi Sekolah (APS), dan jenjang pendidikan yang ditamatkan. Data sarana pendidikan formal yang tersedia di Kec.
Marisodari tingkat SD, SMP, SMU dan SMK baik negeri mapun swasta dapatdilihat pada tabel disamping.Salah satu indikator pendidikan
adalah rasio guru terhadapmurid, yaitu rata-rata jumlah murid yang diajar oleh seorang guru, semakin kecil angka rasio murid terhadap guru,
tentunya semakin baik kualitas pendidikan yang bisa disampaikan guru terhadap murid. Berdasar dengan Grafik disamping dapat dilihat jika
Rasio guru terhadap murid disemua sekolah lebih rendah dari 20.

3. Kesehatan

Target yang harus dicapai dalam rangka


meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan
salah satunya adalah upaya untuk dapat memberikan
pelayanan kesehatan untuk semua lapisan
masyarakat secara mudah, murah dan merata.
Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan
tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih
baik. Upaya-upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat sudah banyak dilakukan oleh
pemerintah, pemberian penyuluhan kesehatan agar keluarga berperilaku hidup sehat, dan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan. Seorang
anak akan sangat beresikomeninggal bila ia mengalami giziburuk dan data menunjukkan bahwa tidak banyakpeningkatandalam menangani
kondisi ini,terutama di kalangan pendudukmiskin. Aksespada air minum yang aman, sanitasi yang memadai dan kebersihan juga penting
untukkelangsungan hidup anak. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, jumlah balita yang ada di Kec. Mariso 3.325jiwa dimana
3,88% mengalami GIZI Buruk, 9,74% Gizi kurang, 6,86% Gizi lebih dan hanya 79,52 % GIZI BAIK.

4. Transportasi

Jalan memiliki peran yang penting untuk menunjang sarana transportasi, terutama transportasi darat. Oleh karena itu, kondisi jalan utama yang
ada di kecamatan tersebut perlu diperhatikan guna mendukung kelancaran arus transportasi darat.Adapun pada tahun 2015, kondisi jalan utama
di kecamatan Mariso berada dalam kondisi yang baik pada setiap kelurahan. Dengan kata lain, jalan utama pada masing-masing kelurahan ini
tidak ditemukan adanya kerusakan jalan yang dikateorikan rusak berat. Di Kecamatan Mariso banyak terdapat Lorong-lorong kecil yang sudah
masuk dalam program walikota menciptakan lorong yang bersih dan asri.
C. KELURAHAN

Kelurahan Panambungan Kecamatan Mariso Kota Makassar dengan luas wilayah 0,31 km 2 serta jumlah penduduk 12,136 jiwa,
merupakan salah satu Kelurahan yang berada di pinggir Pusat Perkotaan yang juga merupakan salah satu jalur protokol yang terdapat di
Kota Makassar. .

Kelurahan Panambungan Kecamatan Mariso Kota Makassar dalam dalam setiap kegiatan pembangunan senantiasa melibatkan
seluruh unsur yang terdapat dalam Wilayah Kelurahan termasuk seluruh organisasi dan Lembaga yang terdapat dalam Wilayah
Kelurahan Maccini
1. CCC ( Celebes Convention Center )
2. Polsekta Mariso
3. The Rinra Hotel Makassar
4. Toraja Nusantara Tours
5. Pusat Permasyarakatan
6. Batalyon Zeni Tempur – 8
7. serta Organisasi yang menjembatani antara masyarakat dan Pemerintah melalui wadah perangkat RT dan RW yang terdiri dari
jumlah RT : 33 dan jumlah RW : 8.

II. Lokasi, Zoning, Tata massa, Utilitas

Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkat Samsat), atau dalam Bahasa Inggris One Roof System, adalah suatu sistem
administrasi yang dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam
satu gedung. Contoh dari samsat adalah dalam pengurusan dokumen kendaraan bermotor.

Samsat merupakan suatu sistem kerjasama secara terpadu antara Polri, Dinas Pendapatan Provinsi, dan PT Jasa Raharja (Persero) dalam
pelayanan untuk menerbitkan STNK dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang dikaitkan dengan pemasukan uang ke kas negara baik melalui
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan
(SWDKLJJ), dan dilaksanakan pada satu kantor yang dinamakan "Kantor Bersama Samsat".

Dalam hal ini, Polri memiliki fungsi penerbitan STNK; Dinas Pendapatan Provinsi menetapkan besarnya Pajak Kendaraan Bermotor
(PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB); sedangkan PT Jasa Raharja mengelola Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu
Lintas Jalan (SWDKLLJ).

Lokasi Kantor Bersama Samsat umumnya berada di lingkungan Kantor Polri setempat, atau di lingkungan Satlantas/Ditlantas Polda
setempat. Samsat ada di masing-masing provinsi, serta memiliki unit pelayanan di setiap kabupaten/kota.

SEJARAH DAN DASAR HUKUM SAMSAT

sampai dengan tahun 1974

Proses perpanjang STNK harus membuang waktu cukup lama karena mesti mendatangi tiga kantor. Membayar pajak harus datang ke kantor
pajak. Esoknya, mereka yang hendak membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) dan harus mendatangi
kantor Asuransi Jasa Raharja. Dan mereka pun harus mendatangi kantor polisi lalu lintas untuk memperoleh STNK. Masing-masing instansi
belum terintegrasi.

1974-1976

Dengan Tujuan Registrasi dan Identifikasi Forensik Ranmor dan data pengemudi lebih akurat, kecepatan dan kemudahan pelayanan kepada
masyarakat, dilakukan ujicoba pembentukan SAMSAT di Polda Metro Jaya.

1976-1988

Berdasarkan INBERS 3 Menteri, Menhankam, Menkeu & Mendagri No. Pol. KEP/13/XII/1976, No.KEP-1693/MK/IV/12/1976, 311 TAHUN
1976 bahwa Konsep SAMSAT diberlakukan di seluruh Indonesia Kepolisian RI, PT Jasa Raharja (Persero) & Dinas Pendapatan Provinsi
bersama-sama. Meski demikian masing-masing instansi menerbitkan tanda bukti untuk setiap pelunasan kewajiban di SAMSAT.

1988-1993

Berdasarkan INBERS, Menhankam, Menkeu & Mendagri No. INS/03/X/1988, No. 5/IMK.013/1988, No. 13A Tahun 1988 dilakukan
penyederhanaan dokumen yaitu · Formulir permohonan/pendaftaran STNK/Pajak/SWDKLLJ digabung jadi satu.

· Tanda Pelunasan Pembayaran SWDKLLJ PT Jasa Raharja (Persero)yang tercantum dalam STNK/STCK berlaku sebagai pengganti polis
Asuransi (sertifikat)

1993-1999

Diberlakukan revisi masa berlaku STNK dan TNKB dari 1 tahun menjadi 5 tahun namun setiap tahunnya melakukan pengesahan STNK
berdasarkan INBERS Panglima Angatan Bersenjata, Menkeu & Mendagri No. INS/02/II/1993, No. 01/IMK.01/1993, No.2A Tahun 1993.
Mekanisme Perpanjangan STNK dibentuk 5 pokja (loket) untuk pelayanan.

1999 sd. Sekarang

Lokasi yang kami pilih berdasarkan beberapa pertimbangan mengingat kawasan yang akan kami banguni ini merupakan kawasan pusat
perhotelan dan perkantoran, berhubungan dengan kantor samsat yang akan kami bangun dimana kantor ini merupakan kantor yang bergerak
pada bidang Persuratan motor. Pada pertimbangan yang lain kawasan ini juga terdapat pemukiman sehingga masyarakat yang berada pada
daerah sekitar dapat terlayani oleh kantor ini, berhubung pemukiman yang ada di sini merupakan pemukiman yang sekiranya berada di golongan
menengah sederhana, sangat cocok sekali jika kami membangun kantor samsat pada lokasi ini. Akan membantu masyarakat sekitar dalam
menyelesaikan masalahnya. Berikut 3 lokasi yang akan kami rencanakan:

Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing lokasi yang berada kelurahan Maccini :
1. Lokasi 1
Kelebihan 2
 Jhj 3
 Hjbjh
Kekurangan
 Ghfhgf
 Gcgcg 1

2. Lokasi 2
Kelebihan
 Hjjh
 Hvh
Kekurangan
 Hjjh
 Hgvhv

3. Lokasi 3
Kelebihan
 Jhkjhj
 Hjjhgjh
Kekurangan
 Jhhjj
 Bjjhb

Lokasi yang kami pilih atas pertimbangan-pertimbangan di atas adalah lokasi 2

A. Zoning & Grouping

ZOONING
- Ruangan Tunggu : Publik
- Ruangan pengambilan formulir : Publik
- Ruang legalisir cek fisik : Semi Publik
- Ruang foto copy : Publik
- Ruang penyerahan berkas atau BNN II : Semi Publik
- Ruang pembayaran PKB/Kasir : Semi Publik
- Ruang penyerahan STNK : Semi Publik
- Ruang pembuatan plat motor : Semi Publik
- Ruang kepala unit : Private
- Ruang kasubag : Private
- Ruang seksi penagihan pajak : Semi Publik
- Ruang retribusi dan pendapatan : Semi Publik
- Ruang dapur : Semi Publik
- Kantin : Publik
- Toilet / WC : Publik

Dari keterangan-keterangan diatas ada beberapa tingkatan zooning ,yaitu private, semi private, publik, semi publik. Dari tingkatan-
tingkatan tersebut kita dapat membagi-bagi kepentingan ruagan dalam hubungannya terhadap sosial. Berhubung kantor pegadaian yang
akan dibangun ini bukan merupakan kantor pelayanan karena merupakan kantor pusat yang menjadi pusat kantor-kantor pegadaian
persero, sehingga daerah publik yang disediakan memang kurang. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan membuat tamu akan
berurusan langsung kepada ruangan private. Tetapi akan melewati tahap-tahap yang akan diawali dengan dengan resepsionis publik
yang selanjutnya akan diantar sesuai kebutuhannya.

Sebagai catatan:

- bentukan zoning nya fleksibel, area publik tersebar sehingga dapat dijadikan focal point dan sirkulasi untuk umum luas.
- privasi yang lebih terjaga, selain itu area privasi kotor seperti gudang dan toilet tidak tampak secara langsung dari area public
sehingga menjaga estetika ruang.

B. Tata Massa
Tatanan massa adalah perletakan massa bangunan majemuk pada suatu site,yang ditata
berdasarkan zona dan tuntutan lain yang menunjang Tata letak massa bangunan ini
disamping berdasarkan zonasi, juga harus dibuat berdasarkan alur sirkulasi yang saling
terkait. Massa sebagai elemen site dapat tersusun dari massa berbentuk bangunan dan
vegetasi; kedua – duanya baik secara individual maupun kelompok menjadi unsur
pembentuk ruang out door.
KONFIGURASI MASSA
Berikut ini mengkategorikan bentuk-bentuk dengan penambahan menurut sifat
hubungan yang muncul diantara bentuk-bentuk komponennya sebaik konfigurasi
keseluruhannya.

a. Bentuk Terpusat
Terdiri dari sejumlah bentuk sekunder yang mengelilingi satu
bentuk dominant yang berada tepat di pusatnya. Bentuk-bentuk
terpusat menuntut adanaya dominasi secara visual dalam keteratuan
geometris, bentuk yang harus ditempatkan terpusat, misalnya seperti
bola, kerucut, ataupun silinder. Oleh karena sifatnya yang terpusat,
bentuk-bentuk tersebut sangat ideal sebagai struktur yang berdiri
sendiri, dikelilingi oleh lingkunganya, mendominasi sebuah titik
didalam ruang, atau menempati pusat suatu bidang tertentu. Bentuk
ini dapat menjadi symbol tempat-tempat yang suci atau penuh
penghormatan, atau untuk mengenang kebesaran seseorang atau
suatu peristiwa.

b. Bentuk Linier
Terdiri atas bentuk-bentuk yang diatur berangkaian pada sebuah
baris. Bentuk garis lurus atau linier dapat diperoleh dari perubahan
secara proposional dalam dimensi suatu bentuk atau melalui pengaturan
sederet bentuk-bentuk sepanjang garis. Dalam kasus tersebut deretan
bentuk dapat berupa pengulangan atau memiliki sifat serupa dan
diorganisir oleh unsur lain yang terpisah dan lain sama sekali seperti
sebuah dinding atau jalan.

- Bentuk garis lurus dapat dipotong-potong atau dibelokkan


sebagai penyesuaian terhadap kondisi setempat seterti topografi,
pemandangan tumbuh-tumbuhan, maupun keadaan lain yang ada
dalam tapak.
- Bentu garis lurus dapat diletakkan dimuka atau menunjukkan sisi
suatu ruang luar atau membentuk bidang masuk ke suatu ruang di
belakangnya.
- Bentuk linier dapat dimanipulasi untuk membatasi sebagian.

- Bentuk linier dapat diarahkan secara vertical sebagai suatu unsur


menara untuk menciptakan sebuah titik dalam ruang.
- Bentuk linier dapat berfungsi sebagai unsure pengatur sehingga bermacam-macam unsure lain dapat ditempatkan disitu.

c. Bentuk Radial
Merupakan suatu komposisi dari bentuk-bentuk linier yang
berkembang kearah luar dari bentuk terpusat dalam arah radial. Suatu bentuk

Gambar2.4
radial terdiri dari atas bentuk-bentuk linier yang berkembang dari suatu unsure inti terpusat kearah luar menurut jari-jarinya. Bentuk ini
menggabungkan aspek-aspek pusat dan linier menjadi satu komposisi.

Inti tersebut dapat dipergunakan baik sebagai symbol ataupun sebagai pusat fungsional seluruh organisasi. Posisinya yang
terpusat dapat dipertegas dengan suatu bentuk visual dominant, atau dapat digabungkan dan menjadi bagian dari lengan-lengan
radialnya.

Lengan-lengan radial memiliki sifat-sifat dasar yang serupa dengan bentuk linier, yaitu sifat ekstrovertnya. Lengan-lengan radial
dapat menjangkau ke luar dan berhubungan atau meningkatkan diri dengan sesuatu yang khusus di suatu tapak. Lengan-lengan radial
dapat membuka permukaanya yang diperpanjang untuk mencapai kondisi sinar matahari, angin, pemandangan atau ruang yang
diinginkan.

Organisasi bentuk radial dapat dilihat dan dipahami dengan sempurna dari suatu titik pandang di udara. Bila dilihat dari muka
tanah, kemungkinan besar unsure pusatnya tidak akan dengan jelas, dan pola penyeberan lengan-lengan linier menjadi kabur atau
menyimpang akibat pandangan perspektif.

d. Bentuk Cluster.
Sekumpulan bentuk-bentuk yang tergabung bersama-sama karena saling
berdekatan atau saling memberikan kesamaan sifat visual. Jika organisasi
terpusat memiliki dasar geometric yang kuat dalam penataan bentuk-
bentunya, maka organisasi kelompok dibentuk berdasarkan persyaratan
fungsional seperti ukuran, wujud ataupun jarak letak. Walaupun tidak
memiliki aturan deometrik dan sifat introvert bentuk perpusat organisasi
kelompok cukup fleksibel dalam memadukan bermacam-macam wujud,
ukuran, dan orientasi ke dalam strukturnya.
Berdasarkan fleksibilitasnya, organisasi kelompok bentuk-bentuk
dapat diorganisir dengan berbagai cara sebagai berikut:
- Dapat dikaitkan sebagai anggota tambahan terhadap suatu bentuk atau ruang induk yang lebih besar
- Dapat dihubungkan dengan mendekatkan diri untuk menegaskan dan mengekspresikan volumenya sebagai suatu kesatuan
individu.
- Dapat menghubungkan volume-volumenya dan bergabung menjadi suatu bentuk tunggal yang memiliki suatu variasi tampak

Suatu organisasi kelompok dapat juga terdiri dari bentuk-bentuk yang umumnya setara dalam ukuran, wujud dan fungsi. Bentuk-
bentuk ini secara visual disusun menjadi sesuatu yang koheren, organisasi nonhirarki, tidak hanya melalui jarak yang saling berdekatan
namun juga melalui kesamaan sifat visual yang dimilikinya.

Sejumlah bentuk perumahan kelompok dapat dijumpai dalam berbagai bentuk arsitektur tradisional dari berbagai kebudayaan.
Meskipun tiap kebudayaan melahirkan suatu jenis yang unik sebagai tanggapan terhadap faktor kemampuan teknis, iklim dan sosial
budaya, pengorganisasian perumahan kelompok ini pada umumnya mempertahankan individualitasnya masing-masing unitnya serta
suatu tingkat keragaman moderat dalam konteks keseluruhan penataan.
e. Bentuk Grid
Merupakan bentuk-bentuk
modular yang dihubungkan dan diatur
oleh grid-grid tiga dimensi. Grid adalah
suatu system perpotongan dua garis-
garis sejajar atau lebih yang berjarak
teratur. Grid membentuk suatu pola
geometric dari titik-titik yang berjarak
teratur pada perpotongan garis-garis grid
dan bidang-bidang beraturan yang
dibentuk oleh garisgaris grid itu sendiri.

Grid yang paling umum adalah


yang berdasarkan bentuk geometri bujur
sangkar. Karena kesamaan dimensi dan
sifat semetris dua arah, grid bujur sangkar pada prinsipnya, tak berjenjang dan tak berarah. Grid bujur sangkar dapat digunakan sebagai
skala yang membagi suatu permukaan menjadi unit-unit yang dapat dihitung dan memberikannya suatu tekstur tertentu. Grid bujur
sangkar juga dapat digunakan untuk menutup beberapa permukaan suatu bentuk dan menyatukannya dengan bentuk geometri yang
berulang dan mendalam.

Bujur sangkar, bila diproyeksikan kepada dimensi ketiga, akan menimbulkan suatu jaringan ruang dari titik-titik dan garis-garis
referensi. Di dalam kerangka kerja modular ini, beberapa bentuk dan ruang dapat diorganisir secara visual.

A. Utilitas :

1. Pencahayaan

System pencahayaan yang digunakan dalam kantor samsat yaitu :


a. Pencahayaan alami

Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan,
selain menghemat energi listrik juga dapat membunuh kuman. Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan
jendela-jendela yang besar ataupun dinding kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai.
Pencahayaan alami dalam sebuah bangunan akan mengurangi penggunaan cahaya buatan, sehingga dapat menghemat konsumsi energi
dan mengurangi tingkat polusi. Tujuan digunakannya pencahayaan alami yaitu untuk menghasilkan cahaya berkualitas yang efisien serta
meminimalkan silau dan berlebihnya rasio tingkat terang. Selain itu cahaya alami dalam sebuah bangunan juga dapat memberikan
suasana yang lebih menyenangkan dan membawa efek positif lainnya dalam psikologi manusi.
Agar dapat menggunakan cahaya alami secara efektif, perlu dikenali ke beberapa sumber cahaya utama yang dapat
dimanfaatkan :
1. Sunlight, cahaya matahari langsung dan tingkat cahayanya tinggi.

2. Daylight, cahaya matahari yang sudah tersebar dilangit dan tingkat cahayanya rendah.

3. Reflected light, cahaya matahari yang sudah dipantulkan.

b. Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya alami, secara umum cahaya
tersebut berasal dari hasil karya manusia berupa lampu yang berfungsi menyinari ruangan sebagai pengganti jika sinar matahari tidak
ada.
Sistem Pencahayaan Buatan
Sistem pencahayaan buatan yang sering dipergunakan secara umum dapat dibedakan atas 3 macam yakni:
1. sistem pencahayaan merata
Pada sistem ini iluminasi cahaya tersebar secara merata di seluruh ruangan. Sistem pencahayaan ini cocok untuk ruangan yang
tidak dipergunakan untuk melakukan tugas visual khusus. Pada sistem ini sejumlah armatur ditempatkan secara teratur di seluruh langi-
langit.

2. sistem pencahayaan terarah


Pada sistem ini seluruh ruangan memperoleh pencahayaan dari salah satu arah tertentu. Sistem ini cocok untuk pameran atau
penonjolan suatu objek karena akan tampak lebih jelas. Lebih dari itu, pencahayaan terarah yang menyoroti satu objek tersebut berperan
sebagai sumber cahaya sekunder untuk ruangan sekitar, yakni melalui mekanisme pemantulan cahaya. Sistem ini dapat juga digabungkan
dengan sistem pencahayaan merata karena bermanfaat mengurangi efek menjemukan yang mungkin ditimbulkan oleh pencahayaan
merata.
3. sistem pencahayaan setempat
Pada sistem ini cahaya dikonsentrasikan pada suatu objek tertentu misalnya tempat kerja yang memerlukan tugas visual. Sistem
pencahayaan ini sangat bermanfaat untuk:
a. memperlancar tugas yang memerlukan visualisasi teliti

b. mengamati bentuk dan susunan benda yang memerlukan cahaya dari arah tertentu.

c. Melengkapi pencahayaan umum yang terhalang mencapai ruangan khusus yang ingin diterangi

2. Penghawaan

System pencahayaan yang digunakan dalam kantor samsat yaitu :


a. Penghawaan alami

Penghawaan alami atau ventilasi alami adalah proses pertukaran udara di dalam bangunan melalui bantuan elemen-elemen bangunan
yang terbuka.
Sirkulasi udara yang baik di dalam bangunan dapat memberikan kenyamanan. Aliran udara dapat mempercepat proses penguapan di
permukaan kulit sehingga dapat memnerikan kesejukan bagi penghuni bangunan.
b. Penghawaan buatan

Manusia membutuhkan lingkungan udara ruang yang nyaman (thermal comfort) untuk ketergantungan dengan lingkungan luar,
maka digunakan penghawaan buatan (air conditioning).
Penghawaan buatan di sini memiliki pengertian bahwa udara dalam ruang dikondisikan
berdasarkan beban kalor yang terjadi pada ruangan tersebut.
Agar didapatkan suatu sistim serta kapasitas pendingin yang tepat, maka perlu diketahui besarnya beban kalor pada
ruang/bangunan (karena fungsi AC adalah untuk menghapus beban kalor tersebut) sehingga suhu dan kelembaban udara tetap nyaman.
Besar beban kalor yang terjadi ditentukan oleh: hantaran panas radiasi matahari, hantaran panas secara transmisi, hantaran panas ventilasi
atau infiltrasi, beban panas intern (manusia dan peralatan elektronik atau mesin).
Jenis-jenis AC:
AC Split Wall

AC Split Wall adalah jenis AC yang paling umum digunakan di rumah, kantor maupun instansi di Indonesia, ini disebabkan beberapa faktor
mulai dari gampangnya perawatan dan support.
AC ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Indoor dan Outdoor. Indoor adalah bagian yang mengeluarkan hawa dingin dan Outdoor adalah bagian
tempat dimana mesin berada. Acapkali outdoor ditempatkan diluar ruangan karena mengeluarkan hawa yang panas dan kadangkala suaranya
yang berisik.

Kelebihan AC Split Wall :


Bisa dipasang pada ruangan yang tidak berhubungan dengan udara luar, misalnya pada ruangan yang posisinya ditengah pada bangunan Ruko,
karena condenser yang terpasang pada outdoor bisa ditempatkan ditempat yang berhubungan dengan udara luar jauh dari ruangan yang
didinginkan.
Suara didalam ruangan tidak berisik.

Kekurangan AC Split Wall:


Pemasangan pertama maupun pembongkaran apabila akan dipindahkan membutuhkan tenaga yang terlatih.
Pemeliharaan/perawatan membutuhkan peralatan khusus dan tenaga yang terlatih.
Harganya lebih mahal.
AC Window
AC Window adalah AC yang berbentuk kotak dan dalam pengoperasiannya tidak menggunakan remote. Karena tombol kontrol sudah
terintegrasi dengan AC ini. AC ini hanya terdiri dari satu bagian yaitu unit itu sendiri dan tidak ada istilah outdoor dan indoor AC.
AC ini sudah tidak diproduksi lagi karena dianggap sudah ketinggalan jaman dan karena tidak ada unit outdoor yang membuat AC ini tidak
praktis. Kapasitas AC ini mulai dari 0.5 pk - 2.5 pk.

AC Sentral

Pada AC jenis ini, udara dari ruangan/bangunan didinginkan pada cooling plant diluar ruangan/bangunan tersebut kemudian udara yang telah
dingin dialirkan kembali kedalam ruangan/bangunan tersebut. AC jenis ini biasanya dipergunakan di hotel atau mall.
AC Standing Floor
AC Standing Floor adalah AC yang unit Indoonya berdiri dan mudah dipindahkan. Karena kepraktisannya ini, AC ini sering digunakan dalam
acara-acara seperti acara ulang tahun, perkawinan, hajatan dan acara lainnya.
AC ini bisa dioperasikan dengan remote control. AC ini mempunyai bagian Indoor dan bagian Outdoor. Kapasitas AC ini mulai dari 2pk - 5pk.
AC Cassette

Jenis AC Cassette ini, indoornya menempel di plafon. jenis AC Cassette dengan berbagai ukuran mulai dari 1.5pk sampai dengan 6pk.
Cara pemasangan ac ini memerlukan keahlian khusus dan tenaga extra, tidak seperti memasang ac rumah atau ac split, yang bisa dipasang
sendirian.

AC Split Duct

AC Split Duct merupakan AC yang pendistribusian hawa dinginnya menggunakan Sistem Ducting. Ini artinya, AC Split Duct tidak memiliki
pengatur suhu sendiri-sendiri melainkan dikontrol pada satu titik!. Tipe AC ini biasanya digunakan di Mall atau gedung-gedung yang memiliki
ruangan luas.
AC Split Duct tidak pernah terlepas dari sistem Ducting yang merupakan bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar udara yang
telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang akan dikondisikan. Perkembangan desain ducting untuk AC hingga saat ini
sangat dipengaruhi oleh tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material, pemakaian ruang, dan perawatan.
Kelebihan AC Split Duct :
Suara didalam ruangan tidak berisik sama sekali.
Estetika ruangan terjaga, karena tidak ada unit indoor.
Kekurangan:
Perencanaan, instalasi, operasi dan pemeliharaan membutuhkan tenaga yang betul-betul terlatih.
Apabila terjadi kerusakan pada waktu beroperasi, maka dampaknya dirasakan pada seluruh ruangan.
Pengaturan temperatur udara hanya dapat dilakukan pada sentral cooling plant. Biaya investasi awal serta biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.
AC Inverter
AC Inverter merupakan jenis AC Split yang menggunakan teknologi inverter. Inverter yang terdapat di dalam unit AC merupakan alat /
komponen untuk mengatur kecepatan motor-motor listrik. Disini Inverternya terdiri dari Rectivier dan Pulse-width modulator. Dengan
menggunakan Inverter, motor listrik menjadi variable speed, kecepatannya bisa diubah-ubah atau disetting sesuai dengan kebutuhan. Jadi
dibandingkan AC Split biasa, type AC Inverter lebih hemat listrik ± 60%
AC VRV

VRV = Variable Refrigerant Volume merupakan sistem kerja refrigerant yang berubah-ubah. VRV system adalah sebuah teknologi yang sudah
dilengkapi dengan CPU dan kompresor inverter dan sudah terbukti menjadi handal, efisiensi energi, melampaui banyak aspek dari sistem AC
lama seperti AC Sentral, AC Split, atau AC Split Duct. Jadi dengan VRV System, satu outdoor bisa digunakan untuk lebih dari 2 indoor AC serta
dapat mengatur jadwal dan temperatur AC yang diinginkan secara terkomputerisasi.

3. Sistem air bersih dan air kotor

a. Air bersih

- Sumber air sumur artesis

Air bersih dari sumur artesis ditampung di bak penampung dan disalurkan dengan saluran perpipaan untuk menjangkau titik-titik
pendistribusian, misal wc umum, fire hydrant ke bangunan-bangunan.

- PDAM

Sumber air bersih ini disediakan oleh perusahaan air minum setempat.

b. Air kotor

Sistem pengolahan air kotor dan drainase diarahkan untuk menghindari pencemaran lingkungan bagi penduduk setempat.
- Air kotor dari kamar mandi
- Air kotor dari dapur

- Air kotor dari wc

4. Pengolahan sampah

Sampah
Pengolahan sampah dilakukan dengan memisahkan sampah yang masih bisa didaur ulang dan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Hal ini
bertujuan untuk menghindari pembuangan sampah yang dapat merusak lingkungan dengan cara memisahkannya dan ditempatkan secara
terpisah-pisah dari sampah lain yang memungkinkan bisa ditangani lebih lanjut sebelum dibuang.
Sistem pembuangan sampah dengan cara mengumpulkan sampah lalu dilakukan pemisahan sampah pada bangunan yang dilakukan oleh
petugas
- Sampah dari kegiatan umum

- Sampah dari lingkungan dalam site

5. Sistem transportasi pada bangunan

Vertikal , berupa elevator


Elevator atau biasa disebut dengan lift merupakan alat angkut untuk mengangkut orang atau barang dalam suatu bangunan yang
tinggi. Lift dapat dipasang untuk bangunan yang tingginya lebih dari 4 lantai, karena kemampuan orang untuk naik turun dalam
menjalankan tugasnya hanya mampu dilakukan sampai 4 lantai.
Lift menurut fungsinya dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
Lift penumpang, (passanger elevator) digunakan untuk mengangkut manusia
Lift barang, (fright elevator) digunakan untuk menngangkut barang
Lift uang/ makanan (dumb waiters)
Lift pemadam kebakaran (biasanya berfungsi sekaligus sebagai lift barang)
Untuk menentukan kriteria perancangan lift penumpang yang perlu diperhatikan adalah :
a. Type dan fungsi dari bangunan

b. Banyaknya lantai

c. Luas tiap lantai

d. Dan intervalnya

Sistem penggerak dalam elevator dibedakan dalam :


1. Sistem gearless
Yaitu mesin yang berada diatas, untuk perkantoran, hotel, apartemen, rumah sakit dan sebagainya (sekarang ada juga lift yang
mesinnya disamping).

2. Sistem hydrolic
Yaitu mesin dibawah, hanya terbatas pada 3-4 lantai, biasanya digunakan untuk lift makanan dan uang. Sekarang system hydrolic
juga dipakai untuk penumpang manusia contoh di Bandara Kuala Lumpur.

Rumah lift dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu :

1. Lift pit
Merupakan tempat pemberhentian akhir yang paling bawah, berupa buffer sangkar dan buffer beban penyeimbang. Karena letaknya yang
paling bawah, harus dibuat dari dinding kedap air.

2. Ruang luncur (hoistway)


Tempat meluncurnya sangkar/kereta lift, terdapat pintu2 masuk ke kereta lift, tempat meluncurnya beban penyeimbang, meletakkan rel
peluncur dan beban penyeimbang.

3. Ruang mesin
Tempat meletakkan mesin/ motor traksi lift, dan tempat control panel (yang mengatur jalannya kereta)

Bentuk dan macam lift tergantung pada fungsi dan kegunaan gedung

1. Lift Penumpang (yang tertutup)


Lift yang sering kita jumpai di kantor keempat sisinya tertutup dan disesuaikan dengan kebutuhan standart.

2. Lift Penumpang (yang transparan)


Lift yang salah satu atau semua sisi interiornya tembus pandang (kaca) biasanya disebut juga lift panorama. Dalam gedung (mall, pusat
perbelanjaan) biasanya diletakkan di Hall

3. Lift untuk Rumah Sakit


Karena fungsinya untuk RS maka dimensi besarannya memanjang dengan 2 pintu pada sisinya. Ranjang pasien dapat terakomodasi
dengan layak

4. Lift untuk kebakaran (barang)


Ruangannya tertutup, interior sederhana, digunakan jika terjadi kebakaran. Interiornya harus tahan kebakaran minimal 2 jam dengan
ruang peluncurnya terbuat dari beton (dinding tahan api).
Gambar Lift/ Elevator

Tangga Biasa

Tangga adalah suatu konstruksi yang digunakan untuk menghubungkan dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu sama lain.

Berdasarkan sifat permanensinya, tangga bisa dibedakan menjadi dua macam yaitu tangga permanen dan non permanen. Tangga
permanen digunakan untuk menghubungkan dua bidang hosrisontal pada bangunan dan atau lantai bangunan yang berbeda. Sedangkan
tangga non permanen biasanya digunakan untuk mencapai bidang horisontal yang lebih tinggi dan digunakan pada saat-saat tertentu saja,
misalnya tangga bambu dan tangga lipat

Konstruksi tangga dapat dibuat dengan berbagai material, yaitu kayu, baja, beton, dan batu bata. Sedangkan bagian-bagiannya
terdiri dari Ibu tangga, anak tangga, railing, bordes, dan baluster (pagar).

Eskalator
Eskalator atau yang lazim disebut sebagai tangga berjalan, adalah sebuah alat transpotasi konveyor untuk membawa orang antaralantai
bangunan. Peralatan ini terdiri dari motor yang menggerakkan rantai, dan terhubung dengan anak-anak tangga yang saling terkait sedemikian
rupa, sehingga anak-anak tangga tersebut tetap berposisi horizontal.
Eskalator digunakan untuk menggantikan elevator atau lift tidak efisien kalau dipakai, atau agar orang yang mempergunakan tetap dapat
memperhatiakn sekeliling pada saat memakai. Karena hal tersebut, maka tempat yang banyak memakai adalah pusat perbelanjaan, hotel, pusat
konvensi, department store, bandara dan bangunan-bangunan public
Keuntungan dari eskalator banyak. Peralatan ini memiliki kapasitas untuk memindahkan sejumlah besar orang, dan dapat ditempatkan dalam
ruang fisik yang sama seperti yang bisa memasang tangga. Mereka tidak menunggu interval (kecuali selama lalu lintas yang sangat padat),
pealatan ini dapat digunakan untuk membimbing orang menuju pintu keluar utama atau pameran khusus, dan mungkin tahan cuaca untuk
penggunaan di luar ruang.
Eskalator, seperti trotoar bergerak, yang didukung oleh motor arus bolak-balik (AC motor) berkecapatan konstan dan bergerak di sekitar 1-2 kaki
(0,30-0,61 m) per detik. Maksimum sudut kemiringan eskalator ke lantai tingkat horizontal adalah 30 derajat dengan kenaikan standar sampai
dengan sekitar 60 kaki (18 m). Eskalator modern menggunakan satu kesatuan anak tangga dari alumunium atau baja yang bergerak dan
terhubung, sehingga menghasilkan gerak yang tidak terputus. Berikut ini gambar bagian dari eskalator.

Motor elektrik berfungsi untuk menggerakkan drive gear yang dimana fungsi utamanya menggerakkan rantai penggerak anak tangga (chain
guide), serta menggerakkan penggerak pegangan tangga (handrail drive). Untuk membantu gerak chain guide, dipasang roda gigi tambahan
disebut return wheel. Sedangkan rel bagian dalam untuk menambah kekuatan dari anak tangga, mengubah posisi anak tangga apakah horisontal
(pada saat di bagian atas), atau miring (pada saat di bagian bawah) dan agar tetap pada jalurnya.

Komponen pegangan tangga yang terbuat dari karet pada bagian terluarnya (handrail belt), memiliki struktur yang cukup kompleks. Pada bagian
dalamnya terdapat sabuk besi yang menjaga agar kuat menahan tarikan dari handrail drive, menjaga agar tetap pada jalurnya, dan melindungi
dari vandalisme (berusaha memotong karet handrail).
Hal ini terkait dengan kecepatan orang untuk melangkah ke Eskalator, dimana kecepatan melangkah ini tergantung pada lebar eskalator.
Kecepatan eskalator  0,75 m/dtk sehingga peningkatan kecepatan Eskalator akan memperbesar kapasitasnya.
Berikut adalah daftar yang memperlihatkan perkiraan kapasitas Eskalator yang digunakan dalam satu bangunan dan pemakaian teratur.
Lebar Lebar Lebar Perkiraan kapasitas (orang/menit)
tangga max seluruhny
Kecepatan (m/dtk)
anatara a (m)
(m)
sandaran 0,45 0,60 0,75
tangga
(m)
0,60 0,85 1,25 65 90 95
0,80 1,05 1,45 95 120 125
1,00 1,25 1,65 125 150 155
“Daftar perkiraan lebar dan kapasitas Eskalator”

Untuk kebutuhan lainnya dapat digunakan angka standar 60 orang/menit.Jika Eskalator ditempatkan pada kompartement anti kebakaran,
maka perlu dilengkapi dengan pelindung yang dapat menutup sendiri. Umumnya Eskalator tidak dipakai sebagai tempat untuk menyelamatkan
diri dari bahaya
Tangga Darurat
Bangunan gedung harus disediakan sarana vertikal selain lift, seperti tangga darurat. Dalam Bab 1 butir 69 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor: 26/PRT/M/2008, tangga kebakaran adalah tangga yang direncanakan khusus untuk penyelamatan bila terjadi kebakaran.

Tangga darurat di luar gedung

Tangga darurat di dalam gedung


Dalam perencanaan tangga darurat/tangga kebakaran ada beberapa kriteria yang disyaratkan untuk digunakan dalam perancangan menurut
Juwana (2005:139) dan dalam Bab 3 butir 3.8.1.1 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008 bahwa semua tangga darurat,
terutama pada bangunan tinggi harus aman dan terlindung dari api dan gas panas yang beracun.
Pada SNI 03-1746-2000 butir 5.2 kriteria tangga darurat, antara lain:

Konstruksi
Semua tangga yang digunakan sebagai sarana jalan ke luar sesuai persyaratan, harus dari konstruksi tetap yang permanen.
Setiap tangga, panggung (platform) dan bordes tangga dalam bangunan yang dipersyaratkan dalam standar ini untuk konstruksi kelas A atau
kelas B harus dari bahan yang tidak mudah terbakar.
Bordes tangga
Tangga dan bordes antar tangga harus sama lebar dengan tanpa pengurangan lebar sepanjang arah lintasan jalan ke luar. Dalam bangunan baru,
setiap bordes tangga harus mempunyai dimensi yang diukur dalam arah lintasan sama dengan lebar tangga. Pengecualian: Bordes tangga harus
diijinkan untuk tidak lebih dari 120 cm (4 ft) dalam arah lintasan, asalkan tangga mempunyai jalan lurus.
Permukaan anak tangga dan bordes tangga
Anak tangga dan bordes tangga harus padat, tahanan gelincirnya seragam, dan bebas dari tonjolan atau bibir yang dapat menyebabkan pengguna
tangga jatuh. Jika tidak tegak (vertikal), ketinggian anak tangga harus diijinkan dengan kemiringan di bawah anak tangga pada sudut tidak lebih
dari 30 derajat dari vertikal, bagaimanapun, tonjolan yang diijinkan dari pingulan harus tidak lebih dari 4 cm (1½ inci).
Kemiringan anak tangga harus tidak lebih dari 2 cm per m (¼ inci per ft ) (kemiringan 1 : 48).
Ketinggian anak tangga harus diukur sebagai jarak vertikal antar pingulan anak tangga.
Kedalaman anak tangga harus diukur horisontal antara bidang vertikal dari tonjolan terdepan dari anak tangga yang bersebelahan dan pada sudut
yang betul terhadap ujung terdepan anak tangga, tetapi tidak termasuk permukaan anak tangga yang dimiringkan atau dibulatkan terhadap
kemiringan lebih dari 20 derajat (kemiringan 1 : 2,75)
Pengukuran tinggi anak tangga dengan kemiringan kedepan

Pengukuran tinggi anak tangga dengan kemiringan ke belakang

Kedalaman anak tangga

Pengukuran anak tangga dengan tumpuan yang stabil

Pengukuran anak tangga dengan permukaan injakan yang tidak stabil


Pada pingulan anak tangga, pemiringan atau pembulatan harus tidak lebih dari 1,3 cm (½ inci) dalam dimensi horisontal
Harus tidak ada variasi lebih dari 1 cm (3/16 inci) di dalam kedalaman anak tangga yang bersebelahan atau di dalam ketinggian dari tinggi anak
tangga yang bersebelahan, dan toleransi antara tinggi terbesar dan terkecil atau antara anak tangga terbesar dan terkecil harus tidak lebih dari 1
cm (3/8 inci) dalam sederetan anak tangga. Pengecualian: Apabila anak tangga terbawah yang berhubungan dengan kemiringan jalan umum,
jalur pejalan kaki, jalur lalu lintas, mempunyai tingkat ditentukan dan melayani suatu bordes, perbedaan ketinggian anak tangga terbawah tidak
boleh lebih dari 7,6 cm (3 inci) dalam setiap 91 cm (3 ft) lebar jalur tangga harus diijinkan.
3. Sistem proteksi kebakaran

Sarana Proteksi Kebakaran Aktif


Sarana proteksi kebakaran aktif berupa alat ataupun instalasi yang disiapkan untuk mendeteksi dan atau memadamkan kebakaran. Di
antara sarana proteksi kebakaran aktif antara lain :
a. Detektor Asap, Api maupun Panas.

b. Alarm kebakaran otomatis maupun manual.

c. Tabung Pemadam / APAR (Alat Pemadam Api Ringan).


d. Sistem Hidran.

e. Sistem Springkler.

f. dsj.

Sarana Proteksi Kebakaran Pasif


Sarana proteksi kebakaran pasif berupa alat, sarana atau metode/cara mengendalikan asap, panas maupun gas berbahaya apabila
terjadi kebakaran. Di antara sarana proteksi kebakaran pasif antara lain :
a. Sistem Kompartementasi (Pemisahan Bangunan Resiko Kebakaran Tinggi).

b. Sarana Evakuasi dan Alat Bantu Evakuasi.

c. Sarana dan Sistem Pengendali Asap dan Api (Fire Damper, Smoke Damper, Fire Stopping, dsj).

d. Fire Retardant (Sarana Pelambat Api).

e. dsj.