Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa yang menimpa dunia asuransi Indonesia
dimana banyak perusahaan asuransi yang digugat pailit oleh nasabah. Prudential Life merupakan
contoh paling baru dimana industri yang berlandaskan kepercayaan ini masih bersifat rentan
goncangan, setelah sebelumnya peristiwa yang hampir sama menimpa Manulife Indonesia.
Banyaknya peristiwa tersebut seakan menyadarkan kita untuk kembali mengkaji ulang apakah
master plan asuransi Indonesia sudah berjalan sebagaimana mestinya. Jika ditengok ulang
perkembangan bisnis asuransi di Indonesia sebenarnya sedikit menunjukkan hal yang cukup
menggembirakan dimulai sekitar tahun 2000. Hal tersebut ditandai dengan makin kompleksnya
perkembangan industri asuransi umum di Indonesia.
Banyak indikator yang mendukung fenomena tersebut antara lain : pertama, jumlah
perusahaan asuransi semakin banyak. Dari tahun ke tahun, semakin banyak pendirian perusahaan
asuransi baru, baik swasta nasional maupun perusahaan patungan. Sampai dengan akhir
Desember 1999, telah mencapai 109 perusahaan asuransi umum, dan kemungkinan masih akan
bertambah lagi dengan adanya permohonan pendirian perusahaan asuransi umum kepada
Departemen Keuangan. Disamping itu ada tendensi semakin banyaknya perusahaan, baik yang
baru maupun yang sudah beroperasi, yang berafiliasi pada kelompok-kelompok usaha yang besar.
Jumlah perusahaan asuransi yang semakin banyak ini tidak diimbangi jumlah tenaga profesional
asuransi yang memadai, sehingga tingkat profesionalisme menjadi rendah. Hal ini menyebabkan
terjadinya persaingan yang semakin ketat dan munculnya praktik-praktik tidak terpuji di pasar
asuransi. kedua, peranan pialang (broker) asuransi semakin aktif. Semakin aktif serta besarnya
peranan pialang asuransi yang kadang-kadang juga berperan sebagai pialang reasuransi,
menyebabkan terjadinya persaingan suku premi yang makin tajam dalam berbagai jenis asuransi,
baik secara terbuka maupun terselubung. ketiga, perusahaan asuransi banyak yang berperan
sebagai fronting company. Terdapat kecenderungan semakin banyaknya perusahaan asuransi
umum yang bertindak sebagai fronting company untuk bisnis asuransi yang berorientasi pada
perusahaan multinasional. Hal ini terutama dilakukan oleh pialang asuransi patungan atau
perusahaan asuransi patungan. keempat, perubahan pasar reasuransi internasional. Perubahan-
perubahan yang terjadi dalam pasar reasuransi internasional telah memberikan pengaruh pada
suku premi berbagai jenis pertanggungan. Yang banyak memberikan pengaruh adalah pasar
reasuransi utama seperti di Eropa dan Singapura. Kelima, "pasar asuransi bebas" (free market)
yang terbatas. Tendensi semakin banyaknya perusahaan asuransi maupun perusahaan reasuransi

1
luar negeri untuk beroperasi dalam bisnis perasuransian di Indonesia, baik secara langsung
maupun tidak langsung, menyebabkan pasar asuransi semakin kompetitif.
Namun satu hal yang mungkin agak dilupakan terkait dengan industri asuransi umum
di Indonesia adalah keunikan pasar asuransi Indonesia. Pasar asuransi Indonesia memiliki
sifat unik karena bersifat captive atau pasar eksklusif dimana pasar hanya dikuasai oleh
perusahaan-perusahaan milik kelompok tertentu. Dan hebatnya lagi pangsa pasar milik
kelompok tertentu mencapai hampir 50-60% dari keseluruhan pasar dan hanya menyisakan
kurang lebih 40% pasar bebas. Namun akhir-akhir ini mulai muncul kesadaran dari
pemerintah untuk mulai membuka kran yang selama ini hanya dikuasai oleh segelintir
kelompok tertentu. Jika dikembalikan pada kaidah ekonomi murni pemusatan industri pada
segelintir orang ini memang berbahaya karena akan membuat pasar menjadi terkonsentrasi
dan makin mengarah pada bentuk oligopoli pasar yang nantinya akan menghasilkan produk
yang tidak efisien dan kurang berdaya saing.
Tantangan yang dihadapi oleh dunia asuransi Indonesia makin menguat dengan
banyaknya serbuan asuransi asing sebagai dampak langsung globalisasi.Di era mendatang
atau dikenal sebagai era globalisasi, perusahaan-perusahaan asuransi/reasuransi Indonesia
selain menghadapi "serbuan" dari perusahaan-perusahaan asuransi/reasuransi asing yang
memiliki permodalan yang kuat, serta teknologi dan sumber daya manusia yang handal, juga
berpeluang untuk beroperasi mengembangkan bisnis asuransi dan reasuransi di negara-negara
lain. Menghadapi kondisi mendatang yang begitu berat, industri asuransi Indonesia harus
segera meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitifnya, jika pasarnya tidak ingin
diambil oleh pihak lain. Peningkatan keunggulan ini juga harus dilakukan bila perusahaan-
perusahaan asuransi/reasuransi nasional juga ingin ikut merebut peluang dalam menggarap
lahan bisnis asuransi di manca negara, khususnya di Asia Pasifik. Namun melihat realitas
yang marak terjadi akhir-akhir ini mungkin hal tersebut masih tetap menjadi impian semata
mengingat kondisi asuransi Indonesia masih belum banyak berubah.

BAB II
2
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah
Konsep asuransi sebenarnya sudah dikenal sejak jaman sebelum masehi dimana manusia
pada masa itu telah menyelamatkan jiwanya dari berbagai ancaman, antara lain kekurangan
bahan makanan. Salah satu cerita mengenai kekurangan bahan makanan terjadi pada jaman Mesir
Kuno semasa Raja Firaun berkuasa. Suatu hari sang raja bermimpi yang diartikan oleh Nabi
Yusuf bahwa selama 7 tahun negeri Mesir akan mengalami panen yang berlimpah dan kemudian
diikuti oleh masa paceklik selama 7 tahun berikutnya. Untuk berjaga-jaga terhadap bencana
kelaparan tersebut Raja Firaun mengikuti saran Nabi Yusuf dengan menyisihkan sebagian dari
hasil panen pada 7 tahun pertama sebagai cadangan bahan makanan pada masa paceklik. Dengan
demikian pada masa 7 tahun paceklik rakyat Mesir terhindar dari risiko bencana kelaparan hebat
yang melanda seluruh negeri. Pada tahun 2000 sebelum masehi para saudagar dan aktor di Italia
membentuk Collegia Tennirium, yaitu semacam lembaga asuransi yang bertujuan membantu
para janda dan anak-anak yatim dari para anggota yang meninggal. Perkumpulan serupa yaitu
Collegia Nititum, kemudian berdiri dengan
beranggotakan para budak belian yang diperbanatukan pada ketentaraan kerajaan Roma
(Rahman, Afzalur). Konsep auransi sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat primitif
yang berkelompok. Dalam masyarakat primitif, orang hidup bersama dalam keluarga besar atau
suku dimana kebutuhan-kebutuhannya dipenuhi dan dilindungi melalui kerjasama dan saling
membantu. Oleh karena itu mereka merasa tidak memerlukan suatu asuransi karena semua resiko
sepenuhnya dilindungi oleh masyarakat. Pada waktu keluarga atau suku berubah menjadi
kehidupan yang berpindah-pindah secara teori keluarga tersebut mulai menghadapi berbagai
macam bahaya tanpa adanya perlindungan dari keluarga maupun sukunya. Saat itulah mulai
dirasakan perlunya perlindungan terhadap ancaman tersebut sebagai unsur awal munculnya
asuransi.

2.2 Pengertian Asuransi Syariah

3
Asuransi dalam bahasa Arab disebut At’ta’min yang berasal dari kata amanah yang
berarti memberikan perlindungan, ketenangan, rasa aman serta bebas dari rasa takut.
Istilah menta’minkan sesuatu berarti seseorang memberikan uang cicilan agar ia atau
orang yang ditunjuk menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas hartanya yang
hilang.
Asuransi syariah adalah sebuah sistem dimana para peserta menghibahkan sebagian
dari premi untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami sebagian peserta.
Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional serta investasi dana
yang dilimpahkan kepada perusahaan. Di Indonesia sendiri, asuransi islam sering dikenal
dengan istilah takaful. Kata takaful bersal dari takafalah yatakafalu yang berarti
menjamin atau saling menanggung. Sedangkan pihak yang menjadi penanggung asuransi
disebut mu’amin dan pihak yang menjadi tertanggung disebut mu’amman lahu atau
musta’min.

Jadi asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi
ketentuan syariah, tolong-menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan
perusahaan asuaransi.

Konsep dasar asuransi syariah adalah tolong menolong dalam kebaikan dan .Konsep
tersebut sebagai landasan yang diterapkan dalam setiap perjanjian transaksi bisnis dalam
wujud tolong menolong (akad takafuli) yang menjadikan semua peserta sebagai keluarga
besar yang saling menanggung satu sama lain di dalam menghadapi resiko, yang kita
kenal sebagai sharing of risk, taqwa (kebaikan dan ketakwaan)
Menurut Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah bagian
pertama menyebutkan pengertian Asuransi Syariah (ta’min, takaful’ atau tadhamun)
adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang atau pihak
melalui investasi dalam bentuk set dan atau tabarru yang memberikan pola pengembalian
untuk mengehadapi resiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan
syariah.

Asuransi Syariah bersifat saling melindungi dan tolong menolong yang dikenal
dengan istilah ta’awun, yaitu prinsip hidup yang saling melindungi dan saling tolong
4
menolong atas dasar ukhuwah Islamiyah antara sesama anggota asuransi syariah dalam
menghadapi hal tak tentu yang merugikan.

2.3 Dasar Hukum Asuransi Syariah


Dari segi hukum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih mendasarkan
legalitasnya pada Undang-undang No. 2 tahun 1992 tentang perasuransian.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal 246, yaitu :


”Asuransi adalah suatu perjanjian dimana seseorang penanggung mengikatkan diri
kepada seorang tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan
penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan
yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tentu.”

Pengertian diatas tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat bagi Asuransi
Syariah karena tidak mengatur keberadaan asuransi berdasarkan prinsip syariah, serta
tidak mengatur teknis pelaksanaan kegiatan asuransi dalam kaitannya kegiatan
administrasinya. Pedoman untuk menjalankan usaha asuransi syariah terdapat dalam
Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, fatwa tersebut
dikeluarkan kareni regulasi yang ada tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan
kegiatan Asuransi Syariah. Tetapi fatwa DSN-MUI tersebut tidak memiliki kekuatan
hukum dalam Hukum Nasional karena tidak termasuk dalam peraturan perundang-
undangan di Indonesia. Agar ketentuan Asuransi Syariah memiliki kekuatan hukum,
maka perlu dibentuk peraturan yang termasuk peraturan perundang-undangan yang ada di
Indonesia meskipun dirasa belum memberi kepastian hukum yang lebih kuat, peraturan
tersebut yaitu Keputusan Menteri Keuangan RI No.426/KMK.06/2003, Keputusan
Menteri Keuangan RI No. 424/KMK.06/2003 dan Keputusan Direktorat Jendral Lembaga
Keuangan No. 4499/LK/2000. Semua keputusan tersebut menyebutkan mengenai
peraturan sistem asuransi berbasis Syariah.

2.4 Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional


Dalam asuransi konvensional, asuransi merupakan transfer of risk yaitu pemindahan
risiko dari peserta/tertanggung ke perusahaan/penanggung sehingga terjadi pula transfer
5
of fund yaitu pemindahan dana dari tertanggung kepada penanggung. Sebagai
konsekwensi maka kepemilikan dana pun berpindah, dana peserta menjadi milik
perusahaan ausransi.

Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, di antaranya adalah


sebagai berikut:

Akad (Perjanjian)
Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya harus jelas
secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya kegiatan bisnis tersebut
saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah menjadi dasar yang
menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara syariah. Hal tersebut
menjadi sangat menentukan di dalam praktek asuransi syariah. Akad antara perusahaan
dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli) atau tolong menolong
(takaful).
Akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual beli.
Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli, harga,
dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang diterapkan
dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya penjual, pembeli dan
barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak dapat dijelaskan secara
kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta asuransi utnuk
mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Perusahaan akan membayarkan uang
pertanggunggan sesuai dengan perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan disetorkan
oleh peserta tidak jelas tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia maka perusahaan
akan untung namun apabila peserta baru sekali membayar ditakdirkan meninggal maka
perusahaan akan rugi. Dengan demikian menurut pandangan syariah terjadi cacat karena
ketidakjelasan (gharar) dalam hal berapa besar yang akan dibayarkan oleh pemegang
polis (pada produk saving) atau berapa besar yang akan diterima pemegang polis (pada
produk non-saving).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang ulama salaf ternama dalam kitabnya "Majmu
Fatwa" menyatakan bahwa akad dalam Islam dibangun atas dasar mewujudkan keadilan
dan menjauhkan penganiayaan. Harta seorang muslim yang lain tidak halal, kecuali
dipindahkan haknya kepada yang disukainya. Keadilan dapat diketahui dengan akalnya,
seperti pembeli wajib menyatakan harganya dan penjual menyerahkan barang jualannya
6
kepada pembeli. Dilarang menipu, berkhianat, dan jika berhutang harus dilunasi. Jika kita
mengadakan suatu perjanjian dalam suatu transaksi bisnis secara tidak tunai maka kita
wajib melakukan hal-hal berikut: I% Menuliskan bentuk perjanjian (seperti adanya SP
dan polis). I% Bentuk perjanjian harus jelas dimengerti oleh pihak-pihak yang
bertransaksi (akad tadabuli atau akad takafuli). I% Adanya saksi dari kedua belah pihak.
I% Para saksi harus cakap dan bersedia secara hukum jika suatu saat diminta
kewajibannya.

Gharar (Ketidakjelasan)
Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak adanya
batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung, sementara kita
sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika baru sekali seorang
tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan akan rugi sementara
pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung dipanjangkan usianya,
perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara financial. Dengan kata lain
kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama masing-masing pihak menjalankan
transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu pembayaran dan jumlah pembayaran
mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun akad, yang kita kenal sebagai gharar. Para
ulama berpendapat bahwa perjanjian jual beli/akad tadabuli tersebut cacat secara hukum.
Pada asuransi syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat tolong-
menolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah. Mekanisme
ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari larangan Allah
dalam praktik muamalah yang gharar.
Pada akad asuransi konvensional dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi
(transfer of fund). Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul adalah milik
peserta (shahibul mal) dan perusahaan asuransi syariah (mudharib) tidak bisa mengklaim
menjadi milik perusahaan.

Tabarru dan Tabungan


Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya sumbangan atau
derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan). Niat bertabbaru
bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling membantu satu
sama lain sesama peserta asuransi syariah, ketika di antaranya ada yang mendapat
musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening khusus. Apabila ada
7
yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening tabarru yang
sudah diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.
Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang
dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula unsur
dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan. Sementara
investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru karena tidak ada
unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta sesuai dengan akad
awal. Jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan beserta hasilnya akan
dikembalikan kepada peserta secara penuh.

Maisir (Judi)
Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam asuransi konvensional terdapat unsur
gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama dengan al
maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam asuransi konvensional
karena adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa. Apabila pemegang
polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis asuransinya dan telah
membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima sejumlah uang tertentu.
Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana cara perusahaan asuransi
konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang karena
keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil risiko oleh perusahaan
yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan, tetapi apabila pemegang polis
mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang boleh disebut judi jika perusahaan
asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim yang dibayar. Sebab keuntungan
perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh banyak /sedikitnya klaim yang
dibayarkannya.

Riba
Dalam hal riba, semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan
bunga, yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat
perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi asuransi konvensional mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi wajib
dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki likuiditas
yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan Keputusan
8
Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan
Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur dalam peraturan
pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.

Dana Hangus
Ketidakadilan yang terjadi pada asuransi konvensional ketika seorang peserta karena
suatu sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period.
Sementara ia telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah uang
premi. Karena kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut menjadi
hangus. Demikian juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika habis masa
kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus dan menjadi
milik perusahaan.
Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh asuransi konvensional akan
menimbulkan ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka yang
tidak mampu melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana untuk
melanjutkan, sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan hangus.
Kondisi ini mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang kita saling
menzalimi, laa dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan dirugikan).
Asuransi syariah dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai tunai
telah diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru masuk
karena satu dan lain hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya
dimasukkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai
dana tabarru (dana kebajikan). Hal yang sama berlaku pula pada asuransi kerugian. Jika
selama dan selesai masa kontrak tidak terjadi klaim, maka asuransi syariah akan
membagikan sebagian dana/premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30 sesuai
kesepakatan si awal perjanjian (akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal tahun masih
dapat dikembalikan sebagian ke peserta (tidak hangus). Jumlahnya sangat tergantung dari
hasil investasinya.

Konsep Taawun Dalam Asuransi Syariah


Sebagian para ahli syariah meyamakan sistem asuransi syariah dengan sistem aqilah
pada zaman Rasulullah SAW. Dr. Satria Effendi M.Zein dalam makalahnya
mendefinisikan takaful dengan at takmin, at taawun atau at takaful (asuransi bersifat
tolong menolong), yang dikelola oleh suatu badan, dan terjadi kesepakatan dari anggota
9
untuk bersama -sama memikul suatu kerugian atau penderitaan yang mungkin terjadi
pada anggotanya. Untuk kepentingan itu masing-masing anggota membayar iuran berkala
(premi). Dana yang terkumpul akan terus dikembangkan, sehingga hasilnya dapat
dipergunakan untuk kepentingan di atas, bukan untuk kepentingan badan pengelola
(asuransi syariah). Dengan demikian badan tersebut tidak dengan sengaja mengeruk
keuntungan untuk dirinya sendiri. Disini sifat yang paling menonjol adalah tolong-
menolong seperti yang diajarkan Islam.

Dewan Pengawas Syariah


Pada asuransi syariah seluruh aktivitas kegiatannya diawasi oleh Dewan Pengawas
Syariah (DPS) yang merupakan bagian dari Dewan Syariah Nasional (DSN), baik dari
segi operational perusahaan, investasi maupun SDM. Kedudukan DPS dalam Struktur
oraganisasi perusahaan setara dengan dewan komisaris.
Itulah beberapa hal yang membedakan asuransi syariah dengan asuransi konvensional.
Apabila dilihat dari sisi perbedaannya, baik dari sisi ekonomi, kemanuasiaan atau
syariahnya, maka sistem asuransi syariah adalah yang terbaik dari seluruh sistem asuransi
yang ada.

Kontrak Asuransi Syariah


Kontrak merupakan bagian yang paling penting, yang membedakan asuransi syariah
dengan asuransi konvensional.
Karena sifat alami resiko memang tidak pasti(gharar), sementara islam
mengharamkan jual-beli atau transsi yang mengandung gharar, maka kontrak asuransi
syariah haruslah bukan merupakan kontrak jual-beli. Gharar atau ketidakpastian
diharmkan dalam kontrak asuransi syariah, oleh karena itu harus dihindari adanya gharar,
baik itu dalam kontrak, harga, metode, jumlah, dan waktu pembayaran antara pihak-pihak
yang mengadakan kontrak, dan segala yang dianggap tidak pasti atau menipu. Namun
yang perlu di ingat bahwa larangan gharar tidak berlaku pada kontrak nonkomersial,
seperti halnya dalam kerja sama unilateral.
Disamping gharar, dalam islam juga diharamkan hal-hal berikut:
1. Riba (Bunga Uang)
2. Membeli atau menjual harta benda atau hak yang tidak sah
3. Investasi dalam portofolio
4. Judi
10
5. Manipulasi dan praktik yang tidak adil1

Untuk menghindari atau mengeliminasi unsur-unsur yang diharamkan diatas dari


kontrak asuransi Syariah, berikut ini merupakan kontrak alternatif yang dapat digunakan.
1. Kontrak Mudharabah ( berbagi keuntungan dan kerugian)
Ini merupakan kontrak antara pemilik modal dan pengelola, dimana
keuntungan dibagi menurut rasio atau presentase yang disepakati kedua belah
pihak.
2. Kontrak musarakah (usaha patungan)
Kedua belah pihak menyediakan modal dan manajemen. Keuntungan
dibagi berdasarkan modal atau sesuai negosiasi dan kerugian ditanggung menurut
porsi modal yang dimiliki.
3. Konrak Kafalah (kontrak jaminan)
Pihak penjamin menjadi jaminanbila peminjam tidak dapat memenuhi
kewajibannya terhadap kreditor
4. Konrak Wakalah ( kontrak perwakilan)
Satu pihak mengangkat dan memberi wewenang kepada pihak lain (Wakil)
untuk bertindak atas namanya. Pemberian kewenangan dapat bersifat umum atau
khusus. Wakil dapat membebankan biaya kepada pihak yang diwakilinya
5. Kontrak Jua’lah ( Kontrak atas kinerja)
Pada dasarnya sama dengan kontrak wakalah, kecuali pembayaran kepada
pihak yang ditunjuk diukur menurut hasil kinerjanya

Unsur terpenting dalam kontrak asuransi syariah adalah harus adanya objek yang
menjadi kesepahaman dalam kontrak yang disepakati oleh kedua belah pihak2

2.5 Proposal atau Ijab Asuransi Syariah


Merupakan niat yang dinyatakan oleh pemilik resiko untuk berbagi resiko dengan
pemilik-pemilik resiko lainnya yang dikelola oleh operator asuransi syariah dan
kesanggupannya untuk melakukan tanggungjawab tertentu, seperti membayar kontribusi
dan mengikuti ketentuan akad asuransi syariahnya

1
Iqbal, Muhaimin, Asuransi Umum Syariah: Dalam Praktik Menghilangkan Gharar, Maisir,
dan Riba (Jakarta : Gema Insani,2005), hlm.28
2
Ibid, Hlm.29
11
Untuk memudahkan dokumentasi dan standarisasi Ijab, operator asuransi syariah
biasanya mengembangkan suatu pormolir standar untuk diisi dan ditandatangani oleh
peserta program asuransi syariah. Berikut ini adalah contoh pernyataan yang dimasukan
dalam formulir proposal asuransi syariah.

Pernyataan dalam proposal:

Saya/Kami setuju untuk ikut dalam Program Asuransi Syariah ini sesuai
dengan prinsip tolong-menolong dan membayar konribusi sebagai tabarru’
(sumbangan) untuk membantu peserta lain yang tertimpa musibah dengan sumbangan
ini, Kami juga berhak mendapatkan perlindungan asuransi syariah seperti yang
dinyatakan dalam ketentuan dan kondisi kontrak asuransi syariah ini.
Selanjutnya Saya/Kami setuju bahwa konribusi kami dimasukan dalam Dana
Asuransi Syariah untuk diinvestasikan dan dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah. Kami juga mengizinkan operator untuk membayar manfaat asuransi syariah,
provosi, dan cadangan sesuai dengan pedoman dan kebijakan yang dibiat oleh
otoritas. Selanjutnya Saya/Kami setuju untuk membayar biaya Wakalah Sebesar....%
kepada operator.
Apabila pada akhir ahun fiskal, ada kelebihan pendapatan di atas pengeluaran
yang telah disepakati tersebut. Saya/Kami setuju bila operator menerima....% dari
kelebihan tersebut sebagai insentif dan sisanya ....% akan dicadangkan untuk
didistribusikan di antara peserta sesuai ketentuan kontrak ini......................................

2.6 Akseptasi Atau Qabul Asuransi Syariah

Qabul biasanya dilakukan oleh penyelenggara, baik secara langsung dari proposal
ataupun aplikasi peserta yang bersangkutan, atau apabila pihak operator tidak dapat
menyetujui proposal peserta secara langsung, operator dapat mengusulkan untuk
mengganti atau mengubah sesuai ketentuan dan kondisi produk asuransi syariah yang
dikelolanya. Yang kedua ini dianggap sebagai tawaran balik kepada peserta. Operator
dapat diartikan telah melakukan qabul atas proposal peserta melalui hal-hal berikut.
1. Penerbitan Sertifikat Asuransi Syariah
2. Penerbitan Cover note
12
3. Penerbitan tanda terima resmi atas pembayaran konribusi pertama
4. Berbagai cara konfirmasi qabul lainnya atas permohonan dari peserta
bersangkutan, seperti melalui faks, telepon, e-mail.
Setelah akad dilakukan, kedua belah pihak terikat untuk mematuhi ketentuan
dan kondisi akad.3

2.7 Kondisi Asuransi Syariah di Indonesia


Kondisi Asuransi Syariah di Indonesia
Data Departemen Keuangan menunjukkan market share asuransi syariah pada tahun
2001 baru mencapai 0.3% dari total premi asuransi nasional. Dibidang aturan hukum
saat ini sedang digodog aturan khusus mengenai asuransi syariah yang diharapkan
dapat memberi dampak yang signifikan sebagaimana dampak dari UU Perbankan
tahun 1998.
Hambatan Pengembangan Asuransi Syariah
• Instrumen tidak dikenal masyarakat luas
• Anggapan masyarakat Indonesia pengurusn klaim asuransi menyulitkan
• Instrumen Asuransi kalah bersaing dengan isntrumen investasi seperti surat
berharga
• Asuransi syariah belum tersosialisasikanluas seperti perbankan syariah

Peluang pengembangan Asuransi Syariah


• Alternatif pilihan proteksi bagi pemeluk agama Islam yang menginginkan
produk yang sesuai dengan hukum Islam
• Perkembangan Perbankan Islam menuntut peranan asuransi syariah untuk
pengamanan aset dan transaksi perbankan
Peluang pengembangan Asuransi Syariah.
Beberapa kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan Asuransi Syariah
adalah ditetapkannnya kewajiban agar asuransi haji dikelola oleh perusahaan asuransi
syariah.

3
Ibid, Hlm.30
13
Contoh Kasus Tantangan Industri Asuransi Syariah Saat Ini

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri asuransi syariah bersumber pada dua hal
utama yaitu permodalan dan sumber daya manusia. Tantangan-tantangan lain seperti masalah
teknologi informasi, image danlaisebagainya merupakanakibatdariduamasalahutamatersebut.

Berdasarkan konsep Risk Based Capital (RBC) perusahaan asuransi di Indonesia sebenarnya
dapat beroperasi dengan modal yang sangat rendah (diatas Rp 3 milyar) asal sehat dan
memenuhi Risk Based Capital diatas 120%. Asuransi syariah dalam bentuk cabang atau
divisi dari perusahaan asuransi konvensional dapat beroperasi dengan penyisihan modal
minimalRp2milyar.

Kemudahan-kemudahan permodalan ini disatu sisi baik untuk mendorong timbulnya


perusahaan asuransi/cabang/divisi syariah. Di sisi lain sebenarnya harus disadari bahwa
ketentuan minimum tersebut kurang mendorong timbulnya perusahaan asuransi yang sehat.
Struktur permodalan yang kuat sangat dibutuhkan untuk mengangkat industri asuransi
syariah. Dengan modal yang kuat perusahaan asuransi syariah akan dapat melaksanakan
fungsi-fungsi yang semestinya, antara lain edukasi pasar melalui berbagai media komunikasi
untuk menjelaskan keberadaan asuransi syariah, keunggulannya, manfaatnya serta kebersihan
dari keraguan, pengembangan produk secara berkelanjutan, back-uo keuangan yang
kokohuntukmembangkitkankepercayaanpublik.

Sejalan dengan berkembangnya industri asuransi syariah, maka hal yang seharusnya
dilakukan adalah industri asuransi syariah memiliki tenaga unggul dibidangnya masing-
masing. Hanya dengan tenaga-tenaga unggul inilah asuransi syariah dapat bersaing di era
global saat ini. Keahlian yang sangat dibutuhkan meliputi keahlian manajemen risiko yang
mampu memahami dan mengelola risiko-risiko yang terus berkembang secara dinamis,
keahlian manajemen islami yang mampu menggali nilai-nilai islami dan menerapkannya
dalam praktik bisnis modern dan mampu memberikan solusi dari permasalahan permasalahan
yang ada, keahilian ekonomi syariah untuk menggali transaksi kontrak, serta keahlian
penunjang lainnya seperti akuntansi, teknologi informasi, pemasaran dan lain sebagainya
yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis asuransi secara menyeluruh, yang terakhir adalah
integritas, kejujuran dan kebersihan para professional asuransi syariah harus benar-benar
mencerminkankeunggulanproduknyayangsyar’i.
14
Adanya dua masalah utama tersebut dapat diatasi yaitu masalah permodalan dan masalah
sumber daya manusia, maka serangkaian masalah-masalah lain yang dihadapi industri
asuransi syariah akan mudah diatasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Asuransi syariah sudah mulai dikenal semenjak berdirinya Syarikat Takaful Indonesia pada
tahun 1994. Pada tahun 2015 diperkirakan bahwa potensi penerimaan premi syariah di
Indonesia akan mencapai US$ 1,20 miliar. Pencapaian posisi ini menempatkan pada posisi
terbesar kedua setelah Malaysia yang diperkirakan oleh penelitian Institute of Islamic
Banking and Insurance di London sebesar US$ 1,22 miliar. Tetapi jika dibandingkan dengan
asuransikonvensionaljumlahpremiinisangatlahkecil.

Beberapa hal yang menjadi penyebab relative rendahnya penetrasi pasar asuransi syariah
15
dalam sepuluh tahun terakhir adalah rendahnya dana yang memback up perusahaan asuransi
syariah, promosi dan edukasi pasar yang relative belum dilakukan secara efektif (terkait
dengan lemahnya dana), belum timbulnya industri penunjang asuransi syariah seperti broker-
broker asuransi syariah, agen, adjuster, dan lain sebagainya, produk dan layanan belum
diunggulkan diatas produk konvensional, posisi pasar yang masih ragu antara penerapan
konsep syariah yang menyeluruh dengan kenyataan bisnis di lapangan yang terkadang sangat
jauh dari prinsip syariah, dukungan kapasitas reasuransi yang masih terbatas (terkait jua
dengan dana) dan belum adanya inovasi produk dan layanan yang benar-benar digali dari
konsepdasarsyariah.

Negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, pada umumnya


memiliki tingkat penetrasi dan tingkat density asuransi yang relatif lebih rendah
dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan oleh apa yang disebut sebagai
halangan agama yaitu keyakinan agama yang tidak memperkenankan praktek asuransi
konvensional. Selain dapat mengatasi hambatan agama tersebut, sifat alami asuransi syariah
akan berpotensi untuk berkembang di Indonesia karena beberapa alasan antara lain mayoritas
penduduknya beragama Islam akan cenderung menghormati solusi yang berasal dari
agamanya sendiri, ekonomi Indonesia yang secara signifikan bergantung pada sektor usaha
mikro, kecil dan menengah (umkm) akan cocok dengan pendekatan pengelolaan risiko
melalui konsep tolong menolong dalam asuransi syariah, sifat alami asuransi syariah yang
memungkinkan peserta mendapatkan bagian hasil akan lebih adil diterapkan pada masyarakat
karena tidak secara berlebihan menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain, era
penerapan Good corporate governance (GCG) akan mendorong proses bisnis yang bersih
sehingga berdampak kondusif bagi timbulnya asuransi syariah dan sifat asuransi syariah
antara lain menghindarkan praktik-praktik yang mengandung unsur-unsur ketidakpastian dan
judi akan sejalan dengan praktik usaha yang penuh kehatihatian di lingkungan ekonomi
global.

Asuransi syariah yang menggunakan Al-Qur’an dan sunnah nabi sebagai rujukannya
memiliki sumber inspirasu dan inovasi yang tidak habis-habisnya dalam memberi
kemaslahatan pada umat, konsep dasar asuransi syariah terutama yang menggunakan sistem
wakalah merupakan konsep asuransi yang akan terbebas dari ketidakpatian usaha di sektor
asuransi, prinsip dasar asuransi syariah yang mendorong orang atau badan untuk saling
tolong menolong sesama dengan bantuan operator asuransi syariah sangat berbeda dengan
16
prinsip dasar asuransi konvensional yang memposisikan nasabah sebagai tertanggung dan
perusahaan asuransi sebagai penanggung dan asuransi syariah memberikan kepastian
kehalalan bagi para pesertanya.

B. Saran

Agar kita tidak salah memilih asuransi syariah, berikut beberapa tips yang perlu kita
perhatikan:

1. Mengetahui kebutuhan

pemegang atau pembeli perusahaan asuransi harus mengetahui asuransi apa yang menjadi
kebutuhan. Kebutuhan dapat berupa asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi pendidikan atau asuransi yang sekaligus berfungsi untuk investasi (unitlink). Bila
anda ragu, mintalah pendapat saudara, rekan, atau agen penjual asuransi yang anda percayai.

2. Memilih perusahaan pengelola asuransi syariah

ketahui seberapa lama perusahaan asuransi tersebut telah menjalankan bisnis asuransi
syariah. Semakin lama sebuah perusahaan berkecimpung dalam bisnis yang dijalaninya,
tentunya bisa menggambarkan bagaimana kondisi perusahaan tersebut. Selain itu juga
bagaimana pengalaman perusahaan tersebut dalam pembayaran klaim kepada nasabahnya,
apa pernah perusahaan tersebut lalai dalam hal pembayaran klaim kepada nasabahnya.

3. Dewan pengawas syariah (dps)

semua lembaga keuangan syariah termasuk asuransi syariah mempunyai dewan pengawas
syariah (dps). Dps beranggotakan orang-orang yang memahami ekonomi syariah.
Keberadaan dps akan menjamin bahwa semua produk asuransi dikelola dengan cara-cara
yang dihalalkan secara syariah.

4. Kejelasan akad asuransi

isi perjanjian memegang peranan penting menyangkut status premi polis asuransi. Bila
akadnya asuransi syariah, tidak ada istilah “dana hangus” untuk asuransi jiwa, sehingga
apabila nasabah karena sesuatu hal tidak memperpanjang preminya, maka seharusnya dana
premi yang sudah disetor sebelumnya masih ada, walaupun jumlahnya tidak 100% lagi. Ini

17
karena dana yang disetor nasabah telah dikurangi biaya-biaya administrasi saat mengurus
polis asuransi.

5. Pelajari ilustrasi yang diberikan

ilustrasi asuransi menggambarkan perkiraan berapa dana yang akan diperoleh calon nasabah
untuk masa akhir periode perjanjian. Jika ilustrasi yang diberikan sangat tidak wajar, misal
memberikan keuntungan (bagi hasil) sangat jauh di atas bagi hasil bank syariah pada
umumnya, kita jangan langsung tergiur, namun kita harus menyikapinya dengan bijaksana.
Perhatikan asumsi-asumsi yang tertera di lembar ilustrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Assal, Ahmad Muhammad dan Fathi Ahmad Abdul Karim, 1999, Sistem, Prinsip dan Tujuan
Ekonomi Islam, edisi terjemahan, Pustaka Setia, Bandung.
Achsien, Iggi H, 2003, Investasi Syariah di Pasar Modal, Menggagas Konsep dan Praktek
Manajemen Portofolio Syariah, Gramedia, Jakarta.
Astiwara, Endy M, 2001, Perbedaan Secara Syariah Asuransi Takaful Dengan Asuransi
Konvensional, Muamalatuna Vol. I/Edisi I/Th. I/25 Mei 2001
Iqbal, Muhaimin, Asuransi Umum Syariah: Dalam Praktik Menghilangkan Gharar,
Maisir, dan Riba (Jakarta : Gema Insani,2005), hlm.28
Ibid, Hlm.29
Ibid, Hlm.30

18