SINTESIS TERPENOID
Terpenoid merupakan bentuk senyawa dengan struktur yang besar dalam produk
alami yang diturunkan dan unit isoprene (C5)yang bergandengan dalam model kepala
ke ekor, sedangkan unit isoprene diturunkan dari metabolism asam asetat oleh jalur
asam mevalonat (MVA). Adapun reaaksinya adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Jalur Asetat dalam Pembentukkan IPP yang Merupakan Batu Bata
Pembentukkan Terpenoid Via Asam Mevalonat
(http://nadjeeb.wordpress.com).
Secara umum biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya 3 reaksi dasar,
yaitu:
1. Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat.
2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprene akan membentuk mono-,
seskui-, di-. sester-, dan poli-terpenoid.
3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan
triterpenoid dan steroid.
Mekanisme dari tahap-tahap reaksi biosintesis terpenoid adalah asam asetat setelah
diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi jenis Claisen menghasilkan asam
asetoasetat.
Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi
jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam
mevalinat, reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforialsi, eliminasi asam fosfat dan
dekarboksilasimenghasilkan isopentenil (IPP) yang selanjutnya berisomerisasi
1
menjadi dimetil alil piropospat (DMAPP) oleh enzim isomeriasi. IPP sebagai unti
isoprene aktif bergabung secara kepala ke ekor dengan DMAPP dan penggabungan
ini merupakan langkah pertama dari polimerisasi isoprene untuk menghasilkan
terpenoid.
Penggabungan ini terjadi karena serangan electron dari ikatan rangkap IPP
terhadap atom karbon dari DMAPP yang kekurangan electron diikuti oleh
penyingkiran ion pirofosfat yang menghasilkan geranil.pirofosfat (GPP) yaitu
senyawa antara bagi semua senyawa monoterpenoid.
Penggabungan selanjutnya antara satu unti IPP dan GPP dengan menaisme
yang sama menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara
bagi semua senyawa seskuiterpenoid. Senyawa diterpenoid diturunkan dari Geranil-
Geranil Pirofosfat (GGPP) yang berasal dari kondensasi antara satu unti IPP dan GPP
dengan mekanisme yang sama. Mekanisme biosintesa senyawa terpenoid adalah
sebagai berikut:
2
Gambar 2 Mekanisme Biosintesa Senyawa Terpenoid (http://nadjeeb.wordpress.com)
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TERPENOID
Ekstraksi senyawa terpenoid dilakukan dengan dua cara yaitu: melalui
sokletasi dan maserasi. Sekletasi dilakukan dengan melakukan disokletasi pada
serbuk kering yang akan diuji dengan 5L n-hexana. Ekstrak n-hexana dipekatkan lalu
disabunkan dalam 50 mL KOH 10%. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji
fitokimia dan uji aktifitas bakteri. Teknik maserasi menggunakan pelarut methanol.
Ekstrak methanol dipekatkan lalu lalu dihidriolisis dalam 100 mL HCl 4M.hasil
hidrolisis diekstraksi dengan 5 x 50 mL n-heksana. Ekstrak n-heksana dipekatkan
lalu disabunkan dalam 10 mL KOH 10%. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji
fitokimia dan uji aktivitas bakteri. Uji aaktivitas bakteri dilakukan dengan pembiakan
bakteri dengan menggunakan jarum ose yang dilakukan secara aseptis. Lalu
dimasukkan ke dalam tabung yang berisi 2mL Meller-Hinton broth kemudian
diinkubasi bakteri homogen selama 24 jam pada suhu 35°C.suspensi baketri
3
homogeny yang telah diinkubasi siap dioleskan pada permukaan media Mueller-
Hinton agar secara merata dengan menggunakan lidi kapas yang steril. Kemudian
tempelkan disk yang berisi sampel, standar tetrasiklin serta pelarutnya yang
digunakan sebagai kontrol. Lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35°C. dilakukan
pengukuran daya hambat zat terhadap baketri.
Uji fitokimia dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi Lieberman-
Burchard. Perekasi Lebermann-Burchard merupakan campuran antara asam setat
anhidrat dan asam sulfat pekat. Alasan digunakannya asam asetat anhidrat adalah
untuk membentuk turunan asetil dari steroid yang akan membentuk turunan asetil
didalam kloroform setelah. Alasan penggunaan kloroform adalah karena golongan
senyawa ini paling larut baik didalam pelarut ini dan yang paling prinsipil adalah
tidak mengandung molekul air. Jika dalam larutan uji terdapat molekul air maka asam
asetat anhidrat akan berubah menjadi asam asetat sebelum reaksi berjalan dan turunan
asetil tidak akan terbentuk.
4
MATERI DAN METODE
Bahan
Biji pepaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji pepaya yang
berwarna putih yang diambil di daerah Kupang-NTT. Bahan kimia yang digunakan
seperti metanol (teknis dan p.a), kloroform p.a, n-heksana (p.a dan teknis), asam
sulfat pekat, asam asetat anhidrat, kalium bromida (KBr), silika gel GF254, silika gel
60, etilasetat p.a, eter p.a, etanol (p.a dan teknis), dan akuades.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah berbagai alat gelas, seperangkat alat
kromatografi (KLT dan kolom), lampu ulta violet 254 nm dan 366 nm,
spektrofotometer ultra violet -tampak, serta spektrofotometer inframerah.
Cara Kerja
Biji pepaya yang berwarna putih dicelupkan ke dalam etanol panas kemudian
dikeringkan dan dihaluskan. Sebanyak 500 g serbuk kering biji pepaya diekstraksi
dengan cara maserasi menggunakan pelarut n-heksana. Ekstrak yang didapat
diuapkan dengan rotary vacuum evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental n-
heksana. Ekstrak kental tersebut diuji fitokimia dengan pereaksi Liebermann-
Burchard untuk menentukan ada tidaknya triterpenoid. Ekstrak kental positif
triterpenoid dipisahkan dengan kromatografi kolom. Sebelum dilakukan pemisahan
dengan kromatografi kolom, terlebih dahulu dilakukan pemilihan eluen dengan
teknik KLT. Hasil pemisahan kromatografi kolom (silika gel 60, n-heksana : eter :
etilasetat : etanol (2:3:3:2)) yang sama digabungkan dan dikelompokkan menjadi
kelompok fraksi. Masing-masing kelompok fraksi tersebut diuji untuk triterpenoid.
Fraksi yang positif mengandung triterpenoid dengan noda tunggal dilanjutkan dengan
uji kemurnian secara KLT dengan beberapa campuran eluen. Bila tetap menghasilkan
satu noda maka fraksi tersebut dapat dikatakan sebagai isolat relatif murni secara
KLT. Isolat relatif murni ini kemudian dianalisis dengan Spektrofotometer Ultra
violettampak dan Inframerah.
5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolat yang diperoleh sebanyak 50 mg dari sekitar 500 g sampel serbuk kering
biji papaya. Pemisahan 21,66 g ekstrak kental nheksana menggunakan kromatografi
kolom (silika gel 60, n-heksana : eter : etilasetat : etanol (2:3:3:2)) menghasilkan 127
eluat, yang kemudian difraksinasi denagn KLT menghasilkan 3 kelompok fraksi.
Ketiga kelompok fraksi tersebut diuji untuk triterpenoid dengan pereaksi
Liebermann-Burchard. Hasil uji triterpenoid ketiga kelompok fraksi tersebut
dipaparkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil uji triterpenoid
Fraksi Berat (g) Pereaksi LB
F1 (5-23) F2 0,10 Coklat
(24-65) F3 1,22 Merah ungu
(66-127) 0,05 Merah ungu
Fraksi yang dilanjutkan untuk analisis lebih lanjut adalah fraksi F3. Uji
kemurnian dengan analisis KLT menggunakan beberapa fase gerak menghasilkan
isolat relatif murni dengan satu noda pada berbagai polaritas eluen yang digunakan.
Hasil analisis dengan spektrofotometri inframerah menunjukkan adanya serapan
-1 -1
tajam pada daerah bilangan gelombang 2923,8 cm dan 2852,2 cm yang diduga
serapan dari gugus C-H alifatik stretching. Dugaan ini diperkuat oleh adanya serapan
-1 -1
pada daerah bilangan gelombang 1464,4 cm dan 1206,5 cm yang merupakan
serapan dari -CH2 dan –CH3 bending. Pita serapan yang tajam pada daerah bilangan
-1
gelombang 1710,4 cm dengan intensitas kuat mengidentifikasikan gugus karbonil
(C=O) (Sastrohamidjojo, 1985). Identifikasi dengan spektrofotometri ultra violet -
tampak menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang 228,5 nm yang
*
kemungkinan diakibatkan oleh terjadinya transisi elektrón n-0 dari kromofor C=O.
Hal ini didukung hasil analisis spektrofotometri inframerah yang menunjukkan isolat
mempunyai gugus fungsi C=O pada panjang gelombang 1710,4 nm. Serapan ultra
violet yang landai pada panjang gelombang 287,7 nm kemungkinan diakibatkan oleh
*
terjadinya transisi elektronik n -J dari ikatan rangkap C=O (Sastrohamidjojo, 1985).
Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa isolat triterpenoid (F3)
dengan konsentrasi 1000 ppm memiliki potensi menghambat pertumbuhan bakteri
6
dengan diameter daerah hambat sebesar 10 mm untuk bakteri E. coli dan 7 mm untuk
bakteri S. aureus.
7
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa isolat dari biji pepaya
kemungkinan merupakan senyawa golongan triterpenoid aldehida dengan
karakteristik gugus fungsi: –CH2, –CH3, dan C=O. Isolat triterpenoid mempunyai
potensi sebagai antibakteri pada konsentrasi 1000 ppm.
Saran
Perlu dilakukan uji aktivitas lain untuk mengetahui keaktifan dari isolat triterpenoid.
8
DAFTAR PUSTAKA
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia. Padmawinata K, Soediro I, penerjemah.
Bandung : Penerbit ITB. Terjemahan dari : Phytochemical methods.
IW.G Gunawan, dkk. 2008. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Terpenoid yang Aktif
Antibakteri pada Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn). ISSN 1907-9850
Sukadan I.M, dkk. 2008. Aktivitas Antibakteri Golongan Triterpenoid dari Biji
Pepaya (Carisa papaya L). ISSN 1907-9850.