Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL

DENGAN ATONIA UTERI

Disusun Oleh :
Dian Ristina hidayah (14.401.16.013)
Dias mutiara kasih (14.401.16.014)
Dita puri rahayu (14.401.16.015)
Dony prasetyo (14.401.16.016)
Dwi ariska styaningrum (14.401.16.017)
Effendi (14.401.16.018)
Elika sri wulan (14.401.16.019)
Ending nurul solekah (14.401.16.021)
Erina triwiyanti (14.401.16.022)
Ervin nurdiana (14.401.16.023)

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
TAHUN AKADEMIK 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk
masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Banyuwangi, 20 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii

DAFTAR ISI................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 1
C. Tujuan .............................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian ......................................................................................................... 3
B. Etiologi .............................................................................................................. 4
C. Tanda dan Gejala ............................................................................................. 4
D. Patofosiologi...................................................................................................... 5
E. Penatalaksanaan .............................................................................................. 7
F. Penilaian Klinis ................................................................................................ 10
G. Pengkajian ........................................................................................................ 11
H. Diagnose ............................................................................................................ 15
I. Intervensi .......................................................................................................... 15

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................................... 22
B. Saran ................................................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 23

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perdarahan pasca persalinan / pasca partum atau dikenal juga sebagai homoragi
post partum (HPP), yang merupakan perdarahan per vaginam yang melebihi 500 ml
setelah bersalin dan biasanya menyebabkan kehilangan banyak darah adalah masalah
kegawat daruratan yang serius di bidang kebidanan. Bidan sebagai tenaga professional
yang diandalkan oleh masyarakat dapat mengenali sedini mungkin tanda – tanda
perdarahan pasca persalinan ini dan melakukan konsultasi dan rujukan segera dan cepat
ke fasilitas yang lebih lengkap (Maryunani, 2016).
Perdarahan intrapartum atau pascapartum dini yang parah kadang-kadang diikuti
oleh kegagalan hipofisis (sindrom sheehan) yang ditandai oleh kegagalan laktasi,
amenore, atrofi payudara, rontoknya rambut pubis dan aksila, hipotiroidisme, dan
insufisiensi korteks adrenal. Insidensi sindrom sheehan semula diperkirakan adalah 1 per
10.000 persalinan. Di Amerika Serikat, sindrom ini tampaknya sudah semakin jarang
dijumpai (Sari, 2013).
Perdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk berkontraksi
secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus, perdarahan postpartum dapat
diperkirakan jauh sebelum pelahiran. Contoh-contoh ketika trauma dapat menyebabkan
perdarahan postpartum anatara lain pelahiran janin besar, pelahiran dengan forseps
tengah, rotasi forseps, setiap manipulasi intrauterus, dan mungkin persalinan pervaginam
setelah seksio sesarea (VBAC) atau insisi uterus lainnya. Atonia uteri yang menyebabkan
perdarahan dapat diperkirakan apabila digunakan zat-zat anestetik berhalogen dalamm
konsentrasi tinggi yang menyebabkan relaksasi uterus (Yulianingsih, 2009).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan atonia uteri?
2. Apa saja yang dapat menyebabkan atonia uteri pada ibu hamil?
3. Bagaimana tanda dan gejala yang muncul pada atonia uteri?
4. Apa saja hal yang perlu dilakukan pada ibu dengan atonia uteri?

1
5. Hal apa saja yang perlu dikaji pada ibu dengan atonia uteri?
6. Diagnosa keperawatan apa saja yang muncul?
7. Bagaimana rencana tindakan yang perlu dilakukan?

C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami :
1. Apa yang dimaksud dengan atonia uteri
2. Apa saja yang dapat menyebabkan atonia uteri pada ibu hamil
3. Bagaimana tanda dan gejala yang muncul pada atonia uteri
4. Apa saja hal yang perlu dilakukan pada ibu dengan atonia uteri
5. Hal apa saja yang perlu dikaji pada ibu dengan atonia uteri
6. Diagnosa keperawatan apa saja yang muncul
7. Bagaimana rencana tindakan yang perlu dilakukan

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP PENYAKIT

A. Pengertian
Atonia uteri didefinisikan sebagai suatu kondisi kegagalan uterus dalam
berkontraksi dengan baik setelah persalinan, sedangkan atonia uteri juga di definisikan
sebagai tidak adanya kontraksi uterus segera setelah plasenta lahir. Sebagian besar
perdarahan pada masa nifas (75% - 80%) adalah akibat adanya atonia uteri. Sebagaimana
kita ketahui bahwa aliran darah uteroplasenta selama masa kehamilan adalah 500 – 800
ml/menit, sehingga kita bayangkan ketika uterus tidak berkontraksi selama beberapa
menit saja maka akan menyebabkan kehilangan darah yang sangat banyak. Sedangkan
volume darah hanya sekitar 5 -6 liter saja. Antonia uteri (relaksasi otot uterus) adalah
uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatah fundus uteri (plasenta
telah lahir) (Sukarni, 2014).
Atonia Uteri adalah kegagalan serabut – serabut otot miometrium uterus untuk
berkontraksi dan memendek. Hal ini merupakan penyebab perdarahan post partum yang
paling penting dan biasa terjadi segera setelah bayi lahir hingga 4 jam setelah persalinan.
Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah ke syok
hipovolemik. Atonia uteri merupakan penyabab utama terjadinya perdarahan pasca
persalinan. Pada atonia uteri, uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan
(Yulianti, 2010).
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus / kontraksi yang menyebabkan uterus
tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi
dan plasenta lahir (Sari, 2013).
Atonia uteri merupakan perdarahan pasca persalinan yang dapat terjadi karena
terlepasnya sebagian plasenta dari uterus dan sebagian lagi belum terlepas. Atonia uteri
terjadi bila miometrium tidak berkontraksi. Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah
pada bekas perlekatan plasenta terbuka lebar (Yulianingsih, 2009).

3
B. Etiologi
Antonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan factor predisposisi
(penunjang) seperti :
1. Overdestention uterus seperti : gemeli nakrosomia, polihidroamnion, atau paritas
tinggi
2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua
3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek
4. Partus lama/ terlantar
5. Malnutrisi
6. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas
dari dinding uterus
(Sukarni, 2014)
Menurut Sari (2013) factor predisposisi atonia uteri meliputi beberapa hal berikut :
1. Peregangan rahim berlebihan karena kehamilan gemeli, polihidramnion dan anak
terlalu besar
2. Kelelahan karena persalinan lama atau terlambat
3. Kehamilan grande multipara
4. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menaun
5. Mioma uteri yang mengganggu kontraksi rahim
6. Infeksi uterine (korioamnionitis)
7. Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya
8. Kelainan uterus (leiomioma,kelainan kogential
9. Persalinan yang terlalu cepat sehingga rahim kelelahan dan tidak dapat berkontraksi
10. Plasenta previa dan solusion plasenta
11. Preeklamsi dan eklamsia
C. Manifestasi Klinis
1. Perdarahan pervaginam
Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah tidak
merembes. Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan, hal ini terjadi
karena tromboplastin sudah tidak ada lagi sebagai anti pembeku darah.

4
2. Konsistensi rahim lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting / khas atonia dan yang membedakan atonia
dengan penyebab perdarahan yang lainnya
3. Fundus uteri naik
Disebabkan adanya yang terperangkap dalam cavum uteri dan menggumpal
4. Terdapat tanda – tanda syok
Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual
dan lain – lain.
(Sukarni, 2014)
D. Patofisiologi
Perdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk berkontraksi
secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus, perdarahan postpartum dapat
diperkirakan jauh sebelum pelahiran. Contoh-contoh ketika trauma dapat menyebabkan
perdarahan postpartum anatara lain pelahiran janin besar, pelahiran dengan forseps
tengah, rotasi forseps, setiap manipulasi intrauterus, dan mungkin persalinan pervaginam
setelah seksio sesarea (VBAC) atau insisi uterus lainnya. Atonia uteri yang menyebabkan
perdarahan dapat diperkirakan apabila digunakan zat-zat anestetik berhalogen dalam
konsentrasi tinggi yang menyebabkan relaksasi uterus
Uterus yang mengalami overdistensi besar kemungkinan besar mengalami
hipotonia setelah persalinan. Dengan demikian, wanita dengan janin besar, janin multipel,
atau hidramnion rentan terhadap perdarahan akibat atonia uteri. Kehilangan darah pada
persalinan kembar, sebagai contoh, rata-rata hampir 1000 ml dan mungkin jauh lebih
banyak (pritchard, 1965). Wanita yang persalinannya ditandai dengan his yang terlalu
kuat atau tidak efektif juga dengan kemuungkinan mengalami perdarahan berlebihan
akibat atonia uteri setelah melahirkan.
Demikian juga, persalinan yang dipicu atau dipacu dengan oksitosin lebih rentan
mengalami atonia uteri dan perdarahan postpartum. Wanita dengan paritas tinggi
mungkin berisiko besar mengalami atonia uteri. Fucs dkk. (1985) melaporkan hasil akhir
pada hampir 5800 wanita para 7 atau lebih. Mereka melaporkan bahwa insiden
perdarahan postpartum sebesar 2,7 persen pada para wanita ini meningkat empat kali
lipat dibandingkan dengan populasi obstetri umum. Babinszki dkk. (1999) melaporkan

5
insiden perdarahan postpartum sebesar 0,3 persen pada wanita dengan paritas rendah,
tetapi 1,9 persen pada mereka dengan para 4 atau lebih.
Risiko lain adalah wanita yang bersangkutan perbah mengalami perdarahan
postpartum. Akhirnya, kesalahan penatalaksanaan persalinan kala tiga berupa upaya
untuk mempercepat pelahiran plasenta selain dari pada mengeluarkannya secara manual.
Pemijatan dan penekanan secara terus menerus terhadap uterus yang sudah berkontraksi
dapat mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta sehingga pemisahan plasenta
tidak sempurna dan pengeluaran darah meningkat.

6
Pathway

Atonia Uteri

Kegagalan uteri untuk berkontraksi

Uterus dalam keadaan relaksasi, melebar, dan lember

Pembuluh darah tak mampu berkontraksi

Pembuluh darah tetap terbuka

Penurunan jumlah
cairan intravaskuler

Persalinan dengan
Jumlah HB menurun (episiotomy), robekan
Berlangsung secara
serviks, robekan perineum Terbentuknya porte
terus menerus
de entre
Suplai O2 ke jaringan
menurun Prosedur invansif
Penurunan jumlah cairan
intravaskuler dalam Virus / bakteri
Hipoksia jaringan
jumlah yang banyak Terutusnya inkontinuitas jaringan dapat mudah masuk
kedalam tubuh
5L, mukosa pucat, akral
dingin,konjungtiva anemis, nadi Rejatan hipovolemik Nyeri akut bd luka Resiko infeksi bd
cepat lemah post op port de entre luka
post operasi
Resiko syok hipovolemik
Ketidakefektifan perfusi jaringan
1
perifer
E. Penatalaksanaan
1. Masase dan kompresi bimanual
Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan
menghentikan perdarahan
Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (maksimal 15 detik)
a. Gunakan sarung tangan DDT panjang
b. Bersihkan vulva dan perineum dengan cairan antiseptic
c. Kosongkan kandung kemih
d. Mengelurkan semua bekuan darah atau selaput yang mungkin masih tertinggal
e. Segera memulai kompresi bimanual internal
f. Masukkan tangan yang memakai sarung tangan ke dalam vagina secara obstetric
g. Kepalkan tangan pada forniks anterior
h. Tekankan tangan yang ada dalam vagina dengan mantap
i. Tekankan tangan luar pada perut dan gunakan tekanan melawan kepalan tangan
yang berada di dalam vagina secara bersamaan
j. Tahan dengan mantap
k. Kontraksi pertahankan tekanan selama 2 menit, lalu dengan perlahan tariklah
tangan keluar. Jika uterus berkontraksi, teruskan pemantauan
l. Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit, suruhlah anggota keluarga untuk
melakukan kompresi bimanual ekternal (KBE) sementara kita member injeksi
methergin 0,2 mg IM dan memulai infuse IV (RL dengan 20 IU Oksitosin/ 500 cc
terbuka lebar/ guyur)
m. Jika uterus tetap tidak berkontraksi setelah 5 – 7 menit, segeralah perujukan
dengan IV tetap terpasang dengan laju 500 cc/jam tiba di tempat perujukan atau
jumlah seluruhnya 1,5 liter di infuskan, lalu teruskan dengan laju infuse 125
cc/jam.
(Sukarni, 2014)
2. Resusitasi
Apabila terjadi perdarahan postpartum banyak, maka penanganan awal yaitu
resusitasi dengan oksigen dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda – tanda vital,

7
jumlah urin dan saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu
dilakukan untuk persiapan tranfusi darah (Sukarni, 2014).
3. Uterotonika
Oksitosin merupakan hormone sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis.
Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan
meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah,
oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekuensi, tetapi pada dosis tinggi
menyebabkan tetanus. Oksitosin dapat diberikan lewat infuse RL 20 IU per Liter, jika
sirkulasi kolaps bias diberikan oksitosin 10 IU IM (Sukarni, 2014).
4. Uterine lavage dan uterine packing
Pemberian 1 – 2 liter salin langsung ke dalam cavum uteri menggunakan pipa infuse.
Prinsipnya adalah membuat distensi maksimum sehingga memberikan tekanan
maksimum pada dinding uterus. Segmen rahim harus terisi sekuat mungkin, anastesi
dibutuhkan dalam penanganan ini dan antibiotika broad – spectrum harus diberikan.
(Sukarni, 2014).
5. Operatif
Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterine menghasilkan angka keberhasilan 80
– 90 % (Sukarni, 2014).
6. Ligasi arteri iliaka interna
Indikasi bifurkarsol arteri iliaka, tempat ureter menyilang untuk melakukan harus di
lakukan insisi 5 – 8 cm pada peritoneum lateral parallel dengan garis ureter. Setelah
peritorium dibuka, ureter dibalik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm
distal bifukarsio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri dan
dengan menggunakan benang non absorbable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5
– 2 cm. hindari trauma pada bena iliaka interna. Odentofikasi denyut arteri iliaka
eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelu dan sesudah ligasi. Resiko ligasi arteri
iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam
wmelakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.
(Sukarni, 2014).

8
7. Tehnik B – Lynch
Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Chisropher B
Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan
postpartum akibat atonia uteri (Sukarni, 2014).
8. Histerektomi
Histerektomi peripartum meruakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi
perdarahan postpartum masih membutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai 7
– 13 per 100.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal
dibandingkan vaginal(Sukarni, 2014).

9
F. Penilaian Klinik Atonia Uteri
(Oktarina, 2016)
Atonia Uteri

 Multiparitas  Kadar Hb
 Partus lama  Jenis dan uji silang
 Regangan uterus darah
 Solusio placenta  Nilai fungsi
pembekuan

Masase uterus dan kompresi bimanual


oksitosin 10 IU IM dan infus 20 IU dalam 500 ml
NS/RL tetes – guyur
infus untuk restorasi cairan dan jalur obat esensial

Perdarahan uterus Identifikasi sumber


berlangsung perdarahan lain :
laserasi jalan lahir,
hematoma, parametrial,
Uterus tidak berkontraksi rupture uteri, inversion
uteri, dan sisa fragmen
Kompresi bimanual placenta
Kompresi aorta abdominalis
tekanan segmen bawah atau
aorta abdominalis

Berhasil
Tidak berhasil

Tampon uterus - Rujuk

Ligasi arteri uterine


Terkontrol dan ovarika
Masih Perdarahan

Tranfusi
Tranfusi

Rawat lanjut
Observasi Histerektomi

10
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian yang benar dan
terarah akan mempermudah dalam merencanakan tindakan dan evaluasi dari tidakan yang
dilakasanakan. Pengkajian dilakukan secara sistematis, berisikan informasi subjektif dan
objektif dari klien yang diperoleh dari wawancara dan pemeriksaan fisik. Pengkajian
terhadap klien post meliputi:
a. Anamnesa
1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical
record dan lain – lain.
2. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, hemofilia,
riwayat pre eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi pembuluh
darah, tempat implantasi plasenta, retensi sisa plasenta.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam jumlah banyak
(>500ml), Nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus, pusing, gelisah,
letih, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, dan mual.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita hipertensi,
penyakit jantung, dan pre eklampsia, penyakit keturunan hemopilia dan
penyakit menular.
3. Riwayat obstetric
a) Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya ,
keluhan waktu haid, HPHT
b) Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai
hamil

11
c) Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu
1) Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah ada
abortus, retensi plasenta.
2) Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan, penolong,
tempat bersalin, apakah ada kesulitan dalam persalinan anak lahir atau
mati, berat badan anak waktu lahir, panjang waktu lahir.
3) Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada pendarahan, ASI
cukup atau tidak dan kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan
kontraksi
d) Riwayat Kehamilan sekarang
1) Hamil muda, keluhan selama hamil muda
2) Hamil tua, keluhan selama hamil tua, peningkatan berat badan, tinggi
badan, suhu, nadi, pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi
akibat mual, keluhan lain
3) Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan, beberapa
kali, perawatan serta pengobatannya yang didapat
b. Pola aktifitas sehari-hari.
1. Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi, baik sebelum dirawat
maupun selama dirawat. Adapun makan dan minum pada masa nifas harus
bermutu dan bergizi, cukup kalori, makanan yang mengandung protein, banyak
cairan, sayur-sayuran dan buah – buahan.
2. Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna, konsistensi. Adanya
perubahan pola miksi dan defeksi. BAB harus ada 3-4 hari post partum sedangkan
miksi hendaklah secepatnya dilakukan sendiri (Rustam Mukthar, 1995 )
3. Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena perubahan peran dan
melaporkan kelelahan yang berlebihan.
4. Personal hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi, menggosok gigi, keramas,
baik sebelum dan selama dirawat serta perawatan mengganti balutan atau duk.

12
B. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
a) Mulut : bibir pucat
b) Payudara : hyperpigmentasi, hipervaskularisasi, simetris
c) Abdomen : terdapat pembesaran abdomen
d) Genetalia : terdapat perdarahan pervaginam
e) Ekstremitas : dingin
2. Palpasi
a) Abdomen : uterus teraba lembek, TFU lebih kecil daripada UK, nyeri tekan, perut
teraba tegang, messa pada adnexa.
b) Genetalia : Nyeri goyang porsio, kavum douglas menonjol.
3. Auskultasi
a) Abdomen : bising usus (+), DJJ (-)
4. Perkusi
a) Ekstremitas : reflek patella + / +
C. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
1. Rambut dan kulit
a. Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c. Laju pertumbuhan rambut berkurang.
2. Mata : pucat, anemis
3. Hidung
4. Gigi dan mulut
5. Leher
6. Buah dada / payudara
a) Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b) Bertambahnya ukuran dan noduler
7. Jantung dan paru
a) Volume darah meningkat
b) Peningkatan frekuensi nadi

13
c) Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
d) Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e) Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
f) Diafragma meninggi.
g) Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
8. Abdomen
a) Menentukan letak janin
b) Menentukan tinggi fundus uteri
9. Vagina
a) Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
b) Hipertropi epithelium
10. System musculoskeletal
a) Persendian tulang pinggul yang mengendur
b) Gaya berjalan yang canggung
c) Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
D. Pemeriksaan Khusus
Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi dengan
mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi :
1. Nyeri/ketidaknyamananNyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan)
Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma).
2. Sistem vaskuler
a) Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam 1, kemudian tiap 8 jam
berikutnya
b) Tensi diawasi tiap 8 jam
c) Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah
d) Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan
e) Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek koagulasi
kongenital, idiopatik trombositopeni purpura.
3. Sistem Reproduksi
a) Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum, kemudian tiap 8
jam selama 3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan posisinya serta konsistensinya

14
b) Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna, banyak dan bau
c) Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi, luka jahitan
dan apakah ada jahitannya yang lepas
d) Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak
e) Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum
f) Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum
kehamilan (sub involusi)
4. Traktus urinarius
Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama. Meliputi miksi lancar atau tidak,
spontan dan lain-lain
5. Traktur gastro intestinal
Observasi terhadap nafsu makan dan obstipasi
6. Integritas Ego : Mungkin cemas, ketakutan dan khawatir
E. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang berlebihan
2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovelemia
3. Ansietas berhungan dengan krisis situasi, ancaman perubahan pada status kesehatan
atau kematian, respon fisiologis
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, Stasis cairan
tubuh, penurunan Hb
5. Resiko tinggi terhadap nyeri berhubungan dengan trauma/ distensi jaringan
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan atau tidak mengenal
sumber informasi
F. Diagnosa dan Rencana Tindakan Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang berlebihan
Intervensi :
- Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan faktor-faktor
penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (misalnya laserasi, fragmen
plasenta tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli cairan amnion atau retensi
janin mati selama lebih dari 5 minggu)

15
Rasional : Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat dan
memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi terjadinya komplikasi.
- Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung pembalut,
simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.
Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena, dan adanya bekuan-
bekuan membantu membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan
penggantian.
- Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan perlahan masase
penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan tangan kedua diatas
simpisis pubis.
Rasional : Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa banding.
Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan kehilangan darah.
Penempatan satu tangan diatas simphisis pubis mencegah kemungkinan inversi
uterus selama masase.
- Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis
dasar kuku, membran mukosa dan bibir.
Rasional : Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan terjadinya syok.
Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah
menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.
- Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau tekanan baji
arteri pulmonal bila ada.
Rasional : Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume sirkulasi dan
kebutuhan penggantian.
- Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh horizontal.
Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan reduksi aktivitas.
Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik vena, menjamin
persediaan darah keotak dan organ vital lainnya lebih besar.
- Pertahankan aturan puasa saat menentuka status/kebutuhan klien.
Rasional : Mencegah aspirasi isi lambung dalam kejadian dimana sensorium
berubah dan/atau intervensi pembedahan diperlukan.
- Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.

16
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilangan cairan.
Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan keluaran 30 – 50 ml/jam atau
lebih besar.
- Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan pemeriksaan vagina
dan/atau rectal
Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal, vaginal atau
perineal atau hematoma terjadi.
- Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ancietas dan kebutuhan
metabolik.
- Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan tekanan
balik pada laserasi labial atau perineal.
Rasional : Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut pada
laserasi jalan lahir.
- Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit dari myometrium dengan
jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta terhadap tanda-tanda KID.
Rasional : Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan placenta secara
manual yang dapat mengakibatkan koagulopati.
- Mulai Infus I atau 2 i.v dari cairan isotonik atau elektrolit dengan kateter !8 G
atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau produk darah (plasma,
kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi.
Rasional : Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk darah
untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah pembekuan.
- Berikan obat-obatan sesuai indikasi :
Oksitoksin, Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.
Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan
miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan hemoragi
pada adanya atonia.
Magnesium sulfat
Rasional : Beberapa penelitian melaporkan penggunaan MGSO4 memudahkan
relaksasi uterus selama pemeriksaan manual.

17
Terapi Antibiotik.
Rasional : Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi atau
mungkin perlu diperlukan untuk infeksi yang disebabkan atau diperberat pada
subinvolusi uterus atau hemoragi.
- Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb dan Ht.
Rasional : Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap ml darah
membawa 0,5 mg Hb.

2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia


Intervensi :
- Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah. Kaji status nutrisi,
tinggi dan berat badan.
Rasional : Nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah.
Status yang ada sebelumnya dari kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya
cedera dari kekurangan oksigen.
- Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode hipovolemik.
Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan derajat dan
durasi hipotensi. Peningkatan frekuensi pernapasan dapat menunjukan upaya
untuk mengatasi asidosis metabolik.
- Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan prilaku.
Rasional : Perubahan sensorium adalah indikator dini dari hipoksia, sianosis,
tanda lanjut dan mungkin tidak tampak sampai kadar PO2 turun dibawah 50
mmHg.
- Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan suhu kulit.
Rasional : Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirkulasii pada
pembuluh darah perifer diperlukan yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit
dingin.
- Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan
Rasional : Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor sirkulasi
kejaringan.
- Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi

18
Rasional : Memudahkan pemberian oksigen.

3. Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan atau


kematian.
Intervensi :
- Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian hemoragi pasca
partum. Klarifikasi kesalahan koinsep.
Rasional : Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi klien
tentang kejadian mungkin menyimpang, memperberat ancietasnya.
- Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca partum; misalnya tachikardi,
tachipnea, gelisah atau iritabilitas.
Rasional : Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena respon
fisiologis, ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-faktor psikologis.
- Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.
Rasional : Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional dalam
berespon terhadap perubahan status fisiologis. Membantu dalam menurunkan
tranmisi ansietas antar pribadi.
- Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ancietas, berikan kesempatan pada
klien untuk mengungkapkan perasaan.
Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas informasi,
memperbaiki kesalahan konsep, dan meningkatkan perspektif, memudahkan
proses pemecahan masalah.

4. Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.


Intervensi :
- Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien terhadap nyeri
perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina, kontraksi uterus atau nyeri
tekan abdomen.
Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode tindakan.
Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma, karena tekanan dari hemaoragik
tersembunyi kevagina atau jaringan perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin

19
sebagai akibat dari atonia uterus atau tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri
berat, baik pada uterus dan abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.
- Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.
Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang
memperberat persepsi ketidaknyamanan.
- Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada perineum atau
lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.
Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan hematoma
serta sensasi nyeri, panas meningkatkan vasodilatasi yang memudahkan resorbsi
hematoma.
- Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.

5. Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.


Intervensi :
- Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri. Tinjau
ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material yang
terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.
Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organinisme infeksious.
- Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP
Rasional : Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari beturut-turut
(tidak menghitung 24 jam pertama pasca partum), tachikardia, atau leukositosis
dengan perpindahan kekiri menandakan infeksi.
- Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri
pelvis.
Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan
menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak teratasi.
- Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan (perubahan pada
bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent), mastitis (bengkak, eritema,
nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi,
nyeri).

20
Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang efektif.
- Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.
Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan dan
merusak sistem imun.
6. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi :
- Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap
penyebab hemoragi.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami
dan mengatasi situasi.
- Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk belajar.
Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk bertanya dan
meninjau materi.
Rasional : Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan rencana
perawatan individu. Menurunkan stress dan ancietas, yang menghambat
pembelajaran, dan memberikan klarifikasi dan pengulangan untuk meningkatkan
pemahaman.
- Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca partum, seperti
perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien tidak mampu
melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera sesuai keinginannya).
Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang realistis
untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas perawatan bayi.
- Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum dengan tepat,
misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan selanjutnya, atonia
uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang bila
histerektomie dilakukan.
Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi
dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan sekarang.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus / kontraksi rahim yang menyebabkan
uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah
bayi dan plasenta lahir. Perdarahan oleh karena atonia uteri dapat dicegah dengan:
Melakukan secara rutin manajemen aktif kala III pada semua wanita yang bersalin
karena hal ini dapat menurunkan insiden pendarahanpasca persalinan akibat atonia
uteri.Pemberian misoprostol peroral 2 – 3 tablet (400 – 600 µg) segera setelah bayi lahir.
Regangan rahim berlebihan karena gemeli, polihibramnion, atau anak terlalu besar.
Kelelahan karena persalinan lama atau persalina kasep. Kehamilan grande-multipara. Ibu
dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menahun. Mioma
uteri yang menggangu kontraksi rahim. Infeksi intrauterin (korioamnionitis). Ada riwayat
pernah atonia uteri sebelumnya.

B. Saran
Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu meminimalkan faktor
risiko dari atonia uteri demi mempertahankan dan meningkatkan status derajat kesehatan
ibu dan anak. Selain itu , mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga
kesehatan mampu menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada
masyarakat secara menyeluruh.

22
DAFTAR PUSTAKA

Maryunani, A. (2016). Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan Edisi 2. Jakarta: CV Trans


Info Media.

Oktarina, M. (2016). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Yogyakarta: CV Budi Utama.

Sari, A. M. (2013). Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Jakarta: CV Trans Info
Media.

Sukarni, I. (2014). PATOLOGI Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Neonatus Resiko Tinggi.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Yulianingsih, A. M. (2009). Asuhan Kegawatdaruratan dalam Kebidanan. Jakarta: CV Trans


Info Media.

Yulianti, L. (2010). Asuhan Kebidanan (patologi Kebidanan). Jakarta: CV.Trans Info Media.

23