Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN KEDOKTERAN JIWA LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN 17 SEPTEMBER 2018

UNIVERSITAS AL-KHAIRAAT

PALU

SKIZOFERENIA TAK TERINCI

DISUSUN OLEH:
A Nurul afiah ali
13-17777-14-230

SUPERVISOR : dr. Mery Tjandra, M.kes,Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN KEDOKTERAN JIWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU

2018

1
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An.R
Umur : 13 tahun
Alamat : DS Kalukubula
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan :-
Agama : Islam
Status Perkawinan : belum menikah
Tgl. Pemeriksaan : 15 September 2018

II. LAPORAN PSIKIATRIK


ANAMNESIS (Autoanamnesis & Alloanamnesis)
A. Keluhan Utama : Gelisah
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluhan dan Gejala : (Autoanamnesa & Alloanamnesis)
Pasien datang ke RSUD MADANI Palu dengan keluhan gelisah yang dirasakan 5 hari
yang lalu disertai dengan bicara membanjir. Pasien juga menceritakan bahwa dia sangat
tidak menyukai temannya yang mengajaknya merokok, memakai obat-obatan bahkan
menyilet salah satu tubuhnya. Selain itu, pasien juga merasa tidak disukai oleh
keluarganya termasuk orang tuanya dan adiknya. Pasien sering mendengar bisikan-
bisikan dari kakaknya yang sudah meninggal untuk menyuruhnya minum susu bahkan
mengancam sedangkan dari bisikan kakeknya yang sudah meninggal dia merasa seperti
dimotivasi seperti untuk selalu bantu mamanya. Pasien sering merasa dikucilkan oleh
temannya. Mual, muntah, sakit kepala, nyeri, demam tidak dikeluhkan oleh pasien. BAB
dan BAK lancar.

Hendaya/disfungsi :
Tidak mudah dipahami/ inkoheren

C. Faktor Stresor Psikososial


Dalam hal ini pasien merasa kasih sayang orang tuanya kurang, orang tuanya hanya
mengejar uang dan dia tidak diperhatikan hanya neneknya yang dia anggap sebagai orang
tuanya.

2
D. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Tidak ada dalam keluarga pasien mengalami hal yang sama.

E. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien tidak mempunyai riwayat merokok, menggunakan obat-obat terlarang disangkal
oleh pasien.

F. Riwayat Gangguan Sebelumnya


-

G. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Pranatal dan perinatal
Pasien dilahirkan dengan perencanaan, tidak ada masalah pada saat kehamilan dan
kelahiran pasien, keadaan emosional ibu pada kehamilan baik, dan tidak ada
penggunaan obat maupun alkohol pada saat kehamilan.
2. Masa Kanak-kanak awal (lahir sampai usia 3 tahun)
Pasien mempunyai kebiasaan makan sejak kecil seperti pemberian ASI atau susu
formula oleh ibunya, dan tidak pernah mempunyai masalah makan.
Lalu perkembangan awal berjalan, berbiacara, tumbuh gigi, perkembangan
bahasa, perkembangan motorik, tanda-tanda kebutuhan yang tak terpenuhi, pola tidur,
kosnsitensi objek, ansietas terhadap asing, deprivasi maternal, ansietas terhadap
perpisahan, pengasuh lain dirumah seperti neneknya tidak mempunyai masalah dan
sesuai dengan perkembangan masa kanak-kanak.
Latihan buang air pada saat usia kanak-kanak awal sama dengan anak pada
umumnya, sikap orang tua dan perasaan hal itu mendukung untuk perkembangan
anaknya.
Tidak didapatkan gejala masalah perilaku seperti mengisap jempol, temper
tantrum,tik, membenturkan kepala, menggoyangkan badan jika ada musik, teror
malam ketakutan, mengompol atau buang air besar saat tidur, menggigit kuku,
masturbasi berlebihan.
Kepribadian anak sebagai anak yang pemalu, terbuka, bersahabat dan mudah
bergaul.

3
3. Masa kanak-kanak menengah (usia 3 sampai 11 tahun)
Pengalaman pertama kali sekolah sangat baik seperti berpisah pada saat
perpisahan dengan ibu, persahabatan dengan teman-temannya baik, dapat mengambil
peran sebagai pengikut, ikut partisipasi dalam organisasi PMR sebagai relawan
kecil,mampu bekerja sama dengan teman sebayanya, memahami serta mematuhi
peraturan baik dari sekolah maupun organisasinya, pola perilaku agresif terhadap
kegiatannya di PMR,riwayat pasien dalam belajar membaca dan perkembangan
intelektual, dan motorik lainnya normal pada umumnya.
Riwayat gangguan belajar, penanganan serta pengaruhnya terhadap anak tidak
didapatkan gangguan.

H. Riwayat Kehidupan Keluarga


Pasien anak keempat dari 7 bersaudara. Pasien memiliki saudara laki-laki 3, satu
orang meninggal karena kecelakaan, dan memiliki adik perempuan sebanyak 2 orang.

I. Situasi Sekarang
Pasien merasa tidak berhenti bicara, merasa curiga terhadap teman-temannya dan
keluarganya, merasa muncul bisikan-bisikan untuk minum susu, suara yang
menyakitinya, merasa seperti dibisik oleh jin karena mereka lebih dari satu. Selalu
melawan dengan menyuruh temannya untuk mengaji atau bahkan dia sendiri saja yang
mengaji sehingga pasien merasa bisikan itu langsung pergi setelah dia mengaji. Bisikan
itu selalu datang pada malam hari dan pasien mempunyai kebiasaan tidur pada siang hari
lalu malam hari kurang tidur.

J. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya


Pasien mengakui dirinya sedang depresi, tidak mengerti mengapa di masukkan di
rumah sakit madani, terkadang jika ingin bercerita pada dokter muda pasien selalu
menahan untuk tidak bercerita jika keluarganya ada di sampingnya pada saat pertama kali
di ruangan IGD tapi pada saat diruangan beberapa hari kemudian pasien sudah mulai
terbuka dan bercerita walaupun mamanya ada disampingnya. Pasien mengaku jika
mempunyai sakit maag, selalu ingin minum susu. Dia merasa sudah ketinggalan pelajaran
karena pasien sudah kelas 3 SMP bahkan ingin menghubungi gurunya untuk mengetahui
keterlambatannya dalam pelajaran. Pasien sangat tidak menyukai jika diberikan obat tapi

4
selalu memahami seolah dia diberikan vitamin. Kehidupannya sangat hancur jika
mengenal narkoba, dan membenci teman-temannya yang mengajaknya merokok dan
memakai narkoba. Setiap hari selalu menasehati adiknya untuk membantu ibunya bekerja,
jangan malas-malasan dirumah.

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Seorang ank laki-laki mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna biru dongker
dengan celana pendek. Pasien tampak rapi, ekspresi pasien tampak tidak tenang,
perawatan diri baik, warna kulit sawo matang dan bertubuh normal.
2. Kesadaran
Normal (GCS 15) atau Kompos mentis
3. Perilaku dan aktifitas psikomotor
Gelisah
4. Bicara
Berespon dengan cepat terhadap pertanyaan yang diajukan dan menjawab sesuai
pertanyaan (bicara spontan dan dapat dimengerti), suara besar, dan bicara membanjir.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif dan terbuka

B. Keadaan Afektif
1. Mood : disforia
2. Afek : labil
3. Empati : tidak dapat dirasakan

C. Fungsi Intelektual atau Kognitif


1. Taraf pendidikan : pengetahuan umum dan kecerdasan sesuai dengan pendidikan
pasien
2. Daya konsentrasi : baik
3. Orientasi : Tidak ada disorientasi waktu, tempat dan orang
4. Daya ingat : Jangka panjang, jangka pendek dan segera baik.
5. Pikiran abstrak : baik
6. Bakat kreatif : membuat video dengan lagu kesukaan

5
7. Kemampuan menolong diri sendiri : baik.

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : audiotorik dan visual
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : ada
4. Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Berpikir
1. Arus Pikir
a. Produktivitas : flight of ideas
b. Kontinuitas : bicara spontan, mengelak, meracau
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
2. Isi Pikiran
a. Preokupasi : pasien selalu merasa kakak dan kakeknya memotivasi dia dengan
bisikan-bisikan yang selalu dia dengar dan mengajaknya untuk menggunakan
narkoba.
b. Gangguan isi pikiran : waham curiga,waham kejar

F. Pengendalian impuls
Bicara membanjir

G. Daya Nilai
1. Norma Sosial : terganggu
2. Uji daya nilai : baik
3. Penilaian Realitas : baik

H. Tilikan (insight)
Derajat 3 : kesadaran dirinya sakit namun menyalahkan orang lain. Faktor eksternal,
pengobatan atau faktor organik yang tidak diketahui.

I. Taraf Dapat Dipercaya


Dapat dipercaya

6
IV. STATUS INTERNUS
1. Tanda Vital :
Tekanan Darah : 150/80 mmHg
Nadi : 116 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7ºC
2. Pemeriksaan Fisik
a. Thoraks :
 Inspeksi : Simetris pengembangan dada kiri dan kanan, tidak tampak iktus
kordis
 Palpasi : fokal fremitus simetris kiri dan kanan, iktus kordis teraba
 Perkusi : sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung,
 Auskultasi : vesikuler, wheezing (-), rhonki (-), BJ I/II murni, regular
b. Abdomen : dalam batas normal
c. Pemeriksaan Neurologis
 GCS : 15 (E4 V5 M6)
 Rangsang Menings : Kaku kuduk (-), Kernig sign (-)
 Pemeriksaan Nervus cranialis : dalam batas normal
 Sensibilitas : dalam batas normal
 SSO : BAK dan BAB dalam batas normal
 Motorik : dalam batas normal

V. IKTHISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien datang ke RSUD MADANI Palu dengan keluhan gelisah yang dirasakan 5 hari
yang lalu disertai dengan bicara membanjir. Pasien juga menceritakan bahwa dia sangat tidak
menyukai temannya yang mengajaknya merokok, memakai obat-obatan bahkan menyilet
salah satu tubuhnya. Selain itu, pasien juga merasa tidak disukai oleh keluarganya termasuk
orang tuanya dan adiknya. Pasien sering mendengar bisikan-bisikan dari kakaknya yang
sudah meninggal untuk menyuruhnya minum susu bahkan mengancam sedangkan dari
bisikan kakeknya yang sudah meninggal dia merasa seperti dimotivasi seperti untuk selalu
bantu mamanya. Pasien sering merasa dikucilkan oleh temannya. Mual, muntah, sakit kepala,
nyeri, demam tidak dikeluhkan oleh pasien. BAB dan BAK lancar. Pada status mental
didapatkan deskripsi umum seperti Penampilan didapatkan seorang anak laki-laki

7
mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna biru dongker dengan celana pendek. Pasien
tampak rapi, ekspresi pasien tampak tidak tenang, perawatan diri baik, warna kulit sawo
matang dan bertubuh normal dengan kesadaran normal (GCS 15) atau Kompos mentis serta
perilaku dan aktifitas psikomotor didapatkan gelisah dan bicara dapat berespon dengan cepat
terhadap pertanyaan yang diajukan dan menjawab sesuai pertanyaan (bicara spontan dan
dapat dimengerti), suara besar, dan bicara membanjir serta sikap terhadap pemeriksa yang
kooperatif dan terbuka.
Pada Keadaan Afektif didapatkan mood disforia, afek labil, Empati yang tidak dapat
dirasakan. Fungsi Intelektual atau Kognitif pada taraf pendidikan pengetahuan umum dan
kecerdasan sesuai dengan pendidikan pasien, daya konsentrasi baik, orientasi tidak ada , daya
ingat baik, pikiran abstrak baik, bakat kreatif membuat video dengan lagu kesukaan dan
pernah juara dalam lomba menggambar, kemampuan menolong diri sendiri baik, Gangguan
Persepsi halusinasi audiotorik dan visual. Proses Berpikir arus piker, produktivitas flight of
ideas, Kontinuitas bicara spontan, mengelak, meracau. Isi Pikiran preokupasi pasien selalu
merasa kakak dan kakeknya memotivasi dia dengan bisikan-bisikan yang selalu dia dengar
dan mengajaknya untuk menggunakan narkoba dan gangguan isi pikiran waham
curiga,waham kejar. Pengendalian impuls bicara membanjir.
Daya Nilai untuk norma sosial terganggu dan tilikan (insight) didapatkan derajat 3
(kesadaran dirinya sakit namun menyalahkan orang lain. Faktor eksternal, pengobatan atau
faktor organik yang tidak diketahui).

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL (Sesuai PPDGJ III)

1. Aksis I :
 berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna
berupa halusinasi auditorik dan halusinasi. Keadaan ini menimbulkan disstress lagi
pasien dan keluarganya, serta menimbulkan disabilitas dalam sosial dan pekerjaan
dan dalam menilai realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
gangguan jiwa.
 Pada pasien ditemukan hendaya dalam menilai realita, sehingga pasien
didiagnosa sebagai gangguan jiwa psikotik.

8
 Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan neurologis
tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasi gangguan medis umum yang
menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang
diderita pasien ini, sehingga diagnosis gangguan mental dapat disingkirkan dan
didiagnosa sebagai gangguan jiwa non organik.
 Dari anamnesis didapatkan gejala umum skizofrenia yaitu adanya halusinasi dan
delusi yang telah berlangsung lebih dari satu bulan, sehingga berdasarkan kriteria
diagnostik PPDGJ III, pasien termasuk ke dalam gangguan Skizoferenia tak terinci
F.20.3.
2. Aksis II : Gangguan kepribadian emosional tak stabil F60.3
3. Aksis III :-
4. Aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan lain
5. Aksis V : GAF scale 70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

VII.DAFTAR PROBLEM

1. Organobiologik : ditemukan adanya penyakit hipertensi sehingga pasien diberikan


farmakoterapi.
2. Psikologik : ditemukan adanya hendaya berupa halusinasi auditorik, halusinai visual,
sehingga menimbulkan gejala psikis, sehingga pasien memerlukan psikoterapi.
3. Sosial : pasien masih dapat bersosaliasi

VIII. PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi
Rencana terapi yang diberikan pada pasien adalah terapi farmakologi dan psikoterapi.

Terapi farmakologi :
 Litium, diivalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR, aripiprazol, litium
atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat +
olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol.
 Karbamazepin, Terapi Kejang Listrik (TKL), litium + divalproat, paripalidon

9
 Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium +karbamazepin,
klozapin

Psikoterapi :

1. Terapi perilaku
Menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan social untuk
meningkatkan kemampuan social, kemampuan memenuhi diri social, latihan
praktis dan komunikasi interpersonal.
2. Terapi berorientasi-keluarga
Terapi keluarga dapat diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi
menurukan stress dan mengatasi masalah dan penglibatan kembali pasien ke
dalam aktivitas.
3. Terapi kelompok
Biasanya memusatkan pada rencana, masalah dan hubungan dalam kehidupan
nyata. Efektif dalam menurunkan isolasi social, meningkatkan rasa persatuan,
dan meningkatkan tes realitas.
4. Psikoterapi individual
Terapi adalah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Terbagi
kepada psikoterapi suportif dan psikoterapi berorientasi-tilikan.

IX. PROGNOSIS

Prognosis baik Prognosis buruk


Onset lambat Onset muda
Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus
Onset akut Onset jelas
Riwayat social, seksual dan pekerjaan Riwayat social, seksual dan pekerjaan
pramorbid yang baik pramorbid yang buruk
Gejala gangguan mood(terutama gangguan
Perilaku menarik diri, autistic
depresi)

10
System pendukung yang baik System pendukung yang buruk
Gejala positif Gejala negative
Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma perinatal
Tidak ada remisi dalam tiga tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan

11
X. PEMBAHASAN DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Skizofrenia adalah penyakit paradigmatik psikiatri dimana sindrom klinis variabel
namun sangat mengganggu psikopatologi, yang melibatkan pikiran, persepsi, emosi, gerakan,
dan perilaku. Ekspresi gejala bervariasi di seluruh pasien dan dari waktu ke waktu, tetapi efek
kumulatif dari penyakit selalu parah dan biasanya tahan lama.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian skizofrenia yaitu menurut Gunadi,
skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizein” yang berarti “terpisah” atau “pecah”, dan
“phren” yang artinya “jiwa”. Pada skizofrenia terjadinya pecahnya atau ketidakserasian
antara afeksi, kognitif dan perilaku. Jadi, skizofrenia mengacu kepada pepecahan ego-aspek
rasional dalam jiwa-sehingga penderitanya tidak lagi dapat membedakan antara alam khayal
dan alam riil. Menurut Kraepelin ada menyebutkan, “dementia pre cock” karena skizofrenia
mengalami kemunduran intelengensi sebelum waktunya.Bleuler menggunakan istilah
skizofrenia berarti pikiran/jiwa yang terbelah/terpecah. Bleuler lebih menekankan pola
perilaku yaitu tidak adanya integrasi otak yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan afeksi.
Dengan demikian, tidak ada kesesuaian antara pikiran dan emosi antara persepsi terhadap
kenyataan yang sebenarnya.
Skizoferenia tak terinci adalah suatu tipe yang seringkali dijumpai pada skizofrenia.
Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu tipe
dimasukkan dalam tipe ini.
PPDGJ III mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci.
Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu4:
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

B. EPIDEMIOLOGI
Kejadian skizofrenia di negara industri adalah 10-70 kasus baru per 100000 penduduk per
tahun, dan risiko seumur hidup adalah 0,5-1%. Distribusi geografis skizofrenia adalah tidak
acak: studi terbaru memiliki menunjukkan bahwa ada tingkat pertama onset meningkat
padaorang yang lahir atau dibesarkan di pusat kota. Terdapat juga gradien sosial ekonomi

12
yang signifikan, dengan prevalensi meningkat pada penurunan kelas sosial ekonomi. Khusus
faktor risiko lingkungan (misalnya kepadatan penduduk, penyalahgunaan narkoba) juga dapat
dikaitkan dengan social ekonomi.Timbulnya karakteristik penyakit ini di antara usia 20 dan
39 tahun, tapi mungkin terjadi sebelum pubertas atau ditunda sampai dekade ketujuh atau
kedelapan.
Usia puncak onset adalah 20-28 tahun untuk pria dan 26-32 tahun untuk
perempuan.Insiden seks keseluruhan sama jika kriteria diagnostik yang luas digunakan dan
diterapkan. Prevalensi skizofrenia jauh lebih tinggi pada yang belum menikah dari kedua
jenis kelamin. Pasien dengan skizofrenia memiliki dua kali lipat peningkatan pada usia-
standar tingkat kematian, dan lebih mungkin untuk menderita kesehatan fisik yang buruk.
Sebagian besar peningkatan kematian terjadi pada beberapa tahun pertama setelah masuk
awal atau diagnosis. Faktor awal kursus yang berkonturbusi termasuk bunuh diri, dengan
faktor resiko kemudian, seperti gangguan kardiovaskular, sebagian karena gaya hidup yang
buruk dengan banyak pasien merupakan perokok berat dan obesitas.

C. ETIOLOGI
Penyebab skizofrenia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, walaupun begitu
banyak ahli yang mencoba mengemukakan beberapa teorinya. Menurut Fortinash, penyebab
skizofrenia sebagai berikut :
 Faktor biologi (teori – teori somatogenesis)
 Faktor – faktor genetic (keturunan)
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gen yang diwarisi seseorang sangat kuat
mempengaruhi resiko seseorang mengalami skizofrenia.
 Biochemistry (ketidakseimbangan kimiawi otak)
Beberapa bukti memunjukkan bahwa skizofrenia mungkin berasal dari
ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter yaitu kimiawi otak yang
memungkinkan neuron – neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan
bahwa skizofrenia berasal dari neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian – bagian
tertentu otak atau dikarenakan sensivitas yang abnormal terhadap dopamine.
 Neuroanatomy (abnormalitas struktur otak)
Berbagai teknik imaging, seperti MRI telah membantu para ilmuwan untuk
menemukan abnormalitas structural spesifik pada otak pasien.
 Teori model keluarga

13
Beberapa pola asuh kelurga memyebabkan gangguan perkembangan anak.
 Teori budaya dan lingkungan
Skizofrenia dapat terjadi pada semua status sosial ekonomi tetap seringkali lebih
banyak ditemukan pada kelompok dengan social ekonomi rendah.
 Teori belajar
Perilaku, perasaan dan cara berpikir seseorang diperoleh dari belajar.

D. GEJALA
Menurut Kay et membagi symptom skizofrenia atas5:
1. Simtom positif: d. Ketegangan (tension)
a. Waham e. Mannerism dan sikap tubuh
b. Kekacauan proses pikir f. Depresi
c. Perilaku halusinasi g. Retardasi motorik
d. Gaduh gelisah h. Ketidakkooperatifan
e. Waham/ide kebesaran i. Isi pikiran yang tidak biasa
f. Kecurigaan/kejaran j. Disorientasi
g. Permusuhan k. Perhatian buruk
2. Simptom negatif: l. Kurangnya daya nilai dan
a. Afek tumpul daya tilikan
b. Penarikan emosional m. Gangguan dorongan
c. Kemiskinan rapport kehendak
d. Penarikan diri dari n. Pengendalian impuls yang
hubungan social secar buruk
pasif/apatis o. Preokupasi
e. Kesulitan dalam pemikiran p. Penghindaran social secara
abstrak aktif
f. Kurangnya spontanitas dan
arus percakapan
g. Pemikiran stereotipik
3. Simptom psikopatologi umum:
a. Kekhawatiran somatic
b. Ansietas
c. Rasa bersalah

14
E. KRITERIA
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi ketiga
(PPDGJ III) mengkelompokkan simptom4:
 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas(dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala – gejala kurang tajam atau kurang jelas)
a) Thought echo, thought insertion, thought withdrawal dan thought
broadcasting.
b) Waham dikendalikan, waham dipengaruhi, atau passivity yang
jelas merujuk pada pergerakan tubuh atau pergerakan anggota
gerak, atau pikiran, perbuatan atau perasaan khusus dan persepsi
delusional.
c) Suara halusinasi auditorik yang berkomentar secara terus-menerus
terhadap perilaku pasien atau mendiskusikan perihal pasien di
antara mereka sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal
dari satu bagian tubuh.
d) Waham – waham memnetap jenis lain yang menurut budayanya
dianggap tidak wajar seta sama sekali mustahil, seperti misalnya
mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan
kemampuan manusia super (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau berkomunikasi dengan mahkluk asing dari dunia lain).
 Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
e) Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apakah disetai
baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun
oleh ide-ide berlebihan yang menetap atau apabila terjadi setiap
hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus.
f) arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sispan yang
berakibat

15
inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, sikap tubuh
tertentu, atau fleksibilitas cerea, negativism, mutisme dan stupor.
h) gejala negatif seperti sikap apatis, pembicaraan terhenti, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan social dan
menurunnya kinerja social, tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
 Adanya gejala – gejala khas tersebut diatas telah selama kurun waktu satu
bulan atau lebih.
 Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya
minat, tak bertujuan, sikap malas, tak bertujuan, sikap berdiam diri, dan
penarikan diri secara social.

Subtipe skizofrenia yang umum pada ICD-10 dan DSM-IV:


 Paranoid
 Katatonik
 Hebefrenik(disorganized)
 Tak terinci(undifferentiated)
 Residual

Skizofrenia Tak Terinci


Suatu tipe yang seringkali dijumpai pada skizofrenia. Pasien yang jelas
skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu tipe
dimasukkan dalam tipe ini.
PPDGJ III mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci.
Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu4:
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik,
atau

16
katatonik.
 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skizofrenia.

Kriteria diagnostik menurut DSM-IV yaitu3:


Suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A tetapi
tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid, terdisorganisasi atau katatonik.
Kriteria Diagnostik A:
 Gejala karakteristik: dua atau lebih berikut, masing – masing ditemukan
untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang
jika diobati dengan berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau
inkoheren)
4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5) Gejala negative yaitu, pendataran afektif, alogia atau tidak ada
kemauan(avolition)
Catatan: hanya satu gejala criteria A yang diperlukan jika waham
adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus
mengkomentari perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih
suara yang saling bercakap satu sama lainnya.

F. PENATALAKSANAAN
Terdapat dua kaedah pengobatan skizofrenia yaitu3:
a. Medikasi antipsikotik
b. Intervensi psikososial
Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia,
penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat
memperkuat perbaikan klinis.

17
Antipsikotik
Pemilihan obat3:
Tiga kelas obat yang utama, yaitu antagonis reseptor dopamine,
risperidone dan clozapine.
1) Antagonis reseptor dopamine
Merupakan obat antipsikotik yang klasik dan efektif dalam
pengobatan skizofrenia. Obat ini memiliki dua kekurangan;
pertama,hanya sejumlah kecil pasien kemungkinan 25% cukup
tertolong. Kedua,obat ini disertai dengan efek yang merugikan
yang menggangu dan serius (paling utama ataksia dan gejala mirip
parkinsonisme berupa tremor dan rigitas). Contoh antagonis
reseptor dopamine adalah remoxipiride
2) Risperidone
Obat antipsikotik dengan aktivitas antagonis bermakna pada
reseptor serotonin tipe 2 (5 HT2) dan pada reseptor dopamine tipe
2 (D2). Obat ini menjadi lini pertama dalam pengobatan
skizofrenia.
3) Clozapine
Obat antipsikotik yang efektif dan suatu antagonis lemah terhadap
reseptor D2 tetapi antagonis kuat terhadap reseptor D4. Obat ini
pengobatan lini kedua.

Terapi psikososial
5. Terapi perilaku
Menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan social
untuk meningkatkan kemampuan social, kemampuan memenuhi
diri social, latihan praktis dan komunikasi interpersonal.
6. Terapi berorientasi-keluarga
Terapi keluarga dapat diarahkan kepada berbagai macam
penerapan strategi menurukan stress dan mengatasi masalah dan
penglibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.

18
7. Terapi kelompok
Biasanya memusatkan pada rencana, masalah dan hubungan dalam
kehidupan nyata. Efektif dalam menurunkan isolasi social,
meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas.
8. Psikoterapi individual
Terapi adalah membantu dan menambah efek terapi farmakologis.
Terbagi kepada psikoterapi suportif dan psikoterapi berorientasi-
tilikan.

G. PROGNOSIS

Prognosis baik Prognosis buruk


Onset lambat Onset muda
Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus
Onset akut Onset jelas
Riwayat social, seksual dan pekerjaan Riwayat social, seksual dan pekerjaan
pramorbid yang baik pramorbid yang buruk
Gejala gangguan mood(terutama gangguan
Perilaku menarik diri, autistic
depresi)
Menikah Tidak menikah, bercerai atau janda/duda
Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga skizofrenia
System pendukung yang baik System pendukung yang buruk
Gejala positif Gejala negative
Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma perinatal
Tidak ada remisi dalam tiga tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan
Tabel 1: Pembagian prognosis baik dan prognosis buruk

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI,


Jakarta. 2010
2. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III, FK Unika Atma Jaya, Jakarta. 2001
3. Sadock BJ, Sadock VA. Skizofrenia. Kaplan and Sadock’s Synopsis of
Psychiatry. Ed.2. EGC, Jakarta. 2010

20