Anda di halaman 1dari 50
REHABILITASI OBESITAS TPPK, Jakarta Maret 2018
REHABILITASI OBESITAS TPPK, Jakarta Maret 2018

REHABILITASI OBESITAS

TPPK, Jakarta Maret 2018

Obesitas ICD X E. 66 Level kompetensi penanganan obesitas tanpa komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter

Obesitas

ICD X E. 66

Obesitas ICD X E. 66 Level kompetensi penanganan obesitas tanpa komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter

Level kompetensi penanganan obesitas tanpa

komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, merupakan level 3A

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Level kompetensi penanganan obesitas dengan komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, merupakan level 2
Level kompetensi penanganan obesitas dengan komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, merupakan level 2

Level kompetensi penanganan obesitas dengan

komplikasi berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, merupakan level 2

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik

terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah

kembali dari rujukan.

Obesitas • Penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas Hambatan dalam

Obesitas

Obesitas • Penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas Hambatan dalam

Penumpukan lemak yang berlebihan ataupun

abnormal yang dapat mengganggu kesehatan.

Obesitas

ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas Hambatan dalam melakukan aktivitas fisik Diperlukan adaptasi

Hambatan dalam melakukan aktivitas fisik

kesehatan. Obesitas Hambatan dalam melakukan aktivitas fisik Diperlukan adaptasi Perlu dipelajari lebih medalam mengenai

Diperlukan adaptasi

Hambatan dalam melakukan aktivitas fisik Diperlukan adaptasi Perlu dipelajari lebih medalam mengenai rehabilitasi medik

Perlu dipelajari lebih medalam mengenai rehabilitasi medik pada obesitas

Etiologi obesitas Ketidakseimbangan intake dan output kalori Faktor psikis Lingkungan tempat tinggal dan bekerja

Etiologi obesitas

Etiologi obesitas Ketidakseimbangan intake dan output kalori Faktor psikis Lingkungan tempat tinggal dan bekerja

Ketidakseimbangan

intake dan output

kalori

Faktor psikis

Lingkungan tempat tinggal dan bekerja

Faktor lain (obat- obatan)

Kebiasaan

Faktor genetik

Gangguan metabolit endokrin

Patofisiologi • Proses penimbunan triasilgliserol berlebih pada jaringan adiposa • 3 proses fisiologis pengaturan

Patofisiologi

Patofisiologi • Proses penimbunan triasilgliserol berlebih pada jaringan adiposa • 3 proses fisiologis pengaturan

Proses penimbunan triasilgliserol berlebih

pada jaringan adiposa

3 proses fisiologis pengaturan keseimbangan energi oleh Hipotalamus, yaitu :

Pengendalian rasa lapar dan kenyang

Mempengaruhi laju pengeluaran energi

Regulasi sekresi hormon

Anamnesis Usia ( menopause ) Asupan gizi Physical Activity Level Riwayat obesitas genetik atau didapat

Anamnesis

Anamnesis Usia ( menopause ) Asupan gizi Physical Activity Level Riwayat obesitas genetik atau didapat Riwayat
Usia ( menopause )
Usia ( menopause )
Usia ( menopause )
Usia ( menopause )

Usia (menopause)

Usia ( menopause )
Usia ( menopause )
Usia ( menopause )
Usia ( menopause )
Asupan gizi
Asupan gizi
Asupan gizi
Asupan gizi

Asupan gizi

Asupan gizi
Asupan gizi
Asupan gizi
Asupan gizi
Physical Activity Level
Physical Activity Level
Physical Activity Level
Physical Activity Level

Physical Activity Level

Physical Activity Level
Physical Activity Level
Physical Activity Level
Physical Activity Level
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat

Riwayat obesitas genetik atau didapat

Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat obesitas genetik atau didapat
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)

Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)

Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi

Riwayat pengobatan dan intervensi

Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi
Riwayat pengobatan dan intervensi
Pemeriksaan Fisik Indeks Massa Tubuh (IMT) Skin fold thickness Waist circumference Neck Circumference

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik Indeks Massa Tubuh (IMT) Skin fold thickness Waist circumference Neck Circumference
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Skin fold thickness
Skin fold thickness
Skin fold thickness
Skin fold thickness

Skin fold thickness

Skin fold thickness
Skin fold thickness
Skin fold thickness
Skin fold thickness
Waist circumference
Waist circumference
Waist circumference
Waist circumference

Waist circumference

Waist circumference
Waist circumference
Waist circumference
Waist circumference
Neck Circumference
Neck Circumference
Neck Circumference
Neck Circumference

Neck Circumference

Neck Circumference
Neck Circumference
Neck Circumference
Neck Circumference
Diagnosis Klasifikasi Berat Badan Menurut WHO Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Berat badan kurang < 18,5

Diagnosis

Klasifikasi Berat Badan Menurut WHO

Diagnosis Klasifikasi Berat Badan Menurut WHO Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Berat badan kurang < 18,5

Klasifikasi

Indeks Massa Tubuh

Berat badan kurang

< 18,5

Kisaran normal

18,5 24,9

Pra-obesitas

25,0 29,9

Obesitas tingkat I

30,0 39,9

Obesitas tingkat II

35,0 39,9

Obesitas tingkat III

> 40

Klasifikasi Berat Badan Menurut Asia Pasifik Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Berat badan kurang < 18,5

Klasifikasi Berat Badan Menurut Asia

Pasifik

Klasifikasi Berat Badan Menurut Asia Pasifik Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Berat badan kurang < 18,5

Klasifikasi

Indeks Massa Tubuh

Berat badan kurang

< 18,5

Kisaran normal

18,5 22,9

Berisiko

23,0 24,9

Obesitas tingkat I

25,0 29,9

Obesitas tingkat II

>30

Klasifikasi Risiko Terjadinya Penyakit terhadap Berat Badan Klasifikasi Risiko relatif terjadinya penyakit terhadap

Klasifikasi Risiko Terjadinya Penyakit

terhadap Berat Badan

Klasifikasi Risiko Terjadinya Penyakit terhadap Berat Badan Klasifikasi Risiko relatif terjadinya penyakit terhadap

Klasifikasi

Risiko relatif terjadinya penyakit terhadap berat badan dan lingkar pinggang

Berat Badan

IMT (Kg/m2)

Perempuan 80 cm Laki-laki 90 cm

> 80 cm

> 90 cm

Underweight

18,5

Low

Average

Normal

18,5 22,9

Average

Increased

Overweight

≥23

Increased

Moderate

At risk

23 24,9

Moderate

Severe

Obese I

25 29,9

Severe

Very severe

Obese II

≥ 30

   
Dampak Obesitas terhadap Kualitas Hidup • Mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas fisik • Penurunan

Dampak Obesitas terhadap Kualitas

Hidup

Dampak Obesitas terhadap Kualitas Hidup • Mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas fisik • Penurunan

Mengalami hambatan dalam melakukan

aktivitas fisik

Penurunan performa pada aktivitas

Penurunan fungsi kardiorespirasi

Gangguan keseimbangan dan koordinasi

Mengalami diskriminasi sosial

• Gangguan keseimbangan dan koordinasi • Mengalami diskriminasi sosial Peningkatan disabilitas dan kualitas hidup

Peningkatan disabilitas dan kualitas hidup

Komplikasi Obesitas

Komplikasi Obesitas

Komplikasi Obesitas
Komplikasi Obesitas
The ICF-Model ( WHO 2001 ) Health Condition (disorder or disease) Activities Body Functions and

The ICF-Model (WHO 2001)

Health Condition

(disorder or disease)

( WHO 2001 ) Health Condition (disorder or disease) Activities Body Functions and Structures Participation

Activities

Body Functions and Structures
Body Functions
and Structures

Participation

Activities Body Functions and Structures Participation Environmental Factors Personal Factors WHO: International
Activities Body Functions and Structures Participation Environmental Factors Personal Factors WHO: International
Activities Body Functions and Structures Participation Environmental Factors Personal Factors WHO: International

Environmental

Factors

Personal Factors

Participation Environmental Factors Personal Factors WHO: International Classification of Functioning, Disability
WHO: International Classification of Functioning, Disability and Health, Geneva 2001
WHO: International Classification of Functioning, Disability and Health, Geneva 2001
Aplikasi ICF dalam Obesitas Obesitas Activities: • Mobilisasi terganggu: Berjalan, bergerak • Kesulitan

Aplikasi ICF dalam Obesitas

Aplikasi ICF dalam Obesitas Obesitas Activities: • Mobilisasi terganggu: Berjalan, bergerak • Kesulitan

Obesitas

Aplikasi ICF dalam Obesitas Obesitas Activities: • Mobilisasi terganggu: Berjalan, bergerak • Kesulitan

Activities:

Mobilisasi terganggu:

Berjalan, bergerak

Kesulitan bergerak dari

posisi terlentang

Fungsi ADL terganggu:

mandi, membungkuk

Sleep apneu

Fungsi ADL terganggu: mandi, membungkuk • Sleep apneu Body Functions & Structure • Body image yang

Body Functions & Structure

Body image yang kurang

Gangguang emosi

Keluaran energi yang

rendah dan mudah lelah

Usaha bernafas meningkat

Intoleransi terhadap latihan

Penurunan lingkup gerak

sendi

Participation:

Tidak dapat berolahraga

Tidak dapat bersosialisasi

Kesulitan dalam bekerja

Tidak dapat bersosialisasi • Kesulitan dalam bekerja Environmental factors: • Kurangnya pengetahuan tentang
Tidak dapat bersosialisasi • Kesulitan dalam bekerja Environmental factors: • Kurangnya pengetahuan tentang

Environmental factors:

Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi

Kesulitan dalam menggunakan transportasi umum

Personal factors:

Kurang percaya diri

Terbatas secara fisik karena berat badan

Dapat terjadi bullying di rumah atau sekolah

Diagnosis dan Pengelolaan Obesitas ICD X E.66 DIAGNOSIS PPK I PPK II PPK III OBESITAS

Diagnosis dan Pengelolaan Obesitas

ICD X E.66

Diagnosis dan Pengelolaan Obesitas ICD X E.66 DIAGNOSIS PPK I PPK II PPK III OBESITAS -

DIAGNOSIS

PPK I

PPK II

PPK III

OBESITAS

- Memeriksa indikator antropometri (IMT, waist

 

circumference and neck

circumference)

- Behaviour Therapy

- Pemberian terapi pendahuluan sesuai dengan obesitas tanpa

komplikasi

- Tatalaksana terapi pendahuluan sesuai PPK I

- Rujuk ke PPK II jika dengan komplikasi

OBESITAS

Tidak ada

- Asesmen obesitas dengan 1 2

- Asesmen obesitas dengan > 2

DENGAN

komplikasi

komplikasi

KOMPLIKASI

- Melakukan uji latih

- Melakukan uji latih

- Peresepan latihan (tailor made) dengan pengawasan terhadap kondisi komorbid

- Peresepan latihan (tailor made) dengan pengawasan terhadap kondisi komorbid

pasien

pasien

- Evaluasi kualitas hidup dengan SF - 36

- Evaluasi kualitas hidup dengan SF - 36

Penatalaksanaan Obesitas • Penatalaksanaan Obesitas melingkupi – Behaviour Therapy – Perubahan pola makan –

Penatalaksanaan Obesitas

Penatalaksanaan Obesitas • Penatalaksanaan Obesitas melingkupi – Behaviour Therapy – Perubahan pola makan –

Penatalaksanaan Obesitas melingkupi

Behaviour Therapy

Perubahan pola makan

Olahraga teratur

Proper Body Mechanic (PBM)

Behaviour Therapy 1. Self-monitoring Kunci dari Behaviour Therapy, termasuk membuat food diary untuk mencatat jumlah

Behaviour Therapy

1. Self-monitoring

Behaviour Therapy 1. Self-monitoring Kunci dari Behaviour Therapy, termasuk membuat food diary untuk mencatat jumlah

Kunci dari Behaviour Therapy, termasuk membuat food diary untuk mencatat jumlah kalori yang dikonsumsi

2. Kontrol Stimulus

Fokus dalam kontrol stimulus termasuk pembelanjaan makanan, perubahan takaran makanan, perubahan ukuran piring makan

3. Makan dengan perlahan

Mengurangi kecepatan makan agar sinyal kenyangdapat teraktivasi, dengan berhenti sesaat di tengah makan, dan minum air putih antar makan

4. Goal setting Menetapkan goal yang realistis kepada pasien untuk penurunan berat badan /minggu atau

4. Goal setting

4. Goal setting Menetapkan goal yang realistis kepada pasien untuk penurunan berat badan /minggu atau /bulan.

Menetapkan goal yang realistis kepada pasien untuk penurunan berat badan /minggu atau /bulan. Target minimal pengurangan berat badan yaitu 5% hingga 10% dari berat badan awal selama 3 6 bulan

5. Penghargaan diri

Penghargaan dapat berupa hal kecil atau bahkan dapat

berupa pemberian insentif (uang)

6. Edukasi

Edukasi tentang makanan pengganti yang terstruktur oleh

Spesialis Gizi Klinik merupakan komponen esensial dalam

keberhasilan program penurunan berat badan

7. Peningkatan aktifitas fisik Dengan meningkatnya tingkat aktifitas fisik ( Physical Activity Level ), maka

7. Peningkatan aktifitas fisik

7. Peningkatan aktifitas fisik Dengan meningkatnya tingkat aktifitas fisik ( Physical Activity Level ), maka outcome

Dengan meningkatnya tingkat aktifitas fisik (Physical Activity Level), maka outcome penurunan berat badan jangka pendek

dan jangka panjang juga dapat menjadi lebih baik

8. Dukungan sosial

Behavioural Therapy dapat lebih konsisten jika mendapat

dukungan dari lingkungan sekitar yang termasuk di dalamnya

adalah Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Spesialis Gizi Klinik, dan Spesialis terkait lainnya, serta komunitas

overweight dan obesitas, keluarga dan teman

Intake Mengurangi penggunaan Output Meningkatkan aktivitas fisik energi sebanyak 500 – 1000 kkal
Intake Mengurangi penggunaan Output Meningkatkan aktivitas fisik energi sebanyak 500 – 1000 kkal per hari

Intake

Mengurangi

penggunaan

Mengurangi penggunaan

Output

Output

Meningkatkan

aktivitas fisik

energi sebanyak 500 1000 kkal per hari

sedang minimal 150 menit per minggu

Keseimbangan antara intake dan output

energi sebanyak 500 – 1000 kkal per hari sedang minimal 150 menit per minggu Keseimbangan antara
Proper Body Mechanic (PBM) PBM merupakan cara yang tepat untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuk menghindari

Proper Body Mechanic (PBM)

Proper Body Mechanic (PBM) PBM merupakan cara yang tepat untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuk menghindari masalah

PBM merupakan cara

yang tepat untuk melakukan aktivitas

sehari-hari untuk

menghindari masalah pada postur

Mechanic (PBM) PBM merupakan cara yang tepat untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuk menghindari masalah pada postur
Mechanic (PBM) PBM merupakan cara yang tepat untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuk menghindari masalah pada postur
Mechanic (PBM) PBM merupakan cara yang tepat untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuk menghindari masalah pada postur
Terapi Rehabilitasi Medik Tanpa Komplikasi Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan

Terapi Rehabilitasi Medik

Terapi Rehabilitasi Medik Tanpa Komplikasi Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan
Tanpa Komplikasi Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi
Tanpa Komplikasi Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan
Tanpa Komplikasi
Latihan
Peregangan
Latihan Aerobik
Latihan
kekuatan otot
Latihan
keseimbangan
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Dengan komplikasi

Dengan komplikasi

Dengan komplikasi
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR

Kompetensi SpKFR

Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Latihan Peregangan Latihan Aerobik Latihan kekuatan otot Latihan keseimbangan Dengan komplikasi Kompetensi SpKFR
Sebelum Latihan
Sebelum
Latihan
Sebelum Latihan Yang Harus Diperhatikan Tanda-tanda kelelahan: • Jarak antar makan terakhir dengan latihan (minimum

Yang Harus Diperhatikan

Tanda-tanda kelelahan:
Tanda-tanda
kelelahan:

Jarak antar makan terakhir

dengan latihan (minimum 2

jam)

Minum air mineral sebelum, saat dan sesudah latihan.

Aktivitas sesuaikan keadaan

Jangan latihan jika tubuh dalam keadaan lelah

• Nyeri dada • Denyut nadi tidak regular • Nyeri kepala • Mual • Kelelahan
• Nyeri dada
• Denyut nadi tidak regular
• Nyeri kepala
• Mual
• Kelelahan
• Sesak
BORG Scale
• Lelah tungkai
• Talking pace
Latihan Peregangan Peregangan lambat Meminimalisir aktivasi otot, mengurangi risiko cedera pada jaringan dan bengkak

Latihan Peregangan

Latihan Peregangan Peregangan lambat Meminimalisir aktivasi otot, mengurangi risiko cedera pada jaringan dan bengkak

Peregangan lambat

Latihan Peregangan Peregangan lambat Meminimalisir aktivasi otot, mengurangi risiko cedera pada jaringan dan bengkak
Meminimalisir aktivasi otot, mengurangi risiko cedera pada jaringan dan bengkak setelah peregangan
Meminimalisir aktivasi otot, mengurangi risiko cedera pada
jaringan dan bengkak setelah peregangan

Dampak pada viskoelastisitas jaringan ikat

risiko cedera pada jaringan dan bengkak setelah peregangan Dampak pada viskoelastisitas jaringan ikat Mudah diregangkan

Mudah diregangkan

Manfaat Peregangan Mengurangi ketegangan otot Mencapai fleksibilitas dan lingkup gerak sendi M e m b

Manfaat Peregangan

Manfaat Peregangan Mengurangi ketegangan otot Mencapai fleksibilitas dan lingkup gerak sendi M e m b a

Mengurangi ketegangan otot

Mencapai fleksibilitas dan lingkup gerak sendi

Membantu koordinasi

Mencegah cedera otot

Persiapan Peregangan Pilih teknik peregangan yang efektif dan efisien Hangatkan otot yang akan di regangkan

Persiapan Peregangan

Persiapan Peregangan Pilih teknik peregangan yang efektif dan efisien Hangatkan otot yang akan di regangkan Posisi
Pilih teknik peregangan yang efektif dan efisien Hangatkan otot yang akan di regangkan Posisi individu
Pilih teknik peregangan yang efektif dan efisien
Hangatkan otot yang akan di regangkan
Posisi individu harus nyaman dan stabil
Area yang akan diregangkan terbebas dari pakaian yang
ketat
Cara Peregangan • Tubuh rileks, menahan bagian tubuh yang diregangkan, fokus Benar perhatian terhadap otot

Cara Peregangan

Cara Peregangan • Tubuh rileks, menahan bagian tubuh yang diregangkan, fokus Benar perhatian terhadap otot yang
• Tubuh rileks, menahan bagian tubuh yang diregangkan, fokus Benar perhatian terhadap otot yang diregangkan
• Tubuh rileks, menahan bagian
tubuh yang diregangkan, fokus
Benar
perhatian terhadap otot yang
diregangkan
Salah • Lompat-lompat di tempat/ meregangkan tubuh hingga terasa sakit
Salah
• Lompat-lompat di tempat/
meregangkan tubuh hingga
terasa sakit
Latihan Peregangan • Tahanan: 6 detik • Repetisi: 5 kali • Frekuensi: 3x sehari

Latihan Peregangan

Latihan Peregangan • Tahanan: 6 detik • Repetisi: 5 kali • Frekuensi: 3x sehari

Tahanan: 6 detik

Repetisi: 5 kali

Frekuensi: 3x

sehari

Latihan Peregangan • Tahanan: 6 detik • Repetisi: 5 kali • Frekuensi: 3x sehari
Yang Harus Diperhatikan Saat Peregangan • Tidak memaksa sendi untuk meregang. • Hati-hati pada individu

Yang Harus Diperhatikan Saat

Peregangan

Yang Harus Diperhatikan Saat Peregangan • Tidak memaksa sendi untuk meregang. • Hati-hati pada individu

Tidak memaksa sendi untuk meregang.

Hati-hati pada individu osteoporosis.

Lindungi fraktur yang baru mengalami perbaikan

(penyatuan).

Hindari peregangan pada otot dan jaringan ikat yang lama tidak digerakkan.

Perhatikan tahanan, repetisi dan frekuensi secara bertahap.

Hindari peregangan pada jaringan yang edema.

Hindari melakukan peregangan yang berlebih pada otot yang lemah.

Setelah Peregangan • Aplikasikan handuk dingin atau pendingin → meminimalisir pembengkakan otot setelah peregangan

Setelah Peregangan

Setelah Peregangan • Aplikasikan handuk dingin atau pendingin → meminimalisir pembengkakan otot setelah peregangan

Aplikasikan handuk dingin atau pendingin

meminimalisir pembengkakan otot setelah peregangan akibat mikrotrauma saat peregangan.

handuk dingin atau pendingin → meminimalisir pembengkakan otot setelah peregangan akibat mikrotrauma saat peregangan.
• Tujuan: Latihan Aerobik – Meningkatkan kemampuan fungsi sistem kardiopulmoner – Peningkatan kapasitas energi

Tujuan:

Latihan Aerobik

• Tujuan: Latihan Aerobik – Meningkatkan kemampuan fungsi sistem kardiopulmoner – Peningkatan kapasitas energi

Meningkatkan kemampuan fungsi sistem kardiopulmoner

Peningkatan kapasitas energi otot

Patokan:

Bernapas dan berbicara bila sehabis

latihan nafasnya cepat dan sukar berbicara dengan lancar (talking pace) beban latihan

harus diturunkan

Latihan Aerobik • Frekuensi : 1 – 7x/minggu • Durasi : 30 – 60 menit/

Latihan Aerobik

Frekuensi : 1 7x/minggu

Durasi

: 3060 menit/set, dimulai 15-30 menit dinaikkan bertahap hingga 60 menit.

, dimulai 15-30 menit dinaikkan bertahap hingga 60 menit. • Intensitas : target heart rate (60-85%)

Intensitas : target heart rate (60-85%) maksimal HR tanpa

komorbid, diukur tiap 10 menit selama latihan

dengan meraba arteri radialis selama 15 detik dikalikan 4

Maksimal heart rate:

220umur (usia >40 tahun) 200umur (usia <40 tahun)

Latihan aerobik diawali dengan pemanasan/ stretching

selama 5 menit dan diakhiri dengan pendinginan/ stretching

selama 5 menit.

Penghentian Latihan Aerobik • Jika sudah mencapai heart rate sub maksimal • Jika sudah ada

Penghentian Latihan Aerobik

Penghentian Latihan Aerobik • Jika sudah mencapai heart rate sub maksimal • Jika sudah ada tanda

Jika sudah mencapai heart rate sub maksimal

Jika sudah ada tanda kelelahan, sesak, atau

rasa pegal di tungkai

Bila saat latihan mulai sukar berbicara (talking pace)

Latihan Kekuatan Otot • Otot yang dilatih: – Triceps , – B iceps, – Pectoralis

Latihan Kekuatan Otot

Otot yang dilatih:

Triceps,

Biceps,

Pectoralis mayor,

Otot-otot bahu,

Otot-otot abdomen,

Quadrisep,

Hamstring,

Adduktor,

Gluteus maksimus

mayor, – Otot-otot bahu, – Otot-otot abdomen, – Quadrisep, – Hamstring, – Adduktor, – Gluteus maksimus
Latihan Keseimbangan IMT↑ Pengaruh postur tubuh Pusat gravitasi bergeser ke anterior Pe↑ lordosis lumbal dan

Latihan Keseimbangan

Latihan Keseimbangan IMT↑ Pengaruh postur tubuh Pusat gravitasi bergeser ke anterior Pe↑ lordosis lumbal dan pelvic
IMT↑ Pengaruh postur tubuh Pusat gravitasi bergeser ke anterior Pe↑ lordosis lumbal dan pelvic tilt
IMT↑
Pengaruh postur tubuh
Pusat gravitasi bergeser ke anterior
Pe↑ lordosis lumbal dan pelvic tilt ke anterior
Sensitivitas mekanoreseptor plantar menurun
Pengaruh keseimbangan tubuh
Risiko jatuh meningkat.
Balance Board • M elatih keseimbangan dengan mata terbuka atau tertutup dalam posisi kedua tangan

Balance Board

Balance Board • M elatih keseimbangan dengan mata terbuka atau tertutup dalam posisi kedua tangan disilangkan

Melatih keseimbangan dengan mata terbuka atau tertutup dalam posisi kedua tangan disilangkan didepan dada, direntangkan ke samping atau dengan

mengangkat salah satu kaki.

Dilakukan selama 15-30 menit.

Penatalaksanaan Obesitas dengan Komplikasi Pasien obesitas dengan komplikasi: • Osteoarthritis Genu • Low Back Pain

Penatalaksanaan Obesitas

dengan Komplikasi

Penatalaksanaan Obesitas dengan Komplikasi Pasien obesitas dengan komplikasi: • Osteoarthritis Genu • Low Back Pain
Penatalaksanaan Obesitas dengan Komplikasi Pasien obesitas dengan komplikasi: • Osteoarthritis Genu • Low Back Pain

Pasien obesitas

dengan komplikasi:

Osteoarthritis Genu

Low Back Pain

DM Tipe 2

Hipertensi

Metabolic Syndrome

Myocard Infarction

Sleep Apnea

Rujukan dari dokter layanan primer

Infarction • Sleep Apnea Rujukan dari dokter layanan primer Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Algoritma Penanganan Obesitas di PPK I Obesitas Penanganan PPK I Pemeriksaan Antropometri IMT, waist circumference,

Algoritma Penanganan Obesitas

di PPK I

Algoritma Penanganan Obesitas di PPK I Obesitas Penanganan PPK I Pemeriksaan Antropometri IMT, waist circumference,
Obesitas Penanganan PPK I Pemeriksaan Antropometri IMT, waist circumference, neck circumference Skrining untuk
Obesitas
Penanganan PPK I
Pemeriksaan Antropometri
IMT, waist circumference, neck
circumference
Skrining untuk menentukan adanya komplikasi
Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
(Laboratorium, Rontgen, EKG)
Tidak ada komplikasi Edukasi perubahan gaya hidup (Active Lifestyle) Behaviour Therapy Perubahan pola makan Olahraga
Tidak ada komplikasi Edukasi perubahan gaya hidup (Active Lifestyle) Behaviour Therapy Perubahan pola makan Olahraga
Tidak ada komplikasi
Edukasi perubahan gaya
hidup (Active Lifestyle)
Behaviour Therapy
Perubahan pola makan
Olahraga tertatur
Proper Body Mechanic
Latihan
Peregangan
Aerobik
Kekuatan Otot
Keseimbangan
Ada 1 – 2 komplikasi PPK II
Ada 1 – 2 komplikasi
PPK II

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Otot Keseimbangan Ada 1 – 2 komplikasi PPK II Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi > 2
> 2 komplikasi PPK III
> 2 komplikasi
PPK III
Otot Keseimbangan Ada 1 – 2 komplikasi PPK II Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi > 2
Kesimpulan • Obesitas adalah penumpukan lemak yang abnormal yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam

Kesimpulan

Kesimpulan • Obesitas adalah penumpukan lemak yang abnormal yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam

Obesitas adalah penumpukan lemak yang abnormal yang

dapat mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas fisik

Rehabilitasi pasien obesitas tanpa komplikasi dapat diberikan latihan dasar berupa: latihan peregangan, latihan aerobik, latihan kekuatan otot, dan latihan keseimbangan

Rehabilitasi pasien obesitas dengan komplikasi dapat

dirujukan kepada dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Spesialis Gizi Klinik, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Orthopedi, Spesialis Kesehatan Jiwa, dan dokter

spesialis lain sesuai komplikasi yang terjadi

Daftar Pustaka 1. Sugondo S. Obesitas: Ilmu Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: 2006;1941-47 2. Tamin TZ.

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka 1. Sugondo S. Obesitas: Ilmu Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: 2006;1941-47 2. Tamin TZ. Model

1.

Sugondo S. Obesitas: Ilmu Ajar Penyakit Dalam. Jakarta:

2006;1941-47

2.

Tamin TZ. Model dan Efektivitas Latihan Endurans Untuk Peningkatan Kebugaran Penyandang Disabilitas Intelektual

dengan Obesitas. Disertasi. Universitas Indonesia. 2009.

3.

Wulandari L. Dampak Obesitas Terhadap Faal Paru. Surabaya: RS Soetomo. FK Unair.

4.

Katharina E. Impact of Physical Activity and Bodyweight on Health Related Quality of Life in People with Type 2 Diabetes. Diabetes, Metabolic Syndromes and Obesity:

Target and Therapy 2012:5. P303-311

5.

ICSI. Prevention and Management of Obesity (Mature Adolescents and Adults). Bloomington; 2011.

Daftar Pustaka 6. Thomas A. Assessment of Quality of Life in Obese Individuals. University of

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka 6. Thomas A. Assessment of Quality of Life in Obese Individuals. University of Pennsylvania

6.

Thomas A. Assessment of Quality of Life in Obese

Individuals. University of Pennsylvania School of Medicine, Department of Psychiatry, Philadelphia, Pennsylvania.

7.

Sherwood. From Cells to System. Department of

Physiology and Pharmacology School of Medicine West

Virginia University. 2010.

8.

Buskirk ER. Obesity and Weight Control. Downey and Darling Physiological Basis of Rehabilitation Medicine. 2 nd .

481-495

9.

SIGN. Management of Obesity: A National Clinical Guideline. Edinburgh: Scottish Intercollegiate Guidelines Network; 2010.

Daftar Pustaka 10. Perdosri. Layanan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2013

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka 10. Perdosri. Layanan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2013

10.

Perdosri. Layanan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT

Adhitama Multi Kreasindo; 2013

11.

Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2012

12.

Pedoman Pelayanan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi pada Disabilitas. Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2015

13.

Koding ICD-10 & Modifikasi ICD-9 Layanan Rehabilitasi Medik. Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2015

14.

Perdosri. Pedoman Standar Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan, Jakarta: PT Adhitama Multi Kreasindo; 2013

15.

Jacob JJ, Isaac R. Behavioral therapy for management of obesity.

2012;16(1):2833.

Video Latihan - Obesitas

Video Latihan - Obesitas

Video Latihan - Obesitas
Video Latihan - Obesitas
ILUSTRASI KASUS OBESITAS
ILUSTRASI KASUS OBESITAS

ILUSTRASI KASUS OBESITAS

• Pasien perempuan usia 30 tahun dengan keluhan berat badan berlebih sejak muda. • Saat
• Pasien perempuan usia 30 tahun dengan keluhan berat badan berlebih sejak muda. • Saat

Pasien perempuan usia 30 tahun dengan

keluhan berat badan berlebih sejak muda.

Saat ini berat badan 75 kg dengan tinggi badan 158 cm. Namun akhir-akhir ini dirasakan berat

badan bertambah drastis, tidak kuat berjalan

jauh.

Diketahui pasien menyukai makanan cepat saji

serta ayah ibu pasien juga berperawakan

gemuk. Karena badannya yang gemuk pasien merasa malu, menyalahkan orang tua dan berpikiran apakah kegemukannya ini menjadi

sebab ia tidak kunjung menikah dan sulit

mendapat pekerjaan.

• Pemeriksaan fisik apa saja yang terkait fungsi sesuai wewenang PPK I ? • Sebutkan
• Pemeriksaan fisik apa saja yang terkait fungsi sesuai wewenang PPK I ? • Sebutkan

Pemeriksaan fisik apa saja yang terkait fungsi

sesuai wewenang PPK I ?

Sebutkan gangguan fungsi yang ada pada kasus tersebut ?

Sebutkan penanganan rehabilitasi medik yang dapat diberikan sesuai level PPK 1

Apakah perlu merujuk ke SpKFR di PPK 2 ?

Apa yang anda jelaskan pada pasien tentang

pentingnya dirujuk ke SpKFR ?

Bagaimana anda membuat surat rujukan ke PPK

2 ?

Surat Rujukan sesuai alur BPJS saat ini Kepada yth dr.Sp Bersama ini kami sampaikan pasien
Surat Rujukan sesuai alur BPJS saat ini Kepada yth dr.Sp Bersama ini kami sampaikan pasien

Surat Rujukan sesuai alur BPJS saat ini

Kepada yth dr.Sp

Bersama ini kami sampaikan pasien dengan diagnosis

medis

Telah kami berikan penanganan Mohon tatalaksana di bidang TS dan dilanjutkan dengan tatalaksana dari Sp.KFR/rehabilitasi medik. Atas kerjasamanya kami ucapkan banyak terima kasih

dan gangguan fungsional