Anda di halaman 1dari 11

PERILAKU ORGANISASI

EMA 224 AP

SAP 7

Oleh Kelompok 1:

Ni Putu Arlita Ekayanti (1607531069 / 01)

Putu Pradnyani (1607531072 / 02)

Disampaikan Kepada :

Dr. I Gede Riana, S.E., M.M

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. Hakekat Keputusan

Keputusan muncul saat seseorang menetapkan pilihan atas beberapa alternative yang
tersedia dihadapannya, tetapi kosekuensinya sangat menentukan dimasa selanjutnya. Sebagai
individu setiap manusia melakukan pembuatan keputusan, baik untuk kepentingan pribadi
maupun banyak orang atau organisasi. Jadi keputusan itu adalah tindakan penentuan suatu
pendapat/pilihan diantara sekian banyak alternative. Sehingga membuat keputusan itu adalah
mengambil atau memilih alternatif.
Pada umumnya suatu keputusan dibuat dalam rangka untuk memecahkan
permasalahan/persoalan artinya setiap keputusan yang diambil adalah dalam rangka mencapai
suatu tujuan tertentu. Manajer akan selalu dituntut untuk membuat keputusan dalam rangka
pemecahan suatu masalah.kualitas dan efektifitas seorang manajer dapat dilihat pada saat dia
mengambil keputusan. Bila sering membuat keputusan, ia adalahmanajer yang kreatif dan
produktif, bila keputusannya selalu tepat menandakan ia manajer yang pintar,dan bila
keputusannya berskala besar baik hasil maupun risiko itu mencerminkan ia manajer sejati.

2. Definisi Pengambilan Keputusan dan Urgensinya


1) Sebagai pemilihan tindakan dari sejumlah alternative yang ada (Curtis R. Finh dan
Robert L. McGough, 1982 dalam Djatmiko, 2002)
2) Merupakan tindakan yang melekat erat dan terpadu secara berkesinambungan dalam
keseluruhan kegiatan administrasi (Gibson dan Hun, 1965 dalam Djatmiko, 2002)
3) Doe dan Drake (1980) dalam Djatmiko (2002) memandang bahwa pengambilan
keputusan merupakan jantung dan hati totalitas kegiatan administrasi.
4) Bahkan Ivancevich (1989) dalam Djatmiko (2002) lebih mengatakan bahwa pengambilan
keputusan berpengaruh secara langsung terhadap kinerja individu yang selanjutnya
berpengaruh terhadap efektivitas organisasi. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan
merupakan tangung jawab utama manajer organisasi. Agar sukses memerankan tanggung
jawab itu paling tidak manajer harus memiliki 4 kepakaran atau keterampilan dasar,
yaitu:
a. Keterampilan/ kepakaran teknis (technical skill), yakni pemahaman serta kecakapan dan
kesanggupan untuk mengerti dan mengerjakan aktivitas tertentu, meliputi pengetahuan

2
dan pemahaman konsep, proses, metode yang diperlukan untuk mengenali, menganalisis
dan memecahkan masalah di bidang tertentu.
b. Keterampilan/ kepakaran insane (human skill), yakni kesanggupan untuk bekerja dengan
orang lain secara efektif sebagai anggota sebuah kelompok dan dapat membangun sebuah
kerja sama yag baik dalam kelompok yang dipimpinnya termasuk didalamnya
kemampuan berkomunikasi, memahami tingkah laku orang lain serta melakukan
pendekatan-pendekatan.
c. Keterampilan/ kepakaran konseptual (conceptual skill), yakni kesanggupan untuk melihat
usaha-usaha sebagai suatu totalitas. Kesanggupan analisis.
d. Keterampilan/ manajerial (manajerial skill), yakni kecakapan dalam menjalankan fungsi-
fungsi manajemen, yang melipui pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan fungsi
yang ada dalam manjemen.

3. Proses pengambilan keputusan dan elemen dasarnya


Beberapa ahli menyatakan pendapat mereka mengenai pengambilan keputusan dan
elemen dasarnya :
1. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Nyoman sudita (1997)
a. Mennetapkan tujuan
b. Mengidentifikasi masalah
c. Mengembangkan sejumlah alternative
d. Penilaian dan pemilihan alternative
2. Menurut Herbet. A Simon (1992) dalam Djatmiko (2002)
a. Penemuan masalah (intelligence), meliputi pengumpulan data, mewaspadai
lingkungan, dan mendeteksi permasalahan yang ada.
b. Pemahaman masalah (design), meliputi pengkajian masalah secara sistematis,
menciptakan alternative berdasarkan hasil evaluasi atas hasil-hasilnya.
c. Pemilihan alternative (choice), kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan
alternative yang disukai.
d. Implementasi (implementation), adalah pelaksanaan keputusan yang meliputi
pemberian penjelasan kepada pihak-pihak terkait serta membuat consensus bahwa
keputusan menitiberatkan pada kebaikan dan menanamkan komitmen.

3
3. Menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2004)
a. Mengidentifikasi masalah, dimana masalah itu adalah kesenjangan antara keadaan
nyata dengan keadaan yang dikehendaki
b. Mengidentifikasi kriteria keputusan, yakni mennetukan faktor-faktor apa yang
relevan dalam mengambil keputusan
c. Member bobot ke kriteria
d. Menyusun alternatif, yakni membuat daftar sejumlah alternative yang dapat
menyelesaikan masalah tersebut.
e. Menganalisis alternative, yaitu menganalisis kekuatan dan kelemahan masing-
masing alternative
f. Memilih sebuah alternative, yakni memilih alternative terbaik dari alternative
yang dipertimbangkan
g. Mengimplementasikan alternative terpilih. Impelementasi mencakup
penyampaian keputusan kepada orang-orang yang terpengaruh dan mendapatkan
komitmen mereka atas keputusan itu.
h. Mengevaluasi efektivitas keputusan, yakni menilai hasil kepuusan itu melihat
apakah masalahnya terpecahkkan atau mencapai hasil seperti yang dikehendak.
4. Tipologi pengambilan keputusan
Ada beberapa tipe yang mewarnai pengambilan keputusan yaitu:
1. Berdasarkan atas analisis psikologis personalitasnya Erich From, maka Ernest Dale
(1976) yang dikutif oleh Djatmiko (2002) dikelompokkan 5 tipe pengambilan keputusan
yaitu:
a. Tipe resensif atau desensif, dimana memandang semua kebaikan berada diluar
dirinya, sehingga cenderung melakukan pengambilan keputusan bedasarkan ide
penasehatnya serta membebankan tanggung jawab kepada pihak luar dengan
delegasi otoritas secar liberal
b. Tipe eksploitatif atau agresif, dimana memandang semua kebaikan berada diluar
dirinya yang harus dikuasi dengan kekuatan atau kecerdikan. Cirri tipe ini adalah
memanipulasi individu untuk kepentingan pribadi dengan pengawasan yang ketat
dan struktur organisasi yang kaku.

4
c. Tipe hoarding, yaitu memiliki kepercayaab yang sangat minim kepada pihak
eksternal, menyusun struktur organisasi sebagai alat untuk membentengi
kedudukannya. Pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan sendiri.
d. Tipe marketing, yaitu memandang memandang dirinya sebagai komoditi dan
memnadang nilai dirinya sejalan dengan imbalan. Bagi tippe ini struktur
organisasi dan keputusan harus memberikan imbalan yang memadai bagi
pengambil keputusan.
e. Tipe produktif, yaitu memiliki kemampuan untuk memakai dan mewujudkan
potensi yang dimilikinya.dalam pengambilan keputusan, cenderung membantu
pihak lain dalam mengembangkan dirinya mencapai kemmapuan maksimal
dengan mengintegrasikan suksesnya dengan sasaran organisasi.
2. Berdasarkan kriteria sumber keputusan, Chug dan Meginson (1981) yang mengutip
pendapat Barnard (1938) dalam Djatmiko (2002) pengambilan keutusan aada 3 tipe,
yakni:
a. Intermediary decisions adalah pengambilan keputusan yang dilaksanakan atas
desakan atasan dalam hirarki administrasi.
b. Applate decisions adalah pengambilan keputusan atas desakan bawaha.
c. Creative decisions adalah pengambilan keputusan atas inisiatif sendiri.
3. Berdasarkan atas kriteria struktur dan hubungan interpersonal (Lipham, 1974) dalam
Djatmiko (2002), maka ada3 jenis yaitu:
a. Pengambilan keputusan rutin atau terprogram adalah pengambilan keputusan
yang pelaksanaannya bersifat hirarkis, terstruktur dan diprogramkan dengan
seksama serta dilaksankan berulang baik karena dorongan atasan maupun
bawahan.
b. Pengambilan keputusan heuristik yaitu pengambilan keputusan yang lebih
memberikan keleluasaan dalam mengembangkan gagasan-gagasan secara terbuka.
c. Pengambilan keputusan kompromis/negosiasi adalah pengambilan keputusan
yang dapat dipakai untuk mengatasi konflik karena perbedaan seperti nilai
budaya, peran yang diharapkan, minat pribadi individu-individu, antara kelompok
kepentingan. Disini pimpinan berperan sebagai mediator.

5
4. Berdasarkan dimensi kompleksitas variabel dan ketidakpastian hasil, Chung dan
Meginson (1981) yang dikutip oleh Djatmiko (2002)membagi pengambilan keputusan
menjadi 4 yakni:
a. Pengambilan keputusan berprogram dimana sifatnya berulang, rutin, dengan
jumlah variabel terbatas dan hasil setiap alternative dapat diketahui.
b. Pengambilan keputusan analitis, dimana variabelnya kompleks, dengan
melinatkan analisis statistic.
c. Pengambilan keputusan judgementel disini terlibat variabel dalam jumlah kecil
tetapi setiap jumlah setiap variabel tidak diketahui dengan pasti.
d. Pengambilan keputusan adaptif adalah pengambilan keputusan dengan melibatkan
sejumlah besar variabel dan hasil setiap variabel tidak dapat diprediksi.
5. Berdasarkan gaya dalam pengambilan keputusan, Hersey dan Blanchard (1992) yang
dikutif oleh Djatmiko (2002) membedakan pengambilan keputusan ke dalam 4 gaya
yaitu:
a. Pengambilan keputusan otoritatif, ini dipakai dalam situasi dimana didalamnya
terdapat manajer yang mempunyai pengalaman dan imformasi serta iktikad yang
kuat yang dihadapkan dengan anak buah yang kurang memiliki kemampuan,
iktikad atau kepercayaan diri untuk membantu pimpinan melakukan pengambilan
keputusan secara mandiri.
b. Pengambilan keputusan konsulatif, adalah pengambilan keputusan yang dilakukan
oleh majaer yang dihadapkan dengan bawahan yang mempunyai pengalaman dan
pengetahuan serta iktikad untuk membantu pimpinan mempertimbangkan
masukan mereka.
c. Pengambilan keputusan fasilitatif yakni pengambilan keputusan yang dilakukan
secara bersama antara pimpinan dan bawahan.
d. Pengambilan keputusan delegatif adalah pengambilan keputusan yang didalamnya
terdapat bawahan yang memiliki kesiapan yang tinggi baik pengalaman informasi,
maupun iktikad untuk membuat keputusan atau rekomendasi yang baik.
6. Berdasarkan cara/ pendekatandalam mengambil keputusan Robbins dan Coulter (2004)
membagi pengambila keputusan menjadi:

6
a. Pengambilan keputusan rasional, yaitu pengambilan keputusan dimana masalah
yang dihadapi jelas, tidak adakonflik sasaran, mengetahui segala pilihan yang
jelas, menjaga pilihan supaya tetap konstan tidak ada kendala waktu dan biaya,
dan memilih pilihan terakhir yang memaksimalkan hasil.
b. Pengambilan keputusan rasional terbatas, yakni pengambilan keputusan yang
disederhankan karena keterbatasan kemampuan dalam memproses imformasi,
keterbatasan dalam menganalisis imformasi sehingga keputusan yang diambil
sekesar memenuhi syarat buka yang maksimal.
c. Pengambilan keputusan intuisi, adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan
intuisi atau perasaan dibawah sadar atau “perasaan hati yang paling dalam’ bisa
karena didasari ole pengalaman, niali etika/budaya, mental bawah sadar,
perasaan/emosi, kognisi/pikiran (karena keahlian, pengetahuan dan pelatihan).
5. Jenis Keputusan terkait masalah yang dihadapi
Menurut Herbert Simon (1992), ada 2 jenis keputusan yaitu:
1. Keputusan yang diprogram, keputusan rutin dan berulang-ulang dan dapat diprediksi
sebelumnya.Biasanya karena masalah yang dihadapi terstruktur dengan baik.
2. Keputusan tidak diprogramkan, keputusan baru, tidak terstruktur dan tidak terprediksi
sebelumnya yang membutuhkan solusi yang dirancang secara khusus supaya sesuai
dengan masalahnya. Biasanya masalah yang dihadapi strukturnya buruk atau unik.
6. Faktor faktor yang Berpengaruh dalam pengambilan keputusan
1) Menurut Gibson dan kawan-kawan (1997) faktor-faktor yang berpengaruh secara
individual adalah
a. Nilai/ tata nilai, pedoman dasar dan kepercayaan yang dianut pengambil keputusan
jika berhadapan dengan situasi harus menentukan pilihan. Dalam proses pengambilan
keputusan tata nilai yang terlibat tidak hanya meliputi tanggung jawan hukum,
ekonomi, juga etika.
b. Kepribadian, pengambilan keutusan sering dipengaruhi oleh faktor psikologis, baik
sadar maupun tidak sadar. Salah satunya adalah kepribadian yang diwujudkan dalam
pilihan yang diambil. Variabel kepribadian itu antara lain sikap, kepercayaan, dan
kebutuhan.

7
c. Kecenderungan mengambil risiko. Pengambilan keputusan akan selalu dihadapkan
dengan risiko. Akan ada yang berani mengambil risiko sebaliknya ada yang kurang
berani, semuanya akan berpengaruh terhadap kualitas keputusan.
d. Potensi ketidaksesuaian, termasuk pada saat keputusan sudah dibuat. Sering terjadi
setelah keputusan dibuat yang muncul adalah kebimbangan dan berpikir ulang atas
pilihan yang telah dibuat
2) Menurut Onong Uchajana (1996) ada 3 kekuatan yang berpengaruh dalam pengambilan
keputusan yaitu:
a. Dinamika individu. Organisasi adalah wadah individu yang masing-masing
membawa sikap, perangai, dan watak sendiri. Setiap individu itu tidak statis,
melainkan dinamis, sesuai dengan sifat alami manusia. Dalam proses dinamika itu,
individu dan organisasi daling mempengaruhi, demikian juga dalam
pengambilankeputusan.
b. Diamika kelompok. Organisasi adalah kelompok social, karena mereka terdiri dari
sejumlah individu yang saling berinteraksi secara intensif dan teratur, sehingga
diantara mereka terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu. Setiap
kelompok mempunyai norma tersendiri, yang menjadi sumber dasar hidup para
anggota.
c. Penagruh norma ini besar sekali terhadap cara berfikir, dan bertingkah laku termasuk
dalam prose pengambilan keputusan.
d. Dinamika lingkungan merupakan situasi, kondisi, dan faktor-faktor ayng berkaitan
denga suatu keputusan diambil adalah jawaban terhadap tantangan yang timbul
sebagai akibat perubahan situasi dan kondisi dan berbagai faktor yang berkaitan.
Pengambilan keputusan dengan lingkungan saling pengaruh-mempengaruhi.
Lingkungan yang dinamis memkasa seorang manajer mengambil keputusan, lalu pada
gilirannya keputusan yang diambil ini mengubah lingkungan.
7. Pengambilan keputusan kelompok
Tujuan pengambilan keputusan dalam kelompok adalah untuk mengambil suatu keputusan
dengan pertimbangan yang matang agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh anggota
kelompok. Pengambilan keputusan dalam kelompok menunjukkan bahwa telah adanya

8
kesepakatan antar anggota kelompok mengenai bagaimana cara untuk bisa mencapai tujuan
anggota kelompok.Teknik pengambilan keputusan kelompok yaitu
a. Kelompok interaktif, yaitu anggota berinteraksi secara langsung dengan anggota lain.
b. Kelompok nominal , yaitu membatasi komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan
keputusan , karena masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
Bentuk teknik pengambilan keputusan kelompok
1) Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok Delphi,
Umumnya digunakan untuk mengambil keputusan meramal masa depan yang
diperhitungkan akan dihadapi organisasi. Teknik ini sangat sesuai untuk kelompok
pengambil keputusan yang tidak berada di satu tempat. Pengambil keputusan menysun
serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan suatu situasi peramalan dan
menyampaikannya kepada sekelompok ahli. Para ahli tersebut ditugaskan untuk
meramalkan, apakah suatu peristiwa dapat atau mungkin terjadi atau tidak. 2.
2) Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok Nominal,
Adalah rapat kelompok yang terstruktur terdiri dari 7-10 individu duduk berkumpul
tetapi tidak berbicara satu sama lainnya. Setiap orang menulis gagasannya di selembar
kertas. Setelah 5 menit, dilakukan saling tukar pikiran yang terstruktur. Setiap orang
mengajukan satu gagasan. Seseorang yang ditunjuk sebagai notulen mencatat seluruh
gagasan itu di kertas di depan seluruh anggota kelompok
Keunggulan keputusan berkelompok
 Informasi dan pengetahuan lebih lengkap dan menghimpun sumber daya. Ini berarti
lebih banyak pemasukan yang dipakai prosses pembuatan keputusan
 Keragaman pandangan lebih banyak
 Penerimaan keputusan lebih besar
Kekurangan keputusan kelompok
 Memakan waktu untuk membentuk suatu kelompok sudah jelas membutuhkan waktu
tersendiri
 Tekanan untuk sependapat
 Dominasi oleh minoritas
 Tanggung jawab yang kabur

9
8. Implikasi managerial dalam pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan adalah intisari dari suatu organisasi,dan oleh karenanya dapat
berpengaruh masa depan organisasi.Setiap anggota organisasi yang berada dalam level
manajemen wajib hukum terampil dalam mengambil keputusan baik ketika mereka
mengorganisasikan,memimpin dan mengendalikan dalam mengambil keputusan tersebut akan
banyak jenis permasalahan.
Robbins memberi tiap bagi manajer untuk perbaiki kualitas pengambilan keputusannya yaitu
analisis situasi,kedua sadarlah akan adanya kombinasikan analisis rasional dengan intuisi,lalu
mengamsusikan bahwa gaya pengambilan selalu ada disetiap pekerjaan dan masalah dan
akhirnya selalu kreatif.

10
DAFTAR PUSTAKA

Ardana, Komang., Mujiati, Ni Wayan., dan Ayu Sriathi Anak Agung. 2009. Perilaku
Keorganisasian. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wibowo. 2013. Perilaku dalam Organisasi. Jakarta: Rajawali Press.

Robbin, Stephen P., dan Timothy A. Judge. 2015. Perilaku Organisasi, Edisi 16. Jakarta:
Penerbit Salemba Empat.

11