Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

KEGIATAN 11
I. Topik
Mengukur Laju Respirasi
II. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh ukuran tubuh terhadap laju respirasi hewan.
2. Mengetahui pengaruh luas permukaan tubuh terhadap laju respirasi hewan.
III. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Respirometer dengan selangnya
b. Pipet
c. Penggaris
d. Alat suntik
e. Timbangan
2. Bahan
a. Serangga (jangkrik)
b. KOH
c. Vaselin
d. Larutan Eosin
e. Kapas
IV. Cara Kerja

Memasukkan Kristal NaOH/KOH dalam tabung respirometer.

Memasukkan serangga yang telah ditimbang beratnya ke dalam botol


respirometer, kemudian tutup dengan pipa berskala.

Mengoleskan vaselin/plastisin pada celah penutup tabung.

Menutup ujung pipa berskala dengan jari kurang lebih satu menit,
kemudian lepaskan dan masukkan setetes eosin dengan menggunakan
pipet /syiring.
Mengamati dan mencatat waktu yang dibutuhkan eosin bergerak sampai
tabung yang berisi belalang.

Melakukan percobaan yang sama (langkah 1 sampai dengan 5)


menggunakan serangga lain dengan ukuran yang berbeda.

V. Hasil
Tabel 1. Data hasil pengukuran laju respirasi serangga besar
No Nama Hewan Berat (gr) Laju respirasi
(s)
1 Jangkrik A 0,21 0,9
2 Jangkrik B 0,42 0,59
3 Jangkrik C 0,96 1
4 Jangkrik D 1,3 0,6

VI. Pembahasan
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium FMIPA UNY. Praktikum ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran tubuh terhadap laju respirasi hewan
dan mengetahui pengaruh luas permukaan tubuh terhadap laju respirasi hewan.
Hewan yang digunakan adalah serangga seperti belalang dan jangkrik yang
memiliki ukuran berbeda ( kecil dan besar).
.Penggunaan eosin dalam praktikum ini sebagai indikator oksigen yang
dihirup oleh organisme percobaan pada respirometer. Saat serangga menghirup
oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin
bergerak masuk ke arah respirometer. Vaselin berfungsi sebagai bahan penyumbat
supaya mengurangi resiko kebocoran pada alat respirometer.
Fungsi dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2
agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial
gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya
volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH
dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2,
sebagai berikut:
KOH + CO2 → KHCO3
KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
Respirasi merupakan proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan
energi. Respirasi dilakukan oleh semua makhluk hidup dengan semua penyusun
tubuh, baik sel tumbuhan maupun sel hewan, dan manusia. Respirasi ini dilakukan
baik siang maupun malam (Syamsuri. 1980).
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea, yang
terbuat dari pipa yang becabang di seluruh tubuh, merupakan salah satu variasi
dari permukaan respirasi internal yang melipat-lipat dan pipa yang terbesar itulah
yang disebut trakea. Bagi seekor serangga kecil, proses difusi saja dapat
membawa cukup O2 dari udara ke sistem trakea dan membuang cukup CO2 untuk
mendukung sistem respirasi seluler. Serangga yang lebih besar dengan kebutuhan
energi yang lebih tinggi memventilasi sistem trakeanya dengan pergerakan tubuh
berirama (ritmik) yang memampatkan dan mengembungkan pipa udara seperti
alat penghembus (Campbell. 2005).
Berdasarkan hasil praktikum diatas nampak bahwa kecepatan bernafas
serangga yang beratnya besar lebih cepat dibandingkan dengan serangga yang
beratnya ringan atau kecil Kejadian serupa juga dipaparkan oleh Juanegshi (2008),
bahwa semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi. Pada respirasi
pembakaran glukosa oleh oksigen kan menghasilkan energi. Karena semua bagian
tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada
sel. Sehingga, semakin besar ukuran dan berat suatu oraganisme akan semakin
besar pula kebutuhan akan oksigennya, yang berkaitan erat dengan proses
metabolisme dan kebutuhan akan sel.
Hal tersebut tentu dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik internal
maupun eksternal. Menilik berdasarkan ukuran tubuhnya, pada insekta kecil,
difusi adalah satu-satunya gaya yang diperlukan dalam pertukaran gas karena
terjadinya sangat cepat melalui pipa yang berisi udara tersebut. Insekta yang lebih
besar dan aktif mempunyai suatu sistem ventilasi, dimana terdapat kantung hawa
yang dapat diperkecil dan diperbesar dengan kontraksi otot tubuh. Pembukaan dan
penutupan spirakel diatur dengan cermat agar pertukaran gas cukup memadai
tetapi dapat mencegah hilangnya air (Villee. 1984: 169). Berdasarkan pemaparan
diatas tentu dapat ditarik hal bahwasannya ukuran tubuh yang kecil akan sedikit
membutuhkan tenaga dibandingkan yang besar, sehingga serangga besar
menggunakan ventilasi supaya dapat melakukan pernafasan.
Kemudian, ditilik dari proses metabolisme yang terjadi pada tubuh
serangga. Dililiklah dari proses perjalananya, oksigen akan di angkut oleh darah
atau cairan tubuh ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan. Selanjutnya oksigen
tersebut akan dimanfaatkan untuk oksidasi di dalam sel guna menghasilkan
energi.Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi
tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas hidup, seperti mengatur suhu tubuh,
pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Jadi kegiatan pernafasan dan respirasi
tersebut saling berhubungan karena pada proses pernafasan dimasukkan udara dari
luar (oksigen) dan oksigen tersebut digunakan untuk proses respirasi guna
memperoleh energi dan selanjutnya sisa respirasi berupa gas karbon dioksida
(CO2) dikelurkan melalui proses pernafasan (Tobin. 2005).
Reaksi kimia yang terjadi di dalam sel hewan sangat tergantung pada
adanya oksigen, sehingga diperlukan adanya suplai O2 secara terus menerus. Hal
ini berarti O2 merupakn substitusi yang penting dan sangat dibutuhkan bagi
semua hewan. Salah satu substitusi yang penting dan dihasilkan oleh reaksi kimia
yang terjadi didalam tubuh hewan adalah gas karbohidrat (Hartono. 1992: 281).
Sehingga, menilik kembali uraian diatas, jelas bahwasannya kecepatan respirasi
sangat bergantung pada ukuran tubuh yang berkaitan langsung dengan sistem
metabolisme suatu organisme. Tubuh yang besar maka metabolisme yang
dibutuhkan oleh sel-sel hewan juga meningkat dan berarti proses respirasinya juga
meningkat semakin cepat.
Secara umum, proses respirasi dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:
1. Berat tubuh, Semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin
banyak oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses
respirasinya.
2. Ukuran tubuh, Makin besar ukuran tubuh maka keperluan oksigen
makin banyak.
3. Kadar O2, Bila kadar oksigen rendah maka frekuensi respirasi akan
meningkat sebagai kompensasi untuk meningkatkan pengambilan
oksigen.
4. Aktivitas, Makhluk hidup yang melakukan aktivitas memerlukan
energi. Jadi semakin tinggi aktivitasnya, maka semakin banyak
kebutuhan energinya, sehingga pernafasannya semakin cepat.

VII. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Ukuran tubuh mempengaruhi laju respirasi pada hewan. Semakin besar ukuran
tubuh semakin cepat laju respirasinya. Hal ini dikarenakan hewan yang lebih
besar memiliki kebutuhan energi yang lebih tinggi sehingga harus melakukan
respirasi lebih giat untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut.
2. Selain ukuran tubuh, luas permukaan tubuh juga mempengaruhi laju respirasi.
Semakin sempit luas permukaan tubuhnya, laju respirasi akan semakin rendah.
Karena pada hewan kecil, proses difusi saja dapat membawa cukup O2 dari
udara ke sistem trakea dan membuang cukup CO2 untuk mendukung sistem
respirasi seluler.
Daftar Pustaka

Campbell,dkk. 2005. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Hartono. Histologi Verteriner. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1992.

Juanegsih, Nengsih. 2008. Modul Pedoman Praktikum Fisiologi Hewan. Jakarta:


FITK UIN Syarif Hidayatullah.

Syamsuri, Istamar.1980. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Canada: Thomson Brooks/Cole.

Villee, Claude A., Warren F. Walker, Jr. dan Robert D. Barnes. 1984. Zoologi
Umum .Jakarta: Erlangga.
.