Anda di halaman 1dari 10

9.

5 METODE PENGUMPULAN DATA PRIMER


Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari
sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini
subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap
suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Terdapat dua
hal utama yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas
instrumen penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara
untuk mengumpulkan data yaitu: interview (wawancara), kuisioner, dan
observasi (pengamatan) atau mungkin saja ketiganya.
9.5.1 Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti
ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang
diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal yang dari
responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sangat sedikit.
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang
oleh peneliti dalam menggunakan interview dan juga kuisioner adalah
sebagai beikut:
1. Bahwa subyek atau responden adalah orang yang paling tahu dirinya
sendiri.
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar
dan dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyan yang
diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud
peneliti.
Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur
dan wawancara tidak terstruktur.
1. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data
bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti
tentang informasi yang akan diperoleh. Dengan wawancara terstruktur
ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan alternatif
jawaban yang sama.

2
2. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana
peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun
secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan dalam
penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam terhadap
responden.
9.5.2 Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang
efisien bila peneliti mengetahui variabel-variabel yang akan diukur.
Uman Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip penulisan angket
sebagai metode pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan
penampilan fisik.
Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor, yaitu isi dan tujuan
pertanyaan, bahasa mudah, pertanyaan tertutup, terbuka, positif, negative,
pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa,
pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, acuan pertanyaan.
Penampilan fisik dicetak dalam kertas bagus sehingga direspon oleh
responden. Bila menggunakan kertas buram akan kurang direspon oleh
responden.
9.5.3 Observasi
Sutrisno hadi mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses
yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai suatu psikologis dan
biologis. Dari proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat
dibedakan menjadi Participant Observation (observasi berperan serta), dan
Non participant Observation selanjutnya dari segi instrumentasi yang
digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur
dan tidak terstruktur.

9.6 METODE WAWANCARA/WAWANCARA MENDALAM

3
Wawancara-Mendalam (In-depth Interview) adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka
antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawncarai, dengan atau
tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan
informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo 2006: 72).
Pengertian wawancara-mendalam (In-depth Interview) adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil
bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang
diwawncarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara
dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif
lama (Sutopo 2006: 72). Ciri khusus/Kekhasan dari wawancara-mendalam ini
adalah keterlibatannya dalam kehidupan responden/informan.
Dalam wawancara-mendalam melakukan penggalian secara mendalam
terhadap satu topik yang telah ditentukan (berdasarkan tujuan dan maksud diadakan
wawancara tersebut) dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Penggalian yang
dilakukan untuk mengetahui pendapat mereka berdasarkan perspective responden
dalam memandang sebuah permasalahan. Teknik wawancara ini dilakukan oleh
seorang pewawancara dengan mewawancarai satu orang secara tatap muka (face to
face).
Kegunaan atau manfaat dilakukannya wawancara-mendalam adalah :
1. Topik/pembahasan masalah yang ditanyakan bisa bersifat kompleks atau
sangat sensitif
2. Dapat menggali informasi yang lengkap dan mendalam mengenai sikap,
pengetahuan, pandangan responden mengenai masalah
3. Responden tersebar à maksudnya bahwa siapa saja bisa mendapatkan
kesempatan untuk diwawancarai namun berdasarkan tujuan dan maksud
diadakan penelitian tersebut
4. Responden dengan leluasa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan
tanpa adanya tekanan dari orang lain atau rasa malu dalam mengeluarkan
pendapatnya
5. Alur pertanyaan dalam wawancara dapat menggunakan pedoman (guide)
atau tanpa menggunakan pedoman. Jika menggunakan pedoman (guide),

4
alur pertanyaan yang telah dibuat tidak bersifat baku tergantung kebutuhan
dilapangan
Sedangkan kelemahan dari wawancara-mendalam ini adalah adanya
keterikatan emosi antara ke duanya (pewawancara dan orang yang diwawancarai),
untuk itu diperlukan kerjasam yang baik antara pewawancara dan yang
diwawancarainya.
Materi dalam wawancara-mendalam tergantung dari tujuan dan maksud
diadakannya wawancara tersebut. Agar hasil dari wawancara tersebut sesuai
dengan tujuan penelitian, diperlukan keterampilan dari seorang pewawancaranya
agar nara sumbernya (responden) dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan
pertanyaan yang diajukan. Beberapa teknik dalam wawancara agar berjalan dengan
baik, adalah:
a. Menciptakan dan menjaga suasana yang baik. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara :
1) Adakan pembicaraan pemanasan: dengan menanyakan biodata
responden (nama, alamat, hobi dll), namun waktunya jangan terlalu
lama (±5 menit)
2) Kemukakan tujuan diadakannya penelitian, dengan maksud agar
responden memahami pembahasan topik yang akan ditanyakan dan
supaya lebih transparan kepada responden (adanya kejujuran).
3) Timbulkan suasana bebas: maksudnya responden boleh melakukan
aktifitas yang lain ketika sesi wawancara ini berlangsung sehingga
memberikan rasa “nyaman” bagi responden (tidak adanya tekanan),
misalnya responden boleh merokok, minum kopi/teh, makan dan lain-
lain
4) Timbulkan perasaan bahwa ia (responden) adalah orang yang penting,
kerjasama dan bantuannya sangat diperlukan: bahwa pendapat yang
responden berikan akan dijaga kerahasiannya dan tidak ada jawaban
yang salah atau benar dalam wawancara ini. Semua pendapat yang
responden kemukakan sangat penting untuk pelaksanaan penelitian
ini.

5
b. Mengadakan probing. Probes adalah cara menggali keterangan yang lebih
mendalam, hal ini dilakukan karena :
1) Apabila jawaban tidak relevan dengan pertanyaan
2) Apabila jawaban kurang jelas atau kurang lengkap
3) Apabila ada dugaan jawaban kurang mendekati kebenaran
c. Tidak memberikan sugesti untuk memberikan jawaban-jawaban tertentu
kepada responden yang akhirnya nanti apa yang dikemukakan (pendapat)
responden bukan merupakan pendapat dari responden itu sendiri
d. Intonasi suara, Jika pewawancara merasa lelah atau bosan atau tidak suka
dengan jawaban responden, hendaknya intonasi suara dapat dikontrol
dengan baik agar responden tetap memiliki rasa “nyaman” dalam sesi
wawancara tersebut. Hal yang dapat dilakukan misalnya; mengambil
minum, ngobrol hal yang lain, membuat candaan dll)
e. Kecepatan berbicara. Agar responden dapat mencerna apa yang
ditanyakan sehingga memberikan jawaban yang diharapkan oleh
pewawancara
f. Sensitifitas pertanyaan. Pewawancara mampu melakukan empati kepada
responden sehingga membuat responden tidak malu dalam menjawab
pertanyaan tersebut
g. Kontak mata. Agar responden merasa dihargai, dibutuhkan selama proses
wawancara tersebut
h. Kepekaan nonverbal. Pewawancara mampu melihat gerakan dari bahasa
tubuh yang ditunjukan oleh responden, misalnya responden merasa tidak
nyaman dengan sikap yang ditunjukan oleh pewawancara, pertanyaan
atau hal lainnya. Karena hal ini dapat menyebabkan informasi yang
diterima tidak lengkap
i. Waktu. Dalam pelakasanaan wawancara-mendalam ini pewawancara
dapat mengontrol waktu. Hal ini dikuatirkan responden dapat menjadi
bosan, lelah sehingga informasi yang diharapkan tidak terpenuhi dengan
baik. Waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan wawancara-mendalam
yang dilakukan secara tatap muka adalah 1-2 jam, tergantung isu atau
topik yang dibahas.

6
Sebelum dilakukan wawancara-mendalam, perlu dibuatkan pedoman (guide)
wawancara. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pewawancara dalam menggali
pertanyaan serta menghindari agar pertanyaan tersebut tidak keluar dari tujuan
penelitian. Namun pedoman (guide) wawancara tersebut tidak bersifat baku, dapat
dikembangkan dengan kondisi pada saat wawancara berlangsung dan tetap pada
koridor tujuan diadakannya penelitian tersebut.

9.7 METODE OBSERVASI


Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik
dibandingkan dengan metode yang lain. Metode pengumpulan data dengan
observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses
kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari
segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi dua
yakni :
1. Observasi Berperan Serta
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang
yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih
lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap
perilaku yang nampak. Sambil mengamati, peneliti ikut melakukan apa yang
dikerjakan oleh sumber data. Misalnya, mengamati bagaimana perilaku
karyawan dalam bekerja, bagaimana semangant kerjanya, bagaimana
hubungan karyawan dengan karyawan lain, dan sebagainya.
2. Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai
pengamat independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini
tidak akan mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat
makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang
terucapkan dan yang tertulis. Misalnya, mengamati perilaku pembeli,
mengamati barang-barang apa saja yang diminati pembeli.
Dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi dibedakan menjadi:
1. Observasi Terstruktur

7
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara
sistematis tentang apa yang akan diamati dimana tempatnya. Peneliti telah
tahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan
pengamatan, peneliti menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan
reliabilitasnya.
2. Observasi Tidak Terstruktur
Merupakan observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang
apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu
pengamatan.

9.8 METODE ANGKET/KUESIONER


Kuesioner merupakan teknik pengumuplan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan langsung atau pertanyaan tertulis kepada
responden. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila
peneliti tahu dengan pasti variabel yang diukur dan yang bisa diharapkan dari
responden. Kuesioner biasanya berupa daftar pertanyaan tertulis yang telah disusun
sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, atau daftar
pertanyaan tersebut cukup terperinci dan lengkap dan biasanya sudah menyediakan
pilihan jawaban (kuesioner tertutup) atau memberikan kesempatan responden
menjawab secara bebas (kuesioner terbuka).
Penyebaran kuesioner dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti
penyerahan kuesioner secara pribadi, melalui surat, dan melalui email. Masing-
masing cara ini memiliki kelebihan dan kelemahan, seperti kuesioner yang
diserahkan secara pribadi dapat membangun hubungan dan memotivasi respoinden,
lebih murah jika pemberiannya dilakukan langsung dalam satu kelompok, respon
cukup tinggi. Namun kelemahannya adalah organisasi kemungkinan menolak
memberikan waktu perusahaan untuk survey dengan kelompok karyawan yang
dikumpulkan untuk tujuan tersebut.
Beberapa prinsip dalam penulisan kuesioner yaitu prinsip penulisan,
pengukuran dan penampilan fisik (Uma Sekaran;1992).
a. Beberapa faktor Prinsip Penulisan Angket seperti:

8
1. Isi dan tujuan pertanyaan, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan
bentuk pengukuran atau bukan? kalau berbentuk pengukuran, maka
dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus dalam
bentuk skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk
mengukur variable yang teliti.
2. Bahasa yang digunakan, harus digunakan sesuai dengan kemampuan
berbahasa responden. Sekiranya responden tidak dapat berbahasa
Indonesia, maka kuesioner jangan disusun dengan bahasa Indonesia.
3. Bentuk dan tipe pertanyaan, dapat terbuka atau tertutup (jika dalam
wawancara, tersturktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat
digunakan dalam kalimat positif atau negatif. Pertanyaan terbuka adalah
pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan
jawabannya dalam bentuk uraian tentang sesuatu hal. Pertanyaan
tertutup adalah pertanyaan yang mengarahkan jawaban singkat atau
mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternative jawaban
dari setiap pertanyaan yang telah tersedia.
4. Pertanyaan tidak mendua (double barreled). Pernyataan yang mendua
dapat menyulitkan responden untuk memberikan jawaban karena
menanyakan tentang dua hal sekaligus.
5. Tidak menanyakan yang sudah lupa
6. Pertanyaan tidak menggiring. Dalam pertanyaan kuesioner sebaiknya
tidak menggiring jawaban yang baik saja atau yang jelek saja.
7. Panjang pertanyaan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan tidak terlalu
panjang karena akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila
jumlah variable banyak, sehingga memerlukan instrument yang banyak
maka instrument tersebut dibuat bervariasi dalam penampilan, model,
skala pengukuran yang digunakan dan cara mengisinya. Disarankan
empiric jumlah pertanyaan yang memadai adalah antara 20 sampai
dengan 30 pertanyaan.
8. Urutan pertanyaan, yaitu dimulai dari yang umum menuju yang spesifik,
atau dari yang mudah menuju kesulit. Hal ini perlu dipertimbangkan

9
karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden
menjawab.

b. Prinsip Pengukuran
Merupakan instrument penelitian, yang digunakan untuk mengukur
variable yang akan diteliti. Oleh karena itu instrument angket tersebut harus
dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliable tentang
variable yang akan diukur. Untuk memperoleh data yang valid dan reliable,
maka sebelumnya instrument kuesioner tersebut diberikan pada responden
peru diuji validitas dan realibitasnya terlebih dahulu.
c. Penampilan Fisik Kuesioner
Penampilan ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang akan
mempengaruhi respond atau keseriusan responden untuk keseriusan
kuesioner. Kuesioner yang dibuat dikertas buram, akan mendapatkan
respon yang kurang menarik bila dibandingkan dengan kuesioner yang
dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2007.Metode Penelitian Bisinis. Bandung: ALFABETA

11