Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semua cabang ilmu pengetahuan memiliki objek yang dijadikan bahan kajian. Ilmu
apapun akan menetapkan objeknya sebagai bahan kajian. Ilmu Bahasa yang sering disebut
Linguistik menetapkan objek kajiannya adalah bahasa. Linguistik atau ilmu bahasa,
sebagaimana cabang ilmu pengetahuan lain, terbagi atas bidang-bidang bawahannya. Bidang-
bidang kajian dalam linguistik amatlah luas. Bidang-bidang kajian linguistik ini membentuk
tataran bahasa atau hierarki bahasa. Tataran bahasa yang akan dibahas pada makalah ini
adalah mengenai kajian linguistik yang mempelajari atau mengkaji tentang bunyi-bunyi
bahasa yang merupakan unsur terkecil bahasa yaitu fonologi.
Secara garis besar, fonologi adalah subdisiplin dalam ilmu bahasa atau linguistik yang
mempelajari bunyi bahasa. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek bahasannya,
fonologi dibedakan lagi menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum, fonetik adalah cabang
studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut
mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang
studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut
sebagai pembeda makna. Dalam kajian kali ini, akan dibahas mengenai konsep dan ranah
daripada fonologi serta kajian fonetik dalam ilmu fonologi, mencakup pengertian, jenis-jenis,
artikulator dan artikulasi, serta unsur-unsur suprasegmental dalam kajian bahasa Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep ilmu dan ranah fonologi dalam bahasa Indonesia?
2. Bagaimana pengertian dan kajian-kajian fonetik dalam ilmu fonologi?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep ilmu dan ranah fonologi dalam bahasa Indonesia.
2. Mengetahui pengertian dan kajian-kajian fonetik dalam ilmu fonologi.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Konsep Ilmu Fonologi

1
Secara garis besar, dalam kajian ilmu bahasa atau linguistik, fonologi adalah subdisiplin
ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa. Menurut Lass, fonologi dapat dipersempit lagi
sebagai subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi bahasa. Dalam bukunya, Chaer
berpendapat bahwa fonologi merupakan bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis,
dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa yang secara etimologis terbentuk dari kata
fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Berdasarkan pendapat tokoh diatas, dapat disimpulkan
bahwa fonologi merupakan bidang linguistik yang mengkaji mengenai runtunan dan fungsi
bunyi bahasa yang dihasilkan oleh manusia.

Ini berarti bahwa fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa, baik bunyi-bunyi itu kelak
berfungsi dalam ujaran atau bunyi-bunyi secara umum. Dalam arti luas, fonologi
menitikberatkan kajiannya pada bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan oleh alat ucap
manusia, dan bagaimana sesungguhnya bunyi-bunyi bahasa itu mempunyai fungsi dalam
suatu bahasa. Fonologi memfokuskan pada ujaran yang dihasilkan dan didengarkan oleh
manusia. Saling berbicara dan mendengar satu sama lain merupakan hal yang normal dalam
kehidupan manusia. Kemampuan berkomunikasi juga bergantung pada fungsi alat-alat bicara
untuk mengenal dan memahami bunyi-bunyi yang digunakan.

Disamping mempelajari fungsi, perilaku serta organisasi bunyi sebagai unsur-unsur


linguistik, fonologi mempelajari juga yang lebih netral terhadap bunyi-bunyi sebagai unsur-
unsur suprasegmental lainnya dalam ilmu bahasa atau linguistik. Bunyi-bunyi bahasa itu
dapat kita pelajari dari dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, kita dapat memandang
bunyi-bunyi itu sebagai suatu media bahasa yang tidak lebih daripada benda. Fonologi yang
memandang bunyi bahasa demikian, disebut dengan fonetik. Kedua, kita dapat pula
memandang bunyi-bunyi itu sebagai bagian kecil dari sistem bahasa. Bunyi-bunyi itu
merupakan unsur-unsur bahasa terkecil yang bergabung-gabung berdasarkan struktur tertentu
dan sekaligus berfungsi sebagai pembeda bentuk dari berbagai kata, selanjutnya dalam kajian
fonologi disebut fonemik.

B. Fonologi: Kajian Fonetik

1. Fonetik

Apabila kita mulai menganalisis suatu ujaran, kita dapat mendekatinya dari berbagai
tingkatan level. Satu level, misalnya kita bahwa ujaran adalah masalah anatomi dan fisiologi.
2
Dari hal ini, kita dapat mempelajari bagaimana alat bicara, seperti lidah dan laring berfungsi
untuk menghasilkan bunyi bahasa. Dalam hal atau level yang lain, kita dapat memfokuskan
pada bunyi ujaran itu sendiri, yang dihasilkan oleh alat bicara. Selain itu, kita dapat
mempelajari ujaran dalam arti bunyi bahasa itu didengar oleh pendengar yang dapat
dianalisis bagaimana proses gelombang bunyi itu dipahami oleh pendengar. Kajian dari
semua hal tentang ujaran diatas disebut dengan fonetik.

Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki penghasilan, penyampaian dan penerimaan bunyi
bahasa yang dapat diartikan fonetik merupakan ilmu interdisipliner linguistik dengan fisika,
anatomi dan fisiologi yang mengkaji sistem bunyi suatu bahasa. Dalam fonetik, terdapat
beberapa aspek fisiolgis bahasa yang dikaji, meliputi: bagaimana bunyi ujaran terjadi;
darimana udara diperoleh; bagaimana udara digetarkan; bagaimana bunyi ujaran
dikelompokkan; faktor apa saja yang membedakan bunyi yang satu dengan bunyi lainnya;
dan unsur-unsur segmental dan suprasegmental.

2. Jenis Fonetik

Studi fonetik dibedakan atas beberapa jenis, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik,
dan fonetik auditoris. Berikut penjelasan ketiga jenis studi fonetik:

a. Fonetik Artikulatoris

Fonetik artikulatoris disebut juga sebagai fonetik organis atau fonetik fisiologis,
mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan
bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi itu diklasifikasikan.

b. Fonetik Akustis

Fonetik akustis mempelajari tentang bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena
alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi, amplitudo, intensitas dan timbrenya.

c. Fonetik Auditoris

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh
telinga manusia.

Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik
artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi itu
dihasilkan atau diucapkan manusia. Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

3
Gambar 2.1 (Jenis Fonetik)

3. Artikulator (Alat Bicara)

Bunyi, termasuk bunyi bahasa, pada dasarnya adalah getaran. Getaran itu timbul karena
adanya energi yang bekerja pada massa benda yang menjadi sumber bunyi itu. Getaran itu
akan kita sadari sebagai bunyi apabila ia cukup kuat dan diteruskan ke telinga kita melalui
udara. Dalam kaitannya dengan bunyi bahasa, sumber energi utama adalah arus udara yang
mengalir dari paru-paru, sedangkan getaran-getaran itu timbul karena gerakan-gerakan alat-
alat tubuh tertentu yang disebut alat ucap/alat bicara atau dalam bahasa linguistik disebut
dengan artikulator.

Secara umum alat bicara manusia memiliki fungsi utama yang bersifat biologis,
misalnya, paru-paru untuk bernapas, mulut dan seisinya untuk makan. Kita perlu mengenal
nama-nama dan fungsi alat-alat bicara untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu
diproduksi, dan nama-nama bunyi itupun diambil dari nama-nama alat ucap itu. Beberapa alat
ucap/bicara yang perlu dikenali dalam ilmu bahasa atau linguistik adalah:

a. paru-paru, arus udara dari paru-paru menjadi sumber syarat mutlak terjadinya
bunyi bahasa;

b. pangkal tenggorok (larynx), salah satu komponen terpenting adalah sepasang pita
suara yang berada pada laring yang berfungsi menghasilkan bunyi apabila celah
antara keduanya, glotis, berada pada posisi-posisi tertentu, seperti: terbuka lebar,
terbuka, tertutup, dan tertutup rapat;

c. rongga kerongkongan (pharynx), fungsi utama faring adalah sebagai tabung udara
yang akan ikut bergtar bila pita suara bergetar dan bunyi yang dihasilkan disebut
bunyi faringal;

4
d. langit-langit lunak (velum), fungsinya adalah mengatur arus udara untuk
menghasilkan bunyi bahasa berdasarkan tempat masuknya udara, apabila masuk ke
rongga hidung, menghasilkan bunyi bahasa nasal dan apabila masuk melalui rongga
mulut menghasilkan bunyi bahasa non-nasal;

e. langit-langit keras (palatum), berfungsi sebagai artikulator pasif, bunyi bahasa


yang dihasilkan disebut palatal;

f. gusi dalam (alveolum), berfungsi sebagai artikulator pasif, bunyi bahasa yang
dihasilkan disebut alveolar;

g. gigi (dentum), bekerja sama dengan bibir bawah atau ujung lidah sebagai artikulator
aktif dan menghasilkan bunyi bahasa yang disebut dental;

h. bibir (labium), bibir bagian atas sebagai artikulator pasif dan bagian bawah sebagai
artikulator aktif, bekerjasama dengan gigi membentuk bunyi labiodental, sedangkan
kedua bibir membentuk bunyi bilabial;

i. lidah, berfungsi sebagai artikulator aktif dan merupakan bagian terpenting untuk
menghasilkan bunyi bahasa dan mengaktifkan seluruh artikulator diatas.

Gambar 3.1 (Artikulator)

4. Artikulasi (Proses Fonasi)

Udara dipompakan dari paru-paru melalui batang tenggorokan ke pangkal tenggorok,


yang di dalamnya terdapat pita suara. Pita suara itu harus terbuka supaya udara bisa keluar

5
melalui rongga mulut atau rongga hidung, atau melalui kedua-duanya. Udara tadi diteruskan
ke udara bebas, apabila udara keluar tanpa mendapatkan hambatan di sana-sini, maka kita
tidak akan mendengar bunyi apa-apa. Hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar
dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat paling dalam hingga paling luar. Sesudah
melewati pita suara, arus udara menuju ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga
mulut.

Tempat bunyi bahasa itu terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses
terjadinya disebut proses artikulasi atau fonasi, alat yang digunakan adalah artikulator yang
terbagi atas dua, artikulator aktif dan artikulator pasif. Posisi bertemunya kedua artikulator
tersebut adalah striktur, yang dibagi menjadi dua yaitu strikulator aktif (terbuka) dan
strikulator pasif (tertutup). Jenis striktur akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Bunyi yang
dimaksud adalah bunyi-bunyi tunggal, sebagai hasil satu proses artikulasi. Disamping itu ada
beberapa bahasa yang memiliki bunyi ganda. Ada dua bunyi dalam satu proses artikulasi
yang berangkaian. Artikulasi ini sering disebut dengan artikulasi sertaan (secondary
articulation) dan bunyi yang dihasilkan merupakan bunyi sertaan. Contoh bunyi sertaan
adalah: labialisasi, polarisasi, globalisasi, velarisasi, dan faringisasi.

5. Klasifikasi Bunyi

Dalam studi fonetik, secara umum bunyi bahasa dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok bunyi, yaitu: (a) vokal / vokoid, (b) konsonan / kontoid, dan (c) campuran / semi
vokoid.

a. Bunyi Vokoid

Bunyi yang dihasilkan dengan pelonggaran udara yang keluar dari paru-paru, tanpa
mendapatkan hambatan atau halangan. Penghasilan vokal, selain oleh hambatan dan
gerakan lidah. Dalam gerakan bibir menghasilkan vokal, terdapat dua posisi yang bulat
dan tidak bulat.

b. Bunyi Kontoid

Bunyi yang dihasilkan dengan aliran udara yang mengalami berbagai hambatan atau
penyempitan.

c. Bunyi Semi-Vokoid

6
Bunyi yang memiliki ciri vokoid dan kontoid secara bersamaan. Terkadang bunyi tersebut
masuk kedalam klasifikasi vokoid, namun dalam pemakaian ujaran lain tergolong
klasifikasi kontoid.

6. Unsur Suprasegmental

Dalam kajian fonetik, dijelaskan bahwa bunyi bahasa merupakan suatu runtunan bunyi
yang bersambung-sambung, terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat disertai keras
lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam bunyi
bahasa, terdapat unsur segmental yang dapat disegmentasikan dan unsur suprasegmental yang
tidak dapat disegmentasikan. Bunyi suprasegmental adalah bunyi yang menunjang
pemaknaan bunyi segmental. Berikut ini adalah unsur suprasegmental pada kajian fonetik
(khususnya fonetik akustik):

a. Tekanan / Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lembutnya bunyi. Suatu bunyi segmental yang
diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar,
pasti diikuti dengan tekanan yang keras. Sebaliknya, bunyi segmental yang diucapkan
dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti diikuti
dengan tekanan yang lembutnya.

b. Nada / Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental
diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang
tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan
disertai juga dengan nada yang rendah. Terdapat beberapa istilah nada yang ditemui
dalam kajian fonetik, yaitu: nada naik, nada datar, nada turun, nada turun-naik, nada
naik-turun.

c. Jeda dan Persendian / Juncture

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda
karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena ada tempat perhentian itulah
terjadi persambungan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya. Jeda dapat
bersifat penuh atau sementara. Terdapat beberapa jeda dalam kajian bunyi bahasa, yaitu:
jeda antarkata, jeda antarfrase, dan jeda antarkalimat.

BAB III

7
PENUTUP

A. Simpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta

HP, Achmad. 2007. Materi Ajar Fonologi Seri Fonetik. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta