Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan wilayah dan kota merupakan suatu gambaran perubahan


proses berkembangnya suatu wilayah dan kota yang dapat dilihat dari segi
sudut pandang secara kuantitas dan kualitas. Secara kuantitas perkembangan
wilayah dapat dilihat dari pertumbuhan wilayah dan kota tersebut yang
diindikasikan oleh besaran sistem ekonomi wilayah dan kota. Jika dilihat
secara kualitas perkembangan wilayah dan kota dapat dilihat melalui struktur
kegiatan ekonomi. Secara umum perbahan perkembagan kota dipengaruhi
melalui adanya keterlibatan aktivitas sumber daya manusia berupa peningkatan
jumlah penduduk dan sumber daya alam dalam kota bersangkutan (Hendarto,
1997).
Pertumbuhan penduduk merupakan bagian dinamika dari
perkembangan kehidupan di muka bumi yang mendorong pertumbuhan segala
aspek kehidupan manusia, sehingga mengharuskan permintaan jasa fasilitas
infrastruktur perkotaan terutama ketersediaan fasilitas transportasi umum
diminta untuk ikut membantu berperan sebagai upaya mendorong kinerja
segala bentuk kegiatan manusia. Meningkatnya aktivitas penduduk perkotaan
memiliki pengaruh terhadap meningkatnya mobilitas kota terutama pada
permasalahan pergerakan antar kawasan meliputi pergerakan manusia dan
pergerakan kendaraan.
Peningkatan permintaan fasilitas umum merupakan suatu bentuk akibat
adanya perkembangan wilayah dan kota seperti ketersediaan sarana dan
prasarana umum yang penting untuk ditingkatkan sebagai pelayanan kepada
masyarakat. Peranan sarana dan prasarana umum berperan sebagai fasilitas
yang dibutuhkan masyarakat luas yang penyediaannya dilakukan secara
serentak atau massal (tidak secara per individu) sehingga berorientasi kepada
kepentingan umum (Mulyono, 2008).
Fasilitas transportasi merupakan bagian dari kebutuhan sarana dan
prasarana umum untuk pelayanan kepada masyarakat yang membantu dalam
melakukan mobilitas penduduk untuk beraktivitas. Munculnya transportasi
didasari adanya keterbatasan fisik manusia dalam menjalankan aktivitas
kehidupan sehari-hari baik kehidupan sosial, politik, ekonomi dalam
melangsungkan kehidupannya, pengembangan iptek, budaya dan lain-lain.
Tanpa adanya dukungan transportasi manusia tidak dapat bergerak untuk jarak
dekat sekalipun. Berjalan kaki merupakan salah satu bentuk moda transportasi
paling sederhana yang digunakan manusia untuk bergerak. Keperluan bergerak
tersebutlah yang dinamakan dengan transportasi (Miro, 1997).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sarana dan Prasarana Infrastruktur

Sarana adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk


penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya.
Sedangkan Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan,
kawasan, kota atau wilayah (spatial space) sehingga memungkinkan ruang
tersebut berfungsi sebagaimana mestinya.
Prasarana dan sarana sering disebut infrastruktur yang artinya sebagai
fasilitas fisik suatu kota atau Negara, sering juga disebut pekerjaan umum
(Grigg, 1998). Pekerjaan umum (public work) telah didefenisikan oleh
America Public Works Association (APWA) Stone, 1974 sebagai berikut :
Public works are the physical structures and facilities that are developed or
acquired by the public agencies to house governmental functions and provide
water, power, waste disposal, transportation, and similar services to facilitate
the archievement of common social and economic objectives. Artinya
“pekerjaan umum adalah struktur fisik dan fasilitas yang dikembangkan atau
diperoleh oleh lembaga-lembaga publik untuk rumah fungsi pemerintahan dan
menyediakan air, listrik, pembuangan limbah, transportasi, dan layanan yang
sama untuk memfasilitasi archievement tujuan sosial dan ekonomi umum”.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil)
mendefenisikan prasarana dan saran sebagai berikut: Prasarana dan sarana
merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan untuk mendukung
kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam suatu ruang yang berbatas
agar manusia dapat bermukim dengan nyaman dan dapat bergerak dengan
mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga dapat hidup dengan sehat dan
dapat berinteraksi satu dengan lainnya dalam mempertahankan kehidupannya.
Secara lebih lugas dapat dikatakan bahwa Infrastruktur (perkotaan) adalah
bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-
instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya suatu
system tatanan kehidupan sosial–ekonomi masyarakat.
Infrastruktur merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem
sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Sebagai
suatu system, komponen infrastruktur pada dasarnya sangat luas dan banyak,
namun secara umum terdiri dari 12 komponen sesuai dengan sifat dan
karakternya, yaitu:
1. System air bersih, termasuk bendungan, waduk, transmisi,
instalasi pengolah air dan fasilitas distribusinya.
2. Sistem manajemen air limbah termasuk pengumpulan, pengolah,
pembuang, dan system pakai ulang.
3. Fasilitas manajemen limbah padat atau persampahan.
4. Fasilitas transportasi termasuk jalan raya,rel kereta api, dan
lapangan terbang
5. Sistem transit public
6. Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusinya
7. Fasilitas gas alam
8. Fasilitas drainase/pengendalian banjir
9. Bangunan umum, seperti pasar, sekolahan, rumah sakit, kantor
polisi, dan fasilitas pemadam kebakaran
10. Fasilitas perumahan
11. Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi dan stadion
12. Fasilitas telekomunikasi
Dari keduabelas komponen tersebut, dapat dikelompokan kedalam 7
(tujuh) grup infrastruktur, yaitu:
1. Kelompok air; meliputi air bersih, sanitasi, sanitasi, drainase, dan
pengendalian banjir
2. Kelompok jalan; meliputi jalan raya, jalan kota dan jembatan
3. Kelompok sarana transportasi; meliputi terminal, jaringan rel dan
stasiun kereta api, pelabuhan dan bandara
4. Kelompok pengelolaan limbah; meliputi sistem manajemen limbah
padat (persampahan)
5. Kelompok energi; meliputi produksi dan distribusi listrik dan gas
6. Kelompok bangunan kota, pasar, dan sarana olah raga terbuka
7. Kelompok telekomunikasi
Sebagai suatu system yang terdiri dari banyak komponen maka
perencanaan infrastruktur harus mempertimbangkan keterkaitan dan
keterpengaruhan antar komponen, beserta dampak-dampaknya. Perencanaan
infrastruktur merupakan proses dengan kompleksitas tinggi, multi disiplin,
multi sektor, dan multi user. Oleh karena itu, perencanaan infrastruktur tidak
bisa sektoral namun juga tidak bisa terlalu global. Jika perencanaan terlalu
spesifik (bersifat sektoral) tanpa memperdulikan komponen lain maka akan
banyak bertabrakan dengan komponen lainnya. Sebaliknya jika terjadi global
hasilnya tidak efektif. Perencanaan yang (mungkin) paling baik adalah yang
berada diantaranya, yaitu perencanaan yang didasarkan pada pendekatan
permasalahan secara global pada tingkatan yang tepat dengan
mempertimbangkan secara matang segala dampak eksternalnya, namun masih
berkonsentrasi secar spesifik pada persoalan utama yang ingin dipecahkan.
2.2.