Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas mata kuliah Sistem Penghantaran Obat Baru semester
VII 2018/2019.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen, sehingga kendala-kendala
penulis dapat teratasi.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Kami sadar
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu,
kepada Dosen pembimbing Ibu Prof. Dr. Teti Indrawati, M.Si., Apt. Kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

September, 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kini bentuk sediaan obat telah dimodifikasi dari bentuk sediaan konvensional
menjadi bentuk sediaan dengan sistem penghantaran obat baru (New Drug Delivery
System). Terdapat empat alasan untuk pengembangan sistem penghantaran obat baru
ini, yaitu adanya kemungkinan untuk mempatenkan kembali obat-obat yang telah
berhasil dipasarkan dengan menggunakan sistem penghantaran obat baru; sistem baru
dapat dirancang untuk sampai ke target kerjanya (site action); dapat dilakukan untuk
pengobatan penyakit kekurangan enzim dan terapi kanker dengan sasaran yang lebih
baik; serta efektivitas dan keamanannya lebih baik dan lebih khusus dibandingkan
dengan sediaan konvensional.

Ada beberapa keuntungan sistem penghantaran obat baru bila dibandingkan


dengan sediaan konvensional, yaitu sistem ini dapat mengurangi frekuensi pemberian
obat, mengurangi jumlah total obat yang dibutuhkan untuk mendapatkan respon
terapeutik yang konstan, mengurangi efek yang tidak diinginkan, mengurangi jumlah
total obat dan mengurangi strain mikroba.

Sistem penghantaran obat dirancang dengan cara mengontrol pelepasan obat dari
bentuk sediaannya, mengontrol absorpsi obat, dan dengan sistem targetting. Oleh
karena itu, sistem penghantaran obat ini sangat ditentukan oleh faktor rute pemberian,
pembawa (carier), dan sasaran (target) yang dituju. Rute pemberian obat sangat
penting dalam merancang sistem penghantaran obat, karena akan menentukan
pembawa apa yang dapat digunakan untuk sampai ke target.

Deskripsi Umum

Rute parenteral dari obat-obat terdiri dari injeksi dari bahan-bahan obat, dalam bentuk
larutan, suspensi atau emulsi, masuk dalam tubuh. Dengan demikian, salah satu
hambatan utama masuknya obat ke bagian belakang kulit. Formulasi parenteral telah
resmi dikenal sejak abad ke-19 pertengahan ketika larutan morfin muncul di 1874
Farmakope Inggris (1867). Saat ini banyak kelas obat yang dirumuskan sebagai
bentuk sediaan parenteral dan memang, kontrol terhadap penyakit tertentu tergantung
pada pemberian parenteral, misalnya tipe diabetes mellitus 1.oleh karena itu produk
parenteral merupakan komponen penting obat modern obat.

Pemberian obat parenteral merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan


menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh. Pemberian obat melalui parenteral
dapat dilakukan dengan cara:

- Subcutaneous (SC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam jaringan yang berada


dibawah lapisan dermis.

- Intradermal (ID) yaitu menyuntikkan obat ke dalam lapisan dermis, dibawah


epidermis

- Intramuscular (IM) yaitu muenyontikkan obat ke dalam lapisan otot tubuh

- Intravenous (IV) yaitu menyuntikkan obat ke dalam vena

Selain keempat cara diatas, dokter juga sering menggunakan cara intrathecal.atau
intraspinal, dll. untuk pemberian obat perenteral ini.
A. Rute Subcutan

Injeksi SK merupakan pemberian obat ke dalam lapisan jaringan lemak dibawah


kulit menggunakan jarum hipodermik yang dapat diaplikasikan sendiri oleh pasien
(eg. insulin). Beberapa faktor yang mempengaruhi rute subkutan diantaranya ukuran
molekul akan menyebabkan kecepatan penetrasi molekul besar lebih rendah,
viskositas obat akan mempengaruhi kecapatan difusi obat ke dalam cairan tubuh,
karakteristik anatomi sisi injeksi (eg.vaskularitas, jumlah jaringan lemak) akan
mempengaruhi kecepatan absorpsi obat. Perbandingan kecepatan absorpsi antara SK,
IM dan IV adalah SK < IM < IV. Adapun kekurangan rute SK adalah kesulitan
mengontrol kecepatan absorpsi dari deposit SK, terjadi komplikasi lokal (iritasi dan
nyeri pada tempat injeksi) sehingga tempat injeksi harus berganti-ganti untuk
mencegah akumulasi obat yang tidak terabsorpsi karena dapat menyebabkan
kerusakan jaringan. Cara dan daerah tempat penyuntikan digambarkan di bawah ini.

B. Rute Intramuskular

Injeksi IM dilakukan dengan cara obat dimasukan ke dalam otot skeletal, biasanya
otot deltoit atau gluteal. Onset of action IM > SK. Absorpsi obat dikendalikan secara
difusi dan lebih cepat daripada SK karena vaskularitas pada jaringan otot lebih tinggi.
Kecepatan absorpsi bervariasi bergantung pada

Sifat fisikokimia larutan yang diinjeksikan dan variasi fisiologi (sirkulasi darah otot
dan aktivitas otot). Pemberian IM ke dalam otot dapat membentuk depot obat di otot
dan akan terjadi absoprsi secara perlahan-lahan. Adapun kekurangan dari cara IM
yaitu nyeri di tempat injeksi, jumlah volume yang diinjeksikan terbatas yang
bergantung pada masa otot yang tersedia , dapat terjadikKomplikasi dan pembentukan
hematoma serta abses pada tempat injeksi. Faktor yang mempengaruhi pelepasan obat
dari depot otot antara lain kekompakan depot yang mana pelepasan obat akan lebih
cepat dari depot yang kurang kompak dan lebih difuse, konsentrasi dan ukuran
partikel obat dalam pembawa, pelarut yang digunakan, bentuk fisik sediaan,
karakteristik aliran sediaan dan volume obat yang diinjeksikan. Contoh bentuk
sediaan yang dapat diberikan melalui IM diantaranya emulsi minyak dalam air,
suspensi koloid, serbuk rekonstitusi.

Injeksi intramuskular adalah rute pemberian obat melalui injeksi ke jaringan otot.
Larutan berair atau berminyak dan emulsi atau suspensi dapat diberikan. Tingkat
penyerapan, keterlambatan ketersediaan obat ke sirkulasi sistemik, dan durasi efek
yang perfusi terbatas, tergantung pada ukuran molekul agen, volume, dan osmolaritas
larutan obat, kandungan lemak dari tempat suntikan, dan fisik pasien aktivitas

C. Rute Intravena

Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik,
yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi,
lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai
penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat.
Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein
atau butiran darah.
Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid
darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini â€oebenda asing― langsung
dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan
timbulnya shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga
kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap
injeksi i.v sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya.

D. Rute Intraperitoneal

Metode penayangan cairan dan obat-obatan langsung ke rongga perut melalui tabung
tipis. Rutenya dalam rongga peritoneum. Pemberian obat intraperitoneal adalah
metode pemberian obat melalui suntikan atau infus zat ke dalam peritoneum, di mana
ia diserap oleh lapisan. Zat ini tunduk pertama melalui hati. Pemberian intraperitoneal
merupakan salah satu rute parenteral yang paling sering digunakan pada hewan
pengerat.

E. Rute Intrathecal
Pemberian obat secara langsung ke ruang subarachnoid tulang belakang dalam cairan
serebrospinal, pada setiap tingkat sumbu serebrospinal, termasuk injeksi ke dalam
ventrikel serebral, dalam rangka untuk memotong penghalang darah-otak dan
mencapai lokal, efek yang cepat pada meninges atau sumbu serebrospinal.
Administrasi dalam cairan serebrospinal pada setiap tingkat sumbu serebrospinal,
termasuk injeksi ke dalam ventrikel serebral. (FDA)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana perjalanan obat dalam tubuh melalui rute parenteral jika bentuk
sediaannya larutan, suspensi, dan emulsi?

2. Bagaimana proses pelepasan obat jika melalui rute parenteral?

3. Bagaimana mekanisme absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi dari obat


yang pemberiannya melalui rute parenteral?

4. Kapan obat akan memberikan efek ketika diberikan melalui rute parenteral?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui perjalanan obat dalam tubuh jika diberikan melalui rute parenteral jika
bentuk sediaannya larutan, suspensi, dan emulsi

2. Mengetahui proses pelepasan obat yang diberikan melalui rute parenteral

3. Mengetahui mekanisme absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi dari obat


yang pemberiannya melalui rute parenteral
4. Mengetahui kapan obat akan memberikan efek setelah diberikan melalui rute
parenteral.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemberian obat secara parenteral


Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui
injeksi atau infuse. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini
diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra Muskular
(IM), Subcutaneus (SC), dan Intra peritonial (IP). Obat yang diberikan secara
parenteral akan di absorbs lebih banyak dan bereaksi lebih cepat dibandingkan
dengan obat yang diberikan secara topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa
pemberian obat parenteral dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan
tekhnik aseptic dan antiseptic pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian
obat parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan
kulit. Komplikasi yang seringv terjadi adalah bila pH osmolalitas dan kepekatan
cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat penusukan sehingga
dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar tempat injeksi.
1. Intra vena
Pemberian obat secara intra vena ditujukan untuk mempercepat reaksi obat,
sehingga obat langsung masuk ke sistem sirkulasi darah. pemberian obat ini
dapat dilakukan langsung pada vena atau pada pasien yang dipasang infus,
obat dapat diberikan melalui botol infus atau melalui karet pada selang infus
tempat penyuntikan yaitu pada vena yang dangkal dan dekat dengan tulang,
misalnya :
a. Pada lengan(vena mediana cubiti/vena cephalica)
b. Pada tungkai(vena saphenosus)
c. Pada leher(vena jugularis) khusus pada anak
d. Pada kepala (vena frontalis,atau vena temporalis) khusus pada anak
2. Intra muscular
Pemberian obat secara intra muscular ditunjukkan untuk memberikan obat
dalam jumlah yang besar dibandingkan obat yang diberikan secara sub cutan.
absorbsi juga lebih cepat dibanding sub cutan karena lebih banyak suplai
darah diotot tubuh. beberapa lokasi yang lazim digunakan untuk injeksi intra
muscular adalah deltoid,dorso gluteal,vastus lateralis,dan rektus femoralis.
area-area tersebut digunakan karena massa otot yang besar,vaskularisasi baik
dan jauh dari saraf. untuk menghindari obat salah masuk pada jaringan sub
cutan maka jarum diatur dalam posisi tegak lurus 900.
3. Subkutan
Injeksi sub cutan diberikan dengan menusuk area dibawah kulit yaitu pada
jaringan konektif atau lemak dibawah dermis. daerah yang lazim untuk injeksi
sub cutan adalah lengan atas bagian luar, paha bagian depan, perut, area
skapula,ventrogluteal, dan dorso gluteal. jangan memberikan injeksi pada
daerah yang nyeri,merah,pruritis,atau edema. pada pemberian injeksi sub
cutan jangka lama,perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area
yang berbeda. jenis obat yang lazim diberikan secara sub cutan adalah yaksin,
obat-obatan preoperasi,narkotik,insulin, dan heparin.
4. Intra peritoneal
Injeksi intraperitoneal atau injeksi IP adalah injeksi suatu zat ke dalam
peritoneum (rongga tubuh). IP injeksi lebih sering digunakan untuk hewan
dari pada manusia. Pada hewan, injeksi IP digunakan terutama dalam bidang
kedokteran hewan dan pengujian hewan untuk pemberian obat sistemik dan
cairan karena kemudahan administrasi parenteral dibandingkan dengan
metode lainnya.Pada manusia, metode ini banyak digunakan untuk mengelola
obat kemoterapi untuk mengobati kanker, terutama kanker ovarium.
5. Intra tekal
obat langsung dimasukkan ke dalam ruang subaraknoid spinal, dilakukan bila
diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu
cerebrospinal seperti pada anestesia spinal atau pengobatan infeksi SSP yang
akut.
B. pemberian obat melalui parenteral hingga berefek terapeutik
Suatu obat yang diminum per oral akan melalui tiga fase: farmasetik (disolusi),
farmakokinetik, dan farmakodinamik, agar kerja obat dapat terjadi. Dalam fase
farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga dapat menembus membrane
biologis. Jika obat diberikan melaluirute subkutan, intramuscular, atau intravena,
maka tidak terjadi fase farmaseutik. Fase kedua, yaitu farmakokinetik, terdiri dari
empat proses (subfase):absorpsi, distribusi, metabolisme (atau biotransformasi),
dan ekskresi. Dalam fase farmakodinamik, atau fase ketiga, terjadi respons
biologis atau fisiologis.
1. Fase Farmakokinetik
Farmakokinetik adalah ilmu tentang cara obat masuk ke dalam tubuh,
mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh. Dokter dan
perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan
obat, memilih rute pemberian obat, menilai resiko perubahan keja obat, dan
mengobservasi respons klien.Empat proses yang termasuk di dalamnya adalah
: absorpsi, distribusi, metabolism (biotransformasi), dan ekskresi(eliminasi).
a. Absorpsi
Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari konsentrasi tinggi
dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsipasif,
absorpsi aktif, rinositosis atau pinositosis.
Absorpsi aktif umumnya terjadi melalui difusi(pergerakan dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah). Absorpsi aktif membutuhkan carier atau
pembawa untuk bergerak melawan konsentrasi. Pinositosis berarti
membawa obat menembus membran dengan proses menelan.
Setiap rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi
obat, bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak dapat
ditembus zat kimia, sehingga absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa
dan saluran nafas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi
pada mukosa dan permukaan kapiler-alveolar. Karena obat yang diberikan
per oral harus melewati sistem pencernaan untuk diabsorpsi, kecepatan
absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi intravena menghasilkan
absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat
masuk ke dalam sirkulasi sistemik.
Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah
dalam jaringan.Sebelum memberikan sebuah obat melalui injeksi, perawat
harus mengkaji adanya faktor lokal, misalnya; edema, memar, atau
jaringan perut bekas luka, yang dapat menurunkan absorpsi obat. Karena
otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan
(SC), obat yang diberikan per intramuskular (melalui otot) diabsorpsi lebih
cepat daripada obat yang disuntikan per subkutan. Pada beberapa kasus,
absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek
yang dapat bertahan lama. Apabila perfusi jaringan klien buruk, misalnya
pada kasus syok sirkulasi, rute pemberian obat yang terbaik ialah melalui
intravena. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling
cepat dan dapat diandalkan.
Seperti dikatakan sebelumnya absorpsi obat didalam tubuh berbeda beda
bergantung pada beberapa factor salah satunya rute pemberian.berikut
absorpsi pada beberapa rute pemberian parenteral:
 Intra vena
Pemberian obat secara intravena adalah cara yang paling cepat dan
paling pasti. Suatu suntikan tunggal intravena akan memberikan kadar
obat yang sangat tinggi yang pertama-tama akan mencapai paru-paru
dan kemudian ke sirkulasi sistemik. Kadar puncak yang mencapai
jaringan tergantung pada kecepatan suntikan yang harus diberikan
secara perlahan-lahan sekali. Obat-obat yang berupa larutan dalam
minyak dapat menggumpalkan darah atau dapat menyebabkan
hemolisa darah, karena itu tidak boleh diberikan secara intravena.
Pemberian intravena adalah cara terbaik untuk memberikan dosis yang
tepat dengan cepat dan dengan cara yang terkendali dengan baik ke
seluruh tubuh. Hal ini juga digunakan untuk larutan yang membuat
iritasi, yang akan menyebabkan nyeri dan kerusakan jaringan jika
diberikan melalui suntikan subkutan atau intramuskular. Suntikan
intravena dapat lebih sulit untuk dikelola daripada injeksi subkutan
atau intramuskular karena memasukkan jarum atau kateter ke dalam
vena mungkin sulit, terutama jika orang tersebut adalah obesitas.
Ketika diberikan secara intravena, obat dikirimkan langsung ke aliran
darah dan cenderung berlaku lebih cepat daripada ketika diberikan oleh
rute lain. Akibatnya, praktisi kesehatan terus memantau orang yang
menerima suntikan intravena untuk tanda-tanda bahwa obat ini bekerja
atau menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Juga, efek dari
obat yang diberikan oleh rute ini cenderung bertahan untuk waktu yang
lebih singkat. Oleh karena itu, beberapa obat harus diberikan melalui
infus terus menerus untuk menjaga efeknya konstan.

 Intra muscular
Obat- obat yang larut dalam air akan diabsorbsi dengan cepat setelah
penyuntikan IM. Umumnya kecepatan absorpsi setelah penyuntikan
pada muskulus deloid atau vastus lateralis adalah lebih cepat dari pada
bila disuntikkan pada gluteus maximus.
Rute intramuskular disukai dibanding rute subkutan ketika
diperlukan obat dengan volume yang lebih besar. Karena otot-otot
terletak di bawah kulit dan jaringan lemak, digunakan jarum yang lebih
panjang. Obat biasanya disuntikkan ke dalam otot lengan atas, paha,
atau pantat. Seberapa cepat obat ini diserap ke dalam aliran darah
tergantung, sebagian, pada pasokan darah ke otot: Semakin kecil suplai
darah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk obat yang akan
diserap.
 Subkutan
mempunyai kekurangan seperti suntikan intramuscular, tetapi laju
penyerapannya dapat lebih mudah diatur, misalnya efek anestetika
local dapat diperlama dengan penambahan vasokonstriktor (misalnya
epinefrin) ke dalam larutannya.
Suntikan subkutan hanya bias dilakukan untuk obat-obat yang tidak
menyebabkan iritasi terhadap jaringan karena akan menyebabkan rasa
sakit hebat, bnekrosis dan pengelupasan kulit. Absorpsi melalui
subkutan ini dapat pula bervariasi sesuai dengan yang diinginkan.
Untuk rute subkutan, jarum dimasukkan ke dalam jaringan lemak tepat
di bawah kulit. Setelah obat disuntikkan, kemudian bergerak ke
pembuluh darah kecil (kapiler) dan terbawa oleh aliran darah. Atau,
obat mencapai aliran darah melalui pembuluh limfatik. Obat protein
yang berukuran besar seperti insulin, biasanya mencapai aliran darah
melalui pembuluh limfatik karena obat ini bergerak perlahan dari
jaringan ke kapiler. Rute subkutan digunakan untuk banyak obat
protein karena obat tersebut akan hancur dalam saluran pencernaan
jika mereka diambil secara oral.
Obat-obatan tertentu (seperti progestin yang digunakan untuk
pengendalian kelahiran hormonal) dapat diberikan dengan
memasukkan kapsul plastik di bawah kulit (implantasi). Meskipun rute
ini jarang digunakan, keunggulan utamanya adalah untuk memberikan
efek terapi jangka panjang (misalnya, etonogestrel yang ditanamkan
untuk kontrasepsi dapat bertahan hingga 3 tahun).

 Intra peritoneal
Rongga peritoneum mempunyai permukaan absorpsi yang sangat luas
sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara ini
banyak digunakan di laboratorium tetapi jarang digunakan di klinik
karena adanya bahaya infeksi dan perlengketan peritoneu.
 Intra tekal
jarum dimasukkan antara dua tulang di tulang punggung bagian bawah
dan ke dalam ruang di sekitar sumsum tulang belakang. Obat ini
kemudian disuntikkan ke kanal tulang belakang. Sejumlah kecil
anestesi lokal sering digunakan untuk memati rasakan tempat suntikan.
Rute ini digunakan ketika obat diperlukan untuk menghasilkan efek
yang cepat atau lokal pada otak, sumsum tulang belakang, atau lapisan
jaringan yang menutupi (meninges) -misalnya, untuk mengobati
infeksi dari struktur ini. Anestesi dan analgesik (seperti morfin)
kadang-kadang diberikan dengan cara ini.
Dengan cara ini oabt langsung disuntikkan ke dalam ruang
subaraknoid spinal. Suntikan intratekal dilakukan karena banyak obat
yang tidak dapat mencapi otak, karena adanya sawar darah otak.
b. distribusi

Obat setelah diabsorbsi akan tersebar melalui sirkulasi darah


keseluruh badan. Dalam peredarannya, kebanyakan obat-obat di
distribusikan melalui membrane badan dengan cara yang relative lebih
muda dan lebih cepat dibanding dengan eliminasi atau pengeluaran obat.
Distribusi adalah proses suatu obat yang secara reversible
meninggalkan aliran darah dan masuk ke interstisium (cairan ekstrasel)
dan/atau ke sel-sel jaringan. Pengiriman obat dari plasma ke interstinum
terutama tergantung pada aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat ikatan
ion obat tersebut dengan protein plasma atau jaringan dan hidrofobisitas
dari obat tersebut.
Factor-faktor penting yang berhubungan dengan distribusi obat antara lain
:
 Perfusi darah melalui jaringan
Perfusi darah melalui jaringan dan organ bervariasi sangat luas. Perfusi
yang tinggi adalah pada daerah paru-paru, hati, ginjal, jantung, otak
dan daerah yang perfusinya rendah adalah lemak dan tulang.
Sedangkan perfusi pada otot dan kulit adalah sedang. Perubahan dalam
aliran kecepatan darah (sakit jantung) akan mengubah perfusi organ
seperti hati, ginjal dan berpengaruh terhadap kecepatan eliminasi obat.
 Kadar gradien, pH dan ikatan zat dengan makromolekul
Penetrasi obat tergantung pada luasnya kadar gradient, bentuk yang
dapat berdifusi bebas, factor seperti pH gradient dan ikatan pada
konstituen intraseluler akan mempengaruhi akumulasi dalam jaringan.
 Partisi ke dalam lemak
Obat yang larut dalam lipid dapat mencapai kosentrasi yang tinggi
dalam jaringan lemak. Obat akan disimpan oleh larutan fisis dalam
lemak netral. Jumlah lemak adalah 15% dari berat badan dan
merupakan tempat penyimpanan untuk obat. Lemak juga mempunyai
peranan dalam membatasi efek senyawa yang kelarutannya dalam
lemak adalah tinggi dengan bekerja sebagai akseptor obat selama fase
redistribusi.
 Transfer aktif
Pemasukan ke dalam jaringan dapat juga terjadi dengan proses
transport aktif. Metadon, propanolol dan amfetamin diangkut ke dalam
jaringan paru-paru oleh proses aktif. Hal ini merupakan mekanisme
yang penting untuk pemasukan obat tersebut yang besar dalam paru-
paru.
 Sawar
Distribusi obat ke susunan syaraf pusat dan janin harus menembus
sawar khusus yaitu sawar darah otak dan sawar uri. Sawar darah otak,
penetrasi obat dari peredaran darah ke dalam ruang ekstraseluler
susunan saraf sentral dan cairan cerebrospinal dibatasi atau ditentukan
oleh keadaan permukaan absorbs.
 Ikatan obat dengan protein plasma
Factor yang penting dalam distribusi obat adalah ikatannya dengan
protein plasma yang merupakan makromolekul. Banyak obat terikat
dengan protein di dalam plasma darah dan jaringan lain. Umumnya
ikatannya merupakan proses reversible dan akan berpengaruh terhadap
ketersediaan obat.
Protein yang terdapat dalam plasma dan mengadakan ikatan dengan
obat adalah albumin. Bentuk persamaan obat dengan protein dapat
dituliskan sebagai berikut :
Obat + protein plasma kompleks obat-protein
plasama
Ikatan senyawa kompleks obat tersebut akan berdisosiasi, hingga
bentuk obat tersebut dapat diekskresikan.
c. Metabolisme

Metabolisme sering disebut biotransformasi dan merupakan suatu


istilah yang menggambarkan metabolism obat. Kebanyakan obat akan
mengalami biotransformasi terlebih dahulu agar dapat dikeluarkan dari
badan. Pada dasarnya tiap obat merupakan zat asing yang tidak diinginkan
oleh badan dan badan berusaha merombak zat tersebut menjadi metabolit
yang bersifat hidrofil agar lebih lancar diekskersikan melalui ginjal, jadi
reaksi biotransformasi yang merupakan peristiwa detoksifikasi.
Reaksi biotransformasi dapat berupa oksidasi, hidrolisa dan konjugasi.
Biotransformasi berlangsung terutama di hati, di saluran pencernaan, tetapi
beberapa obat mengalami biotransformasi di ginjal, plasma dan mukosa
intestinal, meskipun secara kuantitatif letak tersebut dipandang tidak
penting,
Perubahan yang terjadi disebabkan oleh reaksi enzim dan digolongkan
menjadi 2 fase, yaitu fase pertama merupakan reaksi perubahan yang
asintetik dan fase kedua merupakan reaksi konjugasi.
Dalam metabolisme senyawa asli mengalami perubahan kimiawi
dan dianggap sebagai mekanisme eliminasi obat, meskipun masalah
ekskresi metabolit tetap ada. Kebanyakan metabolit mempunyai sifat
partisi yang nyata berbeda dibanding dengan senyawa aslinya terutama
sifat lipofilnya menurun. Senyawa baru tersebut mudah diekskresikan
karena tidak segera diabsorbsi dari cairan tubuli ginjal. Metabolism dapat
berpengaruh terhadap aktivitas biologi dari obat dengan bermacam-macam
cara. Kebanyakan aktivitas farmakologi dapat menurun atau hilang setelah
mengalami metabolism. Hal tersebut dapat digunakan untuk menentukan
lama maupun intensitas aksi obat. Pada beberapa obat yang disebut produk
tidak aktif secara biologi, tetapi metabolisme obat itu dapat mengaktifkan
obatnya dalam hal ini dimaksudkan agar tujuan terapi dapat tercapai.

d. Ekskresi

Organ yang paling penting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat
diekskresikan dalam struktur tidak berubah atau sebagai metabolit. Jalan
lain yang utama adalah eliminasi obat melalui system empedu masuk ke
dalam usus kecil, obat atau metabolitnya dapat mengalami reabsorbsi
(siklus enterohepatik) dan eliminasi dalam feses (kotoran manusia). Jalur
ekskresi yang jumlah obat sedikit adalah melalui air ludah dan air susu
merupakan suatu rute yang menimbulkan masalah bagi bayi yang disusui.
Zat yang menguap seperti gas anestesi berjalan melalui epitel paru-paru.
Ginjal merupakan organ ekskresi yang penting . ekskresi merupakan
resultante dari 3 proses antara lain :

 Filtrasi di glumerolus
Glumerolus merupakan jaringan kapiler dapat melewatkan semua zat
yang lebih kecil dari albumin melalui cela antara sel endotelnya
sehingga semua obat yang tidak terikat protein plasma mengalami
filtrasi disana.
 Sekresi aktif di tubuli proksimal
Banyak obat diangkut melaui tubuli proksimal secara aktif ke dalam
urine yang ada di tubuli dan disebut sekresi tubuli aktif. Sekresi obat
dapat ditunjukan bila kecepatan pembuangan urine melebihi kecepatan
filtrasi glomeruli.
 Reabsorbsi pasif di tubuli proksimal dan distal
Di tubuli proksimal dan distal terjadi reabsorbsi pasif untuk bentuk non
ion. Oleh karena itu untuk obat berupa elektrolit lemah, proses
reabsorbsi ini bergantung pada pH lumen tubuli yang menentukan
derajat ionisasi. Bila urine lebih basa, asam lemah terionisasi lebih
banyak sehingga reabsorbsinya berkurang, akibatnya ekskresinya
meningkat. Sebaliknya bila urine lebih asam, ekskresi asam lemah
berkurang. Keadaan yang berlawanan terjadi dalam ekskresi basa
lemah.

Banyak metabolit obat yang berbentuk di hati di ekskresi ke dalam usus


melalui empedu, kemudian dibuang melalui feses, tetapi lebih sering
diserap kembali di saluran cerna dan akhirnya diekskresi melalui ginjal.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu dan
rambut, tetapi dalam jumlah yang relative kecil sekali sehingga tidak
berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur dapat digunakan sebagai
pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu.

2. Fase farmakodinamik
Farmakodinamika obat ialah salah satu subdisiplin farmakologi yang
mempelajari tentang efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme
kerjanya.
Farmakodinamika obat juga mempelajari cara kerja obat , efek obat terhadap
fungsi berbagai organ, dan pengaruh obat terhadap reaksi biokimia dan
struktur organ obat.
Dengan memahami farmakologi diharapkan diketahui bagaimana interaksi
obat dengan sel dan bagaimana efek dan respons yang terjadi.
Farmakodinamik adalah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek
biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya.
a. Mekanisme Kerja Obat
Mekanisme kerja obat pada umumnya melalui interaksi dengan reseptor
pada sel organisme. Reseptor obat pada umumnya merupakan suatu
makromolekul fungsional, yang pada umumnya juga bekerja sebagai suatu
reseptor fisiologis bagi ligan-ligan endogen (semisal: hormon dan
neurtransmiter). Interaksi obat dengan reseptor pada tubuh dapat
mengubah kecepatan kegiatan fisiologis, namun tidak dapat menimbulkan
fungsi faali yang baru.
Terdapat bermacam-macam reseptor dalam tubuh kita, misalnya reseptor
hormon, faktor pertumbuhan, faktor transkripsi, neurotransmitter, enzim
metabolik dan regulator (seperti dihidrofolat reduktase,asetilkolinesterase).
Namun demikian, reseptor untuk obat pada umumnya merupakan reseptor
yang berfungsi bagi ligan endogen (hormon dan neurotransmitter).2
Reseptor bagi ligan endogen seperti ini pada umumnya sangat spesifik
(hanya mengenali satu struktur tertentu sebagai ligan).
Obat-obatan yang berinteraksi dengan reseptor fisiologis dan melakukan
efek regulator seperti sinyal endogen ini dinamakan agonis. Ada obat yang
juga berikatan dengan reseptor fisioloigs namun tanpa menghasilkan efek
regulator dan menghambat kerja agonis (terjadi persaingan untuk
menduduki situs agonis) disebut dengan istilah antagonis, atau disebut
juga dengan bloker. Obat yang berikatan dengan reseptor dan hanya
menimbulkan efek agonis sebagian tanpa memedulikan jumlah dan
konsentrasi substrat disebut agonis parsial. Obat agonis-parsial
bermanfaat untuk mengurangi efek maksimal agonis penuh, oleh karena
itu disebut pula dengan istilah antagonis parsial. Sebaliknya, obat yang
menempel dengan reseptor fisiologik dan justru menghasilkan efek
berlawanan dengan agonis disebut agonis negatif.
Pembagian reseptor fisiologik adalah :

 Reseptor enzim – mengandung protein permukaan kinase yang


memfosforilasi protein efektor di membran plasma. Fosforilasi
mengubah aktivitas biokimia protein tersebut. Selain kinase, siklase
juga dapat mengubah aktivitas biokimia efektor. Tirosin kinase, tirosin
fosfatase, serin / treonin kinase, dan guanil siklase berfungsi sebagai
situs katalitik, dan berperan layaknya suatu enzim.
Contoh ligan untuk reseptor ini: insulin, epidergmal growth factor
(EGF), platelet-derived growth factor (PDGF), atrial natriuretic
factor (ANF), transforming growth factor-beta (TGF-β), dan sitokin.
 Reseptor kanal ion – reseptor bagi beberapa neurotransmitter, sering
disebut dengan istilah ligandgated ion channels atau receptor operated
channels. Sinyal mengubah potensial membran sel dan komposisi
ionik instraselular dan ekstraselular sekitar.
Contoh ligan untuk reseptor ini: nikotinik, γ-aminobutirat tipe A
(GABAA), glutamat, aspartat, dan glisin.
 Reseptor tekait Protein G – Protein G merupakan suatu protein
regulator pengikatan GTP berbentuk heterotrimer. Protein G adalah
penghantar sinyal dari reseptor di permukaan sel ke protein efektor.
Protein efektor Protein G antara lain adenilat siklase, fosfolipase C dan
A2, fosfodiesterase, dan kanal ion yang terletak di membran plasma
yang selektif untuk ion Ca2+ dan K+. Obat selain antibiotik pada
umumnya bekerja dengan mekanisme ini.
Contoh ligan untuk reseptor ini: amina biogenik, eikosanoid, dan
hormone – hormon peptida lain.
 Reseptor faktor transkripsi – mengatur transkripsi gen tertentu.
Terdapat daerah pengikatan dengan DNA (DNA binding domain) yang
berinteraksi secara spesifik terhadap genom tertentu untuk
mengaktifkan atau menghambat transkripsi.
Contoh ligan: hormon steroid, hormon tiroid, vitamin D, dan retinoid
 Second Messenger pada sitoplasma – dalam transduksi sinyal
memungkinkan terbentuknya caraka kedua (second messenger) yang
bertindak sebagai sinyal lanjutan untuk jalur transduksin sinyal.
Ciri khas cara kedua adalah produksinya yang sangat cepat dengan
konsentrasi yang rendah.
Setelah sinyal utama (first messenger) tidak ada, caraka kedua akan
disingkarkan melalui proses daur ulang.
Contoh: AMP, siklik GMP, siklik ADP
Selain daripada reseptor, obat juga dapat bekerja tanpa melalui reseptor,
misalnya obat yang mengikat molekul atau ion dalam tubuh. Contohnya
penggunaan antasida sebagai penetral keasaman lambung yang berlebihan.
2-merkaptoetana sulfonat (mesna) meniadakan radikal bebas disaluran
perkemihan. Obat lain juga berfungsi sebagai analog struktur normal tubuh
yang bisa “bergabung” ke dalam sel sehingga mengganggu fungsi sel dan
tubuh. Misalnya analog purin dan pirimidin yang dapat diinsersei ke dalam
asam nukleat antivirus dan kemoterapi untuk kanker.
b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Respons Tubuh terhadap Obat
Tubuh setiap orang berbeda-beda dalam hal menghasilkan respons untuk
pemberian obat dengan dosis tertentu. Pemberian obat biasanya telah
disepakati secara bersama oleh farmakolog dalam dosis biasa ( dosis rata-
rata) yang cocok untuk sebagian besar pasien. Dosis rata – rata ini dapat
menimbulkan efek toksik untuk beberapa orang. Sebaliknya dosis rata-rata
juga dapat menimbulkan efek yang tidak teraupetik.
Bagan di bawah ni menunjukkan bagaimana perjalanan suatu obat hingga
menimbulkan efek farmakologik (respons pasien terhadap obat tertentu).
Kepatuhan pasien menentukan jumlah obat yang diminum. Pemberian obat
per oral yang diserap dengan bioavailabilitas obat itu. Sementara itu
bioavailabilitas ditentukan oleh mutu obat. Faktor farmakokinetik
menentukan berapa dari jumlah obat yang diminum dapat mencapai
tempat kerja obat untuk bereaksi dengan reseptor. Sementara factor
farmakodinamik menentukan intensitas efek farmakologis yang
ditimbulkan oleh kadar obat.
c. Kondisi Fisiologis
Kondisi fisiologik ditentukan oleh usia, berat badan, laus permukaan
tubuh, atau kombinasi factor – factor ini.
Usia dapat menyebabkan perubahan efek farmakologik ekstrem
dibandingkan dengan golongan usia lain. Semisal, pada neonatus dan bayi
prematur fungsi farmakokinetik tubuh belum berlangsung dengan baik
(misalnya b iotransfrmasi hati, eksrekgi ginjal, ikatan protein plasma, dan
sawar darah-otak dan sawar kulit). Hal ini menyebabkan peningkatan
kadar obat dalam darah dan jaringan. Pemberian obat heksaklorofen
topical pada neonatus, misalnya, menyebabkan respons neourotoksisitas
akibat belum terbentuknya sawar kulit secara sempurna. Kloramfenikol
dapat menyebabkan sindrom bayi abu-abu akibat metabolism obat oleh
hepar masih rendah (glukuronidasi) serta filtrasi obat oleh glomerulus
ginjal belum berlangsung dengan sempurna.
Pada usia lanjut efek ini juga terjadi. Fungsi ginjal yang melemah
merupakan penyebab perubahan farmakokinetik yang terbesar.
Peningkatan sensitivitas reseptor (terutama di otak) juga menjadi andil
dalam konteks ini. Contohnya adalah penggunaan isoniazid yang dapat
menyebabkan hepatotoksisitas akibat melemahnya metabolism oleh hepar.
Demikian juga penggunaan antikolinergik dapat menimbulkan respons
konstipasi akibat melemahnya kontraktilitas otot polos.
d. Kondisi Patologik
Terjadinya kondisi patologik terutama pada organ-organ yang banyak
melakukan efek farmakokinetik terhadap obat, misalnya penyakit saluran
cerna, hepar, ren, dan kardiovaskuler, mengubah respons tubuh terhadap
obat. Penyakit saluran cerna dapat mengurangi kecepatan absorbsi obat,
khususnya pada pemberian per oral. Penyakit kardiovaskular mengurangi
distribusi obat dan aliran darah ke hepar dan ginjal yang akan
mengeliminasi obat. Penyakit hepar melemahkan metabolime obat di hati.
Gangguan ginjal mengurangi eksreksi obat aktif maujpun metabolitnya
melalui ginjal.
Contohnya, diare atau gastroenteritis menurunkan respons tubuh terhadap
obat digoksin, kontrasepsi oral, fenitoin, dan sediaan salut enterik. Ini
diakbiatkan waktu transit dalam saluran cerna yang memendek akibat
terjadinya motilitas tinggi (akibat diare), sehingga jumlah obat yang
diabsorbsi menjadi berkurang.
e. Faktor Genetik
Efek farmakologis yang berbeda-beda, yang diakibatkan oleh adanya
kaitan faktor genetik dipelajari secara khusus melalui farmakogenetik.
Farmakogenetik adalah studi tentang variasi respons obat akibat factor
genetik. Farmakogenetik perlu dibedakan dari overdosis, reaksi alergi,
dan inborn error of metabolism. Inborn error of metabolism adalah
kelainan genetik yang mengakibatnya kelainan pengolahan zat tertentu
sehingga terjadi akumulasi dalam sel. Sementara itu, farmakogenetik
mempelajari tentang adanya perbedaan respons individu terhadap suatu
obat.
Dari aspek farmakokinetik, farmakogenetik banyak memengaruhi sisi
biotransformasi (metabolisme) obat. Selain biotransformasi (metabolisme),
farmakokinetik juga melibatkan proses absorpsi, distribusi, dan ekskresi.
Metabolisme obat terutama terjadi di sel-sel hati (mikrosom = retikulum
endoplasma hati), serta di sitosol. Selain hati, dinding usus, ginjal, paru,
darah, otak, dan kulit juga menjadi tempat biotransformasi obat.
f. Faktor Toleransi
Toleransi merupakan penurunan efek farmakologik akibat pemberian yang
berulang. Toleransi ini terbagi menjadi toleransi farmakokinetik, yang
terjadi akibat obat meningkatkan metabolismenya sendiri (dikarenakan
obat merupakan self inducer bagi proses metabolism dirinya sendiri);
dan toleransi farmakodinamik, akibat terjadi adaptasi sel dan reseptor
terhadap ligan (obat) yang terus menerus berada di sekitar sel tersebut
berada. Sensitifitas reseptor-reseptor ini umumnya menurun di tengah
kelimpahan ligan. Jumlah ligan yang berikatan tidak berkurang, namun
sensitiiftas reseptor berkurang sehingga efek farmakologis yang
ditimbulkan juga berkurang.
g. Faktor Interaksi Obat
Obat dapat berinteraksi dengan zat – zat makanan, zat kimia, bahkan
dengan obat lain. Oleh karena itu perlu diperhatikan adanya efek (yang
mungkin menguntungkan, atau malah merugikan) akibat interaksi ini.
Interaksi yang menguntungkan misalnya penggunaan kombinasi obat
antihipertensi, antiasma, dan antidiabetik yang dapat meningkatkan
efektivitas dan mengurangi efek samping; kombinasi obat anti-HIV dan
anti-kanker. Interaksi yang merugikan akan mendapatkan bahasan yang
lebih mendalam.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
1. Indrawati, Teti. 2009. Sistem Penghantaran Obat Peroral dengan Pelepasan
Terkontrol Langsung ke Target, 2-3.
2.