Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN POLIO”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II


Dosen Pembimbing: Ns. Asnah, S.Kep., M.Pd

Disusun Oleh :

KEPERAWATAN TK. III

NUR ARISKA MERITAMA (P07220116110)


NURLYANTI (P07220116111)
NURMALASARI (P07220116112)
QOLIFATUSSAKDIYAH (P07220116113)
RUSDIYATI (P07220116114)
SARMILA (P07220116115)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah
ini. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah inidenganbenar.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Asuhan Keperawatan
Polio” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Balikpapan, 09 Agustus 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
C. Sistematika Penulisan ......................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................................... 3
A. Pengertian ........................................................................................................... 3
B. Anatomi Fisiologi ............................................................................................... 4
C. Etiologi ................................................................................................................ 5
D. Patofisiologi ........................................................................................................ 7
E. Patoflow Diagram ............................................................................................... 9
F. Tanda dan Gejala .............................................................................................. 10
G. Pemeriksaan Penunjang .................................................................................... 12
H. Penatalaksanaan Medis ..................................................................................... 12
I. Komplikasi ........................................................................................................ 13
J. Konsep Dasar Keperawatan .............................................................................. 14
1. Pengkajian ..................................................................................................... 14
2. Diagnosa ........................................................................................................ 14
3. Intervensi ....................................................................................................... 14
BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 18
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 18
B. Saran ................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat
mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat
menyerang pada semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah
kelompok umur kurang dari 3 tahun. Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala,
muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang disertai diare.
Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf , sehingga
menimbulkan kelumpuhan yang permanen. Penyakit polio pertama terjadi di
Eropa pada abad ke-18, dan menyebar ke Amerika Serikat beberapa tahun
kemudian. Penyakit polio juga menyebar ke negara maju belahan bumi utara yang
bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan rata-rata orang
yang menderita penyakit polio meninggal, sehingga jumlah kematian meningkat
akibat penyakit ini. Penyakit polio menyebar luas di Amerika Serikat tahun 1952,
dengan penderita 20,000 orang yang terkena penyakit ini ( Miller,N.Z, 2004 ).
Indonesia sekarang mewakili satu per lima dari seluruh penderita polio
secara global tahun ini. Kalau tidak dihentikan segera, virus ini akan segera
tersebar ke seluruh pelosok negeri dan bahkan ke Negara-negara tetangga
terutama daerah yang angka cakupan imunisasinya masih rendah.
Indonesia merupakan Negara ke-16 yang dijangkiti kembali virus tersebut.
Banyak pihak khawatir tingginya kasus polio di Indonesia akan menjadikan
Indonesia menjadi pengekspor virus ke Negara-negara lain, khususnya di Asia
Timur. Wabah polio yang baru saja terjadi di Indonesia dapat dipandang sebagai
sebuah krisis kesehatan dengan implikasi global

1
B. Tujuan Penulisan

Tujuan Penulisan Makalah ini, yaitu :

1. Mengetahui pengertian polio


2. Mengetahui Anatomi fisiologi
3. Mengetahui Etiologi Polio
4. Mengetahui Patoflow diagram dari Polio
5. Mengetahui Tanda dan gejala Polio
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan medis
7. Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi dan bagaimana konsep dasar
keperawatan dari polio.

C. Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan Makalah ini, yaitu :

Bab I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan penulisan serta
sistematika

Bab II Tinjauan teori terdiri dari Pengertian, anatomi fisiologi, etiologi,


patofisiologi, patoflow diagram, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan medih, komplikasi dan konsep dasar keperawatan dari polio.

Bab III Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit
peradaban. Polio menular melalui kontak antar manusia. Virus masuk ke dalam
tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang
terkontaminasi feses. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga
strain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan
kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal
usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun.
Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.
Nama lain dari polio adalah Poliomieltis. Virus polio yang termasuk genus
enterovirus famili Picornavirus.Virus ini tahan terhadap pengaruh fisik dan bahan
kimia. Selain itu, dapat hidup dalam tinja penderita selama 90-100 hari. Virus ini
juga dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat
sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan.
Polio menyebar terutama melalui kontaminasi tinja, terutama di daerah
dengan sanitasi lingkungan buruk. Penularan juga terjadi melalui fekal-oral.
Artinya makanan/minuman yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja
penderita masuk ke mulut orang sehat lainnya. Sedangkan oral-oral adalah
penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke dalam mulut manusia sehat
lainnya. Ciri khas dari penderita polio adalah kerusakan saraf. Kerusakan itu
bermula dari virus yang mengalami inkubasi selama 5-35 hari di dalam tubuh.
Selanjutnya virus akan berkembang pertama kali dalam dinding faring (leher
dalam) atau saluran cerna bagian bawah. Dari saluran cerna virus menyebar ke
jaringan getah bening lokal atau regional. Akhirnya virus menyebar masuk ke
dalam aliran darah sebelum menembus dan berkembang biak di jaringan saraf.
Poliomielitis mempunyai tendensi lebih merusak sel saraf motorik pada medulla
spinalis dan batang otak. Seringkali polio menyebabkan kerusakan saraf tubuh
yang membuat pertumbuhan penderita menjadi asimetris. Sehingga cenderung

3
menimbulkan gangguan bentuk tubuh yang umumnya menetap bahkan bertambah
berat

B. Anatomi Fisiologi
Sistem saraf terdiri atas sel-sel saraf (neuron) dan sel-sel penyokong
(neuroglia dan Sel Schwann). Kedua sel tersebut demikian erat berikatan dan
terintegrasi satu sama lain sehingga bersama-sama berfungsi sebagai satu unit.
Sistem saraf dibagi menjadi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi. Sistem
saraf pusat terdiri dari otak dan medula spinalis. Sistem saraf tepi terdiri dari
neuron aferen dan eferen sistem saraf somatis dan neuron sistem saraf autonom
(viseral). Otak dibagi menjadi telensefalon, diensefalon, mesensefalon,
metensefalon, dan mielensefalon.
Medula spinalis merupakan suatu struktur lanjutan tunggal yang
memanjang dari medula oblongata melalui foramen magnum dan terus ke bawah
melalui kolumna vertebralis sampai setinggi vertebra lumbal 1-2. Secara anatomis
sistem saraf tepi dibagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan 12 pasang saraf
kranial. Suplai darah pada sistem saraf pusat dijamin oleh dua pasang arteria yaitu
arteria vertebralis dan arteria karotis interna, yang cabang-cabangnya akan
beranastomose membentuk sirkulus arteriosus serebri Wilisi. Aliran venanya
melalui sinus dura matris dan kembali ke sirkulasi umum melalui vena jugularis
interna. (Wilson. 2005, Budianto. 2005, Guyton. 1997)
Membran plasma dan selubung sel membentuk membran semipermeabel
yang memungkinkan difusi ion-ion tertentu melalui membran ini, tetapi
menghambat ion lainnya. Dalam keadaan istirahat (keadaan tidak terstimulasi),
ion-ion K+ berdifusi dari sitoplasma menuju cairan jaringan melalui membran
plasma. Permeabilitas membran terhadap ion K+ jauh lebih besar daripada
permeabilitas terhadap Na+ sehingga aliran keluar (efluks) pasif ion K+ jauh
lebih besar daripada aliran masuk (influks) Na+.
Keadaan ini mengakibatkan perbedaan potensial tetap sekitar -80mV yang
dapat diukur di sepanjang membran plasma karena bagian dalam membran lebih
negatif daripada bagian luar. Potensial ini dikenal sebagai potensial istirahat
(resting potential). (Snell. 2007). Bila sel saraf dirangsang oleh listrik, mekanik,
atau zat kimia, terjadi perubahan yang cepat pada permeabilitas membran
terhadap ion Na+ dan ion Na+ berdifusi melalui membran plasma dari jaringan ke
4
sitoplasma. Keadaan tersebut menyebabkan membran mengalami depolarisasi.
Influks cepat ion Na+ yang diikuti oleh perubahan polaritas disebut potensial aksi,
besarnya sekitar +40mV. Potensial aksi ini sangat singkat karena hanya
berlangsung selama sekitar 5 msec.
Peningkatan permeabilitas membran terhadap ion Na+ segera menghilang
dan diikuti oleh peningkatan permeabilitas terhadap ion K+ sehingga ion K+
mulai mengalir dari sitoplasma sel dan mengmbalikan potensial area sel setempat
ke potensial istirahat.Potensial aksi akan menyebar dan dihantarkan sebagai
impuls saraf. Begitu impuls menyebar di daerah plasma membran tertentu
potensial aksi lain tidak dapat segera dibangkitkan.
Durasi keadaan yang tidak dapat dirangsang ini disebut periode refrakter.
Stimulus inhibisi diperkirakan menimbulkan efek dengan menyebabkan influks
ion Cl- melalui membran plasma ke dalam neuron sehingga menimbulkan
hiperpolarisasi dan mengurangi eksitasi sel.

C. Etiologi
Penyebab polio adalah virus polio.Virus polio merupakan RNA virus dan
termasuk famili Picornavirus dari genus Enterovirus. Virus polio adalah virus
kecil dengan diameter 20-32 nm, berbentuk spheris dengan struktur utamanya
RNA yang terdiri dari 7.433 nukleotida, tahan pada pH 3-10, sehingga dapat
tahan terhadap asam lambung dan empedu. Virus tidak akan rusak dalam
beberapa hari pada temperatur 20 – 80 C, tahan terhadap gliserol, eter, fenol 1%
dan bermacam-macam detergen, tetapi mati pada suhu 500 – 550 C selama 30
menit, bahan oksidator, formalin, klorin dan sinar ultraviolet. Selain itu, penyakit
ini mudah berjangkit di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, melalui peralatan
makan, bahkan melalui ludah.
Secara serologi virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Tipe I Brunhilde
2. Tipe II Lansing dan
3. Tipe III Leoninya
Tipe I yang paling sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas, tipe II
kadang-kadang menyebabkan wajah yang sporadic sedang tipe III menyebabkan
epidemic ringan. Di Negara tropis dan sub tropis kebanyakkan disebabkan oleh
tipe II dan III dan virus ini tidak menimbulkan imunitas silang.
5
Penularan virus terjadi melalui :
1. Secara langsung dari orang ke orang
2. Melalui tinja penderita
3. Melalui percikan ludah penderita
Virus masuk melalui mulut dan hidung,berkembang biak didalam
tenggorokan dan saluran pencernaan,lalu diserap dan disebarkan melalui system
pembuluh darah dan getah bening
Resiko terjadinya Polio:
1. Belum mendapatkan imunisasi
2. Berpergian kedaerah yang masih sering ditemukan polio
3. Usia sangat muda dan usia lanjut
4. Stres atay kelehahan fisik yang luar biasa(karena stress emosi dan fisik
dapat melemahkan system kekebalan tubuh).

Klasifikasi Polio
Poliomielitis dibagi atas empat macam, yaitu :
1. Poliomielitis Asimtomatis: Masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat tanda
dan gejala karena daya tahan tubuh yang cukup baik, maka tidak terdapat
gejala klinik sama sekali.
2. Poliomielitis Abortif: Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai
beberapa hari. Gejala yang timbul berupa infeksi virus seperti malaise,
anoreksia, nausea, muntah, nyeri tenggorokan nyeri abdomen, nyeri kepala,
dan konstipasi.
3. Poliomielitis Non Paralitik: Gejala klinik yang timbul hampir sama dengan
poliomyelitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat.
Gejala ini timbul 1-2 hari kadang diikuti penyembuhan sementara untuk
kemudian remisi demam atau masuk ke dalam fase ke-2 dengan nyeri otot.
Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi
pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior.
4. Poliomielitis Paralitik: Gejala yang timbul sama pada poliomyelitis non
paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau
cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria
dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :

6
a. Bentuk spinal: Gejala kelemahan/paralysis atau paresis otot leher, abdomen,
tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.
b. Bentuk bulbar: Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau
tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.
c. Bentuk bulbospinal: Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan
bentuk bulbar.
d. Kadang ensepalitik: Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun,
tremor dan kadang kejang.

D. Patofisiologi
Patofisiologi polio akibat masuknya virus polio ke dalam tubuh terbagi dalam 2 fase,
yaitu:

1. Fase Limfatik
Fase limfatik dimulai dengan masuknya virus polio ke dalam tubuh
manusia secara oral dan bermultiplikasi pada mukosa orofaring dan
gastrointestinal. Dari fokus primer tersebut, virus kemudian menyebar ke
tonsil, plakat Peyer, dan masuk ke dalam nodus-nodus limfatikus servikal dan
mesenterika.
Pada fase limfatik ini, virus polio bereplikasi secara berlimpah lalu
masuk ke dalam aliran darah, menimbulkan viremia yang bersifat sementara,
menuju organ-organ internal dan nodus-nodus limfatikus regional.
Kebanyakan infeksi virus polio pada manusia berhenti pada fase viremia ini.
Berdasarkan gejala yang muncul pada fase ini, polio dibedakan menjadi polio
nonparalitik, polio abortif, dan meningitis aseptik nonparalitik.
a. Polio Nonparalitik
Hampir 72% infeksi virus polio pada anak-anak merupakan kasus
asimtomatik. Masa inkubasi untuk polio nonparalitik ini berkisar 3-6
hari. Satu minggu setelah onset simtom, jumlah virus polio pada
orofaring makin berkurang. Namun virus polio ini akan terus
diekskresikan melalui feses hingga beberapa minggu kemudian, sekitar
3-6 minggu.

7
b. Polio Abortif
Sekitar 24% kasus infeksi virus polio pada anak-anak
bermanifestasi tidak spesifik, seperti demam ringan dan sakit
tenggorokan, disebut sebagai polio abortif. Pada polio abortif, terdapat
kemungkinan terjadinya invasi virus ke dalam sistem saraf pusat tanpa
manifestasi klinis atau laboratorium. Ciri khas kasus ini adalah terjadi
kesembuhan total dalam waktu kurang dari satu minggu.
c. Meningitis Aseptik Nonparalitik
Sekitar 1-5% infeksi virus polio pada anak-anak menimbulkan
meningitis aseptik nonparalitik setelah beberapa hari gejala prodromal.
Gejala yang dialami penderita berupa kekakuan leher, punggung,
dan/atau tungkai, dengan durasi sekitar 2-10 hari, lalu sembuh total.
2. Fase Neurologis
Bila infeksi ini berlanjut, maka virus akan terus bereplikasi di luar
sistem saraf terlebih dahulu, kemudian akan menginvasi ke dalam sistem
saraf pusat. Kondisi ini dikenal sebagai fase neurologis. Pada fase ini, virus
polio akan melanjutkan replikasi pada neuron motorik kornu anterior dan
batang otak, sehingga terjadi kerusakan pada lokasi tersebut. Kerusakan sel-
sel saraf tersebut akan berdampak pada manifestasi tipikal pada bagian tubuh
yang dipersarafinya. Keadaan ini berakibat terjadinya lumpuh layu akut,
dikenal juga sebagai acute flaccid paralysis (AFP) sehingga polio yang
terjadi dikenal sebagai polio paralitik.
Masa inkubasi untuk polio paralitik ini biasanya berkisar 7-21 hari.
Polio paralitik ini terjadi kurang dari 1% dari semua kasus infeksi virus polio
yang terjadi pada anak-anak.
Gejala paralisis umumnya timbul sekitar 1-18 hari setelah melewati
masa gejala prodromal, berlangsung progresif selama 2 hingga 3 hari.
Umumnya, progresivitas paralisis akan terhenti setelah suhu tubuh kembali
normal. Masa infeksius seseorang yang terjangkiti virus polio adalah 7-10
hari sebelum dan sesudah onset gejala.

8
E. Patoflow Diagram

Polio
VIRUS

Kurang pengetahuan tentang polio b.d Melalui fekal-oral (makanan yang


informasi yang tidak adekuat terkontaminasi) melalui oral-oral

multiplik
infeksi orofharing asi Mukosa usus
Sulit menelan

Virus ada disekresi


Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d sulit menelan
System limfatik/pembuluh darah

Menyebar ke organ target

Hipertermi b.d proses infeksi Hipertermi Fase viremia


a

Infeksi System syaraf pusat (SSP)


Nyeri

Menyerang selsel syaraf yang mengendalikan otot


Nyeri b.d proses infeksi yang
menyerang syaraf
Melemahnya otot

Gangguan kecemasan pada anak dan keluarga


Paralisis
b.d kondisi penyakit

Otot tungkai (flaccid


Gangguan mobilitas fisik b.d paralisis otot
paralisis)

9
F. Tanda dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala-gejala dari polio berbeda tergantung pada luas infeksi.
Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat dibagi kedalam polio yang melumpuhkan
(paralytic) dan polio yang tidak melumpuhkan (non-paralytic).
Pada polio non-paralytic yang bertanggung jawab untuk kebanyakan individu-
individu yang terinfeksi dengan polio, pasien-pasien tetap asymptomatic atau
mengembangkan hanya gejala-gejala seperti flu yang ringan, termasuk kelelahan,
malaise, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan muntah. Gejala-gejala, jika
hadir, mungkin hanya bertahan 48-72 jam, meskipun biasanya mereka bertahan
untuk satu sampai dua minggu.
Paralytic polio terjadi pada kira-kira 2% dari orang-orang yang terinfeksi
dengan virus polio dan adalah penyakit yang jauh lebih serius. Gejala-gejala
terjadi sebagai akibat dari sistim syaraf dan infeksi dan peradangan sumsum
tulang belakang (spinal cord). Gejala-gejala dapat termasuk:

a. Sensasi yang abnormal,


b. Kesulitan bernapas,
c. Kesulitan menelan,
d. Retensi urin,
e. Sembelit,
f. Mengeluarkan air liur (ileran),
g. Sakit kepala,
h. Turun naik suasana hati,
i. Nyeri dan kejang-kejang otot, dan
j. Kelumpuhan.

Kira-kira 5%-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan polio yang


melumpuhkan seringkali meninggal dari kegagalan pernapasan, karena mereka
tidak mampu untuk bernapas sendiri. Itulah sebabya mengapa sangat mendesak
bahwa pasien-pasien menerima evaluasi dan perawatan medis yang tepat.
Sebelum era vaksinasi dan penggunaan dari ventilator-ventilator modern, pasien-
pasien akan ditempatkan dalam "iron lung" (ventilator bertekanan negatif, yang
digunakan untuk mendukung pernapasan pada pasien-pasien yang menderita
polio yang melumpuhkan).

10
Gejala Klinik

Tanda klinik penyakit polio pada manusia sangat jelas. Sebagian besar
(90%) infeksi virus polio menyebabkan inapparent infection, sedangkan 5%
menampilkan gejala abortive infection, 1% nonparalytic, dan sisanya
menunjukkan tanda klinik paralitik. Bagi penderita dengan tanda klinik paralitik,
30% akan sembuh, 30% menunjukkan kelumpuhan ringan, 30% menunjukkan
kelumpuhan berat, dan 10% menunjukkan gejala berat serta bisa menimbulkan
kematian. Masa inkubasi biasanya 3-35 hari.
Penderita sebelum ditemukannya vaksin terutama berusia di bawah 5 tahun.
Setelah adanya perbaikan sanitasi serta penemuan vaksin, usia penderita bergeser
pada kelompok anak usia di atas 5 tahun. Stadium akut sejak ada gejala klinis
hingga dua minggu ditandai dengan suhu tubuh meningkat, jarang terjadi lebih
dari 10 hari, kadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi dalam
seminggu permulaan sakit. Kelumpuhan itu terjadi akibat kerusakan sel-sel motor
neuron di medula spinalis (tulang belakang) oleh invasi virus.
Kelumpuhan tersebut bersifat asimetris sehingga menimbulkan deformitas
(gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap atau bahkan menjadi lebih
berat. Sebagian besar kelumpuhan terjadi pada tungkai (78,6%), sedangkan
41,4% akan mengenai lengan. Kelumpuhan itu berjalan bertahap dan memakan
waktu dua hari hingga dua bulan.
Stadium subakut (dua minggu hingga dua bulan) ditandai dengan
menghilangnya demam dalam waktu 24 jam atau kadang suhu tidak terlau tinggi.
Kadang, itu disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Kelumpuhan anggota
gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi.
Stadium konvalescent (dua bulan hingga dua tahun) ditandai dengan
pulihnya kekuatan otot lemah. Sekitar 50%-70% fungsi otot pulih dalam waktu 6-
9 bulan setelah fase akut. Kemudian setelah usia dua tahun, diperkirakan tidak
terjadi lagi perbaikan kekuatan otot. Stadium kronik atau dua tahun lebih sejak
gejala awal penyakit biasanya menunjukkan kekuatan otot yang mencapai tingkat
menetap dan kelumpuhan otot permanen.

11
G. Pemeriksaan Penunjang
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. Viral Isolation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga
terkena penyakit polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal
adalah diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat.Jika poliovirus
terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang tersebut harus
diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan genomic
untuk menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah.
2. Uji Serology
Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita.
Jika pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang
tersebut terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak
netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit.
3. Cerebrospinal Fluid ( CSF)
CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat
peningkatanjumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel
limfositnya. Dan kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml (Paul,2004).

H. Penatalaksanaan Medis
Begitu penyakit mulai timbul, kelumpuhan sering kali tidak tertangani lagi
karena ketidakadaan obat yang dapat menyembuhkannya. Antibiotika yang
biasanya digunakan untuk membunuh virus juga tidak mampu berbuat banyak.
Rasa sakit dapat diatasi dengan memberikan aspirin atau acetaminophen, dan
mengompres dengan air hangat pada otot-otot yang sakit
1. Poliomielitis aboratif
a. Diberikan analgetk dan sedative
b. Diet adekuat
c. Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah
aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal
secara teliti.
2. Poliomielitis non paralitik
a. Sama seperti aborif

12
b. Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan
kompres hangat selama 15 – 30 menit,setiap 2 – 4 jam.
3. Poliomielitis paralitik
a. Perawatan dirumah sakit
b. Istirahat total
c. Selama fase akut kebersihan mulut dijaga
d. Fisioterafi
e. Akupuntur
f. Interferon
Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan.Poliomielitis abortif diatasi
dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai
lagi.Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling
sedikit 2 minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi
paralysis pernapasan.
Fase akut :
Analgetik untuk rasa nyeri otot.Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya
dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak pada
sudut yang sesuai terhadap tungkai..Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang
reflek menelan tergaggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam
hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi.
Sesudah fase akut :
Kontraktur.atropi,dan attoni otot dikurangi dengan fisioterafy. Tindakan ini
dilakukan setelah 2 hari demam hilang.

I. Komplikasi

1. Hiperkalsuria
2. Melena
3. Pelebaran lambung akut
4. Hipertensi ringan
5. Pneumonia
6. Ulkus dekubitus dan emboli paru
7. Psikosis

13
J. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas.
b. Pemeriksaan fisik
1) Nyeri kepala
2) Paralisis
3) Refleks tendon berkurang
4) Kaku kuduk
5) Brudzinky

2. Diagnosa

a. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah
b. Hipertermi b/d proses infeksi
c. Resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d
paralysis otot
d. Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf
e. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis
f. Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit.

3. Intervensi
Dx 1 : Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan
muntah
1. Pantau pola makan anak
Rasional: mengetahui intake dan output anak.
2. Berikan makanan secara adekuat
Rasional: untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake
seimbang.
3. Timbang berat badan
Rasional: mengetahui perkembangan anak.
4. Berikan makanan kesukaan anak
Rasional: menambah masukan dan merangsang anak untuk makan
lebih banyak.

14
5. Berikan makanan tapi sering
Rasional: mempermudah proses pencernaan.

Dx 2 : Hipertermi b/d proses infeksi


1. Pantau suhu tubuh
Rasional: untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih.
2. Jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres
Rasional: dapat menyebabkan efek neurotoksi
3. Hindari mengigil
4. Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit
Rasional: dapat membantu mengurangi demam.

Dx 3 :Resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d


paralysis otot
1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman
Rasional: pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah
komplikasi.
2. Auskultasi bunyi nafas
Rasional: mengetahui adanya bunyi tambahan.
3. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi
atau semi fowler
Rasional: merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru.
4. Berikan tambahan oksigen
Rasional: meningkatkan pengiriman oksigen ke paru

Dx 4 :Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf


1. Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu anak mengatasi
nyeri
Rasional: teknik-teknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan
distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di toleransi.
2. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus
sebelum nyeri.
Rasional: pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan.

15
2. Minta orang tua membantu anak dengan menggunakan srtategi
selama nyeri
Rasional: latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak
berfokus pada tindakan yang diperlukan
3. Berikan analgesic sesuai indikasi.

Dx 5 : Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis


1. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak
Rasional: memberikan informasi untuk mengembangkan rencana
perawatan bagi program rehabilitasi.
2. Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada)
Rasional: kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan
anak
3. Indetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk
aktif sepertipemasukan makanan yang tidak adekuat.
Rasional: memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah
untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas
4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman
Rasional: latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan
efektifan anak untuk berjalan.

Dx 6 : Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit.


1. Pantau tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat
ansietas(mis.renda,sedang, parah).
Rasional: respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural
yang dipelajari.
2. Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa
menayakan apayang dipercaya.
Rasional: pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap
menghadapinya.
3. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh
keluarga.

16
Rasional: informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan
dalam jumlah yang dapatdibatasi setelah periode yang diperpanjang.
4. Hidari harapan –harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua
akan berjalan lancar”.
Rasional: Harapan –harapan palsu akan diintervesikan sebagai
kurangnya pemahaman ataukejujuran.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Poliomielitis adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan virus
polio. Poliomyelitis disebabkan oleh Enterovirus. Enterovirus adalah virus RNA
yang termasuk family pikornaviridae. Virus ditularkan melalui rute oro/fecal.
Penularan melalui secret faring terjadi apabila keadaan agent sanitasinya baik
sehingga dapat memutuskan rantai penularan.
Beberapa pasien pengidap poliomyelitis, selama 10-40 tahun kemudian
akan menampakkan puncak dari gejala seperti kelemahan otot, penurunan
kemampuan beraktifitas sehari-hari, dan/ atrofi otot. Gejala ini didefinisikan
sebagai atrofi otot post-polio yang berlanjut. Manifestasi lain dari post-polio
sindrom termasuk nyeri otot, deformitas tulang, kelelahan dankram.
Perkembangan kemunduran otot pada post-polio sindrom umumnya lambat dan
pada beberapa kasus tidak bisa dilihat hanya dalam 1-2 tahun. Beberapa
komplikasi lain yang mungkin terjadi, diantaranya deformitas tulang, abnormalitas
neurologis saraf, komplikasi respiratory skoliosis dan atropi otot.
Beberapa cara pencegahan penyakit polio yang harus dilakukan adalah:
peningkatan hygiene, dan imunisasi polio. Sedangkan penatalaksanaan polio untuk
menurunkan nyeri dan khawatir dengan menggunakan analgetik. Untuk
meningkatkan status pernafasan artifisial ventilasi mungkin dibutuhkan dan untuk
mendukung status nutrisi digunakan NGT atau TPN. Latihan ROM aktif dan pasif
mungkin dibutuhkan untuk mencegah kontraktur dan deformitas.

B. Saran
Pada dasarnya tindakan yang penting dalam mensukseskan program
pemerintah dalam pemberantasan polio adalah melalui upaya preventif dengan
cara melaksanakan 5 imunisasi dasar salah satunya imunisasi polio.
Tindakan preventif tentang pencegahan polio dapat dimaksimalkan
dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya para ibu muda tentang
pentingnya imunisasi dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://keslikers.blogspot.com/2015/01/makalah-penyakit-polio.html
(diakses pada tanggal 09 Agustus 2018 pukul 09.15 WITA)

https://moff1234.wordpress.com/2011/05/14/askep-poliomelitis/
(diakses pada tanggal 09 Agustus 2018 pukul 09.20 WITA)

http://novianggapermana-mikrobiologi.blogspot.com/2012/01/poliomyelitis.html
(diakses pada tanggal 10 Agustus 2018 pukul 10.05 WITA)

https://moff1234.wordpress.com/2011/05/14/askep-poliomelitis/
(diakses pada tanggal 10 Agustus 2018 pukul 10.12 WITA)

http://fetty23.blogspot.com/2017/01/askep-poliomielitis.html
(diakses pada tanggal 10 Agustus 2018 pukul 10.15 WITA)

iii