Anda di halaman 1dari 49

Adakah Perintah dari Rasulullah Tentang Sholat Malam

Berjama'ah?
Jumat, 10 September 2010 00:55

Pertanyaan

Salam,

Seperti yang saya ketahui tentang Hadist Tarawih (tarawih) yang disunahkan tuh kan sholat malamnya,
tapi ana kok lom ketemu yah, hadist tentang perintah Tarawih dari Rasulullah langsung.

Malah ana hanya menemukan

1. Rasulullah 2-3 hari sholat malam ramadhan di masjid lalu diikuti dari belakang, sesudah itu tidak lagi
Rasulullah muncul di hari ke-4 dan seterusnya

2. Rasulullah diintip sedang melakukan sholat malam di dalam rumahnya, dan beberapa sahabat akhirnya
sholat di masjid, kemudian adayangberijtihad karena banyaknyayangsholat sendiri-sendiri di masjid,
akhirnya di susruh berjamah

Apakah ijtihad ini yang menjadi dasar sholat tarawih?Kenapa Rasulullah tidak mensyiarkan secara
langsung tentang perintah tarawih berjamaah?

Syukran katsir,

Wasalam-reno

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang antum sampaikan memang benar, bahwa tidak ada perintah langsung dari Rasulullah SAW
untuk melakukan shalat tarawih. Bahkan meski pernah melakukannya, namun boleh dibilang shalat
tarawih berjamaah di masjid hanya 2 kali saja beliau lakukan seumur hidupnya.

Malam ketiga, beliau sama sekali tidak keluar dari rumah, padahal orang-orang sudah menunggu-nunggu
beliau untuk shalat tarawih berjamaah di masjid. Ternyata beliau memang tidak mau keluar. Terakhir,
terdengar keterangan bahwa beliau memang sengaja tidak mau melanjutkan tarawih berjamaah di masjid,
lantaran takut bila Allah SWT mewajibkan shalat sunnah itu.

Itulah dalil tentang shalat tarawih, sekarang ini hukumnya sunnah karena tidak jadi diwajibkan. Dan
memang khusus disunnahkan di dalam bulan Ramadhan saja. Beliau SAW tidak pernah melakukannya di
luar bulan Ramadhan.

Bilangan Rakaat

Sayangnya, tidak ada satu pun riwayat yang shahih menyatakan bilangan rakaatnya. Sehingga jumlah
rakaat tarawih menjadi bervariasi di kalangan ulama. Bukan hanya 11 rakaat dan 23 rakaat, tapi bahkan
ada juga yang melakukannya sampai 36 rakaat.
Di antara yang paling kuat adalah yang dilakukan oleh para shahabat nabi SAW secara ijma', setidaknya
untuk ukuran penduduk Madinah. Mereka melakukannya dengan 20 rakaat di masa khalifah Umar bin Al-
Khattab. Para ulama yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa mustahil para shahabat nabi itu
bersepakat untuk mengarang-ngarang sendiri angka 20 rakaat. Pastilah mereka meniru dari nabi SAW
ketika pernah melakukan 2 kali shalat tarawih.

Namun yang pasti, shalat tarawih yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW itu dilakukan di masjid,
berjamaah dan dilakukan ba'da shalat 'Isya'. Para ulama sepakat mengatakan bahwa shalat tarawih ini
berbeda dengan qiyamullail atau tahajjud.

Qiyamullail atau tahajjud adalah shalat malam setelah tidur, dilakukan oleh Rasulullah SAW, biasanya
dengan sendirian meski pernah juga dilakukan dengan berjamaah. Shalat ini dilakuakn pada tengah atau
akhir malam dan yang pasti bukan hanya di dalam bulan Ramadhan. Tetapi di luar bulan Ramadhan
sekalipun, beliau tetap terbiasa melakukan shalat tahajjud.

Hukum tahajjud Berjamaah

Adapun kalau ditanya, bolehkah kita melakukan shalat tahajjud dengan cara berjamaah, maka hukumnya
boleh dan bahkan ada masyru'iyahnya. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya juga dengan
para shahabat. Sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa tahajjud berjamaah hukumnya haram.

Hudzaifah meriwayatkan, “Aku shalat bersama NabiSAW pada suatu malam. Beliau memulai bacaan
(sesudah al-fatihah) dengan surat Al-Baqarah. Dalam hati aku berkata, ‘Beliau pasti ruku setelah
membaca seratus ayat….” (HR Muslim).

Abu Wail meriwayatkan bahwa Abdullah berkata, “Aku shalat bersama rasulullah saw. beliau
memanjangkan bacaan sampai aku punya niat buruk.’ Ia ditanya, “Apa niat burukmu itu?” “Aku berniat
duduk dan meninggalkannya.” (HR Muslim)

Dua riwayat di atas tegas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan shalat tahajjud
berjamaah. Maka sama sekali tidak ada larangan bila kita melakukannya dengan berjamaah pula.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Sholat Iedul Fithri, di Masjid atau di Lapangan?
Kamis, 09 September 2010 00:22

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz Rahimakumullah,
Dalam musyawarah di masjid kami ada silang pendapat tentang apakah nanti Sholat Iedul Fithri
dilaksanakan di dalam masjid atau di luar masjid. Sejak tahun 2002 (masjid berdiri secara parsial) dan
belum punya lahan tanah tambahan, kami selalu melaksanakannya di dalam masjid (di lantai 2) plus aula
masjid di lantai satu (dengan TV monitor).

Alhamdulillah, sekarang kami sudah memperoleh tanah tambahan (sekitar 620 m2) di samping masjid
hasil dari wakaf ummat yang sekarang sudah dipasang paving-block cukup rapi dan sehari-hari
dipergunakan sebagai tempat parkir mobil/motor.

Sebagian dari kami berpendapat, dengan adanya lahan tanah kosong di atas, cukuplah bagi kita untuk
secara konsekuen melaksanakan sunnah Rasulullah SAW untuk melaksanakan sholat Ied di luar masjid
(di lapangan/halaman). Sebagian lain berpendapat untuk tetap dilaksanakan di dalam masjid (lantai 2)
ditambah Aula (lantai 1) plus tambahan di halaman seperti yang dilaksanakan tahun lalu dengan alasan
utama adalah kekhawatiran lahan tanah tambahan tersebut tidak dapat menampung jumlah ja’maah sholat
Ied yang diproyeksikan justru semakin meningkat.

Di samping itu lahan parkir tidak dapat digunakan yang akan berakibat semrawutnya pengaturan parkir
mobil/motor dan membuat jama’ah kapok untuk sholat di masjid kami. Kerepotan lainnya menyangkut
hal-hal teknis (memindahkan sound-system, mimbar dll. ke luar dan lain sebagainya).

Ada beberapa pertanyaan kami kepada Ustadz untuk mohon pencerahannya sesuai dengan dalil yang
syar'i,agar kami (pengurus masjid) dapat melaksanakan ibadah sholat Ied sesuai dengan tuntunan agama
yang benar:

1. Apakah melaksanakan Sholat Iedul Fithri (juga Iedul Adha nanti) di lapangan atau di luar masjid hanya
sekadar khilafiyah atau sudah berupa sunnah mu’akkadah berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang
shohih? Kalau boleh, mohon juga disitir dalilnya.

2. Apabila kita memang secara hukumnya seharusnya melaksanakannya di luar masjid dalam rangka
keta’atan kepada sunnah Rasulullah SAW, adakah pertimbangan-pertimbangan yang membolehkan
(misalnya seperti adanya keterbatasan tempat dan kendala-kendala yang kami hadapi di atas) sehingga
bisa dihukumi sebagai ”dharurat”?

3. Dan hal-hal lainnya yang Ustadz anggap perlu sehingga kami bisa tetap menjalin ukhuwah dan
musyawarah dalam tuntunan yang benar.

Demikian, atas penjelasan Ustadz dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami atas nama pengurus masjid
mengucapkan jazakumullahu khairon katsiro.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawad Satuju
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para fuqoha telah sepakat bahwa semua tempat yang bersih dan bisa menampung jama’ah yang banyak
jumlahnya bisa dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan sholat Ied. Baik itu di Masjid atau di
tanah lapang. Namun demikian, mereka menyatakan pelaksanaan sholat tersebut di tanah lapang adalah
lebih utama, karena biasanya bisa menampung jumlah jamaah yang lebih banyak.

Dalilnya adalah hadits shahih berikut ini:

Dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a. mengatakan, “Biasa Rasulullah SAW keluar pada hari raya ‘Idul Fitri dan
‘Idul Adha ke mushalla dan pertama-tama yang dikerjakan shalat ‘ied kemudian berdiri menghadap
kepada orang-orang untuk menasehati mereka dan mengajarkan kepada mereka.” (HR Bukhari dan
Muslim)

Hadits shahih ini tegas menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat Ied di mushalla. Tapi
pengertiannya bukan seperti yang kita sering sebut sekarang ini, yaitu bangunan yang mirip masjid tapi
lebih kecil. Mushalla yang dimaksud di masa beliau adalah shakhra', yaitu tanah yang luas di padang
pasir.

Meski beliau tinggal di Madinah, di samping masjid An-Nabawi, namun shalat Ied tidak dilakukan di
dalamnya. Sebaliknya, shalat itu dilakukan di padang pasir yang luas, sebagaimana yang biasa dilakukan
pada saat shalat istisqa' dan lainnya.

Berlandaskan hadits di atas, maka kebanyakan ulama menetapkan bahw shalat Ied harus dilakukan di
tanah lapang. Sesuai contoh dari nabi SAW tersebut.

Namun sebagian ulama lainnya tidak menjadikan padang pasir sebagai syarat sahnya shalat Ied. Bagi
mereka, baik di masjid maupun di padang pasir, keduanya sah-sah saja untuk dijadikan tempat shalat Ied.
Meski tetap lebih utama bisa dilakukan di padang pasir.

Hanya saja fuqoha madzhab Syafi’i menyatakan bahwa keutamaan sholat 'Ied di tanah lapang hanya
berlaku jika memang masjid yang biasa digunakan untuk melakukan shalat terlalu sempit.

Sedangkan jika masjid tersebut luas, maka melaksanakan shalat di masjid adalah lebih utama
sebagaimana yang biasa dilakukan di Masjidil Haram.

Alasan mereka karena masjid itu pasti lebih bersih dan lebih mulia dari pada tanah lapang.

Al-Imam An-Nawawi, salah satu ulama dari kalangan mazhab As-syafi'i menukil dalam kitabnya, Al-
Majmu' Syarahul Muhazzab, perkataan Imamnya: Sendainya masjid cukup luas dan shalat dilakukan di
tanah lapang, tidak ada masalah. Sedangkan bila masjid itu sempit tapi tetap dilakukan shalat Ied di
dalamnya, maka dibenci.

Sebab bila masjid ditinggalkan dan shalat di padang pasir, tidak akan menimbulkan kemudharatan.
Sebaliknya, bila masjid sempit tapi tetap saja dilakukan shalat Ied di dalamnya, orang-orang akan
berdesakan, bahkan bisa jadi sebagiannya akan tertinggal.

Keterangan seperti ini bisa kita baca lebih luas di dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah
jilid 27 halaman 245.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Rukun Khutbah Shalat Iedul Fitri
Selasa, 07 September 2010 00:36

Pertanyaan

Assalamualaikum wr. Wb.

Pak ustad kebetulan saya diamanati untuk jadi khotib shalat ied fitri tapi Saya bingung karena ada dua
pendapat ada yang mengatakan khotbah dilakukan 2 kali khotbah seperti kotbah jumat, ada yang
mengatakan sekali kotbah saja, pertanyaanya:

1. Apa saja rukun khotbah shalat ied?

2.Jumhur ulama berapa kali khotbah shalat ied? Apa dalilnya?

Terima kasih, mohon dijawab sebelum Lebaran.

Wassalamualaikum.

Andrie

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya dari segi rukun, tidak ada perbedaan antara khutbah hari raya dengan khutbah jumat. Rukun
khutbah Jumat ada lima, yaitu: mengucap hamdalah, bershalawat kepada nabi Muhammad SAW,
menyampaikan pesan atau wasiat, membaca ayat Al-Quran dan berdoa mohon ampunan umat umat Islam.

Namundari segi syarat, harus diakui bahwa khutbahdua hari rayamemang agak berbeda ketentuannya
dengan khutbah Jumat. Kalau dilihat dari syaratnya, khutbahdua hari rayamemang lebih ringan dan lebih
mudah dibandingkankhutbah Jumat.

Para ulama telah menuliskan beberapa perbedaankedua jenis khutbah itudi dalam banyak kitab fiqih.
Antara lain yang kita kutip dari kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu jilid 2 halaman 1403 karya Dr.
Wahbah Az-Zuhaili.

Berikut petikannya:

1. Khutbah Jumat dilakukan sebelum shalat Jumat dilaksanakan, sedangkan khutbahdua


harirayadilakukan setelah shalat. Dalilnya adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu Umar ra berkata, "Sesungguhnya nabi SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman (ridhwanullahi
'alaihim) melakukan shalat 'Ied sebelum berkhutbah. (HR Bukhari dan Muslim)

Bahkan jumhur ulama selain Al-Hanafiyah mengatakan bila khutbah dilakukan terlebih dahulu dari
shalatnya, maka hukumnya tidak sah. Dalam kasus itu, disunnahkan untuk mengulangi khutbah setelah
shalat.
2. Sunnah di dalam khutbah dua hari raya adalah memulai dengan takbir, sedangkanpada shalat jumat,
khutbah dibuka dengan ucapan hamdalah.

Menurut jumhur ulama, pada khutbah yang pertama, disunnahkan untuk mengucapkan takbir 9 kali
berturut-turut dan pada khutbah yang kedua sebanyak 7 kali berturut-turut.

Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari Said bin Mansur bin Ubaidillah bin 'Atabah berkata, "Imam bertakbir 9 kali pada dua hari raya
sebelum berkhutbah dan 7 kali pada khutbah yang kedua.

Sedangkanshalat Jumat tidak didahului dengan takbir melainkan dengan mengucapkan hamdalah.
Danmengucapkan hamdalahtermasuk rukun yang bila ditinggalkan, khutbah jumat menjadi tidak sah
menurut Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Namun hamdalah hukumnya sunnah menurut Al-Hanafiyah
serta mandub menurut Al-Malikiyah.

3. Di dalam khutbah dua hari raya, disunnahkan juga buat jamaah yang hadir untuk ikut bertakbir saat
khatib membuka khutbahnya dengan takbir, meski dilakukan cukup secara perlahan (sirr).

Sedangkan di dalam khutbah jumat, haram hukumnya berbicara apapun meksi untuk berzikir. Dan hal ini
telah disepakati oleh jumhur ulama.

4. Di dalam khutbah dua hari raya, khatib tidak disunnahkan untuk duduk begitu naik ke atas mimbar.
Khatib langsung mulai khutbahnya tanpa ada sunnah untuk duduk sebentar seperti pada khutbah jumat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam khutbah jumat, begitu khatib naik mimbar dan mengucapkan
salam kepada jamaah, disunnahkan untuk duduk sebentar dan muadzdzir mengumandangkan adzan.

Sedangkan khutbah dua hari raya, begitu naik mimbar, maka langsung saja membacakan khutban, tidak
ada sunnah untuk duduk sebentar seperti dalam khutbah Jumat.

5. Dalam menyampaikan khutbah dua hari raya, tidak ada syarat bagi khatib untuk suci dari hadats seperti
dalam khutbah Jumat, sehingga dibolehkan menyampaikan khutbah meski tidak dalam keadaan suci.

Sehingga misalnya khatib sedang khutbah dua hari raya, lalu karena satu dan lain hal, tiba-tiba wudhu'-
nya batal, maka dia boleh meneruskan khutbahnya.

Berbeda dengan khutbah Jumat, bila khatib batal wudhu'-nya karena satu dan lain hal, maka dia harus
berwudhu' lagi. Karena syarat sah khutbah Jumat adalah suci dari hadats kecil (dan besar tentunya).

Berwudhu' atau suci dari hadats khutbah dua hari raya hukumnya sunnah, bukan wajib atau syarat sah.

6. Tidak disyaratkan bagi khatib dalam khutbah dua hari raya untuk berdiri. Dia boleh melakukannya
sambil duduk. Namun tetap disunnahkan untuk berdiri, meski bukan rukun atau syarat.

Sedangkan dalam khutbah Jumat, khatib harus berdiri ketika menyampaikan khutbahnya, karena berdiri
termasuk rukun khutbah.

7. Khutbah dua hari raya tidak disyaratkan terdiri dari dua khutbah. Sedangkan khutbah jumat diharuskan
terdiri dari dua khutbah. Namun jumhur ulama tetap mengatakan bahwa meski tidak disyaratkan, namun
hukumnya tetap sunnah untuk menjadikan khutbah dua hari raya terdiri dari 2 khutbah.
8. Juga tidak disyaratkan untuk duduk sejenak di antara dua khutbah. Hukumnya bukan rukun atau
kewajiban, namun hukumnya adalah sunnah untuk duduk di antara dua khutbah seperti layaknya khutbah
Jumat.

Sedangkan di dalam khutbah Jumat, duduk di antara dua khutbah diharuskan.

Hukum Mengukuti Khutbah Dua Hari Raya

Namun pada hakikatnya, menurut para ulama, hukum untuk mengikui khutbah dua hari raya sebenarnya
bukan rukun dan juga bukan kewajiban. Melainkah hukumnya sunnah. Sehingga bila ada jamaah yang
selesai shalat langsung pulang dantidak hadir mendengarkan khutbah, sesungguhnya shalatnya sudah sah.

Namun demikian, tetap disunnahkan untuk hadits mendengarkan khutbah dua hari raya, karena pasti akan
sangat berguna dan itulah yang dilakukan oleh para shahabat nabi ridhwanullahi 'alaihim.

Dalilnya adalah sabda nabi Muhammad SAW berikut ini:

Dari Atha' bin Abdillah bin As-Saib berkata, "Aku hadits bersama nabi SAW pada shalat hari raya,
ketika shalat selesai beliau SAW bersabda, "Kami akan berkhutbah, bagiyang ingin mendengarkan,
silahkan mendengarkan. Namun bagi yang ingin pergi, silahkan pergi. (HR Ibnu Majah dengan isnad
yang tsiqah)

Hadits ini selain diriwayatkan oleh Ibnu Majah, juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa'i. Namun
beliau mengatakan bahwa hadits ini mursal. Silahkan periksa di dalam kitab Nailul Authar jilid 3 halaman
305.

Namun keberadaan khutbah dua hari raya itu sendiri tetap harus ada. Karena yang namanya shalat dua
hari raya memang harus dengan khutbah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Shalat Tarawih atau Tahajjud di Bulan Ramadhan
Ahad, 05 September 2010 00:17

Pertanyaan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin menanyakan apakah di bulan Ramadhan kalau sudah mengerjakan shalat tarawih
tidak perlu mengerjakan shalat tahajjud? Bagaimana shalat tarawihnya Rasulullah? Syukron.

Wassalammu'alaikum Wr. Wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Masalah shalat tarawih dan tahajjud memang seringkali menjadi bahan perbedaan pandang para ulama.

Ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya shalat tarawih itu adalah shalat tahajjud juga. Bedanya hanya
kalau dilakukan di bulan Ramadhan, namanya menjadi shalat tarawih. Sedangkan kalau dikerjakan bukan
di bulan Ramadhan, namanya tahajjud.

Berangkat dari pendapat ini, maka bila seseorang telah melakukan shalat tarawih, tidak perlu lagi
melakukan shalat tahajjud. Ditambah lagi apabila sudah shalat witir, karena menurut pendapat ini, setelah
shalat witir tidak boleh lagi ada shalat di malam itu.

Namun di sisi lain, umumnya ulama membedakan antara shalat tarawih dengan tahajjud. Keduanya punya
dasar yang berbeda. Semua hadits yang berbicara tentang shalat malam Rasulullah SAW yang 8 atau 11
atau 13 rakaat, menurut pendapat ini merupakan dalil tentang shalat malam (tahajjud), bukan shalat
tarawih.

Shalat tarawih punya dalil tersendiri.

Dari Aisyah Ra. sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam pernah melaksankan sholat kemudian
orang-orang sholat dengan sholatnya tersebut, kemudian beliau sholat pada malam selanjutnya dan
orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau
keempat dan Rasulullah SAW tidak keluar untuk sholat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah
SAW berkata, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku
untuk keluar (sholat) bersama kalian kecuali bahwasanya akau khawati bahwa sholat tersebut akan
difardukan.” Rawi hadis berkata, "Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR Bukhori 923 dan
Muslim 761)

Dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya di masjid bersama dengan beberapa shahabat. Namun
pada malam berikutnya, jumlah mereka menjadi bertambah banyak. Dan semakin bertambah lagi pada
malam berikutnya.

Sehingga kemudian Rasulullah SAW memutuskan untuk tidak melakukannya di masjid bersama para
shahabat. Alasan yang dikemukakan saat itu adalah takut shalat tarawih itu diwajibkan. Karena itu
kemudian mereka shalat sendiri-sendiri.
Hingga datang masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang menghidupkan lagi sunnah Nabi tersebut
seraya mengomentari, ”Ini adalah sebaik-baik bid‘ah”. Maksudnya bid‘ah secara bahasa yatiu sesuai yang
tadinya tidak ada lalu diadakan kembali.

Semenjak itu, umat Islam hingga hari ini melakukan shalat yang dikenal dengan sebutan shalat tarawih
secara berjamaah di masjid pada malam Ramadhan.

Adapun tahajjud atau qiamullail, adalah shalat yang biasa dilakukan Rasulullah SAW baik di malam
Ramadhan atau di luar Ramadhan. Dan shalat itu bukan shalat tarawih itu sendiri. Maka dapat
disimpulkan bahwa pada malam Ramadhan, Rasulullah SAW shalat tarawih di awal malam ba‘da isya‘
lalu tidur dan pada akhir malam beliau melakukan shalat tahajjud hingga sahur.

Nampaknya hal itu pula yang hingga kini dilakukan oleh sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.


Masbuq Shalat 'Ied, Bagaimana Caranya?
Kamis, 02 September 2010 00:46

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum pak Ustadz,

Pada lebaran tahun lalu ada kasus yang masih mengganjal, yaitu saya tertinggal Jamaah shalat 'Idul Fithri.
Padahal sebagaimana kita tahu, ada takbir 7 kali dan 5 kali dalam shalat itu.

Terus bagaimana nih ustadz? Apa yang harus saya lakukan bila terlambat, khususnya urusan berapa kali
takbirnya itu?

Terima kasih ustadz atas jawabannya.

Wassalam

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu yang membedakan shalat ‘Ied dengan shalat lainnya adalah adanya beberapa kali takbir di awal
rakaat. Baik rakaat pertama atau pun rakaat kedua. Di dalam hadits Rasulullah SAW, memang ada
disebutkan masalah ini:

Dari Katsir dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah SAW dalam shalat Iedain dalam rakaat
pertama melakukan takbir 7 kali sebelum qiraah dan dalam rakaat kedua bertakbir 5 kali sebelum
qiraah.(HR Turmuzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Juga ada keterangan yang menyebutkan bahwa disunnahkan untuk mengangkat tangan pada saat takbir-
tabkir itu dilakukan. Dalilnya adalah:

Dari Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW mengangkat tangan pada setiap takbir dalam shalat ‘Ied.
(HR Baihaqi dalam hadits mursal dan munqathi’)

Sedangkan pada setiap jeda antara satu takbir dengan takbir lainnya, disunnahkan untuk membaca tasbih,
tahmid dan tahlil seperti lafaz ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah). Lafaz ini juga dikenal
dengan istilah ‘al-baqiyatush shalihat’. Sebuah istilah yang ada dalam ayat Al-Quran Al-Karim:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi ‘al-baqiyatush shalihat’(amalan-amalan
yang kekal lagi saleh) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi
harapan.(QS. Al-Kahfi: 46)

Kasus Makmum Ketinggalan Takbir

Dalam mazhab Al-Malikiyah disebutkan bahwa bila seorang makmum ketinggalan dalam mengikuti
imam dalam takbir shalat ‘Ied, maka selama imam masih bertakbir, hendaknya dia diam saja dan baru
bertakbir saat imam sudah selesai membaca takbir atau sudah mulai membaca Al-fatihah.
Tetapi bila seorang makmum bergabung dengan shalat sebagai masbuk, di mana imam sudah selesai
bertakbir dan sudah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran Al-Karim, maka dia boleh bertakbir sendiri
setelah takbiratul ihram lalu mengikuti imam. Hal seperti juga dikerjakan bila dia tertinggal satu rakaat
dan baru ikut shalat dengan imam pada rakaat kedua.

Khusus bagi makmum yang tertinggal dua rakaat, yaitu yang tidak sempat ikut ruku' bersama imam pada
rakaat kedua, maka makmum itu harus mengqadha’ sendirian shalatnya itu dengan melakukan shalat dua
rakaat setelah imam selesai salam.

Juga dengan bertakbir 6 kali di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua. Kok 6kali?

Mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa takbir pada rakaat pertama itu 6 kali selain takbirtaul ihram.

Dalam mazhab Asy-Syafi`iyah disebutkan bahwa orang yang masbuk di dalam shalat ‘Ied atau
tertinggal sebagian shalat hendaknya bertakbir pada saat setelah selesai mengqadha’ apa yang tertinggal
olehnya.

Dalam mazhab Al-Hanabilah disebutkan bahwa makmum yang mendapati imam sudah selesai bertakbir
atau sudah dalam bertakbir, maka dia tidak perlu bertakbir. Hal yang sama juga bila dia mendapati imam
sudah ruku'.

Hal itu karena tempat untuk takbir sudah terlewat. Dan makmum yang masbuk bertakbir bila makmum itu
sudah menyelesaikan qadha’ atas apa yang tertinggal.

Semua itu merupakan kesimpulan dari para ahli ilmu dengan dalil hadits:

Apa yang bisa kamu dapati bersama imam maka shalatlah, sedangkan apa yang terlewat/tertinggal,
maka qadha’lah(HR )

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Shalat Tarawih 11 Rakaat, Haram?
Ahad, 29 Agustus 2010 00:03

Pertanyaan

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz yang dirahmati Alloh dan semoga selalu dalam lindungan Alloh.

Untuk kesekian kalinya pertanyaan ini ditanyakan dalam forum ini. Ceritanya saya shalat tarawih hari ke-
3 di masjid yang shalat tarawihnya 21 rakaat. Sebelum witir imam berdiri dan memberikan kultum, di
dalam kultum tersebut dikatakan bahwa haram hukumnya shalat tarawih 11 rakaat, karena di zaman
Rosululloh SAW sampai khulafa rasyidin shalat tarawihnya dua-dua dikatakan (matsna-matsna).

Adapun shalat tarawih 11 rakaat berasal dari Ibnu Taimiyah dan dikatakannya bahwa Ibnu Taimiyah itu
rada stres di kalangan ulama katanya pak ustadz. Pada saat imam mengatakan haram hukumnya shalat
tarawih 11 rakaat hati saya panas sekali ingin sekali saya bicara. Kenapa saya panas karena dari kecil saya
shalat tarawih di kampung saya 11 rakaat tiba-tiba ada yang mengatakan demikian. Bagaimana menyikapi
hal demikian? Saya mohon pak ustadz memberikan nash-nash atau hadits-hadits yang membuat saya
paham mungkin karena saya yang awam tidak dapat menjangkau wilayah syariah atau fiqih. Sebelumnya
saya ucapkan terim kasih.

Wassalamu'alailkum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Sebaiknya anda tidak perlu stres mendengar hal seperti itu. Sebab ciri khas ilmu fiqih adalah perbedaan
pandangan. Siapa yang tidak bisa menerima perbedaan pandangan, maka tidak bisa menjadi ahli fiqih.
Demikian juga dalam ilmu kritik hadits, berbeda pandangan dalam menilai derajat suatu hadits justru
telah menjadi 'menu' sehari-hari.

Sikap tidak bisa menerima pandangan orang lain yang tidak sama dengan diri sendiri sebenarnya justru
ciri khas orang awam. Mungkin sejak kecil belajar fiqihnya satu versi saja. Kemudian 'dicekoki' bahwa
hanya yang versi itu saja yang benar. Sedangkan yang tidak seperti itu, semua salah, haram, bid'ah dan
kalau berbeda akan menjadi calon penghuni neraka. Naudzu billahi min zalik.

Padahal kalau kita mau telusuri ke puncak keilmuwan disiplin ilmu fiqih, justru para peletak dasar
mazhab-madzhab fiqih sangat santun, sopan, serta saling menghormati satu sama lain. Gaya bicara model
imam shalat di masjid anda, yang menuduh bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang stres tentu tidak pernah
terlontar di kalangan para ulama betulan. Gaya berargumen seperti itu jelas bukan metode para ulama,
melainkan gaya preman tukang pukul yang tidak tahu duduk masalah.

Dan sebenarnya perbedaan jumlah rakaat tarawih antara 11 dan 23 bukan terjadi hanya di masa Ibnu
Taimiyah, melainkan sudah ada sejak awal masa risalah Islam. Lagi pula bukan pada tempatnya untuk
diperselisihkan hingga sampai mencela dan mencaci orang yang pendapat fiqihnya berseberangan.

Titik Pangkal Perbedaan


Ada banyak penyebab mengapa umat Islam berbeda pendapat tentang jumlah rakaat tarawih, teapi yang
pasti karena tidak adanya satu pun dalil yang shahih dan sharih yang menyebutkan shalat tarawih.

Seandainya ada satu hadits yang shahih (valid) dan sharih (eksplisit) yang menyebutkan jumlah bilangan
rakaat tawarih langsung dari mulut Rasulullah SAW, pasti tidak akan ada perbedaan pendapat.Seperti
sepakatnya para ulama dalam menetapkan bilangan rakaat shalat 5 waktu.

Sayangnya, semua dalil yang digunakan oleh para ulama tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih,
nyaris semuanya menyimpan potensi multi tafsir dan bias. Kalau pun valid, tapi bisa ditafsirkan bukan
dalil yang menunjukkan shalat tarawih. Kalau pun hadits itu bicara shalat tarawih secara eksplisit, tidak
ada informasi jumlah bilangan rakaatnya.

Karena itu terjadi confuse di kalangan ulama untuk menetapkan bilangan rakaat tarawih. Tetapi wajar
juga bila melahirkan perbedaan hasil akhir dalam menarik kesimpulan.

Sebagian ulama ada yang menyamakan dalil shalat tahajjud (witir) dengan dalil shalat tarawih. Hadits-
hadits tentang shalat tahajjud (witir) memang menyebutkan bahwa beliau SAW tidak pernah shalat
malam lebih dari 11 rakaat. Baik di dalam Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Bagi mereka, tarawih itu hanya nama atau sebutan saja. Intinya adalah shalat malam, kalau di luar bulan
Ramadhan disebut tahajjud. Sedangkan kalau di luar Ramadhan disebut dengan tarawih. Maka mereka
mengatakan bahwa jumlah bilangan rakaat shalat tarawih adalah 11 rakaat.

Di sisi lain, ada lagi sebagian dari ulama yang mengatakan dalil shalat tahajjud (witir) berbeda dengan
shalat tarawih. Buat mereka, tarawih adalah jenis shalat khusus di luar shalat tahajjud. Mereka menerima
hadits-hadits tentang shalat malamnya Rasulullah saw yang tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Tetapi buat
mereka, bukan dalil untuk shalat tarawih, melainkan shalat witir atau sering juga dikatakan dengan shalat
tahajjud. Sehingga jumlah bilangan rakaat tawarih bukan 11 rakaat.

Untuk shalat tarawih secara khusus yang memang hanya ada di bulan Ramadhan, mereka menggunakan
dalil dari apa yang dikerjakan oleh seluruh shahabat nabi SAW di masa Umar bin Khattab, yaitu shalat
tarawih seusai shalat Isya' sebanyak 20 rakaat.

Saat itu Umar ra. melihat bahwa umat Islam shalat tarawih sendiri-sendiri, lalu beliau mengatakan bahwa
alangkah baiknya bila mereka tidak shalat tarawih sendiri-sendiri, tapi di belakang satu imam yaitu Ubay
bin Ka'ab. Dan riwayat yang mereka tetapkan adalah bahwa jumlah rakaat shalat tarawihnya para
shahabat saat itu adalah 20 rakaat.

Sedangkan jumlah shalat tarawih yang dilakukan oleh nabi SAW yang hanya 2 malam saja, lalu setelah
itu tidak dikerjaan lagi, ternyata semua riwayatnya tidak menyebutkan jumlah rakaatnya. Kalau pun ada,
para hali hadits mengatakan bahwa semua hadits yang menyebutkan beliau shalawat tarawih (bukan
shalat tahajjud/witir) 11 rakaat semuanya hadits palsu. Termasuk juga yang menyebutkan bahwa beliau
shalat tarawih 20 rakaat.

Karena itu kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari hadits tentan shalat tarawihnya beliau SAW, karena
yang shahih tidak menyebutkan jumlah rakaat. Sedangkan yang menyebutkan jumlah rakaat ternyata
hadits yang parah dan tidak bisa diterima.

Satu-satunya yang bisa dijadikan rujukan adalah jumlah rakaat para shahabat ketika shalat tarawih di
zaman Umar bin Al-Khattab ra. Dan ternyata jumlahnya 20 rakaat. Logikanya, mana mungkin seluruh
shahabat mengarang sendiri untuk shalat dengan 20 rakaat? Pastilah mereka melakukannya karena dahulu
sempat shalat tarawih 20 rakaat bersama nabi SAW. Sayangnya, hadits tentang shalat tarawihnya nabi
SAW dulu sama sekali tidak menyebutkan jumlah rakaat.

Namun ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa saat itu Ubay bin Kaab menjadi imam shalat tarawih
untuk para shahabat bukan 20 rakaat, tapi 11 rakaat. Mana yang benar dari kedua riwayat itu, semua
terpulang kepada ijtihad mereka dalam melakukan kritik hadits.

Sebab sangat dimungkinkan adanya satu hadits dengan beberapa penilaian oleh beberapa ulama yang
berbeda. Yang satu bilang shahih, yang lain bila tidak shahih. Dan fenomena ini adalah sesuatu yang
sangat bisa diterima di dalam dunia ilmu-ilmu keIslaman.

Wallahua'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Sepi Saat Shalat Tarawih
Senin, 23 Agustus 2010 00:38

Pertanyaan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustad, hal-hal yang biasa terjadi di tempat tinggal saya saat bulan Ramadhan adalah sepinya orang sholat
tarawih.

Setelah saya usut ternyata yang menyebabkan itu adalah adanya "putusan" dari seorang ustad yang
mengajar bahwa haram hukumnya orang melakukan shalat sunah (termasuk tarawih) jika selama ini
masih punya "utang" shalat wajib. Dalam arti masih meninggalkan shalat wajib dan harus "dilunasi" dulu
baru bisa mengerjakan shalat sunah yang lain, termasuk shalat terawih.

Jazakumullah Khair

Le'Miun

Le

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mungkin ada logika yang bisa diterima dari apa yang disampaikan oleh ustadz yang anda ceritakan itu.
Tetapi nampaknya, logika itu tidak selamanya bisa diterapkan dalam segala situasi.

Barangkali ustadz kita itu benar ketika berlogika bahwa amal-amal wajib harus didahulukan sebelum
mengerjakan amal-amal sunnah. Kalau kita terapkan dengan contoh yang tepat, mungkin logika itu ada
benarnya.

Misalnya kita harus mendahulukan zakat yang hukumnya wajib ketimbang menyembelih kambing aqiqah
yang hukumnya sunnah. Demikian juga kita wajib mendahulukan shalat wajib dari pada shalat sunnah,
bila waktunya bersamaan.

Akan tetapi logika di atas tidak tepat rasanya bila diterapkan dalam kasus shalat tarawih. Bagaimana
mungkin shalat tarawih menjadi haram dikerjakan apabila mengqadha' shalat yang hukumnya wajib
belum dikerjakan?

Barangkali kalau jangan shalat tarawih kalau belum shalat Isya', mungkin logika itu masih bisa dipakai.
Akan tetapi kalau jangan shalat tarawih kalau belum mengqadha' shalat-halat yang belum diqadha' di
masa yang lampau, logika itu menjadi terlalu dipaksakan.

Dan logika itu akan tambah tidak masuk akal kalau diteruskan. Dengan logika itu berarti semua jenis
shalat sunnah pun tidak boleh dilakukan. Apakah shalat tahiyat masjid, shalat sunnah rawatib qabliyah
dan ba'diyah, shalat dhuha, shalat 'Iedul Fithr dan 'Iedul Adha jugamenjadi tidak boleh selama seseorang
belum mengqadha' semua shalatnya?

Logika Qadha' Ramadhan


Kalau kita meminjam logika yang dikembangkan para ulama tentang masa pelaksanaan qadha'
Ramadhan, maka keadaannya akan menjadi lebih jelas. Para ulama mengatakan bahkan orang yang
karena udzur tertentu dibolehkan tidak puasa, mereka diberi kesempatan untuk mengqadha'nya hingga
bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Artinya, masa untuk melakukan qadha' Ramadhan itu terbentang jauh di sebelas bulan setelah Ramadhan.
Selama rentang waktu itu, silahkan saja untuk membayar hutang puasa. Dan sama sekali tidak ada
halangan seandainya puasa qadha' belum dibayarkan, namun seseorang memilih untuk berpuasa sunnah
di luar qadha'. Seperti niat puasa sunnah 6 hari bulan Syawwal, atau puasa Senin dan Kamis.

Meski pun memang yang lebih utama dikerjakan adalah membayar qadha'nya terlebih dahulu. Akan
tetapi yang perlu digaris-bawahi, tidak ada keharaman untuk berpuasa sunnah meski masih punya hutang
puasa Ramadhan.

Sehingga juga tidak ada larangan untuk melakukan shalat tarawih, meski seseorang merasa belum
melakukan qadha' shalat yang pernah ditinggalkannya.

Lalu seandainya memang kita setuju dengan logika pak ustadz tersebut, yang jadi pertanyaan adalah
mengapa tidak disegerakan saja qadha' shalat sebelum masuk bulan Ramadhan? Kenapa harus menunggu
sampai masuknya bulan Ramadhan lalu malam-malamnya disia-siakan dengan tidak melakukan shalat
tarawih? Ini perlu dijawab terlebih dahulu tentunya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Hukum Sholat Berjamaah
Ahad, 15 Agustus 2010 00:51

Pertanyaan

Assallam mualaikum wr wb,

Sebagian ulama mengatakan bahwa Sholat 5 Waktu berjamaah di Masjid bagi laki- laki mukallaf
termasuk fardhu Ain, yang ingin saya tanyakan adalah benarkah demikian? Lalu apakah berdosa Jika
sholat sendirian di rumah?

Jika memang berdosa, Apakah Nabi Muhamad Saw pernah melarang orang yang sholat sendirian di
rumah? Adakah Hadits shahih menjelaskan hal tersebut?

Wasalam

Rag

Jawaban

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Di kalangan ulama berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan
fardhu `ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu
kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat
berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah hukumnya fardhu kifayah. Dan ada juga yang
mengatakan hukumnya sunnah muakkadah.

Berikut kami uraikan masing-masing pendapat yang ada beserta dalil masing-masing.

1. Pendapat Pertama: Fardhu Kifayah

Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh
Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas)
ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga
pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka
gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan
shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah
bagian dari syiar agama Islam.

Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa:

Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya,
ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang
mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain.

Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah:


Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung
atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah
kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya." (HR Abu Daud 547
dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan)

Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW, `Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan
tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu
shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi imam.
(HR Muslim 292 - 674).

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat
sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)

Al-Khatthabi dalam kitab Ma`alimus-Sunan jilid 1 halaman 160 berkata bahwa kebanyakan ulama As-
Syafi`i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu `ain dengan
berdasarkan hadits ini.

2. Pendapat Kedua: Fardhu `Ain

Yang berpendapat demikian adalah Atho` bin Abi Rabah, Al-Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu
Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho` berkata bahwa kewajiban yang
harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia
mendatanginya untuk shalat. (lihat Mukhtashar Al-Fatawa Al-MAshriyah halaman 50).

Dalilnya adalah hadits berikut:

Dari Aisyah ra berkata, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak menjawabnya (dengan shalat), maka dia
tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya. (Al-Muqni` 1/193)

Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun
shalatnya tetap syah.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Sungguh aku punya keinginan untuk
memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian
pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak
ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api." (HR Bukhari 644, 657, 2420,
7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

3. Pendapat Ketiga: Sunnah Muakkadah

Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam
As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Beliau berkata bahwa pendapat yang
paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat
yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya shalat, tentu tidak
bisa diterima.

Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak
disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab
Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah
muakkadah itu sama dengan wajib. (silahkan periksan kitab Bada`ius-Shanai` karya Al-Kisani jilid 1
halaman 76).
Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan
bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Lihat Jawahirul Iklil
jilid 1 halama 76.

Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah
muakkadah. (lihat Qawanin Al-Ahkam As-Syar`iyah halaman 83). Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu
As-Shaghir jilid 1 halaman 244 berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain
Jumat, hukumnya sunnah muakkadah.

Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini:

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat
sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)

Ash-Shan`ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan


hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib.

Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini:

Dari Abi Musa ra berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, `Sesungguhnya orang yang mendapatkan
ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah
bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. (lihat Fathul
Bari jilid 2 halaman 278)

4. Pendapat Keempat: Syarat Sahnya Shalat

Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah
syarat sahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak syah kalau tidak dikerjakan dengan
berjamaah.

Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya (lihat
Majmu` Fatawa jilid 23 halaman 333). Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu
Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah (lihat Al-Muhalla jilid 4 halaman 265). Termasuk di
antaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan At-Tamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah
serta Ibnu Khuzaemah.

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAw bersaba, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak
mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.(HR Ibnu Majah793, Ad-
Daruquthuny 1/420, Ibnu Hibban 2064 dan Al-Hakim 1/245)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya shalat yang paling berat buat
orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat
dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku
punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk
jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke
suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api." (HR
Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan
berkata, "Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk
memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya,
`Apakah kamu dengar azan shalat?`. `Ya`, jawabnya. `Datangilah`, kata Rasulullah SAW. (HR Muslim
1/452).

Kesimpulan:

Setiap orang bebas untuk memilih pendapat manakah yang akan dipilihnya. Dan bila kami harus memilih,
kami cenderung untuk memilih pendapat menyebutkan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah
muakkadah, karena jauh lebih mudah bagi kebanyakan umat Islam serta didukung juga dengan dalil yang
kuat. Meskipun demikian, kami tetap menganjurkan umat Islam untuk selalu memelihara shalat
berjamaah, karena keutamaannya yang disepakati semua ulama.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Sholat Tarawih: 11 atau 23 Rakaat?
Sabtu, 14 Agustus 2010 00:35

Pertanyaan

Assalamualaikum. Wr. Wb

Mana yang lebih afdhol:shalat Tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat? karena yang menjadi polemik di tempat
tinggal saya ada yang melakukan 11 rakaat dan juga ada yang melakukan 23 rakaat.

Yang saya dengar apakah benar Rasulloh mengerjakan sholat tarawih 11 rakaat, kalau memang Rasulloh
mengerjakan sholat tarawih 11 rakaat mengapa ada orang-orang yang melakukan sholat tarawih 23
rakaat? Bukankah itu bid'ah menambah-nambah yang tidak pernah Rasulloh lakukan?

Wassalam

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada satu pun hadits yang shahih dan sharih (eksplisit) yang menyebutkan jumlah rakaat shalat
tarawih yang dilakukan oleh Rasululullah SAW.

Kalau pun ada yang mengatakan 11 rakaat, 13 rakaat, 20 atau 23 rakaat, semua tidak didasarkan pada
hadits yang tegas. Semua angka-angka itu hanyalah tafsir semata. Tidak ada hadits yang secara tegas
menyebutkan angka rakaatnya secara pasti.

Hadits Rakaat Tarawih 11 atau 20: Hadits Palsu

Al-Ustadz Ali Mustafa Ya'qub, MA, muhaddits besar Indonesia di bidang ilmu hadits, menerangkan
bahwa tidak ada satu pun hadits yang derajatnya mencapai shahih tentang jumlah rakaat shalat tarawih
yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Kalau pun ada yang shahih derajatnya, namun dari segi istidlal-nya tidak menyebutkan jumlah rakaat
shalat tarawih. Di antara hadits palsu tentang jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah hadits berikut
ini:

Dari Ibn Abbas, ia berkata, “Nabi SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan
witir”. (Hadits Palsu)

Hadis ini diriwayatkan Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu‘jam al-Kabir. Dalam sanadnya terdapat
rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman yang menurut Imam al-Tirmidzi, hadits-haditsnya
adalah munkar. Imam al-Nasa‘i mengatakan hadis-hadis Abu Syaibah adalah matruk. Imam Syu‘bah
mengatakan Ibrahim bin Utsman adalah pendusta. Oleh karenanya hadis shalat tarawih dua puluh rakaat
ini nilainya maudhu' (palsu) atau minimal matruk (semi palsu).

Demikian juga hadits yang menyebutkan bahwa jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah 8 rakaat.
Hadits itu juga palsu dan dusta.
“Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir”. (Hadits
Matruk)

Hadis ini diriwayatkan Ja‘far bin Humaid sebagaimana dikutip kembali lengkap dengan sanadnya oleh al-
Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I‘tidal dan Imam Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dari
Jabir bin Abdullah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Isa bin Jariyah yang menurut Imam
Ibnu Ma‘in, adalah munkar al-Hadis (Hadis-hadisnya munkar).

Sedangkan menurut Imam al-Nasa‘i, ‘Isa bin Jariyah adalah matruk (pendusta). Karenanya, hadis shalat
tarawih delapan rakaat adalah hadis matruk (semi palsu) lantaran rawinya pendusta.

Jadi bila disandarkan pada kedua hadits di atas, keduanya bukan dalil yang bisa dijadikan pegangan
bahwa nabi SAW shalat tarawi 8 rakaat atau 20 rakaat dalam shalat tarawih.

Hadits Rakaat Shalat Malam atau Rakaat Shalat Tarawih?

Sedangkan hadits yang derajatnya sampai kepada keshahihan, hanyalah hadits tentang shalat malam yang
dilakukan oleh Rasulullah SAW, di mana Aisyah meriwayatkan secara shahih bahwa shalat malam yang
dilakukan oleh beliau SAW hanya 11 rakaat.

Dari Ai'syah ra, "Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula
mengurangkannya dari 11 rakaat. Beliau melakukan sholat 4 rakaat dan janganlah engkau tanya
mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian beliau akan kembali sholat 4 rakaat dan jangan
engkau tanyakan kembali mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian setelah itu beliau melakukan
sholat 3 rakaat. Dan beliau berkata kepadanya (Ai'syah), "Dia melakukan sholat 4 rakaat, " tidak
bertentangan dengan yang melakukan salam setiap 2 rakaat. Dan Nabi SAW bersabda, "Sholat di malam
hari 2 rakaat 2 rakaat." Dan dia (Ai'syah), "Dia melakukan sholat 3 rakaat" atau ini mempunyai makna
melakukan witir dengan 1 rakaat dan 2 rakaat. (HR Bukhari).

Tetapi di dalam hadits shahih ini, Aisyah ra sama sekali tidak secara tegas mengatakan bahwa 11 rakaat
itu adalah jumlah rakaat shalat tarawih. Yang berkesimpulan demikian adalah para ulama yang membuat
tafsiran subjektif dan tentunya mendukung pendapat yang mengatakan shalat tarawih itu 11 rakaat.
Mereka beranggapan bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah shalat tarawih.

Pendukung 20 Rakaat

Sedangkan menurut ulama lain yang mendukung jumlah 20 rakaat, jumlah 11 rakaat yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW tidak bisa dijadikan dasar tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Karena shalat tarawih
tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW kecuali hanya 2 atau 3 kali saja. Dan itu pun dilakukan di
masjid, bukan di rumah. Bagaimana mungkin Aisyah ra meriwayatkan hadits tentang shalat tarawih
beliau SAW?

Lagi pula, istilah shalat tarawih juga belum dikenal di masa beliau SAW. Pada masa Umar bin Khattab,
karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar
umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat
berjamah dengan imam Ubay bin Ka'b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih,
artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 rakaat dengan dua
salam.

Bagi para ulama itu, apa yang disebutkan oleh Aisyah bukanlah jumlah rakaat shalat tarawih, melainkan
shalat malam (qiyamullail) yang dilakukan di dalam rumah beliau sendiri.
Apalagi dalam riwayat yang lain, hadits itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah rakaat
shalat malam beliau, baik di dalam bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan.

Maka dengan demikian, keadaan menjadi jelas mengapa di dalam tubuh umat Islam masih ada perbedaan
pendapat tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan menarik, para
ulama besar dunia sangat bersikap toleran dalam masalah ini.

Toleransi Jumlah Bilangan Rakaat

Dengan tidak adanya satu pun hadits shahih yang secara tegas menetapkan jumlah rakaat tarawih
Rasulullah SAW, maka para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya. Ada yang 8 rakaat, 11 rakaat, 13
rakaat, 20 rakaat, 23 rakaat, bahkan 36 rakaat. Dan semua punya dalil sendiri-sendiri yang sulit untuk
dipatahkan begitu saja.

Yang menarik, para ulama di masa lalu tidak pernah saling mencaci atau menjelekkan meski berbeda
pendapat tentang jumah rakaat shalat tarawih.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan
pada saat itu: ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23
rakaat.

Sheikh al-Islam Ibn Taymiyah berpendapat, "Jika seseorang melakukan sholat tarawih sebagaimana
mazhab Abu Hanifah, As-Syafi'i dan Ahmad yaitu 20 rakaat atau sebagaimana Mazhab Malik yaitu 36
rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu yang terbaik. Ini sebagaimana Imam Ahmad berkata,
Karena tidak ada apa yang dinyatakan dengan jumlah, maka lebih atau kurangnya jumlah rakaat
tergantung pada berapa panjang atau pendek qiamnya."(Silahkan periksa kitab Al-Ikhtiyaaraat halaman
64).

Demikian juga dengan Mufti Saudi Arabia di masa lalu, Al-'allaamah Sheikh Abdulah bin Baaz ketika
ditanya tentang jumlah rakaat tarawih, termasuk yang mendukung shalat tarawih 11 atau 13 rakaat,
namun beliau tidak menyalahkan mereka yang meyakini bahwa yang dalilnya kuat adalah yang 20 rakaat.

Beliau rahimahullah berkata, "Sholat Tarawih 11 rakaat atau 13 rakaat, melakukan salam pada setiap 2
rakaat dan 1 rakaat witir adalah afdal, meniru cara Nabi SAW. Dan, siapa pula yang sholatnya 20 rakaat
atau lebih maka juga tidak salah."

Dan di kedua masjid besar dunia, Masjid Al-Haram Makkah dan masjid An-Nabawi Madinah, sejak
dahulu para ulama dan umat Islam di sana shalat tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Dan itu berlangsung
sampai hari ini, meski mufti negara punya pendapat yang berbeda. Namun mereka tetap harmonis tanpa
ada saling caci.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Qiyamullail Setelah Tarawih
Ahad, 08 Agustus 2010 00:51

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ustadz ane mau tanya. Kalau kita sudah sholat Tarawih dan sholat Witir ba'da sholat 'Isya, masih boleh
Qiyamullail lagi nggak pada dini harinya? Tolong tuliskan dalilnya secara lengkap.

Syukron, jazakalloh.

Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada sebagian kalangan yang mengambil kesimpulan bahwa shalat witir mengharamkan adanya shalat
sunnah malam lain sesudahnya. Hal ini terjadi lantaran ada riwayat yang memerintahkan kita untuk
menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam.

Riwayat itu memang benar. Kita dianjurkan untuk shalat malam dan kita mengakhirinya dengan shalat
witir. Namun apakah anjuran itu juga berfungsi untuk mengharamkan semua shalat sunnah setelahnya?

Para ulama mengatakan tidak. Shalat witir memang dianjurkan dilakukan di bagian akhir dari shalat
malam, akan tetapi bukan berarti bila setelah melakukan shalat witir maka semua shalat sunnah
setelahnya menjadi haram dikerjakan.

Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sunnah dua rakaat setelah belaiu melakukan
shalat witir. Hadits sebagai berikut:

Dari Usamah ra bahwa Nabi SAW shalat dua rakaat setelah shalat witir dan beliau duduk (HR Ahmad,
Abu Daud dan At-Tirmizy)

Dengan demikian, tidak ada larangan untuk melakukan shalat tahajjud di malam hari meski sudah
melakukan shalat witir di sore hari.

Dan tidak ada keharusan shalat witir untuk dilakukan di tengah malam atau di akhir malam. Sebab ada
hadits yang menyebutkan tentang hal itu.

Siapa yang memperkirakan tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah shalat witir di awal
malam. Namun siapa yang bisa memperkirakan bangun di akhir malam, maka lebih utama untuk
dilakukan di akhir malam. Karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih
utama. (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmizy)

Bila sudah melakukan shalat witir di awal malam, misalnya bersama jamaah shalat tarawih, lalu di akhir
malam masih ada kesempatan untuk bertahajjud, silahkan saja. Dan setelah itu tidak perlu lagi dilakukan
shalat witir. Karena tidak ada 2 kali shalat witir dalam satu malam. Sebagaimana hadits berikut ini:
Dari Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada shalat witir 2
kali dalam satu malam." (HR Abu Daud, An-Nasai dan At-Tirmizy)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Shalat Jum'at di Aula
Selasa, 01 Juni 2010 00:55

Pertanyaan

Assalaamualaikum wr. wb.

Ada beberapa pertanyaan:

1. Di kantor saya diselenggarakan shalat Jum'at di ruangan serba guna, sebagian ada yang tidak setuju
karena alasan ini adalah bid'ah (shalat Jum'at harus dilakukan di masjid jami'), bagaimana pandangan
yang benar?

2. Di mushalla kantor ba'da shalat zhuhur dibacakan dan dibahas kitab terjemah Riyadusholihin, ketika
akan dilaksanakan pembacaan tersebut tidak jarang banyak yang masih melakukan shalat karena masbuk,
apa sebaiknya yang harus dilakukan: tetap dibacakan tanpa peduli ada yang shalat, atau menunggu selesai
semua.

Terkadang jika rakaat yang kurang dari masbuk masih banyak, beberapa jamaah ada yang keluar
mushalla karena menunggu lama, sedangkan untuk kami (pengurus musholla) ini adalah saat yang baik
untuk berinteraksi dan menyebarkan Islam di tengah kerontangnya dakwah di kantor kami. Bagaimana
pandangan ustadz?

Jazakumullah khoiron katsiron atas jawabannya.

Wassalaamualaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya tidak ada ketentuan yang mewajibkan shalat Jum'at harus di masjid, apalagi di masjid jami'.
Lantaran tidak ada keterangan yang mengharuskan hal itu.

Yang menjadi syarat dari penyelenggaraan shalat jumat harus dilakukan di wilayah yang dihuni atau di
tempat manusia. Sehingga tidak boleh dilakukan di padang pasir atau di hutan atau di daerah terpencil
yang tidak di tempati manusia.

Di dalam kitab fiqih sering disebutkan dengan beberapa istilah, di antaranya mashr atau khuttatil bilad,
atau istilah lainnya. Dan semua bermakna satu, yaitu di tempat yang ada dihuni oleh manusia.

Sehingga masjid tidaklah menjadi tempat untuk dilakukannya shalat jumat. Sebaliknya, boleh saja
dilakukan di ruangan yang luas seperti aula, ballroom, ruang pertemuan, bahkan bila terpaksa, bisa saja
dilakukan di basement dan lapangan parkir. Tidak ada ketentuan yang menyebutkan harus dilakukan di
masjid.

Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab ini menyatakan bahwa tempat yang disyaratkan untuk shalat Jumat adalah mashr (kota). Dan
batasannya adalah bahwa di wilayah itu harus ada qadhi (hakim) yang berwenang menjalankan hukum
hudud, atau adanya sultan (penguasa yang sah) yang menjalankan roda pemerintahan.

Ketentuan ini sebagaimana yang dapat kita baca dari kitab mu'tabar dalam mazhab Al-Hanafiyah,
misalnya kitab Al-Mabsuth jilid 2 halaman 23.

Dengan demikian, orang yang tinggal di kampung terpencil pada dasarnya tidak wajib untuk
melaksanakan shalat Jumat. Bahkan kalau pun mereka seturuan mengadakan shalat Jumat sendiri, tetap
tidak sah.

Mazhab Asy-Syafi'i

Sedangkan dalam mazhab Asy-Syafi'i, syarat tempat pelaksanaan shalat Jumat adalah dilaksanakan di
suatu bangunan. Terserah apakah bangunan itu di desa terpencil atau pun di tengah kota besar seperti
Jakarta.

Dalam pandangan mazhan ini, yang penting shalat Jumat dilaksanakan oleh setidaknya 40 orang
penduduk asli, bukan musafir yang kebetulan lewat.

Pandangan ini bisa kita lihat dalam salah satu kitab mu'tabar dari mazhab ini seperti kitab Karya Al-Imam
An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab jilid 4 halaman 501.

Yang Mensyaratkan Masjid

Kalau kita rujuk ke dalam kitab fiqih, memang ada sebagian ulama yang mengharuskan shalat Jumat itu
dikerjakan di masjid.

Ibnu Rusydi ulama bermazhab Maliki penyusun kitab fiqih fenomenal Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul
Muqtashid, menulikan bahwa mazhab Maliki mensyaratkan shalat Jumat di masjid.

Bahkan sebagian ulama dalam mazhab ini sampai mengharuskan bahwa masjid itu harus yang ada
atapnya. Atau ada juga yang mengharuskan shalat Jumat di dalam masjid itu dilakukan secara rutin.

Namun sebagai bagian dari fuqaha Maliki, Ibnu Rusydi sendiri justru mengkritik pendapat dari imam
mazhabnya dan para ulamanya sendiri. Beliau menjelaskan bahwa semua ketentuan itu terlalu mengada-
ada, padahal agama Allah itu mudah. (Lihat Kitab Bidayatul Mujtahid bab shalat Jumat).

Masbuk Terganggu

Kami sendiri juga seringkali mendapati masalah seperti itu. Kalau yang masbuk satu atau dua orang,
mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau jumlah masbuknya sampai beberapa shaf, rasanya memang agak
mengganggu bila setelah selesai shalat digelar pengajian.

Ada beberapa jalan keluar. Pertama, kita berikan ruang khusus buat mereka yang masbuk untuk tidak
shalat di ruang shalat utama. Karena di ruang shalat utama setelah shalat jamaah yang asli, akan digelar
pengajian. Jadi mereka yang masbuk bisa dipersilahkan untuk shalat di ruangan lain. Misalnya di lantai 2
atau di bagian belakang masjid.

Kedua, jamaah pengajian yang mengalah dengan cara menunggu sebentar agar jamaah yang masbuk itu
selesai dari shalat mereka. Kalau ada beberapa orang yang tidak sabar menunggu, yang kita jadi tahu
memang baru seperti itulah mentalitasnya.
Sebab kalau tidak mengalah, maka sudah bisa dipastikan bahwa shalat para masbuk itu akan terganggu
dengan suara ceramah. Walau pun kalau mau dicari siapa yang salah, tentunya yang masbuk itu. Karena
seharusnya mereka datang tepat waktu.

Sayangnya jumlah masbuk ini ternyata seringkali cukup besar, yah sudah telat, menghambat pengajian
pula.

Ketiga, yang bisa juga dijadikan alternatif adalah memundurkan waktu iqamah. Ini yang biasanya terjadi
di masjid perkantoran di mana jamaahnya memang semata-mata karyawan kantor. Kalau waktu
Dzhuhurnya agak cepat, misalnya jam 11.45, sudah bisa dipastikan banyak masbuknya. Karena jam
istirahat baru dimulai jam 12.00.

Tidak ada salahnya kalau DKM masjid di perkantoran menunda sebentar pelaksanaan shalat Jamaah
sampai benar-benar semua karyawan punya kesempatan untuk ikut takbiratul ihram bersama dengan
imam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Dari Mana Datangnya Rukun Sholat?
Kamis, 27 Mei 2010 00:15

Pertanyaan

Assalamu'alaikum...Pak Ustadz..

Dalam peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Mi'raj kan dan mendapat perintah sholat 5
Waktu. Pertanyaan saya, darimanakah Nabi Muhammad SAW mengetahui tentang rukun 13 Sholat? Di
Dalam Alqur'an tidak (belum??) saya temukan yang menjelaskan tentang hal tersebut, sedangkan
tentangcara berwudhu ada dijelaskan Alqur'an

Semoga pak ustadz dapat memberikansaya kepastian yang akan menambah keimanan saya....dan
mendirikan sholat seperti sholatnya Rasulullah...

Wassalamu'alaikum...

adeadi

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rukun Shalat sebagai sebuah istilah tentu tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Sebab istilah itu datang
dari para ulama fiqih sepeninggal Rasulullah SAW. Istilah-istilah itu dibuat justru untuk memudahkan
pelajaran tentang shalat.

Para ulama mazhab seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal adalah para pelopor
dalam dunia fiqih. Mereka yang melakukan penelitian secara ilmiyah dan membuat klasifikasi hukum
suatu ibadah. Ada syarat, rukun, wajib, sunnah, yang membatalkan dan seterusnya.

Dengan adanya klasifikasi itu, umat menjadi semakin dimudahkan dan semakin dibuat punya konsepyang
jelas tentang suatu ibadah. Tidak sekedar menduga-duga atau menafsirkan sendiri-sendiri, sementara
mereka belum tentu punya kemampuan di bidang ijtihad.

Sekedar untuk tambahan pengetahuan, hasil ijtihad imam yang empat ini terkadang sama, namun
seringkali juga berbeda. Ada banyak faktor penyebabnya. Namun satu hal yang pasti, semua mengacu dan
berpegangan kepada sunnah Rasulullah SAW.

Tidak ada satu pun dari mereka yang membuat agama sendiri. Semua berupaya untuk menjabarkan
sunnah Rasululullah SAW, tentu dengan pemahaman, versi dan sudut pandang mereka. Sedangkan ilmu
mereka tentunya sudah mumpuni dan memnuhi persyaratan yang paling dasar.

Berbeda dengan kita yang awam, bahkan bahasa arab pun tidak paham, walau hanya satu huruf. Maka
dibandingkan dengan para ulama bahkan imam mazhab, kita tidak ada seujung kuku.

Hasil Ijtihad Bisa Berbeda

Khusus terkait dengan masalah rukun shalat yang 13 buah itu, sebenarnya para ulama berbeda pendapat
juga. Ada yang bilang bukan 13 melainkan hanya 6 atau lainnya.
Berikut ini kami lampiran tabel perbandingan dari ke-4 mazhab tentang rukun shalat yang kami kutip dari
kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili.

Mazhab Hanafi Malik Syafi`i Ahmad


1. Niat x rukun rukun x
2. Takbiratul Ihram rukun rukun rukun rukun
3. Berdiri rukun rukun rukun rukun
4. Membaca Al-Fatihah rukun rukun rukun rukun
5. Ruku` rukun rukun rukun rukun
6. I`tidal/ Bangun Dari Ruku` x rukun rukun rukun
7. Sujud rukun rukun rukun rukun
8. Duduk Antara Dua Sujud x rukun rukun rukun
9. Duduk Tasyahhud Akhir rukun rukun rukun rukun
10. Membaca Tasyahhud Akhir x rukun rukun rukun
11. Membaca Shalawat Atas Nabi x rukun rukun rukun
12. Salam x rukun rukun rukun
13. Tartib x rukun rukun rukun
14. Tuma`ninah x rukun x rukun

Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Menjama' Shalat karena Sakit
Kamis, 15 April 2010 00:47

Pertanyaan

Orang tua kami sakit patah di pangkal paha jadi agak payah kalau beliau untuk berdiri dan berjalan. Yang
saya tanyakan adalah, apakah boleh orang tua kami shalatnya bisa dijamak, ustadz?

Jawaban

Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bila seseorang sedang mengalami sakit sehingga menyulitkan dia untuk melakukan gerakan shalat,
baginya ada keringanan. Misalnya bila tidak mampu berdiri, maka dia boleh shalat sambil duduk. Atau
kalau tidak mampu duduk, maka dia boleh shalat sambil berbaring.

Orang tua Anda yang sedang mengalami patah tulang di pangkal paha itu boleh shalat tanpa harus berdiri,
cukup sambil duduk saja. Seandainya berdiri itu membuatnya kepayahan. Sebab Allah SWT telah
menetapkan bahwa seseorang tidak dibebani kecuali dengan apa yang dia mampu.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

Selain itu kita pun diperintahkan untuk menyembah Allah SWT sebagai yang mampu kita lakukan.

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta'atlah dan
nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun: 16)

Namun bila keringanannya itu terkait dengan ritual ibadah, kita perlu mengacu terlebih dahulu kepada
tata cara aturan yang telah ditetapkan. Misalnya keringanan dalam ibadah shalat. Yang disebutkan di
dalam syariah adalah pengurangan jumlah rakaat dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Jadi tidak boleh
kita berimprovisasi dengan menjadikan shalat maghrib satu setengah rakaat. Juga tidak bisa menjama' 5
waktu shalat sekaligus.

Semua sudah ada aturannya, bukan asal ringkas dan asal gabung. Demikian pula dengan urusan penyebab
bolehnya jama'. Dalam konteks orang tua Anda, sebenarnya yang lebih tepat bukan menjama' shalat,
melainkan shalat dengan cara gerakan yang masih memungkinkan. Meski pun sebagian dari para ulama
membolehkan seorang yang sakit untuk menjama' shalat. Namun harus disesuaikan dengan
kepentingannya.

Wallahu a'lam bishshawab. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.


PPJakarta-Bogor, Bolehkah Menjama' Shalat?
Kamis, 25 Maret 2010 00:44

Pertanyaan

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz, jarak Bogor-Jakarta kira-kira kurang dari 88 km. Saya pernah sedang buru-buru, berangkat
dari Bogor jam 5-an ke Jakarta untuk keperluan ambil surat dan langsung balik lagi ke Bogor. Kalau
dihitung jarak pulang pergi ini kira-kira jadi lebih 88 km.

Dalam kasus ini bolehkah saya menjamak Maghrib-Isya? Karena keperluan saya di Jakarta sangat
sebentar (hanya mengambil surat) dan langsung balik lagi, ataukah harus berhenti dulu sebentar di Jakarta
untuk Maghrib? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kebolehan menjama' shalat bagi orang yang sedang dalam perjalanan memiliki batasan minimal jarak,
sebagaimana yang disepakati oleh kebanyakan ulama. Jaraknya adalah 16 Farsakh atau 4 burud.

Di dalam kitab fiqih modern seperti Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu susunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili,
dikonversikan jarak itu menjadi 89 km. Sedangkan dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan
bahwa 4 burud itu sama dengan 88,704 km. Jadi kira-kira nyaris hampir sama.

Tapi yang paling penting untuk diketahui, bahwa jarak ini tidak diukur untuk pergi dan pulangnya. Jarak
ini untuk jarak tempuh perginya saja. Sedangkan bila anda sampai di tujuan langsung pulang lagi, maka
jarak pulangnya ini tidak bisa ditambahkan dengan jarak perginya.

Maka kalau anda ingin diperbolehkan menjama' shalat dari Bogor ke Jakarta, perjalanan anda harus
ditambahi lagi hingga mencapai 89 km. Jadi begitu sampai di Jakarta, teruskan perjalan anda tapi bukan
perjalanan pulang. Anda boleh ke barat yaitu ke Tangerang atau ke timur yaitu ke Bekasi atau ke utara
yaitu ke Kepulauan Seribu. Begitu jarak minimalnya sudah terlampaui, anda boleh berhenti atau pulang.
Dan anda sudah boleh menjama' dua shalat.

Kalau perjalanan anda tidak sampai menempuh jarak minimal itu, maka anda harus shalat Maghrib pada
waktunya. Kalau kebetulan saat Maghrib anda ada di Jakarta, wajib shalat Maghrib dulu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Ahmad Sarwat, Lc.
Definisi Luar Kota dalam Syarat Menjama' Sholat
Kamis, 04 Maret 2010 00:15

Pertanyaan

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz pernah menerangkan bahwa salah satu syarat boleh menjama' sholat adalah jika sudah di luar kota.
Saya mohon penjelasan definisi kota menurut syariah sehubungan dengan syarat boleh menjama'. Apakah
kota itu berdasarkan wilayah administrasi atau berdasar suatu kawasan yang dihuni manusia?

Jika berdasar wilayah admistrasi maka Jakarta Pusat/Utara/Timur/Selatan merupakan luar kota bagi
penghuni Jakarta Barat karena berbeda kotamadya. demikian juga bila berada di Bekasi, Depok, dan
Tangerang.

Jika berdasar suatu kawasan maka orang-orang di Kalimantan/Sulawesi/Papua yang bepergian dari satu
kecamatan ke kecamatan lain walau masih dalam satu kabupaten boleh menjama' sholat karena jaraknya
melebihi 80-an km.

Mohon penjelasan ustadz, terimakasih, jazakumulloh

Ahmad

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perkara ini memang sangat mengundang banyak perdebatan. Sebab definisi kota di masa lalu dengan di
masa sekarang pasti sangat berbeda. Demikian juga dengan sistem tata kota yang berlaku di tiap wilayah
dan setiap zaman, biasanya memang saling berbeda dan terus mengalami perubahan.

Namun kalau kita kembalikan kepada ashalah di masa lalu, pengertian safar adalah perjalanan ke luar
kota. Maksudnya seseorang bepergian ke kota lain dengan meninggalkan batas kota. Dan yang dimaksud
dengan kota di masa lalu adalah sebuah wilayah yang dihuni manusia dan menjadi satu komunitas, di
mana kota itu terpisah dengan kota lainnya. Meski kalau diukur dengan zaman sekarang, batas-batasnya
pasti sudah mengalami perubahan. Pembedaan satu kota dengan kota lain secara administratif selalu
berubah.

Batas Kota yang Terus Berubah

Setiap kota pasti mengalami perluasan wilayah. Dan batas kotanya pun secara otomatis akan bertambah
luas. Sebagai contoh, konon luas kota Madinah di masa kenabian hanya seluas masjid Nabawi sekarang
ini saja. Biasa kita bayangkan luas kota itu yang sangat sempit bila kita ukur dengan zaman sekarang.

Tetapi rasanyaakan aneh kalau kita menetapkan batas luar kota Madinah di masa sekarang ini dengan
berpatokan pada batas-batas yang berlaku di masa Rasulullah SAW. Sebab di masa sekarang ini, batas
kota Madinah bukanlah pagar masjid Nabawi.
Apakah kita akan mengatakan bahwa penduduk Madinah yang tinggal di utara masjid Nabawi di
Madinah, boleh menjamak shalat bila pergi ke rumah tetangganya yang ada di selatan masjid? Tentu saja
tidak.

Demikian juga dengan kota Jakarta. Di abad 17 meski kota Jakarta sudah berdiri, namun belum dikenal
pembagian berdasarkan kotamadya. Bahkan luas Jakarta saat itu belum sampai ke wilayah monas.
Perumahan elite daerah menteng di masa itu seolah wilayah yang ada di luar kota.

Sementara sekarang ini, batas kota Jakarta sudah semakin meluas, bahkan boleh dibilang nyaris
bersambung dengan kota-kota di sekitarnya, seperti Depok, Bogor, Bekasi dan Tangerang. Tentu saja
batas kotanya mengalami perubahan.

Kota Jakarta sendiri secara administrasi dipilah berdasarkan wilayah, Utara, Barat, Timur, Selatan, Pusat
dan Kepulauan Seribu.

Tapi, apakah kita akan mengatakan kepada warga Jakarta yang tinggal di Jakarta Pusat untuk menjamak
shalat bila masuk ke Jakarta Utara? Tentu saja tidak, karena kuranglazim. Sebab pada dasarnya Jakarta
adalah satu kota, meski sekarang ini ada pembagian wilayah secara struktur kepemerintahan. Namun
secara nalar sehat, rasanya masih kurang pas bila seseorang menjamak shalat karena naik busway dari
halte monas ke blok M.

Bahkan bus kota yang di kota Jakarta tidak bertuliskan bus antar kota, meski trayeknya antara
Pulogadung ke Grogol. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa bus itu melewati tiga kota, Jakarta
Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Orang hanya menyebut bus itu adalah bus kota, karena beroperasi
hanya di dalam satu kota, yaitu Jakarta.

Wallau a'lam bishshwab, wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Apakah Sah Khutbah Pakai Bahasa Selain Arab?
Selasa, 02 Maret 2010 00:18

Pertanyaan

Assalamu'alaikum,

Ustadz yang dirahmati Allah, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban ustadz. Saya
mempunyai teman yang mempunyai keyakinan bahwa khotbah Jumat itu harus pakai bahasa Arab karena
termasuk rukun sholat Jumat, sehingga dia tidak mau sholat di masjid lain selain yang memakai bahasa
Arab. Dia bilang ada hadist shohih yang mendasari pendapatnya. Apakah memang ada hadist yang
demikian? Terima kasih.

Wassalam,

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dasarnya memang bukan hadits melainkan logika ijtihad dari para ulama. Kita tidak menemukan hadits
yang secara eksplisit mengharuskan khutbah dengan bahasa Arab.

Sekilas memang terkesan lucu bila khutbah harus dengan bahasa Arab, sementara para jamaah yang ikut
hadir justru tidak bisa bahasa Arab. Sebagian orang cenderung menentang bila khutbah Jumat
disampaikan dalam bahasa Arab.

Namun kalau kita teliti lebih dalam, keharusan khutbah Jumat dalam bahasa Arab bukan berarti sepanjang
khutbah dari awal hingga akhir harus dengan bahasa Arab. Tetapi cukup pada bagian rukun-rukunnya
saja. Dan sebenarnya hal ini tidak terlalu menjadi masalah, sebab bukan berari khutbah dalam bahasa
Indonesia menjadi haram mutlak. Sebab para ulama tidak melarang kalau di luar rukun itu ditambahi
dengan penjelasan atau terjemahan dalam bahasa Indonesia, atau bahasa yang dimengerti oleh
audiensnya.

Adapun rukun khutbah Jumat itu hanya ada 5 saja, di mana kesemuanya sangat mungkin dilakukan dalam
bahasa Arab, bahkan lazim dan tanpa sadar, semua kita telah melakukannya. Umat Islam sedunia pasti
paham dan mengerti makna dari kelima lafadz itu yang menjadi rukun itu, lantaran sudah sedemikian
akrab di telinga.

Kelima rukun khutbah jumat itu adalah:

1. Hamdalah

Yaitu lafadz al-hamdulillah dan variannya seperti lafadz innal-hamda lillah. Sedangkan kepanjangannya
yang kadang memang terlalu panjang, bukan merupakan keharusan. Cukup dengan lafadz itu saja, sudah
terpenuhi rukun pertama.

Dan tidak ada masalah dengan lafadz yang satu ini, sebab semua orang yang beragama Islam pasti
mengenalnya dalam bahasa Arab. Dan umumnya orang sudah tahu artinya, sehingga tidak butuh lagi
artinya. Bahkan sebaliknya, bila diucapkan dalam bahasa Indonesia malah terasa aneh, bukan? Sebab
telinga kita sudah terbiasa mengucapkannya.
Tetapi kalau mau diterjemahkan ke dalam bahasa Indoneisa, juga tidak masalah.

2. Shalawat kepada Rasulullah SAW

Seperti lafadz ash-shalatu 'ala Muhammad atau allahumma shalli wa sallim ala muhammad, atau yang
sejenisnya. Lafadz ini pun sama dengan di atas, sama sekali tidak asing lagi. Bahkan malah bisa terdengar
aneh bila hanya diucapkan dalam bahasa Indonesia. Tetapi kalau mau dibaca Arabnya lalu diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia, juga tidak masalah.

Dan cukup dengan lafadz sepotong itu saja, sudah terpenuhi rukun yang kedua. Adapun tambahannnya,
seperti wa 'ala ali muhammad dan seterusnya, bukan merupakan keharusan.

3. Pesan Taqwa atau Wasiat

Intinya meminta kepada jamaah untuk bertakwa kepada Allah. Lafadznya pun tidak terlalu panjang,
misalnya lafadz ittaqullah (takutlah kepada Allah). Satu lafadz ini saja sudah cukup sebagai pesan dalam
khutbah jumat.

Kalau mau ditambahi dengan beragam materi ceramah lainnya dengan bahasa Indonesia, tidak mengapa
dan juga tidak merusak rukunnya. Tetapi yang inti hanyalah kata tersebut.

Dan lagi-lagi lafadz ini pun sudah sangat familiar di telinga kita. Dan selalu diucapkan oleh para khatib
jumat.

4. Membaca Potongan Ayat Quran

Rukun yang ini jelas sekali wajib diucapkan dalam bahasa Arab. Sebab yang disebut sebagai Al-Quran
hanyalah versi aslinya dalam bahasa Arab. Adapun terjemahannya, bukan termasuk Al-Quran. Karena itu
wajar bila diucapkan hanya dalam bahasa arab. Dan tidak sah khutbah Jumat itu bila pada sesi pembacaan
ayat Qurannya, hanya dibaca terjemahannya saja.

5. Mendoakan Umat Islam

Seperti lafadz allahummaghfir lil muslimin, itu saja sudah cukup dan memenuhirukun yang kelima. Dan
tambahannya seperti wal muslimat. Atau lafadz lainnya juga boleh-boleh saja. Tapi intinya mendoakan
umat Islam, atau meminta ampunan bagi mereka.

Karena khutbah Jumat itu terdiri dari 2 khutbah, maka para ulama membedakan antara tiga rukun di atas
dengan rukun nomor empat dan lima. Hamdalah, shalawat dan pesan-pesan itu menjadi rukun di di
khutbah pertama dan kedua. Sedangkan membaca Quran sebaiknya dibaca pada khutbah yang pertama.
Dan doa untuk umat Islam dibaca pada khutbah kedua.

Namun yang paling esensial adalah bahwa kelima-limanya itu tidak masalah bila diucapkan dalam bahasa
Arab. Bahkan sebenarnya setiap khatib Jumat sudah mengucapkannya dalam bahasa Arab. Jadi sama
sekali tidak masalah ketika diharuskan untuk disampaikan dalam bahasa Arab. Umumnya umat Islam
sudah paham makna dan maksudnya.

Adapun adanya tambahan-tambahan dalam bahasa Indonesia, tidak akan merusak khutbahnya. Bahkan
justru sebaiknya digunakan dengan dua bahasa, yaitu bahasa Arab untuk rukun-rukunnya dan bahasa
Indonesia untuk penjelasan-penjelasannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ahmad Sarwat, Lc.
Apakah Niat Shalat Harus Bersamaan dengan Takbiratul Ihram
Sabtu, 09 Januari 2010 00:39

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak Ustad mohon penjelasan :

1. niat shalat itu lebih dulu dari takbiratul apa bersamaan takbiratul, karena ada yang mengatakan niat dan
takbir bersamaan. Kalau yang bersamaan rasanya agak sulit - dua pekerjaan satu pelaksanaan.

2. Baca takbiratul "Allohu Akbar" apa harus dilesankan, apa bisa dalam hati (ada yang mengartikan
"membaca" itu harus lesan, padahal "membaca" bisa dengan hati.

3. Bagaimana pelaksanaan niat shalat yang benar ? Maaf penjelasan Bapak kami sangat kami tunggu-
tunggu karena untuk ibadah sehari-hari. Terimakkasih.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

muhammad sakur

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1 dan 3. Masalah Niat

Niat shalat tidak harus bersamaan dengan takbiratul ihram, walau pun bukan perkara yang sulit untuk
melakukannya secara bersamaan. Yang namanya niat itu jangan dipahami sebagai kontemplasi atau
sejenisnya, dimana seolah-olah harus berkonsentrasi penuh, sampai meraskan diri kita masuk ke alam
lain, lalu lupa segala-galanya.

Yang begituan namanya bukan niat, tapi namanya meditasi. Niat bukan meditasi. Niat juga bukan
kontemplasi. Dan niat bukan pemutusan kesadaran. Niat itu cuma sekedar menyengaja di dalam hati. Itu
saja dan tidak lebih.

Niat juga bukan lafadz yang harus digerakkan oleh lidah. Seolah-olah kalau tidak pakai lafadz, niatnya
menjadi tidak sah. Hal itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulllah SAW. Bahkan tidak ada satu pun dalil
yang menyebutkan bahwa Rasululah SAW melafadzkan niat ketika beribadah.

Tapi kita tahu bahwa semua amal itu tergantung niatnya. Cuma, yang namanya niat itu bukan ibadah
ritual tersendiri.

2. Melisankan Bacaan
Masalah melisankan bacaan dalam shalat, memang hal itu merupakan yang afdhal. Dan bukan hanya
dilaksanakan dalam hati. Bahkan sebagian ulama mengatakan tidak sah kalau hanya dibayangkan saja di
dalam hati.

Yang namanya membaca atau melafadzkan adalah dengan lisan. Hanya bedanya, ada yang dengan lisan
tapi dikeraskan tapi ada juga dengan lisan tapi dilirihkan, seperti orang berbisik.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Makna Gerakan Shalat
Sabtu, 02 Januari 2010 00:11

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz mohon pejelasannya mengenai makna dari gerakan sholat, mulai dari berdiri setelah takbiratul
ihram, ruku', i'tidal, sujud, duduk diantara dua sujud dan duduk tahiyat akhir.

Terima kasih atas penjelasannya.

Aji

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Aji Siswanto

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Gerakan shalat tidak boleh dicarikan makna atau rahasia, karena memang tidak pernah ada penjelasan
dari Allah SWT untuk itu. Karena gerakan itu semata-mata merupakan gerakan ritual yang merupakan
ketetapan dari Allah, dimana Dia hanya mau disembah hanya dengan cara itu. Namun sama sekali tidak
memberikan penjelasan dan alasan tentang makna-maknanya.

Perbedaan paling nyata antara agama Islam dengan agama lain adalah masalah originalitas. Alasan kita
untuk tetap memeluk Islam adalah karena hanya Islam saja agama yang masih utuh terjaga
orisinalitasnya, tidak tercampur dengan unsur kreasi dan rekayasa manusia.

Agama samawi yang pernah Allah turunkan sudah cukup banyak, bahkan tidak kurang 124.000 nabi dan
rasul telah diutus. Tapi nyaris tak satu pun yang selamat dari penodaan tangan-tangan manusia, termasuk
penyelewengan dan pemutar-balikan.

Maka ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, semua agama yang pernah diturunkan
sebelumnya dibatalkan dan tidak berlaku lagi. Cukup satu agama saja yang berlaku dan cukup satu nabi
saja yang dijadikan rujukan, yatiu agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.

Apa yang diajarkan oleh beliau, maka itulah agama Islam. Sebaliknya, apa yang tidak beliau ajarkan,
berarti hal itu bukan bagian dari agama Islam.

Gerakan shalat yang kita lakukan setiap hari tidak lain adalah gerakan yang beliau ajarkan. Asal gerakan-
gerakan itu bersumber dari Allah SWT, yang disampaikan melalui malaikat Jibril alaihissalam. Saat
malam mi'raj diperintahkan shalat 5 waktu, keesokan harinya Jibril datang kepada Nabi SAW
mencontohkan semua bentuk gerakan shalat 5 waktu.

Rasulullah SAW diminta memperhatikan tata cara gerakan shalat yang didemonstrasikan oleh malaikat
yang paling mulia itu, kemudian beliau SAW mengikuti gerakan-gerakan itu dengan seksama.
Setelah itu, barulah di depan para shahabat, beliau mempraktekkan gerakan-gerakan shalat yang baru saja
beliau saksikan langsung dengan kedua bola mata beliau dari gerakan malaikat Jirbil. Para shahabat
diminta untuk memperhatikan dengan seksama, seraya beliau bersabda,"Shalat lah kalian sebagaimana
kalian melihat aku melakukan shalat".

Maka seluruh shahabat menjalankan gerakan shalat persis sebagaimana mereka melihat dan menyaksikan
langsung Rasulullah SAW melakukannya.

Gerakan-gerakan itu adalah ritual ibadah yang asli dan original datang langsung dari Sang Pencipta alam
semest, Allah SWT. Diturunkan sebagai tata cara ritual bagaimana menyembah-Nya. Dimana Allah SWT
hanya ridha kalau disembah dengan cara demikian.

Seandainya gerakan-gerakan itu diganti, atau dimodifikasi, atau dikarang-karang sendiri oleh otak
manusia, sudah bisa dipastikan bahwa Allah SWT tidak akan ridha. Bahkan meski seseorang berniat
untuk mempersembahkan sebuah koreografi gerakan peribadatan yang dahsyat, tetap saja Allah SWT
tidak akan menerimanya sebagai bentuk peribadatan.

Sebab Allah SWT sudah menetapkan kehendak-Nya. Dia tidak mau disembah kecuali dengan gerakan-
gerakan ritual khusus yang Dia sendiri menentukannya.

Walhasil, gerakan-gerakan itu memang semata-mata gerakan 'magis', yang kita tidak pernah tahu kenapa
harus demikian. Allah SWT ketika memerintahkan gerakan-gerakan itu kepada Nabi-Nya lewat Jibril,
tidak menyertakan rahasia atau makna, apalagi manfaat dari semua itu.

Maka siapa pun yang mencoba untuk mencari makna, apalagi mengaku-ngaku mengetahui rahasia yang
tersembunyi di balik semua gerakan itu, kita sepakat bahwa pastilah semua itu hanya dusta penuh hayal
yang cuma sekedar hasil kerjaan imajinasi otak manusia. Sama sekali tidak diridhai Allah SWT, bahkan
sebaliknya, malah mendatangkan murka dari-Nya, karena telah berani-beraninya mencampuri apa yang
menjadi hak dan wewenang Allah.

Itulah perbedaan paling prinsipil antara ritual ibadah dalam Islam dengan ritual ibadah dalam agama
paganis para penyembah berhala. Tata cara ibadah ritual dalam Islam telah diatur sedemikian rupa
langsung oleh Allah, dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tanpa sedikit pun campur tangan kretifitas
manusia.

Sedangkan ritual ibadah agama selain Islam, baik yang dilakukan oleh kalangan penyembah berhala, atau
pun agama samawi lain yang sudah tidak berlaku lagi, mereka dengan sepenuh kreatifitas imajinasi, serta
dengan luapan hayal yang tinggi, berlomba-lomba menciptakan berbagai macam bentuk ritual
peribadatan.

Tentu saja sembari masing-masing berusaha memaknai setiap gerakan ritual itu, tentu sesuai dengan
nafsu, rasa, cara pandang, dan selera masing-masing. Agama-agama itu hanyalah sesuatu yang diciptakan
oleh tangan-tangan kreatif manusia, persis seperti seni budaya yang merupakan hasil akal budi. Ibarat
pencak silat dimana sang suhu menciptakan berbagai macam kreasi jurus, semua adalah hasil pemikiran
akal. Tiap jurus memang mengandung makna tertentu.

Semua itu tidak berlaku pada ritual ibadah shalat dalam Islam. Tidak ada satu pun yang behak
menjelaskan rahasia dan makna di balik tiap gerakan shalat, karena gerakan-gerakan itu memang bukan
untuk diterjemahkan maknanya. Gerakan itu untuk dijalankan sebagai bentuk perintah dalam beribadah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc
Tertinggal atau Masbuk dalam Shalat Ied
Kamis, 26 November 2009 02:10

Pertanyaan

Pak ustadz yang sangat saya hormati, bagaimana jika ada orang yang masbuk dalam sholat Ied,
hukumnya apa?

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu yang membedakan shalat ‘Ied dengan shalat lainnya adalah adanya beberapa kali takbir di awal
tiap rakaat. Baik rakaat pertama atau pun rakaat kedua. Di dalam hadits Rasulullah SAW, memang ada
disebutkan masalah ini:

Dari Katsir dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah SAW dalam shalat Iedain dalam rakaat
pertama melakukan takbir 7 kali sebelum qiraah dan dalam rakaat kedua bertakbir 5 kali sebelum
qiraah. (HR. Turmuzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Juga ada keterangan yang menyebutkan bahwa disunnahkan untuk mengangkat tangan pada saat takbir-
tabkir itu dilakukan. Dalilnya adalah:

Dari Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mengangkat tangan pada setiap takbir dalam shalat ‘Ied.
(HR Baihaqi dalam hadits mursal dan munqathi’)

Sedangkan pada setiap jeda antara satu takbir dengan takbir lainnya, disunnahkan untuk membaca tasbih,
tahmid dan tahlil seperti lafaz ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah). Lafaz ini juga dikenal
dengan istilah ‘al-baqiyatush shalihat’. Sebuah istilah yang ada dalam ayat Al-Quran Al-Karim:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi ‘al-baqiyatush shalihat’(amalan-amalan
yang kekal lagi saleh) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi
harapan. (QS Al-Kahfi: 46)

Kasus Makmum Ketinggalan Takbir

Dalam mazhab Al-Malikiyah disebutkan bahwa bila seorang makmum ketinggalan dalam mengikuti
imam dalam takbir shalat ‘Ied, maka selama imam masih bertakbir, hendaknya dia diam saja dan baru
bertakbir saat imam sudah selesai membaca takbir atau sudah mulai membaca Al-fatihah.

Tetapi bila seorang makmum bergabung dengan shalat sebagai masbuk, di mana imam sudah selesai
bertakbir dan sudah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran Al-Karim, maka dia boleh bertakbir sendiri
setelah takbiratul ihram lalu mengikuti imam.

Hal seperti juga dikerjakan bila dia tertinggal satu rakaat dan baru ikut shalat dengan imam pada rakaat
kedua.

Khusus bagi makmum yang tertinggal dua rakaat, yaitu yang tidak sempat ikut ruku' bersama imam pada
rakaat kedua, maka makmum itu harus mengqadha’ sendirian shalatnya itu dengan melakukan shalat dua
rakaat setelah imam selesai salam. Juga dengan bertakbir 6 kali di rakaat pertama dan 5 di rakaat kedua.
(Mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa takbir pada rakaat pertama itu 6 kali selain takbirtaul ihram).

Dalam mazhab Asy-Syafi`iyah disebutkan bahwa orang yang masbuk di dalam shalat ‘Ied atau tertinggal
sebagian shalat hendaknya bertakbir pada saaat setelah selesai mengqadha’ apa yang dia tertinggal.

Dalam mazhab Al-Hanabilah disebutkan bahwa makmum yang mendapati imam sudah selesai bertakbir
atau sudah dalam bertakbir, maka dia tidak perlu bertakbir. Hal yang sama juga bila dia mendapati imam
sudah ruku'. Hal itu karena tempat untuk takbir sudah terlewat. Dan makmum yang masbuk bertakbir bila
makmum itu sudah menyelesaikan qadha’ atas apa yang tertinggal.

Semua itu merupakan kesimpulan dari para ahli ilmu dengan dalil hadits:

Apa yang bisa kamu dapati bersama imam maka shalatlah, sedangkan apa yang terlewat/tertinggal,
maka qadha’lah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Bisakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Shalat Jumat?
Rabu, 25 November 2009 08:02

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustad, langsung saja, ana mau nanya apakah kalo sholat ied ( idul fitri/ idul adha) bertempat jatuh pada
hari jum'at, jika kita sudah melaksanakan sholat ied tsb, apakah ada kewajiban kita untuk melaksanakan
sholat Jum'at pada hari tsb?

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Adi

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu masihkah kita wajib shalat Jumat kalau pagi
harinya kita sudah shalat Ied? Atau dengan kata lain, apakah shalat Idul Adha yang jatuh di hari Jumat,
akan menggugurkan kewajiban shalat Jumat di siang harinya.

Jawabnya, masalah ini adalah masalah yang telah disepakati oleh jumhur ulama, namun ada satu mazhab,
yaitu al-hanabilah, yang punya pandangan berbeda.

1. Pendapat Jumhur Ulama

Jumhur ulama, selain Al-hanabilah, meski ada beberapa dalil hadits, sepakat bahwa shalat Jumat tetap
wajib dilakukan, meski hari itu adalah hari raya, baik Idul fithr maupun Idul Adha. Mereka yang secara
sengaja meninggalkan shalat Jumat di hari itu, selain berdosa juga wajib melaksanakan shalat Dzhuhur.
Sebab dalam pandangan mereka, shalat Jumat tetap wajib hukumnya.

Dalam pandangan mereka, kekuatan dalil-dalil qath'i atas kewajiban untuk melaksanakan shalat Jumat di
hari raya tidak bisa dikalahkan oleh dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat. Sebab kewajiban shalat
Jumat didasari oleh Al-Quran, As-sunnah dan ijma' seluruh umat Islam.

َ
ِ ْ ‫وا إ َِلى ذِك‬
‫ر‬ ْ ‫معَةِ َفا‬
ْ َ ‫سع‬ ُ ‫ج‬ُ ْ ‫من ي َوْم ِ ال‬ ِ ِ‫صَلة‬
ّ ‫ذا ُنوِدي ِلل‬ َ ِ ‫مُنوا إ‬ َ ‫نآ‬ ِ ّ ‫َيا أي َّها ال‬
َ ‫ذي‬
‫ن‬
َ ‫مو‬ ُ َ ‫م ت َعْل‬ ُ ‫م ِإن‬
ْ ُ ‫كنت‬ ْ ُ ‫خي ٌْر ل ّك‬ ْ ُ ‫الل ّهِ وَذ َُروا ال ْب َي ْعَ ذ َل ِك‬
َ ‫م‬
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian
kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.(QS. Al-Jumu'ah : 9)

Ada banyak hadits nabawi yang menegaskan kewajiban shalat jumat. Diantaranya adalah hadits berikut
ini :
َ ‫ك وا‬ َ
‫ي‬
ّ ِ ‫صب‬ ْ َ ٌ ‫مُلو‬
َ َ‫مَرأةٌ و‬ ْ ‫م‬ َ ‫ل الل ّهِ َقا‬
َ ‫ل‬ َ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫بأ‬ ٍ ‫شَها‬
ِ ‫ن‬َِ ْ ‫ق ب‬
َ ‫ن‬
ِ ِ‫طار‬ ْ َ‫وَع‬
َ ‫داوُد‬
َ ‫ض َرَواهُ أُبو‬ ٌ ‫ري‬
ِ ‫م‬
َ َ‫و‬
Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak
diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit." (HR. Abu Daud)

Hadits ini menegaskan bahwa yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat hanya hal-hal tersebut. Dan
tidak ada dijelaskan bahwa shalat idul fithr dan idul adha berfungsi menggugurkan shalat jumat.

ِ‫ى قَل ْب ِه‬


َ ‫عل‬
َ ‫مٍع ت ََهاوًُنا طب َعَ الله‬
َ ‫ج‬ َ َ ‫ك ثل‬
ُ ‫ث‬ َ ‫ن ت ََر‬
ْ ‫م‬
َ
Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,"Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup
hatinya." (HR. Abu Daud, Tirmizy, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, ancaman buat orang yang meninggalan shalat jumat secara sengaja sangat berat. Bentuknya
sampai disebut-sebut bahwa Allah akan menutup hati seseorang, sehingga tidak bisa menerima hidayah
dari Allah SWT.

ْ ِ‫ن الله عََلى قُل ُوْب ِه‬


ّ ُ‫م ث‬
‫م‬ ّ ‫م‬ ْ َ ‫ة أ َوْ ل َي‬
َ َ ‫خت‬ َ َ ‫مع‬
ُ ‫ج‬
ُ ‫م ال‬
ُ ِ ‫عه‬
ِ ْ ‫ن وَد‬ ْ َ‫م ع‬ َ ْ‫أق‬
ٌ ‫وا‬
َ
ّ َ ‫ل ََينت َهِي‬
‫ن‬
‫ن‬
َ ْ ‫ن الَغافِل ِي‬َ ‫م‬ِ ‫ن‬ّ َ ‫ل َي َك ُوْن‬
Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar,"Hendaklah orang-orang berhenti dari
meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi
orang-orang yang lupa".(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

Berdasarkan dalil-dalil qath'i di atas, meninggalkan shalat jum’at termasuk dosa-dosa besar.

Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh dalam kitabnya Ikmalul Mu’lim Bifawaidi Muslim
berkata: “Ini menjadi hujjah yang jelas akan kewajiban pelaksanaan shalat Jum’at dan merupakan ibadah
Fardhu, karena siksaan, ancaman, penutupan dan penguncian hati itu ditujukan bagi dosa-dosa besar
(yang dilakukan), sedang yang dimaksud dengan menutupi di sini adalah menghalangi orang tersebut
untuk mendapatkan hidayah sehingga tidak bisa mengetahu mana yang baik dan mana yang munkar”.

Sedangkan dalil yang membolehkan sebagian shahabat untuk tidak shalat Jumat dalam kasus itu hanya
didasari oleh beberapa hadits, yang sebagiannya tidak shahih, atau setidaknya bermasalah.

Lagi pula kalau dalam kasus itu ada keringanan dari Rasululah SAW kepada sebagian shahabat, ternyata
Rasulullah SAW sendiri tetap melaksanakan shalat Jumat. Kalau Rasulullah SAW sendiri tetap
melaksanakannya, kenapa harus mengikuti apa yang dilakukan oleh sebagian shahabat. Bukankah kita ini
shalat mengikuti Rasulullah?

a. Pendapat Al-hanafiyah dan Al-Malikiyah

Mewakili pendapat jumhur ulama, para ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa suatu shalat tidaklah
bisa menggantikan shalat yang lainnya dan sesungguhnya setiap dari shalat itu tetap dituntut untuk
dilakukan.
Suatu shalat tidaklah bisa menggantikan suatu shalat lainnya bahkan tidak diperbolehkan menggabungkan
(jama’) diantara keduanya. Sesungguhnya jama’ adalah keringanan khusus terhadap shalat zhuhur dan
ashar atau maghrib dan isya.

b. Pendapat As-Syafi'iyah

Mewakili juga kalangan jumhur ulama, mazhab Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa kebolehan tidak
shalat Jumat itu hanya berlaku khusus buat penduduk suatu kampung yang jumlahnya tidak mencukupi
angka 40 orang.

Selain itu, orang yang tinggal di tempat terpencil jauh dari peradaban dan tidak mendengar adzan jumat,
juga tidak wajib shalat Jumat. tapi mereka yang mendengar suara adzan dari negeri lain yang disana
dilaksanakan shalat jum’at maka hendaklah berangkat untuk shalat jum’at.

Dalil mereka adalah perkataan Utsman didalam khutbahnya,”Wahai manusia sesungguhnya hari kalian
ini telah bersatu dua hari raya (jum’at dan id, pen). Maka barangsiapa dari penduduk al ‘Aliyah—Nawawi
mengatakan : ia adalah daerah dekat Madinah dari sebelah timur—yang ingin shalat jum’at bersama kami
maka shalatlah dan barangsiapa yang ingin beranjak (tidak shalat jum’at) maka lakukanlah.

2. Pendapat Al-Hanabilah

Mazhab ini menyimpulkan bahwa shalat Jumat gugur apabila pada pagi harinya seseorang telah
melaksanakan shalat 'Ied.

Dalil yang mereka kemukakan ada beberapa hadits, antara lain :

‫أن زيد بن أرقم شهد مع الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ عيدين‬
‫ " من شاء‬:‫اجتمعا فصلى العيد أول النهار ثم رخص في الجمعة وقال‬
‫أن يجمع فليجمع" في إسناده مجهول فهو حديث ضعيف‬.
Bahwa Zaid bin Arqam menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya (Ied dan Jumat), beliau
shalat Ied di pagi hari kemudian memberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat dan bersabda,"Siapa
yang mau menggabungkan silahkan. (HR. Ahmad Abu Daud Ibnu Majah dan An-Nasai)

Hadits ini isnadnya majhul dan merupakan hadits yang dhaif (lemah).

‫ "قد اجتمع في يومكم‬:‫عن أبي هريرة أنه صلى الله عليه وسلم قال‬
‫مُعون" رواه أبو داود‬
ّ ‫ج‬
َ ‫م‬
ُ ‫هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا‬
Dari Abu Huraiah RA bahwa Nabi saw bersabda,”Sungguh telah bersatu dua hari raya pada hari
kalian. Maka barangsiapa yang ingin menjadikannya pengganti (shalat) jum’at. Sesungguhnya kami
menggabungkannya.”(HR. Abu Daud)

Terdapat catatan didalam sanadnya. Sementara Ahmad bin Hambal membenarkan bahwa hadits ini
mursal, yaitu tidak terdapat sahabat di dalamnya.

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat id maka tidak lagi ada
kewajiban atasnya shalat jum’at. Namun pandangan ini tetap mewajibkan seorang imam untuk tetap
melaksanakan shalat Jumat, jika terdapat jumlah orang yang cukup untuk sahnya suatu shalat jum’at.
Adapun jika tidak terdapat jumlah yang memadai maka tidak diwajibkan untuk shalat jum’at.

Kesimpulan :

1. Kebolehan tidak shalat Jumat lantaran jatuh pada hari raya Idul Fithr atau Idul Adha adalah pendapat
satu mazhab yaitu mazhab Imam Ahmad. Selebihnya, mayoritas ulama, seperti mazhab Al-Hanafiyah,
Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah, tetap mewajibkan shalat Jumat.

2. Seandainya ada saudara kita yang kelihatan cenderung kepada pendapat Al-Hanabilah yang
menganggap shalat Jumat telah gugur, kita perlu menghormati hal itu sebagai sebuah pendapat. Beda
pendapat itu bukan berarti kita harus bermusuhan kepada mereka.

3. Pendapat mayoritas ulama termasuk di dalamnya Asy-Syafi'iyah yang tetap mewajibkan shalat Jumat,
menurut pandangan saya -wallahu a'lam- lebih kuat, selain karena pendapat mayoritas ulama, juga karena
beberapa alasan :

a. Dalil tentang wajibnya shalat Jumat adalah dalil yang bersifat Qath'i, didukung oleh Quran, Sunnah
yang shahih dan ijma' seluruh umat Islam sepanjang 14 abad.

b. Dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat adalah dalil yang hanya didasari oleh beberapa hadits saja.

c. Bila ada dua kelompok dalil yang bertentangan, maka kebiasaan para ulama adalah mencari titik temu
keduanya. Dan dalam pandangan saya, titik temunya adalah bahwa yang diberikan keringanan untuk tidak
shalat Jumat adalah mereka yang tinggal di luar kota Madinah. Dimana pada dasarnya, di luar momentum
hari Raya sekalipun, mereka memang sudah tidak wajib shalat Jumat.

Dan karena pada hari raya mereka masuk ke kota dan ikut shalat Id, maka kalau siangnya mereka tidak
mau ikut shalat Jumat, tentu tidak mengapa. Karena mereka itu pada hakikatnya bukan termasuk orang
yang muqim di kota Madinah. Mereka adalah penduduk bawadi (tempat yang tidak dihuni manusia).

Sedangkan kita yang memang penduduk yang bermukim di tempat yang dihuni manusia, sejak awal
memang sudah wajib untuk melaksanakan shalat Jumat. Sehingga kalau dalil-dali kebolehan tidak shalat
Jumat di atas mau dipakai untuk kita, ada perbedaan konteks.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc