Anda di halaman 1dari 6

Hubungan antara Tingkat Stres dengan Tindak Kekerasan

pada Caregiver Lansia dengan Demensia


Ayu Dewi Yuliawati
Woelan Handadari
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Abstract.
Due to the increasing level of abuse on elderly dementia by their caregiver, this study attemp
to understand the correlation between stress and abuse on elderly dementia caregiver. The
variables was meassured using scales that both compiled by the researcher. The reliability of the
stress scale is 0,925 and for the abuse scale is 0,896. The scale was given to 38 elderly dementia
caregiver. The results revealed that there is a significant correlation between stres and abuse on
elderly dementia caregiver.

Keywords : Stress; Abuse; Caregiver; Dementia

Abstrak.
Mengingat semakin tingginya angka kekerasan yang terjadi pada lansia dengan demensia,
penelitian ini berupaya untuk mengaitkan terjadinya tindak kekerasan pada lansia demensia
dengan tingkat stres yang dimiliki oleh caregiver demensia. Pengumpulan data menggunakan
skala stres dan kekerasan yang disusun sendiri oleh peneliti, dengan tingkat reliabilitas Alpha
Cronbach untuk skala stres adalah 0,925 sedangkan untuk skala kekerasan adalah 0,896. Skala
stres dan kekerasan disebarkan pada 38 caregiver demensia. Hasil yang diperoleh adalah ada
hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan tindak kekerasan pada caregiver lansia
dengan demensia.

Kata Kunci : Stres; Kekerasan; Caregiver; Demensia

PENDAHULUAN Amerika Serikat.


Santrock (2012) menyebutkan bahwa usia
Penduduk di Indonesia saat ini lanjut membawa penurunan fisik yang lebih besar
diperkirakan memiliki usia harapan hidup rata- dibandingkan periode-periode usia sebelumnya,
rata pada kisaran 70,9 tahun (Sambutan Menteri diantaranya penurunan berfungsinya alat
kesehatan, 2012), dengan jumlah penduduk yang indera, sistem saraf, organ-organ tubuh, dan alat
berusia lanjut yaitu diatas 60 tahun, sekitar 24 reproduksi Sehingga wajar bila lansia kemudian
juta jiwa atau hampir 10 persen dari keseluruhan memiliki banyak keluhan kesehatan, bahkan
jumlah penduduk, dan akan semakin bertambah menjadi sakit. Menurut data dari Badan Pusat
dengan cepat setiap tahunnya (menkokesra. Statistik Republik Indonesia (BPS RI) tahun 2009
go.id). Angka ini menjadikan Indonesia sebagai disebutkan bahwa jenis keluhan kesehatan yang
negara keempat dengan jumlah penduduk lansia paling banyak dialami lansia merupakan efek
terbanyak didunia, setelah Cina, India, dan dari penyakit kronis seperti asam urat, darah

Korespondensi :
Ayu Dewi Yuliawati, email : ayu.dewi.yuliawati@gmail.com
Woelan Handadari, email : woelan.handarini@psikologi.unair.ac.id
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya, Jl. Airlangga No. 4 - 6 Surabaya

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 48


Vol. 02 No. 1, April 2013
Ayu Dewi Yuliawati & Woelan Handadari

tinggi, rematik, dan diabetes serta penyakit (caregiver demensia) memiliki beberapa
degeneratif (Komnas Lansia, 2010). Salah satu perbedaan bila dibandingkan dengan caregiver
manifestasi penyakit degeneratif yang baru-baru non-demensia. Secara umum caregiver demensia
ini dinyatakan sebagai prioritas kesehatan dunia memiliki tugas atau peran yang lebih sulit dan
oleh World Health Organization (WHO) adalah berat dibandingkan dengan caregiver non-
demensia (WHO, 2012). Demensia merupakan demensia. Tipe perawatan yang harus dilakukan
suatu sindrom atau kumpulan gejala yang oleh caregiver demensia lebih membebani secara
penyebabnya bisa berbagai macam gangguan yang fisik maupun emosional, lebih menghabiskan
menyerang otak, ditandai dengan penurunan banyak waktu, dan lebih mengorbankan
fungsi kognitif secara menyeluruh tanpa disertai pekerjaan serta kehidupan keluarga mereka.
dengan gangguan kesadaran, mempengaruhi Sebagai gambaran, sebuah survei oleh Alzheimer’s
fungsi memori baik jangka pendek maupun jangka Association dan National Alliance for Caregiving
panjang, mempengaruhi kemampuan intelektual, (2004) di Amerika menyatakan, caregiver
bahkan seringkali disertai dengan perubahan demensia lebih sering dalam membantu aktivitas-
perilaku dan kepribadian (WHO, 2012; Fromholt, aktivitas harian yang paling sulit dibandingkan
dkk., 1998 dalam Clinical Geropsychology, 1998). caregiver non-demensia seperti; memandikan
WHO memperkirakan, ada sekitar 35,6 juta orang (35% banding 25%), memberi makan (28%
yang hidup dengan demensia di tahun 2010 dengan banding 18%), berurusan dengan lansia yang
7,7 juta kasus baru setiap tahunnya, menyiratkan mengompol (32% banding 13%), tugas-tugas yang
bahwa ada kasus demensia baru disuatu tempat bahkan lebih sulit bila dilakukan sendiri oleh
didunia setiap empat detik (WHO, 2012). penderita demensia dikarenakan kebingungan,
Demensia merupakan kumpulan gejala disorientasi, dan ketidakmampuannya untuk
sebagai manifestasi dari adanya kerusakan melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat
struktural otak. Kumpulan gejala tersebut mendasar dalam hidup. Kegiatan caregiving pada
meliputi hilangnya atau menurunnya fungsi penderita demensia juga menyebabkan seseorang
intelektual (termasuk diantaranya adalah fungsi harus mengorbankan waktu untuk dirinya
berpikir, berorientasi, pemahaman, berhitung, serta keluarganya, misalnya memiliki waktu
kapasitas belajar, berbahasa, dan pertimbangan) lebih sedikit untuk anggota keluarga lainnya,
dan memori yang sedemikian berat sehingga mengorbankan waktu untuk berlibur, melakukan
menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Oleh hobi atau aktivitas sosial, kurang berolahraga
karena itu mereka membutuhkan orang lain (Widyastuti, dkk,. 2011; Alzheimer’s Association &
untuk membantu mereka merawat diri dan National Alliance for Caregiving 2004). Keluarga
melakukan kegiatan sehari-hari, dan mereka yang atau teman yang merawat dan tinggal dengan
melakukan tugas tersebut disebut dengan istilah penderita demensia bisa jadi perlu memberikan
caregiver. pengawasan, bantuan dan pendampingan selama
Secara umum caregiver terbagi menjadi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, ikut bangun dan
dua yakni caregiver formal dan caregiver informal. menemani penderita demensia dimalam hari,
Caregiver formal adalah mereka yang memiliki dan membantu seluruh aktivitas harian mereka,
dasar pendidikan untuk memberi perawatan terutama ketika penderita tidak bisa ditinggal
dan menerima imbalan atas jasanya tersebut. sendiri karena dikhawatirkan akan keluyuran
Sedangkan caregiver informal adalah mereka yang dan tersesat atau melakukan aktivitas yang
memberikan perawatan tanpa dibayar, terlepas tidak aman lainnya. Caregiver demensia rata-
dari mereka memiliki dasar pendidikan formal rata harus menyediakan lebih banyak waktu
maupun tidak. Jenis caregiver yang disebutkan untuk penderita demensia dibandingkan dengan
terakhir inilah yang paling banyak ditemukan, caregiver lansia non-demensia, dan durasinya
umumnya mereka adalah seseorang yang masih pun lebih lama bisa sampai 4 hingga 10 tahun
memiliki hubungan kekerabatan dengan orang (Alzheimer’s Association, 2010) tergantung
yang dirawatnya, bisa sebagai suami/istri, anak, pada perkembangan penyakitnya yang biasanya
menantu, cucu, saudara maupun hubungan berjalan lambat.
kekerabatan lainnya. Respon seseorang terhadap kegiatan
Caregiver informal yang merawat demensia caregiving dapat bermacam-macam, baik positif

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 49


Vol. 02 No. 1, April 2013
Hubungan antara Tingkat Stres dengan Tindak Kekerasan pada Caregiver Lansia dengan Demensia

maupun negatif. Sebagian caregiver informal memperoleh dukungan yang cukup dari orang-
merasa bangga dengan bantuan yang mereka orang disekelilingnya dan merasa terperangkap
berikan (Alzheimer’s Association, 2010; Zarit, dengan situasi merawat lansia dengan demensia
2009), karena membuat mereka merasa berguna, (Widyastuti, 2011).
merasa penting, dibutuhkan, dan merasa Kekerasan terhadap penderita demensia
kompeten. Selain itu, juga dapat membuat mereka tidak hanya kekerasan fisik semata, tetapi juga bisa
merasa dapat membalas budi pada orang tua berupa kekerasan psikologis seperti merendahkan
mereka, merasa dapat memberi contoh yang baik atau mempermalukan penderita didepan umum;
untuk orang lain atau untuk anak-anak mereka, kekerasan seksual; kekerasan finansial seperti
serta merasa dapat memenuhi kewajiban sebagai memaksa penderita untuk menanda tangani
seorang anak atau menantu untuk merawat dokumen tertentu yang berakibat kerugian
orang tua dengan baik (Widyastuti, dkk., 2011). finansial bagi penderita atau pemanfaatan aset-
Caregiving juga dapat berpengaruh positif bagi aset penderita oleh caregiver yang tidak untuk
jiwa mereka, misalnya seperti meningkatkan kepentingan penderita demensia; atau bisa juga
rasa bersyukur, menjadi lebih pemaaf, lebih berupa pengabaian terhadap kebutuhan penderita
sabar dan sebagainya (Zarit, 2009), Namun tidak (WHO, 2002; Wolf, 1998).
sedikit pula Caregiver yang merasakan dampak Faktor resiko yang dapat menimbulkan
negatif dari kegiatan caregiving. Penelitian terjadinya kekerasan dalam A Global Response
menunjukkan, banyak caregiver yang mengalami to Elder Abuse and Neglect (WHO, 2008)
tingkat stres dan depresi yang tinggi dikarenakan diantaranya adalah stres pada caregiver, tingkat
tugas caregiving mereka, lebih dari 40% ketergantungan lansia, riwayat kekerasan dalam
menunjukkan tingkat stres yang tinggi dan sangat keluarga, kesulitan finansial dan kesulitan
tinggi dibandingkan dengan caregiver lansia personal yang dimiliki caregiver, penyalahgunaan
lainnya yang hanya 28% (Alzheimer’s Association, alkohol atau zat adiktif lainnya, kurangnya
2010). Durasi waktu perawatan yang lama juga informasi serta sumber daya terkait perhatian
dapat menjadi penyebab seseorang merasa yang dibutuhkan oleh orang-orang dengan
keberatan dengan tanggung jawab caregiving keterbatasan seperti pada lansia, caregiver
dan merasa terpenjara dengan peran tersebut yang mengalami isolasi sosial, serta kurangnya
sehingga dapat meningkatkan munculnya gejala- dukungan dan waktu istirahat untuk caregiver
gejala depresi dari waktu ke waktu (Zarit, 2009). karena umumnya mereka harus bertanggung
Perasaan bersalah karena merasa tidak mampu jawab mengurus lansia yang lumpuh atau tidak
memberikan perawatan yang baik bagi lansia berdaya selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
dengan demensia, atau karena merasa tidak dapat Penyakit-penyakit mental yang diderita caregiver,
mengontrol keadaan juga dapat menjadi tekanan riwayat konflik hubungan antara caregiver dengan
tersendiri bagi sebagian caregiver yang kemudian lansia demensia yang berkepanjangan, kebutuhan
menimbulkan Stres (Wolf, 1998). perawatan yang tinggi, demensia, serta masalah
Stres, depresi dan kecemasan yang dialami perilaku lain juga dapat memicu terjadinya
membuat caregiver memiliki masalah dalam kekerasan.
mengontrol emosi marah dan benci. Studi yang Penelitian terbaru oleh University of
dilakukan oleh Galagher, dkk. menunjukkan California, Irvine, (Center of Excelence on Elder
bahwa, sebanyak 40% caregiver mengalami Abuse and Neglect, 2010) menyatakan bahwa dari
kesulitan mengontrol respon amarah mereka semua orang dengan demensia yang berpartisipasi
seperti berteriak atau hilang kesabaran (Zarit, dalam penelitian, separuhnya mengalami
2009) yang kemudian dapat memunculkan penganiayaan. Sejumlah 129 orang yang didiagnosa
terjadinya kekerasan terhadap lansia dengan Alzheimer, atau penyakit lain yang berkaitan,
demensia. Rasa marah tersebut juga dapat ditemui dirumah masing-masing bersama dengan
dipicu karena ketidakmampuan caregiver pemberi rawatannya (caregiver) kemudian
untuk beradaptasi dengan perubahan perannya didapatkan hasil penelitian sebagai berikut: 47%
merawat lansia dengan demensia dan dengan partisipan dengan demensia (sejumlah 61 orang)
perubahan perilaku yang terjadi pada lansia mengalami penganiayaan oleh caregiver mereka.
akibat demensianya, atau karena merasa tidak Lebih spesifik lagi, 42% (54 orang) mengalami

50 Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 02 No. 1, April 2013
Ayu Dewi Yuliawati & Woelan Handadari

penganiayaan secara psikologis, 10% (13 orang) pendidikan terakhir subyek bervariasi mulai dari
mengalami penganiayaan secara fisik dan 14% (18 SD sampai S1. Dari total subyek, 89,5% berstatus
orang) diabaikan oleh caregiver-nya. menikah dan 10,5%-nya belum menikah.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, Instrumen penelitian yang digunakan
apakah tindak kekerasan yang dilakukan oleh adalah tes mental mini (Mini Mental State
caregiver terhadap lansia dengan demensia yang Examination) untuk mengetahui status kognitif
dirawatnya ini memiliki hubungan dengan tingkat lansia, sehingga bisa dipastikan bahwa caregiver
stres yang dimiliki oleh caregiver, mengingat tersebut adalah benar caregiver yang merawat
beban yang harus dihadapi oleh caregiver dalam lansia dengan demensia. Instrumen berikutnya
melakukan perannya sebagai perawat lansia adalah skala stres dan skala kekerasan, keduanya
dengan demensia tidak hanya terbatas beban disusun sendiri oleh peneliti dengan jumlah
secara fisik maupun mental namun juga beban item untuk skala stres adalah 32 item sedangkan
secara finansial dan sosial. untuk skala kekerasan adalah 27 item. Koefisien
reliabilitas Alpha Cronbach yang diperoleh untuk
METODE PENELITIAN skala stres adalah 0,925, dan untuk skala kekerasan
adalah 0,896; menunjukkan bahwa kedua skala
Subjek pada penelitian ini adalah caregiver adalah reliabel.
yang merawat lansia dengan demensia, dengan Data yang telah dikumpulkan kemudian
karakteristik sebagai berikut: laki-laki maupun dianalisis dengan teknik korelasi Pearson’s
perempuan dewasa madya, dengan rentang Product Moment. Analisis dilakukan dengan
usia 40-60 tahun; memberikan waktunya untuk bantuan program SPSS versi 16.0 for windows
merawat lansia dengan demensia; memiliki atau dengan taraf signifikansi 5%.
tidak memiliki dasar ilmu keperawatan dan tidak
dibayar untuk merawat lansia dengan demensia; HASIL DAN BAHASAN
tinggal serumah dengan lansia demensia yang
dirawatnya; memiliki hubungan keluarga dengan Hasil analisis menggunakan teknik korelasi
lansia demensia; bersedia memberikan data. Pearson’s Product Moment disajikan dalam tabel
Subyek yang diperoleh sejumlah 38 subyek dengan berikut ini.
komposisi 8 laki-laki dan 30 perempuan. Tingkat

Tabel 1. Hasil Uji Korelasi Product Moment


stres Kekerasan
stres Pearson Correlation 1 .558**
Sig. (2-tailed) .000
N 38 ** 38
Kekerasan Pearson Correlation .558 1
Sig. (2-tailed) .000
N 38 38
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian caregiver demensia. Interpretasi ini didasarkan
ini adalah “Ada hubungan antara tingkat stres pada standar 0,10-0,29 adalah rendah, 0,30-0,49
dengan tindak kekerasan pada caregiver lansia adalah sedang dan 0,50-1,0 adalah tinggi. Arah
demensia”, dan angka signifikansi yang diperoleh korelasi positif artinya, semakin tinggi tingkat
setelah analisis data menunjukkan angka 0,000 stres maka semakin tinggi pula tindak kekerasan
yang artinya hipotesis diterima. Tingkat stres pada caregiver demensia, sebaliknya semakin
terbukti memiki hubungan yang signifikan rendah tingkat stres maka kemungkinan caregiver
dengan terjadinya tindak kekerasan oleh caregiver demensia untuk melakukan tindak kekerasan
terhadap lansia dengan demensia. juga menjadi rendah.
Berdasarkan tabel diatas, angka koefisien Berdasarkan hasil uji korelasi product
korelasi menunjukkan angka 0,558 dengan arah moment, diperoleh angka signifikansi 0,000 yang
yang positif. Koefisien korelasi sebesar 0.558 artinya ada hubungan antara tingkat stres dengan
berarti bahwa tingkat stres memiliki hubungan tindak kekerasan pada caregiver demensia.
yang tinggi dengan tindak kekerasan pada Hubungan antara kedua variabel tersebut,

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 51


Vol. 02 No. 1, April 2013
Hubungan antara Tingkat Stres dengan Tindak Kekerasan pada Caregiver Lansia dengan Demensia

menunjukkan tingkat hubungan yang tinggi memiliki tingkat stres sangat tinggi. Sehingga
sebesar 0,558 dengan arah yang positif. Arah dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata stres
yang positif maksudnya adalah, ketika caregiver pada caregiver ternyata memang memiliki
memiliki tingkat stres yang tinggi maka tindak hubungan yang positif terhadap terjadinya tindak
kekerasan juga tinggi, berlaku juga sebaliknya, kekerasan.
semakin rendah tingkat stres yang dimiliki Hasil demografi yang diperoleh dalam
oleh caregiver maka tindak kekerasan juga akan penelitian menunjukkan bahwa yang lebih
semakin rendah. banyak atau lebih sering berperan menjadi
Lansia, anak, dan wanita adalah termasuk caregiver adalah wanita dibandingkan pria (79%
dalam kelompok rentan, artinya mereka dianggap wanita dan 21% pria), hal ini sesuai dengan
lebih lemah dibandingkan kelompok lainnya. penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa
Lansia sendiri secara umum terbagi menjadi profil caregiver umumnya adalah seorang wanita
kelompok lansia yang produktif dan tidak (Alzheimer’s Association and National Alliance
produktif, disebut produktif karena lansia tersebut for Caregiving, 2004). Hasil demografi juga
masih memiliki tubuh, pikiran, dan mental yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden
sehat, mereka masih dapat melakukan sesuatu berada dalan strata ekonomi menengah hingga
untuk menopang hidupnya sendiri, mereka masih menengah kebawah, hal ini dapat menjadi faktor
dapat melakukan aktivitas-aktivitas layaknya resiko terjadinya kekerasan finansial pada lansia
seorang dewasa walaupun mungkin ada sedikit dengan Demensia (WHO, 2002).
penurunan. Namun, bagaimana dengan lansia Berdasarkan hasil penelitian, dinyatakan
yang tidak produktif? Lansia ini umumnya adalah bahwa stres ternyata memiliki hubungan dengan
lansia yang menderita suatu penyakit bisa berupa terjadinya tindak kekerasan, hal ini sesuai dengan
penyakit fisik maupun mental, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti dkk.
adalah demensia. Lansia dengan demensia tidak (2011) Stres dapat terjadi pada caregiver sebagai
lagi mampu untuk menopang hidupnya sendiri, bentuk dari koping yang maladaptif, dan hal
alih-alih mencari penghasilan untuk dirinya, tersebut dapat muncul berupa perlakuan yang
untuk melepas pakaian atau memakai pakaian salah terhadap lansia dan peningkatan emosi
saja seringkali mereka membutuhkan bantuan pada caregiver.
orang lain. Seringkali lansia dengan demensia ini
juga mengalami perubahan perilaku, perubahan Kelemahan
emosi, dan yang jelas, gangguan mengingat, Teknik sampling yang digunakan oleh
sehingga semakin menyulitkan mereka yang peneliti dalam penelitian ini adalah teknik
memiliki tanggung jawab untuk merawat. sampling non random, sehingga hasil dari
Tanggung jawab untuk merawat ini umumnya penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan di luar
jatuh pada anak, suami/isteri, atau menantu. sampel penelitian.
Sehingga dengan karakteristik tersebut, lansia
dengan demensia menjadi beberapa kali lipat SIMPULAN
lebih rentan mengalami kekerasan. Kekerasan
terhadap lansia dengan demensia itu ada, dan Berdasarkan hasil analisis data yang telah
bahkan dari total 61 orang yang menjadi subjek dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat
penelitian, separuhnya didapatkan mengalami disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan
kekerasan oleh caregiver mereka. WHO (2002) antara tingkat stres dengan tindak kekerasan
menyebutkan salah satu faktor yang dapat pada caregiver demensia. Hubungan antara kedua
menimbulkan terjadinya kekerasan adalah stres variabel ini menunjukkan arah yang positif,
pada caregiver. Munculnya stres pada caregiver artinya ketika terjadi peningkatan pada tingkat
sangat mungkin terjadi, karena merawat stres maka akan diikuti pula dengan peningkatan
lansia dengan demensia itu bukanlah hal yang pada tindak kekerasan, begitu pula sebaliknya
mudah, bagi sebagian orang bahkan mungkin ketika terjadi penurunan pada salah satu variabel
merasa kegiatan ini bukanlah kegiatan yang maka akan diikuti pula dengan penurunan pada
menyenangkan, bahkan Morris (1988, dalam variabel lainnya.
Biggs, 1995) menyebutnya sebagai kegiatan yang

52 Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 02 No. 1, April 2013
Ayu Dewi Yuliawati & Woelan Handadari

PUSTAKA ACUAN

Alzheimer Association & National Alliance for Caregiving. (2004). Families Care: Alzheimer’s Caregiving
in the United States.
Alzheimer Association. (2010). Alzheimer’s Disease Facts and Figures. Alzheimer’s & Dementia 8 (2).
New York.
Biggs, S., and Phillipson, C.,Eastman, M. (ed).(1994). Elder abuse & neglect: developing training
programmes. London: Chapman & Hall.
Center of Excelence on Elder Abuse and Neglect. (2010). Mistreatment of People with Dementia by Their
Caregivers. University of California, Irvine.
Endang, S.(2012). Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada Upacara Bendera dalam Rangka
Peringatan Hari Kesehatan Se-dunia ke-64. Jakarta.
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2012). Prof. Haryono: Lansia perlu perhatian.
Diunduh senin 11 juni 2012 pukul 2:24 dari http://www.menkokesra.go.id/content/prof-haryono-
lansia-perlu-perhatian.
Komisi Nasional Lanjut Usia. (2010). Profil Penduduk Lanjut Usia. Komnas Lansia. Jakarta.
Santrock, John W. (2002). Life-Span Development. Erlangga. Jakarta
Widyastuti, R.H.(2011).Gambaran Beban Keluarga dalam Merawat Lansia dengan Demensia di Kelurahan
Pancoranmas, Depok, Jawa Barat: Studi Fenomenologi.Jurnal kesehatan (The Journal of Health)
1(7). 53-57.
Widyastuti, R.H., Sahar, J., Permatasari, H. (2011). Pengalaman Keluarga Merawat Lansia dengan
Demensia. Journal Ners Indonesia 1(2), 49-57.
Wolf, R., S. (1998). Caregiver Stress, Alzheimer’s Diesease, and Elder Abuse. American Journal of
Alzheimer’s Disease and Other Dementias 13(81-83).
World Health Organization. (2002). World Report on Violence and Health. Geneva.
World Health Organization. (2008). A Global Ressponse to Elder Abuse and Neglect: Building Primary
Health Care Capacity to Deal with the problem Worldwide: Main Report. Geneva.
World Health Organization.(2012). Dementia: a public health priority. Printed in United Kingdom.
Zarit Steven H. & Sara Honn Qualls. (2009). Aging Families and Caregiving. New Jersey: John Willey &
Sons, Inc.
Zarit, S. H., Lennarth J., Jarrot S. E., (1998). Family Caregiving: Stresses, Social Programs, and Clinical
Interventions. Clinical Geropsychology 26, 345-360.

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 53


Vol. 02 No. 1, April 2013