Anda di halaman 1dari 4

“Di garis lurus jalan, simpang kiri dan simpang kanan jalan, dari jauh semakin

dekat jenuh

Semakin terasa sudah lelah ini, namun tak ingin berakhir sebagai sampah.

Pemimpi...masih berkabut arah tujuannya, namun ingin segera


menggapainya.

Suka bertindak sebelum berpikir. Karena puncak gunung terlihat lebih jelas
dan dekat dari pada mendengarkan bualan pengecut yang malang.

Aku yang menemukan bijak ditengah keramaian, meski akrab dengan yang
namanya kesendirian, membuatku lebih tenang tanpa mereka simulut manis.

Biarkan aku dengan ini semua, aku belum bisa menjadi apapun untuk
siapapun”

”Yang hilang kini semakin senyap

Aku mengira kita bisa hidup diatas langit

Ternyata dia telah menjadi abu

Benar, dia telah hilang dan terlelap”

(31 Desember 2017)

“Akhir tahun telah kembali lagi.

Mengingat akhir tahun yang sama.

Kamu yang masih berdiam diri.

Apakah mimpiku akan berakhir juga??

Tidak, akan kubawa jauh mimpiku dari sini.

Tidak seperti seorang Dewi pembunuh karena cinta.

Akan kuhadapi selamanya bersama hari”


( Teruntuk Jus Jam di 03 Jan ) Adyil Lagie_03/01/2018

Seperti lebah yang menyelam ditaman bunga

Memberi seribu satu kehidupan dalam warna

Ditakdirkan lahir untuk menyulam rasa

Tak terpisahkan oleh rindu dan cinta

Maka terciptalah insan dijumpa pertama

Hingga hati tak mampu untuk berdusta

Lihatlah awan hitam itu dalam bola mata

Menandakan langit akan bertasbih segera

Lalu kau bawa dingin kepadaku lewat suara

Akupun tergesa mendengarkan suaramu dengan jiwa

Akhirnya langit pun menangis terpana

Melihat dua hati menari dan berbicara dalam romansa

Tak terasa kita telah berjalan dalam waktu senja

Aku berkata ingin pamit dan kembali untuk berjumpa

Dengan janji menyelimuti dinginmu dengan novel cinta

Dan akan ada apa dengan jumpa ke dua ?

Lihatlah tanda tanya itu yang telah merindu untuk siapa

Mencari payung teduh ditengah hujan-hujan cinta

Apakah Jus Jam itu bisa menjadi payung jiwa ?

Tak sekedar manis dikala lidah merah mulai merasa

Ataukah membenamkan hati yang haus akan doa ?

Semua itu adalah tentang hujan, novel dan payung kita

Karena teruntuk Jus Jam, aku berikan duniaku, ada Jus dipuisiku, Love !!!
(Tentang Payung) Adyil Lagie_02:27_05/01/2018

“Kita bukanlah siapa-siapa

Ketika hidup tak menjadi apa-apa

Dengarkanlah aku akan bicara

Dan kamu akan berpikir aku gila

Izinkan aku untuk memiliki payung

Tempat aku akan berlindung dibaliknya

Maka aku hanya bisa memberikan kerajaanku

Dan datanglah kedalam puisi-puisiku, payungku”

(Tentang Payung 2)
“Jangan kau bunuh seseorang dengan diammu

Ketika dia tidak memperdulikan jarak yang menunggu

Karena jarak sesungguhnya adalah tak mengenalmu

Dan mengenalmu adalah hidup dibawah langit biru

Banyak orang-orang terpisah diperempatan jalan

Tapi dia hanya ingin bersamamu disetapak ini, payungku

Banyak orang-orang ramai akan bicara tentang dia dan kamu

Tapi dia masih menulismu, teduhku

Dia bisa saja memerahkan tangannya karenamu

Dia bisa saja menjadi semu karena pisaumu

Apakah kau tak bisa membaca dia lebih jelas dimatamu?

Dia hanya ingin menikmati kopi bersamamu”


“Ketika pertama kali bumi mengahaturkan doa kepada sang langit

Bumi masih tumbuh diatas batu keras nan mematahkan harapan

Tapi bumi tetap terus berdoa dan berharap langit tak menghukumnya

Terlalu lama bumi gersang tidak dipeluk oleh sang hujan

Seperti itulah aku saat ini, saat semua tidak direncanakan

Aku melihat dan menemukan sesuatu yang baru

Lalu aku bertanya jauh didalam hatiku dan tidak siapapun melihatnya

Mungkin hanya aku dan Tuhan yang tahu, mungkin juga kau

Siapakah kamu ???

Iya, kamu yang mampu membangkitkan the mummy dari pertapaannya

Kamu yang telah menjadi kuburan berjalannya

Karena dia merasa ingin mati didalammu

Tegakah kamu membiarkan baris tanda tanya itu masih menemaninya ?

Aku ingin menikmati secangkir kopiku

Menemukanmu dan mengenalmu adalah bait-bait puisiku

Yang telah aku tuangkan kedalam hangat secangkir rasaku

U always in my mind and my black coffee, please stay with me”