Anda di halaman 1dari 14

PSYMPATHIC : Jurnal Ilmiah Psikologi eISSN: 2502-2903, pISSN: 2356-3591

Volume 4, Nomor 2, 2017: 251-264 DOI: 10.15575/psy.v4i2.1756

Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths and Difficulties Questionnaire


(SDQ)
Istiqomah
Universitas Muhammadiyah Malang, Jalan Raya Tlogomas 246 Kota Malang
e-mail: istiqomah@umm.ac.id

Abstract

SDQ (Strengths and Difficulties Questionnaire) is a psychological scale to screen the Strengths
and Difficulties the special student, emotional and behavioral problem, and school readiness.
This adaptation of SDQ aims to test the psychometric parameter: validity, reliability and
confirmatory factor analysis. The study was conducted to 153 subjects with the help of
significant others in inclusive school and the center of autism at Malang. The analysis
indicated 7 invalid items with reliability 0,759. The confirmatory factor analysis showed that
all of factor give 54,943 % contribution to the construct of SDQ.

Keywords: psychometric properties, Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), students


with special needs

Abstrak
SDQ (Strengths and Difficulties Questionnaire) adalah skala psikologi yang digunakan untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa berkebutuhan khusus, permasalahan yang
berhubungan dengan emosional dan perilaku pada anak-anak berkebutuhan khusus serta
tingkat kesiapan belajar. Tujuan dari adaptasi skala SDQ adalah untuk menguji parameter
psikometri dari skala SDQ yaitu validitas, reliabilitas dan confirmatory factor analysis.
Subjek penelitian adalah siswa berkebutuhan khusus sebanyak 153 siswa dan yang mengisi alat
ukur adalah significant others anak berkebutuhan khusus pada sekolah inklusi di Malang dan
siswa pada Pusat Layanan Autis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 item terdapat 7
item yang tidak valid dengan mengacu pada r-tabel, adapun reliabilitas sebesar 0,759. Analisis
faktor alat ukur skala SDQ bisa dikatakan berhasil karena bisa menjelaskan > 50%
pereduksian item sesuai faktor yaitu sebesar 54,943 % dari pembagian faktornya.

Kata Kunci: parameter psikometri, Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), siswa
berkebutuhan khusus

Pendahuluan komunikasi maupun kombinasi dua atau


lebih dari gejala di atas. Sejauh ini diperlu-
Anak berkebutuhan khusus (ABK)
kan modifikasi dari tugas-tugas sekolah,
adalah anak dengan karakteristik khusus
metode belajar atau pelayanan terkait
yang berbeda dengan anak pada umumnya
lainnya, yang ditujukan untuk mengem-
tanpa menunjukkan pada ketidakmampuan
bangkan potensi dan kapasitas anak ABK.
mental, emosi dan fisik. Yang termasuk
Anak berkebutuhan khusus memiliki
anak ABK adalah tuna netra, tuna rungu,
beberapa permasalahan khususnya sikap
tuna grahita, tuna daksa, tuna laras,
prososial, hiperaktif, masalah emosi,
kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak
tingkah laku terutama kemampuan berso-
berbakat, anak dengan gangguan kesehatan,
sialisasi serta hubungan dengan teman
dan anak autis. Mangunsong (2009)
sebaya.
mendefinisikan anak berkebutuhan khusus
Anak berkebutuhan khusus yang
sebagai anak yang menyimpang dari rata-
memiliki gangguan tuna netra, tuna rungu,
rata anak normal dalam hal ciri-ciri mental,
tuna grahita, tuna daksa, atau tuna laras
kemampuan sensorik, fisik dan neuromus-
tidak dapat disekolahkan di sekolah umum.
kular, perilaku emosional, kemampuan
Mereka harus disekolahkan di sekolah

251
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

khusus yaitu SLB dengan tipe A, B, atau C. dengan tingkat perkembangan fungsional.
Anak berkebutuhan khusus yang mampu Karakteristik tersebut berkaitan dengan
disekolahkan pada sekolah reguler adalah tingkat perkembangan sensori-motor,
anak autis, lambat belajar, dan gangguan kognitif, kemampuan berbahasa, keteram-
perilaku. Pada anak-anak yang kondisinya pilan diri, konsep diri, kemampuan
sudah lebih baik diharapkan bisa disekolah- berinteraksi sosial serta kreativitasnya.
kan di sekolah SD/ SMP reguler. Anak Untuk mengetahui secara jelas tentang
autis yang belum bisa disekolahkan karakteristik setiap siswa, seorang guru
biasanya harus tetap berada di pusat terlebih dahulu melakukan screening atau
layanan autis atau melakukan terapi secara assessment agar mengetahui secara jelas
individual di rumah. Sekolah inklusi mengenai kompetensi diri peserta didik.
diharapkan juga menjadi terapi bagi anak Tujuannya adalah agar pada saat
autis untuk bersosialisasi dengan orang lain pemrograman pembelajaran, sudah dipikir-
dan lingkungan. kan mengenai bentuk intervensi pembela-
Sekolah inklusi merupakan sebuah jaran yang cocok. Assesment disini adalah
sistem pendidikan khusus yang mensyarat- proses kegiatan untuk mengetahui kelemah-
kan agar semua anak berkebutuhan khusus an dan kelebihan setiap peserta didik dalam
diterima di kelas reguler di sekolah yang segi perkembangan kognitif dan perkem-
berlokasi di daerah mereka dan mendapat- bangan sosial. Kegiatan ini biasanya
kan berbagai pelayanan pendukung dan menggunakan instrumen khusus secara
pendidikan berdasarkan pada kebutuhan baku atau dibuat sendiri oleh guru kelas.
mereka masing-masing (Praptiningrum, Menurut Salvia dan Ysldyke (dalam
2012). Pendidikan inklusif merupakan Delphie, 2005) assessment yang digunakan
peluang bagi ABK untuk dapat menempuh dalam pendidikan anak berkebutuhan
pendidikan di sekolah reguler bersama khusus merupakan proses yang beraneka
anak-anak normal pada umumnya. ABK macam yang melibatkan lebih dari sekedar
adalah mereka yang mengalami kondisi administrasi tes. Proses yang beraneka
yang berbeda dari rata-rata anak normal ragam melibatkan tiga aspek pokok, selain
pada umumnya baik dari segi fisik, perilaku sasaran (target behavior) yakni:
kecerdasan, indera, komunikasi, perilaku (1) Kondisi sebelumnya yang melatar-
atau gabungan dari hal-hal itu sehingga belakangi perilaku nonadaptif atau
membutuhkan layanan khusus untuk dapat maladjustment disebut dengan antecedent
mengoptimalkan potensi yang ada dalam conditions. (2) Karakteristik-karakteristik
dirinya. ABK tersebut menerima dan khusus dari siswa yang bersifat pribadi
mengikuti pelajaran serta berada di disebut dengan related personal
lingkungan yang sama dengan siswa characteristic. (3) Konsekuensi-konsekuen-
reguler. Siswa berkebutuhan khusus si yang akan diterima setelah dilakukannya
tersebut menerima dan mengikuti pelajaran progam pembelajaran individual disebut
serta berada di lingkungan yang sama dengan consequent.
dengan siswa reguler. Didukung penelitian yang dilakukan
Perkembangan akademik ABK dipe- oleh Ledford, Hall, Conder dan Lane,
ngaruhi oleh IQ, faktor lingkungan serta (2016) faktor lingkungan berhubungan erat
kesiapan belajar secara emosional. Perlu dengan kesiapan belajar ABK sehingga
adanya assessment untuk mengetahui bisa digunakan untuk memprediksi
kekuatan dan kelemahan anak autis keberhasilan prestasi akademik anak
sebelum masuk sekolah reguler (Keen, berkebutuhan khusus di kemudian hari.
Webster dan Ridley, 2016) Keputusan untuk bisa dan siap
Karakteristik spesifik anak berkebu- dimasukkan di sekolah reguler merupakan
tuhan khusus pada umumnya berkaitan tindakan yang harus diambil seorang

252
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

psikolog untuk mempercepat kemampuan Berdasarkan pemaparan di atas dapat


bersosialisasi. Kendala yang dihadapi diidentifikasi bahwa yang menimbulkan
adalah belum tersedianya alat khusus untuk permasalahan dalam menggunakan alat
mengetahui kekuatan dan kelemahan serta ukur psikologi yang berasal dari luar negeri
kesiapan belajar pada ABK. Kondisi ini adalah adanya budaya yang berbeda yang
akan menjadi hambatan tersendiri bagi mengakibatkan hasil tes yang merupakan
sekolah untuk menentukan siswa yang akan sampel perilaku juga berbeda sehingga
diterima di sekolah tersebut sehingga alat karakteristik tes yang didapatkan berupa
ini sangat penting untuk diadaptasi karena validitas dan reliabilitas alat ukur akan
kebutuhan yang mendesak untuk melaku- berbeda pula. Berangkat dari pemikiran
kan assessment kesiapan belajar siswa tersebut maka penulis perlu mengadaptasi
berkebutuhan khusus agar dapat sekolah di alat ukur dalam bahasa Indonesia.
sekolah reguler. Tujuan penelitian ini adalah (1)
Salah satu upaya untuk memenuhi menguji validitas dan reliabilitas alat ukur
kebutuhan tes kesiapan belajar bagi anak SDQ. (2) Mendeskripsikan masalah
berkebutuhan khusus adalah dengan emosional dan perilaku anak-anak berke-
melakukan adaptasi terhadap alat ukur yang butuhan khusus. (3) Selain penelitian pada
sudah ada yaitu strengths and difficulties bidang psikometri, SDQ juga diteliti dalam
questionnaire (SDQ). kaitannya dengan masalah psikososial
Dalam menggunakan tes yang anak, yaitu untuk screening.
diadaptasi dari luar negeri maka para
psikolog terbentur pada budaya yang Strengths and Difficulties Questionnaire
berbeda sehingga biasanya mereka akan (SDQ)
melakukan adaptasi terlebih dahulu yaitu SDQ adalah suatu alat ukur atau skala
dengan cara menyesuaikan tes yang ada psikologi yang terdiri dari 25 item dengan
untuk dicocokkan dengan berbagai faktor lima dimensi yang akan diukur yaitu
yang dimiliki oleh populasi yang dikenai prososial, hiperaktif, masalah emosi,
tes, salah satunya adalah budaya. Menurut perilaku serta hubungan dengan teman
Hambleton dan Patsula (1999), tindakan sebaya. Tujuan daripada penyusunan skala
mengadaptasi atau menterjemahkan tes ke SDQ yakni untuk mengetahui masalah
dalam bahasa/ budaya lain, pada umumnya yang berhubungan dengan emosional dan
disebabkan oleh alasan-alasan berikut: (1) perilaku pada anak-anak dan remaja, dan
Seringkali mengadaptasi lebih murah dan mengetahui tingkat kesiapan belajar pada
mudah daripada membuat tes yang baru anak (Goodman, 1997). Pada SDQ
dalam bahasa lokal. (2) Bila tujuan Finlandia yang biasa disebut dengan SDQ
pengetesan adalah mengukur aspek Fin diperoleh reliabilitas sebesar 0.71.
psikologis masyarakat lintas budaya atau Di Eropa studi tentang SDQ sudah
lintas negara, mengadaptasi tes adalah cara banyak dilakukan terutama di Jerman
paling efektif untuk membuat tes dalam (Becker dkk., 2004 dalam Goodman, 2006)
bahasa lokal. (3) Sedikitnya ahli-ahli dalam telah menguji validitas dan reliabilitas
negara tersebut yang mampu membuat tes. SDQ pada 543 siswa dengan rentang usia
(4) Terdapat rasa aman untuk digunakan 5-17 tahun. Becker menggunakan analisis
pada tes yang sudah teradaptasi daripada faktor yaitu exploratory dan confirmatory
tes yang baru dibuat, terutama bila tes yang factor analysis menemukan replikasi tepat
diadaptasi adalah tes yang sudah terkenal. dari SDQ ke lima skala asli.
(5) Biasanya tetap muncul kesamaan atau Penelitian juga dilakukan di Amerika
kepercayaan yang sama terhadap hasil oleh Dickey dan Blumberg (2004) terhadap
pengukuran, meskipun tes itu berbeda 9574 anak-anak dan remaja usia 4-17
bahasanya. tahun yang mengisi kuesioner SDQ.

253
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

Analisis yang dilakukan adalah dengan pola yang negatif, permusuhan dan perilaku
menggunakan exploratory dan confir- menentang yang terus-menerus tanpa
matory factor analysis. Hasil penelitian adanya pelanggaran serius terhadap norma
menunjukkan bahwa dari kelima komponen sosial atau hak orang lain. Masalah perilaku
yang diprediksi ada di dalam SDQ, hanya ini merupakan permasalahan yang paling
ada tiga faktor yang memenuhi sering ditunjukkan oleh anak seperti
confirmatory factor analysis. memukul, berkelahi, mengejek, menolak
Selain penelitian pada bidang untuk menuruti permintaan orang lain (4)
psikometri, SDQ juga diteliti dalam kaitan- Gejala emosi. Aspek gejala emosi menga-
nya dengan masalah psikososial anak, rah pada suatu perasaan dalam pikiran yang
perilaku dan emosional (Vostanis, 2006). khas, suatu keadaan biologis dan psikologis
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dalam serangkaian kecenderungan bertin-
screening. dak. Gangguan emosi merupakan ketidak-
Aspek atau dimensi dalam skala SDQ mampuan yang ditandai oleh perasaan dan
antara lain: (1) Perilaku prososial pikiran yang tidak sesuai dengan usia,
merupakan sikap alamiah yang dimiliki budaya atau norma-norma etis yang ber-
oleh manusia disebabkan manusia tidak dampak buruk secara emosional dengan
dapat hidup secara individualis dan merespon perilaku dalam program-program
termasuk makhluk sosial yang selalu pembelajaran sangat nyata pada akademis,
membutuhkan orang lain dalam melakukan sosial, keterampilan dan kepribadian (Kau,
aktivitas sehari-hari. Baron dan Byrne 2010). Anak dengan gangguan emosi dan
(2005) mengatakan bahwa perilaku pro- perilaku memiliki karakteristik yang kom-
sosial adalah suatu tindakan menolong pleks dan seringkali ciri-ciri perilakunya
yang menguntungkan orang lain tanpa juga dilakukan oleh anak-anak sebaya lain,
harus menyediakan suatu keuntungan seperti banyak bergerak, mengganggu te-
langsung pada orang yang melakukan man sepermainan, perilaku melawan, dan
tindakan tersebut, dan mungkin bahkan adakalanya perilaku menyendiri (5) Hu-
melibatkan suatu risiko bagi orang yang bungan dengan teman sebaya. Masalah
menolong. (2) Hyperactivity. Aspek dengan teman sebaya ini dimana anak
hyperactivity yaitu suatu pola perilaku pada kurang bisa bersosialisasi dengan teman-
seseorang yang menunjukkan sikap tidak teman sebayanya baik di lingkungan rumah
mau diam, tidak menaruh perhatian, dan atau di sekolah. Kesulitan anak dalam
impulsif atau semaunya sendiri. Anak yang bersosialisasi ini seringkali membuat anak
memiliki perilaku ini biasanya sulit diatur kurang diterima oleh teman sebayanya, hal
atau dikontrol. Perilaku yang tampak ini bisa membatasi anak untuk berinteraksi
biasanya adalah: (a) Tidak dapat duduk secara aktif dalam kelompok sebaya.
dengan tenang, terlihat gelisah. (b) Sering
meninggalkan bangku tanpa alasan yang Validitas
jelas. (c) Berlari, memanjat tidak pada Validitas adalah ketepatan tes dalam
tempatnya, pada usia dewasa lebih mengukur sesuatu yang harus diukur.
ditunjukkan dengan sikap gelisah. (d) Gronlund (1982) secara umum mengartikan
Kesulitan dalam menikmati kegiatan atau validitas sebagai sejauhmana hasil tes
permainan yang tenang dan membawa dapat dipakai untuk tujuan yang dimaksud-
relaksasi. (e) Berkeinginan untuk selalu kan. Dengan perkataan lain validitas adalah
bergerak aktif. (f) Cerewet, suka berbicara kesesuaian tafsiran mengenai hasil tes.
yang terkadang tidak sesuai dengan Validitas tes terdiri dari validitas isi,
konteks. (3) Masalah perilaku (Conduct validitas konstruk, dan validitas berdasar-
problem). Dari aspek perilaku kan kriteria. Validitas berdasarkan kriteria
mengganggu atau mengacau adalah suatu terdiri atas validitas prediktif dan validitas

254
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

konkuren (Azwar, 2013). Validitas isi tes korelasi item dengan total dan analisis
menunjukkan sejauhmana seperangkat soal faktor.
dilihat dari isinya memang mengukur apa
yang dimaksudkan untuk diukur. Validitas Analisis Faktor
konstruk mempersoalkan skor-skor hasil Analisis faktor adalah prosedur untuk
pengukuran dengan instrumen itu mereflek- mengidentifikasi item atau variabel
sikan konstruksi teori tes yang mendasari berdasarkan kemiripannya. Kemiripan
penyusunan alat ukur tersebut. Validitas tersebut ditunjukkan dengan korelasi yang
kriteria dilihat dari sejauhmana hasil tinggi. Item-item yang memiliki korelasi
pengukuran dengan alat ukur yang yang tinggi akan membentuk satu
dipersoalkan itu sama atau mirip dengan kerumunan faktor (Widiarso, 2009).
hasil pengukuran lain yang dijadikan Analisis faktor memungkinkan pene-
ukuran, dimana kriteria itu dapat dalam liti untuk: 1) menguji ketepatan model
waktu sekarang atau waktu yang sesaat dan (goodness of fit tes) faktor yang terbentuk
kriteria di waktu yang akan datang. Jika dari item-item alat ukur, 2) menguji
kriteria itu sekarang dapat dimanfaatkan kesetaraan unit pengukuran antar item, 3)
disebut validitas konkuren, dan jika krite- menguji reliabilitas item-item pada tiap
ria itu baru beberapa waktu kemudian dapat faktor yang diukur, 4) menguji adanya
dimanfaatkan disebut validitas prediktif. invariant item pada populasi. Analisis
Validitas yang digunakan dalam faktor terdiri dari exploratory factor
adaptasi SDQ adalah validitas isi karena analysis yaitu suatu analisis yang diguna-
skala yang dikembangkan berdasarkan kan untuk mengetahui atau mengidentifi-
spesifikasi alat ukur atau isi dan validitas kasi faktor yang ada di dalam seperangkat
konstruk. Validitas isi mengacu pada item tersebut dan confirmatory factor
sejauhmana butir-butir item itu mencakup analysis yaitu analisis faktor yang
keseluruhan isi yang hendak diukur. Hal digunakan untuk menguji suatu alat ukur
ini berarti isi alat ukur tersebut harus tetap yang telah diketahui dimensinya. Jadi untuk
relevan dan tidak menyimpang dari tujuan membuktikan bahwa alat ukur tersebut
pengukuran. Pengkajian validitas isi tidak memang terbukti terdiri dari beberapa
melalui analisis statistik tetapi mengguna- faktor.
kan analisis rasional atau penelaah. Cara
yang ditempuh adalah melihat kesesuaian Reliabilitas
antara item skala yang asli dengan Reliabilitas adalah keterandalan,
menggunakan bahasa Inggris dengan hasil konsistensi bisa juga dikatakan sebagai
alat ukur yang diadaptasi. Telaah butir item sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat
dilakukan oleh 2 orang penelaah yaitu dipercaya (Azwar, 2013). Menurut
dengan meminta bantuan dari lulusan Nunnaly (1994) koefisien reliabilitas 0,7
sastra Inggris UM dan magister dari sampai 0,8 dianggap cukup baik.
Universitas New Zealand yang dianggap Reliabilitas yang diperoleh alat ukur SDQ
expert karena mempunyai pengalaman Finlandia (SDQ Fin) diperoleh reliabilitas
dalam menerjemah soal bahasa Inggris ke sebesar 0.71 (Goodman, 1997).
dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya. Uji reliabilitas skala ini menggunakan
Prosedur pengujian validitas konstruk metode konsistensi internal, salah satu
berangkat dari komputasi interkorelasi prosedur dalam metode konsistensi internal
diantara berbagai hasil tes dan kemudian yang digunakan adalah teknik Cronbach’s
diikuti oleh analisis lebih lanjut terhadap Alpha. Teknik tersebut dapat digunakan
matriks korelasi yang diperoleh, melalui untuk menguji skala, angket maupun tes
berbagai metode. Metode yang digunakan dengan tingkat kesukaran seimbang atau
dalam pengujian validitas konstruk adalah hampir seimbang.

255
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

Adaptasi tes Penelaahan butir soal dilakukan oleh 2


Adaptasi tes adalah penyesuaian materi orang yang ahli dalam bidang bahasa dan
tes karena adanya perbedaan budaya atau pengukuran. (4) Data psikometrik yang
pada budaya yang sama dengan berupa penghitungan-penghitungan statistik
karakteristik test taker yang berbeda-beda yang merupakan data psikometrik
dengan tidak mengubah fungsi tes tersebut. mengenai tes tersebut yaitu validitas dan
Adaptasi tes meliputi cultural adaptation reliabilitas.
dan test taker.
Menurut Hambleton, Mirenda dan Metode Penelitian
Spielberg (2005) dalam adaptasi tes yang
Partisipan
perlu diperhatikan adalah bahasa dan
budaya. Skala yang diadaptasi harus Partisipan penelitian adalah sumber
diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam utama data penelitian, yaitu yang memiliki
bahasa tersebut (bahasa Indonesia), baru data mengenai yang diteliti (Azwar, 2013).
kemudian diterjemahkan ulang ke dalam Subjek penelitian yang akan digunakan
bahasa aslinya. Faktor budaya juga harus adalah significant others siswa ABK (autis)
diperhatikan karena budaya tertentu yang SD atau SMP pada sekolah inklusi di
disampaikan dengan bahasa yang berbeda Malang.
maka akan memberikan makna yang Teknik sampling yang digunakan
berbeda pula. adalah purposive random sampling yaitu
Langkah-langkah adaptasi tes teknik penentuan sampel dengan memenuhi
(Soekarti, 2003). (1) Memahami karakteristik tertentu. Karakteristik yang
karakteristik tes yang meliputi: landasan harus dipenuhi adalah siswa berkebutuhan
teoretis, definisi operasional, standar khusus yang telah memenuhi usia sekolah
administrasi, standar format tes dibuat SD. Adapun yang mengisi skala adalah
dengan bentuk-bentuk tertentu yang significant others yang mana dapat diisi
memiliki makna dan tujuan, karakteristik oleh orang tua ataupun guru yang
test taker yang meliputi usia dan mengetahui perkembangan siswa selama 6
pendidikan. (2) Menerjemah atau menyadur bulan terakhir.
alat ukur tersebut yang meliputi: perbedaan Sebagai suatu rekomendasi umum,
konstruk bahasa atau idiom, Crocker dan Algina (1986), menyarankan
memperhatikan istilah-istilah lokal, dan jumlah 200 orang sebagai jumlah sampel
rasionalisasi setiap item yang tujuannya yang cukup memadai. Gable (dalam
untuk melihat makna dan aspek yang Azwar, 2013) mengatakan bahwa banyak-
diukur tidak menyimpang dari aslinya. Tes nya responden guna memperoleh data uji
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, coba ini kira-kira 6 sampai 10 kali lipat
kemudian dikembalikan ke dalam bahasa banyaknya item yang hendak dianalisis.
aslinya. Dalam menerjemahkan bahasa bisa Sedangkan Nunnaly (1994) memberikan
dilakukan dengan menerjemahkan tes yang pedoman kasar, yaitu banyaknya subjek
jawabannya pasti tetapi bisa juga untuk sampel adalah 5 sampai 10 kali lipat
mengubah item tersebut sesuai dengan banyaknya item yang hendak dianalisis.
kondisi, kebiasaan hidup, agama, norma Pada penelitian ini patokan jumlah
sosial dan sebagainya. (3) Menelaah item. responden yang digunakan adalah menurut
Telaah merupakan suatu proses penting Gable yaitu 6 sampai 10 kali lipat
yang harus dilakukan dalam adaptasi skala. banyaknya item. Jumlah item skala ini
Penelaahan butir item dilakukan untuk adalah 25 item, jadi subjek penelitian ini
menentukan apakah item tersebut sudah adalah antara 150-250 siswa yaitu 153 dan
dianggap baik dan memenuhi kriteria sudah memenuhi kriteria untuk melakukan
penilaian kualitatif sebelum diujicobakan. uji coba alat ukur.

256
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

Instrumen Penelitian sebagainya. (3) Menelaah item. Telaah


Alat ukur yang digunakan adalah SDQ merupakan suatu proses penting yang harus
Fin yang dikembangkan oleh Goodman dilakukan dalam adaptasi skala. Penelaahan
(2006) yang terdiri dari 25 item yang butir item dilakukan untuk menentukan
didasarkan pada lima dimensi. Alat ukur ini apakah item sudah dianggap baik dan
telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji memenuhi kriteria penilaian kualitatif
reliabilitas yang telah dilakukan diperoleh sebelum diujicobakan. Penelaahan butir
sebesar 0,71. Alasan menggunakan alat soal dilakukan oleh 2 orang yang ahli
ukur ini adalah di Indonesia belum ada dan dalam bidang bahasa dan pengukuran. (4)
alat ukur ini sangat dibutuhkan untuk penghitungan-penghitungan statistik seba-
mengetahui kesiapan belajar anak ABK. gai data psikometri mengenai tes tersebut
yaitu validitas dan reliablitas (Soekarti,
Prosedur Penelitian dan Analisis Data 2003).
Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga Uji Coba
tahap, yang terdiri dari tahap persiapan, Uji coba tes dilaksanakan mung-
tahap adaptasi alat ukur, dan tahap analisa kin cukup sekali atau lebih sampai
data. (a) Tahap persiapan. Persiapan mendapatkan butir soal yang meme-
penelitian dimulai dengan mencari nuhi kriteria. Suryabrata (2000) menya-
informasi bahwa tes yang akan diadaptasi takan jika satu kali uji coba sudah
sudah mempunyai bukti-bukti merupakan mendapatkan tes yang memadai maka uji
tes yang baik dan bisa digunakan. (b) coba cukup dilakukan satu kali. Penelitian
Tahap adaptasi skala. Adaptasi tes adalah dilakukan dengan memberikan alat ukur
penyesuaian materi tes karena adanya kepada responden untuk diisi secara lengkap
perbedaan budaya atau pada budaya yang dan pada penelitian ini yang mengisi skala
sama dengan test taker tanpa mengubah adalah significant others ABK.
fungsi tes tersebut. Adaptasi tes meliputi
cultural adaptation dan test taker. Kelemahan dalam Adaptasi Tes
Langkah-langkah adaptasi tes (1) Dalam adaptasi tes ini masih memiliki
Memahami karakteristik tes yang meliputi: beberapa kelemahan yaitu adaptasi tes ini
landasan teoretis, definisi operasional, merupakan studi pendahuluan dalam
standar administrasi, standar format tes menguji validitas dan reliabilitas alat ukur,
dibuat dengan bentuk-bentuk tertentu yang maka pada pengujian validitas dan
memiliki makna dan tujuan. Karakteristik reliabilitas skala ini hanya sampai pada
test taker yang meliputi usia dan pengujian setelah disadur atau diterjemah-
pendidikan. (2) Menerjemah atau menyadur kan saja. Belum ada pengubahan atau revisi
alat ukur SDQ yang meliputi: perbedaan pada item-itemnya sehingga jika skala ini
konstruk bahasa atau idiom, memperhati- akan digunakan maka pada item yang
kan istilah-istilah lokal, dan rasionalisasi diterima dengan revisi harus direvisi
setiap item yang tujuannya untuk melihat terlebih dahulu dan item yang harus diganti
makna dan aspek yang diukur tidak harus diganti terlebih dahulu kemudian
menyimpang dari aslinya. Tes diterjemah- diujicobakan lagi, dianalisis ulang baru
kan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian kemudian diinterpretasikan apakah bisa
dikembalikan ke dalam bahasa aslinya langsung digunakan atau harus revisi ulang.
(bahasa Inggris). Dalam menerjemahkan Dalam uji coba alat ukur dengan metode
bahasa bisa dilakukan dengan tes yang adaptasi ini tidak dapat dilakukan hanya
jawabannya pasti tetapi bisa juga mengu- sekali uji coba melainkan berulang kali
bah item tersebut sesuai dengan kondisi, sampai ditemukannya suatu skala baku
kebiasaan hidup, agama, norma sosial dan yang memenuhi karakteristik item. Pada

257
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

tahap ini hanya dilakukan uji validitas dan perilaku pada anak-anak berkebutuhan
reliabilitas, sedangkan revisi dan uji coba khusus serta tingkat kesiapan belajar. Dari
berikutnya dilakukan pada penelitian yang 5 item yang tidak valid, hasil ini
akan datang. menunjukkan bahwa pada masing-masing
item nomor (6,7,15,17,21) masih bisa
Tahap analisis data dikategorikan baik tetapi jika mau
Analisis data meliputi analisis butir digunakan maka harus direvisi terlebih
soal dan reliabilitas alat ukur. Analisis dahulu karena sebenarnya item ini masih
item secara kuantitatif dilakukan dengan bisa dipertahankan. Item ini memiliki
menggunakan software statistik. Dari korelasi item di bawah harga r-tabel. Pada
print out program tersebut dilakukan item (4,25) tidak dapat digunakan karena
analisis lebih lanjut untuk melihat ka- korelasi item dengan total negatif. Jika
rakteristik item yang memenuhi kriteria. menginginkan digunakan sesuai dengan
Analisis butir soal bertujuan untuk jumlah item skala yang asli harus membuat
mendapatkan bukti-bukti empiris menge- item baru dan harus diujicobakan ulang.
nai daya beda dan reliabilitas alat ukur. Reliabilitas yang diperoleh adalah 0,759
Reliabilitas yang digunakan adalah hasil ini sesuai dengan SDQ Fin 0,71
Cronbach Alpha. Koefisien Alpha dipero- artinya reliabilitas yang diperoleh
leh melalui penyajian satu bentuk skala mendekati skala aslinya. Reliabilitas alat
yang dikenakan hanya sekali saja pada ukur sebesar rxx = 0,759 termasuk kategori
sekelompok responden (single trial baik karena reliabilitas alat ukur semakin
administration). Koefisien reliabilitas ber- mendekati 1 semakin baik. Pada masing-
dasarkan kesepakatan informal adalah > masing faktor didapat-kan reliabilitas
0,70 (Nunnaly, 1994). sebesar: faktor 1 rxx= 0,852; faktor 2
rxx=0,753; pada faktor 3 rxx= 0,804; faktor 4
Hasil Penelitian dan Pembahasan rxx= 0,486; faktor 5 rxx= 0,513. Reliabilitas
yang didapatkan pada faktor 4 dan 5 tidak
Deskripsi Data
terlalu tinggi.
Data yang diperoleh di lapangan dari
Reliabilitas pada skala asli SDQ Fin
beberapa sekolah inklusi di Malang dapat
pada masing-masing faktor didapatkan
dipaparkan pada tabel 1.
reliabilitas sebesar: faktor 1 rxx= 0,86;
Pembahasan Hasil Try Out faktor 2 rxx=0,85; faktor 3 rxx= 0,79; faktor
Uji validitas dan reliabilitas skala The 4 rxx= 0,72; faktor 5 rxx= 0,73. Reliabilitas
Strengths and Difficulties Questionnaire yang didapatkan pada faktor 4 dan 5 tidak
secara keseluruhan menunjukkan bahwa menunjukkan adanya konsistensi karena
dari 25 item terdapat 7 item yang gugur terkait jumlah item yang valid tidak terlalu
yaitu (4,6,7,15,17,21,25). Dari item yang banyak. Hasil ini menunjukkan bahwa
valid semua telah memenuhi seluruh reliabilitas perfaktor yang diperoleh pada
kawasan domain ukur sehingga alat ukur skala asli dan skala yang sudah diadaptasi
ini bisa digunakan untuk mengukur tidak jauh berbeda pada faktor 1, faktor 2,
kekuatan dan kelemahan siswa faktor 3, sedangkan faktor 4 dan faktor 5
berkebutuhan khusus, permasalahan yang terdapat perbedaan reliabilitas.
berhubungan dengan emosional dan

258
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

Tabel 1
Deskripsi Data Subjek
No Jenis Gangguan Jumlah Persentase
1 Autis 53 35,6%
2 Gangguan ABK lainnya 100 65,4%

Tabel 2
Jumlah Item Valid secara Keseluruhan
Jumlah Item Jumlah Item yang
Jumlah Item Gugur Indek Validitas Reliabilitas
Semula Valid
25 18 7 (4,6,7,15,17,21,25) 0,132 - 0,624 0,759

Tabel 3
Jumlah Item Valid Perdimensi
No Dimensi Item Item yang Gugur Indeks Validitas Reliabilitas
1 Prosocial 1,4,9,17,20 - 0,665 - 0,738 0,852
2 Hyperactivity 2,10,15,21,25 21,25 0,172 - 0,413 0,753
3 Emotional 3,8,13,16,24 - 0,346 - 0,771 0,804
4 Conduct Problem 5,7,12,18,22 - 0,223 - 0,323 0,486
5 Peer problem 6,11,14,19,23 6,11 0,277 - 0,314 0,513

Tabel 4
Hasil Pereduksian Faktor
Total Variance Explained
Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings
Component
Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative %
1 5,629 22,517 22,517 5,629 22,517 22,517
2 3,339 13,356 35,873 3,339 13,356 35,873
3 1,717 6,870 42,743 1,717 6,870 42,743
4 1,628 6,512 49,255 1,628 6,512 49,255
5 1,422 5,689 54,943 1,422 5,689 54,943
6 1,133 4,532 59,475
7 1,078 4,313 63,788
8 ,984 3,938 67,726
9 ,878 3,511 71,237
10 ,847 3,387 74,625
11 ,807 3,227 77,852
12 ,680 2,719 80,571
13 ,606 2,423 82,993
14 ,562 2,248 85,241
15 ,541 2,164 87,405
16 ,459 1,838 89,243
17 ,416 1,663 90,906
18 ,367 1,468 92,374
19 ,343 1,372 93,746
20 ,331 1,323 95,069
21 ,321 1,283 96,353
22 ,294 1,176 97,529
23 ,244 ,976 98,505
24 ,208 ,831 99,336
25 ,166 ,664 100,000

259
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

Tabel 5 Questionnaire bisa dikatakan berhasil


Kategori Skala The Strengths and Difficulties karena bisa menjelaskan >50% pereduk-
Questionnaire pada Masing-masing Dimensi
sian item sesuai faktor yaitu sebesar
No Skor Kategori 54,943% dari pembagian faktornya.
1 0-17 Rendah
2 18-34 Sedang
3 35-50 Tinggi Diskusi
Pada dasarnya skala The Strengths and
Kategori ini dihitung berdasarkan Difficulties Questionnaire ini sudah dapat
skor tertinggi dan skor terrendah kemudian digunakan meskipun terdapat beberapa
dibagi dengan jumlah kategori. item yang tidak valid tetapi dari total item
yang valid masih mengukur seluruh
Tabel 6 kawasan domain ukur artinya dari masing-
Hasil Masing-masing Dimensi masing aspek masih terwakili itemnya.
No Dimensi Kategori Berdasarkan pengukuran kesiapan
1 Prosocial Sedang belajar siswa diketahui bahwa tingkat
2 Hyperactivity Tinggi prososial siswa masuk kategori sedang,
3 Emotional Sedang tingkat hiperactivity yang tinggi, emotional
4 Conduct problem Sedang
5 Peer problem Sedang
sedang, conduct problem sedang dan peer
problem sedang. Hasil ini menunjukkan
Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa perlu adanya intervensi khusus
bahwa pada faktor 1 dengan rxx = 0,852 untuk meningkatkan prososial siswa ABK.
semua item sesuai dengan item yang diren- Penelitian yang dilakukan oleh
canakan. Pada faktor ke-2 dengan rxx = Solantaus, Paavonen, Toikka, dan
0,753 tidak ada item yang sesuai dengan Punamäki (2010) menunjukkan intervensi
analisis faktor, item (2,10,15) masuk pada dengan menggunakan psikoedukasi dapat
faktor ke-3, sedangkan item (21,25) masuk menurunkan dan mengurangi gejala
pada faktor ke-4. Pada faktor ke-3 dengan emosional, kecemasan, dan sedikit hiperak-
rxx = 0,804 tidak ada item yang sesuai tivitas anak sehingga didapatkan cara untuk
dengan analisis faktor, semua item masuk meningkatkan perilaku prososial pada anak.
pada faktor ke-2. Pada faktor ke-4 dengan Dengan melakukan diskusi psikoedukasi
rxx = 0,486 tidak ada item yang sesuai dengan orang tua anak untuk mendukung
dengan analisis faktor, item (5,7,12) masuk efektivitas intervensi pada anak.
pada faktor ke-5, sedangkan item (18) Pada penelitian sebelumnya oleh Barr
masuk pada faktor ke-2 dan item (22) dan Higgins-D'Alessandro (2007) empati
masuk pada faktor ke-2. Pada faktor ke-5 dan perilaku prososial remaja dalam
dengan rxx = 0,513 tidak ada item yang konteks multidimensional budaya sekolah
sesuai dengan analisis faktor, item (6,23) menjelaskan adanya hubungan antara
masuk pada faktor ke-2, sedangkan item empati dengan perilaku prososial yang
(11,19) masuk pada faktor ke-3 dan item dipengaruhi gender. Siswa laki-laki yang
(14) masuk faktor ke-4. memiliki persepsi positif yang lebih tinggi
Total variance explained adalah akan memiliki empati yang tinggi pula
persen-tase varians konstruk ukur yang tetapi kurang dalam perilaku prososial.
dapat dijelaskan oleh pembagian faktor. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa
Hallahan dan Frucher (1954) menyatakan dalam pengembangan alat ukur akan
bahwa jika hasil dari pereduksian item muncul hambatan dalam pelaksanaannya.
sesuai dengan faktornya serta dapat Adanya item-item yang ternyata tidak
menjelaskan 50% dari varians maka dapat sesuai faktor-faktornya bahkan item
dikatakan berhasil. Dalam adaptasi alat tersebut berada dalam satu faktor hal ini
ukur skala The Strengths and Difficulties menunjukkan bahwa kemampuan dalam

260
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

memahami konstruk yang hendak kita buat Kesulitan utama dalam adaptasi tes ini
alat ukurnya harus benar-benar dikuasai. adalah pencarian sampel yang representatif
Perlu adanya pembatasan dalam mengkon- yaitu memenuhi jumlah sebesar (item x 6-
septualisasi setiap faktornya. 10). Jumlah ideal adalah 150-250 subjek
penelitian. Harapan peneliti adalah jumlah
Simpulan dan Saran maksimal yaitu 250 subjek penelitian,
tetapi hanya terpenuhi sekitar 153 subjek
Simpulan
penelitian (jumlah item x 6) karena subjek
Berdasarkan hasil analisis dan
penelitian ini hanya pada ABK yang mana
interpretasi data dapat dikemukakan
jumlah ABK tidak terlalu banyak, dan ini
simpulan penelitian sebagai berikut: (1)
sudah memenuhi persyaratan untuk uji
hasil uji validitas dan reliabilitas skala The
coba suatu alat ukur.
Strengths and Difficulties Questionnaire
secara keseluruhan diperoleh bahwa dari
25 item terdapat 7 item yang gugur yaitu Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat
(4,6,7,15,17,21,25) dan item yang valid
dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
masih mencakup seluruh kawasan domain
(1) Skala ini bisa digunakan dengan catatan
ukur. (2) Item no (6,7,15,17,21) masih bisa
5 item yang tidak valid direvisi terlebih
dikategorikan baik tetapi jika akan
dahulu dan 2 item harus diganti,
digunakan maka harus direvisi terlebih
diujicobakan kembali dan dianalisis ulang
dahulu karena sebenarnya item ini masih
sehingga mendapat item yang keseluruhan-
bisa dipertahankan. Item ini memiliki
nya valid. (2) Perlu dilakukan studi lanjut
korelasi item dengan total >0,200 dan di
untuk mengukur validitas dan reliabilitas
bawah harga r-tabel artinya adalah
alat ukur khususnya pada item yang harus
berdasarkan penghitungan harga r
direvisi maupun yang diganti dan
berdasarkan r-hitung sehingga ditemukan
dilanjutkan pengujian analisis faktor untuk
batas suatu item dikatakan valid. (3) Pada
menganalisis faktor-faktor yang diungkap
item (4,25) tidak dapat digunakan karena
dalam skala tersebut. (3) Berdasarkan
berkorelasi negatif. (4) Hasil analisis faktor
koreksi pada 7 item yang harus direvisi,
menunjukkan bahwa hanya 4 item yang
item tersebut harus direvisi sesuai dengan
sesuai dengan faktor yang direncanakan,
faktor yang hendak diukur khususnya pada
adapun selebihnya masuk pada faktor lain.
faktor hyperactivity, gejala emosional,
(5) Pereduksian 18 item menjadi 1 faktor
masalah perilaku dan teman sebaya
dapat menjelaskan 22,517% varians,
alasannya adalah pada item tersebut tidak
pembagian 2 faktor menjelaskan 35,873%
sesuai dengan faktornya.
sedangkan pembagian menjadi 3 faktor
dapat menjelaskan 42,743% varians.
Pembagian menjadi 4 faktor dapat Daftar Pustaka
menjelaskan 49,255% varians dan Azwar, S. (2013). Reliabilitas dan
pembagian menjadi 5 faktor dapat Validitas Edisi II, Yogyakarta:
menjelaskan 54,943% varians. Berdasarkan Pustaka Pelajar
data tersebut hasil analisis faktor ini bisa __________ (2013). Sikap Manusia
dikatakan berhasil karena hasil pereduksian Teori dan Pengukurannya,
dari 18 item menjadi 5 faktor hasilnya Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
>50% pereduksian item sesuai faktor yaitu Baron, R.A. & Byrne, D. (2005).
sebesar 54,943% dari pembagian faktornya. Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga.
(6) Tingkat prososial siswa ABK termasuk Barr, J.J. & Higgins-D'Alessandro, A.
kategori sedang, hyperactivity tinggi, (2007). Adolescent Empathy and
emotional sedang, conduct problem sedang Prosocial Behavior in the
dan peer problem sedang. Multidimensional Context of School

261
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

Culture, The Journal of Genetic Education (International Edition:


Psychology, 168(3), 231-250. 10thed), Boston: Allyn and Bacon.
Crocker, L. & Algina, J. (1986). Keen, D., Webster, A., & Ridley, G.
Introduction To Classical and Modern (2016). How Well are Children with
Test Theory, Second Edition, Holt Autism Spectrum Disorder Doing
Renehart and Wiansion. Academically at School? An Overview
Delphie, B. (2005). Bimbingan Perilaku of the Literature,
Adaptif, Malang: Elang Mas. http://doi.org/10.1177/1362361315580
Dickey, W.C. & Blumberg, S.J. (2004). 962
Revisiting the from PSY 6095 at Ledford, J.R., Hall, E., Conder, E., & Lane,
Capella University, Psychological J.D. (2016). Research for Young
Bulletin, 131 483509. Children with Autism Spectrum
Frucher, B. (1954). Introduction to Disorders: Evidence of Social and
Factor Analysis, New York: D. Van Ecological Validity,
Nostrand Company. http://doi.org/10.1177/0271121415585
Goodman, R. (1997) The Strengths and 956
Difficulties Questionnaire: A Lestari. (2013). Metode Guru BK dalam
Research Note, Journal of Child Mengatasi Problem Penyesuaian Diri
Psychology and Psychiatry, 38, 581- pada Anak Berkebutuhan Khusus
586. (Studi Kasus pada Siswa Tunarungu di
____________ (2006) Evaluation of the SLB Purworaharjo).
Strengths and Difficulties Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan
Questionnaire. Aboriginal Children's Pendidikan Anak Berkebutuhan
Survey. Khusus Jilid 1, Jakarta: Lembaga
Gronlund, N.E. (1982). Constructing Pengembangan Sarana Pengukuran dan
Achievement Tests, Publisher Pendidikan Psikologi (LPSP3)
Englewood Cliffs: Prentice-Hall. Fakultas Psikologi Universitas
Hallahan, D.P. & Frucher, B. (1954). Indonesia.
Introduction to Factor Analysis, New Nunnaly, J.C. (1994). Psychometric
York: D. Van Nostrand Company. Theory, New York: McGraw Hill.Inc.
Hambleton, R.K., Mirenda, D.F., & Praptiningrum, N. (2012). Fenomena
Spielberg, C. (2005). Adapting Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
Educational and Psychological Test bagi Anak Berkebutuhan Khusus,
for Cross Culture, New Jersey: Jurnal Pendidikan Khusus, 7(2).
Lawrence Erlbaum Associates Soekarti, 2003. Diktat Kuliah Sistem
Publishers. Pengelolaan Tes, Yogyakarta: Tidak
Hambleton, R.K. & Patsula, L. (1999). Diterbitkan.
Increasing the Validity of Adapted Solantaus, T., Paavonen, E.J., Toikka, S., &
Test: Myth to be Avoided and Punamäki, R.L. (2010). Preventive
Guidelines for Improving Test Interventions in Families with Parental
Adaptation Practices, Journal of Depression: children’s Psychosocial
Applied Testing Psychology, August Symptoms and Prosocial Behaviour,
1999, Association of Test Publishers European Child & Adolescent
(ATP). Psychiatry, 19(12), 883-892.
Kau, M.A. (2010). Empati dan Perilaku Suryabrata, S. (2000). Penyusunan Alat
Prososial Pada Anak, Jurnal Inovasi, Ukur Psikologi, Yogyakarta: Pustaka
7(03). Pelajar.
Kauffman, J.M. (2006). Exceptional
Learner: An Introduction to Special

262
Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths And Difficulties Questionnaire - SDQ (Istiqomah)

Vostanis, P. (2006). Strengths and Widiarso, W. (2009). Modul Statistik,


Difficulties Questionnaire: Research Yogyakarta: Tidak Diterbitkan.
and Clinical Applications, Current
Opinion in Psychiatry, 19, 367-372.

263
Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Desember 2017, Vol. 4, No. 2, Hal : 251 – 264

264